Claim Missing Document
Check
Articles

Hybrid Code Mixing Dalam Lirik Lagu “Please Sahali Nai” Saragih, Cristien Oktaviani; Purba, Asriaty r; Saragih, Risdo; Pandiangan, Johannes; Simarmata, Tioara Monika
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v13i2.8527

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena hybrid kode-mix dalam lirik lagu Batak Toba”Please Sahali Nai” dengan menggunakan teori sosiolingusitik. Hybrid kode mixing adalah penggabungan unsur-unsur bahasa yang berbeda dalam satu wacana, yang sering mencerminkan perubahan sosial, budaya, dan identitas penutur. Lirik lagu yang digunakan terdapat Bahasa Toba dan Bahasa Inggris. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan dengan menganalisis isi untuk mengidentifikasi dan mengetahui jenis campur kode. Faktor yang melatarbelakanginya serta makna yang terdapat dalam lirik lagu “Please Sahali Nai pe Ito”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kode-mix dalam lagu ini berfungsi untuk memperkuat ekspresi emosional, menjembatani nilai-nilai tradisional dengan pengaruh modern, serta menarik perhatian audiens yang lebih luas, terutama generasi muda. Temuan ini memperlihatkan bahwa campur kode dalam lirik lagu tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai alat untuk menjembatani nilai tradisional dan pengaruh global, memperkuat identitas budaya, serta mencerminkan sikap bilingualisme dan multikulturalisme masyarakat Batak.
Makna Tradisi Mbesur-Mbesuri (Tujuh Bulanan) Pada Masyarakat Batak Karo Saragih, Dinda Apriani; Hutauruk, Febri Ola; Sitompul, Yulia Saftania; Sari, Indah; Purba, Asriaty
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28516

Abstract

Tradisi mbesur-mbesuri atau dikenal dengan "tujuh bulanan" merupakan ritual kehamilan yang masih dilestarikan dalam budaya Batak Karo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam tradisi mbesur-mbesuri sebagai upacara tujuh bulanan serta memahami nilai budaya yang diturunkan melalui ritual ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data pada sumber data sekunder dari studi pustaka serta dokumen terhadap literatur budaya Batak Karo. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Cingkes Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat. Ritual ini mengandung nilai perlindungan spiritual bagi ibu dan bayi dalam kandungan, permohonan keselamatan selama proses persalinan, dan pengharapan kelahiran yang lancar. Secara filosofis, angka tujuh dalam tradisi ini melambangkan kesempurnaan dan keberkahan dalam keyakinan masyarakat Batak Karo. Mbesur-mbesuri berfungsi sebagai media penguatan ikatan kekerabatan, di mana seluruh anggota keluarga besar berkumpul untuk memberikan dukungan moral dan spiritual kepada ibu hamil.
Sinkretisme Agama dalam Komunitas Batak Toba: Studi Kualitatif terhadap Praktik Keagamaan Purba, Asriaty R.; Lumbantobing, Yousev Daniel; Silalahi, Norman K.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.29480

Abstract

Masyarakat Batak Toba merupakan salah satu kelompok etnis di Indonesia yang memiliki sistem nilai dan budaya yang kuat, termasuk dalam praktik keagamaan. Seiring masuknya agama-agama besar seperti Kristen dan Islam, terjadi proses sinkretisme, yaitu percampuran antara kepercayaan tradisional dengan ajaran agama formal. Studi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam praktik sinkretisme dalam komunitas Batak Toba melalui pendekatan kualitatif fenomenologis yang berfokus pada pengalaman dan persepsi masyarakat terhadap integrasi antara adat dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sinkretisme tidak hanya terlihat dalam simbol atau ritus, tetapi juga menyatu dalam kehidupan sosial masyarakat. Adat Batak seperti Dalihan Na Tolu, penghormatan kepada leluhur, dan pelaksanaan ritus adat masih dijalankan bersamaan dengan praktik keagamaan Kristen. Sinkretisme menjadi strategi kultural yang memungkinkan masyarakat mempertahankan identitas lokal di tengah perubahan sosial dan keberagaman keyakinan. Temuan ini menunjukkan bahwa sinkretisme bukanlah bentuk penyimpangan agama, melainkan ekspresi keberagamaan yang cair, adaptif, dan berakar pada kearifan lokal.
The Simalungun Script in the Development of Cultural Heritage and Local Wisdom Learning Plans Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Herlina; Purba, Asriaty r; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): Mei 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i3.745

