Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Comparison of The Effectiveness of E-C Positive Pressure Ventilation Technique and Modified Chinlift Positive Pressure Ventilation Technique in Mppd at Ibnu Sina Hospital Maulidya, Dhinda Lunizar; Dwimartyono, Fendy; Maharani, Ratih Natasha; Sommeng, Faisal; Karim, Marzelina
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i1.6634

Abstract

Mask ventilation skills are essential competencies for MPPD to master. According to SKDI, these skills include competency 4A, which is the ability to perform independently by mastering the theory, principles, indications, and steps. To date, there have been few studies evaluating the effectiveness of modified chinlift and E-C techniques regarding the tidal volume delivered (TV). Therefore, the researchers were interested in comparing the effectiveness of the E-C method and modified chinlift positive pressure ventilation technique in mask ventilation (MV) use. This study is a quantitative research with an observational analytical cross-sectional design. Researchers observed the treatments given by MPPD, totaling 22 individuals, to 6 research subjects. Data analysis for this research used Mann-Whitney and chi-square tests as Independence Tests. After applying the E-C technique, 43.8% out of 100% were successful, and 56.3% were not successful. Meanwhile, with the MCL technique, out of 100%, 40.6% were successful, and 59.4% were not successful. The E-C technique showed better results compared to the Modified Chinlift technique in MV, although statistically, the test results for the difference in success scores between the two techniques did not show any significant difference.
Relationship between Mallampati Score and Success Rate of LMA Insertion at Ibnu Sina Hospital Alfima, Mega; Dwimartyono, Fendy; Maharani, Ratih; Harahap, Wirawan; Dirgahayu, Andi Millaty Halifah
Journal of Aafiyah Health Research (JAHR) Vol. 4 No. 2 (2023): JULY-DECEMBER
Publisher : Postgraduate Program in Public Health, Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52103/jahr.v4i2.1553

Abstract

Background: The most important action in successful resuscitation is to immediately open the respiratory tract. Airway management in surgical patients with general anesthesia can use tools, one of which is the Laryngeal Mask Airway. To anticipate LMA insertion failure, it is best to use a difficult intubation evaluation or what is known as the Mallampati Score. Objective: to determine the relationship between the Mallampati Score and the success of LMA insertion. Method: This research uses a quantitative analytical research design using a cross-sectional study approach with non-probability sampling technique. This research was conducted at Ibnu Sina Hospital in September-November 2023. Data analysis used univariate and bivariate analysis tests using cross-sectional tests. Results: The majority of respondents had a prediction of difficult intubation, namely 23 respondents (76.7%) while those who had a prediction of easy intubation were 7 respondents (23.3%) and 30 respondents (100%) had successful LMA insertion. There was no significant relationship between the Mallampati score and the success rate of LMA I-Gel insertion in patients at Ibnu Sina Hospital with a p-value of 0.397. Conclusion: The Mallampati score has no relationship with the success rate of LMA insertion.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN POST-OPERATIVE DELIRIUM (POD) PADA PASIEN YANG MENJALANI OPERASI DENGAN GENERAL ANESTHESIA Dewanty, Ashita Mary; Sommeng, Faisal; Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin; Dwimartyono, Fendy; Harahap, Muhammad Wirawan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.31957

