Claim Missing Document
Check
Articles

PENATAAN PERMUKIMAN NELAYAN BERBASIS EKOKULTUR DI KELURAHAN BAROMBONG KOTA MAKASSAR [ECOCULTURE DEVELOPMENT OF A FISHERMEN SETTLEMENT IN BAROMBONG VILLAGE, MAKASSAR] Andi Asmuliany; Andi Annisa Amalia; Mutmainnah Mutmainnah
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol 4, No 2 (2020): April
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v4i2.2419

Abstract

The locus of community service activities is a residential corridor node by exploring the communal space of fishermen in the Biringkassi Barombong Village. The concept of ecoculture is a concept that combines ecological aspects, namely the fishermen's environmental ecosystem and the culture of the community, namely Bugis Makassar in managing fishermen settlements towards livable and sustainable livelihood. The method used in this community service is the Regional Arrangement Method with a participatory ecocultural approach. making mockups of existing areas, FGD identification of communal spaces, drafting of concepts, agreement on the arrangement of communal spots, and activities of structuring communal spots. The structuring of the Biringkassi Barombong Fishermen Village is a result of the community's contribution in increasing the environmental assets of the settlements owned by the fishing community through he adoption of the Bugis Makassar ornament and the setting of the shared area and the use of natural colors as a symbol of closeness to the sea.Bahasa Indonesia Abstrak: Lokus kegiatan pengabdian adalah node koridor permukiman dengan mengeksplorasi ruang komunal nelayan Kampung Biringkassi Barombong. Konsep ekokultur merupakan konsep yang mengkombinasikan aspek ekologi yaitu ekosistem lingkungan nelayan dan budaya masyarakat yaitu Bugis Makassar dalam menata permukiman nelayan menuju layak huni dan sustainable livelihood. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian ini adalah Metode Penataan Kawasan dengan pendekatan partisipatif yang ekokultur. pembuatan maket eksisting kawasan, FGD identifikasi ruang komunal, penyusunan konsep, penyepakatan spot komunal penataan, dan kegiatan aksi penataan spot komunal. Penataan Kampung Nelayan Biringkassi Barombong merupakan hasil kontribusi masyarakat dalam peningkatan aset-aset lingkungan permukiman yang dimiliki oleh komunitas nelayan melalui adopsi ornamen Bugis Makassar dan setting area yang digunakan secara bersama dan penggunaan warna alami sebagai simbol kedekatan dengan laut.  
Pelatihan food photography bagi kelompok UKM kuliner Kecamatan Rappocini Kota Makassar Siti Fuadillah; Andi Annisa Amalia; Khilda Wildana Nur
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Juli
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v4i2.819

Abstract

Usaha makanan atau kuliner saat ini menjadi tren dan gaya hidup terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, Makassar dan kota-kota besar lainnya. Makanan merupakan elemen kuat dalam menunjukkan dan memperkenalkan daerah maupun sebuah usaha kuliner. Hal ini mendasari tren perkembangan fotografi makanan atau food photography. UKM Kuliner Kecamatan Rappocini saat ini hanya mengemas produk kulinernya dengan sederhana, mengambil sampel foto di sosial media maupun internet yang bukan merupakan foto produk secara original. Sehingga pembeli kurang tertarik dengan kuliner tersebut. Hal ini mendasari kegiatan pengabdian masyarakat dalam Pelatihan food photography bagi pelaku usaha tersebut sebagai solusi pengembangan UKM kuliner yang ada di Rappocini. Metode pelatihan adalah melakukan sosialisasi tentang kegiatan dan pembekelan materi mengenai Langkah-langkah pembuatan food photography kemudian peserta melakukan praktek langsung dan penilain hasil pemotretan dari sampel makanan yang disiapkan. Target luaran yang diharapkan adalah peningkatan kapasitas pelaku UKM Kuliner, peningkatan kapasitas dalam promosi dan pemasaran UKM dari food photography sehingga dapat menjadi UKM yang lebih professional dan mandiri.
Prototipe Desain Ruang Produktif Kelompok Ibu Rumah Tangga Nelayan di Kampung Ujung Kassi Kelurahan Barombong Kota Makassar Andi Annisa Amalia
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Vol 3, No 1 (2020): MAY
Publisher : Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Sekolah Vokasi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jp2m.53415

Abstract

Masyarakat di Kampung Nelayan Ujung Kassi seringkali memanfaatkan bagian kolong rumahnya (siring) sebagai gudang, penyimpanan peralatan melaut, tempat istirahat, tempat jualan, tempat menidurkan anak serta aktivitas kelompok khususnya ibu rumah tangga nelayan. Karena beragamnya fungsi dan aktivitas yang dilakukan pada kolong rumah dengan luasan yang terbatas, maka dibuat prototype kolong rumah panggung yang dapat difungsikan sebagai ruang produktif bagi kelompok ibu rumah tangga nelayan. Metode yang digunakan adalah workshop dan Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan pendekatan partisipatif desain.  Hasil kegiatan Pengabdian  ini adalah rancangan ruang produktif kolong rumah panggung, storage multifungsi, pelatihan membuat tanaman hias, dan aturan bersama dalam penggunaan ruang produktif nelayan. Rancangan  ruang ini berimplikasi pada terbentuknya fungsi baru pada bagian bawah rumah panggung nelayan untuk melakukan aktivitas yang lebih bernilai produktif secara ekonomi dan berpotensi menunjang perekonomian rumah tangga nelayan. Selain itu, dengan adanya prototype tersebut eksistensi nilai sosial pada kolong rumah panggung nelayan sebagai sebagai ruang komunal tetap dipertahankan
PENATAAN KORIDOR KULINER SEHAT UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI LOKAL DI PERMUKIMAN KUMUH KAMPUNG KALIMBU KELURAHAN WAJO BARU MAKASSAR Andi Asmuliany; Andi Annisa Amalia
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v12i2.42535

Abstract

Salah satu metode pembelajaran yang sudah lama diterapkan di beberapa Negara seperti Canada dan Amerika adalah metode pembelajaran Service Learning. Metode ini efektif untuk mendorong universitas dalam mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam melayani masyarakat serta bermitra dengan masyarakat. Untuk mahasiswa, Service Learning dapat memberikan model pembelajaran aktif tidak hanya kuliah tatap muka dikelas tetapi juga praktek langsung di lapangan, membantu pemerintah dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, sehingga mahasiswa dapat menjadi lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat disekitarnya dan memahami bagaimana penerapan ilmunya dilapangan. Kampung Kalimbu adalah kampung di Kota Makassar yang sudah lama ada sejak zaman Belanda. Dahulu kawasan ini merupakan wilayah kota Tua Makassar yang menjadi bagian penting dalam sejarah Kota Makassar. Berbagai persoalan sosial masyarakat lebih banyak muncul dari lorong-lorong yang kumuh, terutama di wilayah pusat konsentrasi permukiman dan perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang standar kuliner sehat, menciptakan ruang jualan yang sehat bagi pedagang kuliner yang lebih inovatif sehingga dapat menjadi daya dorong bagi mereka untuk mengembangkan usahanya menjadi industri makanan yang lebih kreatif dan berkarakter lokal, menjadikan lorong sebagai akses utama sirkulasi dapat berfungsi kembali menjadi ruang publik bagi masyarakat yang bertempat tinggal di dalam lorong dan enjadikan ruang publik yang lebih menarik sehingga mampu menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Kota Makassar. Hasil dari peneltian ini adalah tertatanya koridor kuliner sehat sehingga memberikan wajah baru bagi kondisi lorong di permukiman Kampung Kalimbu Kata Kunci : Koridor Kuliner sehat, Kampaung Kalimbu, Service Learning
MODULAR BEHAVIOR VILLAGE CONCEPT TO IMPROVE THE QUALITY OF FISHERMEN'S SETTLEMENTS, CASE STUDY : BARRANG LOMPO ISLAND, MAKASSAR Aldi, Muhammad; Latif, Sahabuddin; Amalia, Andi Annisa; Yusri, Andi; Amal, Citra Amalia; Paddiyatu, Nurhikmah
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Idealog Vol 9 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v9i1.6782

Abstract

The coastal areas of Makassar City face challenges such as population growth, environmental abrasion, land use conflicts, slums and the emergence of settlements on the water that impact the livelihoods of fishermen and marine resources. This phenomenon emphasizes the need for architectural design that focuses on the order of fishermen's settlements. The research location of the fishermen village arrangement design on Barrang Lompo Island, Sangkarrang Islands District, Makassar City RW004 is mostly inhabited by Jolloro fishermen, an area of 4.14 Ha with a population of 213 people / 216 family heads. The diversity of the island's potential is the basis for considering the need for a structuring concept with a typical fishermen's thematic village theme to maintain the uniqueness and sustainability of Barrang Lompo Island. The results of the concept design of the area arrangement consist of 3 main functions, namely residential, independent economic center, and tourism. In the concept of site arrangement, there are residences, green open spaces, fields, ARSINUM, RESERVOIR, UMKM corner, fishing and tourism docks, and interaction spaces. By applying the Modular Behavior concept, it is expected to provide ease of development and modification in the future, energy efficiency, and the use of environmentally friendly materials. This concept can be a reference for the concept of revitalization of the fishing village area in the case study of RW004 Barrang Lompo Island, Makassar City and can be applied to coastal areas and small islands in Indonesia with different conditions. Keywords : abrasion, area planning, barrang lompo island, modular concept, sustainability
Pemanfaatan Limbah FABA (Fly Ash Bottom Ash) dalam Penataan Ruang Komunal Anak di Kampung Nelayan Barombong Kota Makassar Andi Asmuliany; Amalia, Andi Annisa; Irma Rahayu
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 26, No. 4, Oktober 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v26i4.2072

Abstract

Communal space for children of Biringkassi Barombong fishing village is located in the outer space of residential buildings, namely in the transition zone between land, water and mangrove vegetation. Activities carried out by fishermen children include exploring, playing, increasing sensory to the playground, interacting, expressing and creating. However, some spaces in quality are not yet representative as play spaces. For this reason, it is necessary to arrange materials made from FABA waste that apply environmentally friendly principles. The aspect of efficiency because its use requires lower costs, local material categories, and is resistant to sea water and is very suitable for soil and water conditions in Barombong Fisherman Village. The purpose of national integrated research-based community service activities is to organize the communal space of fishermen's children by applying FABA Waste. The ABCD method is an asset-based community with FABA material as the main element in the arrangement because the material properties are environmentally friendly, easy to modify, and resistant to coastal environmental conditions with an area of 21 m2 can minimize coal waste from burning electricity. The socio-cultural activity space is located in the settlement transition area. The space is set as a children's play space in the natural and built space of the fishermen group. The distribution of these spaces includes ponds, soccer fields, bridges, backyards, and sandbars. The results of service activities in the form of ideas, designs and applications for utilizing FABA (Fly Ash and Bottom Ash) by building children's playgrounds can become prototypes while improving the quality of built environment assets, especially in urban coastal informal settlements.
Tinjauan Literatur: Informalitas Permukiman Informal Perkotaan Amalia, Andi Annisa; Ikaputra, Ikaputra
Jurnal Linears Vol 7, No 1 (2024): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v7i1.14344

Abstract

Permukiman informal seringkali berkembang menjadi struktur yang lebih formal namun sulit untuk diidentifikasi secara jelas. Hal ini disebabkan oleh prinsip informalitas belum sepenuhnya dipahami secara teoritis, terutama pada spasial. Dari sudut pandang teritorial, permukiman informal sering tidak terlihat dalam struktur kota formal, bahkan jalanannya tidak tercatat dalam peta formal. Untuk  memahami prinsip informalitas dalam proses perkembangan permukiman informal, langkah awal yang diperlukan adalah melakukan tinjauan literatur. Tujuan studi literatur dalam penelitian ini adalah untuk menemukan prinsip dasar informalitas dalam permukiman informal perkotaan. Metode penelusuran literatur informalitas permukiman informal menggunakan analisis bibliometrik, State of The Art, etimologi, teoretis dan studi kasus di beberapa negara wilayah global selatan sebagai referensi. Adapun hasil tinjauan literatur: 1) Analisis Bibliometrik Vosviewer menghasilkan lima klasterisasi yaitu informal settlement, informal settlements, housing, urban development dan urban morphology; 2) subyek permukiman informal erat dengan urbanisasi, informalitas, perubahan iklim, daerah terbangun dan hunian terjangkau; 3) lokus permukiman informal umumnya terkonsentrasi di pusat kota, bangunan hunian, slum, squater, dan negara berkembang; 4) Informalitas permukiman informal perkotaan muncul dan tumbuh secara generatif melalui pengorganisasian mandiri dan kumpulan adaptif sebagai strategi bermukim, berkembang dengan spontan, tidak terdaftar dan ilegal; 5) Mode produksi permukiman informal adalah irregular (sporadis), inferior, insecure (tidak terjamin), illegal (ilegal), insurgent (perlawanan), incremental (inkremental) dan improvisation (improvisasi). Informalitas dalam permukiman informal diawali dengan urbanisasi informal, mencakup praktik-praktik spasial permukiman yang berasal dari ide dan inisiatif para pemukim. Secara teknis terbentuk di luar jangkauan peraturan, tidak terkendali dan tidak terencana.
KARAKTERISTIK HUNIAN PERMUKIMAN KUMUH KAMPUNG SAPIRIA KELURAHAN LEMBO KOTA MAKASSAR Amalia, Andi Annisa
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 5 No 1 (2018): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v5i1a2

