Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Community Structure And Condition Of Coral Reefs In Poopoh Village Waters, Tombariri District, Minahasa Regency Marselo R. Manzanaris; Ari B. Rondonuwu; Silvester B. Pratasik
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21439

Abstract

This study aims to provide information about coral reefs condition in Poopoh waters and as input For related stakeholders for future coral reef management and conservation. Data sampling employed SCUBA gear with Line Intercept Transect (LIT) at 3 M and 10 M depth. It used 30 M-transect line and each depth was laid 3 transects.Results showed that the highest number of hard coral colonies at 3 M depth was found in branching coral and the lowest in ACD, while at 10 M depth, the highest number of colonies was recorded in CMR and the lowest in ACB.  Based on percent cover, it was found that the depth of 3 M had moderate coral condition, while the depth of 10 M had poor condition. Both depths had low diversity index, high eveneness index, and low dominance index.Key words: coral reef condition,  percent cover, diversity, evenness, dominance.  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kondisi terumbu karang di perairan Desa Poopoh sebagai masukan bagi pihak-pihak terkait untuk pengelolaan dan pelestarian terumbu karang di masa mendatang.Pengambilan data terumbu karang menggunakan alat SCUBA dengan metode LIT (Line Intercept Transek) pada kedalaman 3 M dan 10 M. Penelitian in menggunakan 30 M panjang  transek, dan masing-masing kedalaman ditempatkan 3 transek.Jumlah koloni karang batu terbanyak di kedalaman 3 meter ditemukan pada jenis karang bercabang (CB), 4,33 koloni dan jumlah koloni terendah pada ACD, sedangkan pada kedalaman 10 M, koloni terbanyak ditemukan CMR dan terendah pada ACB.  Berdasarkan persentase tutupan, ditemukan bahwa kedalaman 3 meter memiliki kondisi terumbu karang sedang, sedangkan kedalaman 10 M memiliki kondisi terumbu karang buruk. Kedua kedalaman memiliki indeks keanekaragaman (H’) rendah, indeks kemerataan tinggi, dan indeks dominasi tergolong rendah.Kata kunci: kondisi terumbu karang, persen tutupan, keragaman, pemerataan, dominasi.
Fly fish growth pattern (Decapterus spp) in Likupang Water, Nort Sulawesi Inggrid M. F Akerina; Silvester B. Pratasik; Nego E. Bataragoa
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22593

Abstract

This study was aimed to find out the size distribution of scad (Decapterus spp) caught by Likupang fishermen and to find out theirgrowth patterns. Fish samples were collected by traditional purse seine fishermen in Likupang waters. Total catches were 139 individuals consisting of 89 D. macarellus and 50 D. macrosoma.The former was dominated by size of 19.2-20.6 cm, while the latter was dominated by size of 13.1-14.1 cm. Length-weight relationship analysis showed that the growth patterns of D. macarellus and D. Macrosoma were isometric meaning that the increase in length is consistent with weight gain.Keywords: Likupang, Decapterus spp and growth patternsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran ikan layang (Decapterus spp) yang ditangkap oleh nelayan Likupang and untuk menduga pola pertumbuhannya. Sampel ikan diperoleh nelayan tradisional pukat cincin di perairan Likupang.Total hasil tangkapan adalah 139 ekor terdiri dari 89 ekor  D. macarellus dan 50 D. macrosoma. Hasil tangkapan D. macarellus didominasi oleh kelas ukuran 19,2-20,6 cm, sedangkan D. macrosomadidominasi oleh kelas ukuran 13,1-14,1 cm. Analisis hubungan panjang berat menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan D. macarellusdan D. macrosoma bersifat isometrik yang artinya pertambahan panjang selaras dengan pertambahan berat.Kata kunci: Likupang, Decapterus spp dan Pola pertumbuhan
Marine Debris Composition on Tasik Ria Beach, Tombariri, Minahasa Regency Silvia A. Bangun; Joudy R.R. Sangari; Frans F. Tilaar; Silvester B. Pratasik; Meiske S. Salaki; Wilmy Pelle
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23411

