Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Intercultural Communication: Tantangan dan Strategi dalam Era Globalisasi Burhamzah, Muftihaturrahmah; Sunra, La; Dollah, Syarifuddin; Alamsyah, Alamsyah; Alissa Geisler
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan strategi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia dalam era globalisasi. Penelitian ini dilandasi oleh meningkatnya intensitas interaksi lintas budaya di lingkungan pendidikan tinggi, yang menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi antarbudaya yang adaptif dan reflektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan 20 partisipan dari berbagai program studi yang memiliki pengalaman komunikasi antarbudaya melalui kegiatan pertukaran mahasiswa, kolaborasi internasional, maupun aktivitas akademik lintas budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, serta analisis dokumen reflektif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) hambatan bahasa yang meliputi keterbatasan kosakata, perbedaan aksen, serta kesulitan dalam memahami makna pragmatik; (2) adaptasi budaya yang mencakup tahapan stres, penyesuaian, dan perkembangan identitas multikultural; serta (3) strategi komunikasi yang meliputi upaya klarifikasi, penyesuaian nonverbal, dan empati budaya guna menjaga efektivitas interaksi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya tidak hanya bergantung pada kemampuan linguistik, tetapi juga pada kesadaran budaya, refleksi diri, dan kemampuan adaptasi sosial. Oleh karena itu, penelitian ini mengimplikasikan pentingnya integrasi kompetensi antarbudaya ke dalam kurikulum pendidikan tinggi melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi internasional, dan refleksi antarbudaya. Dengan demikian, mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran global, empati antarbudaya, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan multikultural yang beragam.
The Used of Swear Word In “Ted” (2012) Movie Ramadhan, Azakir; Mahmud, Murni; Burhamzah, Muftihaturrahmah
PERFORMANCE: JOURNAL OF ENGLISH EDUCATION AND LITERATURE Vol 5, No 1: February (2026) Performance: Journal of English Education and Literature
Publisher : State University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/performance.v5i1.83001

Abstract

In this study, researchers analyzed the use of swear words in the 2012 Ted film from characters in the movie. The researcher analyzes the problems, namely: (1) What What are the types of swear words that appear in the movie “Ted 2012?”, (2) What are the functions of the swear words that appear in the dialog of the movie “Ted 2012”? The movie Ted 2012 directed by MacFarlane, . This research focuses on the types and functions of swear words used by the This research focuses on the types and functions of swear words used by the film's characters, especially Ted, a teddy bear who has a funny and brash personality that significantly shapes the dialogue. This research uses a descriptive qualitative method on the sociolinguistic approach to analyze swear words in the film, This research categorizes swearing into five types: dysphemistic, idiomatic, abusively, emphatic, and cathartic, and identified five functions: abusive, humorous, expletive, euphemistic and habitual. The research found that swearing in films is used for a variety of purposes, including used for a variety of purposes, including expressing emotions, creating humor, showing tension, and strengthening interpersonal relationships. Swear words were analyzed in the characters' dialogues, which showed the relevance of swear word types and functions of swear words. In Ted's movie, swearing is often used to build the characters, drive the plot, and reflect Western cultural values. Keywords: sociolinguistic, swear word, movie, ted.
Pemberdayaan Generasi Muda melalui Pelatihan Bahasa Jerman Dasar sebagai Bekal Kompetensi Global bagi Siswa SMA di Makassar Alamsyah, Alamsyah; Dalle, Ambo; Burhamzah, Rahmat; Burhamzah, Muftihaturrahmah; Fatimah, Syarifah
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.537

Abstract

Pelatihan ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelatihan Bahasa Jerman dasar dalam memberdayakan siswa SMA X Makassar sebagai bekal mengembangkan kompetensi global. Metode yang digunakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen selama pelaksanaan pelatihan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan tata bahasa, tetapi melalui transformasi holistik yang meliputi: (1) perubahan paradigma pembelajaran dari fokus linguistik menjadi pembelajaran berbasis konteks budaya dan peluang global, (2) peningkatan motivasi intrinsik yang mendorong minat belajar dan tujuan jangka panjang siswa, (3) eksplisitasi kompetensi melalui perencanaan karir dan aksi nyata, serta (4) identifikasi faktor pendukung dan tantangan sistematis dalam implementasi pelatihan. Pelatihan ini berhasil memperluas wawasan dan meningkatkan kesiapan siswa menghadapi era global dengan bekal soft skills dan mindset global yang kuat. Pelatihan ini merekomendasikan penerapan model pembelajaran bahasa asing yang holistik dan kontekstual sebagai strategi pemberdayaan generasi muda di masa depan.
“Deutsch für Anfänger”: Pelatihan Percakapan Bahasa Jerman Sehari-hari sebagai Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Makassar Fatimah, Syarifah; Burhamzah, Muftihaturrahmah; Sarmita Samad, Ita; Burhamzah, Rahmat; Alamsyah, Alamsyah
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.538

Abstract

Rendahnya kepercayaan diri mahasiswa pemula dalam berbicara bahasa Jerman merupakan masalah klasik yang berdampak signifikan terhadap proses pembelajaran dan kesiapan profesional mereka sebagai calon guru. Faktor utama yang menyebabkan fenomena ini adalah Foreign Language Anxiety (FLA), perfeksionisme gramatikal, dan kurangnya ruang praktik yang aman. Pelatihan ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya kepercayaan diri mahasiswa, (2) mengimplementasikan pelatihan “Deutsch für Anfänger” sebagai intervensi pedagogis, dan (3) mengevaluasi dampak pelatihan terhadap peningkatan kepercayaan diri serta penurunan FLA. Pelatihan ini mengadopsi prinsip Communicative Language Teaching (CLT) dengan fokus pada kelancaran berbahasa sebelum akurasi dan menciptakan safe space bagi mahasiswa untuk belajar tanpa takut melakukan kesalahan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Subjek terdiri atas 15 mahasiswa pemula yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket pra- dan pascapelatihan (mengadaptasi Foreign Language Classroom Anxiety Scale), wawancara mendalam, observasi partisipan, dan jurnal reflektif, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan efektif mengurangi FLA, meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam berbicara bahasa Jerman, dan mengubah persepsi mereka terhadap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Mahasiswa menjadi lebih berani berpartisipasi aktif, menunjukkan motivasi tinggi, dan mampu mempraktikkan bahasa secara lebih percaya diri. Pelatihan “Deutsch für Anfänger” merupakan model intervensi transformatif yang menegaskan pentingnya penanganan hambatan afektif-psikologis sejajar dengan penguatan kompetensi linguistik dalam membentuk calon guru bahasa yang kompeten dan percaya diri.