Claim Missing Document
Check
Articles

Pembelajaran Aksara Batak Toba melalui Huling-Huling Ansa sebagai Pembentukan Karakter Sagala, Erosima; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Pembelajaran Aksara Batak Toba Melalui Huling-huling Ansa Sebagai Pembentukan Karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran Aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter dan menjelaskan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pembelajaran aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter. Teori yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini ada dua yaitu teori pembelajaran konstrukstivisme yang dikemukakan oleh Sigit Mangun Wardoyo dan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil metode pembelajaran yang digunakan yaitu menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui pendekatan huling-huling ansa, dan melaksanakan tujuh komponen sebelum memulai kegiatan pembelajaran, yaitu: konstrukstivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan pemodelan nyata. Selain itu, enam langkah-langkah yang diterapkan yaitu: tahap pengenalan, tahap pengaitan, tahap penafsiran, tahap implementasi, tahap refleksi ,dan tahap evaluasi. Selanjutnya ditemukan nilai-nilai karakter yang terdapat pada pembelajaran, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar Kajian: Semiotika Simangungsong, Depi; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diberi judul ``Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar, Kajian Semiotika''. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagian-bagian Ruma Bolon, jenis-jenis Gorga, bentuk Gorga, fungsi dan makna Gorga pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika.(Charles Sanders Peire) menggemukakan Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku pada pengguna tanda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ada 12 bagian ruma bolon di Kecamatan Sigumpar. yaitu batu ojahan atau pondasi rumah, bahasi atau tiang rumah, rasang, balatuk atau tangga, jendela rumah, bara atau kolong rumah. sokkor, tartaring atau tempat masak, lantai rumah, dinding ruma bolon, pintu ruma bolon, dan atap ruma bolon, 2) terdapat 17 gorga beserta fungsi dan maknanya yaitu Gorga Siture -Ture, Gorga Boraspati, Gorga Adop- Adop atau Susu, Gorga Singa Singa, Gorga Ipon Ipon, Gorga Sompi, Gorga Mataniari atau Matahari, Gorga Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin, Gorga Simarogung-ogung atau Gong, Gorga Ulupaung, Gorga iran-iran, Gorga Silintong, Gorga Sitangan-tangan, Gorga Simeol Eol, Gorga Dalihan Na Tolu, Gorga Gaja Dompak, Gorga jorngom atau jenggar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Gorga merupakan ukiran atau ukiran tradisional yang biasa terdapat pada dinding luar rumah atau pada rumah adat atau disebut juga Gorga yang menjelaskan tentang bentuk, fungsi dan makna Gorga Ruma bolon. Hal ini menandakan mengandung unsur mistis. Terletak di Kecamatan Sigumpar.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Jenis dan Fungsi Oles pada Etnik Batak Pakpak : Kajian Kearifan Lokal Toruan, Khaterine A. Lumban; Sibarani, Robert; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis oles dan kearifan lokal yang terdapat pada setiap oles etnik Batak Pakpak. Teori yang digunakan adalah teori kearifan lokal oleh Robert Sibarani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan model interaktif. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat 7 jenis oles pada etnik Batak Pakpak, yakni Oles Perdabaitak, Oles Sorisori Sampur, Oles Pelangpelang, Oles Takaltakal, Oles Perbunga Mbacang, Oles Cumancuman, Oles Sidosdos. Fungsi yang terdapat dalam oles etnik Batak Pakpak antara lain ialah (1).Oles Perdabaitak berfungsi sebagai pemberian berkat dalam bentuk “upah puhun” pada upacara adat merbayo “pernikahan” dan sebagai ucapan terima kasih pada upacara adat males bulung sampula , (2) Oles Sorisori Sampur berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk “kaing siso siat” pada upacara merbayo “pernikahan” dan sebagai pemberian berkat pada upacara mengrumbang, (3) Oles Pelangpelang berfungsi sebagai pemberian dan ucapan terima kasih dalam bentuk upah turang “ saudara laki-laki perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, dan ucapan terima kasih dalam bentuk penelangken mbellen “saudara perempuan tertua dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (4). Oles Takaltakal berfungsi sebagai pemberian mas kawin dalam bentuk takal ujuken “pemberian kepada pihak perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, (5). Oles Perbunga Mbacang berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk upah mendedah “saudara perempuan dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (6). Oles Cumancuman berfungsi sebagai tanda perpisahan dalam bentuk upah anak manjae pada upacara merbayo “pernikahan”, (7). Oles Sidosdos pemberian berkat dalam bentuk upah empung pada upacara merbayo “pernikahan”. Nilai-nilai Kearifan lokal yang terdapat pada Oles etnik Batak Pakpak ialah kerja keras, kesehatan, amanah, dan rasa syukur.
Gaya Bahasa Pada Umpasa Marhata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika Togatorop, Julhayati; Purba, Asriaty; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Gaya Bahasa Pada Umpasa Mahata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika. Umpasa adalah salah satu jenis yang berbentuk pantun atau syair yang mengandung makna seperti makna restu, harapan, doa ataupun nasehat yang dimiliki etnik Batak Toba dan dituturkan di upacara adat Batak Toba dan disampaikan oleh raja parhata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa atau majas pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba. Teori majas sesuai untuk penelitian ini adalah teori Stilistika oleh henry Guntur Tarigan 2013. Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif. Sumber data dalam adalah studi pustaka dan narasumber/raja parhata dalam upacara marhata sinamot. Dari penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: Pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba ialah: 1). Gaya bahasa pengulangan terdapat 4 jenis yaitu Asonansi, Mesodilopsis, Antanaklasis, anafora. 2). Gaya bahasa perbandingan terdapat 4 jenis yaitu: Perumpamaan, defersonifiksi, pleonasme, perifeasis. 3). Gaya bahasa pertentangan terdapat 4 jenis yaitu: oksimoron, ironi, inuendo, sarkasme. 4). Gaya bahasa pertautan terdapat 2 jenis yaitu: metonimia dan antonomasia. Makna dari umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba adalah berupa ungkapan pengharapan, nasehat, dan penderitaan pada setiap kalimat umpasa marhata sinamot upacara adat etnik Batak Toba.
Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: Kajian Psikologi Sastra Simanjutak, Sadrak; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik dan aspek psikologi tokoh yaitu: id, ego, dan superego, pada tokoh Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengguanakan teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, yakni: 1. Unsur intrinsik pada Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: tema, alur, latar/setting, perwatakan, sudut pandang, dan amanat. 2. Selain itu, penelitian juga menghasilkan struktur kepribadian id, ego, dan superego, yang terdapat pada tokoh Raja Sumba, Sorbadibanua, Raja Sobu, Naipospos, dan Siboru Pareme, dalam Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Dalam legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja ada tokoh Raja Sumba yang menunjukkan kepribadian id, ego, superego. Peran id yang mengepresikan keinginan dan kebutuhan yang mendalam, ego menunjukkan kemampuan untuk berpikir realistis dan dapat di terima secara sosial, dan superego bagian moral dan kepribadian yang mewakili nilai-nilai atau aturan sosial yang di tanamkan melalui pendidikan, lingkungan dan budaya. Superego bekerja sebagai suara hati yang menilai apakah tindakan itu benar.
Ndilo Wari Udan Pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial Gultom, Frendy Hendrico; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Ndilo Wari Udan pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja bentuk symbol, fungsi simbol dan makna simbol yang terdapat pada Ndilo Wari Udan etnik Batak Karo. Ndilo Wari Udan adalah salah satu istilah dalam budaya etnik Batak Karo yang berkaitan dengan tradisi atau kepercayaan masyarakat setempat. Secara harfiah, istilah ini terdiri dari kata "Ndilo" yang berarti "mengundang" atau "memanggil", "Wari" yang artinya "hari", dan "Udan" yang berarti "hujan". Jika digabungkan, Ndilo Wari Udan dapat diartikan sebagai memanggil hujan pada hari tertentu, kegiatan ini dilaksanakan ketika musim kemarau panjang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori semiotika sosial yang dikemukakan oleh Haliday. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan sebanyak 20 bentuk simbol, simbol peralatan sebanyak 8 bentuk dan simbol makanan ada sebanyak 12 bentuk simbol.
Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal Gultom, Pelix Gabriel; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal”. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada panaek bungkulan, dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan. Dalam penulisan artikel ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan panaek bungkulan yang dimulai dari musyawarah kaum kerabat, megundang pihak dalihan natolu(pihak mora,kahanggi an boru),peletakan batu pertama,mengoleskan santan ke bubungan kayu, membungkus bubungan kayu dengan ulos abit godang, menaikkan bubungan kayu, menaikkan pisang, menaikkan tebu, menaikkan kelapa, menaikkan kundur, menanam pohon pisang, dan makan bersama. Dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan yaitu kesopansantunan, kesetiakawanan sosial, komitmen, rasa syukur, kerja keras, disiplin, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun Sihotang, Kristina; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul " Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun’’. Penelitian ini tertuju pada kerabatan dalaman bentuk sistem kekerabatan dan sapaan, fungsi sistem kekerabatan, dan sapaan, dan makna sistem kekerabatan dan sapaan pada etnik Batak Simalungun. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori sosiolinguistik dari Abdul Chaer dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sistem kekerabtan pada etnik Batak Simalungun terjadi karena tiga jalur, yakni : (1) tuturan manorus ‘langsung’ (2) tuturan holmouan ‘kelompok’ (3) tuturan natipak ‘kehormatan’. Bentuk sapaan pada etnik Batak simalungun ada 6, yaitu (1) bentuk sapaan dalam hubungan kekerabatan, (2) bentuk sapaan kepada orang yang lebih tua di luar hubungan kerabat, (3) bentuk sapaan sebaya di luar hubungan kerabat, (4) bentuk sapaan kepada orang yang lebih muda, (5) bentuk sapaan kata ganti, dan (6) bentuk sapaan nama marga. Fungsi sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun, yakni: (1) menentukan peran sosial dan status, (2) regulasi pernikahan dan keluarga, (3) warisan dan keturunan, (4) hubungan sosial, dan (5) identitas budaya. Fungsi sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1) memberi perhatian lawan bicara, (2) mempersantun bahasa (3) mempertegas lawan bicara (4) menambah keakraban, dan (5) mempertegas identitas. Makna dari sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun adalah sebagai landasan utama yang mengatur hubungan sosial, identitas, dan peran individu dalam masyarakat. Makna sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1)penegasan hierarki sosial, (2) penghormatan kekerabatan, (3) penerapan etika dan adat, (4) penyesuaian dengan konteks sosial, dan (5) makna budaya dan simbolis.
Leksikon -Leksikon dalam Permainan Tradisional Simalungun : Kajian Ekolinguistik Purba, Asriaty R; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan leksikon-leksikon yang terdapat dalam permainan tradisional masyarakat Simalungun. Melalui pendekatan ekolinguistik, penelitian ini menganalisis hubungan antara bahasa dan lingkungan sosial budaya masyarakat Simalungun yang tercermin dalam permainan tradisional. Peneltian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak bebas libat cakap dengan teknik lanjutan adalah teknik catat merujuk pada metode yang dikemukakan oleh Sudaryanto ( 1993). Adapun teori yang digunakan adalah teori Chaer yang mengatakan bahwa dalam leksikon terdapat beberapa kelas kata kerja yaitu kata benda,kata sifat dan kata bilangan. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon dalam permainan tradisional Simalungun tidak hanya sebatas kata, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya, pengetahuan lokal, dan kearifan lokal masyarakat Simalungun. Hasil penelitian ini ditemukan 29 leksikon dalam 9 permainan tradisional masyarakat Simalungun.
Co-Authors Anis Luul Khoir Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Erikson Saragih Fadlin Fadlin Flansius Tampubolon Gaol, Zacklyn Dwi Vanesa Imanuela Lumban Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel Harniko Pasaribu, Jefri Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hutagalung, Andreas Hutahaean, Enjel Hutauruk, Febri Ola Immanuel Pedro Hutagalung Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jonathan Halomoan Marpaung Lubis, Alpiani Lumbantobing, Yousev Daniel Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manullang, Doan Yohannes Manurung, Yohana Afriani Munthe, Alex Mujur Immanuel Nainggolan, Amoy Karamoii Pandiangan, Johannes Pangaribuan, Chrystopel Rafael H. Pangaribuan, Dion Nardi Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Patar Kristian Sihombing Purba, Yunita Dearmawati Ramlan Damanik Rey Dewinata Simanjuntak Risdo Saragih Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani RR. Ella Evrita Hestiandari Sagala, Erosima Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sembiring, Sugihana Sianipar, Trynanda Sigiro, Dony Sarasi Sihotang, Alexander Sihotang, Kristina Silalahi, Norman K. Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Marta Enjelina Sinulingga, Sinulingga Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Nomi Supitri Sitohang, Nerlika Sitompul, Yulia Saftania Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Rahel Theresia Rodame Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Tifany Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga