cover
Contact Name
Muhammad Muharram
Contact Email
jatimas@unik-kediri.ac.id
Phone
+6282232209148
Journal Mail Official
jatimas@unik-kediri.ac.id
Editorial Address
Kadiri University, Agriculture Faculty Building G-103 Selomangleng #1, Pojok, Mojoroto Kediri City, East Java Province, Indonesia 64115
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat
Published by Universitas Kadiri
ISSN : 28092422     EISSN : 28092414     DOI : https://doi.org/10.30737
Core Subject : Agriculture, Social,
JATIMAS aims to provide a platform for publishing reports and research findings on community service activities conducted in rural areas, with a specific emphasis on addressing the needs and challenges faced by rural communities. The journal seeks to promote knowledge sharing and innovative approaches to enhance the well-being and development of rural areas. The journal scope includes (but is not limited to): 1. Community Service Activities: The journal welcomes reports on a wide range of community service activities undertaken in rural areas or related to agricultural activities, such as healthcare initiatives, educational programs, infrastructure development projects, environmental conservation efforts, social welfare projects, and more. These reports should highlight the impact and outcomes of the activities, providing valuable insights for future initiatives. 2. Rural Community Development: Manuscripts focusing on strategies, policies, and best practices for rural community development are encouraged. This may include topics such as capacity building, entrepreneurship, sustainable livelihoods, local governance, social inclusion, and empowering marginalized groups within rural communities. 3. Agricultural Innovations and Practices: The journal covers agricultural topics relevant to rural areas, including but not limited to agricultural practices, techniques, innovations, and technologies. Contributions may explore areas such as crop cultivation, livestock management, agroforestry, sustainable farming methods, organic agriculture, and the use of modern tools and machinery in rural farming. 4. Sustainable Resource Management: Manuscripts addressing the sustainable management of natural resources in rural areas are of particular interest. This includes research on land use planning, water resource management, soil conservation, biodiversity preservation, and the adoption of renewable energy sources in rural communities. 5. Policy and Governance: The journal encourages articles examining policy frameworks and governance mechanisms that influence rural development and agricultural practices. These may include analyses of government policies, regulations, funding mechanisms, and institutional arrangements relevant to rural community service and agricultural sectors. 6. Case Studies and Experiences: The journal welcomes case studies and practical experiences from researchers, practitioners, and community members engaged in rural community service and agricultural activities. These reports should provide valuable insights into successful models, challenges encountered, lessons learned, and recommendations for future endeavours. JATIMAS seeks to foster interdisciplinary collaboration, bridge the gap between research and practice, and contribute to the overall development and sustainability of rural areas worldwide.
Articles 100 Documents
Optimalisasi Produktivitas Kakao Rakyat melalui Penanganan Bahan Tanam PCC dan Penerapan GAP di Desa Wonorejo Rahman, Rena Yunita; Rosyady, Muhammad Ghufron; Ibanah, Indah; Savitri, Dyah Ayu
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.6931

