Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

SOSIALISASI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA TERHADAP BAKTERI PENCERNAAN Marbun, Eva Diansari; Bemby, Arman; Harianja, Ester Saripati
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 1 No. 1 (2020): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah daun pepaya. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tengah, yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Kandungan senyawa kimia yang dimiliki daun pepaya sebagai sifat antiseptik, antiinflamasi, antifungal, antioksidan maupun antibakteri, sehingga daun pepaya dapat dijadikan obat tradisional terhadap bakteri pencernaan.Tujuan pengabdian kepada Masyarakat ini untuk memberikan sosialisasi tentang daun pepaya terhadap bakteri pencernaan. Kesimpulan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah sosialisasi daun pepaya telah terlaksana sesuai pelaksanaan dan rencana, mendapatkan sambutan yang baik. Setelah melaksanakan pelatihan ini, para peserta lebih memahami bahwa daun pepaya dapat digunakan sebagai bakteri pencernaan alami.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL TUMBUHAN SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococus aureus Marbun, Eva Diansari; Darwita Juniwati Barus; Rosina Sitohang
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 1 No. 1 (2019): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi masih merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia.Kemampuan yang dimiliki oleh tanaman sirih cina (Peperomia pellucida L. Kunth) dalam menghambat bakteri tersebut disebabkan karena tanaman ini mengandung senyawa-senyawa kimia yang berfungsi sebagai antibakteri. Tumbuhan sirih cina dapat menghambat pertumbuhan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus . Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Pengujian Aktivitas Antibakteri dilkukan dengan metode difusi agar dengan teknik pencadang kertas. Ekstrak Tumbuhan sirih cina diperoleh dengan cara maserasi. Konsentrasi larutan uji yang digunakan kontrol negatif (DMSO 10%), kontrol positif Kloramfenikol, dan bakteri uji Staphylococcus aureus. Hasil karakterisasi serbuk simplisia Tumbuhan sirih cina menunjukkan kadar air 28,38%, kadar sari larut dalam air 34,3%, kadar sari larut dalam etanol 11,22%, kadar abu total 13,16%, dan kadar abu tidak larut asam 5,52%. Hasil skrining menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid/triterpenoid. Hasil pengujian aktivitas antibakteri yang diperoleh pada bakteri Staphlococcus aureus yaitu 16,6 mm, 17,11 mm dan 17,61 mm , serta untuk kontrol positif diperoleh 18,54 mm. Ekstrak Tumbuhan sirih cina dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus , karna disekitar kertas cakram terdapat zona bening yang menandakan tidak adanya pertumbuhan bakteri.
Formulasi Sediaan Sabun Mandi Padat Dari Ekstrak Umbi Wortel (daucus carota l. ) Sebagai Pelembab Mainal Furqan; Rezza Fikrih Utama; Raissa Fitri; Grace Anastasia Br Ginting; Marbun, Eva Diansari; Santy Simamora
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 5 No. 2 (2023): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carrot plants contain phenolic compounds, as well as natural antioxidants, namely provitamin A and carotenoids. Beta-carotene in carrot (Daucus carota L.) tubers is useful for maintaining skin moisture, softening the skin so that the skin always looks radiant. Therefore, carrot tubers make it possible to be used as an active ingredient in soap making. The aim of the study was to determine whether carrot (Daucus carota L.) tubers could be formulated into a solid bath soap that functions as a skin moisturizing soap. The method used in this study was an experimental method, namely conducting an experiment to make solid bath soap formulations from carrot tubers with concentrations of 5%, 10% and 15%. The tests carried out in this study included organoleptic tests, pH tests, high foam tests, free alkali test, skin irritation tests on volunteers, moisture tests on volunteer skin, and hedonic tests on researchers. The results showed that carrot root extract can be formulated into a solid bath soap. Which has a pH in the range of 8-11 and has a fairly high foam and does not cause irritation to the skin of volunteers and can increase moisture on the skin of volunteers. The conclusion of this study is that carrot tubers can be formulated into solid bath soap preparations as a moisturizer.
STANDARISASI SIMPLISIA HERBA CIPLUKAN (Physalis angulata L.) Amanda Putri, Amelia; Sitinjak, Joan Mervin; Rizki Ndraha, Alva Hagaini; Herlinawati, Eria Nita; Ana, Mauli; Turrahmi, Alvia; Diansari Marbun, Eva; Thaib, Cut Masyithah
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 7 No. 1 (2025): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/tekesnos.v7i1.6205

