Claim Missing Document
Check
Articles

The Effectiveness of Onion Extract Allium sativum to Prevent Koi Herpesvirus (KHV) Infection on Common Carp Cyprinus carpio Nuryati, Sri; Giri, P.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.988 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.139-150

Abstract

Common carp is one of consumption fish that has delicious meat, high pritein level, and easy in farming. The serious problem in common carp farming is koi herpesvirus infection.  Onion extract potency to improve immune system was estimated to prevent disease infection.  The testing of the garlic extract through food could be used as efforts to increase endurance of common carp fish Cyprinus carpio to koi herpesvirus infection that was considered from blood parameter. Fish that was used was measuring 9-11 cm with the treatment of food containing  30, 50, and 70 gr/100 ml onion extract. Fish was acclimated for seven days  in 60×30×30 cm3 aquarium before used. Garlic extract diet in food gave increasing of fish immune system that was infected by koi herpesvirus. The increased of leucocytes of blood fish with onion extract diet was faster than possitive control. The dose of B treatment (50 gr/100 ml) was the best dose gave short incubation periode comparing other treatment. Survival rate (SR) of this B treatment was highest, i.e. 91.7%, while survival rate of negative control was 50%. Key word: common carp, Cyprinus carpio, onion, Allium sativum, koi herpesvirus   ABSTRAK Salah satu jenis ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari oleh masyarakat adalah ikan mas Cyprinus carpio karena rasa dagingnya gurih, memiliki kadar protein tinggi dan cukup mudah dalam pemeliharaannya. Permasalahan yang muncul  saat ini adalah wabah Koi Herpes Virus (KHV). Potensi ekstrak bawang putih sebagai anti mikroba spektrum luas, diduga dapat mengobati dan mencegah penyakit ikan. Pengujian bawang putih secara in vivo melalui pakan dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio terhadap infeksi penyakit KHV yang ditinjau dari gambaran darahnya. Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas berukuran 9-11 cm dengan perlakuan pakan yang mengandung bawang putih sebanyak 30, 50, dan 70 gr/100 ml. Sebelum dilakukan penelitian ikan diadaptasikan selama 7 hari pada akuarium berukuran 60×30×30 cm3. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak bawang putih efektif untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi oleh Koi Herpes Virus (KHV). Pengamatan gambaran darah ikan yang terinfeksi KHV setelah pemberian ekstrak bawang putih selama 30 hari dapat meningkatkan jumlah leukosit lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif. Peningkatan jumlah limfosit dalam darah mampu meningkatkan pertahanan tubuh. Peningkatan jumlah leukosit ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah limfosit dan penurunan jumlah monosit. Perlakuan B (50 gr/100 ml) merupakan dosis yang paling baik karena masa inkubasi KHV terlewati lebih cepat dibanding perlakuan lain yang ditandai dengan penurunan jumlah leukositnya. Hal ini didukung oleh gejala klinis yang ringan dibandingkan kontrol positif dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi sebesar 91,7%. Sedangkan pada kontrol negatif kelangsungan hidupnya sebesar 50%. Kata kunci: ikan mas, Cyprinus carpio, bawang putih, Allium sativum, KHV dan Herpes
The Used of Paci-Paci Leaves Extract Leucas sp. to Prevent Mycotic Disease Nuryati, Sri; Suparman, M.A.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.282 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.205-212

