Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Analisis Pengaruh Internal Customer Satisfaction Terhadap Employee Loyalty di Rumah Sakit Umum Bahagia Windarti, Sriyani; Hastuti; Ekawaty, Dian; mangindara; Mashud
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2026): Vol.2 No.3 2026 January-March
Publisher : Edu Berjaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70817/jmbk.v2i3.63

Abstract

Pelanggan internal rumah sakit adalah sumber daya manusia yang membutuhkan layanan, dukungan, atau informasi dari pihak lain di dalam rumah sakit untuk bekerja secara efektif. Tingkat kepuasan kerja Rumah Sakit Umum Bahagia Makassar mengalami kenaikan di tiap tahunnya dimana karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pengaruh internal customer satisfaction terhadap employee loyalty di Rumah Sakit Umum Bahagia Makassar. Metode, jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian ini dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 127 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan teknik analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat. Hasil dan kesimpulan ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perhatian terhadap perencanaan dan pengembangan karir pada karyawan terhadap employee loyalty (p = 0.004), terdapat pengaruh pemberian gaji dan bonus yang sesuai harapan terhadap employee loyalty (p = 0.001), terdapat pengaruh hubungan baik dengan rekan kerja terhadap employee loyalty (p = 0.0001), tidak terdapat pengaruh pengawas terhadap employee loyalty (p = 0.167), terdapat pengaruh benefit terhadap employee loyalty (p = 0.0001), terdapat pengaruh prosedur pelaksanaan terhadap employee loyalty (p = 0.0001), dan tidak terdapat pengaruh harapan kinerja terhadap employee loyalty (P = 0.304). Saran, diharapkan kepada pihak rumah sakit untuk dapat mendukung proses peningkatan sikap dan disiplin kerja bagi karyawan sehingga karyawan dapat mencapai keberhasilan yang di inginkan.
KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI ORGANISASI PERSPEKTIF AL QUR'AN Mashud; Abdul Kohar
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 13 No. 2 (2025): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v13i2.824

Abstract

Kepemimpinan dalam perspektif Islam tidak hanya dipandang sebagai fungsi sosial, melainkan juga sebagai amanah ilahiah yang memiliki dimensi moral dan spiritual. Artikel ini mengkaji konsep kepemimpinan Qur’ani dan relevansinya dalam komunikasi organisasi modern dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an (QS. Al-Baqarah [2]:30; QS. Sad [38]:26; QS. Asy-Syura [42]:38; QS. Ali Imran [3]:159; QS. An-Nisa [4]:58) serta hadis Nabi SAW. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur tafsir klasik dan kontemporer, serta teori komunikasi organisasi modern, penelitian ini menemukan lima prinsip utama kepemimpinan Qur’ani yang berimplikasi langsung pada pola komunikasi organisasi. Pertama, kepemimpinan dipandang sebagai amanah ilahiah yang menuntut tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Kedua, komunikasi organisasi harus ditegakkan di atas keadilan dan prinsip tabayyun. Ketiga, musyawarah menjadi mekanisme Qur’ani untuk mencegah tirani dan memperkuat partisipasi. Keempat, kepemimpinan Qur’ani menolak gaya otoriter dengan menekankan kelembutan dan empati dalam komunikasi. Kelima, trust atau kepercayaan menjadi fondasi relasi pemimpin dan bawahan yang dibangun melalui kejujuran, transparansi, dan konsistensi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip komunikasi Qur’ani sangat relevan untuk menjawab tantangan organisasi modern, khususnya dalam membangun iklim kerja yang sehat, partisipatif, dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Rekomendasi praktis yang diajukan antara lain penguatan budaya musyawarah terbuka, penghindaran kepemimpinan otoriter, integrasi nilai Qur’ani dalam kurikulum manajemen dan komunikasi, penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta pengembangan riset interdisipliner tentang komunikasi Qur’ani. Dengan demikian, kepemimpinan Qur’ani dapat menjadi paradigma alternatif dalam membangun komunikasi organisasi yang produktif sekaligus bernilai ilahiah.
KOMUNIKASI DAKWAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN IMPLEMENTASINYA DI ERA DIGITAL Mashud
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 14 No. 1 (2025): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v14i1.845