Abstract

Indonesia is referred to as the second largest contributor of marine plastic waste in the world after China, with an estimated 0.48-1.29 million metric tons per year (Jambeck et al, 2015). The main problem today is the lack of information about pollution of marine debris on the coast, especially in North Sulawesi. This study aims to identify the type of marine debris on Tasik Ria Beach using the transect line observation method. Observation of marine debris was carried out 5 times with a total of 10 transects between February and April 2019. Data analysis was carried out using several software namely Microsoft Excel, Statgraphics, and JMP. The analysis technique used is EDA (Exploratory Data Analysis) with GDA (Graphical Data Analysis) as the main approach. Of the various types of debris obtained, plastic debris is the most commonly found, as many as 189 items, followed by glass 97 items, wood and derivatives of 11 items, rubber 5 items and clothes 2 items. Based on the results of the study, the type of macro debris is the most common category of debris at the study site. The total number of macro-debris collected in ten observation transects was 316 items with a total weight of 118.62 gr/m2, while meso-debris had only 6 items with a total weight of 7.18 gr/m2. The percentage of macro-debris composition found on Tasik Ria beach is plastic (58.15%), glass (29.85%), metal (6.52%), wood and derivatives (3.42%), rubber (1, 55%) and clothes (0.62%). These results can illustrate the potential for events where plastic is the dominant component of marine debris on the coast, specifically in the District of Tombariri, Minahasa Regency.Keywords: Marine debris, Macro-debris, Category, Composition, Tasik Ria ABSTRAKIndonesia disebut sebagai kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan estimasi 0,48-1,29 juta metrik ton per tahun (Jambeck et al, 2015). Masalah utama dewasa ini adalah kurangnya informasi mengenai pencemaran sampah laut di pantai, khususnya di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis sampah laut di Pantai Tasik Ria dengan menggunakan metode pengamatan garis transek. Pengamatan sampah laut dilakukan sebanyak 5 kali dengan total 10 transek antara bulan Februari hingga April 2019. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu Microsoft Excel, Statgraphics, dan JMP. Adapun tehnik analisis yang digunakan adalah EDA (Exploratory Data Analysis) dengan pendekatan utama yaitu, GDA (Graphical Data Analysis). Dari berbagai semua jenis sampah yang didapatkan, sampah plastik merupakan yang paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 189 item, diikuti kaca 97 item, kayu dan turunannya 11 item, karet 5 item dan terakhir pakaian 2 item. Berdasarkan hasil penelitian, jenis sampah makro merupakan ukuran sampah yang paling banyak ditemukan di lokasi penelitian. Jumlah total makro-debris yang dikumpulkan di sepuluh transek pengamatan adalah sebanyak 316 item dengan bobot total 118,62 gr/m2, sedangkan meso-debris hanya terdapat 6 item dengan bobot total 7,18 gr/m2. Persentase komposisi makro-debris yang terdapat di pantai Tasik Ria adalah plastik (58,15%), kaca (29,85%), logam (6,52%), kayu dan turunannya (3,42%), karet (1,55%) dan pakaian (0,62%). Hasil ini dapat menggambarkan potensi kejadian dimana plastik menjadi komponen sampah laut dominan di pantai, secara khusus di Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa.Kata kunci: Sampah laut, Makro-debris, Jenis, Komposisi, Tasik-Ria
Vertical Distribution Of Hard Corals In Southern Siladen Island John L. Tombokan; Unstain N. W. J. Rembet; Silvester B. Pratasik
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14972