Abstract

Injury of fish caused by handling of fry transportation and harvesting could impact mycosis. Effort on controlling by using chemotherapeutic could impact on pollution of environtment and even  carcinogenic effect. One of alternative substances  can be used in both preventing and controlling safely is paci-paci, Leucas sp. This method based on phytopharmacy.  The aim of this research is to test the prevention of paci-paci leaves extract to mycotic disease .  This research used five treatments: possitive control; the doses of paci-paci  extract were 0 gr/l (negative control); 0.5 gr/l; 1 gr/l and 1.5 gr/l by using the gurami, Osphronemus gouramy Lac. That was measuring 7-9 cm. The method that was used is the short-term submersion (short baths) for 24 hours.  Paci-paci extract can reduced the fungal infection and hindered the growth of Saprolegnia sp. colonies.  Descriptively, the paci-paci extract (the treatment of the extract 0.5 gr/l; 1 gr/l; 1.5 gr/l) could prevent the Saprolegnia sp. infection with the successive prevalence 33.3 %; 22.2 %; 0 %. Keyword: Osphronemus gouramy, paci-paci, Leucas sp. and mycosis   ABSTRAK Luka-luka pada tubuh ikan baik yang disebabkan penanganan pada saat pengangkutan maupun panen benih berpeluang menimbulkan penyakit mikotik yang disebabkan oleh cendawan. Upaya pengendalian menggunakan obat-obatan kimia berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan bahkan ada yang bersifat karsinogenik. Salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan dengan aman dalam upaya pencegahan dan pengendalian tersebut adalah paci-paci, Leucas sp. yang merupakan metode berbasis fitofarmaka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ekstrak daun paci-paci pada pencegahan penyakit mikotik. Penelitian ini menggunakan lima perlakuan yaitu kontrol positif; dosis ekstrak 0 gr/l (kontrol negatif); 0,5 gr/l; 1 gr/l dan 1,5 gr/l dengan menggunakan ikan gurame, Osphronemus gouramy Lac. yang berukuran 7-9 cm. Metode yang digunakan yaitu perendaman jangka pendek (short baths) selama 24 jam. Dengan metode tersebut ternyata ekstrak paci-paci dapat mengurangi timbulnya infeksi dan menghambat pertumbuhan koloni cendawan Saprolegnia sp. Ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya nilai prevalensi dan diameter koloni jika dibandingkan dengan kontrol positif. Secara deskriptif, ekstrak paci-paci (perlakuan ekstrak 0,5 gr/l; 1 gr/l; 1,5 g/l) dapat  mencegah  serangan   Saprolegnia sp. dengan prevalensi berturut-turut 33,3 %; 22,2 %; 0 %. Kata kunci: Gurame, Osphronemus gouramy, Paci-paci, Leucas sp. dan mikotik
Control of Polychaetes by Dipping Infected Pearl Oyster on Different Salinity Hadiroseyani, Yani; Iswadi, .; Djokosetyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.058 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.29-31

Abstract

Dip treatment on pearl oysters (Pinctada maxima) was conducted in different concentrations of saline water to eliminate boring polychaetes. Results shows that polychaetes leave the oysters which treated on saline water at 0 ppt, 45 ppt, and 60 ppt as long as 15 minutes each. It also shows that the oysters got high survival rate 7 days after the treatment. Key words: Pearl oyster, Pinctada maxima, polychaetes, salt, dipping, survival rate  
Control of Ectoparasitic Monogenean Infestation on GIFT Tilapia (Oreochromis sp.) using Salt Addition Hadiroseyani, Yani; Harti, L.S.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.274 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.135-145