Abstract

Wonorejo Village, Kencong District, Jember Regency, has great potential for developing smallholder cocoa. In 2020, the village received 3.5 hectares of cocoa seedlings from the Jember Regency Government. Plants have now begun to produce, but farmers face several obstacles, including difficulties in handling Primary Clonal Cocoa (PCC) planting materials and increasing Cocoa Pod Borer (CPB) attacks. Furthermore, most farmers do not fully understand the application of Good Agricultural Practices (GAP), resulting in plantation productivity not reaching its optimal potential. This Community Service Program (PkM) aims to increase farmers' capacity in implementing GAP and PCC management techniques to increase productivity and plant resistance to CPB attacks. Activities were carried out through several stages, including socialization of the prospects for developing smallholder cocoa, training and practice on pruning, fertilization, rorak making, and direct field assistance. The results of the activities show an increase in farmers' knowledge and skills in good cocoa cultivation, marked by improvements in PCC planting material handling techniques and more consistent application of GAP. The survival rate of cocoa seedlings after mentoring exceeded 80%, accompanied by a decrease in the intensity of CPB attacks, as observed in the field. Farmers responded very positively to this program, as the mentoring helped improve cultivation practices and increase yields. Overall, this program contributed to promoting Wonorejo Village as a central village and a pilot project for smallholder cocoa farming in Jember Regency. Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember memiliki potensi besar dalam pengembangan kakao rakyat. Pada tahun 2020, desa ini menerima bantuan bibit kakao seluas 3,5 ha dari Pemerintah Kabupaten Jember. Saat ini tanaman telah mulai berproduksi, namun petani menghadapi sejumlah kendala seperti kesulitan dalam penanganan bahan tanam Primary Clonal Cocoa (PCC) serta meningkatnya serangan Penggerek Buah Kakao (PBK). Selain itu, sebagian besar petani belum memahami secara utuh penerapan Good Agricultural Practices (GAP), sehingga produktivitas kebun belum mencapai potensi optimal. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam penerapan GAP dan teknik pengelolaan PCC guna meningkatkan produktivitas serta ketahanan tanaman terhadap serangan hama PBK. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi sosialisasi prospek pengembangan kakao rakyat, pelatihan dan praktik pemangkasan, pemupukan, pembuatan rorak, serta pendampingan langsung di lapangan.Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam budidaya kakao yang baik, ditandai dengan perbaikan teknik penanganan bahan tanam PCC dan penerapan GAP secara lebih konsisten. Persentase hidup bibit kakao setelah pendampingan mencapai lebih dari 80%, disertai penurunan intensitas serangan PBK berdasarkan pengamatan lapangan. Respon petani terhadap kegiatan ini sangat positif karena pendampingan membantu memperbaiki praktik budidaya dan meningkatkan hasil panen. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi dalam mendorong Desa Wonorejo menjadi Desa Sentral dan percontohan kakao rakyat di Kabupaten Jember.
Diversifikasi Produk Pertanian untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Desa Butu, Kabupaten Bone Bolango Lihawa, Mohamad; Apriliani, Silvana; Pulogu, Siska Irhamnawati; Zakaria, Fauzan
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.6937

Abstract

The challenges facing the people of Butu Village, Tilongkabila District, Bone Bolango Regency, include low added value of agricultural products and limited diversification of local food products. This situation leads to dependence on the sale of raw crops and a limited variety of nutritious food consumption. This program provides training and mentoring solutions for diversifying agricultural products, with a focus on processing. The objective of this activity is to enhance the skills of the Butu Village community in processing agricultural products, particularly corn, into value-added products and to strengthen village food security by providing a variety of nutritious and sustainable local food products. The results of this community service activity show an increase in participants' knowledge and skills in processing corn-based agricultural products, as well as growing community motivation to develop local food-based businesses. Thus, this activity makes a significant contribution to supporting community economic independence and food security, leveraging the village's potential. Permasalahan yang dihadapi masyarakat Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango adalah rendahnya nilai tambah hasil pertanian dan terbatasnya diversifikasi produk pangan lokal. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan pada penjualan hasil panen dalam bentuk mentah, dan terbatasnya variasi konsumsi pangan bergizi. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah pelatihan dan pendampingan diversifikasi produk pertanian, khususnya pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Tujuan kegiatan yaitu meningkatkan keterampilan masyarakat Desa Butu dalam mengolah hasil pertanian, khususnya jagung dan komoditas lainnya, menjadi produk olahan bernilai tambah dan menguatkan ketahanan pangan desa melalui penyediaan produk pangan lokal yang variatif, bergizi dan berkelanjutan. hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam proses produksi, serta tumbuhnya motivasi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus ketahanan pangan berbasis potensi desa.
Pemberdayaan Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati melalui Penyiraman Berbasis IoT pada Tanaman Hortikultura Anwar, Anwar; Nugraha, Syaiful; Malesi, Wa Ode Asriyanti Wida; Sembiring, Jefri; Yusuf, Mani; Rizal, Abdul; Kusumah, Rangga; Pramudya, Febri Nur
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.6957

