Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Metode Diskusi Moral dan Metode Klarifikasi Nilai dalam Pendidikan Formal M, Amril; Qadri, Wil
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.14057

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan mengenai konsep metode diskusi moral dan metode klarifikasi nilai dalam pendidikan formal. Artikel ini menggunakan metode library research atau studi kepustakaan dengan menganalisis data-data yang berkaitan dengan mengenai pandangan-pandangan tentang pendidikan moral. Pengumpulan data dilakukan dengan peninjauan terhadap makalah, jurnal, e-book yang membahas mengenai pandangan-pandangan tentang pendidikan moral. Hasil kajian artikel ini menunjukkan bahwa pendidikan moral dapat ditingkatkan melalui pendekatan diskusi moral dan klarifikasi nilai. Guru perlu menciptakan situasi dilema moral untuk merangsang siswa berpikir kritis dan menemukan solusi yang etis melalui dialog.
Inovasi Kurikulum dan Pembelajaran dalam Pembelajaran Quantum Fauzan, Mohd.; M, Amril
At-Tajdid : Journal of Islamic Studies Vol 3, No 3 (2023): Juli 2023
Publisher : Pacsasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/at-tajdid.v3i3.20753

Abstract

Pembelajaran   pada   kurikulum   2013   telah   menerapkan   pembelajaran   yang berpusat pada peserta didik serta menyenangkan. Proses pembelajaran bertujuan untuk membangun perkembangan peserta didik secara utuh, meliputi aspek keagamaan, aspek sosial, aspek pengetahuan dan aspek keterampilan. Proses pembelajaran juga melibatkan keseluruhan potensi baik potensi psikis maupun potensi  fisik.  Salah  satu  model  pembelajaran  yang  dapat  mengaktivkan  segala aspek adalah model pembelajaran quantum. Inovasi pembelajaran quantum merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mengkomunikasikan materi kepada peserta didik, sehingga proses belajar mengajar berlangsung secara efektif untuk mencapai perkembangan yang optimal. Model pembelajaran quantum menyajikan lingkungan belajar secara terkonsep, meliputi lingkungan mikro, lingkungan makro, maupun lingkungan formal. Model quantum memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar karena sebagian besar yang ada di alam akan sering  ditemui  oleh  peserta  didik.  Semakin  banyak  sumber  belajar  maka  hasil belajar akan bervariasi sehingga pengetahuan yang didapatkan peserta didik pun lebih banyak.
PROFESIOANALISME GURU DALAM MENKONSTRUKSI KURIKULUM DAN SILABUS PEMBELAJARAN Sihombing, Bahosin; M, Amril
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.38929

Abstract

Articel ini bertujuan untuk menganalisis secara konseptual profesioanalisme guru dalam menkonstruksi kurikulum dan silabus pembelajaran. Penelitian ini perlu dilakukan karena di satu sisi, seorang guru harus profesional dalam menkonstruksikan kurikulum dan silabus dalam pembelajaran. Selain itu, seorang guru juga perlu menyusun kembali kurikulum dan silabus yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Adapun bentuk penyusunan kurikulum sebagai berikut: 1). Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan. 2) Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan. 3) Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar. 4). Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Dan pengembangan kurikulum menjadi enam landasan yakni: Asas religius, yuridis filosofis, sosiologis, psikologis dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menkonstruksi kurikulum guru sebagai implementers, guru sebagai developers dan guru sebagai peneliti. Prinsip pengembangan silabus, dalam tinjauan Trianto antara lain mencakup: (a) Ilmiah, (b) relevan, (c) sistematis, (d) konsisten, (e) memadai, (f) aktual dan kontektual, (g) flekibel, dan (h) menyeluruh. Langkah selanjutnya adalah penyususnan silabus: (a) sekolah dan komite sekolah (b) kelompok sekolah (c) dinas pendidikan. Peran guru dalam manajemen pembelajaran, guru sebagai fasilitator, guru sebagai manajer, guru sebagai admistrator dan guru sebagai motivator.
INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF M. AMIN ABDULLAH Muhammad, Ilham; M, Amril; Dewi, Eva; Qadri, Wil
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.39335