Abstract

Physalis angulata L. atau yang biasa dikenal tanaman ciplukan yang dianggap memiliki banyak manfaat kesehatan. Semua bagian yang terdapat pada tanaman ciplukan mempunyai berbagai manfaat mulai dari akar, batang dan buah dan daunnya berkhasiat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan standardisasi simplisia herba ciplukan (Physalis angulata L.) sebagai upaya menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi bahan baku obat herbal. Metode proses standardisasi dilakukan dengan menyesuaikan parameter tertentu dan parameter tidak tertentu. Parameter spesifik mencakup pengujian organoleptik, makroskopik, mikroskopik, dan skrining fitokimia. Sementara itu, parameter nonspesifik memeriksa kadar air, susut pengeringan, abu total, abu tidak larut dalam asam, dan kadar sari yang larut dalam air dan etanol. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa herba ciplukan mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, tetapi tidak mengandung triterpenoid dan steroid. Uji organoleptik menggambarkan ciri khas simplisia berupa warna coklat kehijauan, aroma khas tanaman herbal, serta rasa getir dan pahit. Adapun hasil uji non spesifik menunjukkan kadar air sebesar 10,4%, susut pengeringan 7,84%, jumlah abu total 3,311%, dengan 2% abu tidak larut dalam asam, dan 2% sari larut air 7,576%, dan kadar sari larut etanol 23,6%. Herba ciplukan (Physalis angulata L.) memenuhi sebagian besar parameter mutu simplisia dan ekstrak kering sesuai standar FHI dan BPOM. Kandungan bioaktif seperti flavonoid dan tanin menunjukkan potensi antioksidan, meskipun belum diuji secara kuantitatif. Dengan demikian, herba ini layak dikembangkan sebagai bahan obat herbal, namun masih diperlukan uji praklinis dan klinis lanjutan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Latar belakang: Ciplukan (Physalis angulata L.) dikenal luas dalam pengobatan tradisional dan sering digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Herba tanaman ini mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang berperan dalam memberikan efek farmakologis. Penggunaan herba ciplukan secara turun-temurun menunjukkan potensi besar dalam pengembangan obat herbal. Namun, untuk dapat dimanfaatkan secara luas dalam industri obat tradisional dan herbal terstandar, diperlukan jaminan mutu, keamanan, dan konsistensi dari bahan baku yang digunakan. Salah satu langkah penting untuk menjamin mutu tersebut adalah melalui proses standarisasi simplisia, yaitu penetapan standar kualitas terhadap simplisia berdasarkan parameter fisik, kimia, dan organoleptik sesuai pedoman Farmakope Herbal Indonesia dan regulasi BPOM.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak kering herba ciplukan (Physalis angulata L.) berdasarkan parameter standardisasi yang sesuai dengan pedoman Farmakope Herbal Indonesia dan regulasi BPOM. Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan metode uji parameter spesifik dan nonspesifik dari simplisia dan ekstrak kering herba ciplukan (Physalis angulata L.) berdasarkan parameter standarisasi yang sesuai dengan pedoman Farmakope Herbal Indonesia dan regulasi BPOM. Hasil: Herba Physalis angulata L. (ciplukan) memenuhi standar mutu simplisia berdasarkan uji fitokimia, organoleptik, makroskopis, mikroskopis, dan parameter nonspesifik, serta menunjukkan potensi sebagai bahan baku obat herbal yang aman dan efektif. Kesimpulan: Herba ciplukan (Physalis angulata L.) memenuhi sebagian besar parameter mutu simplisia dan ekstrak kering sesuai standar Farmakope Herbal Indonesia dan BPOM. Kandungan bioaktif seperti flavonoid dan tanin menunjukkan potensi antioksidan, meskipun belum diuji secara kuantitatif. Dengan demikian, herba ini layak dikembangkan sebagai bahan obat herbal, namun masih diperlukan uji praklinis dan klinis lanjutan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
The Dangerous Of Using Food Preservatives To Human Health: A Review Tampubolon, Manuppak Irianto; Silitonga, Desni Rinanda; Ginting, Grace Anastasia br.; Berkat, Syukur; Sahputri, Cut Juliana; Ghifran, Muhammad Al; Marbun, Eva Diansari
NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal Vol. 3 No. 02 (2025): NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal
Publisher : CV. Nusantara Scientific Medical

