Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Penggunaan Kunyit (Curcuma domestica) sebagai Terapi Ptyriasis versicolor Ety Apriliana; Lantani Nafisah Heviana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ptyriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai dengan perubahan kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit, Malassezia furfur. Upaya penatalaksanaaan Ptyriasis versicolor sampai saat ini diantaranya adalah menggunakan antifungi baik yang sistemik maupun yang topikal. Alternatif pengobatan yang banyak digunakan di kalangan masyarakat dengan memanfaatkan tanaman herbal. Kunyit memiliki berbagai macam manfaat yaitu sebagai antiinflamasi, antioksidan, antibakteri dan antifungi. Beberapa kandungan metabolit kunyit dapat berperan sebagai antifungi yang dapat menekan pertumbuhan Malassezia furfur. Hal tersebut terjadi karena kandungan beberapa senyawa metabolit sekunder yang ada di dalam kunyit. Kandungan senyawa yang bermanfaat dalam kunyit  diantaranya adalah minyak atsiri, pati, resin, selulosa, kurkuminoid dan beberapa mineral. Dari berbagai macam kandungan metabolit sekunder yang ada di dalam kunyit, kurkuminoid dan minyak atsiri merupakan zat yang berpotensi sebagai antifungi.Kata kunci: antifungi, ptytiriasis versicolor, turmeric
Diva Iole Humaira, Diagnosis Serologis Brucellosis dengan Metode Brucella Coombs Gel Test Diva Lole Humaira; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brucellosis merupakan suatu penyakit zoonosis yang saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama di berbagai negara di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang berasal dari genus Brucella yang biasanya menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba. Manusia dapat terserang penyakit ini secara insidental melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi maupun melalui konsumsi produk yang berasal dari hewan terinfeksi. Konsumsi susu dan produk olahan susu merupakan penyebab utama penularan brucellosis dari hewan ke manusia. Manifestasi klinis penyakit ini biasanya beragam dan tidak spesifik sehingga penegakan diagnosis sulit ditegakkan hanya berdasarkan manifestasi klinis. Oleh karena itu biasanya dibutuhkan pemeriksaan lain seperti kultur darah dan tes serologi dalam penegakan diagnosis brucellosis. Kultur darah merupakan standar emas penegakan diagnosis brucellosis memiliki beberapa kelemahan seperti waktu inkubasi yang lama, risiko terjadinya infeksi pada petugas laboratorium, harga yang mahal, serta sensitivitas yang buruk pada kasuskronis. Oleh karena itu metode serologis lebih banyak digunakan. Brucella coombs gel test merupakan metode serologis yang saat ini dikembangkan untuk deteksi brucellosis. Metode ini dapat mendeteksi antibodi terhadap brucella dan hasilnyadapat dilihat dalam waktu kurang dari dua jam. Selain itu metode ini memiliki tingkat sensitivitas yang sama dengan metode serologis yang lainnya sehingga metode ini dapat digunakan sebagai pemeriksaan serologis cepat dan screening brucellosis.Kata kunci: brucellosis, brucella coombs gel test
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara In Vitro Ety Apriliana; Efrida Warganegara; Siti Aminah Hasibuan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi di Indonesia masih cukup tinggi dan mengkhawatirkan . Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri patogen terpenting dan berbahaya. Bakteri ini sering resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, sehingga mempersulit pemilihan antimikroba yang sesuai untuk terapi. Salah satu bahan obat terapi tradisional adalah tanaman jarak pagar yang mengandung zat aktif dengan efek antibakteri, yaitu saponin, flavanoid , fenol , alkaloid, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daya hambat yang dihasilkan ekstrak daun jarak terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan metode Ki rby Bauer. Sampel penelitian adalah bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kadar ekstrak daun jarakyaitu 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Daya hambat diperoleh berdasarkan pengukuran zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram Menggunakan jangka sorong. Zona hambat berdasarkan tingkat konsentrasi 20%; 40%; 60%; 80%; dan 100% pada bakteri Staphylococcus aureus adalah 13,5mm, 14,25mm, 18,5mm, 19,5mm, dan 20,75 dan bakteri Escherichia coli adalah 18,12mm, 18,3mm, 18,37mm, 18,55mm, dan 18,67mm. Perbandingan zona hambat lebih tinggi terhadap bakteri Escherichia coli.Kata Kunci: Daun jarak pagar (Jatropha curcas Linn), Escherichia coli, Staphylococcus aureus.
