Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Terapi Komplementer dengan Psychological Well Being pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis Stadium 5 Sri Elis Rohaeti; Kusman Ibrahim; Sri Hartati Pratiwi
The Indonesian Journal of Health Science Vol 13, No 1 (2021): The Indonesian Journal of Health Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ijhs.v13i1.4004

Abstract

 ABSTRAK Penyakit Ginjal Kronis stadium 5 dengan Dialisis (PGK5D) merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi pengganti seumur hidup sehingga pasien memerlukan perawatan paliatif untuk mengurangi gejala, memperhatikan aspek psikologis, spiritual, serta meningkatkan kualitas hidup. Terapi komplementer adalah metode yang digunakan untuk mengontrol gejala, berpengaruh kepada pengendalian perasaan,  sikap serta emosi. Tujuan dari penelitian ini mengetahui hubungan penggunaan terapi komplementer dengan Psychological Well Being (PWB). Desain menggunakan korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel 97 responden, teknik Sampling Purposive, kriteria inklusi pasien menjalani hemodialisis lebih dari 3 bulan, pernah atau sedang menggunakan terapi komplementer. Menggunakan kuesioner Complementary Alternative Medicine yang disusun peneliti, validitas 0,482-0,884, reliabilitas 0,931 serta kuesioner PWB adaptasi  skala Carol Ryff  validitas 0,456-0,905, reliabilitas 0,975. Hasil analisis korelasi Pearson terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan terapi komplementer dengan PWB (r= 0.418, p value= 0.000). Jenis terapi komplementer yang banyak digunakan adalah teknik pijat tradisional, dimensi keyakinan dan komunikasi memiliki rata-rata terendah dan dimensi PWB yang masih rendah yaitu otonomi, tujuan hidup dan penerimaan diri.  Saran, bagi perawat mengikuti pelatihan pijat refleksi untuk memberikan pendidikan kepada keluarga pasien dan Caregiver, menyediakan terapi doa dan lantunan Al-Qur’an selama intradialitik.  Kata Kunci : Kesejahteraan Psikologis, Penyakit Ginjal Kronis Stadium 5, Terapi Komplementer.
KEPATUHAN MENJALANKAN MANAJEMEN DIRI PADA PASIEN HEMODIALISIS Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.358 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.308

Abstract

Pasien gagal ginjal kronik harus menjalankan manjemen diri diantaranya hemodialisis, pengobatan, pembatasan cairan dan diet. Angka morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis akan meningkat apabila tidak menjalankan manajemen diri dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kepatuhan pasien hemodialisis dalam menjalankan manajemen diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan kepada pasien di Unit Hemodialisis di salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Barat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah responden 129 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kepatuhan menjalankan manajemen diri pada pasien hemodialisis diadaptasi dari kuesioner End Stage Renal Disease Adherence. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi berupa frekuensi, persentase, dan mean. Sebagian besar responden tidak patuh dalam menjalankan manajemen diri 92 orang dan patuh sebanyak 28,7% yaitu 37 orang. Kepatuhan pasien dalam menjalankan hemodialisis sesuai jadwal sudah baik dengan rata-rata skor 271,3. Kepatuhan pasien hemodialisis masih kurang dalam membatasi asupan cairan dengan rata-rata skor 120, makanan dengan rata-rata skor 147, dan pengobatan dengan rata-rata skor 133).  Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan dukungan kepada pasien dengan memberikan edukasi, konseling dan promosi kesehatan dengan menggunakan berbagai media termasuk media sosial terkait pentingnya pengontrolan cairan dan makanan. Kata kunci: Hemodialisis, Kepatuhan manajemen diri Abstract Compliance with running self-management on hemodializing patients Patients with chronic kidney failure must carry out self-management including hemodialysis, treatment, fluid and dietary restrictions. The morbidity and mortality rates in hemodialysis patients will increase if they do not carry out self-management properly. This study was conducted to identify the compliance of hemodialysis patients in carrying out self-management. This research was a descriptive study conducted on patients at the Hemodialysis Unit in one of the largest hospitals in West Java. The sampling technique used was consecutive sampling with the number of respondents 129 people. Data collection techniques carried out by compliance questionnaire method of running self management in hemodialysis patients adapted from the End Stage Renal Disease Adherence questionnaire. Data were analyzed using frequency distributions in the form of frequency, percentage, and mean. Most of the respondents were not obedient in carrying out self-management as many as 71.3%, 92 people and obedient as many as 28.7%, 37 people. Patient compliance in conducting hemodialysis schedule has been good with mean 271.3. Compliance with hemodialysis patients was still lacking in limiting fluid intake with mean 120, food with mean 147, and treatment with mean 133. Health workers are expected to be able to provide support to patients by providing education, counseling and health promotion by using various media including social media related to the importance of controlling fluids and food that must be carried out by hemodialysis patients. Keywords: Adherance, Hemodialysis, Self-Management
Observasi Penggunaan Posisi High Fowler Pada Pasien Efusi Pleura di Ruang Perawatan Penyakit Dalam Fresia 2 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung : Studi Kasus Windiramadhan, Alvian Pristy; Sicilia, Asha Grace; Sari, Eka Afrima; Pratiwi, Sri Hartati; Platini, Hesti; Hamidah, Hamidah
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2020): May 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.984 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v4i1.446