Abstract

The Kharisma Sejati Women's Farmers Group in Sumber Mulya Village, Kurik District, Merauke Regency, faces challenges in manually watering horticultural crops using dippers, buckets, and hoses. This method was time-consuming, labor-intensive, and wasteful, while water sources rely solely on reservoirs and rainwater ponds. To address these issues, a community service program was conducted in the form of training and implementation of an Internet of Things (IoT)-based irrigation system controlled by a smartphone application. This community service program aims to introduce and train the Kharisma Sejati Women's Farmers Group in the use of an IoT-based irrigation system, and to implement it on horticultural land to improve water efficiency and reduce work time. The implementation method included five stages: outreach, technical training, plot demonstrations, mentoring and evaluation, and program sustainability planning. The results showed that the IoT-based irrigation system can save up to 40% of water time and reduce water use by around 30% compared to manual methods. In addition, the application of this technology makes chili plant growth more uniform and improves the digital skills and confidence of women's farmer group members in managing modern agriculture. The program's main advantages are its practicality, water efficiency, consistency, and ability to increase horticultural productivity. Its limitations include its dependence on electricity, network connectivity, and initial adaptation to the application. Going forward, the program has the potential to be developed through more precise technology integration, implementation with other farmer groups, infrastructure support, and the use of digital markets, making it a model for sustainable agricultural innovation in the Merauke region. Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati di Kampung Sumber Mulya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke menghadapi kendala penyiraman tanaman hortikultura yang masih dilakukan secara manual menggunakan gayung, ember, dan selang. Cara ini membutuhkan waktu lama, tenaga besar, serta boros air, sementara sumber air hanya bergantung pada waduk dan kolam tadah hujan. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan program pengabdian berupa pelatihan dan penerapan sistem penyiraman berbasis Internet of Things (IoT) yang dikendalikan melalui aplikasi smartphone. Pengabdian ini bertujuan mengenalkan dan melatih Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati dalam penggunaan sistem penyiraman berbasis IoT, serta mengimplementasikannya pada lahan hortikultura guna meningkatkan efisiensi air dan waktu kerja. Metode pelaksanaan meliputi lima tahap: sosialisasi, pelatihan teknis, demonstrasi plot, pendampingan dan evaluasi, serta perencanaan keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sistem penyiraman berbasis IoT mampu menghemat waktu penyiraman hingga ±40% dan penggunaan air sekitar ±30% dibandingkan metode manual. Selain itu, penerapan teknologi ini membuat pertumbuhan tanaman cabai lebih seragam serta meningkatkan keterampilan digital dan kepercayaan diri anggota kelompok tani wanita dalam mengelola pertanian modern. Kelebihan utama program ini adalah praktis, hemat air, konsisten, dan mampu meningkatkan produktivitas hortikultura, sedangkan keterbatasannya adalah ketergantungan pada listrik, jaringan, dan adaptasi awal penggunaan aplikasi. Ke depan, program ini berpotensi dikembangkan melalui integrasi teknologi yang lebih presisi, penerapan pada kelompok tani lain. Dukungan infrastruktur, serta pemanfaatan pasar digital, sehingga dapat menjadi model inovasi pertanian berkelanjutan di wilayah Merauke.
Inovasi Olahan Jagung Twistcorn sebagai Pengembangan Agroindustri Lokal di Lamongan Hamidah, Emmy; Bukhori, Imam; Santi, Idum Satia; Lisanty, Nina
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.6974