Abstract

Ectoparasitic monogenean infestation is one of fish diseases which may cause mass mortality, therefore controlling the parasites is one of the important factors to ensure the success of aquaculture activities. Salt addition is one of disease curative and controlling techniques which is cheap, easy and environmental friendly as well as effective to control ectoparasites in freshwater environment. The objectives of this study were to examine monogenean parasites species in GIFT (Genetically Improved Farmed Tilapia) tilapia, their tolerance to salt concentration and the most effective salt concentration to control the parasites. Identification, intensity and prevalence of parasitic monogenean were carried out on the external parts (body surface, fins and gills) of 31 fishes. Subsequently, two different experiments were carried out  to determine parasites and fish resistance on various salt concentration at a range of 0 - 24 g/l with an interval of 2 g/l. To confirm the results of previous experiment, parasites infected fish was immersed in salt water at various concentration based on previous experiments. Two genera of monogenean were identified in GIFT tilapia, i.e. Gyrodactylus sp. on body surface and fins, and Cichlidogyrus sp. on gills with the same prevalence (100%). The intensity of those parasites was different, namely 27.84 ind/fish for Gyrodactylus sp. and 6.06 ind/fish for Cichlidogyrus sp. The intensity of both parasites was found to be lower as salt concentration increase. Salt concentration of 24 g/l was the most effective concentration to reduce parasites infestation and could totally treat the infested fish within 6 days. Keyword : tilapia, Oreochromis, monogenea, parasite and salt     ABSTRAK Serangan monogenea ektoparasitik merupakan salah satu masalah penyakit ikan yang dapat menyebabkan kematian masal, sehingga pengendaliannya merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam usaha budidaya. Garam merupakan agen penyembuh atau pengendali penyakit yang murah, mudah didapat, ramah lingkungan dah efektif untuk mengendalikan ektoparasit pada lingkungan air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis monogenea yang menyerang ikan nila, kisaran toleransinya terhadap kadar garam air dan efektifitas kadar garam yang dapat menekan perkembangannya tanpa membahayakan inang. Identifikasi, intensitas dan prevalensi monogenea yang menyerang dilakukan melalui pemeriksaan eksternal (permukaan tubuh, sirip dan insang) 31 ekor ikan nila gift. Kemudian penentuan kisaran salinitas monogenea dan ikan inang dilakukan dengan menguji daya tahan parasit dan ikan pada salinitas 0 - 24 g/l dengan selang 2 dilanjutkan dengan penelitian perendaman ikan yang terinfeksi monogenea dalam air garam dengan salinitas berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat dua genus monogenea yang menyerang ikan nila yaitu Gyrodactylus sp. pada permukaan tubuh dan sirip serta Cichlidogyrus sp. pada insang dengan prevalensi mencapai 100%. Namun intensitas kedua parasit tersebut ditemukan berbeda yaitu 27,84 ind/ekor untuk Gyrodactylus sp. dan Cichlidogyrus sp. sebesar 6,06 ind/ekor. Intensitas Gyrodactylus sp. menurun dengan meningkatnya konsentrasi garam, begitu juga dengan intensitas Cichlidogyrus sp. Konsentrasi 24 g/l merupakan konsentrasi garam yang paling cepat untuk mengurangi serangan parasit tersebut pada ikan dibandingkan konsentrasi 12 dan 0 g/l. Bahkan dapat membebaskan ikan dari infeksi parasit tersebut dalam waktu hari 6 hari. Kata kunci : nila, Oreochromis, monogenea, parasit dan garam.
Parasites infestation on juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) nursed in net cage at Sea Farming Instalation Kepulauan Seribu, Jakarta Hadiroseyani, Yani; Effendi, Irzal; Rahayu, Agnis Murti; Arianty, Heni Sela
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.144 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.140-145

Abstract

This study was aimed to identify fauna parasite of juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) on the two locations of floating net at Floating Net Sea Farming Center, Pulau Seribu Jakarta. A total of five tiger grouper fry from each location, checked every two weeks during the nursery period in August-September 2008 and June-August 2009. Parasites of young tiger grouper found were protozoa (Trichodina and myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, and isopods Alitropus. Diplectanum infestation was dominant with prevalence reached 100% and the average intensity of 2,87-72,8. Fish nursed in the Perairan Pulau Semak Daun was more susceptible compared to the fish nursed in Pulau Karang Congkak. Keywords: tiger grouper, parasite, infestation, Seribu Island. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit yang menyerang benih kerapu macan pada masa pendederan dalam karamba jaring apung di dua lokasi Karamba Jaring Apung Balai Sea Farming, Kepulauan Seribu, yaitu di Perairan Pulau Semak Daun dan Perairan Pulau Karang Congkak. Sebanyak 5 ekor benih kerapu macan dari masing-masing lokasi, diperiksa setiap minggu selama dua periode pendederan pada bulan Agustus-September 2008 dan bulan Juni-Agustus 2009. Fauna parasit benih kerapu macan pada masa pendederan dalam jaring apung tersebut meliputi protozoa (Trichodina dan myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, dan isopoda Alitropus. Diplectanum merupakan parasit yang mendominasi dengan prevalensi mencapai 100% dan intensitas rerata 2.87–72,8. Pada Perairan Pulau Semak Daun lebih banyak ditemukan jenis parasit dengan prevalensi dan intensitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan Perairan Pulau Karang Congkak.Kata kunci: ikan kerapu macan, parasit, infestasi, Pulau Seribu.
The addition of salt in the water media containing zeolite and active charcoal on closed system transportation of gourami fish fry Osphronemus goramy Lac. Nirmala, Kukuh; Hadiroseyani, Yani; Widiasto, Riza Purbo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.792 KB) | DOI: 10.19027/jai.11.190-201