Abstract

Post-operative delirium (POD) adalah kondisi yang ditandai dengan perubahan status mental, kognisi, perhatian, dan peningkatan stres. Terbagi dalam berbagai subtipe motorik, seperti hiperaktif, hipoaktif, campuran. POD tergantung pada demografi pasien, status, dan jenis operasi. Delirium dapat disebabkan oleh peningkatan faktor risiko seperti infeksi, pneumonia, dan kerusakan organ. POD dapat menyebabkan peningkatan tingkat morbiditas dan mortalitas. Faktor yang berkontribusi pada POD termasuk gangguan kognitif, gangguan fungsional, komorbiditas, penggunaan alkohol, dan kondisi kesehatan. Delirium dapat berkembang pada pasien sehat setelah operasi, tetapi juga bisa berkembang pada orang tua. Keparahan delirium tergantung pada jenis operasi, kondisi pasien, dan jenis operasi yang dilakukan. POD merupakan kondisi serius yang membutuhkan manajemen dan evaluasi yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian Post-operative Delirium (POD) pada pasien yang menjalani operasi dengan General Anasthesia. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel penelitian ini sebanyak 47 subjek. Didapatkan jumlah responden yang menderita POD sebanyak 12 orang (25,5%) dan yang tidak menderita POD sebanyak 35 orang (74,5%). Pada uji Multiple Logistic Regression nilai R2, ketamin merupakan variabel yang paling signifikan berhubungan dengan outcome, dengan nilai OR=15,5% menunjukkan bahwa subjek dengan ketamin mempunyai efek perlindungan 15,5% kali terhadap kejadian POD dibandingkan dengan subjek yang tidak menggunakan ketamin.  Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian POD adalah agen anastesi ketamin, yang mempunyai dampak protektif terhadap POD.
CASE REPORT : EFEK PENGGUNAAN LOW DOSE KETAMIN 0,5 MG IV TERHADAP TERHADAP KEJADIAN POST AND PONV PASKA INSERSI LMA Rianti, Riska; Dwimartyono, Fendy; Abadi, Muh. Nur
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.30772

Abstract

Pendekatan multimodal analgesik non-opioid atau Opioid Free Anastesia  (OFA) ditujukan untuk mengoptimalkan opsi tambahan intraoperatif, Beberapa meta-analisis juga telah melaporkan efek menguntungkan dari ketamine pada proses pemulihan pasca operatif. ketamin dosis tinggi dilaporkan menyebabkan berbagai efek buruk dan harus dihindari. Namun, Pemberian ketamine dosis subanestesi 0,1-0,5 mg/kg IV merupakan salah satu obat yang dapat menggantikan opioid sebagai analgetik dengan memberikan efek samping minimal.  Kami melaporkan 6 kasus dengan diagnosis yang berbeda yang direncanakan tindakan operatif yang dikelola dengan anastesi umum dengan Laryngeal Mask Airway (LMA) dan menggunakan ketamin dosis rendah 0,5 mg/kgBB IV sebagai pengganti Opioid yaitu fentanyl. Setelah dilakukan insersi LMA dan pada proses  pemulihan pasca operatif  didapatkan hasil berupa efek Postoperatif Nausea and Vomiting (PONV) yang minimal dimana rata rata kasus mendapat skor 0 atau tidak mengalami mual maupun muntah, dan pada Postoperative Sore Throat (POST) score didapatkan hasil rata – rata skor nol dimana tidak ada yang mengalami nyeri maupun keluhan terkait tenggorokannya
WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN OPERASI DENGAN MENGGUNAKAN ANASTESI UMUM PROPOFOL DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR Wardana, Riqah Nefiyanti Putri; Sommeng, Faisal; Ikram, Dzul; Dwimartyono, Fendy; Purnamasari, Reeny
Wal'afiat Hospital Journal Vol 1 No 1 (2020): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2782.868 KB) | DOI: 10.33096/whj.v1i1.9

