Claim Missing Document
Check
Articles

Manajemen Cairan Pada Pasien Ketoasidosis Diabetik DM Tipe 2 Dengan Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah Nurul Azmi Fauziyah; Sandra Pebrianti; Sri Hartati Pratiwi
Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2024): September: Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/quwell.v1i3.726

Abstract

Diabetic ketoacidosis (DKA) is a life-threatening form of diabetes mellitus emergency. Rapid and appropriate management is needed to prevent worsening condition. Fluid management in DKA is important to improve tissue perfusion, correct electrolyte imbalance, reduce blood glucose concentration and counterregulatory hormones. This case report aims to describe the fluid management in a client with instability of blood glucose levels in DKA. A 42-year-old woman was rushed to the emergency room with decreased consciousness for 3 hours. Laboratory examination results: blood glucose >600mg/dL, Base Excess <-30mmol, urine ketones +3, urine protein +2, urine glucose +4, pH 6.8, HCO3 1.9mmol/L. The client had unstable blood glucose levels while in the treatment room. Fluid management was performed by combining 0.9% NaCl, WIDA 2A, 40% dextrose bolus, and continuous insulin drip, that was adjusted according to the client's blood glucose level. After receiving fluid management, the client's blood glucose levels are stable in the range of 100 - 200mg/dL on the fifth day until the client recovered. Providing fluid management tailored to the management of DKA and client needs can improve the stability of blood glucose levels so that this fluid management intervention can be utilized for DKA clients with similar complaints.
Manajemen Keperawatan pada Pasien dengan Kanker Paru Dextra: Sebuah Studi Kasus Menggunakan Adaptasi Model Roy Platini, Hesti; Rahmayani, Melly; Pratiwi, Sri Hartati
Jurnal Sains Kesehatan Vol 31, No 3 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.31.3.218-225

Abstract

Kanker paru primer adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus. Kanker paru merupakan ancaman bagi penduduk di dunia. Kanker paru seringkali terlambat ditangani karena gejala dirasakan muncul setelah stadium lanjut.hingga muncul gejala yang menyerupai penyakit lain. Gejala yang dapat muncul dapat berupa batuk, nyeri, sesak, sesak semakin berat karena dapat muncul komplikasi efusi pleura. Kasus kanker paru ini menjadikannya penyakit yang menarik untuk disajikan sebagai kasus klinis dengan rencana model asuhan keperawatan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mendeskripsikan dan intervensi berdasarkan model adaptasi Roy. Kasus: pasien laki-laki berusia 59 tahun dengan kanker paru dextra disertai komplikasi dan mengalami batuk berdarah, sesak dan nyeri. Rencana perawatan menerapkan model adaptasi Roy. Kebutuhan utama berdasarkan pendekatan adaptasi Roy yang ditemukan adalah oksigenasi (pola napas tidak efektif), sensasi (nyeri), kebutuhan akitivitas dan istirahat (intoleransi aktivitas) perlindungan (resiko infeksi), dan konsep diri (kecemasan). Metode penelitian yaitu studi kasus dengan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui pendekatan adaptasi teori model Callista Roy. Pendekatan model adaptasi Roy berguna dalam kasus ini karena berfokus pada kemampuan adaptasi pasien yang sesuai untuk digunakan dalam manajemen pasien kanker paru disertai perawatan kolaboratif. Kata Kunci: callista roy, kanker paru, manajemen keperawatan, model adptasi
Manajemen Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis: Literature Review Pratiwi, Sri Hartati; Platini, Hesti
Jurnal Sains Kesehatan Vol 31, No 3 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.31.3.226-235