Abstract

Transportation of fish fry with high density in closed system will reduce levels of O2, increasing CO2 and NH3, will also elevate the fish stress so that increase fish mortality. To reduce the effects of increased CO2 and NH3 can be applied by using zeolite and activated charcoal, while to reduce the fish stress is through the addition of salt. This study aims to determine the dose of salt added into the water containing zeolite and activated charcoal in a closed transportation system with a high fry density for 72 hours. The study was conducted two stages, namely the preliminary study and the primary study. The preliminary study involved the observation of the survival rate of fish fry during fasting, oxygen consumption rate of fish fry, the rate of total ammonia nitrogen (TAN) excretion of fish fry, and the adsorption capacity of TAN by zeolite and activated charcoal. In the primary study, fry transport simulations was carried out for 72 hours in the laboratory. Gourami fry (body length of 4 cm and body weight of 1.7 g) with the fry density of 50 fish/L were placed in the packing bag which has been filled with zeolite as much as 20 g/L and activated charcoal as much as 10 g/L. The study used a completely randomized design with five treatments and two replications: A: blank (without zeolite, activated charcoal, and salt), B: control (20 g/L zeolite+10 g/L activated charcoal), C: 20 g/L zeolite+10 g/L activated charcoal and 1 g/L salt, D: 20 g/L zeolite+10 g/L activated charcoal and 3 g/L of salt, and E: 20 g/ L zeolite+10 g/L activated charcoal and 5 g/L salt. The results of preliminary study showed that the survival rate of fish fry was 100% and active swimming for five days without food, the level of oxygen consumption as much as 1340.28 mgO2, produce NH3 as much as 22.64 mg/L, while zeolite and activated charcoal adsorbs >50% of TAN in time of 120 seconds. In the primary study, the survival rate of fish fry during the 72-hour transportation for treatments A, B, C, D, and E, were 0%, 57%, 59%, 65% and 74%, respectively. Treatment E with survival rate of 74% was obtained at NH3 concentration of 0.016±0.069 mg/L and CO2 as high as 89.89 mg/L while the DO of 4.26 mg/L. The highest growth and survival rate of fry for 17 days post-transportation was treatment E, accounting to 2.95% and 100%, respectively.Keywords: zeolite, active charcoal, closed system transportation, survival rate, gourami fish
Growth of tiger shrimp Penaeus monodon post-larvae fed on Artemia containing Vibrio SKT-b probiotic Widanarni, .; Hadiroseyani, Yani; Sutanti, Asri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2764.225 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.79-85