Abstract

The Simalungun script is one of the intangible cultural heritages of the Simalungun Batak community, possessing significant historical, linguistic, and symbolic value. However, modern developments and the dominance of the Latin alphabet have led to a significant decline in its usage. This article aims to examine the role of the Simalungun script in cultural heritage development through a community-based preservation and revitalization approach. Utilizing Laurajane Smith’s (2006) theory of heritage preservation and an ecolinguistic perspective, this study analyzes strategies for strengthening the Simalungun script through education, digitalization, and integration into creative media. The research employs a descriptive method with a qualitative approach. The findings reveal that the Simalungun script can serve as a contextual and educational tool for cultural transformation and identity formation among younger generations. School involvement programs, the development of local curriculum, and the implementation of technology-based initiatives using the script have proven effective in raising awareness and enhancing cultural literacy skills. The study also identifies that the Simalungun script consists of 19 ina ni surat (main letters): a, ha/ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, i, and u. These characters are typically curved and angular, and are written from left to right on media such as tree bark, bamboo, or bone. Additionally, eight anak ni surat (derived letters) are recognized: haluan, haboritan, hatalingan, sihorlu, hamisaran, hatulungan, hajoringan, and panongon. Therefore, preserving the Simalungun script is not merely an act of conservation, but a dynamic strategy for the development of cultural heritage that is adaptive to the times.
Sulang-Sulang Pomparan Ethnic Batak Toba Study: Oral Tradition Nainggolan, Amoy Karamoii; Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Sinulingga; Purba, Asriaty
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 9, No 3 (2025): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v9i3.9035

Abstract

Sulang-sulang pomparan (tradition of feeding parents) is a family tradition carried out as a form of respect for both parents, usually when one of the parents is sick or critical. This study aims to describe the stages, performance (text, co-text and context) and values of oral tradition contained in the Sulang-sulang pomparan Ethnic Batak Toba. The theory used in this study is the theory of local wisdom proposed by Robert Sibarani (2014). The method used in the study is a qualitative method that is descriptive. The stages in the Sulang-sulang pomparan Ethnic Batak Toba are divided into two stages, namely the stages before which include: 1) The Sirarion Fellow (Discussion) between siblings and the stages of implementing the tradition which include: 1) Worship Event,2) Mampasahat Tudu-tudu Sipanganon Sian Sude Pomparan Event, 3) Manulangi Sian Sude Pomparan Event, 4) Mampasahat Dengke, Ulos, Dohot Manulangi Sian Hula-hula/Paraman Event. Performance in this tradition is divided into three parts, namely: 1) Text analysis, 2) Co-text analysis, and 3) Context analysis. The values in this tradition include: 1) Religious values / gratitude, 2) Cooperation values, 3) Art values, 4) Politeness values, 5) Social solidarity, 6) Gender management, 7) Harmony and conflict resolution attitudes, 8) Environmental care.
Pergeseran Bahasa pada Anak-Anak dari Keluarga Suku Batak Toba di Kota Medan Jonathan Halomoan Marpaung; Rey Dewinata Simanjuntak; Asriaty R Purba; Risdo Saragih
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol 15 No 1 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i1.3208