Abstract

Abstrak_ Pemenuhan kebutuhan tempat tinggal bagi kaum migran yang seringkali menyewa rumah di bagian pusat kota karena dekat dengan lokasi mata pencaharian berdampak pada terjadinya proses perkembangan bangunan yang tidak terkendali dan menciptakan permukiman kumuh. Kampung Sapiria  merupakan salah satu permukiman di Kota Makassar yang didominasi oleh kaum migran. Hal ini karena nilai strategis lokasinya pada tepian air Bantaran Kanal Pannampu ,dekat dengan simpul-simpul jasa distribusi kota, terdapat fasilitas pendidikan, dan kemudahan akses menuju Pelabuhan Paotere serta Tol Reformasi. Kampung Sapiria yang terletak di Kelurahan Lembo merupakan salah satu dari 103 titik kumuh di Kota Makassar dengan luas kumuh 4,53 ha. Lokasi kumuh Kampung Sapiria Kelurahan Lembo berada di RW 002 dan RW 005 berkategori kumuh sedang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik kumuh Kampung Sapiria dari aspek bangunan hunian meliputi ketidakteraturan bangunan, kepadatan bangunan hunian,  ketidaksesuaian dengan persyaratan teknis bangunan, dan legalitas bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Hasil identifikasi karakteristik hunian permukiman kumuh Kampung Sapiria diketahui bahwa 28 % bangunan yang memiliki ketidakteraturan, 85 % bangunan hunian yang memiliki luas lantai tidak sesuai standar, 22 % bangunan hunian tidak sesuai persyaratan teknis, 10 % bangunan hunian memiliki IMB dan 5 % dengan status lahan milik. Kata kunci : Migran ; Kekumuhan ; Ketidakteraturan ; Kepadatan ; Legalitas.  Abstract­_ Fulfilling residential needs for migrants who often rent houses in the downtown area as close to livelihood locations has an impact on uncontrolled development of buildings and creating slums. Kampung Sapiria is one of the settlements in Makassar City which is dominated by migrants. This is because of the strategic value of its location on the waterfront of Pannampu  Canal, close to the nodes of the city's distribution services, educational facilities, and easy access to Paotere Port and Reform Toll. Kampung Sapiria located in Lembo Village is one of 103 slum point in Makassar City with slum area of 4.53 ha. The slum location of Kampung Sapiria Kelurahan Lembo is located at RW 002 and RW 005 is categorized as slum. This study aims to identify the slum characteristics of Kampung Sapiria from the aspects of residential buildings including building irregularity, density of residential buildings, nonconformities with the technical requirements of the building, and the legality of the building. The research method used is quantitative descriptive. The result of identification of residential characteristics of Kampung Sapiria slums is known that 28% of buildings have irregularities, 85% of residential buildings with non-standard floor area, 22% of residential buildings are not in accordance with technical requirements, 10% of residential buildings have IMB and 5% property. Keywords :  Migrants; The slums; Irregularities; Density; Legality.
EVALUASI ELEMEN TEKNIS RUANG BERSAMA RUSUNAWA MAHASISWA SEBAGAI HUNIAN SEHAT DI MASA PANDEMI COVID-19 Amal, Citra Amalia; Amalia, Andi Annisa; A. Amin, Siti Fuadillah; Rifaldi, Rifaldi
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 8 No 2 (2021): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v8i2a3

