Claim Missing Document
Check
Articles

PENGERING BERPENUKAR KALOR DENGAN SUMBER ENERGI SEKAM PADI I Gede Bawa Susana; Ida Bagus Alit
Machine : Jurnal Teknik Mesin Vol 6 No 2 (2020): Machine : Jurnal Teknik Mesin
Publisher : Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jm.v6i2.1506

Abstract

Drying is one way to extend the shelf life of agricultural products. The drying process can be done by using conventional methods or a dryer. Dryer could utilize solar energy and others. The disadvantage of conventional drying by using solar energy is that very dependent on weather, while dryer with other energy sources such as electricity and fuel need an additional cost. For this reason, dryer with cheaper energy sources was needed, such as the use of husk waste. In addition to cheap, husk waste was also obtained easily. This study examined the use of dryer using rice husk waste for drying chili. The tool designed consists of husk burning furnaces, heat exchanger pipes and drying cabinets. A heat exchanger pipe is intended so that dry products were not contaminated with burning husks. The results showed that material weight, water content, crushing rate and drying efficiency decreased with time. The temperature of the drying cabinet ranges from 50 to 600 C with an air flow rate of 0.49 m3 / min. this tool can reduce chili water content 85.8% to 58.2% in 900 minutes, with an average efficiency of 22%.
Pemberdayaan Kader Desa dalam Upaya Mewujudkan Tercapainya Status Open Defecation Free (ODF) di Desa Kuranji Dalang Kecamatan Labuapi, Lombok Barat Ida Ayu Eka Widiastuti; Rifana Cholidah; Siti Rahmatul Aini; Putu Aditya Wiguna; Ida Bagus Alit
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 3 No 2 (2020): .
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.887 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v3i2.502

Abstract

Abstract: Desa Kuranji Dalang merupakan desa binaan Puskesmas Perampuan, Labuapi Lombok Barat. Desa ini juga merupakan desa binaan bagi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Pemilihan ini didasarkan pada data Dinas Kesehatan Lombok Barat bahwa Desa Kuranji Dalang merupakan salah satu desa dengan tingkat sanitasi terendah di Lombok Barat. Hal ini dibuktikan dengan belum tercapainya status Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari buang air besar sembarangan. Dalam rangka mewujudkan tercapainya status ODF bagi Desa Kuranji Dalang maka kader desa memiliki peran strategis. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan penyegaran bagi kader desa tentang STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), terutama tentang perilaku BAB (buang air besar) dan sanitasi jamban sehingga nantinya dapat mentransfer pengetahuan yang diperoleh kepada warga binaannya. Kegiatan dilaksanakan melalui 2 (dua) tahapan, yaitu penyusunan modul dan pelatihan/penyegaran. Modul berisi materi-materi yang berkenaan dengan perilaku hidup sehat dengan lebih difokuskan pada perilaku buang air besar. Penyegaran dibagi dalam 2 sesi, yaitu sesi penyampaian materi dan sesi diskusi/tanya jawab. Kegiatan yang mengambil tempat di Puskesmas Perampuan ini diikuti oleh 20 orang kader Desa Kuranji Dalang dan dilaksanakan bekerja sama dengan pihak Puskesmas Perampuan. Kader desa telah menjalankan perannya terkait upaya mewujudkan Desa Kuranji Dalang dengan status ODF, seperti melakukan pendataan rumah dan penyuluhan. Kendala utama yang dihadapi adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya untuk tidak BAB sembarangan. Dengan demikian diperlukan upaya yang lebih komprehensif dengan melibatkan pihak-pihak terkait. 
Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler pada Pegawai Rektorat Universitas Mataram Ida Ayu Eka Widiastuti; Rifana Cholidah; Gede Wira Buanayuda; Ida Bagus Alit
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.584 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v4i1.604