Abstract

Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara memiliki masyarakat multietnis, termasuk Batak, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, dan Jawa. Keberagaman ini berdampak pada pergeseran penggunaan bahasa daerah, khususnya bahasa Batak Toba, terutama di kalangan anak-anak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa Batak Toba, faktor penyebabnya, serta upaya pelestariannya di kalangan anak-anak Kota Medan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, simak, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam penggunaan bahasa Batak Toba, yang tercermin dalam percakapan sehari-hari anak-anak. Faktor penyebab utama meliputi peralihan bahasa, sikap terhadap bahasa, pengaruh pendidikan, interaksi dengan teman sebaya, pemilihan bahasa dalam keluarga, dan mobilitas penduduk. Upaya pelestarian mencakup penanaman rasa bangga terhadap bahasa Batak Toba, integrasi dalam pendidikan, dan penggunaan aktif dalam lingkungan keluarga. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian bahasa Batak Toba sebagai bagian dari warisan budaya yang berisiko mengalami kepunahan jika tidak dilestarikan secara konsisten. Temuan ini diharapkan menjadi kontribusi dalam strategi pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa mayoritas.
Contextualization of the Sayur Matua Tradition in Regional Language Learning: A Semiotic Analysis of Simalungun Cultural Values Manik, Fransiska; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.; Sinaga, Warisman; Herlina
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 4 (2025): Juli 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i4.762

Abstract

This study aims to examine the Sayur Matua funeral ceremony in the Batak Simalungun community as a medium for learning cultural values through Charles Sanders Peirce's semiotic approach. The Sayur Matua ceremony is the highest form of respect given to individuals who die in a perfect state, namely after marrying off all their children and having grandchildren. This tradition is full of cultural symbols that function as a reflection of social, spiritual, and moral values. This study employs a descriptive qualitative approach, incorporating observation, interview, and documentation techniques within the community of Gajapokki Village, Simalungun Regency. The analysis was carried out using Peirce's semiotic theory, which distinguishes signs into icons, indices, and symbols. The results of the study identified 14 ritual stages involving 22 cultural symbols, 18 symbolic functions, and 18 symbolic meanings that reflect the value structure in Simalungun society. This article suggests the integration of Sayur Matua in a local wisdom-based learning curriculum to strengthen students' character education, especially in the aspects of responsibility, solidarity, and respect for ancestors. Thus, Sayur Matua not only functions as a sacred tradition but also as a contextual learning resource in shaping the identity and cultural awareness of the younger generation.
Horja Pabuat Boru dan Haroan Boru Etnik Batak Angkola Kajian: Kearifan Lokal Immanuel Pedro Hutagalung; Herlina Herlina; Asriaty R. Purba; Jekmen Sinulingga; Warisman Sinaga
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i3.3268