Abstract

Abstrak_ Tipologi bangunan Rusunawa Mahasiswa sebagai hunian vertikal berlantai tiga atau empat nampaknya lebih berisiko menjadi tempat penularan COVID-19 dibandingkan hunian tapak. Perlu dilakukan evaluasi elemen teknis (aspek kesehatan, keamanan, dan keselamatan) pada ruang-ruang bersama di Rusunawa Mahasiswa terhadap terpenuhinya Prinsip Rumah Sehat yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2016). Serta melihat sejauh mana penerapan Protokol Kesehatan di Rusunawa Mahasiswa Kota Makassar  merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020.Lokasi penelitian yaitu Rusunawa Universitas Hasanuddin, dan Rusunawa Universitas Muslim Indonesia. Teknik analisis data dilakukan melalui metode kuantitatif deskriptif dengan pemberian skor terhadap ketercapaian indikator Prinsip Rumah Sehat berupa lantai dan dinding yang kering (tidak lembab), luas bukaan jendela minimal 1/9 luas ruang lantai, bukaan dapat ditembus sinar matahari, ketersediaan penerangan alami dan penerangan buatan di area ruang makan, upaya penanggulangan bahaya kebakaran pada area dapur, dinding kedap air, lubang angin, dan penerangan yang baik di kamar mandi. Juga pemberian skor terhadap ketercapaian indikator Penerapan Protokol Kesehatan berupa pemasangan media informasi 3M, penyediaan hand sanitizer, pengoptimalan sirkulasi udara dan sinar matahari, ketersediaan peralatan desinfektan, ketersediaan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan air mengalir, dan pengaturan jarak antar kursi minimal 1 meter dan tidak berhadapan. Hasil penelitian menemukan bahwa kedua sampel rusunawa mahasiswa secara garis besar telah memenuhi Prinsip Rumah Sehat. Sementara, penerapan sarana Protokol Kesehatan di dalam bangunan rusunawa mahasiswa di Kota Makassar masih sangat kurang.Kata kunci: Prinsip Rumah Sehat; Protokol Kesehatan; Rusunawa Mahasiswa; Ruang Bersama.Abstract_ The typology of the student flats building as a vertical residence with three or four floors seems to be more at risk of becoming a place of transmission of COVID-19 compared to a residential area. It is necessary to evaluate the technical elements (health, security, and safety aspects) in the shared spaces in the Student Flats against the fulfillment of the Healthy Home Principles issued by the Ministry of Public Works and Public Housing (2016). And see how far the implementation of the Health Protocol in Makassar City Student Flats refers to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number HK.01.07/MENKES/382/2020. The research location is in two student flats in Makassar City, namely Rusunawa Hasanuddin University, and the Rusunawa Muslim University of Indonesia. The data analysis technique was carried out through descriptive quantitative methods by scoring the achievement of indicators of the Healthy Home Principles in the form of dry (not damp) floors and walls, a minimum window opening area of 1/9 of the floor space, openings that can be penetrated by sunlight, the availability of natural lighting and artificial lightingin the dining room area, efforts to overcome the danger of fire in the kitchen area, waterproof walls, vents, and good lighting in the bathroom. Also scoring is the achievement of indicators for the Implementation of Health Protocols in the form of installing 3M information media, providing hand sanitizers, optimizing air circulation and sunlight, availability disinfectant equipment, availability Handwashing with Soap (CTPS) and running water facilities, and setting a minimum distance between chairs of 1 meter and not facing each other. The results of the study found that the two samples of student flats, in general, had met the Healthy Home Principles. Meanwhile, the implementation of Health Protocol facilities in student flats in Makassar City is still lacking.Keywords: Healthy Home Principles; Health Protocol; Student Flats; Shared Spaces.
KONSEP PEMUKIMAN NELAYAN TANGGUH BENCANA DENGAN SISTEM MODULAR: STUDI KASUS DUSUN LAMANGKIA TAKALAR Muhammad Aldi; Aisyah Ayu Andira Alkatiri; Sahabuddin Latif; Andi Annisa Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 1 No. 1 (2023): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v1i1.38