Abstract

Corn (Zea mays) has various health benefits derived from its carotenoid content, which gives its kernels their yellow color. Approximately 22% of this content is beta-carotene, which functions to prevent blindness due to cataracts, while xanthophyll protects cells from cancer, acts as an antioxidant, and supports the immune system and heart health. This community service activity aims to increase understanding of the optimal use of corn, specifically through the production of nutritious twistcorn snacks. This training involved the community in RT.001 RW.003 Laren Village and began with an initial questionnaire, followed by the delivery of materials on making twist corn snacks, and concluded with a final questionnaire. The material was delivered through lectures and question-and-answer discussions, which were met with enthusiasm by the participants. The results of the activity demonstrated an increase in knowledge among all participating communities following the training. Jagung (Zea mays) memiliki berbagai manfaat kesehatan yang berasal dari kandungan karotenoidnya, yang memberikan warna kuning pada bijinya. Sekitar 22% dari kandungan tersebut adalah beta karoten, yang berfungsi mencegah kebutaan akibat katarak, sementara xantofil melindungi sel dari kanker, bertindak sebagai antioksidan, dan mendukung sistem kekebalan serta kesehatan jantung. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pemanfaatan jagung secara optimal, khususnya melalui pembuatan snack jagung twistcorn yang bergizi. Pelatihan ini melibatkan masyarakat di RT.001 RW.003 Desa Laren dan dimulai dengan kuisioner awal, diikuti dengan penyampaian materi mengenai pembuatan camilan jagung twistcorn, dan diakhiri dengan kuisioner akhir. Materi disampaikan melalui metode ceramah dan diskusi tanya jawab, yang disambut dengan antusiasme peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan seluruh masyarakat peserta setelah pelatihan.
Pendampingan Budidaya Kopi Melalui Pelatihan Petik Merah dan Teknik Panen dalam Meningkatkan Kualitas Produksi di Desa Jengglungaharjo Kecamatan Tanggunggunung Kabupaten Tulungagung Lestari, Mufida Diah; Suryaningrum, Dwi Ari; Alfattama, Lona Chinsia; Lestari, Wahyu Dwi; Nuryananda, Praja Firdaus; Tjahjono, Jojok Dwirido
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7018

Abstract

This mentoring program on coffee cultivation, implemented through training in red-cherry picking and selective harvesting techniques, was conducted to improve the quality of coffee yields in Jengglungharjo Village, Tanggunggunung District, Tulungagung Regency. The abundant coffee production in the area holds significant potential as a driver of the local economy. However, the quality of the coffee beans has remained low due to mixed-harvest practices and the farmers’ limited understanding of proper harvesting procedures. The program was carried out in three main stages: delivering material on the importance of harvesting fully ripe coffee cherries, providing training on effective harvesting techniques, and offering initial post-harvest assistance to ensure that red-cherry yields were processed correctly. The results showed a significant improvement in farmers’ knowledge and skills in identifying ripe cherries and applying selective harvesting practices. Farmers began to understand the relationship between proper harvesting methods and improvements in coffee bean quality, including the increased proportion of premium-grade beans in both natural and full-washed processes. This training is expected to serve as an initial foundation for promoting more sustainable, productive, and economically valuable coffee cultivation practices for the community of Jengglungharjo Village. Program pendampingan budidaya kopi melalui pelatihan petik merah dan teknik panen selektif ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu hasil panen kopi di Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung. Produksi kopi yang melimpah di wilayah tersebut memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Namun, mutu biji kopi yang dihasilkan masih rendah akibat kebiasaan panen campur serta minimnya pemahaman petani mengenai prosedur panen yang tepat. Kegiatan ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu penyampaian materi terkait pentingnya memanen buah kopi yang benar-benar matang, pelatihan teknik panen yang efektif, serta pendampingan pascapanen awal untuk memastikan hasil petik merah diproses secara benar. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengidentifikasi buah matang dan menerapkan panen selektif. Petani mulai memahami hubungan antara metode panen yang tepat dengan peningkatan kualitas biji kopi, termasuk meningkatnya proporsi biji berkualitas premium pada proses natural maupun full washed. Pelatihan ini diharapkan menjadi landasan awal untuk mewujudkan praktik budidaya kopi yang lebih berkelanjutan, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat Desa Jengglungharjo
Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Pisang Raja Nangka menjadi Tepung Bernilai Ekonomi pada Sentra Getuk Pisang Desa Petok, Kediri Lisanty, Nina; Sutiknjo, Tutut Dwi; Junaidi, Junaidi; Muharram, Muhammad; Nurhamidah, Siti
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7063