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58549/nsmrj.v3i02.127

Abstract

The use of formalin as a food additive remains a recurring issue in processed food products in Indonesia, particularly in perishable items such as wet noodles and tofu. This review examines ten published studies that investigated formalin detection across different regions of Indonesia using a range of analytical approaches, including the Nash reagent, UV-Vis spectrophotometry, rapid test kits, KMnO₄, Tollens reagent, and natural indicators. The findings reveal considerable regional variation in contamination levels, with positive results most frequently reported in Palembang, Yogyakarta, Tomohon, and Pringsewu, while samples from West Jakarta and Sorong were predominantly negative. Among the methods reviewed, the Nash reagent and UV-Vis spectrophotometry demonstrated higher accuracy and sensitivity, whereas simpler techniques were more appropriate for preliminary screening and public education. Overall, this review highlights the need for strong coordination between regulatory oversight, public awareness initiatives, and the availability of reliable detection methods to improve food safety in Indonesia.
Standardization of Rhizome Simplicia from the Zingiberaceae Family in Terms of Methods and Quality: A Review Silalahi, Yosy Cinthya Eriwaty; Surbakti, Christica Ilsana; Suharyanisa, Suharyanisa; Suryani, Monica; Ulfata, Zikri; Panjaitan, Grace Emmas Sondang; Marbun, Eva Diansari
NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal Vol. 3 No. 02 (2025): NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal
Publisher : CV. Nusantara Scientific Medical

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58549/nsmrj.v3i02.128

Abstract

Simplicia rhizomes from the Zingiberaceae family are important raw materials in the traditional medicine industry, as they contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, and tannins. The quality of simplicia is strongly influenced by post-harvest processing methods, particularly drying. This study aims to systematically review the quality of Zingiberaceae rhizome simplicia based on ten national scientific journals published between 2015 and 2024. The method employed was a literature study using a qualitative descriptive approach, evaluating specific quality parameters (organoleptic characteristics, solubility, and phytochemical tests) and non-specific parameters (moisture content, ash content, and microbial contamination) according to the Indonesian Herbal Pharmacopoeia. The results indicate that oven drying at 50–60 °C for 24–48 hours produces the best-quality simplicia, characterized by moisture content below 10%, ash content within acceptable limits, and high flavonoid levels. Other drying methods, such as sun drying and natural air drying, showed more variable outcomes and in some cases exceeded standard limits, particularly in acid-insoluble ash levels and microbial contamination. Several simplicia samples obtained from traditional markets did not meet quality standards due to suboptimal washing and storage processes. This study concludes that simplicia quality standardization must comprehensively address technical stages from washing to drying. The use of extracts is more strongly recommended than raw simplicia to ensure consistency, stability, and safety of herbal products. Strict quality standards are essential to support the effectiveness of traditional medicines derived from Zingiberaceae.
Isolation and Analytical Characterization of Flavonoids from Indonesian Medicinal Plants: A Comprehensive Literature Review Chandra, Devina; Tampubolon, Manuppak Irianto; Safitri, Alfi; Sihombing, Johas; Sinaga, Dianty Secilia; Marbun, Eva Diansari
NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal Vol. 3 No. 02 (2025): NSMRJ: Nusantara Scientific Medical Research Journal
Publisher : CV. Nusantara Scientific Medical