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah secara mendasar pola interaksi manusia, termasuk dalam praktik komunikasi dakwah. Era digital menghadirkan ruang publik baru yang bersifat virtual, interaktif, dan lintas batas geografis, sehingga pesan dakwah dapat tersebar secara cepat dan masif melalui media sosial, platform video, podcast, maupun beragam aplikasi digital. Di satu sisi, kondisi ini merupakan peluang besar bagi perluasan jangkauan dakwah; di sisi lain, ia juga melahirkan beragam tantangan seperti misinformasi, ujaran kebencian, komersialisasi agama, serta menurunnya kualitas otoritas keilmuan dalam penyampaian pesan Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep komunikasi dakwah dalam perspektif Al-Qur’an dengan fokus khusus pada QS. An-Nahl [16]:125 dan ayat-ayat dakwah lainnya serta mengelaborasi implementasi nilai-nilai Qur’ani tersebut dalam praktik dakwah digital di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap literatur tafsir, ilmu dakwah, dan hasil-hasil penelitian mutakhir mengenai dakwah digital dan komunikasi Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan komunikasi dakwah pada tiga pilar utama: al-ḥikmah (kebijaksanaan epistemik dan kontekstual), al-mauʿizhah al-ḥasanah (nasihat yang baik dan menyentuh), serta al-mujādalah bi-allatī hiya aḥsan (dialog argumentatif yang etis).[1] Prinsip ini diperkuat oleh ayat-ayat lain seperti QS. Āli ʿImrān [3]:104, 110; QS. Fuṣṣilat [41]:33; dan QS. Al-Ḥujurāt [49]:6, 11–12 yang menekankan pentingnya verifikasi informasi (tabayyun), etika bertutur, dan penghormatan terhadap martabat manusia.[2] Artikel ini menyimpulkan bahwa komunikasi dakwah di era digital hanya akan efektif apabila pelaku dakwah mampu: (1) mengintegrasikan prinsip-prinsip Qur’ani dalam desain pesan dan interaksi di media sosial; (2) memahami karakteristik khalayak digital, terutama generasi milenial dan Gen Z; (3) menguasai literasi digital serta etika bermedia; dan (4) mengembangkan model komunikasi dakwah yang dialogis, partisipatif, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan publik. [1] Siti Zahraini dan Bob Andrian, “Metode Penyampaian Pesan Dakwah dalam Al-Qur’an: Analisis Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 125,” Ibn Abbas: Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir 6, no. 2 (2023): 141–142. [2] Ibid, 144-147
ETIKA PENAFSIRAN AYAT DAKWAH DI RUANG DIGITAL: ANTARA POPULARITAS KONTEN DAN OTORITAS KEILMUAN Mashud
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 14 No. 2 (2026): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v14i2.864

Abstract

Perkembangan media digital telah mengubah wajah dakwah Islam secara mendasar. Dakwah yang dahulu lebih banyak berlangsung melalui mimbar, majelis taklim, pesantren, buku, radio, dan televisi kini hadir dalam ruang digital yang cepat, terbuka, interaktif, serta sangat dipengaruhi oleh logika algoritma. Salah satu bentuk perubahan yang menonjol adalah penyebaran tafsir ayat-ayat dakwah melalui YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, podcast, dan aplikasi percakapan. Fenomena ini membuka peluang besar bagi perluasan akses masyarakat terhadap pesan Al-Qur’an, tetapi sekaligus menghadirkan persoalan etik dan epistemologis berupa penyederhanaan makna, pemotongan konteks, sensasionalisasi, komodifikasi, dan terbentuknya otoritas keagamaan baru yang sering kali lebih ditentukan oleh popularitas digital daripada kapasitas keilmuan. Artikel ini bertujuan menganalisis etika penafsiran ayat dakwah di ruang digital dengan menempatkan ketegangan antara popularitas konten dan otoritas keilmuan sebagai fokus utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis deskriptif-kritis, normatif-hermeneutis, dan kajian media digital. Sumber kajian meliputi ayat-ayat Al-Qur’an tentang dakwah dan etika komunikasi, literatur ulum al-Qur’an, kitab tafsir, teori dakwah, etika komunikasi Islam, serta penelitian mutakhir tentang tafsir dan dakwah digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa dakwah digital berbasis tafsir memerlukan integrasi antara ketepatan metodologi tafsir, adab dakwah, literasi digital, transparansi sumber, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini menawarkan model etika tafsir dakwah digital yang mencakup lima prinsip utama: otoritas keilmuan, integritas makna, kesantunan komunikasi, akuntabilitas sumber, dan kemaslahatan publik. Model ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi dai, kreator dakwah, lembaga pendidikan Islam, dan masyarakat digital agar dakwah Al-Qur’an tetap relevan, komunikatif, ilmiah, dan bertanggung jawab.
The application of discord as an effort to increase students’ wellbeing in physical education learning during the COVID-19 emergency Mashud; Warni, Herita; Arifin, Syamsul; Ferry, Muhammad; Pebriyandi; Kristiyandaru, Advendi
Journal Sport Area Vol 6 No 3 (2021): December
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2021.vol6(3).6612