Abstract

Petok Village, located in Mojo District, Kediri Regency, is known as a major center for getuk pisang (banana cake) production that has been sustained across generations. However, the production process generates large amounts of waste from raja nangka banana peels that remain unutilized. The banana peel waste generated from these home-based industries has the potential to pollute the environment if not properly managed and disposed of. Based on previous research on the formulation of banana peel flour as a functional food ingredient, this activity aimed to transfer knowledge and skills to getuk pisang producers, enabling them to process banana peel waste into value-added flour. The program was conducted using a participatory approach involving socialization sessions, direct demonstrations of banana peel flour production, and discussions on business opportunities derived from the process. The results showed an 85% increase in participants’ knowledge and skills, as measured by pre- and post-tests. In addition to producing quality banana peel flour, the activity also fostered awareness of circular economy concepts and local resource utilization. This community empowerment initiative presents opportunities for establishing a joint business group focused on banana peel flour processing, as well as collaboration with the village government for product development and sustainable marketing. Desa Petok di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, dikenal sebagai sentra penghasil getuk pisang yang telah bertahan lintas generasi. Namun, produksi getuk pisang menghasilkan limbah kulit pisang raja nangka dalam jumlah besar yang belum termanfaatkan secara optimal. Limbah kulit pisang yang dihasilkan dari industri rumahan getuk pisang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya tentang formulasi tepung kulit pisang sebagai bahan pangan fungsional, kegiatan ini bertujuan mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada pelaku usaha getuk pisang agar mampu mengolah limbah kulit pisang menjadi tepung bernilai ekonomi. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang meliputi sosialisasi, demonstrasi pembuatan tepung kulit pisang, serta diskusi peluang usaha turunan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta sebesar 85% berdasarkan pre-test dan post-test. Selain menghasilkan produk tepung kulit pisang berkualitas, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran tentang konsep ekonomi sirkular dan potensi diversifikasi produk berbasis bahan lokal. Kegiatan ini berimplikasi pada peluang pembentukan kelompok usaha bersama pengolahan tepung kulit pisang serta kerja sama dengan pemerintah desa untuk pengembangan produk olahan dan pemasaran berkelanjutan.    
Pemanfaatan Urin dan Rumen Kambing sebagai Bahan Pupuk Organik Cair (POC) Plus untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman dan Kesuburan Tanah Saptorini, Saptorini; Hadiyanti, Nugraheni; Arissaryadin, Arissaryadin; Supramono, Agus
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7078

Abstract

Agricultural productivity in rural areas has declined due to farmers’ dependency on synthetic fertilizers and pesticides. The use of liquid organic fertilizer (POC) provides a sustainable alternative to improve soil fertility and reduce production costs. This community service aimed to utilize goat urine and rumen waste as raw materials for POC Plus, enhancing crop productivity and soil fertility. The POC Plus production was carried out in Besowo Village, Kepung District, Kediri Regency, through a 21-day fermentation process involving goat rumen, urine, molasses, coconut water, rice-wash water, bioactivators, Trichoderma, Aspergillus niger, and other natural ingredients. Laboratory analysis revealed an organic carbon content of 15.26%, nitrogen of 2.60%, a C/N ratio of 5.87%, organic matter of 26.24%, phosphate of 1.92%, and potassium of 1.35%. Demonstration plots on chili plants showed yield increases of up to 16.4 tons/ha and improved growth compared to control plots, while reducing chemical fertilizer usage by up to 30%. The program had positive impacts on improving agricultural productivity and promoting sustainable soil management. Usahatani di wilayah perdesaan saat ini menghadapi permasalahan menurunnya produktivitas dan pendapatan akibat ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia sintetis. Aplikasi pupuk organik cair (POC) sebagai usaha memperbaiki kesuburan tanah dan menekan biaya produksi dala budidaya tanaman yang berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah urine dan rumen kambing sebagai bahan baku POC plus guna meningkatkan produktivitas tanaman dan kesuburan lahan. Pelatihan pembuatan POC plus dan demplot dilakukan di Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Pelaksanaan kegiatan meliputi diskusi dengan kelompok tani tentang teknologi pengolahan limbah ternah menjadi pupuk organik, perencanaan sosialisasi, pelatihan pembuatan POC plus, dan bersama dengan petani dari kelompok tani melakukan demplot pada tanaman hortikultura. Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan C-organik sebesar 15,26%, nitrogen 2,60%, rasio C/N 5,87%, bahan organik 26,24%, fosfat 1,92%, dan kalium 1,35%. Demplot aplikasi POC plus pada tanaman cabai menunjukkan peningkatan hasil panen masing-masing sebesar 16,4 ton/ha dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol, serta penurunan penggunaan pupuk kimia hingga 30%. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem tanah.
Inovasi Diversifikasi Pangan Lokal melalui Pemanfaatan Daun Singkong menjadi Keripik sebagai Upaya Pengurangan Limbah dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pamujiati, Agustia Dwi; Artini, Widi; Andajani, Wiwiek; Widiyono, Wahyu; Mulyadi, Mochtar Nova
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7079