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58549/nsmrj.v3i02.132

Abstract

Indonesia is recognized as one of the world’s megabiodiversity countries, possessing a vast range of medicinal plants that serve as rich sources of secondary metabolites, particularly flavonoids. These compounds are widely reported to exhibit significant pharmacological activities, including antioxidant, antidiabetic, and antibacterial effects, thereby encouraging continuous research on their isolation and identification. This study aims to systematically review the isolation and identification methods of flavonoid compounds derived from Indonesian medicinal plants, as well as to determine the most frequently reported flavonoid types and their pharmacological relevance. A literature review approach was applied by searching three scientific databases: Google Scholar, ScienceDirect, and ProQuest. Keywords used included “isolation and flavonoids” (Indonesian) and “isolation and flavonoid compounds” (English). Articles were selected based on inclusion criteria comprising publication period (2019–2024), journal accreditation, and full-text accessibility. From an initial pool of 13,400 records, only 10 articles met all eligibility criteria. The reviewed studies reported various isolation techniques, including maceration using ethanol or methanol, fractionation with ethyl acetate or water, and compound identification through Thin Layer Chromatography (TLC), UV–Vis spectrophotometry, and Nuclear Magnetic Resonance (NMR). The major flavonoids identified were quercetin, flavanone, and flavonol-3-O-galactose. Overall, Indonesian medicinal plants demonstrate strong potential as natural sources of flavonoids, with isolation and identification methods proving effective in detecting compounds with significant biological activity, particularly antioxidants.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Umbi Porang (Amorphophallus muelleri Blume) terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Sapitri, Alfi; Marbun, Eva Diansari; Lubis, Retnita Ernayani; Arisetya, Dian
Herbal Medicine Journal Vol 9 No 1 (2026): Herbal Medicine Journal
Publisher : Program Studi S1 Farmasi, STIKES Senior, Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58996/hmj.v9i1.208

Abstract

Porang tubers, scientifically known as Amorphophallus muelleri Blume, have shown that they possess compounds like alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Because of this, researchers are looking closely at porang tubers to see how they can fight bacterial growth. Among the bacteria being investigated are Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis, as scientists search for new treatments for skin infections. Aim of reserach to assess how effective the antibacterial properties are and to analyze how different levels of extract concentration affect the growth of Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. The method used for testing involved a paper disc diffusion technique with extract concentrations of 5, 15, 25, 35, and 45%, as well as Clindamycin and 10% DMSO. The findings revealed that the ethanol extract from porang tubers displayed antibacterial effects at concentrations ranging from 5% to 45%, resulting in inhibition zones of 9. 65 mm to 13. 56 mm against Propionibacterium acnes. Additionally, it showed inhibition zones of 9. 95 mm to 16. 07 mm against Staphylococcus epidermidis in the same concentration range. According to the One Way Anova test, the results showed a significant difference indicating that varying concentrations of the ethanol extract from porang tubers greatly influenced the growth of both Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. The ethanol extract of porang tubers begins to show antibacterial effects at a minimum concentration of 5% against both Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis, with observable differences in the average inhibition zones for each concentration tested.
Jurnal Review: Pengaruh Suatu Zat Terhadap Sistem Dalam Tubuh Dari Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Serta Manfaatnya Sebagai Antiinflamasi Sapitri, Alfi; Marbun, Eva Diansari; Suryani, Monica; Fikri, Naufal Noli; Anggraini, Rania Ultah; Ningtia, Ayu Cahya
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.986

Abstract

Pemanfaatan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap terapi berbasis bahan alam yang dinilai lebih aman dan mudah diakses. Ketiga kategori herbal tersebut memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang bermanfaat sebagai antiinflamasi, sehingga digunakan telaah sistematis untuk menilai aktivitas biologis dan manfaat kesehatannya berdasarkan penelitian terkini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh zat aktif alkaloid,flavonoid, curcuminoid,steroid,saponin,tanin dan senyawa metabolik lainnya dalam jamu,OHT,dan fitofarmaka terhadap sistem tubuh manusia maupun hewan yang diujikan secara klinik maupun praklinik yang berpotensi aktivitas antiinflamasi berdasarkan studi literatur lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah telaah sistematis yang meliputi penelusuran literatur, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, ekstraksi data, serta penyusunan hasil dalam bentuk tabel kualitatif. Penelitian yang dianalisis mencakup model uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis sesuai golongan produknya. Hasil telaah menunjukkan bahwa beberapa bahan jamu seperti rimpang temulawak, ashitiba dan sambiloto terutama diuji menggunakan model in vitro serta dengan penghambatan enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 hasilnya memperlihatkan aktivitas antiinflamasi. Pada kategori OHT seperti  daun telang, kombinasi rimpang kunyit dengan kurma,meniran,sambiloto dan kombinasi rimpang kencur dengan daun srikaya memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan kandungan zat aktif flavanoid dan senyawa fenolik lainnya melalui penelitian secara in vitro dan in vivo. Dan pada kategori fitofarmaka seperti daun jambu biji dan phyllantus niruri juga memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan zat aktif flavanoid dan metabolik lainnya melalui penelitian secara in vivo maupun in vitro dan uji klinis terbatas. Sementara itu,. Secara regulatif, BPOM No. 32 Tahun 2019 berperan memastikan mutu serta keamanan produk herbal. Jamu, OHT, dan fitofarmaka memiliki suatu zat yang relevan sebagai antiiinflamasi.
Antibacterial Activity of Ethyl Acetate Extract of Beetroot (Beta vulgaris L.) against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans Hariman, Hariman; Maimunah, Siti; Marbun, Eva Diansari; Asfianti, Vivi
PCJN: Pharmaceutical and Clinical Journal of Nusantara Vol. 4 No. 01 (2025): PCJN: Pharmaceutical and Clinical Journal of Nusantara
Publisher : CV. Nusantara Scientific Medical

