cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@serambimekkah.ac.id
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
jurnalcarong@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tgk. Imum Lueng Bata, Bathoh, Banda Aceh, Indonesia 23245
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora
ISSN : -     EISSN : 30892082     DOI : https://doi.org/10.62710/carong
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora menerbitkan artikel bidang: (1) Pendidikan: Pendidikan dan Pembelajaran, Pendidikan Karakter, Pendidikan Inklusi, Kurikulum Pendidikan. (2) Sosial: Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Sosial, Budaya, Antropologi. (3) Humaniora: Sastra, Sejarah, Bahasa, Seni, Filsafat, Agama, Hukum
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 251 Documents
Pemanfaatan Teknologi Siaran Digital pada Komunikasi Kebencanaan Banjir Dani Setiadarma; Harjono Padmono Putro
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/9t0r2m06

Abstract

The digital transformation of broadcasting has created opportunities to enhance the effectiveness of disaster communication through the utilization of digital broadcasting technology. However, its implementation within local government institutions continues to face various institutional and operational challenges. This study aims to analyze the utilization of digital broadcasting technology in flood disaster communication by government agencies in West Jakarta and to develop a conceptual model explaining the relationship between digital infrastructure capacity, institutional preparedness, and disaster communication effectiveness. This study employed a qualitative approach using an exploratory case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis involving 18 informants from the Regional Disaster Management Agency (BPBD), the Department of Communication and Informatics (Diskominfo), and sub-district governments in West Jakarta. Data were analyzed using thematic analysis supported by NVivo software. The findings reveal disparities in digital broadcasting infrastructure, weak inter-agency coordination, reactive institutional preparedness, and uneven socio-digital transformation among government personnel. The study concludes that the effectiveness of disaster communication is influenced by institutional integration, multi-stakeholder coordination, the improvement of operational procedures, and the enhancement of human resource capacity in utilizing digital broadcasting technology. 
Penerapan Strategi Diferensiasi pada Pembelajaran Al-Qur’an Hadis MTS Miftahul Jannah Palangka Raya Khairunnisa Khairunnisa; Yuliana Khalfiah; Muzakki Muzakki
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/gg4d2h04

Abstract

The diversity of students' abilities, interests, and learning needs requires teachers to implement learning strategies that can accommodate these differences so that the learning process takes place more effectively and inclusively. This study aims to describe the implementation of differentiation strategies and the results of their implementation in Al-Qur'an Hadith learning at MTs Miftahul Jannah Palangka Raya. The study used a qualitative approach with a field research type. The research subjects included Al-Qur'an Hadith teachers, the madrasah principal, the deputy head of curriculum, homeroom teachers, and class VII A students. Data were collected through interview, observation, and documentation techniques, then analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that differentiation strategies are implemented through adjustments to the learning process based on student characteristics by utilizing various methods and media, such as questions and answers, group discussions, learning videos, educational games, and learning assistance for students who need assistance. The implementation of differentiation strategies has a positive impact on increasing student interest in learning, activeness, material understanding, and learning outcomes. Thus, the differentiation strategy has been proven to be able to accommodate the diversity of students and realize more effective, inclusive, and student-centered learning of the Qur'an and Hadith. 
Kepastian Hukum Pengembalian Barang Bukti Sitaan dalam Tindak Pidana Pencurian Berdasarkan KUHAP Fadila Erdiana
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/ae5tyq96

Abstract

Jaksa sebagai eksekutor pengembalian barang bukti ditunjuk oleh Kepala Kejaksaan Negeri untuk menangani perkaranya, kemudian untuk meneliti amar putusan yang akan dilakukan, menyiapkan surat perintah pelaksanaan putusan dilengkapi dengan laporan putusan hakim. Jaksa Penuntut Umum yang berwenang melakukan pengembalian barang bukti tersebut kepada pemilik sebenarnya, dengan mengacu pada Surat Ketetapan Pengadilan. Masalah dalam penulisan ini adalah 1) Bagaimana kedudukan barang bukti sitaan pada putusan Nomor 877/Pid.B/2021/PN.Pbr?, 2) Bagaimana kepastian hukum atas barang sitaan yang tidak dikembalikan pasca putusan Nomor 877/Pid.B/2021/PN.Pbr berdasarkan KUHAP? Hal ini untuk mengetahui kedudukan barang bukti sitaan. Serta untuk mengetahui kepastian hukum atas barang bukti sitaan yang tidak dikembalikan pasca putusan No 877/Pid.B/2021/PN.Pbr berdasarkan KUHAP. Hasil penelitian menunjukkan 1). Pasal 194 ayat (1) KUHAP menentukan bahwa dalam hal putusan pemidanaan, atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum pengadilan menetapkan supaya barang bukti yang disita dapat dikembalikan kepada pihak yang memiliki hak terhadap barang sitaan tersebut, 2). Dijelaskan dalam Pasal 2 Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: Per-002/A/JA/05/2017 bahwa benda sitaan yang telah diputus pengadilan untuk dikembalikan kepada pemiliknya atau yang berhak, putusannya dilaksanakan oleh Jaksa Eksekutor dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah putusan pengadilan diterima oleh Kejaksaan Negeri atau Cabang Kejaksaan Negeri.
Digital Storytelling Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran Produk Batik di Instagram (Studi Kasus Pada Akun @batiksamida di Cirebon) Zaskhya Andretta; Anne Ratnasari; Dedeh Fardiah
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/bd86wb64