Abstract

Fatigue merupakan salah satu gejala yang paling banyak dirasakan pasien hemodialisis. Fatigue dapat memperberat kondisi pasien, dan menurunkan kualitas hidup. Fatigue pada pasien hemodialisis harus dikurangi melalui berbagai intervensi. Tujuan studi literature  ini adalah untuk mengidentifikasi intervensi komplementer yang terbukti dapat menurunkan fatigue pada pasien hemodialisis. Literatur review ini menggunakan metoda scoping review dengan mencari literatur dari beberapa databased seperti Ebsco Host, Scopus, Science Direct, Sage Journals, Springer, dan Pubmed. Selain itu, pencarian literatur juga dilakukan dalam mesin pencari yaitu Google Scholar dengan menggunakan beberapa kata kunci pencarian yaitu “hemodialysis” OR “haemodialysis” OR “dialysis” AND “Complementary Intervention” AND “fatigue management” OR “energy concervation” OR “energy management” OR “managing fatigue”. Kriteria inklusi yang digunakan dalam literature review ini yaitu artikel terbit antara 2014-2024 (10 tahun terakhir), menggunakan metoda Randomized Controlled Trials (RCT), berbahasa Inggris. Untuk artikel dengan hasil tidak terbukti dapat menurunkan fatigue dieksklusi dari  review ini. Berdasarkan hasil pencarian  didapatkan 13 artikel yang membuktikan bahwa terapi akupresure, terapi pijat dengan menggunakan minyak zaitun, terapi recreasional, dan beberapa latihan fisik dapat menurunkan fatigue.  Kata Kunci: fatigue, hemodialisis, penyakit  ginjal  kronik, terapi komplementer
TINGKAT RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA MAHASISWA FAKULTAS KEPERAWATAN Andini, Nathania Putri; Kurniawan, Titis; Pratiwi, Sri Hartati; Nursiswati, Nursiswati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 20, No 2 (2024): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v20i2.1370

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit kronis dengan komplikasi dan dampak negatif yang serius. Banyaknya pola hidup sehat yang tidak di kalangan pelajar, prevalensi DMT2 tidak hanya mengancam kelompok usia lanjut. Oleh karena itu, pemeriksaan tingkat risiko pada siswa menjadi sangat penting. Kepentingan tersebut menjadi lebih tinggi dilakukan pada mahasiswa kedokteran yang merupakan calon tenaga kesehatan dan salah satu panutan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat risiko DMT2 pada mahasiswa fakultas kedokteran. Penelitian deskriptif ini melibatkan 240 mahasiswa yang diperoleh dengan proporsional stratified random sampling dari 602 mahasiswa aktif di fakultas kedokteran suatu Universitas di Indonesia. Data penelitian ini dikumpulkan menggunakan Finnish Diabetes Risk Score-Bahasa Indonesia (FINDRISC-BI). Tingkat risiko DMT2 menunjukkan bahwa 71,3% pelajar termasuk dalam kategori risiko rendah, 20% pada tingkat risiko sedikit meningkat, 5,8% berisiko sedang, dan 2,9% berisiko tinggi mengalami DMT2 dalam 10 tahun ke depan. Parameter risiko yang paling berisiko ditemukan pada parameter konsumsi sayur dan buah. Sebagian kecil pelajar muda berisiko tinggi bahkan sedang mengalami DMT2 pada 10 tahun mendatang. Menjadi penting bagi pihak fakultas untuk merancang program promosi kesehatan kampus dan menjalankan program penyaringan serta deteksi dini secara berkala sebagai bagian pencegahan DMT2 sekaligus upaya peningkatan derajat kesehatan mahasiswa.
Pemberdayaan Keluarga dalam Manajemen Nutrisi pada Pasien Gagal Ginjal Kronis di Garut Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Lukman, Dede; Yosilistia, Yosilistia; Puspita, Tita; Rohayanti, Yanti; Dwi, Tia; Musawi, Husein
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.18357