Abstract

Penelitian ini bertujuan agar para pembaca terutama para Umat Islam mendapatkan bahan bacaan dan referensi sehingga timbul motivasi untuk membahas dan meneliti serta memperdalam kembali tentang Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Amin Abdullah. Agar dengan demikian muncullah sebuah gambaran tentang bagaimana pendidikan Islam dan sains dapat saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain, sehingga dapat menciptakan pendidikan yang lebih holistik dan seimbang antara agama dan sains. Jenis penelitian menggunakan Library Research yang berarti riset kepustakaan, yang mana teknik yang digunakan dalam mengumpulkan datanya berdasarkan dokumentasi melalui bukti-bukti peninggalan yang tertulis seperti tulisan yang bersumber dari buku, jurnal, dan lainnya yang mendukung penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa M. Amin Abdullah menawarkan pandangan yang memperkuat integrasi antara agama dan sains, menekankan bahwa keduanya dapat saling melengkapi. M. Amin Abdullah menekankan pentingnya interpretasi teks agama yang kontekstual dan dinamis. Ia percaya bahwa pemahaman yang berkembang tentang sains dapat mendorong reinterpretasi ajaran agama, sehingga tidak terjebak dalam dogma. Ini memberikan ruang bagi dialog yang konstruktif antara keduanya. Kesimpulannya, Amin Abdullah mendukung pendekatan holistik yang melihat agama dan sains sebagai dua jalan yang dapat saling mendukung dalam pencarian kebenaran, mendorong umat untuk beradaptasi dan berpikir kritis dalam memahami dunia.
INTEGRITAS AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF ABDUSSALAM Nst, Muhammad Padil; Mulia, Harapan; M, Amril; Dewi, Eva
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.39567

Abstract

Banyak yang beranggapan bahwa sains dan agama itu memiliki posisi masing- masing yang mana ilmu dalam memperoleh suatu kebenaran itu didasarkan pada perolehan data secara epistimologi melalui beberapa penelitian. Kajian ini merupakan kajian yang membahas tentang integrasi agama dan sains menurut Abdussalam.Kajian ini merupakan jenis kajian studi kepustakaan (library research) untuk mendeskriptifkan integrasi agama dan sains dalam perspektif Andussalam. Sedangkan metode yang dipakai adalah deskriptif analitik, yaitu suatu metode yang digunakan secara sistematis untuk mendeskripsikan segala hasil yang berkaitan dengan pokok masalah. Dengan metode deskriptif analitik ini diharapkan akan menemukan parameterparameter sains Islam yang dapat menjadi sebuah solusi altematif dari sistem sains yang berkembang saat ini. Hasil penelitian tentang sains Islam ini menjelaskan bahwa menurut Abdussalam, Agama dan sains seharusnya tidak dipandang terpisah, tapi perlu dicari hubungan yang terkait di antara keduanya. Keduanya memiliki esensi yang serupa. Masih banyak aspek yang menjadi objek kajian ilmiah yang sejalan dengan prinsip-prinsip keagamaan. Sebelum penelitian dilakukan, agama telah menjelaskannya dalam kitab suci. Agama dan sains erat terkait dan saling membutuhkan.
SAINS ISLAM: RELASI TRIPATRIK MIKROKOSMOS, MAKROKOSMOS DAN METAKOSMOS Jelita, Priti Ike; M, Amril; Dewi, Eva; Nirmala, Atika
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.39569

Abstract

Artikel ini membahas relasi tripatrik antara mikrokosmos, makrokosmos, dan metakosmos dalam konteks sains Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library research). Metode kepustakaan (Library research) merupakan jenis penelitian yang data utamanya bersumber dari buku, jurnal, atau artikel. Mikrokosmos dipahami sebagai entitas manusia yang memiliki kemampuan untuk memahami dan mengartikan fenomena alam, sedangkan makrokosmos meliputi keseluruhan alam semesta yang menjadi fokus kajian ilmiah. Metakosmos berperan sebagai dimensi ilahi yang memberikan makna dan arahan bagi kedua dimensi tersebut. Penelitian ini menekankan pentingnya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual dalam pengembangan sains Islam. Al-Quran dan hadis dapat menjadi sumber inspirasi bagi ilmuwan Muslim untuk mengeksplorasi hubungan antara ketiga dimensi tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang menyeluruh tentang mikrokosmos, makrokosmos, dan metakosmos dapat membantu ilmuwan Muslim membangun hubungan yang harmonis antara pengetahuan dan spiritualitas, serta berkontribusi pada keseimbangan ekologis dan moral dalam masyarakat.
Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas Larasati, Septri; M, Amril; Dewi, Eva; pengelola, pengelola
TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol 6 No 02 (2024): Desember
Publisher : STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tabyin.v6i02.721

