Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PREDIKSI NILAI CBR LABORATORIUM BERDASARKAN PARAMETER INDEKS TANAH (ATTERBERG LIMIT, SPESIFIC GRAVITY) DAN DATA PEMADATAN PROCTOR Rahman Hakim Sitepu, Arif; rahma, siti; Tyagita Utami, Erdina; apriwelni, siska; Ayu Dwiyana, Putri
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2025): STATIKA: JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v11i2.1221

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda (Multiple Linear Regression Analysis/MLRA) untuk memprediksi nilai California Bearing Ratio (CBR) dalam kondisi tidak jenuh (unsoaked) berdasarkan parameter parameter tanah hasil pengujian laboratorium, yaitu batas Atterberg (LL, PL, PI), berat jenis tanah (Specific Gravity/Gs), serta parameter pemadatan standar Proctor seperti MDD dan OMC. Seluruh pengujian dilakukan sesuai dengan standar ASTM yang berlaku. Hasil analisis regresi linier sederhana (SLRA) menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R²) yang diperoleh masih tergolong rendah, masing-masing sebesar 0,2504 untuk LL, 0,6989 untuk PL, 0,2326 untuk PI, 0,0829 untuk Gs, 0,3427 untuk MDD, dan 0,0917 untuk OMC. Nilai-nilai ini mengindikasikan bahwa model SLRA belum mampu menggambarkan hubungan yang kuat antara masing-masing parameter terhadap nilai CBR. Sebaliknya, hasil regresi linier berganda menunjukkan bahwa kombinasi parameter LL, PL, dan MDD menghasilkan R² sebesar 1, yang berarti seluruh variasi nilai CBR unsoaked dapat dijelaskan oleh model dengan sangat baik. Model lainnya, yang menggabungkan PI, Gs, dan OMC, juga menunjukkan hasil yang sama dengan nilai R² sebesar 1. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode MLRA jauh lebih akurat dan dapat diandalkan untuk memprediksi nilai CBR dibandingkan SLRA, serta berpotensi menghemat waktu dan biaya dalam proses perencanaan dan evaluasi teknis pada proyek infrastruktur jalan.
Signal Coordination Analysis Between Intersection: Case Study Nadi, Muhammad Abi Berkah; Rumandanu, Achmad Vicky; Yudi, Ahmad; Apriwelni, Siska; Sari, Nurwanda; Karunia, Meutia Nadia
Journal La Multiapp Vol. 7 No. 1 (2026): Journal La Multiapp
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamultiapp.v7i1.2959

Abstract

The increase number of vehicles every year has caused a declining road function and performance, which then causes a high volume of vehicles in Intersection I of Endro Suratmin street – Pulau Tegal street / Pulau Legundi street, Intersection II of Urip Sumoharjo street – Soekarno-Hatta street, and Intersection III of Urip Sumoharjo street – Arif Rahman Hakim street. The distance between intersection I to II is 460 m, and Intersection II to III is 700 m. The distance between these intersections become a factor that lead to unsatisfactory level of comfort for road users, which in turn causes problems. The problem occurs because of the absence of signal coordination between the three intersections which causes traffic jams during peak hours. Therefore, this research will provide alternative solutions to overcome these problems. This research uses data from field surveys including traffic volume, intersection geometry, and traffic signal data. VISSIM software is used to analyze queue lengths and delays in existing conditions and signal coordination planning. In addition, reference methods such as the calculation of the Indonesian Road Capacity Manual, the Webster Method, and the Transportation Research Board in Highway Capacity Manual are also used. As the result of the analysis, it was found that the performance of the three intersections had not been coordinated. In the existing condition, the service level value in each arm reached E service level, only a few arms at the three intersections have C service level with a delay time of 29.58 seconds/vehicle. Therefore, three planning solutions were conducted to coordinate signals between the three intersections using a plan with a new cycle time acquired from the Webster method. Plan I coordinates the signals of the three intersections by using the new cycle time of intersection I at each intersection, Plan II coordinates the signals of the three intersections by using a new cycle time of intersection II at each intersection, and Plan III coordinates the signals of the three intersections in each arms using the new cycle time. Out of the three plans, the first plan is obtained as the best solution for giving a significant reduction in delays with an average service level of B.
Bantuan Teknis Desain Konstruksi Beton Non-Struktural Berbasis Pemanfaatan Limbah Industri Batching Plant dan Asphalt Mixing Plant untuk Mendukung Infrastruktur Berkelanjutan Ribowo, Anggarani Budi; Maini, Miskar; Sihombing, Tera Melya Patrice; Yuliyanto, Andry; Zhafira, Elian; P, Kirtinanda; Novalina, Winny; Rahma, Siti; Marina, Bernaditha Catur; Sitepu, Arif Rahman Hakim; Apriwelni, Siska; Kiranaratri, Ayudia Hardiyani; Sari, Dian Perwita; Utami, Erdina Tyagita; Tambunan, Hermon Frederik
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.1233

Abstract

Industri konstruksi seperti batching plant dan Asphalt Mixing Plant (AMP) menghasilkan limbah berupa sisa beton mengeras, slurry pencucian mixer, agregat terkontaminasi semen, serta residu aspal halus yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendukung penerapan infrastruktur berkelanjutan melalui optimalisasi pemanfaatan limbah konstruksi sebagai bahan baku alternatif beton non-struktural. Program dilaksanakan melalui tahapan identifikasi jenis dan volume limbah (±1–2 ton per minggu), pengolahan awal (pengeringan, penghancuran, dan pengayakan), perancangan komposisi campuran (mix design), pencetakan produk, curing selama 28 hari, serta pengujian kuat tekan dan daya serap air. Hasil perancangan menghasilkan batako berdimensi 40 × 20 × 10 cm, paving block 20 × 10 × 6 cm, serta saluran beton pracetak dengan lebar 40–85 cm dan tinggi 45–60 cm. Secara teknis, agregat limbah batching plant efektif sebagai substitusi parsial agregat alami, sedangkan residu AMP berfungsi sebagai filler yang meningkatkan kepadatan dan menurunkan porositas beton. Produk yang dihasilkan memenuhi kriteria mutu beton non-struktural untuk aplikasi pagar, perkerasan pejalan kaki, dan saluran drainase kawasan industri skala kecil–menengah maupun saluran irigasi. Kegiatan ini berkontribusi pada pengurangan timbulan limbah, efisiensi biaya material, serta penguatan prinsip ekonomi sirkular dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan.