Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN RESILIENSI UNTUK PENGUATAN KESEHATAN MENTAL WANITA PEKERJA MIGRAN INDONESIA DI SINGAPURA: Resiliensi, Kesehatan Mental, Pekerja Migrant Indonesia Diana Rahmasari; Retno Tri Hariastuti; Wiwin Yulianingsih; Utari Dewi; Nunuk Hariyati; Vinda Maya Setianingrum; Ira Darmawanti
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 2 No. 1 (2024): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v2i1.29416

Abstract

Abstrak Pelatihan resiliensi penting diberikan mengingat sejumlah masalah yang menjadi stressor bagi para wanita PMI diantaranya penyesuaian diri dengan kebiasaan baru, bahasa yang berbeda, cara dan gaya hidup bahkan pada konsumsi kebutuhan sehari-hari. Selain itu jauh dari keluarga yang dapat menimbulkan masalah komunikasi interaksi, sebagai tulang punggung dengan tuntutan ekonomi dari keluarga di Indonesia, beban dan tuntutan kerja. Berbagai hal tersebut dapat menjadi stressor yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan, stress bahkan depresi dengan perilaku bunuh diri yang kerap muncul.Penulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya pemberian pelatihan resiliensi untuk pemberdayaan kesehatan mental para wanita Pekerja Migrant Indonesia (PMI) di Singapura dengan memberikan pelatihan resiliensi. Pelatihan dilakukan di Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) untuk Singapura. Kegiatan pelatihan resiliensi diikuti oleh sekitar 20 orang PMI yang hadir secara langsung di KBRI Singapura Metode yang digunakan adalah pelatihan dan pendampingan. Pelatihan resiliensi untuk  pemberdayaan kesehatan mental para wanita PMI diberikan dengan bentuk psikoedukasi yang terdiri dari ceramah pentingnya menjaga kesehatan mental, mengenali perbedaan kecemasan, stres dan depresi serta pentingnya manajemen stres dilanjutkan dengan praktik latihan resiliensi teknik afirmasi diri, penguatan emosi dengan berpikir positif serta meditasi-self hypnosis-Butterfly Hug. Pasca kegiatan pemberdayaan, diberikan self report untuk mengukur kondisi psikologis yang dirasakan setelah mengikuti pelatihan resiliensi. Melalui analisis statistic deskriptif sederhana diperoleh data 70% % para PMI merasakan bangga, berharga, dan bahagia serta mendapatkan pemahaman mengenai cara mengelola stres dengan teknik sederhana yang mudah dipahami dan diterapkan. Sisanya merasa biasa karena merasa tidak memiliki permasalahan psikologis yang berarti. PMI yang merasa memiliki masalah berat melakukan konseling secara online dengan Ketua PKM. Kegiatan mendapatkan apresiasi dari pihak kedubes dan disnaker pusat yang menyatakan pelatihan resiliensi penting mengingat kejadian depresi dan bunuh diri masih banyak muncul PMI. Mengacu pada hasil tersebut, kegiatan pemberdayaan dengan pelatihan resiliensi memiliki nilai penting dan kebermanfaatan nyata dalam menjaga kesehatan mental para wanita PMI sebagai pahlawan devisa negara Indonesia.
Proses Experiential Learning dalam Pendidikan Informal Perempuan Neayan dalam Penguatan Ekonomi Keluarga di Desa Labuhan Kabupaten Lamongan Muyun Nengse; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 15 No. 1 (2026): J+PLUS, Juni 2026
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan nelayan memiliki peran penting dalam mendukung penguatan ekonomi keluarga melalui aktivitas pengolahan hasil perikanan, salah satunya sebagai buruh penjemur ikan. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi ruang berlangsungnya pembelajaran berbasis pengalaman dalam pendidikan informal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses experiential learning dalam pendidikan informal bagi perempuan nelayan serta menganalisis kontribusinya terhadap penguatan ekonomi keluarga di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian terdiri atas perempuan nelayan yang bekerja sebagai buruh penjemur ikan dan pemilik usaha penjemuran ikan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses experiential learning berlangsung melalui pengalaman langsung, refleksi, pembentukan pemahaman, dan penerapan pengetahuan dalam aktivitas kerja sehari-hari. Proses tersebut membentuk pengetahuan, keterampilan, kemampuan beradaptasi, dan kemandirian perempuan nelayan. Selain itu, experiential learning berkontribusi terhadap penguatan ekonomi keluarga melalui peningkatan keterampilan, pendapatan, pemenuhan kebutuhan rumah tangga, dukungan terhadap pendidikan anak, serta penguatan peran ekonomi perempuan. Dengan demikian, lingkungan kerja penjemuran ikan menjadi ruang pendidikan informal yang mendukung penguatan ekonomi keluarga.
