Claim Missing Document
Check
Articles

PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA  MASYARAKAT KELURAHAN PANYURAN, KEC. PALANG, KABUPATEN TUBAN Wahyu Tri Ningsih; Tanty Wulan Dari; Moch Bahrudin; Teresia Retna Puspitadewi; Binti Yunariyah; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Roudlotul Jannah; Su'udi; Yasin Wahyuriyanto; Titik Sumiatin; Siti Maimuna
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Abdi Masyarakat Mei 2025
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v8i2.6569

Abstract

Hypertension and diabetes are of concern because of their high prevalence and their role as major risk factors for heart and blood vessel disease. The aim of this community service is to increase public knowledge and awareness of the importance of prevention and early detection of Non-Communicable Diseases.Methods used in this community service are through counseling and interactive discussions. The target is the community of Panyuran Village, Palang District, Tuban Regency. The media used is leaflets. The results of this community service are increased public knowledge and awareness of Non-Communicable Diseases, especially diabetes mellitus and hypertension, as well as prevention and early detection. Counseling activities can be carried out continuously in collaboration with local health centers and health cadres. Monitoring of activities that have been carried out needs to be carried out periodically by conducting examinations of people at risk of experiencing Non-Communicable Diseases by local health cadres.
TINGKAT KECEMASAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III MULTIGRAVIDA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA SUMURGUNG KECAMATAN TUBAN Apriliana, Wulan; Retna P, Teresia; Wahyurianto, Yasin
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52020/jkwgi.v6i2.3446

Abstract

Ibu hamil rentan merasakan kawatir tentang hal yang dapat terjadi pada dirinya dan anaknya yang beresiko mengganggu kesehatan mental ibu, salah satunya gangguan kecemasan. Di masa pandemi virus corona ibu hamil akan cemas apalagi pada ibu hamil trimester III yang akan melahirkan. Data survey awal didapatkan 90% ibu hamil multigravida merasakan cemasa  dan  10% ibu hamil multigravida tidak merasa cemas dari jumlah total 10 ibu hamil. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III multigravida pada masa pandemi covid-19 di Desa Sumurgung. Desain penelitian deskriptif dan pendekatan yang dipakai yaitu “cross-sectional”, populasinya yaitu ibu hamil trimester III multigravida yang tinggal  di Desa Sumurgung kecamatan Tuban sebanyak 113 ibu, besar sampel 88 ibu hamil, teknik yang dipakai yaitu  simple random sampling. Instrumen yang dipakai adalah kuesioner. Hasil dari penelitian didapatkan hampir seluruhnya tingkat kecemasan ibu hamil trimester III multigravida di Desa Sumurgung mengalami kecemasan berat sejumlah 72 orang ( 82%). Tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III multigravida di masa pandemi virus corona dengan karakteristik ibu diantaranya tingkat pengetahuan,  tingkat pendidikan ,serta dukungan dari keluarga terutama suami di Desa Sumurgung masih dalam kategori cemas berat. Maka dari itu perlu melakukan pengoptimalan dalam peningkatan pengetahuan dan pemberian dukungan secara terus menerus agar dapat menurunkan tingginya tingkat kecemasan ibu hamil trimester III multigravida.Kata kunci :          Tingkat Kecemasan, Ibu Hamil Trimester III multigravida, Pandemi Covid-19
Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus (DM) Pada Remaja Di SMP Negeri 3 Tuban Larissa Eka Afianti; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 11 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i11.1986