Abstract

Currently, the number of non-communicable diseases (PTM) is quite large and causes considerable morbidity and mortality. Globally PTM the number one cause of death every year is heart disease and blood vessels (cardiovascular). Data from the World Health Organization (WHO) states that more than 17 million people worldwide die from heart and blood vessel disease. Based on data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the incidence of heart and blood vessel disease has increased from year to year. At least, 15 out of 1000 people, or about 2,784,064 individuals in Indonesia suffer from heart disease. Cardiovascular disease often attacks productive age. Early detection is very important as a primary and secondary prevention of cardiovascular disease. The participants of this activity were 32 employees of the Mataram University Rectorate. Early detection of risk factors for cardiovascular disease is carried out through several tests: (1) anthropometric examinations, including body weight, height, body mass index, waist circumference, and body fat percentage, (2) blood pressure, and (3) blood samples examintaion to check fasting blood sugar levels and lipid profiles, which include triglyceride levels, total cholesterol, HDL cholesterol, and LDL cholesterol. From the results of the activity, it was found that the mean value of all types of examinations was abnormal, except for the levels of triglycerides and total cholesterol. Thus, in general, it can be said that participants have a high enough risk factor for cardiovascular disease.
Karakteristik Termal-Produktivitas Heat Exchanger untuk Tungku Sekam Padi pada Pengeringan Cabai Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.2 Desember 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i2.6923

Abstract

Pengeringan dengan metode menjemur di bawah sinar matahari merupakan salah satu cara pengawetan bahan pangan yang mudah dan murah. Kelemahan metode ini diantaranya tergantung pada cuaca; rentan terpapar kotoran, debu, dan gangguan binatang. Pengeringan produk hasil pertanian dengan menjemur di bawah sinar matahari menimbulkan kondisi suhu sulit dikontrol karena sangat tergantung intensitas radiasi matahari, sehingga berdampak terhadap lama pengeringan. Oleh karenanya pengeringan buatan menjadi salah satu alternatif yang tepat untuk menggantikan pengeringan konvensional tersebut. Solusi dari kondisi ini yaitu menambahkan heat exchanger pada tungku pembakaran sekam padi. Model ini berfungsi sebagai alat pengering bahan pangan. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata temperatur keluar heat exchanger mencapai 76,58o C dengan rentang 44,64-117,29o C. Temperatur ini merupakan hasil perpindahan panas pembakaran sekam padi dengan udara lingkungan yang mengalir ke dalam pipa-pipa heat exchanger. Temperatur keluar heat exchanger ini sebagai temperatur untuk mengeringkan bahan pangan di dalam ruang pengering dan dalam penelitian ini menggunakan sampel uji cabai merah. Rata-rata temperatur pengeringan mencapai 57,34o C dengan rentang 31,69-92,57o C. Karakteristik termal seperti ini mampu meningkatkan penurunan rata-rata kadar air bahan mencapai 10,47%. Kadar air awal bahan adalah 85% dengan lama waktu pengeringan 660 menit. Tingkat produktivitas meningkat sebesar 83,44% dibandingkan dengan menjemur di bawah sinar matahari.
PEMANFAATAN SERAT POHON PISANG SEBAGAI SERAT PENGUAT MATERIAL KOMPOSIT DI PESANTREN DARUL ISLAH DUSUN IRENG LAUK Sujita Darmo; Ida Bagus Alit; I Wayan Joniarta
Jurnal Abdi Insani Vol 7 No 2 (2020): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v7i2.315

Abstract

Sumberdaya alam lautan di daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat masih belum dioptimalkan dengan baik. Kegiatan produksi ikan dari kegiatan penangkapan oleh para nelayan masih baru mencapai angka 10 % dari total potensi yang ada (Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, 2015). Salah satu penyebabnya adalah karena adanya keterbatasan pada permodalan dan peralatan, seperti perahu. Mahalnya harga perahu nelayan dari bahan fiberglass ini bisa bisa ditekan dengan menggunakan fiber/serat alaternatif yang berasal dari alam, seperti serat pohon pisang hijau. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan kepada para santri tentang pembuatan serat/fiber dari pohon pisang hijau dan penggunaanya dalam pembuatan perahu dari bahan fiber glass. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupa penyuluhan tentang pembuatan serat dari pohon pisang hijau dengan melibatkan mahasiswa Unram yang sedang melaksanakan kegiatan KKN Tematik. Secara umum kegiatan penyuluhan berjalan sesuai dengan jadual, meskipun ada dalam penyelesaian peralatan, karena kendala dana. Berdasarkan hasil evaluasi para satri dan masyarakat sekitar Pesantren Darul Islah sudah bisa membuat fiber dari pohon pisang. Sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi pohon pisang hijau, semula dianggap sampah dapat dimanfaatkan dan dijual dalam bentu serat/fiber untuk penguat material komposit, sebagai bahan pembuat perahu nelayan. Kesimpulannya kegiatan pengabdian yang telah dilakukan dapatmeningkatkan kemampuan dan ketrampilan para santri untuk mengaplikasikan serat pohon pisang hijau sebagai serat penguat material komposit untuk bahan pembuatan perahu fiberglas.
PELATIHAN TANGGAP DARURAT BENCANA BAGI MAHASISWA KSR-PMI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PERAN GENERASI MUDA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Ida Ayu Eka Widiastuti; Putu Aditya Wiguna; Ida Bagus Alit
Jurnal Abdi Insani Vol 7 No 3 (2020): Jurnal Abdi Insani Universitas Mataram
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v7i3.356