Abstract

Physical education learning in high school during the current Covid-19 emergency, teachers have difficulty delivering material, controlling, evaluating, and providing learning feedback, especially on basic competencies that contain motion. The research objective was to improve students’ wellbeing in high school physical education learning during the Covid-19 emergency by implementing the disdcord application. Students’ wellbeing in this study, the researcher described three indicators of achievement, that is: 1) appropriateness of learning, 2) student satisfaction in learning, and 3) improved learning outcomes. The research method used was a pre-experimental one group pre-test post-test design. The population was the students of SMAN I Kota Banjarbaru class X totaling 8 classes. Two classes of samples were selected by random technique. The learning implementation instrument and student satisfaction with learning used a questionnaire with a likert scale, while for learning outcomes using a push-up test and sit-up test. The data analysis technique used the t-test sample paired test. The results of the study showed an increase in students’ wellbeing in terms of; 1) a significant increase in the implementation of learning seen from the value of the two-tailed difference test (2-tailed) = 0.000 < 0.05, 2) a significant increase in student satisfaction in learning seen from the two-way difference test value (2-tailed) = 0.000 < 0.05, and 3) a significant increase in student learning outcomes seen from the two-way difference test value (2-tailed) = 0.000 < 0.05. The conclusion of the research is that the application of the discord application in learning physical education in high schools during the Covid-19 emergency improves students’ wellbeing.
Somatotype of the Tarung Derajat martial arts athletes in the fighter category Samodra, Y. Touvan Juni; Gustian, Uray; Seli, Sesilia; Riyanti , Dwi; Suryadi, Didi; Fauziah, Ella; Mashud
Journal Sport Area Vol 8 No 1 (2023): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2023.vol8(1).11015

Abstract

Somatotype is a parameter used to determine criteria based on body type. However, not many have taken somatotype measurements when selecting prospective athletes. The purpose of this study is to examine the somatotype of fighters in Tarung Derajat Martial Arts. In this study, tests and measurements of somatotype were carried out using manual anthropometric measurements, including height, weight, skinfold measurements at five points (biceps, triceps, suprailliaca, subscapula, and calf), arm circumference, calf circumference, and measurement of the width of the humerus bone and femur. The purposive sampling technique is used in determining the sample. In this study, 15 Tarung Derajat martial arts athletes, consisting of seven men and eight women, were sampled. The results of this study showed that 7 athletes had a mesomorph endomorph somatotype with a percentage of 46%, 1 athlete had an endomorph somatotype with a 7% percentage, 6 central athletes had a percentage of 40%, and 1 athlete had an ectomorph endomorph somatotype with a percentage of 7%. Finally, the dominant body type in Tarung Derajat Fighter athletes is mesomorph endomorph (46%), followed by central (40%). This study's data provide physical characteristics of degree fighters, which can be used to establish a reference for systematic sports medicine research.
Effectiveness of the integration of SPT-Drill and imagery training methods: A treatment to beat target panic in archery Priambudi, Muhammad Amin; Mashud; Arifin, Syamsul
Journal Sport Area Vol 9 No 1 (2024): April
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2024.vol9(1).13781

Abstract

Background Problems: Target panic was an experience that almost all archers went through. Research Objectives: This study aimed to minimise the symptoms of target panic in archery, including flinching, punching, freezing, and snap-shooting, by implementing the integration of the Specific Physical Training (SPT) Drill method with imagery. Methods: In this context, the method used is sports action research with the Kurt Lewin model, which consists of planning, implementation, observation, and reflection. The subjects were NPCI Kalsel Para-Archery athletes, totaling 12 athletes consisting of 9 males and 3 females. The data analysis used is descriptive-quantitative. Findings and Results: The study revealed an improvement in effectively managing panic-inducing events using the implemented method. In the initial cycle, 41.67% (5 athletes) achieved success in controlling panic, falling below the criteria. However, in the second cycle, there was a notable enhancement, reaching a success rate of 83.33% (10 athletes), meeting criteria. In the second cycle, proficiency levels showed a remarkable increase of 99.98% and a decrease of 28.58%. Conclusion: By demonstrating the effectiveness of integrating the SPT drill with imagery in alleviating target panic, this research makes a noteworthy contribution to the literature on sports psychology and archery training. The results highlight the appropriateness of this approach in improving archers' physical conditioning, fostering confidence, and subtly reshaping their perspectives on anxiety related to archery. We can say that the SPT drill with imagery worked because it got better every time from the first cycle to the next. This shows that it could be a good way to help archers who get target panic.