Abstract

Wilayah pesisir yang dihuni mayoritas nelayan, dalam menjalani kehidupannya sangat bergantung kepada keberlanjutan kawasan pesisir dan sumber daya laut. Penelitian ini bertujuan mengusulkan konsep pembangunan rumah hunian modular ramah lingkungan yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat kampung nelayan di pesisir kota Takalar.  Metode yang digunakan pada penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat kampung nelayan, dan studi literatur terkait permukiman nelayan dan konsep modular. Hasil penelitian mengusulkan konsep hunian pada kawasan permukiman nelayan yang tangguh bencana dengan sistem bangunan modular. Konsep modular digunakan sebagai pendekatan perancangan karena mempercepat pembangunan, efisiensi lahan, dan distribusi material yang dapat disesuaikan dengan pola perilaku dan budaya setempat. Modularitas dalam perancangan ini memungkinkan penggunaan ruang yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, untuk mendukung fungsi kegiatan penghuni yang umumnya nelayan. Konstruksi rumah panggung dengan sistem struktur balok, lantai, kolom, dinding yang dapat di-pabrikasi di luar lokasi bangunan mempermudah dalam perakitan dan mempersingkat waktu pelaksanaan. Material bangunan yang diusulkan mudah dan murah serta tahan dengan kondisi iklim pantai. Pelaksanaan dengan sistem modular ini dapat dilaksanakan oleh kelompok tukang yang menetap di sekitar permukiman, karena sistem ini mudah dilaksanakan. Diharapkan penelitian ini akan memberikan solusi untuk mengatasi masalah di wilayah pesisir Kota Takalar dan dapat diaplikasikan pada wilayah lain dengan kondisi serupa.
Co-Authors A. Amin, Siti Fuadillah Abd Muis Ahmad Abdillah S Abdullah, Ashari Ahmad Sarwadi, Ahmad Ahmad, Abd Muis Aisyah Ayu Andira Alkatiri Aldi, Muhammad Amal, Citra Amalia Amir, Muh. Adjie Syahriansyah Andi Asmuliany Andi Asmuliany Andi Luhur Prianto Andi Syahriyunita Andi Syahriyunita Syahruddin Andi Syahruyinita andi Yusri Anti, Suriyanti Ashari Abdullah Baharuddin, Hasniar Hamid, Hamzah Hamrun Heri Hermawan Rahman Ibrahim Salam Idrus, Irnawaty Ihyani Malik Ikaputra Ikaputra Intan Batari Saputri Irma Rahayu Ismail Ibrahim Izharul Haq Khilda Wildana Nur KhildaWildanaNur khilda wildana M muhajerin Muh. Arif Muh. Arif muhajerin, M Muhammad Aldi Muhammad Aldi, Muhammad Muhammad Sani Roychansyah Muhammad Syarif Muhammad Syarif, Muhammad Mursyid Mustafa Mustafa, Mursyid Mutmainnah Mutmainnah Mutmainnah Sudirman Nur Indah Rokhana Nur, Khilda Wildana NUR, KHILDA WILDANA Nurawal, Muhammad Alfacmy Nurhikmah Paddayatu Nurhikmah Paddiyatu Paddayatu, Nurhikmah Paddiyatu, Nurhikmah Rahman, Heri Hermawan Rahmat Sopianto Rapi, Adam Rasmawarni Rasmawarni Rasmawarni, Rasmawarni Rifaldi Rifaldi, Rifaldi Rohana Rohana ROHANA ROHANA Rokhana, Nur Indah Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Safitri, Sulfika Sahabuddin Latif Salam, Ibrahim Salmiah Zainuddin Salsabila, Unik Hanifah Saputri, Intan Batari Sawerigading, Andi Adam Sopianto, Rahmat Sri Andayaningsih Sri Wahyuni Sulfika Safitri Suriyanti Anti Syahriyunita Syahruddin Syahriyunita, Andi Syahruddin, A. Syahriyunita Syahruddin, Andi Syahriyunita Syahruddin, Syahriyunita Syahruyinita, Andi Syaiful Anwar Umar, Fitrawan Wahyu, Farhanah wildana, KhildaWildanaNur khilda Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Yusri, Andi Zainuddin, Salmiah Zaldi Rusnaedy