Abstract

Industri batik menghadapi tantangan untuk mempertahankan relevansi produk budaya di tengah perkembangan media digital dan perubahan karakteristik audiens. Instagram tidak hanya dapat digunakan sebagai media promosi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengonstruksi cerita, mengomunikasikan nilai budaya, dan membangun identitas brand. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi pemasaran Batik Samida melalui Instagram dengan fokus pada perencanaan konten, digital storytelling, konsistensi identitas brand, dan kolaborasi influencer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui wawancara dengan pemilik, pengelola Instagram, influencer, konsumen, dan informan ahli, serta observasi dan dokumentasi akun @BatikSamida. Data dianalisis menggunakan model interaktif dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan konten didasarkan pada prioritas produk, sumber cerita, momentum, dan fitur Instagram. Digital storytelling mengangkat filosofi motif, pengrajin dan proses membatik, budaya Cirebon, serta penggunaan batik dalam kehidupan modern. Konsistensi identitas brand ditampilkan melalui karakter Cirebon, handmade, kualitas produk, dan perpaduan nilai tradisional dengan pendekatan modern. Kolaborasi influencer menjadi keunggulan karena mempertimbangkan kesesuaian brand dan audiens, menghasilkan komunikasi autentik, serta memperluas jangkauan cerita. Digital storytelling menjadi penghubung antara perencanaan konten, konstruksi identitas brand, dan perluasan komunikasi pemasaran.
Peran Guru dalam Menumbuhkan Kesadaran Etika Digital Siti Aisyah; Fanny Septiany Rahayu; Aris Fadly
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/k85wgg38

Abstract

This study aims to analyze the role of teachers in fostering students' digital ethics awareness at Bima International Elementary School. A descriptive qualitative approach was employed. Data were gathered through observation, interviews, and documentation, involving teachers, students, and parents as sources of information. Data analysis was conducted through the stages of data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that teachers play six key roles in fostering students' digital ethics: providing education on healthy internet use, guiding technology usage, supervising digital activities, setting an example, instilling a sense of digital responsibility, and developing digital literacy. These roles are implemented through habituation, guidance, reinforcement, educational reprimands, supervision, mentoring, and communication with parents. Students' digital awareness is developing through behaviors such as using polite language, respecting peers, following teacher instructions, adhering to rules for digital media use, utilizing technology for learning, and avoiding age-inappropriate content. However, students' ability to verify digital information still requires guidance. Challenges encountered include differences in student character and abilities, limited instructional time, and limited supervision of technology use at home. Thus, fostering digital ethics awareness requires a continuous process and collaboration among teachers, students, and parents to ensure that technology use is not only effective but also safe, polite, critical, and responsible.  
Penerapan Model Kooperatif STAD untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas III SDN 091 Malimongan Kasman Tyarorok; Mulyadi Mulyadi; Abrina Maulidnawati Jumrah; Supriadi Supriadi
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/0kn2ed56

Abstract

Keberanian bertanya, keaktifan berdiskusi, dan semangat mengikuti pembelajaran siswa kelas III SDN 091 Malimongan masih tergolong rendah, dan kondisi inilah yang melatarbelakangi penelitian ini dilakukan. Sebagai respons atas persoalan tersebut, model kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) diterapkan dengan tujuan mengungkap sejauh mana penerapannya mampu mendongkrak motivasi belajar siswa kelas III SDN 091 Malimongan. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengacu pada model Kemmis dan McTaggart, yang dilaksanakan dalam dua siklus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia (materi teks deskripsi pada Siklus I dan teks narasi pengalaman pada Siklus II) dengan melibatkan 20 siswa kelas III, terdiri atas 9 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi selama pelaksanaan tindakan, kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan teknik persentase. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata motivasi belajar peserta didik secara klasikal naik dari 66,17 persen (kategori cukup) pada pratindakan menjadi 71,83 persen (kategori cukup) pada Siklus I, dan kembali naik menjadi 78,50 persen (kategori baik) pada Siklus II. Capaian tersebut telah melampaui indikator keberhasilan minimal 76 persen berkategori baik. Temuan pada Siklus II ini mengindikasikan bahwa penerapan model kooperatif STAD berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar siswa kelas III SDN 091 Malimongan secara bertahap dan konsisten.  
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Berbasis Kartu Edukasi untuk Meningkatkan Pemahaman IPAS Materi Pahlawan Nasional Asri Mupidatunnisa; Hilman Mangkuwibawa; Kawuryansih Widowati
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/57qwf506