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58549/pcjn.v3i03.143

Abstract

Beetroot (Beta vulgaris L.) is a cultivated plant with medicinal properties, containing bioactive compounds such as flavonoids, tannins, and saponins that are known to exhibit antibacterial activity. Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Streptococcus mutans pose significant clinical challenges due to antibiotic resistance and their association with nosocomial infections and dental caries, respectively. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of ethyl acetate extract of beetroot against MRSA (ATCC 43300) and Streptococcus mutans (ATCC 25175) using the disc diffusion method. Simplicia characterization revealed a water content of 13.15%, water-soluble extract of 42.5%, ethanol-soluble extract of 44.8%, total ash of 12.56%, and acid-insoluble ash of 1.81%. Phytochemical screening confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, terpenoids, steroids, saponins, and tannins. Antibacterial testing at concentrations of 125, 250, and 500 mg/ml showed inhibition zones of 8.3, 8.7, and 11.5 mm against MRSA, and 7.5, 8.4, and 10.3 mm against S. mutans, respectively. The minimum inhibitory concentration (MIC) was determined to be 125 mg/ml for both bacterial strains. These findings suggest that the ethyl acetate extract of beetroot possesses promising antibacterial activity ranging from moderate to strong category.
Co-Authors Alfi Safitri Alfi Sapitri Alfi Sapitri Amanda Putri, Amelia Ana, Mauli Andre Prayoga Anggraini, Rania Ultah Artha Yuliana Sianipar Artha Yuliana Sianipar Asfianti, Vivi Bemby, Arman Berkat, Syukur br Ginting, Grace Anastasia Chandra, Devina Darwita Juniwati Barus Darwita Juniwati Barus Denny Satria Dian Arisetya, Dian Erni Erni Fikri, Naufal Noli Fitri, Nadiatul Fitri, Widya Fridelly Mairani Apt Ghifran, Muhammad Al Ginting, Grace Anastasia br. Ginting, Mandike Grace Anastasia br Ginting Grace Anastasia Ginitng Haliza, Aipak Harianja, Ester Saripati Hariman, Hariman Helmi Helmi Herlinawati, Eria Nita Hutasoit , Audi T.A. Komsary, Pauline Mainal Furqan Manik, Maria Partiwi Manuppak Tampubolon Marpaung, Jon Kenedy Modesta Tarigan Monica Suryani Napitupulu, Muhammad irianto Natanael Prilitius Ningtia, Ayu Cahya Panggabean, Indah Elsayanti Panjaitan, Grace Emmas Sondang Pebriyandi, Fajar Prayoga, Andre Purba, Elizabet Kristina Purba, Sri Dearmaita Putri, Ananda Dwi Raissa Fitri Realita Lifiani Retnita Ernayani Lubis Rezza Fikrih Utama Rizki Ndraha, Alva Hagaini Rosina Sitohang Safitri, Alfi Sahputri, Cut Juliana Santy Simamora Sapitri*, Alfi Sapitri, Alfi Sianipar, Artha Yuliana Sihombing, Johas Silitonga, Desni Rinanda Silitonga, Evawani M Sinaga, Dianty Secilia Siti Maimunah Sitinjak, Joan Mervin Situmorang, Imelda Stefani Overia Suharyanisa Supartiningsih - - Surbakti, Christica Ilsana SURBAKTI, CHRISTICA ILSANNA Susanti, Julia Syahfitri, Novita Syukur Berkat Waruwu Tampubolon, Manuppak Irianto Thaib, Cut Masyitah Thaib, Cut Masyithah Turrahmi, Alvia Ulfata, Zikri Ulfayani Mayasari Utama, Rezza Fikrih Vivi Asfianti Yosy Cinthya Eriwaty Silalahi Zuhairiah Nasution, Zuhairiah