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) berdasarkan American Diabetes Association (ADA) merupakan gangguan pada metabolik yang dicirikan dengan terjadinya kenaikan kadar glukosa darah karena adanya gangguan dalam respon tubuh terhadap insulin Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan bahwa kejadian Diabetes Melitus (DM) di kalangan anak-anak Indonesia berusia 18 tahun ke bawah mengalami peningkatan dramatis, meningkat hingga 70 kali lipat antara tahun 2010 dan 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor risiko kejadian Diabetes Mellitus (DM) pada remaja di SMP Negeri 3 Tuban. Desain penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini seluruh siswa/siswi kelas VIII di SMP Negeri 3 Tuban sebanyak 254 siswa. Sampel diambil secara simple random sampling sebanyak 155 responden. Variabel dalam penelitian ini yaitu faktor risiko kejadian Diabetes Mellitus (DM) pada remaja. Cara pengambilan data dengan kuisioner kemudian dilakukan pengolahan data dan analisis univariat. Hasil penelitian didapatkan hampir seluruhnya (77%) remaja memiliki faktor keturunan tidak berisiko, hampir seluruhnya (76%) remaja memilki faktor Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak berisiko, hampir seluruhnya (90%) remaja memiliki faktor pola makan berisiko, dan hampir seluruhnya (96%) remaja memiliki faktor aktivitas fisik tidak berisiko. Upaya untuk mengurangi kejadian diabetes melitus yang dapat dilakukan petugas kesehatan dengan memberikan pendidikan kesehatan rutin setiap satu bulan sekali pada remaja yang masih bersekolah mengenai pentingnya menjaga pola makan untuk mencegah kejadian Diabetes Mellitus (DM) di masa mendatang.
Community-Based Intervention through Posyandu Cadre Training and Assistance for Mothers Under Five to Reduce Stunting in Genaharjo Village, Tuban Puspitadewi, Teresia Retna; Juliana Christyaningsih; Nurul Hindaryani; Yasin Wahyurianto
Frontiers in Community Service and Empowerment Vol. 4 No. 4 (2025): December
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ficse.v4i4.119

Abstract

Nutrition problems are still a major public health challenge, especially stunting which has a long-term impact on child growth and development. Based on the 2022 report of the TubanRegency Health Office, the prevalence of stunting in the work area of the Kawa Health Center reached 24.43%. Genaharjo Village is the focus of attention because the number of stunted toddlers has increased from 40 children (2023) to 45 children (14%) in 2024, while 66.7% of pregnant women are at high risk of experiencing Chronic Energy Deficiency (CED). This condition shows the need for intervention to support the achievement of the national target of reducing stunting by 14%. This Community Service aims to evaluate pre-post changes in the knowledge of cadres and mothers of toddlers, anthropometric skills of cadres and the processing of toddler menus by mothers after a two-session intervention in Genaharjo". The activity was carried out in August-September 2025 with evaluation through pre-test and post-test for knowledge, observation of cadre skills, assessment of mothers' ability in food processing, and urine examination of toddlers using the pyridinium crosslink rapid test. The results showed an increase in cadre knowledge from an average of 9.25 to 11.25 and mothers of toddlers from 9.6 to 11.1. Cadres are able to perform anthropometric measurements correctly, while mothers of toddlers are skilled in planning menus and processing 20 nutritious recipes based on local ingredients. Of the 20 urine samples of stunted toddlers, two showed positive results. This intervention is effective in increasing community capacity, but a comprehensive approach is needed including nutrition education, health monitoring, and sanitation improvement for the sustainability of stunting prevention.
Dukungan Keluarga Dalam Mendukung Kepatuhan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban Davis Khoirul Akmal; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i1.2076