Abstract

Efusi pleura merupkaan penimbunan cairan yang berlebihan pada rongga pleura sehingga menyebabkan seseorang mengalami sesak nafas. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi sesak nafas dan meningkatkan oksigenasi agar tidak ketergantungan dengan pemberian oksigen dalam jangka panjang yaitu dengan posisi high fowler. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan studi kasus tentang penggunaan posisi high fowler pada pasien efusi pleura di Ruang Fresia 2 RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus pada 3 orang pasien dengan krieria pasien yang di diagnosis efusi pleura pasien yang mengalami sesak nafas (RR > 24 x/menit), pasien dewasa atau lanjut, pasien dapat berkomunikasi dan bersedia diwawancara, terpasang CTT atau pigtail dan terpasang oksigen. Setelah dilakukan observasi selama tiga hari ada perbedaan nilai pernafasan dan saturasi oksigen sebelum dan sesudah posisi high fowler. Rentang nilai pernafasan sebelum posisi high fowler adalah 24 – 30 kali/menit dengan nilai saturasi oksigen 97 – 98%. Sedangkan rentang nilai pernafasan sesudah posisi high fowler adalah 22 – 27 kali/menit dengan nilai saturasi oksigen 98 – 99%. Posisi high fowler merupakan posisi pilihan untuk pasien yang mengalami sesak nafas khususnya pada pasien yang mengalami efusi pleura. Observation of Using High Fowler Position in Pleura Efficient Patients in The Medical Ward in Fresia 2 Dr. Hasan Sadikin Bandung Hospital: Case Study. Pleural effusion is an excessive accumulation of fluid in the pleural cavity and causing a person to experience shortness of breath. Actions that can be taken to reduce shortness of breath and increase oxygenation so as not to depend on the provision of oxygen in the long term is by positioning high fowler. Therefore researchers interested in conducting a case study of the use of high fowler positions in pleural effusion patients in Fresia Room 2 Dr.Hasan Sadikin Hospital Bandung. The study was conducted with a case study approach on 3 patients with patients who were diagnosed with pleural effusion of patients experiencing shortness of breath (RR> 24 x / min), adult or advanced patients, patients can communicate and be willing to be interviewed, CTT or pigtail attached and attached oxygen. After observing for three days there were differences in respiratory values and oxygen saturation before and after the high fowler position. The range of respiratory values before the high fowler position is 24-30 times / minute with an oxygen saturation value of 97-98%. While the range of respiratory values after the high fowler position is 22-27 times / minute with an oxygen saturation value of 98 - 99%. The high fowler position is the position of choice for patients who experience shortness of breath, especially in patients who experience pleural effusion. 
Observasi Latihan Relaksasi Nafas Pada Pasien Chronic Kidney Diseases Dengan Fatigue Rohaeti, Sri Elis; Sutandi, Andi; Sari, Eka Afrima; Pratiwi, Sri Hartati; Platini, Hesti; Hamidah, Hamidah
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2020): May 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.509 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v4i1.452