Abstract

Indonesia adalah negara dengan potensi bencana cukup tinggi. Hampir di semua daerah pernah mengalami bencana, tidak terkecuali Provinsi NTB. Upaya penanggulangan bencana merupakan urusan bersama, pemerintah sebagai penanggung jawab dengan peran serta aktif masyarakat, termasuk unsur pemuda, terlebih para pemuda yang tergabung dalam organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, seperti KSR-PMI. Agar dapat berpartisipasi aktif secara optimal, diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui pelatihan. Dari hasil wawancara, cukup banyak anggota KSR-PMI yang belum pernah mendapatkan pelatihan terkait penanggulangan bencana, sementara mereka pasti akan sangat diandalkan di lapangan apabila terjadi bencana. Pelatihan tanggap darurat bencana ini dirancang melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pelaksanaan berlangsung selama 3 hari, bertempat di aula PMI Provinsi NTB. Hari pertama dan kedua peserta pelatihan diberikan pengetahuan berupa teori-teori yang berhubungan dengan kondisi tanggap darurat bencana sedangkan pada hari ketiga para peserta mengikuti kegiatan simulasi bencana yang dilaksanakan di Pantai Gading, Mapak, Mataram. Peserta pelatihan berjumlah 26 orang, yang berasal dari 7 unit KSR-PMI se-Pulau Lombok. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan dinilai dengan menggunakan kuesioner kepuasan dan capaian nilai yang diperoleh peserta. Melalui kegiatan pelatihan ini, pengetahuan dan pemahaman para peserta pelatihan tentang penanggulangan bencana dalam kondisi tanggap darurat meningkat 48,36%. Dari hasil olah kuesioner disimpulkan performa para narasumber, baik (80,8%), penyelenggaraan pelatihan, yang meliputi 3 aspek, yaitu prasarana/sarana, pengorganisasian penyelenggaraan, dan konsumsi pelatihan, baik (85,83%). Pelatihan tanggap darurat bencana memberikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penanggulangan kondisi tanggap darurat bencana.
Evaluasi pengeringan kunyit menggunakan pengering rak vertikal sumber energi sekam padi metode konveksi paksa Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana
AGROINTEK Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v16i3.13551

Abstract

The drying process carried out in the open is prone to exposure to dust and animal waste. In addition, it takes a long time and is very dependent on the weather. The purpose of this research is to thermally evaluate a forced convection type vertical shelf dryer using rice husk energy using a single furnace model. This is done through the conversion of rice husks into thermal using a heat exchanger. Rice husks are burned directly in a furnace equipped with heat exchange pipes. This pipe functions to circulate heated environmental air into the drying chamber with the help of an exhaust fan. The test was carried out to dry a sample of white turmeric with a mass of 3191 grams for 600 minutes. The sample mass is evenly distributed on 4 vertical shelves in the drying chamber. The test results show that the ambient temperature increased by an average of 73.57%, namely from 28.57oC to 49.58oC. This temperature is the average temperature that occurs in the drying chamber in the turmeric drying process. The average drying temperature on each shelf differs depending on the distance from the heat source. On shelves 1, 2, 3, and 4, respectively, they are 54.21oC, 50.93oC, 47.62oC, and 45.57oC. Overall, the water content of white turmeric after drying reached 6.335% from the initial water content of 79.6%. The average efficiency of the dryer is 32.97%. During the drying process, there is a decrease in efficiency. This is because the energy absorbed by white turmeric decreases due to reduced water content.    This dryer model can be used as an alternative in post-harvest handling for small farmers that is energy efficient and sustainable.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA JERINGO MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI PEMBUATAN BATAKOBERPENGUAT SERAT IJUK Sujita Darmo; Rudy Sutanto; Nur Kaliwantoro; Ida Bagus Alit; Sultan Sultan
Jurnal Bakti Nusa Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL BAKTI NUSA
Publisher : Jurusan Teknik Elektro Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/baktinusa.v2i2.31

Abstract

Desa Jeringo adalah salah satu desa di wilayah Kabupaten Lombok Barat, yang  masyarakatnya rata-rata hidup dibawah garis kemiskinan dan jumlah penganggurannya terbanyak, akibat dampak pemulangan TKI yang bekerja di Malaysia. Penduduk di daerah ini mata pencahariannya adalah sebagai  penyadap aren, membuat kerajinan dari ijuk (sapu, keset) dan penambang pasir, batu kerikil di sungai yang mengalir sepanjang Dusun Jeringo, Mambalan dan Guntur Macan. Tujuan khusus dari kegiatan KKN-PPM yang telah dilaksanakan adalah untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kurangnya ketersediaan material  bahan bangunan/batako, rendahnya pendapatan masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam   belum optimal.. Metode yang digunakan adalah dengan menerapkan secara langsung teknologi pembuatan batako berpenguat serat ijuk. kepada khalayak sasaran mitra KKN-PPM Desa Jeringo Kecamatan Gunungsari. Kegiatan KKN-PPM  yang telah dilaksanakan selama 2.5 bulan. Pembuatan batako berpenguat serat  ijuk yang telah diterapkan merupakan hasil penelitian Fakultas Teknik Mesin Universitas Atmajaya Yogyakarta. Berdasarkan penelitian Agus Wahyono,dkk, 2010. Penambahan 5%  serat ijuk pada adonan batako akan memberikan kualitas yang maksimal pada batako, daya ikat antara ijuk dan adonan (pasir, semen) seragam dan kekuatan tekan rata-rata mencapai 135 Kg, batako tanpa penguat ijuk kekuatan tekan rata-ratanya lebih rendah yaitu  90 Kg.
PENERAPAN ALAT PENGASAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN DI KAMPUNG NELAYAN BANGKO BANGKO SEKOTONG LOMBOK BARAT Sujita Darmo; Zainuri Achmad; I Made Adi Sayoga; Nur Kaliwantoro; Ida Bagus Alit
Jurnal Abdi Insani Vol 9 No 3 (2022): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v9i3.524

Abstract

Bangko Bangko is a fishing village located in Bangko Bangko Bay, Batuputih Village, Sekotong District, West Lombok, West Nusa Tenggara. In the fishing village of Bangko-Bangko, only 60 families live, with a livelihood as fishermen and fishing. Because the position of the bay has sufficient waters, so many fish can be caught, especially tongkol. Around 200 fishing boats docked in Bangko Bangko Bay, with the catch in the form of tuna. The abundance of tuna catches resulted in a low price, 5 thousand per kg of fresh fish and 7.5 thousand for pindang fish per bamboo package containing 5 fish. The purpose of the service activities that have been carried out in August 2018 is to increase the selling price of tuna. The method of activity to increase the selling price of tongkol by processing it into smoked fish, using an environmentally friendly fish smoking device. As a result, the smoked fish produced has a more savory aroma, a distinctive smoke smell, so the price increases for packaging ranging from 12.5 to 15 thousand rupiah. Smoked fish is relatively more durable than fresh fish and pindang fish, so the distribution of sales reaches Mataram City. Other activity outputs are in the form of transfer of skills in manufacturing techniques and steps for implementing environmentally friendly fish smoking, as well as manuals on smoking fish techniques. The application of environmentally friendly fish smoking tools in this community service program can improve the welfare of the fishing village of Bangko Bangko and its surroundings.
PEMBUATAN POMPA HYDRAM SEDERHANA DI DUSUN LEMPENGE DESA SINTUNG KECAMATAN PRINGGARATA KABUPATEN LOTENG rudy sutanto; made wirawan; arif mulyanto; ida bagus alit; agus dwi catur
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 1, No 1 (2018): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.37 KB)

Abstract

Hydram pump is a process of converting kinetic energy and water motion force into dynamic pressure so as to cause a high-strength water hammer in the pipeline. This pressure causes the pump valve and the introductory valve in the pump tube to open and close in turn. Dynamic pressure is continued to produce compressive force in the feeding tube thus forcing the water to rise to the discharge pipe and pushed into the conductor pipe, thus the working principle of this pump is to double the strength of the water thrust. PPM was followed by 10 people consisting of community leaders, village officials and residents of Lempenge village, Sintung village, Pringgarata district, Central Lombok regency, interested in environmentally friendly technology, hydram pump technology. The following counseling of hydram pump introduction was conducted in Sintung village hall, Pringgarata district, Central Lombok district. The material provided includes the working principle of hydram pump, hydram pump components and design, how to measure flow or source discharge.Keywords: hydram pump, water hammer, thrust, flow rate