Abstract

Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang menunjukkan peningkatan kasus setiap tahunnya. masih adanya pasien Tuberkulosis paru yang putus pengobatan (Drop out). Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sangat bergantung pada kepatuhan pasien, salah satunya dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dukungan akepatuhan pengobatan pasien Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Tuban. Penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasinya seluruh keluarga penderita Tuberkulosis paru yang masih menjalani program pengobatan di Puskesmas Tuban sebanyak 64 orang, dan semuanya digunakan sebagai sampel dengan teknik total sampling. Variabel dalam penelitian adalah dukungan keluarga dalam mendukung kepatuhan pengobatan pasien Tuberkulosis paru. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup Analisa data menguak analisis deskriptif, yang menggunakan tabel, distribusi frekuensi dan prosentase. Hasil menunjukan hampir setengahnya (28.1%) keluarga penderita Tuberkulosis paru berusia dewasa akhir, dan lansia akhir, Sebagian besar (71,9%) keluarga penderita Tuberkulosis paru berpendidikan SMA, hampir seluruhnya (76.6%) keluarga penderita Tuberkulosis paru bekerja, setengahnya (50.0%) dukungan keluarga dalam mendukung kepatuhan pengobatan pasien Tuberkulosis paru adalah baik, sebagian besar (55,6%) keluarga penderita Tuberkulosis paru pada masa dewasa akhir memiliki dukungan keluarga yang baik, seluruhnya (100%) keluarga yang berpendidikan SD memiliki dukungan yang baik, dan sebagian besar (53,3%) keluarga yang bekerja memiliki dukungan yang baik. Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan bagi pasien Tuberkulosis paru. Oleh karena itu, intervensi kesehatan masyarakat harus melibatkan keluarga sebagai mitra strategis. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengeksplorasi hubungan antara jenis dukungan dan tingkat pemulihan pasien secara longitudinal.
Gaya Hidup Penderita Diabetes Melitus. Dalam Mencegah Komplikasi Kardiovaskuler Di Puskesmas Tuban Andiva Wardani Putri Zahroh; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2370

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskuler bila tidak terkontrol. Pencegahannya dapat dilakukan melalui penerapan gaya hidup sehat seperti pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler di Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh peserta prolanis sebesar 65 orang, sampel penelitian sebesar 65 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban dengan teknik total sampling. Variabel penelitian adalah gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun. Hampir seluruhnya penderita diabetes melitus memiliki gaya hidup cukup sehat dalam pencegahan komplikasi kardiovaskuler, yang sebagian besar pada penderita berjenis kelamin laki-laki, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun, sedangkan gaya hidup tidak sehat sebagian kecil pada perempuan, usia 40–59 tahun dan lama menderita kurang dari 5 tahun. Penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan lebih banyak memiliki gaya hidup tidak sehat karena perawatan diri kurang optimal, sedangkan laki-laki lebih banyak memiliki gaya hidup cukup sehat karena terdorong menjaga kondisi tubuh. Selain itu, penderita diabetes melitus dengan lama menderita 5–10 tahun cenderung memiliki gaya hidup cukup baik karena lebih berpengalaman dalam mengelola penyakit. Oleh karena itu, diperlukan edukasi melalui kunjungan rumah mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler.
Penggunaan Media Sosial dan Perilaku Remaja di SMA Negeri 2 Tuban Hanyokro Bagus Prastyo; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.56