Abstract

This study was aimed at provide information on hard coral distribution in southern Siladen Island. The work was done using SCUBA gear Line Intercept Transect (LIT). Thirty m long-line transects were placed at the reef flat, 5 m depth, 10 m depth, 15 m depth, and 20 m depth. A total of 44 hard coral genera was recorded, and the highest number of genre was found at 5 m depth. Coral species diversity was also high enough at the reef flat (1.032) and 5 m depth (1.28). Coral reef condition at 10 m depth was good enough as well and categorized as productive due to much higher percent of the biotic component than the abiotic component. The dominant life forms consisted of tabulate Acropora and branching corals at the reef flat, encrusting corals, branching corals, and foliose corals at 5 m, encrusting corals at 10 and 20 m depth, and massive corals, encrusting corals, and branching corals at 15 m depth, respectively. Keywords: coral reef, distribution, LIT, vertical zonationl.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang distribusi karang batu di sebelah selatan pulau Siladen. Penelitian ini dilakukan menggunakan alat selam SCUBA dan metode transek intersep garis. Tali transek sepanjang 30 m diletakkan di rataan terumbu, kedalaman 5, 10, 15, dan 20 m. Total 44 genera karang batu ditemukan pada penelitian ini, dan jumlah genera terbanyak ditemukan pada kedalaman 5 m. Keanekaragaman spesies karang juga cukup tinggi di daerah rataan terumbu (1,032) and 5m (1,28). Kondisi terumbu karang pada kedalaman 10 m juga cukup baik dan dikategorikan produktif karena tingginya komponen biotik dibandingkan dengan komponen abiotik. Bentuk pertumbuhan yang dominan masing-masing terdiri dari Acropora meja dan karang bercabang di rataan terumbu karang, karang encrusting, karang bercabang, dan foliose pada kedalaman 5 m, karang encrusting pada kedalaman 10 dan 20m, serta karang masif, karang encrusting dan karang bercabang pada kedalaman 15m.   Kata kunci: Terumbu karang, distribusi, Transek Intersep Garis, Zonasi vertikal.
Community Structure of Ascidian in Mike’s Point Bunaken Waters, Manado City, North Sulawesi Province Samuel L. Opa; Deiske A. Sumilat; Silvester B. Pratasik; Billy Th. Wagey; Gustaf F. Mamangkey; Elvy L. Ginting; Medy Ompi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27827

Abstract

Ascidians are marine invertebrates that have been classified with the subphylum Urochordata (Tunicata). These organisms are very important because they contribute a lot to the stability of the marine ecosystem. This study aims to determine the species composition, density, ecological index (diversity, uniformity, dominance), distribution patterns, and substrate occupied by Ascidian. Data were collected at Mike’s Point Bunaken waters at two depths 7 m and 14 m. The method used a direct observation along the 50 m and 2 m width belt transect. In this study, the transect was applied parallel to the coastline at each depth, where 3 replications were performed. The results show  26 species consisting of 13 species at a depth of 7 m and 22 species at a depth of 14 m were identified. The average density of each species was  0.05 ind/m2 at both depths. Diversity Index of 1.76 at 7 m depth and 2.24 at 14 m depth was determined. Uniformity Index was 0.68 at 7 m depth and 0.73 at 14 m depth. Dominant Index of 0.67 at 7 m depth and 0.88 at 14 m depth was also determined. The distribution pattern of species was dominated by uniform distribution, and the substrate most commonly occupied by Ascidianns was dead coral overgrown with algae.Keywords: Ascidian, composition and density, ecological index, distribution pattern, substrate  AbstrakAscidian adalah Avertebrata laut yang termasuk dalam subfilum Urochordata (Tunicata). Organisme ini sangat penting karena mereka banyak berkontribusi pada stabilitas ekosistem laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies, kepadatan, indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman, dominasi), pola distribusi, dan substrat yang ditempati oleh Ascidian. Data dikumpulkan di Perairan Mike's Point Bunaken pada dua kedalaman 7 m dan 14 m. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung sepanjang transek sabuk 50 m dan lebar 2 m. Transek dipasang sejajar dengan garis pantai dan pada setiap kedalaman.  Pengambilan data  dilakukan 3 ulangan. Hasil dari penelitian ini adalah  ditemukan  26 spesies yang terdiri dari 13 spesies pada kedalaman 7 m dan 22 spesies pada kedalaman 14 m. Kepadatan total Ascidian pada kedalaman 7 m (0,67 ind/m2) dan pada kedalaman 14 m (1.11 ind/m2). Indeks Keanekaragaman adalah 1,76 pada kedalaman 7 m dan 2,24 pada kedalaman 14 m. Indeks Keseragaman adalah 0,68 pada kedalaman 7 m dan 0,73 pada kedalaman 14 m. Indeks Dominansi 0,67 pada kedalaman 7 m dan 0,88 pada kedalaman 14 m. Pola distribusi spesies didominasi oleh pola distribusi yang seragam, dan substrat yang paling umum ditempati oleh Ascidian adalah karang mati yang ditumbuhi alga.Kata Kunci: Ascidian, komposisi dan kepadatan, indeks ekologi, pola sebaran, substrat
Morphological identification of crabs in the rocky coast of Manado Bay Rustikasari, Irna; Paransa, Darus S. J.; Kaligis, Erly Y.; Ompi, Medy; Pelle, Wilmy E.; Pratasik, Silvester B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35200

