Claim Missing Document
Check
Articles

Phenotype of the First Generation of Koi Hibridization Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.605 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.93-96

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to study phenotype of F1 koi that were obtained from hybridization. Females koi that was used for this experiment were white-red koi, red-black koi, and white-black koi; whereas males used white-red koi, red-black koi, white-black koi and white-red-black. Spawning for hybridization was done using hormonal stimulation with 0.5 ml ovaprim/kg body weight, and fertilization were artificially performed. Analysis on body coloration was carried out at three months old fish. Normal F1 of white-red koi as well red-black koi produced three kind of koi, while white-black koi produced seven kind of koi, i.e. white koi, red koi, black koi, white-red koi, white-black koi, red-black koi and white-red-black koi. Hybridization of those koi produced seven kind of koi such as normal F1 of white-black koi.Key word :  Koi fish, phenotype, hybridization, first generation (F1) ABSTRAKStudi tentang genotipe keturunan pertama ikan koi hasil hibridisasi telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ikan koi betina yang dipakai adalah ikan koi putih-merah, merah-hitam dan putih-hitam, sedangkan jantannya adalah putih-merah, merah-hitam, putih-hitam dan putih-merah-hitam. Ikan-ikan tersebut diperoleh dari teknik ginogenesis. Pemijahan untuk persilangan antar jenis ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg, dan pembuahan dilakukan secara buatan. Analisis warna pada ikan dilakukan setelah ikan berumur 3 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan normal koi putih-merah maupun merah hitam masing-masing menghasilkan tiga tipe warna (dua warna polos dan satu warna kombinasi) sedangkan koi putih-hitam menghasilkan tujuh tipe warna. Perkawinan silang antara ketiga ikan tersebut menghasilkan tujuh warna yang sama dengan keturunan normal merah-hitam, yaitu putih, merah, hitam, putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam.Kata kunci :  Ikan koi, fenotip, hibridisasi, turunan pertama (F1)
The Phenotype of Diploid and Triploid F1 of Female Kohaku and Sanke Koi with Males White and Red Koi Alimuddin, .; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.578 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.97-100

Abstract

ABSTRACTThis study was done to discover the effect of addition of chromosome number on phenotype F1 hybrid of females kohaku (white-red) and sanke (white-red-black) koi with males white and red koi. The white and red males koi were the F1 of gynogenesis. Spawning of koi was done by hormonal (ovaprim 0,5 ml/kg body weight) and fertilization was done artificially. Triploidization was done by heat shock at 40°C during 1,0-1,5 minutes after 2-3 minute from egg fertilization. Colour analysis was done on 4 months old fish. Triplodization was succeeding on 86,67%.  Addition of chromosome number on koi due to triploidization was suppressed the percentage of koi with combination color (kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri, and sanke). It was seen on hybridization of sanke vs white koi as much as 5,55%, while on sanke vs red koi reached 45,02%. Hybridization of kohaku vs white koi as well as kohaku vs red koi produced higher percentages of kohaku compared to kohaku vs kohaku.Key words: Phenotype, diploid, triploid, koi fish, hybrid, chromosome AbstrakStudi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah set kromosom terhadap fenotipe keturunan persilangan ikan koi kohaku (putih-merah) dan sanke (putih-merah-hitam) betina dengan jantan putih dan merah. Ikan koi jantan putih dan merah merupakan hasil ginogenesis generasi pertama. Pemijahan ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg induk dengan sistim pembuahan buatan. Triploidisasi dilakukan dengan memberikan kejutan panas 400C selama 1,0-1,5 menit pada saat 2,0-3,0 menit setelah pembuahan telur. Analisis warna dilakukan setelah ikan berumur 4 bulan. Tingkat keberhasilan triploidisasi yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 86,67%. Penambahan jumlah set kromosom ikan koi akibat triploidisasi menurunkan persentase ikan koi yang berwarna kombinasi (putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam) sebesar 5,55% untuk persilangan sanke vs putih, dan 45,02% untuk persilangan sanke vs merah. Tingginya penurunan koi warna kombinasi diduga disebabkan adanya dominansi warna tertentu, misalnya dominansi warna hitam yang persentasenya meningkat sebesar 31,7% pada persilangan sanke vs merah. Pada persilangan kohaku dengan koi putih dan dengan koi merah, persentase kohaku lebih besar daripada perkawinan normal kohaku yang diperoleh pada tahap pertama. Persentase kohaku dari perkawinan normal kohaku hanya sebesar 18,6%, sedangkan kohaku vs putih atau dengan merah adalah sekitar 27% untuk triploidisasi dan 33% untuk persilangan  normal. Tingkat kelangsungan hidup ikan normal lebih besar daripada ikan hasil triploidisasi, kecuali persilangan sanke vs putih.Kata kunci : Fenotipe, diploid, triploid, ikan koi, hibrid dan kromosom
The Potential of Oligochaeta as Intermediate Host of Myxosporea Parasite in Common Carp (Cyprinus carpio Linnaeus) Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.853 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.37-39