Abstract

Platform digital seperti media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari keseharian remaja, mulai dari sekadar mengobrol, mencari bahan bacaan, hingga mengisi waktu luang dengan hiburan. Ketika intensitas pemakaiannya cukup tinggi, ada kecenderungan hal itu ikut membentuk pola perilaku mereka sehari-hari. Fase remaja sendiri memang rawan, karena pada masa inilah pencarian jati diri berlangsung sehingga pengaruh dari luar termasuk media sosial jadi lebih mudah menempel dan berpotensi mengubah cara mereka bersikap di lingkungan sosial. Riset ini disusun untuk memotret gambaran intensitas penggunaan media sosial serta perilaku pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Tuban. Rancangan penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi mencakup seluruh siswa kelas XI di sekolah tersebut, berjumlah 150 orang, dan sampel yang diambil sebanyak 110 remaja melalui teknik Simple Random Sampling. Dua variabel yang diteliti adalah penggunaan media sosial dan perilaku remaja. Data dihimpun lewat kuesioner, lalu diolah dengan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Temuan menunjukkan hampir seluruh responden (86,4%) tergolong memiliki intensitas penggunaan media sosial tinggi. Sementara itu, sebagian besar (69,1%) menunjukkan perilaku negatif, dan yang lebih spesifik lagi, 73,3% remaja dengan intensitas pemakaian tinggi justru berperilaku negatif. Banyak hal ikut membentuk perilaku remaja, baik yang datang dari dalam diri mereka sendiri maupun dari luar. Media sosial termasuk salah satu faktor eksternal yang berperan cukup besar di sini. Dipakai dengan cara yang tepat, media sosial sebenarnya bisa mendatangkan manfaat, semisal untuk menggali informasi seputar pendidikan, mengasah kreativitas, memperluas pergaulan, sampai melatih kemampuan berkomunikasi. Namun kalau pemakaiannya kebablasan, dampaknya justru berbalik arah: kontrol diri menurun, gaya hidup jadi lebih konsumtif, muncul kecenderungan meniru hal-hal yang kurang pantas, dan interaksi sosial secara langsung dengan orang-orang di sekitar pun ikut berkurang.
Pola Makan Balita dengan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Mochammad Anselmo Ega Putra Wicaksono; Su’udi Su’udi; Titik Sumiatin; Teresia Retna Puspitadewi
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.57

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berumur dua tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Orang tua umumnya baru menyadari balitanya mengalami Stunting setelah berumur di atas dua tahun, padahal Stunting berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Kabupaten Tuban. Jenis penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki balita Stunting sebanyak 79 ibu, dengan jumlah sampel sebanyak 66 ibu balita yang dipilih melalui teknik Cluster Random Sampling. Variabel penelitian ini adalah pola makan balita Stunting. Pengumpulan data menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya (90,9%) pola makan balita cukup pada orang tua berumur >35 tahun, sebagian kecil (9,1%) pola makan balita kurang. Sebagian besar (70,0%) pola makan balita cukup pada orang tua berpendidikan SMP, sebagian kecil (15,4%) pola makan balita kurang pada orang tua berpendidikan Perguruan Tinggi. Sebagian besar (52,4%) pola makan balita cukup pada orang tua yang bekerja, dan sebagian besar (64,4%) pola makan balita cukup pada orang tua yang tidak bekerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pola makan yang memenuhi gizi seimbang dan adekuat sejak masa kehamilan, baik dari kualitas, kuantitas, maupun keberagaman makanan yang dikonsumsi, sangat penting dalam pencegahan Stunting. Pemenuhan jenis makanan bergizi, frekuensi makan yang teratur, serta jumlah asupan yang sesuai kebutuhan dapat membantu menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita. Orang tua disarankan memberikan makanan dengan gizi seimbang, dengan mengupayakan setiap kali makan terdapat sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta sayur dan buah.
Aktifitas Fisik dan Resiko Kejadian Hipertensi Pada Remaja Di Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban Hibatullah Aditya Prabawa Atmaja; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.58