Abstract

Menilai fatigue merupakan hal yang sangat penting karena fatigue sering meningkat secara langsung setelah dialysis.Masalah akan timbul jika fatigue pada pasien CKD tidak teratasi salah satunya adalah kualitas hidup yang buruk. Latihan nafas adalah teknik alami merupakan bagian strategi holistik self care untuk mengatasi keluhan seperti fatigue. Menggunakan teknik pernafasan yang efektif untuk menurunkan tingkat fatigue dapat menjadi manajemen fatigue yang dapat ditawarkan pada pasien CKD. Studi kasus ini bertujuan untuk mengobservasi penggunaan latihan nafas untuk mengatasi fatigue pada pasien CKD di Ruang Fresia 2 RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus pada 3 orang pasien dengan kriteria: pasien CKD stadium 5 dengan usia > 18 tahun, menjalani hemodialisis kurang dari 1 tahun, yang mengalami fatigue, dan lama rawat inap minimal 3 hari. Ketiga pasien mengalami fatigue dengan skor rata-rata fatigue hari pertama sebelum latihan relaksasi nafas 59.6 dan skor rata-rata setelah latihan relaksasi nafas adalah 55.6, skor rata-rata fatigue hari kedua sebelum latihan 54.6 dan setelah latihan 49, terdapat penurunan skor rata-rata setelah pasien mempraktikan latihan nafas pada hari pertama dan kedua. Hasil latihan relaksasi nafas yang dilakukan pasien dapat menurunkan level fatigue yang dirasakan pasien.Breathing relaxation observation in chronic kidney diseases patients with fatigue. Assessing fatigue is very important because fatigue often increases directly after dialysis. Problems will arise if fatigue in CKD patients is not resolved, one of which is poor quality of life. Breath training is a natural technique that is part of a holistic self care strategy to deal with complaints such as fatigue. Using effective breathing techniques to reduce the level of fatigue can be a management of fatigue that can be offered to CKD patients. This case study aims to observe the use of breathing exercises to overcome fatigue in CKD patients in Fresia Room 2 Dr.Hasan Sadikin Hospital Bandung. The study was conducted with a case study approach on 3 patients with criteria: stage 5 CKD patients> 18 years old, undergoing hemodialysis less than 1 year, who experienced fatigue, and a minimum stay of 3 days. All three patients experienced fatigue with an average score of fatigue the first day before breathing relaxation exercise 59.6 and the average score after breathing relaxation exercise was 55.6, the average score of fatigue the second day before exercise 54.6 and after exercise 49, there was a decrease in the average score after the patient practices breathing exercises on the first and second day. Conclusion: The results of breathing relaxation exercises by the patient can reduce the level of fatigue that is felt by the patient. 
Penggunaan Spinal Cord Independence Measure III sebagai Alat Ukur Kemampuan Fungsional Pasien Spinal Cord Injury di Indonesia Sri Hartati Pratiwi; Debie Dahlia; Liya Arista
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 2 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i2.6377

Abstract

This study aims to determine the use of the Spinal Cord Independence Measure (SCIM) III as a functional measurement tool for spinal cord injury patients in Indonesia. The method used was cross-sectional as a pilot project. The population of this study were trauma and non-traumatic spinal cord injury patients. The results of this study indicate that SCIM III can assess the patient's functional status in self-care, bladder management, bowel management, and mobilization. In conclusion, SCIM III is an objective and reliable questionnaire that can be used as a tool to measure the functional ability of SCI patients. In addition, SCIM can be used to determine interventions that are appropriate to the patient's condition so that the outcome of the rehabilitation phase of care to make the patient independent can be achieved optimally. Keywords: Tool, Functional, Spinal Cord Independence Measure
In-House Training Perawat Terkait Perawatan Integratif di Area Keperawatan Medikal Bedah Nursiswati Nursiswati; Bambang Aditya Nugraha; Sri Hartati Pratiwi; Hasniatisari Harun; Urip Rahayu; Eka Afrima Sari; Chandra Isabella Hostanida Purba; Titis Kurniawan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i11.12169