Abstract

ABSTRAK Pasien Penyakit Ginjal Kronik harus melakukan self-management termasuk pada pengaturan nutrisi yang harus dikonsumsinya. Hal ini menyebabkan pasien PGK mengalami kebingungan dan ketakutan untuk mengkonsumsi makanan. Selain itu, Pasien PGK sering mengalami mual dan muntah akibat dari peningkatan kadar ureum dan kreatinin sehingga dapat mengurangi asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pasien mengalami malnutrisi yang dapat memperburuk kondisinya. Keluarga memiliki peran yang penting dalam memberikan dukungan kepada pasien PGK dalam menjalankan manajemen nutrisi. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk memberdayakan keluarga dalam memberikan dukungan yang adekuat kepada pasien PGK untuk melakukan manajemen nutrisi. Program pengabdian ini dilakukan dengan memberikan edukasi kepada keluarga pasien PGK mengenai manajemen nutrisi dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan berbagai media edukasi. Program ini dievaluasi dengan menggunakan pre-post test. Terdapat peningkatan total skor pre-post test sebesar 29,8 % yang mengindikasikan adanya peningkatan pengetahuan keluarga mengenai manajemen nutrisi pasien PGK. Program pengabdian kepada masyarakat dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dapat meningkatkan pengetahuan keluarga dalam manajemen nutrisi pasien PGK. Tenaga kesehatan diharapkan dapat menlakukan edukasi kepada pasien dan keluarga secara berkesinambungan dan berkelanjutan terkait dengan manajemen nutrisi pada pasien PGK. Kata Kunci: Manajemen Nutrisi, Pemberdayaan Keluarga, Penyakit Ginjal Kronik  ABSTRACT Patients with chronic kidney disease (CKD) are required to perform self-management, which includes managing their nutritional intake. This causes CKD patients to experience confusion and fear of consuming food. In addition, CKD patients often experience nausea and vomiting due to increased levels of urea and creatinine, which can reduce nutritional intake according to their needs. These conditions can lead to malnutrition in patients, potentially worsening their condition. Families play a crucial role in assisting CKD patients with their nutritional management. The goal of this community service program was to enable families to effectively support CKD patients in their nutritional management. We conducted this community service program by educating families of CKD patients about nutritional management through lectures, question-and-answer sessions, and various educational media. We evaluated this program using a pre-post test. There was an increase in the total pre-post test score of 29.8%, indicating an increase in family knowledge regarding nutritional management for CKD patients. Conclusion: Community service programs using lecture and question-and-answer methods can improve family knowledge in nutritional management for CKD patients. We expect health workers to continuously and sustainably educate patients and families about nutritional management in CKD patients.  Keywords: Nutrition Management, Family Empowerment, Chronic Kidney Disease
REHABILITASI SOMATOSENSORIK AKTIF PADA PASIEN STROKE: SEBUAH NARRATIVE REVIEW Sya'fa, Siti Noor; Pratiwi, Sri Hartati; Nursiswati, Nursiswati
Medical-Surgical Journal of Nursing Research Vol. 2 No. 2 (2023): Medical-Surgical Journal of Nursing Research
Publisher : Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI) Regional Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70331/jpkmb.v2i1.22

Abstract

Defisit somatosensorik merupakan kondisi kehilangan fungsi somatosensorik dan telah menjadi keluhan utama pasien stroke. Rehabilitasi somatosensorik aktif telah disarankan sebagai metode untuk mengatasi defisit somatosensorik. Tinjauan naratif ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis rehabilitasi somatosensorik aktif. Penelitian ini mengikuti pedoman PRISMA dan menggunakan jenis analisis konten. Berdasarkan hasil penelusuran pada PubMed, Cinahl, Sage Journals, dan Google Scholar diperoleh 751 artikel. Setelah dilakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, 733 artikel dieliminasi. Kemudian, enam artikel dimasukkan karena menyajikan hasil yang lebih signifikan dan dinyatakan dengan spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mirror therapy (MT), kombinasi MT dengan task-based mirror therapy (TBMT), dan sensory retraining dapat meningkatkan fungsi sentuhan dan proprioseptif. Kemudian kombinasi MT dengan TBMT juga terbukti meningkatkan fungsi suhu. Kesimpulannya, ketiga jenis rehabilitasi tersebut dapat diterapkan pada pasien stroke dengan defisit somatosensorik ekstremitas atas.
GAMBARAN SELF-EFFICACY PENGOBATAN PASIEN PASKA STROKE DI RSUD UMAR WIRAHADIKUSUMAH Nur Fitriani; Sri Hartati Pratiwi; Hesti Platini
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2015

Abstract

Efikasi diri merupakan faktor dalam diri pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan dalam menjalankan pengobatan. Semakin tinggi efikasi diri , maka pasien cenderung lebih patuh sedangkan efikasi diri yang rendah dapat memperlambat proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui efikasi diri pengobatan pasien paska stroke. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 69 pasien paska stroke rawat jalan di poli saraf dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner Self-Efficacy for Appropriate Medication use Scale (SEAMS). Hasil pada penelitian ini adalah sebagian besar pasien paska stroke memiliki efisiensi pengobatan yang tinggi (62,3%). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasien paska stroke merasa yakin bahwa dirinya mampu menjalani pengobatannya. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan tenaga kesehatan perlu memberikan perhatian pada pasien dengan efikasi diri yang rendah. Kata kunci: Pengobatan, Self-Efficacy, Stroke
PEMBERIAN HIDRASI CAIRAN DAN SNACK ASIN PREDONASI SEBAGAI PENCEGAHAN REAKSI VASOVAGAL PADA PENDONOR DARAH PERTAMA : CASE SERIES : PREDONATION FLUID HYDRATION AND SALTY SNACKS AS PREVENTION OF VASOVAGAL REACTIONS IN FIRST-TIME DONORS: CASE SERIES Ma'ripah, Isnan; Pratiwi, Sri Hartati; Nugraha, Bambang Aditya
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v7i2.379