Abstract

Hipertensi sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam” dan saat ini sedang mengalami transisi epidemiologis yang memengaruhi remaja. Menurut studi SKI tahun 2023, 10,7% penduduk Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun menderita hipertensi, sedangkan laporan WHO tahun 2024 memperkirakan bahwa 1,4 miliar orang di seluruh dunia mengidap kondisi tersebut. Kurangnya aktivitas fisik akibat gaya hidup yang tidak aktif, yang semakin umum di kalangan remaja, merupakan faktor risiko yang dapat diubah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki korelasi antara aktivitas fisik dan risiko hipertensi pada remaja yang terdaftar di Program Diploma Tiga Keperawatan Kampus Tuban. Analisis ini dirancang sebagai penelitian deskriptif dengan menggunakan kerangka kerja cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswa keperawatan berusia 18 hingga 20 tahun di Universitas Tuban pada tahun akademik 2025–2026, dengan total 137 remaja, di mana 102 di antaranya dipilih dari kelompok tersebut. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja. Variabel yang diteliti adalah aktivitas fisik dan risiko hipertensi. Alat yang digunakan meliputi Kuesioner Baecke, serta pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah sesuai dengan klasifikasi ESH-ESC tahun 2018. Analisis data dilakukan secara deskriptif (univariat). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja (53,9%) melakukan aktivitas fisik yang intens / berat. Hipertensi merupakan faktor risiko bagi 75,5% remaja secara keseluruhan, dan bagi 80% di antara mereka yang aktif secara fisik/beraktifitas fisik berat, risikonya bahkan lebih tinggi; bagi 50% di antara mereka yang tidak aktif secara fisik/aktifitas ringan, risikonya sebesar 50%, sedangkan bagi 50% sisanya, risikonya sama sekali tidak tinggi. Aktivitas fisik intens pada remaja sebagian besar disebabkan oleh tuntutan akademis dan klinis yang ketat, bukan oleh olahraga terorganisir yang justru mengurangi risiko hipertensi; oleh karena itu, kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi tetap ada meskipun aktivitas tersebut dianggap berat. Hipertensi tidak selalu disebabkan oleh olahraga ringan karena risikonya bersifat kompleks, yang berarti tidak hanya satu faktor yang meningkatkan risiko tersebut. Sebaliknya, sejumlah faktor berbeda dapat saling berkontribusi sehingga meningkatkan risiko tersebut.
Co-Authors Aby Yazid Al Busthomy Ro i’i Amirotun Mustainah Andiva Wardani Putri Zahroh Anita Joeliantina Anita Lontaan Apriliana, Wulan Ardena Regita Pramesti Arifah Nursanti Astuti Setiyani, Astuti Ayu Firnanda, Devi Azaro, Devia Fatimatus Bambang Hadi Sugito Bintang Aurellion Dianny Binti Yunariyah, Binti Cahyani, Mirna Tri Christi Sanjaya, Ade Darjati Davis Khoirul Akmal Dedi Kurniawan Demes Nurmayanti Eko Saputro, Ervanda Endarini, Lully Hani Evi Yunita N Hadi Suryono Hanyokro Bagus Prastyo Happy April Yanita Hermin Istirahayu Hibatullah Aditya Prabawa Atmaja Hindaryani, Nurul Indah Lestari, Indah Ira Puspita Sari Irianti, Dhevina Yogi Ara Isa Zaqi, Faiz Isfentiani, Dina Jerry Rian Ardiansyah Juliana Christyaningsih Juliarti Indah Putri Kartika Rahayuningsih, Christ Khambali, Khambali KHOIRUNNISA Khusnul Maisaroh Kiaonarni OW Larissa Eka Afianti Lembunai Tat Alberta, Lembunai Tat Lintang Padharani Atmajaningtyas Lutfatul Khoiriyah Mamluatun Ni’mah Moch. Bahrudin Mochammad Anselmo Ega Putra Wicaksono Muflihatul Maisah Muhammad Kamalul Kahfi Mutiarawati, Diah Titik N. S. Widodo Nabila Nur Cahyani Nendyo Yogiisworo, Ilham Neng Esti Wibowo noer saudah Nugraheni, Wahyuningsih Triana Nur Cahyani, Nabila Nur Hatijah Nurjanah, Noviatul Padoli Pengge, Nuning Marina Puspita Aliffia Rosanti, Yulia Roudlotul Jannah Sasongkowati, Retno Sekar Difa Ahwal Respati Setyaningsih . Shafira Salsa Adinda Shovia Mei Sanggar Wati Siagian, Hotmaida Siti Alfiah Siti Maimuna SRI UTAMI SU'UDI Suliati Suliati Sumasto, Hery Su’udi Su’udi Su’udi Tanty Wulan Dari Titik Sumiatin Wahyu Tri Ningsih Wahyuningsih TN Wahyurianto, Yasin Yasin Wahyuriyanto Yusianti Silviani Zahra Aulia Sari