Abstract

This research describes the integration of religion and science from the perspective of M. Naquib Al-Attas. The aim of this research is to understand the biography of M. Naquib al-Attas, al-Attas's religious and scientific thinking, al-Attas' methodology for integrating religion and science and the Islamization of al-Attas' knowledge. The study method used is literature study or library research by collecting various information from journals/literature related to the Integration of Religion and Science in the Perspective of M. Naquib Al-Attas. Data collection with the results of previous research which support the data in this research. The result is that Al-Attas stated that there is an incompatibility between modern western science and technology and the Islamic system of epistemology and metaphysics. This is because science does not involve the role of God the Khaliq who has created natural laws, so science tends to conflict with religion. Since the 1970s Al-Attas began to introduce the concept of Islamization of science. Islamization as echoed by al-Attas is a term that brings something into Islam or makes it and makes it Islamic in accordance with the spirit of Islamic epistemology as a step or an effort to understand everything within an Islamic framework.
Aliran Progresivisme dan Essensialisme Dalam Filsafat Pendidikan Islam Bullah, Muhammad Habby; Selviana, Mutiara; Nurhasanah, Siti; M, Amril; Novita, Liana
Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 6 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/acj5fs44

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan membandingkan dua aliran berpengaruh dalam filsafat pendidikan, yaitu progresivisme dan esensialisme, khususnya terkait penerapan serta signifikansinya dalam pendidikan modern. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang membahas karakteristik utama, tujuan, dan prinsip-prinsip dasar dari kedua perspektif filsafat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa progresivisme menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, fleksibilitas dalam proses belajar, serta pengembangan potensi individu peserta didik melalui pendekatan yang berorientasi pada siswa. Sebaliknya, esensialisme lebih menitikberatkan pada penguasaan pengetahuan dasar, kedisiplinan, dan pembentukan karakter melalui kurikulum yang tersusun secara sistematis. Kedua pendekatan ini memiliki peran penting dalam membentuk sistem pendidikan; progresivisme selaras dengan tuntutan pendidikan masa kini yang mengutamakan kreativitas dan kemampuan beradaptasi, sementara esensialisme tetap krusial dalam menjaga pengetahuan fundamental dan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan prinsip-prinsip progresivisme dan esensialisme dapat menghasilkan sistem pendidikan yang seimbang antara kebebasan belajar dan pengembangan karakter
SHARIA LAW AND SHARIA VIRTUES IN SHAPING THE MORALS OF GENERATION Z: AN INTEGRATIVE-INTERCONNECTIVE APPROACH Novita, Liana; M, Amril
POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/potensia.v11i2.38941

Abstract

The purpose of this study is to develop an integrative-interconnective relationship between shariah law and sharia virtues. This will build a solid foundation of understanding and knowledge to guide the moral development of Gen Z, who grew up in an era of rapid technological advancement. The method used is a qualitative approach by utilizing library research and in-depth content analysis of primary texts and leading academic journals. The results of the study indicate that between sharia law, sharia virtues and the morality of Gen Z, all three are inseparable. However, it needs to be reiterated that the position of sharia law is the basis of sharia virtues and sharia virtues becomes an instrument for morality. In this case, the morality of Gen Z is like its inherent characteristics (critical thinking) but critical thinking in the style of sharia virtues (islamic thinking) based on sharia virtues. So here is the integrative-interconnective in the three relationships of sharia law, sharia virtues and the morality of Gen Z is truly. The implication of this research is that Gen Z is no longer rigid in its morals because it has been given teleological values (sharia virtues). To avoid deviating from these teleological values (sharia law), it remains grounded in theological values (sharia law). In fact, Gen Z is given the freedom to determine values in the 21st century and remains within theological values (sharia law).