Potensi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitro Alfan Tammi; Ety Apriliana; Tri Umiana Soleha; M. Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti sistitis, pielitis, meningitis, septikemia, endokarditis, osteomielitis, dan lain-lain. Daun salam mempunyai zat aktif dengan efek antibakteri yaitu tanin, flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi daya hambat yang dihasilkan ekstrak daun salam terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan metode difusi cakram kirby bauer. Sampel penelitian ini adalah Staphylococcus aureus. Kadar ekstrak daun salam yaitu: 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Daya hambat diperoleh berdasarkan pengukuran zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram menggunakan jangka sorong. Ekstrak daun salam menghasilkan zona hambat untuk Staphylococcus aureus pada konsentrasi 20% (18,75 mm); 40% (20 mm); 60% (20 mm); 80% (20,25 mm); 100% (22,75 mm). Ekstrak daun salam dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan meningkat sebanding peningkatan konsentrasi.Kata kunci: ekstrak daun salam, Staphylococcus aureus.
Hubungan Hasil Pemeriksaan Antigen Non Struktural 1 (NS1) terhadap Gejala, Tanda Klinis dan Jumlah Trombosit pada Pasien Suspek Infeksi Dengue di RS Urip Sumoharjo Ety Apriliana; Agustyas Tjiptaningrum; Muhamad Jyuldi Prayoga
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penegakkan diagnosis infeksi dengue sejak dini sangat penting. Pemeriksaan antigen non struktural-1 dengue (NS1) dapat mendeteksi infeksi virus dengue lebih awal. Akan tetapi, tidak semua pusat layanan kesehatan, memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk pemeriksaan NS1. Hitung trombosit dan gejala atau tanda klinis merupakan indikator yang menjadi dasar diagnosis pada pusat layanan kesehatan dengan fasilitas yang terbatas. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui hubungan hasil pemeriksaan antigen NS1 terhadap gejala, tanda klinis dan jumlah trombosit pada pasien suspek infeksi dengue. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik dan Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Urip Sumoharjo pada bulan Oktober-November tahun 2016. Jumlah sampel penelitian 30 orang. Pemeriksaan antigen NS1 dilakukan menggunakan metode rapid immunochromatography test. Pemeriksaan trombosit dilakukan menggunakan hemanalizer. Gejala dan tanda klinis pasien didapatkan dari rekam medis pasien. Uji fisher’s exact mengenai hubungan antara hasil pemeriksaan NS1 terhadap jumlah trombosit didapatkan p value sebesar 0,031 dan hubungan antara hasil pemeriksaan antigen NS1 terhadap gejala dan tanda klinis didapatkan p value 0,115. Terdapat hubungan yang bermakna antara hasil pemeriksaan antigen NS1 terhadap jumlah trombosit, namun tidak ada hubungan antara hasil pemeriksaan NS1 terhadap gejala dan tanda klinis pada pasien dengue.Kata kunci: dengue, NS1, trombosit
Identifikasi Bakteri pada Bakso Bakar, Saos, dan Sambalnya di Kelurahan Perwata Kecamatan Teluk Betung Timur A. Rialdi Pranada; Efrida Warganegara; Tri Umiana Soleha; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakso bakar, saos dan sambalnya merupakan salah satu produk makanan jajanan yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, dijual dengan harga relatif murah serta banyak dijual di tempat terbuka. Oleh sebab itu kontaminasi terhadap bakteri dapat terjadi sehingga bisa menjadi salah satu faktor timbulnya foodborne disease. Menurut beberapa penelitian angka wabah dan kematian tertinggi pada foodborne disease disebabkan oleh bakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi bakteri pada bakso bakar, saos, dan sambalnya di Kelurahan Perwata Kecamatan Teluk Betung Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan total sampel. Sampel bakso bakar, saos dan sambalnya diambil sebanyak 1 gram lalu dibawa ke Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk dilakukan uji Laboratorium. Uji laboratorium yang digunakan adalah pembiakan