Abstract

Three genera of oligochaeta, i.e. Branchiura sowerbyi, Limnodrillus sp. and Lumbriculus sp. were fed on spores of Myxobolus artus before predated to juvenile of Cyprinus carpio. Spores of myxosporean were found on the fish, which get Limnodrillus. But those spores show different characters from spores of M. artus. Key words: Myxosporean, Myxobolus artus, oligochaeta, Branchiura sowerbyi, Limnodrillus, Lumbriculus, Cyprinus carpio   ABSTRAK Spora Myxobolus artus yang berasal dari ikan mas ditularkan kembali melalui rantai makanan kepada ikan mas berumur 50 hari. Inang antara yang digunakan adalah oligocheta jenis Branchiura sowerbyi, Limnodrillus sp. dan Lumbriculus sp.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan mas yang mendapat Limnodrillus terinfeksi oleh myxosporea yang berbeda dari M.artus. Kata kunci: Myxosporea, Myxobolus artus, oligochaeta, Branchiura sowerbyi, Limnodrillus, Lumbriculus, Cyprinus carpio
Parasites in Fresh Water Ornamental Fish (Cupang, Guppy and Rainbow Fish) Alifuddin, M.; Hadiroseyani, Yani; Ohoiulun, I.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.159 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.93-100

Abstract

Parasite inventory on some fresh water ornamental fish was done by survey methode. Parasites found from cupang fish namely Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp. and Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala and cystic form; in guppy fish Trichodinid (Ciliophora), Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes) and Lerneae sp. (Crustasea); on rainbowg found Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp., Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala, Lerneae sp. (Krustasea) and cystic form. Parasites found known as ecto, meso and endoparasites. From this study, there is correlation between parastes present with length fish. Key word : Fish water ornamental fish, fish parasites   ABSTRAK Inventarisi parasit telah dilakukan dengan metode survey pada ikan hias air tawar yakni, ikan cupang (Betta splendens Regan), ikan gapi (Poecilia reticulata Peters) dan ikan rainbow (Melanotaenia macculochi Ogilby). Pada ikan cupang ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp. dan Gyrodaclylus sp. (Platy-helminthes), Acanthocephala dan kiste); pada ikan gapi ditemukan Trichodinid (Ciliophora), Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes) dan Lerneae sp. (Krustasea); pada ikan rainbowg ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp., Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala, Lerneae sp. {Krustasea) dan kista. Parasit yang ditemukan tergolong ekto, meso dan endoparasit. Dari penelitian ini terlihat adanya hubungan keberadaan parasit dengan ukuran panjang ikan. Kata kunci: Ikan hias air tawar, parasit ikan
Control of Polychaetes by Dipping Infected Pearl Oyster on Different Salinity Hadiroseyani, Yani; Iswadi, .; Djokosetyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.703 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.47-49

Abstract

Dip treatment on pearl oysters (Pinctada maxima) was conducted in different concentrations of saline water to eliminate boring polychaetes. Results shows that polychaetes leave the osyters which treated on saline water at 0 ppt, 45 ppt, and 60 ppt as long as 15 minutes each. It also shows that the oysters got high survival rate 7 days after the treatment. Key words : Polychaetes, pearl oyster, dipping, salinity   ABSTRAK Pengendalian polikaeta pengebor dengan menggunakan berbagai konsentrasi larutan garam telah dilakukan pada tiram mutiara (Pinctada maxima). Berdasarkan jumlah polikaeta yang keluar, hasil percobaan ini menunjukkan bahwa perendaman dengan konsentrasi garam 0 ppt. 45 ppt, dan 60 ppt selama 15 menit lebih efektif dibandingkan pada konsentrasi 15 dan 30 ppt. Tingkat kelangsungan hidup tiram mutiara yang diamati 7 hari setelah perendaman dalam larutan garam mencapai 100%. Kata kunci : Polikaeta. tiram mutiara, perendaman. salinitas
Potential of Chromolaena odorata Leaf as A Cure of Aeromonas hydrophila on Giant Gouramy (Osphronemus gouramy) Hadiroseyani, Y.; Hafifuddin, .; Alifuddin, M.; Supriyadi, H.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.232 KB) | DOI: 10.19027/jai.4.139-144