Abstract

Latar Belakang : Perhatian utama pada anestesi umum adalah keamanan dan keselamatan pasien. Efek fisiologis yang ditimbulkan tubuh seseorang dalam menjalani operasi berbeda-beda, tergantung dari kondisi fisik pasien, jenis bedah yang dilakukan, jenis anestesi yang dipakai, jenis obat yang diberikan, dan juga banyaknya dosis obat yang diberikan. Semua hal itu dapat berpengaruh terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi. Beberapa obat anestesi diberikan secara intravena, baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya, untuk mempercepat tercapainya stadium anestesi ataupun obat penenang pasien. Obat-obat ini termasuk barbiturat, benzodiazepin, propofol, ketamin, analgesik opioid, dan berbagai hipnotik-sedatif. Propofol sering digunakan karena memiliki onset cepat, durasi pendek dan waktu pemulihan kesadaran cepat dengan resiko terjadinya mual muntah lebih kecil dari obat induksi lainnya. Propofol digunakan baik untuk anestesi induksi maupun pemeliharaan sebagai bagian dari teknik anestesi intravena total atau anestesi berimbang, dan merupakan anestetik terpilih untuk bedah rawat jalan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pulih sadar pada pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian ini adalah penelitian deskriptif numerik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar sebanyak 26 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dimana data diperoleh dari hasil observasi secara langsung kepada sampel. Hasil : Dari 26 sampel menunjukkan bahwa distribusi waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan waktu pulih sadar yaitu 7 menit dengan jumlah 11 orang (42,3%), kemudian diikuti dengan waktu pulih sadar 8 menit sebanyak 6 orang (23%), waktu pulih sadar 9 menit sebanyak 5 orang (19,2%), waktu pulih sadar 10 menit sebanyak 2 orang (7,7%), dan waktu pulih sadar 11 menit dan 12 menit masing-masing sebanyak 1 orang (3,9%). Nilai rata-rata dari waktu pulih sadar pasien dengan menggunakan anastesi umum propofol 8,19±1,38 menit. Dengan nilai minimum 7 menit dan nilai maksimum 12 menit. Kesimpulan : Rata-rata waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan 8,19±1,38 menit dan memiliki rentang waktu antara 7 menit sampai 12 menit.
Perbandingan Efek Diazepam 5 MG P.O dan Alprazolam 0,5 MG P.O Sebagai Premedikasi Pra Bedah Pada Pasien Operasi Ca Mammae Sommeng, Faisal; Faisal Syamsu, Rachmat; Dwimartyono, Fendy; Fathiyyah Arifin, Arina; Avrilya, Reghita
Journals of Ners Community Vol 13 No 5 (2022): Jurnal of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i5.2130

Abstract

Carcinoma Mammae (kanker payudara) merupakan penyakitkeganasan yang paling banyak terjadi di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat. Pada tahun 2014 terdapat 232.000 kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat dan angka kematian sebanyak 40.000 kasus. Menurut Brunner dan Suddarth tidak ada satupunpenyebab spesifik dari Ca Mammae, sebaliknya serangkaian faktor genetik, hormonal, steroid endogen apabila mengalami perubahan dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi Ca mammae. Mengetahui bagaimana efek pemberian diazepam 5 mg p.o dan alprazolam0,5 mg p.o terhadap premedikasi pra bedah pada pasien operasi Ca Mammae di RSIbnu Sina Makassar. Penelitian ini menggunakan metode clinical trial dengan pendekatan Cross- Sectional, dengan menggunakan jenis data primer berupa kuisioner penelitiandengan menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale(HARS) dan kuisioner efek samping obat. Terdapat perbedaan bermakna antara perbandingan efek tingkat kecemasanyang dihasilkan dari kedua kelompok penelitian, Alprazolam lebih baik dalammenghasilkan level kecemasan dibanding diazepam dengan nilai p = 0,003, kelompok premedikasi menggunakan alprazolam juga memiliki efek samping lebih sedikit dibanding dengan kelompok diazepam dengan perbandingan sebesar 1:3. Kesimpulan penelitian ini, Pemberian Premedikasi Alprazolam 0,5 mg p.o lebih baik dalam menghasilkan level kecemasan dibanding Diazepam 5 mg p.o.
Efektivitas Pemberian Madu Hutan (Apis Dorsata) dalam Mengatasi Infeksi Klebsiella Pneumoniae pada Mencit ( Mus Musculus) Musa, Muh. Muflih Usman; Wiriansya, Edward Pandu; Dwimartyono, Fendy; Mangarengi, Yusriani; Khalid, Nurfadhillah; Ahmad, Izhar Fitrah; Adrian, Adrian; Faisal, Fathir; Fazdlurrahman, Fazdlurrahman; Ilham, Muhammad
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i11.19657