Abstract

Introduction : Vasovagal reactions after blood donation cause dizziness, nausea, and even loss of consciousness, thus disrupting the donor's comfort and the donation process. Vasovagal reactions can reduce the donor's interest in donating blood again. In fact, blood donation not only provides benefits for people in need, but also provides benefits for the donor, namely stimulating the production of new blood cells, reducing the risk of coronary heart disease, and routine health checks every time they donate blood. To overcome this problem, interventions are needed to prevent vasovagal reactions. One of these interventions is fluid hydration and consumption of salty snacks 30 minutes before donation. This study aims to determine the effects of fluid hydration and consumption of salty snacks in preventing vasovagal reactions in first-time donors. Method: The design of this study was a case series on 5 cases of first donors with nursing problems of hypovolemia risk. Result: The results of this study indicate that providing fluid hydration and consuming salty snacks before donating blood can reduce the incidence of vasovagal reactions in cases. Conclusion: Providing fluid hydration and consuming salty snacks before donating blood is one option in developing a strategy for managing the risk of vasovagal reactions.
Penerapan Terapi Pijat Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa: A Scoping Review Harun, Hasniatisari; Herliani, Yusshy Kurnia; Pratiwi, Sri Hartati; Setyawati, Anita
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.19070

Abstract

ABSTRACT The prevalence of chronic kidney failure in the world is increasing every year. Most patients require hemodialysis as a kidney replacement therapy. Complementary and alternative medicine (CAM) researchers revealed that massage therapy is widely used by hemodialysis patients to overcome the side effects caused by hemodialysis. To identify the effectiveness of massage therapy in hemodialysis patients. This scoping review was developed based on the Arskey and O'Malley framework. Study searches were conducted through Scopus and CINAHL. Inclusion criteria in selecting articles included: primary research results discussing the application of massage therapy in patients undergoing hemodialysis in the form of full-text articles, in English, and published in 2019-2023. The 13 articles analyzed in this study revealed that massage therapy has a positive effect on general health, physical symptoms, nausea, fatigue, pain due to muscle cramps, and restless legs syndrome (RLS), pruritus severity, sleep quality, insomnia severity, quality of life, anxiety, and intradialytic hypertension in hemodialysis patients. Foot massage therapy can be used as a complementary therapy to reduce the side effects of hemodialysis. Nurses and health workers need to have certified massage therapy skills in order to provide and teach massage to hemodialysis patients and their families. Keywords: Hemodialysis, Massage Therapy, Nurses.  ABSTRAK Prevalensi penyakit gagal ginjal kronis di dunia meningkat setiap tahun. Sebagian besar pasien memerlukan tindakan hemodialisa sebagai terapi pengganti ginjal. Para peneliti complementary and alternative medicine (CAM) mengungkapkan bahwa terapi pijat banyak digunakan oleh pasien hemodialisa untuk mengatasi efek samping yang ditimbulkan oleh hemodialisa. Untuk mengidentifikasi efektivitas terapi pijat pada pasien hemodialisa. Scoping reviewini dikembangkan berdasarkan kerangka kerja Arskey dan O’Malley. Pencarian studi dilakukan melalui Scopus dan CINAHL. Kriteria inklusi dalam pemilihan artikel meliputi: hasil penelitian primer yang membahas tentang penerapan terapi pijat pada pasien yang menjalani hemodialisa dalam bentuk artikel teks lengkap, berbahasa Inggris, dan dipublikasikan ahun 2019-2023. 13 artikel yang dianalisis pada studi ini mengungkapkan bahwa terapi pijat memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan umum, gejala fisik, mual, kelelahan, nyeri akibat kram otot, dan restless legs syndrome (RLS), keparahan pruritus, kualitas tidur, keparahan insomnia, kualitas hidup, kecemasan, dan hipertensi intradialitik pada pasien hemodialisa. Terapi pijat kaki dapat dijadikan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi efek samping hemodialisa. Perawat dan petugas kesehatan perlu memiliki keterampilan terapi pijat bersertifikasi agar dapat memberikan dan mengajarkan pijat pada pasien hemodialisa dan keluarganya. Kata Kunci: Hemodialisa, Perawat, Terapi Pijat
The Relationship between Health Literacy, Illness Perception, and Self-Management Adherence among Hemodialysis Patients in Indonesia Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i2.401