Abstract

ABSTRAK Perawatan integratif dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan yang akan berkontribusi kepada peningkatan derajat kesehatan dan kualitas hidup pasien. Penerapan perawatan integratif membutuhkan kemampuan perawat dalam mengelola upaya preventif, promotif dan rehabilitatif secara efektif pada saat memberikan asuhan keperawatan pada area keperawatan medikal bedah (KMB). Pengabdian pada masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas perawat dalam perawatan integratif di area keperawatan medikal bedah. Metoda yang digunakan adalah in-house training berupa ceramah dan tanya jawab interaktif kepada 9 preseptor klinik dan 3 clinical case manager di RSUD Sumedang. Materi yang disampaikan diantaranya adalah Continuity of care pada chronic disease, Protocol follow up care pada area KMB, Transitional care, dan Discharge planning. Evaluasi kegiatan menggunakan analisis pre-posttest. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan poin nilai rata-rata pre-post test (3,09). Nilai rata-rata pre-test sebesar 56 dan post-test sebesar 69,09. Dengan demikian, upaya yang sudah dilakukan bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas perawat khususnya pengetahuan dan keterampilan menginisiasi integrative care. Upaya tersebut dapat diulang dengan target sasaran perawat medikal bedah lainnya selain perseptor maupun case manager. Kata Kunci: Keperawatan Medikal Bedah, Kapasitas Perawat, Perawatan Integratif, Preceptor, Case Manager, Pengabdian Masyarakat  ABSTRACT Integrative Care could increase quality nursing services to be contribute to enhance the patient’s health status and quality life. Application of the integrative care requires the ability of nurses to effectively manage preventive, promotive and rehabilitative measurements when providing nursing care in the medical surgical nursing (MSN) area. This community service conducted with the purpose for increasing capacity of the nurses in integrative care in the MSN area. The method used was in -house training through interactive presentation and interactive  discussion to nine clinical preceptors and three clinical case managers at Sumedang District Hospital. The topic presented included Continuity of care in chronic disease, Protocol follow-up care in the MSN area, Transitional care, and Discharge planning. The evaluation and outcome analysis using pre-post test design. The results of the program showed an increase in the average pre-post test score points (3.09). The average pre-test score was 56 and the post-test was 69.09. Thus, this community program that have been made are beneficial in increasing capacity nurse specifically knowledge and skills to initiate the integrative care . The future program is needed with other medical surgical nurses non preceptors and case managers. Keywords: Medical Surgical Nursing, Capacity Nurse, Integrative Care, Preceptor, Case Manager, Community Service
PEMENUHAN KEBUTUHAN VITAMIN DAN MINERAL PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD DR. SOEKARDJO TASIKMALAYA Sri Hartati Pratiwi; Asri Nurkarimah; Urip Rahayu
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v14i1.272

Abstract

Renal failure patients will experience a variety of metabolic disorders included in the production process of various vitamins and minerals. Lack of vitamin and mineral intake will aggravate vitamin and mineral deficiencies so that patients can experience various musculoskeletal disorders. This condition can cause deterioration in the patient's condition so that the quality of life of the patient can decrease. This study aims to identify the fulfillment of vitamin and mineral needs in patients with chronic kidney diseases.This research used descriptive quantitative method with purposive sampling technique. The Sample in this study was 80 patients with criteria, experience full awareness (composmentis) and literacy. Data was taken using a food record, then analyzed with Nutrisurvey software. Data were analyzed using frequency distribution. The results showed that sodium intake (55%), potassium (87.5%), calcium (53.75%), and phosphorus (46.25%) in most respondents in the normal category. Vitamin D intake in most respondents (70%) is in the less category. Most respondents get enough vitamin and mineral intake except vitamin D.Health workers are expected to provide ongoing education on the importance of maintaining intake of vitamins and minerals especially vitamin D in patients with chronic kidney diseases. In addition, health workers are expected to collaborate well in meeting the vitamin and mineral needs of patients with kidney diseases.
Interventions to improve Quality of Sleep among patient Post Coronary Artery Bypass Graft (CABG) in ICU: a Scoping review Nugraha, Bambang Aditya; Pebrianti, Sandra; Pratiwi, Sri Hartati; Nursalma, Aisyah; Amalia, Fany; Karina, Grashiva; Wahyuni, Indah; Nurjanah, Ismirani; Azizah, Levina; Ramdhani, Muhammad; Khairunnisa, Nisrina; Wati, Putri; Herman, Regina; Tanjung, Rifani; Salwa, Sayyidah
Journal of Nursing Care Vol 7, No 2 (2024): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v7i2.49786