Abstract

ABSTRACT Nosocomial infections, especially those caused by Klebsiella pneumoniae bacteria, are a significant global health problem. The increasing antibiotic resistance encourages the search for alternative therapies, one of which is through the use of natural ingredients such as honey. Honey, especially Apis dorsata wild honey, is known to have antibacterial properties that can inhibit bacterial growth. To evaluate the effectiveness of giving forest honey (Apis dorsata) based on preventive, curative and supportive groups in treating Klebsiella pneumoniae infections in mice. This research uses a quasi experimental post-test method. A total of 30 mice were divided into 5 treatment groups. The test carried out was the Colony Number Distribution Test, then the Normality Test, after finding that the samples were not normally distributed, we chose the Kruskal Wallis Non-Parametric Test and the Mann-Whitney Test.Of the five groups studied, the intervention in the group given forest honey (Apis dorsata) combined with the antibiotic ceftriaxone as well as in the group given first forest honey (Apis dorsata) showed effective results (P<0.05) while the other groups did not show results. effective (P>0.05). Based on research, it was explained that giving forest honey (Apis dorsata) was effective as a preventive and supportive group, but was not effective as a curative group in treating Klebsiella pneumoniae infections in mice. Keywords: Forest Honey (Apis Dorsata), Klebsiella Pneumoniae Infection, Mice (Mus Musculus).  ABSTRAK Infeksi nosokomial, terutama yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella pneumoniae, merupakan masalah kesehatan global yang signifikan. Meningkatnya resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif terapi, salah satunya melalui penggunaan bahan alami seperti madu. Madu, khususnya madu hutan Apis dorsata, diketahui memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mengevaluasi efektivitas pemberian madu hutan (Apis dorsata) berdasarkan kelompok upaya preventif, kuratif serta supportif dalam mengatasi infeksi Klebsiella pneumoniae pada mencit. Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental post-test. Sebanyak 30 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Pengujian yang dilakukan adalah Uji Distribusi Jumlah Koloni, lalu kemudian Uji Normalitas, setelah didapatkan sampel tidak terdistribusi normal sehingga kami memilih Uji Non Parametrik Kruskal Wallis serta Uji  Mann-Whitney. Dari lima kelompok yang diteliti, intervensi pada kelompok pemberian madu hutan (Apis dorsata) yang dikombinasi dengan antibiotik ceftriaxone juga pada kelompok yang diberikan terlebih dahulu madu hutan (Apis dorsata) menunjukkan hasil yang efektif (P<0.05) sedangkan kelompok yang lain tidak menunjukkan hasil yang efektif (P>0.05). Berdasarkan penelitian, dijelaskan bahwa pemberian madu hutan (Apis dorsata) efektif sebagai kelompok preventif dan  supportif, namun tidak efektif sebagai kelompok kuratif dalam mengatasi infeksi Klebsiella pneumoniae pada mencit. Kata Kunci: Madu Hutan (Apis Dorsata), Infeksi Klebsiella Pneumoniae, Mencit (Mus Musculus).
Peran Antioksidan dan Agen Antiinflamasi dalam Proses Penyembuhan Luka Bakar Nining Nurnanengsih; Fendy Dwimartyono; Adliah Purnawaty Harifuddin
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 4 No. 1 (2025): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v4i1.5271

Abstract

Burns are tissue damage or loss that occurs due to direct exposure to heat sources such as fire, hot liquids or fats, hot steam, radiation, electricity, or chemicals. The process of healing burns is a complex and long-lasting process and involves a repair process that depends on the immune system, there are three stages, namely: inflammation, formation of granulation tissue (proliferation), and remodeling (which can result in scarring). Research objectives and methods to determine the role of antioxidants and anti-inflammatory agents in the burn wound healing process by searching both international and national literature using databases such as PubMed, Google Scholar, ScienceDirect and Elsevier. Based on the results of a literature study from several journals, 3 research journals were obtained that discussed several plants that contain substances that can act as antioxidants and anti-inflammatory agents in the process of healing burns. The following are the results of screening of the journals, including betel leaves (Piper betleLinn.), Aloe Vera (Aloe Vera), Binahong Leaves (Anredera Cordifolia Tenn) have phenolic compounds contained in them, namely flavonoids, alkaloids, tannins, essential oils, saponins, monoterpenes, polyphenols, and steroids that have the potential as antioxidants, antibacterials, anti-have very good effects in the advanced phase, proliferation phase and remodeling phase which play an important role in reducing, shortening, changing the size of the wound edge distance and accelerating wound healing. Based on the results of the review of these journals, it proves the role of antioxidants and anti-inflammatory agents in the process of healing burns.
Patient Satisfaction Survey Towards The Eracs Method In Caesarean Delivery At Sitti Khadijah 1 Makassar Maternity Hospital Pakaya, Nickyta S; Dwimartyono, Fendy; Nurulaisyah, Windy; Mappaware, Nasruddin Andi; Harahap, Muhammad Wirawan
Syifa'Medika Vol 16, No 2 (2026): Syifa Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i2.10041