Abstract

ABSTRACT Application of probiotic bacteria is an alternative technology to increase shrimp production in an environmentally friendly aquaculture. Administration of probiotic bacteria can be conducted through artificial feed or live food such as Artemia. This study was done to examine the effectiveness of various doses of probiotic Vibrio SKT-b through Artemia on the growth and survival of post-larval shrimp. Tiger shrimp at a stage of PL 10 was reared in glass jars filled with 2 L of sea water at a density of 10 larva/L. The study consisted of five probiotic concentrations control (0 cfu/mL), A (103 cfu/mL), B (104 cfu/mL), C (105 cfu/mL), and D (106 cfu/mL). Administration of various doses of probiotic bacteria Vibrio SKT-b through Artemia significantly increased the growth rate in term of the length and weight, but had no effect on survival. The results found that treatment D (106 cfu/mL) gave an increase in body weight, length and survival rate of 22.53%/day, 0.080 cm/day and 95%, respectively. Keywords: probiotic, Artemia, tiger shrimp  ABSTRAK Aplikasi bakteri probiotik merupakan salah satu alternatif teknologi untuk meningkatkan produksi budidaya udang yang ramah lingkungan. Pemberian bakteri probiotik dapat dilakukan melalui pakan buatan atau pakan alami seperti Artemia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian berbagai dosis bakteri probiotik Vibrio SKT-b melalui Artemia terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup pascalarva udang windu. Stadia udang windu yang digunakan adalah pascalarva (PL) 10. Udang dipelihara dalam wadah kaca volume 3 L yang diisi air laut 2 L dengan kepadatan 10 ekor/L. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan yaitu kontrol (dosis bakteri probiotik 0 cfu/mL), A (103 cfu/mL), B (104 cfu/mL), C (105 cfu/mL), dan D (106 cfu/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis bakteri probiotik Vibrio SKT-b melalui Artemia berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan panjang dan bobot, namun tidak berpengaruh terhadap nilai kelangsungan hidup. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D (106 cfu/mL) dengan pertumbuhan bobot 22,53%/hari, pertumbuhan panjang 0,08 cm/hari, dan sintasan 95%. Kata kunci: probiotik, Artemia, udang windu
Production of giant gourami Osphronemus goramy Lac. juvenile with different rate of water exchange Budiardi, Tatag; Ginting, Rona Albrettico Nemanita; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.284 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.144-153

Abstract

ABSTRACTGiant gourami Osphronemus goramy Lac. is one of the most important fresh water fish commodities with increasing production level every year. Water quality management through a proper water exchange both in quantity and quality can be one of the alternatives to support the elevating production. This research was conducted from July to August 2010 at the Aquaculture Production Technology and Management Laboratory, Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Science, Bogor Agricultural University. The juvenile used was 0.84±0.011 cm in length and 0.017±0.001 cm in weight which reared in nine units of aquaria with a size of 60×29×33 cm3. Silk worm was used as the feed and provided daily at satiation. Water exchange was performed twice a day at a level depending on the treatment, namely 75% (50% at morning and 25% at evening), 100% (50% at morning and evening) and 125% (75% at morning and 50% at evening) of total water volume. Water exchange at 75%, 100%, and 125%/day resulted in survival rates of 94.11±0.63%; 91.89±2.02%; and 93.89±0.75%; specific growth rates of 7.43±0.15%, 8.58±0.24%, and 9.97±0.18%. Growth rate in length of 1.06±0.06 cm, 1.33±0.04 cm, and 1.55±0.01 cm; coefficient of variation in length of 11.31±1.43%, 9.35±1.46%, and 6.90±2.30%; feed efficiency of 12.47±0.30%, 14.32±1.05%, and 19.67±0.54%. The financial benefits resulted of the process were worth of IDR.351,903.00; IDR.402,302.00; and IDR.464,715.00; whereas R/C ratio of 1.71; 1.80; dan 1.90; BEP of 1,845 unit, 1,645 unit, and 1,517 unit; payback period (PP) of 0.97 years, 0.85 years, and 0.74 years; and the cost production as much as IDR.79.90; IDR.82.70; and IDR.82.90/individual, respectively. The treatments were significantly different on several parameters, such as specific growth rate, length of growth rate, feed efficiency at p<0.05. The results of this experiment showed that 125% daily water exchange improved the production performance of giant gourami juvenile cultured at a density of 20 fish/L. For production purpose, rearing giant gourami fish 2 cm in size at a density of 20 fish/L was found as the optimum condition through 125%/day water exchange.Keywords: water exchange, survival rate, growth, gourami fishABSTRAKIkan gurami Osphronemus goramy Lac. merupakan salah satu komoditas penting ikan air tawar dengan produksi yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pengelolaan kualitas air dengan penggantian air yang tepat secara kualitas dan kuantitas dapat menjadi salah satu jawaban dalam meningkatkan produktivitas budidaya ikan gurami. Benih ikan yang digunakan dalam penelitian berukuran panjang rata-rata 0,84±0,011 cm dan bobot tubuh rata-rata 0,017±0,001. Wadah yang digunakan berupa akuarium berukuran 60×29×33 cm3 sebanyak sembilan unit, dengan kepadatan 20 ekor/L. Pakan yang diberikan berupa cacing sutra secara at satiation. Perlakuan berupa pergantian air yaitu: 75% (50% pagi dan 25% sore), 100% (50% pagi dan 50% sore) dan 125% (75% pagi dan 50% sore) dari total volume air pemeliharaan. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian air berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan bobot dan panjang, serta efisiensi pakan, sedangkan kelangsungan hidup dan koefisien keragaman panjang tidak berbeda nyata antar perlakuan (p>0,05). Laju pertumbuhan dan efisiensi pakan tertinggi (p<0,05) diperoleh pada perlakuan pergantian air 125%, yaitu laju pertumbuhan bobot 9,97±0,18%, pertumbuhan panjang mutlak 1,55±0,01 cm, dan efisiensi pakan 19,67±0,54%. Kelangsungan hidup benih ikan gurami berkisar antara 91,89‒94,11. Pemeliharaan benih ikan gurami dengan mengganti air 125%/hari juga memberikan keuntungan tertinggi, yakni Rp464.715,-. Dengan demikian, pendederan benih ikan gurami sebaiknya dilakukan dengan pergantian air 125%/hari.Kata kunci: pergantian air, kelangsungan hidup, pertumbuhan, ikan gurami
Business evaluation of Pangasionodon hypophthalmus nursery in Sukamandijaya Village, Subang Budiardi, Tatag; Rolin, Febrina; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2916.78 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.152-162

Abstract

ABSTRACT Nursery business of 1-inch Siam-catfish in Sukamandijaya Village has been conducted based on experience and no information was available regarding to its economical efficiency. The purpose of this study was to evaluate the production performance and input optimalization to maximize profit. The methods used in this study was survey with purposive sampling, while production performance asessment was carried out by direct observations. Economic data were analyzed using Cobb-Douglas production function. Number of fish farmer respondens in this survey was 21 respondents. The volume of nursery tanks were about 3,188−9,860 L at stocking density of 15−47 fish/L. The average of absolute length growth, survival, and daily weight growth rate were 2.77±0.19 cm, 56.04±1.07 %, 27.96±1.09 % respectively. Based on the analysis, the optimal input was at the stocking density of 80 larvae/L and sludge worm density of 0.0919 kg/L.Keywords: input optimalization, maximum profit, production performance, nursery, Siam-catfish ABSTRAK Usaha pendederan ikan patin ukuran 1-inci di Desa Sukamandijaya masih berdasarkan pengalaman dan tidak tersedia informasi mengenai efisiensi ekonomi usaha ini. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja produksi dan optimalisasi input produksi untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Survei dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan parameter kinerja produksi diperoleh melalui pengamatan langsung. Data ekonomi dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Jumlah responden pembudidaya pada penelitian ini adalah sebanyak 21 responden. Volume wadah pendederan berkisar 3.188−9.860 L dengan padat tebar berkisar 15−47 ekor/L. Pertumbuhan panjang mutlak rata-rata ikan patin sebesar 2,77±0,19 cm, tingkat kelangsungan hidup sebesar 56,04±1,07 %, dan laju pertumbuhan bobot harian sebesar 27,96±1,09%. Berdasarkan analisis, penggunaan input yang optimal adalah padat tebar 80 ekor/L untuk larva dan pakan berupa cacing sutra dengan kepadatan 0,0919 kg/L. Kata kunci: optimalisasi input, keuntungan maksimal, kinerja produksi, pendederan, ikan patin
Increasing of C/N ratio with addition of tapioca starch in Oligochaetes culture substrate Hadiroseyani, Yani; Puspitasari, Ardina; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.447 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.144-150