Abstract

Coronary Heart Disease (CHD) was the number two cause of death; one of the treatments for CHD was Coronary Artery Bypass Graft (CABG). Patients after undergoing CABG will undergo treatment in the Intensive Care Unit (ICU). In patients who experience treatment in the ICU, many patients experience sleep disturbances related to therapy regime rhythm in the ICU. This literature review aims to identify the intervention for managing sleep quality in post-CABG patients undergoing treatment in the ICU. The method use was a narrative review study, The review was conducted two databases, PubMed and ScienceDirect, to search data from 2012 to 2022. The keywords used were Coronary Artery Bypass Graft, Intensive care unit, and Sleep Quality. The results of this study included nine articles reviewed, which were entirely randomized control trials and randomized clinical trials. The review found that the interventions to manage sleep quality are deep breathing therapy, aromatherapy with roses, acupressure, self-care, and drug administration. From the results of the review, it was found that all articles reported using several specific interventions in the intervention group that were proven to improve sleep quality in post-CABG patients. The study results provide information for nurses regarding sleep quality in post-CABG patients. 
Persepsi Terhadap Penyakit pada Pasien Hemodialisis di Bandung Hartati Pratiwi, Sri; Afrima Sari, Eka; Kurniawan, Titis
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 2 (2020): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i2.136

Abstract

Gagal ginjal terminal yang dialami pasien hemodialisis dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam kehidupannya. Persepsi yang positif terhadap penyakit dapat membantu pasien hemodialisis dalam menerima keadaannya dan meningkatkan motivasi untuk menjalankan berbagai tindakan pengobatan. Apabila pasien hemodialisis memiliki persepsi yang negatif terhadap penyakit, maka akan cenderung mudah mengalami berbagai masalah psikologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi terhadap penyakit pada pasien hemodialisis di Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien hemodialisis di salah satu Rumah Sakit di Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah consecutive sampling sebanyak 126 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dan memiliki tanda-tanda vital yang stabil. Instrumen yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap penyakit adalah kuesioner persepsi penyakit singkat (Brief-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbant, et.al. tahun 2005, dan sudah dilakukan back translate ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis memiliki persepsi terhadap penyakit yang negatif (50,4%). Sebagian besar pasien merasakan berbagai dampak penyakit terhadap kehidupannya dan mengalami perubahan secara emosional semenjak mengalami gagal ginjal terminal. Persepsi terhadap penyakit yang negatif pada pasien hemodialisis dapat mempengaruhi kualitas hidup, angka kesakitan dan capaian pengobatan yang dijalaninya. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan keluarga dan sosial. Petugas kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat memberikan edukasi dan konseling pada pasien hemodialisis untuk meningkatkan persepsi pasien terhadap penyakit.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SKRINING KANKER SERVIKS DI INDONESIA: SCOPING REVIEW Maryati, Ida; Pratiwi, Sri Hartati; Estiqomah, Yuli
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.404