Abstract

Community service aims to increase the utilization of cassava leaves as a value-added food ingredient by innovating cassava leaf chips (Daun Crips) in Jombok Village, Pule District, Trenggalek Regency, East Java. Cassava leaves, which have traditionally been considered agricultural waste, have a high protein content and significant economic potential if processed properly. The implementation method was carried out through a participatory approach that involves the community in counseling, technical training in production, packaging, branding, and product economic analysis. Evaluation of activities using pre-tests and post-tests on six assessment aspects revealed an increase in the average score from 57.2 to 86.8, representing a 51.8% improvement. The highest increases were observed in technical processing skills (63.6%) and production cost analysis (57.7%). The resulting product has characteristics of being crispy, savory, and having a low water content (3.8%), in accordance with snack food quality standards. This activity has a positive impact by increasing the knowledge, skills, and entrepreneurial motivation of the community, as well as encouraging the formation of Joint Business Groups as the foundation for productive economic businesses based on local potential. This program is a real-world example of the implementation of local food diversification, which can reduce agricultural waste, increase community income, and support sustainable village economic development. Pengabdian kepada masyarakat memiliki tujuan meningkatkan pemanfaatan daun singkong sebagai bahan pangan bernilai tambah melalui inovasi produk keripik daun singkong (Daun Crips) di Desa Jombok, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daun singkong yang selama ini dianggap limbah pertanian memiliki kandungan protein tinggi dan potensi ekonomi yang besar apabila diolah secara tepat. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam penyuluhan, pelatihan teknis produksi, pengemasan, branding, serta analisis ekonomi produk. Evaluasi kegiatan dengan menerapkan pre-test dan post-test pada enam aspek penilaian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor dari 57,2 menjadi 86,8 atau meningkat sebesar 51,8%, dengan peningkatan tertinggi pada keterampilan teknis pengolahan (63,6%) dan analisis biaya produksi (57,7%). Produk yang dihasilkan memiliki karakteristik renyah, gurih, serta kadar air rendah (3,8%), sesuai dengan standar mutu pangan ringan. Kegiatan ini memiliki efek positif dengan meningkatnya pengetahuan, keterampilan, dan motivasi kewirausahaan masyarakat, serta mendorong terbentuknya Kelompok Usaha Bersama sebagai embrio usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal. Program ini menjadi contoh nyata penerapan diversifikasi pangan lokal yang mampu mengurangi limbah pertanian, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendukung pembangunan ekonomi desa berkelanjutan.
Implementasi Strategi Brand Awareness Produk Jadam Sulfur “JDM” melalui Kolaborasi Komunitas Petani Nareswari, Aptika Hana Prastiwi; Kustiani, Edy; Sidhi, Eko Yuliarsha; Aji, Satriya Bayu; Dewi, Wiwin Septia
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7082

