Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Keputusan Gen Z Melanjutkan Hidup dengan atau Tanpa Menikah Rahmatillah, Rahmatillah; Muslimah, Ranisah Azza; Azura, Nona; Putriani, Putriani; Aliyah, Nur; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.30687

Abstract

The decision-making process regarding marital commitment serves as a crucial foundation in determining whether to pursue or forgo marriage. This study aims to explore how members of Generation Z make decisions related to marital commitment and the influencing factors behind those decisions. The research involved five individuals from Generation Z residing in various districts/cities within Aceh Province. Data were collected through in-person and video call interviews, then analyzed using thematic analysis. The findings reveal variations in the decision-making process. Decisions to marry were influenced by strong family support, religious values, positive beliefs about marriage, and love for a partner. In contrast, decisions to remain unmarried were shaped by past experiences such as abuse, parental marital conflict, personal values and beliefs, and a desire for independence. Viewing marriage as an unsuitable solution for personal problems also emerged as a contributing factor. These findings provide insight into the motivations and considerations underlying marital commitment decisions among Generation Z.Proses pengambilan keputusan terhadap komitmen pernikahan merupakan landasan penting dalam menentukan pilihan untuk menikah atau tidak. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pengambilan keputusan Generasi Z terkait komitmen pernikahan serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut. Subjek penelitian terdiri atas lima individu dari Generasi Z yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dan panggilan video, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan untuk menikah dilandasi oleh dukungan keluarga, nilai agama, keyakinan positif terhadap pernikahan, dan cinta terhadap pasangan. Sementara itu, keputusan untuk tidak menikah dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu seperti pelecehan, ketidakharmonisan rumah tangga orang tua, nilai dan keyakinan pribadi, serta keinginan untuk hidup bebas dan mandiri. Pandangan bahwa pernikahan bukan merupakan solusi atas permasalahan pribadi juga menjadi faktor yang diperhatikan. Temuan ini memberikan gambaran tentang motivasi dan pertimbangan yang mendasari pengambilan keputusan komitmen pernikahan pada Generasi Z.
Promosi Kesetaraan Gender dan Penghapusan Diskriminasi Mahyus, Mahyus; Wahida, Nur; Putriani, Putriani; Fatima, Siti; Faisal, Muh.
Journal Social Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): September 2025
Publisher : akultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55638/sosial.v2i1.376

Abstract

Kesetaraan gender merupakan prinsip dasar dalam perlindungan hak asasi manusia dan pencapaian pembangunan yang inklusif. Namun, diskriminasi berbasis gender masih menjadi tantangan global yang kompleks dan multidimensional. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis upaya promosi kesetaraan gender serta strategi penghapusan diskriminasi terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dan studi pustaka, artikel ini mengkaji bentuk-bentuk diskriminasi gender yang terjadi dalam bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan partisipasi politik. Ditemukan bahwa ketimpangan struktural, budaya patriarki, serta lemahnya implementasi kebijakan menjadi faktor utama yang menghambat terciptanya keadilan gender. Artikel ini juga mengulas berbagai inisiatif nasional dan internasional dalam mendorong kesetaraan, termasuk pendidikan gender, advokasi hukum, dan pemberdayaan ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa promosi kesetaraan gender membutuhkan sinergi lintas sektor dan perubahan paradigma di tingkat masyarakat. Dengan demikian, penghapusan diskriminasi gender bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Kata Kunci: kesetaraan gender, diskriminasi, hak asasi manusia, pemberdayaan, pembangunan inklusif
STRATEGI PELAYANAN PENINGKATAN KUALITAS KINERJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI STASIUN TAWANG SEMARANG BERDASARKAN ANALISIS SWOT Putriani, Putriani; Oktavia, Afifah Maulimatun; Rizani, Mohammad Debby; Yudaningrum, Farida
Jurnal Teknik Sipil Giratory UPGRIS Vol 2, No 2: Desember 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.864 KB) | DOI: 10.26877/giratory.v2i2.11410

Abstract

Stasiun Tawang Semarang termasuk kedalam kelas besar tipe A. Untuk mengetahui kinerja layanan stasiun dilakukan pada masa pandemi covid-19 yang optimal berdasarkan tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap layanan Stasiun Tawang Semarang. Standar Pelayanan Minimum yang disingkat SPM adalah ukuran minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa, yang harus dilengkapi dengan tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyedia layanan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur. Seperti halnya yang terjadi pada PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang Stasiun Tawang yang telah dilakukan sarana pengecekkan SPM. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan analisis SWOT untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi efektivitas pelayanan serta mengetahui kualitas kinerja Stasiun Tawang Semarang. Faktor internal yang dimaksud ialah strong (S) dan weak (W), sedangkan faktor eksternal ialah opportunities (O) dan threats (T). Hasil analisa kinerja pelayanan dalam peningkatan kualitas kinerja didapatkan strategi Strength-Opportunity dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan segala peluang yang ada sehingga perusahaan dapat memiliki keunggulan dalam persaingan perusahaan lainnya.
METODE IPA (IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS) UNTUK KINERJA LAYANAN STASIUN TAWANG SEMARANG PADA MASA PANDEMI COVID-19 Putriani, Putriani; Oktavia, Afifah Maulimatun; Rizani, Mohammad Debby; Yudaningrum, Farida
Jurnal Teknik Sipil Giratory UPGRIS Vol 1, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/giratory.v1i2.11479