Optimizing Google Documents as an Innovation Media for Effective and Sustainable School Literacy Habits Siti Arofah; Wiwin Yulianingsih; M. Syahidul Haq
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 20, No. 4 : Al Qalam (In Progress July 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v20i4.6219

Abstract

The low reading literacy achievement of Indonesian students, as reflected in the 2022 Programme for International Student Assessment (PISA) scores and the Education Report of SMAN 1 Ngoro Mojokerto, demonstrates the need for strategic innovation in strengthening school literacy culture. Reading and writing literacy are the main foundations for developing critical, reflective, and communicative thinking skills needed to realize the vision of Golden Indonesia 2045. This innovation project aims to (1) describe the understanding of SMAN 1 Ngoro Mojokerto residents regarding the importance of literacy, (2) analyze the implementation of the ongoing literacy culture, and (3) formulate strategies for improving literacy culture through the use of digital technology. The method used is a descriptive-qualitative approach based on best practices with document analysis, Education Report data, and evaluation of innovation programs. The innovation developed is the "Waca Beli Onday OgeDoc" program (School Residents Literacy Reading and Writing One Day on Google Docs), which integrates daily reading and writing activities for 20 minutes using the Google Docs platform. An analysis of innovation diffusion using Rogers' theory shows that this program meets five innovation attributes: relative advantage, appropriateness, manageable complexity, testability, and observability. Implementation results showed an increase in school literacy scores to 88.9% (good category) and the birth of a tangible product in the form of a student short story anthology book with QR CBN. These findings confirm that the integration of digital technology-based reading and writing literacy is effective in building a productive and sustainable literacy culture in secondary schools.
Strengthening Local Culture through Informal Education in the Era of Society 5.0 wiwin yulianingsih; Sjafiatul Mardliyah; Ali Yusuf; Diana Rahmasari; Frimha Purnamawati; Ganes Gunansyah; M Fahmi Zakariyah
Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran Vol. 8 No. 3 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jp2.v8i3.102302

Abstract

In the era of Society 5.0, the preservation of local culture faces serious challenges due to the rapid flow of modernization and digitalization. This condition demands an adaptive value transmission strategy to prevent cultural identity from being eroded by developments. This study aims to analyze the role of informal education in strengthening local culture amidst the dynamics of modern society. The study used a qualitative approach with a case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with 15 informants, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model. The subjects of this study were traditional leaders, village elders, parents, local youth, and participants in religious rituals. The results show that informal education takes place actively through family roles, involvement in traditional rituals, and intergenerational collaboration. Cultural values are inherited naturally through social practices without relying on the formal education system or digital technology. These findings confirm that community-based informal education is highly effective in maintaining cultural identity and building social resilience. The implications of this study provide a basis for developing contextual educational strategies relevant to the challenges of the digital era and modernization.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Prososial Anak Usia 6-8 Tahun di Desa Lebanisuko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik Claresta Antonia; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku prososial anak usia 6-8 tahun. Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena di digitalisasi yang membawa perubahan signifikan dalam kehidupan sosial dan keluarga, serta kekhawatiran terhadap menurunnya perilaku prososial pada anak-anak. Dengan dibuktikanya anak-anak kurang menunjukkan perilaku bersosialisasi dan interaksi di kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian untuk meneliti pola asuh otoriter, demokratis, permisif dengan perilaku prososial anak di desa Lebanisuko. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada orang tua, akademisi, dan masyarakat mengenai pentingnya pola asuh yang tepat dalam membentuk perilaku prososial anak. Penelitian ini mengunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulakan dari orang tua yang memiliki anak usia 6-8 tahun di desa lebanisuko. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 70 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner pola asuh orang tua dan kuesioner perilaku prososial anak. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji linearitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara antara pola asuh demokratis dengan perilaku prososial anak. kemudian pola asuh otoriter dan permisif tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku prososial anak. penelitian ini memberikan implikasi bahwa pola asuh demokratis yang menekankan pada komunikasi, kehangatan, dan pemberian tanggung jawab, lebih efektif dalam mengembangkan perilaku prososial anak.  
