Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perbandingan Efek Diazepam 5 MG P.O dan Alprazolam 0,5 MG P.O Sebagai Premedikasi Pra Bedah Pada Pasien Operasi Ca Mammae Sommeng, Faisal; Faisal Syamsu, Rachmat; Dwimartyono, Fendy; Fathiyyah Arifin, Arina; Avrilya, Reghita
Journals of Ners Community Vol 13 No 5 (2022): Jurnal of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i5.2130

Abstract

Carcinoma Mammae (kanker payudara) merupakan penyakitkeganasan yang paling banyak terjadi di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat. Pada tahun 2014 terdapat 232.000 kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat dan angka kematian sebanyak 40.000 kasus. Menurut Brunner dan Suddarth tidak ada satupunpenyebab spesifik dari Ca Mammae, sebaliknya serangkaian faktor genetik, hormonal, steroid endogen apabila mengalami perubahan dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi Ca mammae. Mengetahui bagaimana efek pemberian diazepam 5 mg p.o dan alprazolam0,5 mg p.o terhadap premedikasi pra bedah pada pasien operasi Ca Mammae di RSIbnu Sina Makassar. Penelitian ini menggunakan metode clinical trial dengan pendekatan Cross- Sectional, dengan menggunakan jenis data primer berupa kuisioner penelitiandengan menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale(HARS) dan kuisioner efek samping obat. Terdapat perbedaan bermakna antara perbandingan efek tingkat kecemasanyang dihasilkan dari kedua kelompok penelitian, Alprazolam lebih baik dalammenghasilkan level kecemasan dibanding diazepam dengan nilai p = 0,003, kelompok premedikasi menggunakan alprazolam juga memiliki efek samping lebih sedikit dibanding dengan kelompok diazepam dengan perbandingan sebesar 1:3. Kesimpulan penelitian ini, Pemberian Premedikasi Alprazolam 0,5 mg p.o lebih baik dalam menghasilkan level kecemasan dibanding Diazepam 5 mg p.o.
Karakterisitk Penggunaan Analgesik Pada Pasien Pasca Bedah Kanker Payudara Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2023-2024 Idaroyani, Idaroyani; Tanra, Andi Husni; Harahap, Muh. Wirawan; Dwimartyono, Fendy; Hasbi, Berry Erida
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2025): Volume 12 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i3.18928

Abstract

Nyeri pasca bedah kanker payudara merupakan masalah umum yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, diperlukan manajemen nyeri yang optimal melalui penggunaan analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik penggunaan analgesik pada pasien pasca bedah kanker payudara di RS Ibnu Sina Makassar. Penelitian ini adalah deskriptif observasional menggunakan data sekunder dari rekam medis periode Oktober 2023–Oktober 2024, dengan 134 subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pasien adalah perempuan, dengan kelompok usia terbanyak 46–55 tahun (39,6%). Jenis anestesi yang paling banyak digunakan selama operasi adalah anestesi umum (77,6%).  jenis Analgesik ketorolac menjadi yang paling banyak digunakan yaitu (31,5%), dengan dosis 30 mg setiap 8 jam selama 2 hari. penggunaan analgesic lebih sering diberikan secara intravena (58,6%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pasien pasca bedah kanker payudara didominasi kelompok usia 46–55 tahun, perempuan, dan menerima terapi analgesik berupa ketorolac 30 mg setiap 8 jam selama 2 hari secara intravena. 
Uji Efektivitas Ekstrak Kurma Ajwa, Povidone Iodine 10%, dan Bioplacenton pada Luka Bakar Mencit Putri A.R., Shafira Nur Afifa; Dwimartyono, Fendy; Lantara, Andi Millaty Halifah Dirgahayu; Syahril, Erlin; Khalid, Nur Fadhillah
Syifa'Medika Vol 16, No 1 (2025): Syifa Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i1.9972

Abstract

Burns are tissue damage caused by contact with heat sources and require proper medical treatment. Povidone iodine 10% is often used, however, it can cause irritation and slow healing. This study aimed to evaluate the effectiveness of Ajwa Date Extract (Phoenix dactylifera), Povidone iodine 10%, and Bioplacenton in healing burns in mice (Mus musculus). The research method used a post-test controlled group design  with four treatment groups: control (NaCl 0.9%), Ajwa Date Extract, Povidone iodine 10%, and Bioplacenton. The number of samples used was 24 mice in each of 4 groups, so that 6 mice were obtained in each group. The statistical tests used were the Normality Test and  the Saphiro-Wilk Test  The parameters observed included the duration of healing, infection, and allergic reactions. The results showed that Ajwa Date and Bioplacenton extracts  accelerated wound healing by an average of 11.5 days, faster than Povidone iodine 10% (12 days) and control (13.6 days). All groups showed the same total healing score (8), with no infections or allergic reactions. The Kruskal-Wallis statistical test  showed a significant difference in the duration of healing (p = 0.003). In conclusion, Ajwa Date Extract and Bioplacenton are  effective in accelerating the healing of burns and can be a safe and effective treatment alternative.
Prevalensi Kejadian Mati Mendadak Di Urusan Pelayanan Kedokteran Polisi (Uryandokpol) Polda Sulawesi Selatan Umar, Masyitha Sagenati; Denny Mathius; Fadhilah Maricar; Jerny Dase; Fendy Dwimartyono
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 4 No. 12 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v4i12.518

Abstract

Pendahuluan: Kematian mendadak terjadi dalam waktu 24 jam setelah timbulnya gejala pada individu tanpa penyakit berbahaya, cedera, atau keracunan yang diketahui. Hal ini sering terjadi pada lansia karena proses penuaan dan penurunan fungsi organ. Tujuan: Mengetahui prevalensi kasus kematian mendadak di Urusan Pelayanan Kedokteran Polisi (URYANDOKPOL) POLDA SUL-SEL periode 2020-2022. Metode: Studi Deskriptif Retrospektif dengan desain cross-sectional dan teknik total sampling. Hasil: Jumlah Kasus kejadian mati mendadak di Urusan Pelayanan Kedokteran Polisi (URYANDOKPOL) POLDA SUL-SEL periode 2020-2022 terdapat 36 kasus kematian mendadak. Distribusi kejadian mati mendadak berdasarkan usia dapat dilihat bahwa pada balita 2,8%, remaja 13,9%, dewasa 30,6%, lansia 44,4%, manula 8,3%. Serta, distribusi kejadian mati mendadak berdasarkan Jenis Kelamin dapat dilihat bahwa 77,8% pada laki-laki, 22,2% pada perempuan. Kesimpulan: Prevalensi kasus kematian mendadak adalah 36 sampel, dengan prevalensi tertinggi berdasarkan usia yaitu usia lansia (46-65 tahun) sebanyak 44,4% sedangkan prevalensi berdasarkan jenis kelamin yaitu pada laki-laki lansia (57,2%).
Effectiveness Of Non-Nutritive Sucking and Murottal In Reducing Neonates' Pain Response To Needle-Related Medical Procedures Salsabila, Andi Hafidzah Qurani; Dwimartyono, Fendy; Lantara, Andi Millaty Halifah Dirgahayu; Harahap, Muhammad Wirawan; Darussalam, Andi Husni Esa
Journal Of Health Science (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol 10 No 1 (2025): JOURNAL OF HEALTH SCIENCE (JURNAL ILMU KESEHATAN)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/jik.v10i1.4112

Abstract

Neonates are newborns up to 28 days old who are highly vulnerable to infections and organ system disorders, often requiring medical intervention. One of the most common medical procedures performed on neonates is needle-related invasive procedures, such as intravenous catheter insertion and blood sampling, which can cause pain. Neonatal pain management generally avoids the use of pharmacological analgesics due to their various side effects. Therefore, effective non-pharmacological methods, such as Non-Nutritive Sucking (NNS) and Murottal therapy, are needed. This study aims to determine the effects of NNS, Murottal therapy, and their combination on reducing neonatal pain responses during needle-related medical procedures, using a quasi-experimental post-test only control group design. This study was conducted at Lamaddukelleng District General Hospital, Wajo Regency, South Sulawesi, specifically in the perinatology ward from August to October 2024 with a sample size of 92 people. The results indicate that the combination of NNS and Murottal therapy is the most effective in reducing neonatal pain responses during needle-related medical procedures, with an average pain response of 3.78 and a significance value of P > 0.001, compared to neonates who received a single intervention (either NNS or Murottal) or those in the control group.
Fluktuasi Gula Darah Pasien Pasca Bedah dengan Adjuvan Anestesi Ketamin di Rumah Sakit Ibnu Sina Ichsan, Muh. Nur; Sommeng, Faisal; Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin; Dwimartyono, Fendy; Harahap, Muh. Wirawan
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 7 No. 2 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v7i2.9116

Abstract

Anestesi merupakan tindakan medis yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan memastikan kenyamanan pasien. Tindakan bedah mampu menghasilakn mediator radang dan merangsang sistem saraf simpatik sehingga pada pasien dapat terjadi peningkatan kadar gula darah akibat terjadinya peningkatan hormon kontraregulator. Diduga, ketamin pada dosis rendah dapat menstabilkan fluktuasi gula darah pada pasien sedangkan pada dosis tinggi dapat meniimbulkan kondisi hiperglikemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adjuvan anestesi ketamin terhadap fluktuasi gula darah pada pasien pasca bedah dengan general anestesi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental dengan metode cross sectional pada pasien yang menjalani tindakan pembedahan menggunakan adjuvan anestesi ketamin. Pada penelitian ini memiliki 44 sampel dengan 22 sampel yang menggunakan adjuvan ketamin dan 22 sampel tanpa adjuvan sebagai kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar gula darah pada kelompok perlakuan lebih stabil dibandingkan dengan kelompok kontrol dapat dilihat dari waktu pengampilan gula darah sewajtu pada saat Durante-Pre Operasi (98.86 ± 19.68 : 95.09 ± 20.90vs124.95 ± 50.28 : 113.13 ± 49.27dengan nilai P=0.205 vs P<0.001) dan Post-Durante Operasi (107.36 ± 22.95 : 98.86 ± 19.68vs136.90 ± 37.88 : 124.95 ± 50.28 dengan nilai P=0.022 vs P=0.001). Penggunaan adjuvan ketamin dapat mencegah kenaikan gula darah durante operatif
Perbandingan Antara Lokal Anestesi Hiperbarik Bupivacaine Dengan Kombinasi Hiperbarik-Isobarik Bupivacaine Pada Anestesi Subarachnoid Blok Untuk Operasi Histerektomi Bangsawan, Israfil Raya; Dwimartyono, Fendy; Aisyah, Windy Nurul; Sommeng, Faisal; Harahap, Wirawan
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.19664

Abstract

Anestesi subarachnoid blok (SAB) merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam operasi histerektomi. Bupivacaine, sebagai agen anestesi lokal, tersedia dalam bentuk hiperbarik dan isobarik. Kombinasi kedua jenis ini dapat mempengaruhi efektivitas anestesi serta parameter hemodinamik pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek penggunaan bupivacaine hiperbarik dengan kombinasi bupivacaine hiperbarik-isobarik pada anestesi SAB untuk histerektomi. Penelitian ini merupakan randomized single-blind control trial yang dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina, melibatkan 12 pasien yang menjalani histerektomi. Pasien dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok menerima bupivacaine hiperbarik (20 mg), dan kelompok lainnya menerima kombinasi bupivacaine hiperbarik (10 mg) dan isobarik (10 mg). Parameter yang diukur meliputi onset blokade motorik, onset blokade sensorik, mean arterial pressure (MAP), dan durasi blokade motorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa onset blokade motorik lebih cepat pada kelompok bupivacaine hiperbarik dibandingkan kombinasi hiperbarik-isobarik (p = 0,030). Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam onset blokade sensorik (p = 0,168) maupun MAP pada menit ke-5 (p = 0,580). Namun, durasi blokade motorik secara signifikan lebih panjang pada kelompok kombinasi hiperbarik-isobarik (p = 0,000).
Post Mastectomy Pain Syndrome (PMPS) Incident Profile at Ibnu Sina Hospital Makassar in May–August 2024 Djibran, Moh. Rizqullah; Dwimartyono, Fendy; Syahruddin, Febie Irsandy; Hasbi, Berry Erida; Harahap, Muh. Wirawan
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i4.1767

Abstract

Background: Post-Mastectomy Pain Syndrome (PMPS) is a chronic neuropathic pain lasting over three months after mastectomy, often affecting the chest, axilla, or arm, yet data on its prevalence in Eastern Indonesia remain scarce. Objective: To describe the characteristics and impact of PMPS among post-mastectomy patients at Ibnu Sina Hospital. Methods: A descriptive observational study was conducted involving 30 post-mastectomy patients diagnosed with PMPS, using univariate analysis with SPSS 25.0 to assess pain characteristics and quality-of-life effects, with neuropathic pain defined as a score >/ 4 on the Neuropathic Pain Scale. Results: The majority of patients (76.7%) experienced chronic pain localized mainly to the anterior chest and axilla, often radiating to the upper arm. About 70.0% reported significant interference with daily activities, sleep disturbance, and psychological distress, while 60.0% experienced pain exacerbation during shoulder movement. Neuropathic characteristics such as burning and tingling sensations were frequently reported, with moderate to severe pain intensity noted in over half of the participants. These findings indicate that PMPS substantially compromises patients’ physical function and emotional well-being during postoperative recovery. Conclusion: PMPS prevalence is high and markedly affects quality of life, necessitating early screening and multidisciplinary pain management in post-mastectomy care.
Comparison of The Effectiveness of E-C Positive Pressure Ventilation Technique and Modified Chinlift Positive Pressure Ventilation Technique in Mppd at Ibnu Sina Hospital Maulidya, Dhinda Lunizar; Dwimartyono, Fendy; Maharani, Ratih Natasha; Sommeng, Faisal; Karim, Marzelina
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i1.6634