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to improve the productivity of sludge worm (Oligochaetes) in culture systems using the addition of tapioca flour to the substrate to increase C/N ratio up to 10, 20, and 30. The substrate used was a mixture of mud and chicken manure with a ratio of 1:1 on the container measuring 100×12×15 cm3. Culture system used was a recirculation system. Initial stock of the worm was at density 150 g/m2. Results showed the highest population and biomass of the worm in each treatments was occurred on tenth day. The highest density of sludge worm, i.e. 421,145 ind/m2 with total biomass of 1,497.80 g/m2, was obtained on the treatment of C/N ratio at 20 (P <0.05). Keywords: Oligochaetes, C/N ratio, tapioca starch, recirculation system  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas cacing sutra (Oligochaeta) pada sistem budidaya dengan memperbaiki kualitas substrat cacing menggunakan penambahan tepung tapioka sehingga mencapai rasio C/N 10, 20, dan 30. Substrat yang digunakan yaitu campuran lumpur tanah dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 pada wadah budidaya berukuran 100×12×15 cm3. Sistem budidaya yang digunakan yaitu sistem resirkulasi. Cacing dibudidayakan pada padat penebaran 150 g/m2. Hasil menunjukkan puncak populasi dan biomassa cacing sutra terjadi pada hari kesepuluh. Kepadatan cacing tertinggi, yaitu 421.145 ind/m2 dengan biomassa 1.497,80 g/m2, diperoleh pada perlakuan penambahan tepung tapioka dengan C/N rasio 20 (P<0,05). Kata kunci: cacing sutra, rasio C/N, tepung tapioka, sistem resirkulasi
Co-Authors , Alimuddin . Hafifuddin . Iswadi . Nurjariah Agnis Murti Rahayu Agus Oman Sudrajat Alimuddin Apriana Vinasyiam Ardina Puspitasari, Ardina Aslia, Aslia Asri Sutanti, Asri Astari, Belinda Atul Hayati, Mira Benny Heltonika Budidardi, Tatag Chandrika Agustiyana Chandrika Agustiyana D. Dana D. Djokosetiyanto D. Irawan D. Wahjuningrum Daffa Nuradzani Danfi Astuti Daniel Djokosetyanto Dedy Suprianto Dewi, Nina Nurmalia Dinamella Wahjuningrum Eddy Supriyono Eko Harianto, Eko Enang Harris Surawidjaja Faozar, Miftah Fajri Fauzan, Agung Lutfi Febrina Rolin H. Supriyadi Heni Sela Arianty Hernanda, Virta Rizki Husamuddin, Miqdad I. Ohoiulun Iis Diatin Indriani, Rafiatun Irza Effendi Irzal Effendi Iskandar, Andri Ita Apriani Juang Rata Matangaran Julie Ekasari K. Sumantadinata Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja L.S. Harti M. Alifuddin M. Zairin Junior M.A. Suparman May Sharly, Anita Mia Setiawati Mira Atul Hayati MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Junior Zairin Muhammad Mujahid Muhlis Muhlis Mulya, Muhammad Arif Nidwidyanthi, Nidwidyanthi Nugraha, Media Fitri Isma Nur Bambang Priyo Utomo Nur Fauziyah P. Giri P. Hariyadi Puji Hastuti, Yuni Putri Utami, Putri Qi Adlan Radi Ihlas Albani RIDWAN AFFANDI Ridwan Affandi Riza Purbo Widiasto Rona Albrettico Nemanita Ginting Shafruddin, Dadang Sri Nuryati Sri Nuryati Sukenda Sukenda Suko Ismi Suprianto, Dedi Tatag Budiardi Tatag Budidardi Vinasyam, Apriana Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Widanarni Widanarni WIDANARNI WIDANARNI Wijianto Wijianto Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Kuswardani Yonvitner - Zumiza Sari