Peran Orang Tua dalam Melatih Kemandirian Anak Usia Dini Melalui Pembelajaran Informal di SPS Lely Desa Kuluran Kabupaten Lamongan Fihima Arisindi Salsabilah; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran orang tua dalam pembelajaran informal untuk melatih kemandirian anak usia dini di SPS Lely Desa Kuluran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa peran orang tua sebagai pendidik, fasilitator, dan motivator di rumah berpengaruh terhadap kemandirian anak.  Bentuk keterlibatan tersebut secara signifikan berkontribusi dalam pengembangan aspek kemandirian anak, seperti kemampuan fisik, percaya diri, tanggung jawab, disiplin, kemampuan sosial, dan pengendalian emosi. Evaluasi terhadap efektivitas pembelajaran informal mengungkapkan adanya faktor pendukung seperti komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, serta motivasi orang tua untuk terlibat. Namun, terdapat pula hambatan seperti keterbatasan waktu dan pemahaman orang tua terhadap strategi pembelajaran yang tepat. Dengan demikian, kolaborasi aktif antara orang tua dan lembaga pendidikan menjadi kunci dalam membentuk karakter mandiri pada anak usia dini.
Hubungan Penggunaan Game Online Edukatif Piano Kids dengan Perkembangan Kognitif Pada Anak Usia 5-6 Tahun di Desa Banjargondang Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan Nava Wardani; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan game online edukatif Piano Kids dengan perkembangan kognitif anak usia 5–6 tahun di Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. Game edukatif seperti Piano Kids diyakini mampu memberikan stimulasi kognitif yang bermanfaat bila digunakan secara tepat dan terarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Sampel penelitian terdiri dari 30 anak usia dini beserta orang tua dan guru sebagai responden pendukung. Instrumen pengukuran mencakup indikator penggunaan game online seperti durasi dan frekuensi, serta aspek perkembangan kognitif berdasarkan teori Piaget, yang meliputi kemampuan berpikir logis, daya ingat, kreativitas, pemecahan masalah, dan bahasa. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara penggunaan game online edukatif Piano Kids dengan perkembangan kognitif anak. Hasil uji Pearson menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,681 dengan signifikansi 0,000, yang berarti semakin tinggi penggunaan game ini secara terkontrol, maka perkembangan kognitif anak cenderung lebih baik. Temuan ini memperkaya literatur pendidikan luar sekolah dan dapat menjadi rujukan bagi orang tua dan pendidik dalam mengarahkan aktivitas digital anak secara positif. Penggunaan game edukatif Piano Kids berhubungan positif dan signifikan dengan perkembangan kognitif anak usia 5–6 tahun di Desa Banjargondang. Jika digunakan secara terkontrol, game ini dapat merangsang kemampuan kognitif seperti daya ingat, kreativitas, logika, pemecahan masalah, dan bahasa. Temuan ini menunjukkan bahwa media digital dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pembelajaran nonformal di era teknologi.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengelolaan Desa Wisata Batik Tulis di Desa Jetis Lemah Putro, Kabupaten Sidoarjo Jannatun Ni'mah; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan desa wisata Batik Tulis sebagai bentuk pengembangan ekonomi berbasis budaya lokal di Desa Jetis Lemah Putro, Kabupaten Sidoarjo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi dan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pelatihan membatik, pembentukan kelembagaan seperti koperasi dan Pokdarwis, pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi lintas sektor. Faktor pendukung meliputi partisipasi masyarakat, komitmen pemerintah, serta potensi budaya lokal yang kuat. Sementara itu, tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya minat generasi muda, keterbatasan modal dan akses pasar, serta kurangnya inovasi produk. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan desa wisata berbasis potensi lokal dapat menjadi instrumen efektif dalam pemberdayaan masyarakat jika didukung oleh strategi berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Peran Guru Melalui Pendidikan Karakter Islami dalam Meningkatkan Social Sensitivity Anak Usia Dini di Kelompok Bermain (KB) Durratul Yatimah Sidoarjo Tyas Ambarwati; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru melalui pendidikan karakter Islami dalam meningkatkan social sensitivity pada anak usia dini di KB Durratul Yatimah Sidoarjo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu: (1) wawancara mendalam dengan kepala KB, guru, dan orang tua peserta didik; (2) observasi langsung terhadap lingkungan sekitar KB, sarana dan prasarana, peran guru, perilaku anak, serta kegiatan pembelajaran yang berlangsung; dan (3) dokumentasi, meliputi laporan kegiatan pembelajaran, catatan perkembangan anak, aktivitas interaksi anak, serta dokumen pendukung lainnya. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menumbuhkan social sensitivity pada anak usia dini. Selain berperan sebagai pendidik, guru juga berfungsi sebagai teladan, motivator, dan fasilitator. Penerapan nilai-nilai karakter Islami, seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, kerja sama, dan saling menghormati, terbukti efektif dalam meningkatkan kepekaan sosial anak. Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor pendukung, antara lain: keteladanan guru dalam menerapkan nilai-nilai Islami, keterlibatan aktif orang tua, lingkungan yang kondusif dan religius, sarana pembelajaran yang memadai, serta program pembiasaan yang terstruktur. Meskipun demikian, penerapan nilai-nilai tersebut masih menghadapi tantangan berupa faktor penghambat internal (dalam diri anak) dan eksternal (lingkungan sekitar anak).
Hubungan Pembelajaran Humanistik dengan Kemandirian Belajar Peserta Didik di Kampoeng Sinaoe, Buduran Kabupaten Sidoarjo Atika Sabrina; Wiwin Yulianingsih
J+PLUS UNESA Vol. 15 No. 1 (2026): J+PLUS, Juni 2026
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan mendasar akan kemandirian belajar dari peserta didik dalam menghadapi tantangan pendidikan yang lebih kompleks, terutama dalam pendidikan nonformal. Kampoeng Sinaoe sebagai lembaga pendidikan nonformal menerapkan pembelajaran humanistik melalui berbagai program pembentukan karakter dan kepemimpinan. Program yang diterapkan meliputi Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat, mentoring personal dan coaching, serta kegiatan Cafe Sinau (Karya Nyata Kader) yang dikelola langsung oleh peserta didik. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan tutor berperan sebagai fasilitator sehingga peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional untuk menganalisis hubungan pembelajaran humanistik dengan kemandirian belajar peserta didik. Sampel berjumlah 40 siswa (anak kader) dengan dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui kuisioner skala likert yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis data mencakup uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi Spearman Rank karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi Spearman Rank adalah 0,875 dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000 < 0,05. Nilai tersebut berada pada kategori sangat kuat dan menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pembelajaran humanistik dengan kemandirian belajar peserta didik. Artinya, semakin baik penerapan prinsip-prinsip pembelajaran humanistik seperti empati, penerimaan tanpa syarat, kebebasan berekspresi, dan pengalaman belajar yang bermakna, maka semakin tinggi tingkat kemandirian belajar peserta didik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran humanistik memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kemandirian belajar para peserta didik di Kampoeng Sinaoe. Metode pembelajaran yang fokus pada peserta didik terbukti membantu menciptakan individu yang mandiri, bertanggung jawab, serta mampu mengelola proses belajarnya secara optimal.