Abstract

Indonesia memiliki keistimewaan dalam keragaman etnis, agama, dan budayayang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sumatra Utara merupakan salah satu provinsi dengan populasi 14.936.148 jiwa (BPS, 2021) yang kaya akan keanekaragaman etnis, termasuk Batak, Melayu, Pesisir, dan Nias. Dalam konteks ini, etnik Batak Angkola–Mandailing menjadi menarik untuk dikaji, khususnya tradisi horja sebagai bentuk perayaan adat yang sarat nilai kearifan lokal. Tradisi horja memiliki dua bentuk utama, yaitu horja siriaon (pesta sukacita) dan horja siluluton (pesta dukacita), yang masing-masing dilaksanakan dengan aturan adat yang ketat. Fokus penelitian ini adalah pada horja pabuat boru dan horja haroan boru yang dilaksanakan dalam perkawinan etnik Batak Angkola–Mandailing. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi tahapan-tahapan pelaksanaan horja pabuat boru dan haroan boru, serta (2) mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, serta studi dokumentasi di Kelurahan Sorik, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan. Analisis dilakukan dengan teori kearifan lokal Robert Sibarani yang menekankan dimensi kesejahteraan dan kedamaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan horja tidak hanya berfungsi sebagai ritus sosial, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, kesopansantunan, kesetiakawanan, disiplin, serta rasa syukur. Dengan demikian, tradisi horja berperan penting dalam memperkuat identitas budaya, menjaga harmoni sosial, serta melestarikan kearifan lokal masyarakat Batak Angkola–Mandailing.
Tobus Huning dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun : Kajian Kearifan Lokal Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang “Tobus Huning Dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun: Kajian Kearifan Lokal.” Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada tobus huning dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada tobus huning. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil dari penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan tobus huning yang dimulai dari manririt, martondur, mangangkat poldung, mambere tanda hata, marlasa-lasa, pajabu parsahapan, manurduk demban ruttas talun, manurduk demban bona niandar, manurduk demban ruttas dinding, manurduk demban dob das, manurduk demban sisei, manurduk demban buha sahap, manurduk demban panungkunan, manurduk demban hombar-hombar, manungkun hubani sipartunangan, manghorjahon parriahan, manurduk demban parhombaran, pattapei parsahapan, manurduk demban dob tappei parsahapan, manurduk demban pamuhuman, mangondoshon partadingan, manguge partadingan, manjujung partadingan, mambere boras tenger, manimpan partadingan, manurduk demban bangal, tobus huning, dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada tradisi tobus huning yaitu kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, disiplin, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Ulos Simangkat-Angkat Silahisabungan : Kajian Semiotika Manik, Priska Ulina Setriani; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulos Simangkat-angkat merupakan salah satu ulos Silahisabungan. Ulos yang berasal dari Silahisabungan ini memiliki motif yang tergabung dari motif ulos yang dimiliki oleh etnik Batak Toba. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk motif, fungsi motif, dan makna yang terdapat pada Ulos Simangkat-angkat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk yang terdapat pada Ulos Simangkat-angkat persegi panjang dengan ukuran panjang 250 sentimeter dan lebar 80 sentimeter dengan warna dasar biasanya adalah hitam. Warna hitam ini sering dihiasi dengan motif-motif berwarna merah dan putih, serta kadang-kadang menggunakan benang emas atau perak untuk menambah keindahan dan nilai simbolisnya. Fungsi yang terdapat pada Ulos Simangkat-angkat, yaitu: (1) fungsi sebagai simbol status sosial, seperti menandakan status, kedudukan dan kekuasaan seseorang dalam adat Batak.(2) fungsi digunakan sebagai pemberian dalam upacara adat untuk menandakan rasa hormat, penghargaan dan kedekatan antara keluarga. (3) fungsi perlindungan dan kesejahteraan yang berfungsi sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan dalam adat Batak. (4) Fungsi yang digunakan untuk penghormatan kepada tetua (5) fungsi sebagai penguatan identitas budaya. Makna yang terdapat pada Ulos Simangkat-angkat, yaitu: (1) berdasarkan warna yang melambangkan kekuatan, keteguhan, dan ketegasan. Dalam konteks adat Batak, warna ini bisa melambangkan kesakralan dan penghormatan terhadap leluhur. (2) berdasarkan motif, memiliki motif yang terdiri dari garis-garis putus putus berbentuk vertikal yang memiliki makna berhubungan dengan identitas klan (marga) dan status sosial dalam masyarakat Batak dan digunakan untuk menunjukkan hubungan keluarga dan sejarah.
Co-Authors Anis Luul Khoir Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Basri Natan Sitanggang Dani Maichel Gultom Dewes Agustina Naibaho Dian Berkati Rebeka Purba Fadlin Fadlin Flansius Tampubolon Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel Harniko Pasaribu, Jefri herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hod Burju Pakpahan Hutagalung, Andreas Hutahaean, Enjel Hutauruk, Febri Ola Immanuel Bintang Cristopher Batubara Immanuel Pedro Hutagalung Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jonathan Halomoan Marpaung Lubis, Alpiani Lumbantobing, Yousev Daniel Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manullang, Doan Yohannes Munthe, Alex Mujur Immanuel Murni Simarmata Nainggolan, Amoy Karamoii Pandiangan, Johannes Pangaribuan, Chrystopel Rafael H. Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Patar Kristian Sihombing Purba, Yunita Dearmawati Ramlan Damanik Rey Dewinata Simanjuntak Risdo Saragih Risky Pratama Siregar Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani RR. Ella Evrita Hestiandari Sagala, Erosima Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sembiring, Sugihana Sianipar, Trynanda Sigiro, Dony Sarasi Sihotang, Alexander Sihotang, Kristina Silalahi, Norman K. Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Marta Enjelina Sinulingga, Sinulingga Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Nomi Supitri Sitohang, Nerlika Sitompul, Yulia Saftania Situmorang, Putri Adelina Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga Yustina Jindi Lusmiran Simamora