Claim Missing Document
Check
Articles

Bentuk Lokusi Pada Film Nariti Romansa Danau Toba Karya Deden Bagaskara Sirait, Yuyun Efraim; Purba, Asriaty R; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Lokusi Dan Fungsi Pada Film Nariti Romansa Danau Toba Karya Deden Bagaskara”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur lokusi dan mendeskripsikan fungsi tindak tutur pada film Nariti Romansa Danau Toba karya Deden Bagaskara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik yang dikemukakan oleh Searle. Dalam film Nariti Romansa Danau Toba karya Deden Bagaskara, film yang berkisah tentang seorang gadis yang bernama Nariti dan berasal dari pesisir Danau Toba. Pada awalnya ada dua pria yang bersaing mendapatkan hati Nariti, namun Nariti lebih menjatuhkan hatinya kepada pemuda yang bernama Jefry. Namun, hubungan mereka tidak direstui oleh salah satu orangtua dari kedua belah pihak, karena pihak orangtua gadis tidak suka dengan latar belakang orangtua dari pihak pemuda dan tidak hanya itu, Jefry dan Nariti masih memiliki hubungan sedarah atau mereka masih saudara kandung. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, terdapat bentuk tindak tutur lokusi sebanyak dua puluh empat (24) teks.
Ragam Bahasa Dan Identitas Pada Masyarakat Tutur Di Etnik Batak Toba : Analisis Sosiolinguistik Purba, Asriaty; Saragih, Risdo; Saragih, Dinda Apriani; Sitompul, Yulia Saftania; Hutagalung, Andreas
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.6422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam hubungan antara ragam bahasa dan kaitannya dengan pembentukan identitas pada masyarakat tutur di etnik Batak Toba. Melalui pendekatan sosiolinguistik, ragam bahasa sebagai manifestasi dari identitas sosial tetapi juga cerminan nilai-nilai, norma, dan sejarah suatu komunitas. Analisis ini akan mengkaji variasi bahasa yang digunakan dalam berbagai konteks sosial, mulai dari interaksi sehari-hari dalam keluarga hingga dalam ranah publik seperti komunitas adat atau pertemuan formal. Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi faktor-faktor sosial budaya dan histori yang secara signifikan mempengaruhi penggunaan ragam bahasa tertentu, seperti status sosial, usia, pendidikan, dan kontak bahasa. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika bahasa dan identitas pada masyarakat Batak Toba. Dengan memahami ragam bahasa yang digunakan, kita dapat lebih menghargai kekayaan budaya dan keragaman bahasa di Indonesia. Hasil penelitian ini tidak hanya relevan bagi kajian sosiolinguistik, tetapi juga memiliki implikasi yang luas bagi pemahaman tentang keberagaman budaya dan pentingnya pelestarian bahasa daerah ditengah arus globalisasi.
Pergeseran Bahasa pada Anak-Anak dari Keluarga Suku Batak Toba di Kota Medan Jonathan Halomoan Marpaung; Rey Dewinata Simanjuntak; Asriaty R Purba; Risdo Saragih
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 1 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i1.3208

Abstract

Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara memiliki masyarakat multietnis, termasuk Batak, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, dan Jawa. Keberagaman ini berdampak pada pergeseran penggunaan bahasa daerah, khususnya bahasa Batak Toba, terutama di kalangan anak-anak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa Batak Toba, faktor penyebabnya, serta upaya pelestariannya di kalangan anak-anak Kota Medan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, simak, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam penggunaan bahasa Batak Toba, yang tercermin dalam percakapan sehari-hari anak-anak. Faktor penyebab utama meliputi peralihan bahasa, sikap terhadap bahasa, pengaruh pendidikan, interaksi dengan teman sebaya, pemilihan bahasa dalam keluarga, dan mobilitas penduduk. Upaya pelestarian mencakup penanaman rasa bangga terhadap bahasa Batak Toba, integrasi dalam pendidikan, dan penggunaan aktif dalam lingkungan keluarga. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian bahasa Batak Toba sebagai bagian dari warisan budaya yang berisiko mengalami kepunahan jika tidak dilestarikan secara konsisten. Temuan ini diharapkan menjadi kontribusi dalam strategi pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa mayoritas.
ANALISIS FILOLOGIS DAN KONTEKS HISTORIS NASKAH PAGAR PANGULU BALANG (NO. INV. 07.143) KOLEKSI MUSEUM NEGERI SUMATERA UTARA Patar Kristian Sihombing; Herlina Herlina; Asriaty R Purba
Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/aksara.v9i2.1288

Abstract

This study aims to analyze the Pagar Pangulu Balang manuscript (Inventory No. 07.143), one of the significant collections at the North Sumatra State Museum, through philological and historical contextual approaches. The manuscript contains teachings, advice, and customary leadership structures that reflect the socio-political system of the Batak community in the past. The research employs a descriptive-qualitative method based on philological analysis, including inventory, physical description, transliteration, textual normalization, and the preparation of a critical standard edition. Additionally, the study explores the historical context of the manuscript’s origin and its function within traditional social structures. The results show that Pagar Pangulu Balang is not merely a historical document but also conveys social values, customary law, and local leadership ethics. Linguistically, the manuscript employs a variant of the Batak language with distinct lexical characteristics, rich in metaphors and traditional symbols. Historically, the manuscript functioned as a guide for village governance and the relationship between the pangulu balang (customary leaders) and the community. These findings highlight the importance of preserving local manuscripts as sources of cultural knowledge and collective identity in traditional societies of North Sumatra. This study is expected to serve as a foundation for further research in philology, cultural anthropology, and the preservation of Indonesian manuscript heritage
Representasi Ekologis dalam Tradisi Tawar Penggel (Pengobatan Patah Tulang) Etnik Batak Karo: Suatu Kajian Ekolinguistik Tarigan, Sarah Nathasia; Herlina, Herlina; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 2 (2025): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i2.479

Abstract

This study examines the practice of Tawar Penggel as a traditional healing system of the Batak Karo community in North Sumatra, in the form of a herbal oil remedy (minak) made from 28 local plant species used to treat bone fractures and musculoskeletal disorders. The research employs a descriptive qualitative method through participatory observation, in-depth interviews, and field documentation conducted in Suka Julu Village, Karo Regency. The findings indicate that the practice of Tawar Penggel is still actively preserved by the Batak Karo community in Suka Julu Village, Berastagi District, Karo Regency. The practice involves 28 local plant species as the main ingredients in the preparation of minak, including leaves, roots, stems, tubers, sap, and spices. All materials are sourced from the surrounding environment, both from wild-growing plants and those cultivated in a simple manner by the community. This study contributes to the documentation of local wisdom and the development of ecolinguistic studies grounded in tradition and environmental context.
Peningkatan Literasi Budaya Melalui Pembelajaran Dan Praktik Aksara Batak Toba Dan Angkola Bagi Siswa Sekolah Menengah Ramlan Damanik; Warisman Sinaga; Asriaty R Purba; Rozanna Mulyani; Torang Naiborhu
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 2 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i2.921

Abstract

Literasi budaya merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pendidikan untuk memperkuat identitas budaya generasi muda di tengah arus globalisasi. Salah satu bentuk literasi budaya yang perlu dilestarikan adalah kemampuan mengenal dan menggunakan aksara daerah sebagai warisan budaya bangsa. Aksara Batak Toba dan Angkola merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Batak yang memiliki nilai historis, linguistik, dan filosofis yang tinggi. Namun, perkembangan teknologi dan dominasi penggunaan aksara Latin menyebabkan pengetahuan siswa terhadap aksara Batak semakin menurun. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan literasi budaya siswa sekolah menengah melalui pembelajaran dan praktik aksara Batak Toba dan Angkola. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, praktik langsung, dan evaluasi hasil belajar. Kegiatan dilaksanakan pada siswa sekolah menengah dengan melibatkan dosen dan mahasiswa sebagai fasilitator. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap sejarah, fungsi, dan bentuk aksara Batak serta meningkatnya keterampilan membaca dan menulis aksara Batak Toba dan Angkola. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi pelatihan. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat identitas budaya generasi muda. Dengan demikian, pembelajaran berbasis praktik dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan literasi budaya siswa melalui pengenalan aksara daerah
BULANG (WOMEN’S HEAD COVERING) SIMALUNGUN BATAK ETHNIC ramlan damanik; warisman sinaga; asriaty r purba; jekmen sinulingga; herlina
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i1.7568

Abstract

This article was written to reveal the meaning of the head covering for women or bulang for the Simalungun Batak community. The use of bulang or head coverings for women and what the meaning and function are for millennials, especially those who live in urban areas, has very little understanding. Therefore, the author created this article for describing the types of bulang and what the function and meaning of bulang are for the Simalungun Batak ethnic community. This research uses a qualitative approach and descriptive method and uses semiotic theory by Charles Sanders Pierce and data collection is carried out by observation, interviews and literature study. Data analysis was carried out using data reduction, translation and conclusions and suggestions. There are 4 types of bulang, namely Bulang Sulappei, Bulang Teget, Bulang Suyuk /Gijang and Bulang Hurbu Salalu. Bulang is for head cover and for giving identity. The meaning of wearing this bulang is as a symbol of maturity for Simalungun women.
Representasi Ilokusi dalam Tradisi Mangupa pada Horja Godang Etnis Batak Angkola: Telaah Pragmatik Dewes Agustina Naibaho; Warisman Sinaga; Jekmen Sinulingga; Flansius Tampubolon; Asriaty r Purba
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to reveal the representation of illocutionary speech acts in the Mangupa tradition during the Horja Godang ceremony of the Batak Angkola community. Mangupa is a verbal expression of blessings and hopes delivered by traditional leaders within the sacred context of customary rituals. This research employs a descriptive qualitative approach, utilizing observation, interviews, and documentation methods. Data analysis is based on Searle's theory of illocutionary acts, which includes five categories: representative, directive, expressive, commissive, and declarative. The findings show that the utterances in Mangupa contain various types of illocutionary acts functioning to guide, bless, and affirm social status within the community. These utterances not only carry linguistic meaning but also hold social and cultural power that reinforces the value system of the Batak Angkola people. Furthermore, the structure of Mangupa utterances is highly influenced by customary norms and the Dalihan Na Tolu principle. This study confirms that the Mangupa tradition is a complex form of indigenous communication practice that embodies noble values. It contributes to the development of culturally-based pragmatic studies and supports the preservation of Indonesia’s oral cultural heritage.
Penggunaan Bahasa dalam Forum Adat Martahi Godang Masyarakat Batak Angkola: Kajian Sosiolinguistik Risky Pratama siregar; Immanuel Bintang Cristopher Batubara; Asriaty r Purba; Dani Maichel Gultom; Hod Burju Pakpahan
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v15i1.10905

Abstract

This study examines the linguistic practices in the Martahi Godang traditional forum of the Batak Angkola community using a qualitative-descriptive method through observation, interviews, and documentation. The research addresses four main questions: the position of Martahi Godang as a cultural domain, patterns of code-switching, the relationship between kinship structure and language use, and the strategies of politeness and traditional metaphors. The study employs Fishman’s theory of language domains and language maintenance, along with sociolinguistic concepts of code-switching, politeness, and ritual language. The findings reveal that Martahi Godang functions as a discursive space that sustains the Angkola language through hierarchical, metaphor-rich, and symbolically grounded forms of speech. Code-switching between Angkola and Indonesian occurs for clarification and emphasis, while Angkola remains dominant in ritual segments and the delivery of moral messages. The kinship structure of mora–kahanggi–anak boru strongly shapes speaking rights, lexical choices, and politeness strategies. The consistent use of Angkola within the forum fulfills Fishman’s four indicators of language maintenance: stable domain, intergenerational transmission, symbolic prestige, and ritual function. Thus, Martahi Godang serves as a key institution in preserving the vitality of the Angkola language and cultural identity
Hybrid Code Mixing dalam Lirik Lagu "Anak Medan" Asriaty R Purba; Yustina Jindi Lusmiran Simamora; Basri Natan Sitanggang; Murni Simarmata; Dian Berkati Rebeka Purba
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v15i1.10960