Abstract

Hemodialysis patients' self-management is critical for maintaining their quality of life and minimizing complications. Patients' health literacy and perception of the disease are essential for their acceptance of the condition and treatment. However, the relationship between these variables and self-management among hemodialysis patients remains unclear. This study aims to identify the relationship between health literacy, perception of disease, and self-management among hemodialysis patients. This correlational study was cross-sectional design, with 129 hemodialysis patients consecutively recruited from a hemodialysis unit of a tertiary hospital in West Java, Indonesia. Data were collected using the Brief-Illness Perception Questionnaire (Brief-IPQ), the European Health Literacy Survey Questionnaire (HLS-EU-Q47), and the End Stage Renal Disease Adherence Questionnaire (ESRD-AQ). The data were analyzed using Pearson correlation analysis. Most of the patients had sufficient or excellent health literacy (74.4%), negative illness perception (50.4%), and low self-management practices (71.3%). Pearson’s correlation analysis revealed a positive correlation was found between health literacy and self-management practices (r = .189; ρ=0.032). Additionally, there was a negative correlation between illness perception and health literacy (r = -.27; ρ= .002) as well as between illness perception and self-management practices (r = -.762; ρ= .000). Positive illness perception and better self-management practices correlate with a higher level of health literacy. These findings highlight the importance for healthcare staff to facilitate positive illness perceptions and self-management practices, and to consider these factors as vital aspects in developing self-management education programs for ESRD patients.
Co-Authors Ade Rosi Amalia, Fany Andini, Nathania Putri Andri Agustin Anita Setyawati Aprilia, Rahmita Nurul Asri Nurkarimah Aulia, Hannifa Dwi Azizah, Levina Bambang Aditya Nugraha Bambang Aditya Nugraha Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Citra Windani Mambang Sari Dahlia, Debie - Dewin Safitri Dwi, Tia Dyah Setyorini Early Octavia Limbong Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari, Eka Afrima Eka Fitri Ningsih Endah Yuniarti Estiqomah, Yuli Etika Emaliyawati Fauzia, Salwa Ghaida Fitri Nurul Khotimah Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul Fitris, Siti Yuyun Rahayu Giovanni Maria Gusgus Ghraha Ramdhanie Hamidah . Hana Rizmadewi Agustina Handayani, Nathasa Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Helwiyah Ropi Herman, Regina Heryani, Hesti Hesti Platini Ida Maryati Indah Wahyuni Karina, Grashiva Khairunnisa, Chandra Kirana Khairunnisa, Nisrina Kusman Ibrahim Liya Arista lukman, dede Ma'ripah, Isnan Mira Trisyani Muhammad Ramdhani, Muhammad Musawi, Husein Mutiarasani, Anjani Nur Fitriani Nurfadila, Eva Nurjanah, Ismirani Nurkarimah, Asri Nurrofiqoh, Malihatunnisa Nursalma, Aisyah Nursiswati Nursiswati Nurul Azmi Fauziyah Oktorullah Oktorullah Puspita, Tita Rahmah, Tira Nur Rahmayani, Melly Ria Sitorus Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti, Ristina Rohaeti, Sri Elis Rohayanti, Yanti Ryan Hara Permana Salsabila, Nada Salwa, Sayyidah Sandra Pebrianti Sari, Yuyun Kartika Seizi Prista Sari Sicilia, Asha Grace Siti Ulfah Rifa’atul Siti Yuyun Rahayu Fitri Slamet Riyanto Sri Elis Rohaeti Sutandi, Andi Sya'fa, Siti Noor Tanjung, Rifani Taty Hernawaty Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Tuti Pahria Urip Rahayu Urip Rahayu Urip Rahayu, Urip Wati, Putri Windiramadhan, Alvian Pristy Yosilistia, Yosilistia Yusshy Kurnia Yusshy Kurnia Herliani, Yusshy Kurnia