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman peserta didik kelas V MI Mihadunal Ula pada mata pelajaran IPAS materi pahlawan nasional, yang disebabkan oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan kurangnya keterlibatan aktif peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran cooperative learning tipe Teams Games Tournament (TGT) berbasis kartu edukasi, keterlaksanaan penerapan model tersebut pada setiap siklus, dan peningkatan pemahaman peserta didik setelah diterapkannya model tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan subjek penelitian sebanyak 29 peserta didik kelas V. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik pada tahap prasiklus tergolong rendah, dengan nilai rata-rata 48,9 dan ketuntasan klasikal sebesar 24%. Keterlaksanaan pembelajaran meningkat pada setiap siklus, baik dari aktivitas guru (64,7% pada siklus I menjadi 100% pada siklus III) maupun aktivitas peserta didik (65,5% menjadi 87,5%), keduanya mencapai kategori sangat baik. Pemahaman peserta didik turut meningkat secara bertahap, dari 64,1 pada siklus I, 87,9 pada siklus II, hingga mencapai 90 pada siklus III, dengan ketuntasan klasikal mencapai 100% pada akhir siklus III. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe TGT berbantuan kartu edukasi terbukti efektif, sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan pemahaman peserta didik dan tercapainya ketuntasan klasikal 100%, dalam meningkatkan pemahaman peserta didik pada mata pelajaran IPAS materi pahlawan nasional.
Efektivitas Penggunaan Media Monopoli Math terhadap Pemahaman Konsep Luas dan Keliling Bangun Datar pada Siswa Fase B Azka L' Farhah; Hilma Mangkuwibawa; Ani Yanti Ginanjar
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/rzntt027

Abstract

This study was motivated by the low level of concept understanding among fourth-grade students of MI At-Taqwa 18 Bekasi City on the topic of area and perimeter of plane figures, with 57% of class IV-A students and 47% of class IV-B students failing to reach the Learning Achievement Criteria (KKTP) of 74. This research aimed to examine students’ concept understanding using picture-based media in the control class and Monopoly Math media in the experimental class, and to determine the difference in the average increase of concept understanding between the two. A quantitative approach with a quasi-experimental method and a nonequivalent control group design was applied, involving 70 students (35 in each class) across six meetings in the even semester of the 2025/2026 academic year. Data were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov normality test, N-Gain Score, and the Mann-Whitney test. Results showed the experimental class’s posttest mean (72.74, moderate category) exceeded the control class’s (66.51, low category), with N-Gain scores of 0.5181 and 0.4473 respectively, both moderate. The Mann-Whitney test on N-Gain scores yielded Asymp. Sig. (2-tailed) of 0.043 (< 0.05), so H0 was rejected. Monopoly Math media was thus significantly more effective in improving students’ understanding of area and perimeter concepts than picture-based media.  
Strategi Pengawasan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan Dan Anak (UPTD PPA) Dalam Pengendalian Kekerasan Terhadap Anak di Kota Cilegon Azzahra Nayla Aqila; Rizki Amilia; Try Adhi Bangsawan
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/fjrjyr45

Abstract

Violence against children in Cilegon City remains a serious issue that requires integrated supervision and control. The Regional Technical Implementation Unit for Women and Child Protection (UPTD PPA) plays a strategic role in ensuring that prevention, case handling, assistance, and protection for child victims of violence are implemented effectively. This study aims to analyze the supervision strategies implemented by UPTD PPA in controlling violence against children in Cilegon City and to identify supporting and inhibiting factors in their implementation. This research employed a descriptive qualitative method, with data collected through interviews, observations, and documentation. Informants were selected purposively based on their involvement in and knowledge of child protection services. The results show that UPTD PPA’s supervision strategy is carried out through monitoring reported cases, coordinating with the police, health facilities, local government, schools, and communities, as well as providing psychological and legal assistance to victims. However, implementation continues to face several challenges, including limited human resources, inadequate supporting facilities, low public awareness of reporting cases, and coordination that has not been fully optimized. In conclusion, UPTD PPA’s supervision strategy has been implemented, but it needs to be strengthened through improved human resource capacity, supporting facilities, cross-sector coordination, and public education to achieve more effective and sustainable control of violence against children.
Implementasi Kebijakan Penertiban Terminal Bayangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Kawasan Patung Tugu Debus Kota Serang Faicha Nurhasna; Gatot Hartoko; Ita Rosita Wahyiah
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/r8ga5f78

Abstract

Keberadaan terminal bayangan di kawasan Patung Tugu Debus Kota Serang masih menjadi permasalahan transportasi karena aktivitas angkutan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal resmi. Kondisi tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas dan meningkatkan potensi kecelakaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan penertiban terminal bayangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta mengetahui upaya pengawasan dan penertiban oleh instansi terkait. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif berdasarkan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penertiban telah dilakukan melalui pengawasan, patroli, teguran, sosialisasi, dan koordinasi antarinstansi. Namun, implementasinya belum optimal karena masih terdapat pengemudi yang menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal resmi akibat faktor ekonomi, kebiasaan masyarakat, dan penegakan yang cenderung persuasif. Diperlukan pengawasan konsisten, koordinasi berkelanjutan, penegakan aturan lebih tegas, serta peningkatan kesadaran pengemudi dan masyarakat agar ketertiban transportasi dapat terwujud secara optimal dan berkelanjutan.