Abstract

Coastal areas have a wealth of biological natural resources including marine life such as crustaceans. One of the marine organisms in the crustacean group is the crab. The purpose of this study was to identify the types of crabs that live in rocky coastal habitats through a morphological approach. To determine the morphology of crabs can be done by looking at the shape, color, and size. The results of this study found 3 types of crabs in two locations in the Manado Bay area including the crab is Grapsus albolineatus, Ozius truncatus, and Uca (Galasimus) tetragonon. Based on the results of the research above, morphological forms were found on the abdomen in the form of a tapered triangle which indicated that the crab was male and the abdomen was triangular with the female sex. The most common crabs found at the study site were female crabs.Keywords: Coastal Area; Crab; Morphology AbstrakWilayah pesisir memiliki kekayaan sumber daya alam hayati diantaranya biota laut seperti krustasea. Salah satu organisme laut dalam golongan krustasea adalah kepiting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis kepiting yang hidup di habitat pantai pesisir berbatu melalui pendekatan morfologi. Untuk mengetahui morfologi pada kepiting dapat dilakukan dengan melihat bentuk, warna serta ukuran. Hasil penelitian ini menemukan 3 jenis spesies kepiting pada dua lokasi yang berada di daerah Teluk Manado diantaranya kepiting Grapsus albolineatus Ozius truncatus dan Uca (Galasimus) tetragonon. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka ditemukan bentuk morfologis pada bagian abdomen berbentuk segitiga meruncing yang menunjukkan bahwa kepiting tersebut berkelamin jantan dan abdomen berbentuk segitiga melebar merupakan kepiting dengan jenis kelamin betina. Kepiting yang paling banyak ditemukan pada lokasi penelitian adalah kepiting betina.  Kata Kunci: Wilayah Pesisir; Kepiting; Morfologi 
Length-weight relationship and gonadal index of juvenile bluestripe snapper Lutjanus kasmira (Forsskål, 1775) in the waters around Tanamon Village South Minahasa Malurung, Yulianti -; Bataragoa, Nego E.; Salaki, Meiske S.; Pratasik, Silvester B.; Moningkey, Ruddy D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.35315

Abstract

This study aims to determine the length-weight relationship, growth patterns, and gonadal index of juvenile bluestripe snapper Lutjanus kasmira. Samples were collected using a hand line with a hook numbered  3 and a monofilament fishing line numbered 80. Sampling activities were carried out on July 26th – August 4th, August 26th - September 4th, and October 10th, 2020. A total of 70 fish, 22 females and 48 males was caught. Female length distribution ranged from 104 to 150 mm with a weight range of 18.19-55.87 g, while male length ranged from 107 to 150 mm in length with a weight of 19.00-57.00 g. The length-weight relationship was indicated with W= 0.0177L2.9344 (R2=0,7816) for males and W = 0.012L3.0817 (R2=0,8976) for females with isometric growth pattern. The length-weight relationship for combined sexes was W= 0.0156L2.9816 (R2=0,8186) with an isometric growth pattern. The gonadal maturity for all samples was at immature and developing stages. The gonadal index in female snapper at immature was 0.16 and developing was 0.41, whereas the male gonadal maturity index at immature was 0.14 and developing was 0.38.Keywords: Lutjanus kasmira; length-weight; gonad maturity; gonadal indexAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang berat, pola pertumbuhan dan indeks  gonad  ikan kakap Lutjanus kasmira. Sampel ikan ditangkap menggunakan pancing ulur mata pancing nomor  3 dan tali monofilament nomor 80. Aktivitas pengambilan sampel dilakukan masing-masing pada 26 Juli-4 Agustus, 26 Agustus-4 September 2020, dan 10 Oktober 2020. Sebanyak 70 individu sampel diperoleh, 22 betina dan 48 jantan. Sebaran ukuran panjang ikan betina  104-150 mm dan berat 18,19-55,87 g. Sebaran ukuran panjang ikan jantan 107-150 mm dan berat 19,00-57,00 g.     Hubungan panjang-berat diperoleh W= 0,0177L2,9344 (R2=0,7816) untuk jantan dan W = 0,012L3,0817 (R2=0,8976) untuk betina dengan pola pertumbuhan isometrik. Gabungan ikan kakap jantan dan betina diperoleh W= 0,0156L2,9816 (R2=0,8186)  dengan pola pertumbuhan isometrik. Tingkat kematangan gonad  (TKG) terhadap seluruh sampel baik jantan maupun betina berada pada TKG I (belum matang) dan TKG II (berkembang). Indeks  gonad pada ikan kakap betina pada TKG I sebesar 0,16 dan TKG II sebesar 0,41. Indeks kematangan gonad ikan kakap jantan pada TKG I sebesar 0,14 dan TKG II sebesar 0,38.Kata Kunci: Lutjanus kasmira, panjang-berat, kematangan gonad, indeks gonad 
Length-Weight Relationship and Condition Factor of Siganus Lineatus around Kareko waters, Lembeh Strait Sampouw, Mouren V.; Salaki, Meiske S.; Moningkey, Ruddy D.; Rangan, Jety K.; Pratasik, Silvester B.; Watung, Juliaan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.36985