Abstract

Penelitian ini menelusuri fenomena Campur Kode hybrid pada lirik lagu populer "Anak Medan" oleh Trio Lamtama, yang didefinisikan sebagai penggunaan kombinasi minimal tiga bahasa: Bahasa Indonesia (ID), Batak Toba (DA), dan Bahasa Inggris (EN). Penelitian kualitatif deskriptif ini, biasanya menggunakan kajian sosiolinguistik dengan data lirik yang dikumpulkan melalui metode observasi bebas terlibat cakap (SBLC), bertujuan mengidentifikasi tipe-tipe dan menganalisis peran sosiolinguistik Campur Kode hybrid dalam memperkuat identitas regional seperti dalam lirik lagu 'Anak Medan'. Hasilnya menunjukkan bahwa Campur Kode hybrid signifikan muncul, seperti penambahan istilah 'happy' atau 'main cantik' dalam struktur kalimat Batak/Indonesia/Inggris. Fenomena ini dipicu oleh faktor sosiolinguistik seperti faktor pembicara (menarik perhatian dan menunjukkan status), faktor bahasa (strategi kultural untuk jangkauan audiens lebih besar), dan faktor ekspresi perasaan (menyampaikan emosi, seperti kesetiaan persahabatan). Secara sosiokultural, Campur Kode hybrid berfungsi efektif untuk mempertahankan Bahasa Batak sebagai identitas tradisional, sekaligus menunjukkan modernitas dan keterbukaan melalui Bahasa Indonesia dan Inggris. Makna yang terwujud mencakup elemen emosional (persahabatan tulus) dan budaya, merefleksikan masyarakat Batak masa kini yang menerima unsur eksternal (pengaruh luar) tanpa mengabaikan identitas aslinya. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang model pengelompokan Campur Kode hybrid dan cara lirik lagu mencerminkan identitas yang beragam serta perubahan bahasa sosial yang terjadi di Medan.
Co-Authors Anis Luul Khoir Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Basri Natan Sitanggang Dani Maichel Gultom Dewes Agustina Naibaho Dian Berkati Rebeka Purba Fadlin Fadlin Flansius Tampubolon Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel Harniko Pasaribu, Jefri herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hod Burju Pakpahan Hutagalung, Andreas Hutahaean, Enjel Hutauruk, Febri Ola Immanuel Bintang Cristopher Batubara Immanuel Pedro Hutagalung Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jonathan Halomoan Marpaung Lubis, Alpiani Lumbantobing, Yousev Daniel Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manullang, Doan Yohannes Munthe, Alex Mujur Immanuel Murni Simarmata Nainggolan, Amoy Karamoii Pandiangan, Johannes Pangaribuan, Chrystopel Rafael H. Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Patar Kristian Sihombing Purba, Yunita Dearmawati Ramlan Damanik Rey Dewinata Simanjuntak Risdo Saragih Risky Pratama Siregar Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani RR. Ella Evrita Hestiandari Sagala, Erosima Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sembiring, Sugihana Sianipar, Trynanda Sigiro, Dony Sarasi Sihotang, Alexander Sihotang, Kristina Silalahi, Norman K. Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Marta Enjelina Sinulingga, Sinulingga Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Nomi Supitri Sitohang, Nerlika Sitompul, Yulia Saftania Situmorang, Putri Adelina Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga Yustina Jindi Lusmiran Simamora