bakteri pada media Nutrient Agar, lalu dilakukan pewarnaan gram, kemudian dilakukan uji biokimia. Hasil penelitian dari 39 sampel yang diteliti, ditemukan bakteri pada bakso bakar sebanyak 10 sampel (71%) yaitu bakteri Escherichia coli 36%, bakteri Staphylococcus aureus 7% dan bakteriSalmonella typhi 28%. Pada saos ditemukan bakteri sebanyak 6 sampel (46%) yaitu Escherichia coli 8%, bakteri Staphylococcus aureus 23% dan bakteri Staphylococcus epidermidis 15%. Pada sambal ditemukan bakteri sebanyak 8 sampel (61%) yaitu bakteri Escherichia coli 23%, bakteri Staphylococcus aureus 23% dan bakteri Pseudomonas aeruginosa15%. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat cemaran bakteri pada bakso bakar, saos dan sambalnya di Kelurahan Perwata Teluk Betung Timur Bandar Lampung.Kata kunci: bakso bakar, foodborne disease.
Identifikasi Bakteri Salmonella typhi Pada Makanan Jajanan Gorengan yang Dijual di Depan Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung Meiwa Rizky Ardhi Blla Putri; Tri Umiana Soleha; Syazili Mustofa; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kematian tertinggi pada foodborne disease disebabkan oleh bakteri, salah satunya bakteri Salmonella typhi. Salmonella typhi adalah strain bakteri yang menyebabkan terjadinya demam tifoid. Demam tifoid merupakan salah satu penyakit penyebab kematian yang tinggi, dimana sebanyak 21 juta kasus demam tifoid mencapai angka kematian 216.000jiwa tiap tahunnya. Gejalanya yaitu demam tinggi, mual, muntah, pusing dan nyeri abdomen.Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya bakteri Salmonella typhi pada makanan jajanan gorengan yang dijual di depan Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara simple random sampling. Sampel makanan jajanan gorengan diambil sebanyak 1 gram lalu dibawa ke Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk dilakukan uji Laboratorium. Uji laboratorium yang digunakan adalah pembiakan bakteri pada media Salmonella-Shigella Agar, lalu dilakukan pewarnaan gram, kemudian dilakukan uji biokimia. Hasil penelitian dari 44 sampel makanan jajanan gorengan yang diteliti, menunjukkan pertumbuhan koloni Salmonella typhi sebanyak 17 sampel (39%) dan 27 sampel lainnya (61%) tidak ditemukan pertumbuhan bakteri. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat bakteri Salmonella typhi pada makanan jajanan gorengan yang dijual di depan Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kedaton Bandar Lampung.Kata kunci: Foodborne disease, Jajanan gorengan, Salmonella typhi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Karyawan Salon di Kelurahan Pahoman Hanna Mutiara; Ety Apriliana; Fitria Saftarina; Viera Rininda Mauli Dinar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) adalah suatu jenis dermatitis akibat kontak dengan bahan maupun alat yang biasa digunakan pada suatu jenis pekerjaan. Salah satunya pada seorang pekerja salon yang dalam pekerjaannya sering berkontak langsung dengan berbagai jenis bahan iritan atau alergen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian DKAK pada karyawan salon. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan subjek 46 orang karyawan salon dari 3 salon yang berada di Kelurahan Pahoman, Bandar Lampung. Teknik analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan 58,7% karyawan salon mengalami dermatitis. Faktor risiko yang memiliki hubungan bermakna dalam penelitian adalah DKAK dengan lama kontak (p value = 0,001), masa kerja (p value = 0,001), riwayat penyakit kulit (p value = 0,035), penggunaan alat pelindung diri (APD) (p value = 0,001), dan personal hygiene (p value = 0,001). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling dominan terhadap kejadian DKAK pada karyawan salon adalah masa kerja (OR = 70,491). Disimpulkan bahwa pada penelitian ini, variabel yang dominan terhadap terjadinyaDKAK pada karyawan salon di kelurahan pohaman Bandar lampung adalah masa kerja.Kata kunci: dermatitis kontak, karyawan salon, penyakit akibat kerja.