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between length and weight and condition factors of Siganus lineatus around Kareko waters, Lembeh Strait. Sampling was carried out in March 2021 from fishermen's catch using net fishing gear. There were 31 individuals collected with a length range of 169.95-345.69 mm and a weight range of 94-939 grams. The relationship between length and weight of male (b= 0.3018), female (b= 0.3631) and total (b= 0.3287) showed a negative allometric growth pattern. Mean condition factors of the male, female and total were 0.106, 0.075, and 0.091, indicating that rabbitfish are in poor condition.Keywords: rabbitfish; allometric; fishermen.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang berat dan faktor kondisi Siganus lineatus di perairan sekitar Kelurahan Kareko, Selat Lembeh. Pengambilan sampel sepanjang bulan Maret 2021 dari  hasil tangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 31 individu dengan kisaran panjang 169,95-345,69 mm dan berat 94-939 gram. Hubungan panjang berat ikan beronang jantan (b= 0,3018), betina (b= 0,3631) dan total (b= 0,3287) menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif. Faktor kondisi rata-rata ikan beronang jantan, betina dan total yaitu 0,106, 0,075 dan 0,091, hal ini menunjukkan ikan beronang dalam kondisi kurang baik karena memiliki nilai kurang dari satu.Kata kunci : ikan beronang; alometrik; nelayan.
Composition Of Types And Distribution Of Faviidae Corals In The Bahowo Reef Fall, Tongkaina, Manado City Wewengkang, Fabiola; Pratasik, Silvester B.; Lalamentik, Laurentius Th. X.; Rembet, Unstain; Manu, Gaspar; Sambali, Hariyani
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37295

Abstract

Coral reef is an ecosystem built by calcium-producing marine biota, especially corals. One of the reef-building corals (hermatypic) is Faviidae that is distributed in almost all territories of Indonesia. This study was carried out in the reef flat of Bahowo, Tongkaina, Manado. Data collections used the sampling method with quadrat. There were 6 genera of Faviidae recorded in this study, Favia, Favites, Goniastrea, Leptoria, Montastrea, and Platygyra with clumped distribution patterns.Keywords: hermatypic; genera; ecosystem; quadrat. AbstrakTerumbu karang merupakan ekosistem yang dibangun oleh biota laut penghasil kapur, terutama oleh hewan karang. Salah satu karang pembentuk terumbu (hermatipik) adalah karang batu Faviidae yang memiliki penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penelitian ini dilakukan di rataan terumbu Bahowo, kelurahan Tongkaina, kota Manado. Berdasarkan hasil pencatatan data dengan menggunakan metode sampling kuadrat yang kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan perangkat lunak (MS Excel) diperoleh 6 genera karang batu Faviidae, yaitu Favia, Favites, Goniastrea, Leptoria, Montastrea, dan Platygyra dengan pola distribusi yang mengelompok.Kata kunci: hermatipik; ekosistem; genera; kuadrat.
Composition and Condition Of Coral Reefs In Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Ali, Fajri Nurul; Rondonuwu, Ari B.; Pratasik, Silvester B.; Wantasen, Adnan S.; Bataragoa, Nego E.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38203