Abstract

Implementasi brand awareness produk Jadam Sulfur (JDM) melalui pendekatan kolaboratif bersama komunitas petani merupakan inovasi dalam memperkenalkan produk pertanian ramah lingkungan di tingkat masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga bulan di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, mencakup tahap persiapan, produksi JDM, pelatihan pembuatan, demonstrasi lapang, hingga promosi berbasis komunitas. Penerapan strategi promosi yang memadukan edukasi partisipatif, pemasaran sederhana, dan pendekatan berbasis pengalaman nyata petani merupakan keunggulan dari kegiatan ini. Metode ini tidak hanya meningkatkan kesadaran merek hingga lebih dari 90%, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam memahami nilai ekonomi dan ekologi produk organik. Kolaborasi antara tim pelaksana dan petani berhasil membangun kepercayaan, memperluas jejaring distribusi lokal, serta menumbuhkan kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan. Implementasi di masyarakat menunjukkan bahwa penguatan merek berbasis komunitas lebih efektif disbanding promosi konvensional karena melibatkan peran aktif petani sebagai duta merek. Secara keseluruhan, model ini berpotensi direplikasi untuk memperkuat posisi produk ramah lingkungan di pasar lokal dan meningkatkan kemandirian ekonomi petani melalui inovasi sosial berbasis pengetahuan lokal.
Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Pertanian: Menciptakan Produk Keripik Bernilai Ekonomis dari Kulit Pisang Raja Nangka di Kabupaten Jombang Pamungkas, Kevin Dyo; Raharjo, Djoko; Supandji; Tafakresnanto, Chendy
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7088

Abstract

The utilization of agricultural waste presents a crucial challenge in the context of sustainable development, particularly in promoting effective waste management systems and environmental preservation. Raja Nangka banana peel, a common by-product discarded in high volumes by MSMEs in Jombang Regency, is known to possess significant nutritional and fiber content that can be utilized. This community engagement program aims to address this waste problem by transforming banana peels into high-value food chips. The program focused on Micro and Small Enterprise (MSMEs) groups in Jombang Regency, involving 5 main participants. The methodology employed a technology transfer approach through intensive training, direct practice demonstration, and evaluation based on observing the active participation of the MSME partners. The process included optimization of the formula (limewater soaking), efficient production, and subsequent analysis of proximate content and Hayami Value Added. The results demonstrated that the innovative chip product possessed good food quality, featuring high Carbohydrate content (71.54%) and sufficient Protein (6.30%). From an economic standpoint, the Cost of Goods Sold (COGS) proved to be very efficient (IDR3,245 per unit), yielding a total value added of IDR24,225 per kilogram and resulting in a substantial value added Ratio (96.9%). This success confirms that the intervention is feasible for replication, offering a measurable solution to minimize solid waste in the agricultural sector while simultaneously enhancing capacity, proving autonomous technology adoption, and ensuring the economic sustainability of the local community. Pemanfaatan limbah pertanian saat ini menjadi isu krusial dalam konteks pembangunan berkelanjutan terutama dalam mendorong sistem pengelolaan lingkungan yang lebih efektif. Kulit pisang Raja Nangka sebagai merupakan produk sampingan yang dihasilkan oleh industri UMKM dalam volume tinggi di Kabupaten Jombang. Kulit pisang tersebut diketahui memiliki kandungan nutrisi dan serat yang dapat diolah dan dimanfaatkan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk mengatasi masalah limbah tersebut dengan mentransformasi kulit pisang menjadi keripik bernilai jual tinggi. Dengan fokus peserta adalah kelompok usaha kecil dan mikro (UMKM) di Kabupaten Jombang yang melibatkan 5 orang peserta utama. Metodologi pengabdian ini dilakukan menggunakan pendekatan transfer teknologi melalui pelatihan intensif, demonstrasi praktik langsung, dan evaluasi berbasis observasi partisipasi aktif mitra UMKM. Proses kegiatan mencakup optimasi formulasi dengan perendaman larutan kapur, produksi yang efisien, dan uji analisis proksimat serta analisis nilai tambah Hayami. Hasil pengabdian inovasi produk ini menunjukkan produk keripik memiliki mutu pangan yang baik dengan kandungan karbohidrat 71,54% dan protein 6,30%. Dari segi aspek ekonomi analisis menunjukkan HPP yang sangat efisien (Rp 3.245 per unit) dan perolehan dari analisis nilai tambah sebesar Rp 24.225 per kg, menghasilkan rasio nilai tambah yang substansial (96,9%). Kesuksesan ini menegaskan bahwa intervensi ini layak direplikasi, menawarkan solusi yang terukur untuk meminimalisasi limbah padat di sektor pertanian sambil meningkatkan kapasitas, keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal, dan membuktikan adopsi teknologi yang mandiri.

Page 10 of 10 | Total Record : 100