Abstract

Seperti halnya yang terjadi pada PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang Stasiun Tawang Semarang yang telah dilakukan sarana pengecekkan SPM. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan analisa IPA (Importance Performance Analysis) untuk mengetahui penilaian pengguna terhadap layanan Stasiun Tawang Semarang sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 63 Tahun 2019. Standar pelayanan minimum adalah ukuran minimum pelayanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa. Penilaian pengguna (pengelola, penumpang, dan pedagang disekitar stasiun) terhadap layanan Stasiun Tawang Semarang menunjukkan hasil yang lebih dominan pada kuadran B yaitu wajib dipertahankan dari segi fasilitas maupun pelayanan (jalur evakuasi bagi yang berkebutuhan khusus (difabel), perlengkapan P3K, kursi roda, ketersedian vaksinasi, lampu penerang, memperketat penjagaan, keamanan kendaraan, CCTV, pembelian tiket, pelayanan penumpang, kebersihan ruang di stasiun) dan kuadran C yaitu dirasa kurang penting dan kurang memuaskan (pemeriksaan pass boarding, fasilitas tes rapid/antigen/swab/PCR, pengecekan suhu, ketepatan waktu perjalanan KA, menyampaikan informasi, kenyamanan dan keselamatan, sirkulasi udara, merespon penumpang, papan informasi, dan fasilitas busui).
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas V Melalui Model Pembelajaran Project Based Learning Syawaluddin, Ahmad; Amran, Muhammad; Putriani, Putriani
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan Vol 8, No 1 (2024): JANUARI (JIKAP PGSD)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jkp.v8i1.61949

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas V SD Negeri 241 Inpres Perumnas Tumalia Kecamatan Turikale Kabupaten Maros dalam mata pelajaran IPAS materi bagian mata dan fungsinya. Banyak siswa yang nilainya masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini disebabkan karena guru lebih sering menggunakan metode ceramah, pembelajaran yang kurang melibatkan aktivitas siswa dan pengalaman langsung pada diri siswa. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan kemampuan dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPAS materi bagian mata dan fungsinya melalui penerapan model pembelajaran Project Based Learning pada siswa kelas V SD Negeri 241 Inpres Perumnas Tumalia Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Jenis penelitian ini bersifat penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama 2 siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil refleksi pada siklus 1 menunjukkan bahwa dari total 20 siswa, terdapat 7 siswa atau 35 % yang tuntas dan 13 siswa atau 65 % yang tidak tuntas. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus 2, persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 85 %. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran “Project Based Learning” dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS materi Bagian Mata dan Fungsinya.
Strategi Adaptif dan Kolaboratif Berbasis Nilai Lokal dalam Penguatan Resiliensi Agribisnis Kopi di Desa Latimojong: Adaptive and Collaborative Strategies Based on Local Values in Strengthening Coffee Agribusiness Resilience in Latimojong Village Putriani, Putriani; Irmayani, Irmayani; Rahim, Abd
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8028

Abstract

Agribisnis kopi merupakan subsektor strategis yang menopang perekonomian pedesaan, khususnya di wilayah pegunungan. Namun, sistem agribisnis kopi di daerah terpencil masih menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, bencana alam, fluktuasi harga, serta keterbatasan kelembagaan dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai lokal yang dapat dioptimalkan dalam penguatan resiliensi agribisnis kopi serta mengidentifikasi tingkat kerentanan sistem agribisnis kopi terhadap ancaman perubahan iklim di Desa Latimojong, Kabupaten Enrekang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 15 informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman dengan kerangka ADAPT-ASIST yang mencakup dimensi agroekologi, sosial, institusional, dan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal seperti gotong royong (Sikombongan), solidaritas komunitas, serta pengetahuan turun-temurun dalam pembibitan dan penentuan waktu tanam menjadi modal sosial utama dalam menopang resiliensi agribisnis kopi. Namun demikian, agribisnis kopi di Desa Latimojong masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan iklim dan bencana alam, yang diperparah oleh lemahnya kelembagaan formal dan keterbatasan akses teknologi pertanian adaptif. Berdasarkan kerangka ADAPT-ASIST, dimensi sosial merupakan aspek terkuat, sementara dimensi agroekologi, institusional, dan teknologi masih memerlukan penguatan. Oleh karena itu, pengembangan agribisnis kopi memerlukan strategi adaptif dan kolaboratif yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan dukungan kelembagaan dan teknologi guna mewujudkan sistem agribisnis kopi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Coffee agribusiness is a strategic subsector supporting rural economies, particularly in mountainous areas. However, coffee agribusiness systems in remote regions face multiple challenges, including climate change, natural disasters, price volatility, and limited institutional and technological capacity. This study aims to analyze local values that can be optimized to strengthen coffee agribusiness resilience and to identify the level of vulnerability of the coffee agribusiness system to climate change threats in Latimojong Village, Enrekang Regency. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), participatory observation, and documentation involving 15 purposively selected informants. Data analysis followed the Miles and Huberman model using the ADAPT-ASIST framework, encompassing agroecological, social, institutional, and technological dimensions. The results indicate that local values such as mutual cooperation (Sikombongan), community solidarity, and inherited knowledge in seedling management and planting time determination serve as key social capital in supporting coffee agribusiness resilience. Nevertheless, the coffee agribusiness system remains highly vulnerable to climate change and natural disasters, exacerbated by weak formal institutions and limited access to adaptive agricultural technologies. Based on the ADAPT-ASIST framework, the social dimension is the strongest, while agroecological, institutional, and technological dimensions require further strengthening. Therefore, adaptive and collaborative strategies integrating local values with institutional and technological support are essential to achieve a more resilient and sustainable coffee agribusiness system.