Abstract

Kehamilan dan persalinan merupakan momen penting dalam kehidupan seorang perempuan yang melibatkan perubahan fisik dan psikologis. Salah satu tindakan medis yang sering dilakukan adalah operasi caesar (sectio caesarea), yang meskipun dapat menyelamatkan ibu dan bayi, seringkali menimbulkan komplikasi pasca-operasi. Penerapan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) bertujuan untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kenyamanan pasien pasca-operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap metode ERACS pada persalinan sectio caesarea di RSIA Sitti Khadijah 1 Makassar. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, dimana data dikumpulkan melalui kuesioner pada pasien yang melahirkan secara sectio caesarea dengan metode ERACS pada Februari-Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% pasien menyatakan puas dengan prosedur ERACS, meskipun 60% pasien melaporkan nyeri pasca-operasi. Selain itu, 73,3% pasien dapat melakukan mobilisasi dini, dan tidak ada pasien yang mengalami mual atau muntah. Kesimpulannya, penerapan ERACS di RSIA Sitti memberikan tingkat kepuasan yang tinggi dan mempercepat pemulihan pasca-operasi. Penerapan metode ini dapat menjadi model bagi rumah sakit lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Co-Authors Abadi, Muh. Nur Abdullah, Rezky Putri Indarwati Ade Irna Adliah Purnawaty Harifuddin Adrian Adrian Ahmad, Izhar Fitrah Aisyah, Windy Nurul Alfima, Mega Alya Nabila, Andi Andi Husni Tanra, Andi Husni Apris, Muhammad Asrul Avrilya, Reghita Bangsawan, Israfil Raya Darussalam, Andi Husni Esa Denny Mathius Dewanty, Ashita Mary Dirgahayu, Andi Millaty Halifah Djibran, Moh. Rizqullah Fadhilah Maricar Fadhillah Khalid, Nur Faisal Syamsu, Rachmat Faisal, Fathir Fathiyyah Arifin, Arina Fazdlurrahman, Fazdlurrahman Fitriah Fitriah Fitrianti Fitrianti, Fitrianti Gayatri, Sri Wahyuni Haeriyanty, Haeriyanty Harahap, Muh. Wirawan Harahap, Muhammad Wirawan Harahap, Wirawan Hasbi, Berry Erida Ichsan, Muh. Nur Idaroyani, Idaroyani Ikram, Dzul Istiqamah, Istiqamah Jerny Dase Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin Karim, Marzelina Khalid, Nur Fadhillah Khalid, Nurfadhillah Lantara, Andi Millaty Halifah Dirgahayu M. Yogi Riyantama Isjoni MAHARANI, RATIH Maharani, Ratih Natasha Mangarengi, Yusriani Mappaware, Nasruddin Andi Maulidya, Dhinda Lunizar Mochammad Erwin Rachman, Mochammad Erwin Muhammad Asrul Apris Muhammad Ilham Mulyadi, Farah Ekawati Musa, Muh. Muflih Usman Nining Nurnanengsih Nurulaisyah, Windy Oktaviani, Wira Pratiwi Pakaya, Nickyta S Purnamasari, Reeny Putri A.R., Shafira Nur Afifa Rahadatul Aisy, Andi Ariqah Restika, Restika Rianti, Riska Rio, Purwati Pole Rizqi, Ain Tajriani Safitri, Asrini Salsabila, Andi Hafidzah Qurani Sirajuddin, Nur Fatimah Sommeng, Faisal Susilo, Wawan Syahbana, Khalda Fakhirah Syahril, Erlin Syahruddin, Febie Irsandy Umar, Masyitha Sagenati Wardana, Riqah Nefiyanti Putri Wiriansya, Edward Pandu