Abstract

ABSTRAKIndonesia sudah menetapkan program skrining kanker serviks. Namun, program skrining kanker serviks di Indonesia belum mencapai target. Banyak faktor yang dapat memengaruhi sehingga perlu adanya identifikasi lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut. Tujuan penelitian: untuk memetakan faktor-faktor yang memengaruhi penerapan skrining kanker serviks pada wanita. Metode: scoping review dengan mencari melalui Google Scholar, EBSCO, PubMed, dan ProQuest. Kata kunci yang digunakan antara lain “woman” OR “women” OR “female” OR “females” AND “cervical cancer screening”,“motivation” OR “participation”,“barrier” OR “challenges”,“influence factors”, terbit tahun 2017 hingga 2020, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, teks lengkap, penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tinjauan sistematis. Critical appraisal yang digunakan dalam penelitian ini ialah JBI Form Checklist untuk penelitian cross sectional, kualitatif, dan systematic review.  Hasil: delapan belas artikel ditemukan dan digunakan dalam studi literatur, dengan mayoritas berasal dari Asia (77,7%).  Terdapat 23 faktor, kemudian dikelompokkan ke dalam 4 kelompok faktor antara lain faktor demografi dan biologi yang meliputi tempat tinggal, usia, pekerjaan, pendapatan, usia menikah, tingkat pendidikan, asuransi kesehatan, dan riwayat kesehatan; faktor kognitif antara lain rendahnya pengetahuan tentang kanker serviks, skrining, dan faktor risikonya; faktor emosional termasuk rasa malu; faktor sosial budaya yang meliputi dukungan dari pemberi pelayanan kesehatan, keluarga, relawan kesehatan masyarakat, otoritas dalam keluarga; dan faktor infrastruktur seperti akses informasi. Diskusi: skrining kanker serviks pada wanita dibangun oleh berbagai faktor.  Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer diharapkan mampu mengoptimalkan pelayanan dan penyebarluasan informasi deteksi dini kanker serviks.  Kesimpulan: penelitian selanjutnya agar lebih fokus mengidentifikasi salah satu faktor pengaruh serta penanggulangan faktor tersebut. Kata Kunci: kanker serviks, scoping review, skrining Factors Influencing Cervical Cancer Screening in Indonesia: A Scoping Review ABSTRACTCervical cancer screening programs have been established in Indonesia; however, these programs have not yet reached their intended targets. Multiple factors can impact the successful implementation of cervical cancer screening, highlighting the need for further identification and understanding of these factors. Objective: to map the factors that influence the implementation of cervical cancer screening among women. Methods: A scoping review was conducted using the databases Google Scholar, EBSCO, PubMed, and ProQuest. The search employed keywords such as "woman" OR "women" OR "female" OR "females" AND "cervical cancer screening", "motivation" OR "participation", "barrier" OR "challenges", "influence factors", with the inclusion criteria of studies published between 2017 and 2020, in either Indonesian or English languages, with full-text availability. The review encompassed quantitative, qualitative, and systematic review studies. The critical appraisal used in this study is the JBI form checklist for cross-sectional, qualitative, and systematic studies.  Results: Eighteen articles were included in the literature analysis, with the majority originating from Asia (77.7%).  Through thematic analysis, twenty-three factors were identified and categorized into four groups: demographic and biological factors (e.g., place of residence, age, occupation, income, age at marriage, education level, health insurance, and health history); cognitive factors (e.g., insufficient knowledge about cervical cancer, screening, and risk factors); emotional factors (e.g., feelings of shame); sociocultural factors (e.g., support from healthcare providers, family, community health volunteers, and authority within the family); and infrastructure factors (e.g., access to information). Discussion: Cervical cancer screening among women is influenced by various factors. Primary healthcare facilities, such as community health centers (puskesmas), are expected to optimize services and disseminate information on early detection of cervical cancer. Conclusion: further research to focus more on identifying one of the influencing factors and overcoming these factors.Keywords: Cervical cancer, scoping review, screening
Co-Authors Ade Rosi Amalia, Fany Andini, Nathania Putri Andri Agustin Anita Setyawati Aprilia, Rahmita Nurul Asri Nurkarimah Aulia, Hannifa Dwi Azizah, Levina Bambang Aditya Nugraha Bambang Aditya Nugraha Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Citra Windani Mambang Sari Dahlia, Debie - Dewin Safitri Dwi, Tia Dyah Setyorini Early Octavia Limbong Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari Eka Afrima Sari, Eka Afrima Eka Fitri Ningsih Endah Yuniarti Estiqomah, Yuli Etika Emaliyawati Fauzia, Salwa Ghaida Fitri Nurul Khotimah Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul Fitris, Siti Yuyun Rahayu Giovanni Maria Gusgus Ghraha Ramdhanie Hamidah . Hana Rizmadewi Agustina Handayani, Nathasa Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Helwiyah Ropi Herman, Regina Heryani, Hesti Hesti Platini Ida Maryati Indah Wahyuni Karina, Grashiva Khairunnisa, Chandra Kirana Khairunnisa, Nisrina Kusman Ibrahim Liya Arista lukman, dede Ma'ripah, Isnan Mira Trisyani Muhammad Ramdhani, Muhammad Musawi, Husein Mutiarasani, Anjani Nur Fitriani Nurfadila, Eva Nurjanah, Ismirani Nurkarimah, Asri Nurrofiqoh, Malihatunnisa Nursalma, Aisyah Nursiswati Nursiswati Nurul Azmi Fauziyah Oktorullah Oktorullah Puspita, Tita Rahmah, Tira Nur Rahmayani, Melly Ria Sitorus Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti, Ristina Rohaeti, Sri Elis Rohayanti, Yanti Ryan Hara Permana Salsabila, Nada Salwa, Sayyidah Sandra Pebrianti Sari, Yuyun Kartika Seizi Prista Sari Sicilia, Asha Grace Siti Ulfah Rifa’atul Siti Yuyun Rahayu Fitri Slamet Riyanto Sri Elis Rohaeti Sutandi, Andi Sya'fa, Siti Noor Tanjung, Rifani Taty Hernawaty Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Tuti Pahria Urip Rahayu Urip Rahayu Urip Rahayu, Urip Wati, Putri Windiramadhan, Alvian Pristy Yosilistia, Yosilistia Yusshy Kurnia Yusshy Kurnia Herliani, Yusshy Kurnia