Abstract

This study aims to determine the composition and condition of coral reefs in Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency. The method used is Line Intercept Transect (LIT). Data were collected by SCUBA diving at 3 meters and 10 meters depths. In 3 meters depth was found biotic components such as Acropora and non-Acropora with 6 growth forms, and five other biotic components, while abiotic components were only found in coral rubbles (R). In 10 meter depth was found biotic components live coral with 7 growth forms, and five other biotic components, while the abiotic components as sand and coral rubbles. In two depths, the coral reef component dominant were Acropora digitate (ACD) and Acropora branching (ACB). The condition of coral reefs at 3-meter depth and 10 meters were  “Fair”  with the percent cover of live corals being 35.59% and 37.30%.Keywords: Coral; Coral Reef; ConditionAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kondisi terumbu karang di Tanjung Dudepo Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transect (LIT). Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman SCUBA pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Pada kedalaman 3 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup acropora dan non-acropora dengan 6 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik hanya ditemukan berupa pecahan karang. Pada kedalaman 10 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup dengan 7 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik berupa pasir dan pecahan karang. Pada dua kedalaman, bentuk pertumbuhan yang mendominasi yaitu acropora digitate dan acropora branching. Kondisi terumbu karang pada lokasi penelitian khususnya pada kedalaman 3 meter dan 10 meter yaitu berada pada kategori cukup dengan persentase tutupan sebesar 35,59% dan 37,30%. Kata kunci: Karang; Terumbu Karang; Kondisi.
Co-Authors Adnan Wantasen Agustiana Agustiana Alex D. Kambey Ali Djamhuri Ali, Fajri Nurul Anang Najamuddin Anneke V. Lohoo Antonius Rumengan Ari B. Rondonuwu Bataragoa, M.Sc, Dr. Ir. Nego E. Billy Th. Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Celcius Waranmaselembun Choirul Anwar Darus S. Paransa Dauhan, Dulce Maria Deiske A. Sumilat Deslie RH Kumampung Elvy L. Ginting Erly Y Kaligis Erly Y. Kaligis, Erly Y. Firlianty Firlianty Firlianty Firlianty Firlianty, Firlianty Firlianty, Firlianty Fitje Losung Frans F. Tilaar Fransine B. Manginsela Gaspar D. Manu, Gaspar D. Gaspar Manu Ginting, Elvy Like Gustaf F. Mamangkey Hengky J. Sinjal, Hengky J. Inggrid M. F Akerina Janny D. Kusen John L. Tombokan Joshian NW Schaduw Joudy R.R. Sangari Juliaan Watung Kalesaran, Ockstan Y. Kondoy, Khiristin Ivone Fisye Lalamentik, Laurentius Th. X. Laura, Azhar Lawrence J. L. Lumingas Leleran, Andreas J. P. L. Lexy K Rarung Malurung, Yulianti - Mamonto, Riswanto Mangindaan, Remy Mantiri, Nicola R. K. Marselo R. Manzanaris Medy Ompi Medy Ompi Meiske S. Salaki Melani, Hellen Menajang, Febry S. I. Menajang, Febry Susana Ivone Moningkey, Ruddy D. Natalie D Rumampuk Nego E. Bataragoa Nego E. Bataragoa, Nego E. Novia A Jambo Pelle, Wilmy E. Purniasih, Ni Komang Pitri Ramadan, Febrian Rangan, Jety K. Rembet, Unstain Remy E. P Mangindaan Rene Charles Kepel, Rene Charles Robert A. Bara Rondonuwu, Arie B. Rondonuwu, Yonatan Y. Runtuwene, Heard C.C. Rustikasari, Irna Salaki, Meiske S. Sambali, Hariyani Sampe, Ayumi Angraini Sampouw, Mouren V. Samuel L. Opa Sangari, Joudy R.R Silvia A. Bangun Sinjal, Henky Stenly Wullur Suria Darwisito Suzanne L Undap Tidore, Fadli Tilaar, Ferdinand F. Tombi, Indra Unstain N. W. J. Rembet Veibe Warouw Wewengkang, Fabiola Wilmy Pelle Yuliana Anastasia Ngamel