Abstract

Mask ventilation skills are essential competencies for MPPD to master. According to SKDI, these skills include competency 4A, which is the ability to perform independently by mastering the theory, principles, indications, and steps. To date, there have been few studies evaluating the effectiveness of modified chinlift and E-C techniques regarding the tidal volume delivered (TV). Therefore, the researchers were interested in comparing the effectiveness of the E-C method and modified chinlift positive pressure ventilation technique in mask ventilation (MV) use. This study is a quantitative research with an observational analytical cross-sectional design. Researchers observed the treatments given by MPPD, totaling 22 individuals, to 6 research subjects. Data analysis for this research used Mann-Whitney and chi-square tests as Independence Tests. After applying the E-C technique, 43.8% out of 100% were successful, and 56.3% were not successful. Meanwhile, with the MCL technique, out of 100%, 40.6% were successful, and 59.4% were not successful. The E-C technique showed better results compared to the Modified Chinlift technique in MV, although statistically, the test results for the difference in success scores between the two techniques did not show any significant difference.
Relationship between Mallampati Score and Success Rate of LMA Insertion at Ibnu Sina Hospital Alfima, Mega; Dwimartyono, Fendy; Maharani, Ratih; Harahap, Wirawan; Dirgahayu, Andi Millaty Halifah
Journal of Aafiyah Health Research (JAHR) Vol. 4 No. 2 (2023): JULY-DECEMBER
Publisher : Postgraduate Program in Public Health, Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52103/jahr.v4i2.1553

Abstract

Background: The most important action in successful resuscitation is to immediately open the respiratory tract. Airway management in surgical patients with general anesthesia can use tools, one of which is the Laryngeal Mask Airway. To anticipate LMA insertion failure, it is best to use a difficult intubation evaluation or what is known as the Mallampati Score. Objective: to determine the relationship between the Mallampati Score and the success of LMA insertion. Method: This research uses a quantitative analytical research design using a cross-sectional study approach with non-probability sampling technique. This research was conducted at Ibnu Sina Hospital in September-November 2023. Data analysis used univariate and bivariate analysis tests using cross-sectional tests. Results: The majority of respondents had a prediction of difficult intubation, namely 23 respondents (76.7%) while those who had a prediction of easy intubation were 7 respondents (23.3%) and 30 respondents (100%) had successful LMA insertion. There was no significant relationship between the Mallampati score and the success rate of LMA I-Gel insertion in patients at Ibnu Sina Hospital with a p-value of 0.397. Conclusion: The Mallampati score has no relationship with the success rate of LMA insertion.
Co-Authors Abadi, Muh. Nur Abdullah, Rezky Putri Indarwati Ade Irna Adliah Purnawaty Harifuddin Adrian Adrian Ahmad, Izhar Fitrah Aisyah, Windy Nurul Alfima, Mega Alya Nabila, Andi Andi Husni Tanra, Andi Husni Andi Millaty Halifah Dirgahayu Lantara Apris, Muhammad Asrul Avrilya, Reghita Bangsawan, Israfil Raya Darussalam, Andi Husni Esa Denny Mathius Dewanty, Ashita Mary Dirgahayu, Andi Millaty Halifah Djibran, Moh. Rizqullah Fadhilah Maricar Fadhillah Khalid, Nur Faisal Syamsu, Rachmat Faisal, Fathir Fathiyyah Arifin, Arina Fazdlurrahman, Fazdlurrahman Fitrianti Fitrianti, Fitrianti Haeriyanty, Haeriyanty Harahap, Muh. Wirawan Harahap, Muhammad Wirawan Harahap, Wirawan Hasbi, Berry Erida Ichsan, Muh. Nur Idaroyani, Idaroyani Ikram, Dzul Istiqamah, Istiqamah Jerny Dase Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin Karim, Marzelina Khalid, Nur Fadhillah Khalid, Nurfadhillah M. Yogi Riyantama Isjoni MAHARANI, RATIH Maharani, Ratih Natasha Mangarengi, Yusriani Mappaware, Nasruddin Andi Maulidya, Dhinda Lunizar Muhammad Asrul Apris Muhammad Ilham Mulyadi, Farah Ekawati Musa, Muh. Muflih Usman Nining Nurnanengsih Nurulaisyah, Windy Oktaviani, Wira Pratiwi Pakaya, Nickyta S Purnamasari, Reeny Putri A.R., Shafira Nur Afifa Rahadatul Aisy, Andi Ariqah Restika, Restika Rianti, Riska Rio, Purwati Pole Rizqi, Ain Tajriani Safitri, Asrini Salsabila, Andi Hafidzah Qurani Sirajuddin, Nur Fatimah Sommeng, Faisal Susilo, Wawan Syahbana, Khalda Fakhirah Syahril, Erlin Syahruddin, Febie Irsandy Umar, Masyitha Sagenati Wardana, Riqah Nefiyanti Putri Wiriansya, Edward Pandu