Perkembangan teknologi dan peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi berpengaruh pada berkurangnya luas lahan pertanian produktif di Indonesia. Sehingga terjadi penurunan produksi sayuran unggulan, dari 11.412.251 ton pada 2012 menjadi 8.137.032 ton pada 2013 (BPS, 2022). Selain itu, prevalensi hipertensi yang meningkat, mencapai 30,9% pada 2016, menambah urgensi untuk menemukan solusi pangan yang dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Sukini (Cucurbita pepo) merupakan salah satu sayuran yang berpotensi mengatasi hipertensi berkat kandungan bioaktifnya, seperti anti hipertensi dan anti inflamasi. Meskipun demikian, minat petani untuk membudidayakan sukini di Indonesia masih rendah (Occhino et al., 2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi budidaya sukini di Indonesia dan pengaruh pemberian pupuk ZA dan KCl terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman sukini. Penelitian dilaksanakan di Kota Batu pada ketinggian 1.000 mdpl menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 dosis ZA (75 kg ha-1 dan 150 kg ha-1) dan 4 dosis KCl (50 kg ha-1, 100 kg ha-1, 200 kg ha-1, dan 400 kg ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk ZA dan KCl berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sukini. Dosis ZA 150 kg ha-1 menghasilkan bobot buah lebih tinggi (1.586 g tan-1) dengan peningkatan 8,18% dibandingkan ZA 75 kg ha-1. Pemberian KCl 400 kg ha-1 meningkatkan bobot buah menjadi 1.672 g tan-1, meningkat 14,83% dibandingkan KCl 50 kg ha-1.