Uji Toksisitas Akut Dosis Tunggal Ekstrak Etanol Daun Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium Walp.) Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley Menggunakan Guideline Uji OECD NO. 423 Syafira Alifia Audiani; Waluyo Rudiyanto; Ety Apriliana; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak daun pucuk merah memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antioksidan, antibakteri, antijamur dan antivirus. Pengujian toksisitas dilakukan untuk mengukur derajat kerusakan akibat suatu senyawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis toksik dan pengaruh dosis toksik ekstrak etanol daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp.) terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) menggunakan guideline uji OECD No. 423. Ekstrak daun pucuk merah diberikan secara oral sebanyak satu kali dengan dosis yang telah ditentukan (fixed dose) berdasarkan guideline OECD No.423 yaitu 5, 50, 300, dan 2000 mg/kgBB secara bertahap dengan dosis awal 2000 mg/KgBB. Setelah pemberian dosis, hewan coba diamati selama 24 jam untuk melihat adanya kematian. Jika terdapat 2-3 kematian, dosis selanjutnya diturunkan menjadi 300 mg/KgBB. Namun, apabila pada dosis 2000 mg/KgBB hanya terdapat 0-1 kematian maka dosis akan dinaikkan ke 5000 mg/KgBB. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan histopatologi ginjal pada kelompok kontrol, 2000mg/kgBB, dan 5000mg/kgBB. Dosis toksik ekstrak daun pucuk merah sebesar 5000mg/kgBB yang termasuk dalam zat hampir tidak toksik. Darihasil pengamatan mikroskopik didapatkan adanya kerusakan berupa pelebaran ruang bowman dan lumen tubulus, akumulasi sel debris, vakuolisasi, kariomegali dan perdarahan. Terdapat pengaruh dosis toksik pemberian ekstrak daun pucuk merah terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih berdasarkan guideline uji OECD no.423Kata kunci: Ekstrak Daun Pucuk Merah, Histopatologi Ginjal, OECD No. 423, Uji Toksisitas Akut
Pendekatan Klinis dan Tata laksana Malformasi Anorektal Muhammad Ferdiansyah Putra; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v10i2.pp64-68

Abstract

Malformasi anorektal adalah kelainan kongenital ketika seseorang tidak memiliki anus dan rektum yang normal akibat gangguan perkembangan hindgut pada embrio. Kasus ini muncul satu dari lima ribu kelahiran hidup di seluruh dunia. Bayidengan kelainan ini biasanya memiliki anomali lain yang menyertai. Malformasi anorektal dapat muncul dengan berbagai macam bentuk mulai dari kloaka presisten, disertai dengan fistula, maupun tanpa fistula. Pemeriksaan penunjanng yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan pencitraan cross table x ray. Pemriksaan inspeksi pada area genital dan perianal pada bayi baru lahir sangat membantu mengidentifikasi kelainan ini. Tatalaksana awal bayi berupa pemberian cairan melalui intravena, dekompresi, dan pemberian antibiotik profilaksis. Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan meliputi colostomy, anopasti, maupun Postero Sagital Anorectoplasty (PSARP). Pentingnya diagnosis malformasi anorektal secara tepat memicu penulis untuk memperdalam pengetahuan mengenai apendisitis akut, meliputi definisi, epidemiologi,etiologi, gejala klinis dan pemeriksaan penunjang tentang malformasi anorektal.Kata Kunci: Malformasi Anorektal, Kongenital, Embrio, PSARP