Abstract

This study was conducted to examine the potency of Chromolaena odorata leaf extract as a medicine for skin eruption disease caused by  Aeromonas hydrophila in giant gouramy Osphronemus gouramy.  Leaf extract of Chromolaena odorata for in vitro test was 0 (as control), 13000, 15000, 17000, 19000 and 21000 ppm, poured onto TSA medium containing bacteria 103 cfu/ml, and then is incubated for 24 hours. In vivo test was performed by injecting bacteria 0.1 ml of 109 cfu/ml intramuscularly into giant gouramy (14 g weight), and then  fish were maintained in the water containing 15000 ppm of Chromolaena odorata leaf extract. In vitro study showed that prevention area of leaf extract against Aeromonas hydrophila was increase by increasing the concentration of leaf extract used, reached 9,33 mm.  Prevention zone of leaf extract by difusion tends to constant, reached 7,6 mm. By in vivo test, survival rate of giant gouramy infected by Aeromonas hydrophila was no significantly different between dosages of leaf extract.  All treated fish, excluded control died after 24 hours infection. Keywords: Aeromonas hydrophila, Osphronemus gouramy, Chromolaena odorata   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi daun kirinyuh Chromolaena odorata sebagai obat untuk penyakit cacar yang diakibatkan oleh Aeromonas hydrophila pada ikan gurame Osphronemus gouramy. Konsentrasi ekstrak daun Chromolaena odorata untuk uji in vitro adalah 13000, 15000, 17000, 19000 dan 21000 serta 0 ppm sebagai kontrol, yang diletakkan di atas media TSA yang telah mengandung biakan bakteri 103 cfu/ml dan diinkubasi selama 24 jam. Uji in vivo dilakukan dengan menginjeksikan bakteri  sebanyak 0,1 ml (109 cfu/ml) secara intramuskular ke ikan gurame (berat 14 g) dan kemudian ikan dipelihara dalam air yang mengandung ekstrak daun kirinyuh 15000 ppm. Hasil uji in virto menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun kirinyuh basah semakin efektif dalam menghambat perkembangan A. hydrophila dengan zona hambat tertinggi mencapai 9,33 mm. Zona hambat yang dihasilkan melalui metode difusi cenderung konstan, mencapai 7,6 mm. Melalui uji in vivo, tingkat kelangsungan hidup ikan gurame yang tidak berbeda nyata pada masing-masing perlakuan, bahkan terjadi kematian total dalam 24 jam pada semua perlakuan, kecuali kontrol. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, Osphronemus gouramy, Chromolaena odorata
Inventarisation of Parasite in ”Dumbo” Catfish Clarias sp. from Bogor Region Hadiroseyani, Y.; Hariyadi, P.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.086 KB) | DOI: 10.19027/jai.5.167-177

Abstract

Outbreak of parasites can reduce aquaculture productivity or even cause mass mortality of fish. Few quantities of parasite infection may still be tolerated by the host, however high intensity of infection can impair to fish metabolism or even damage of organelle.  Proper treatment can be done when parasite infecting fish is known.  This study was conducted to record parasite infecting "dumbo" catfish Clarias sp. that is reared by farmers in three location at Bogor, i.e. Cimanggu, Cijeruk and Cibinong.  Data included prevalence and intensity of parasite were analyzed descriptively. There were 7 kinds of parasite infecting catfish from Cimanggu, i.e. Trichodina, Myxosporea, Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria, Gyrodactylus, Dactylogyrus and Lytocestus parvulus.  Monogenean was dominant parasite infecting catfish from Cimanggu, i.e. 61% was Dactylogyrus with 83.33% of prevalence and 12.37 of intensity levels.  Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria and Myxosporea were only found from Cimanggu samples.   Catfish from Cijeruk infected by 5 kinds of parasites, i.e. Cryptobia sp., Vorticella, Gyrodactylus, Dactylogyrus and Lytocestus parvulus. Same pattern with Cimanggu, samples from Cijeruk were also dominant infected by monogenean, i.e. 46% was Dactylogyrus with 96.667% of prevalence and 20.694 of intensity levels.  Samples from Cibinong were infected by 6 kinds of parasites, i.e. Vorticella, Trichodina, Gyrodactylus, Dactylogyrus, Lytocestus parvulus and Branchionus.  Branchionus was not parasite, but is as ectocomensal. Parasite dominating in Cibinong samples was Branchionus by 32% with 33.333% of prevalence and 0.555 of intensity levels. Keywords: parasite, "dumbo" catfish, Clarias sp., inventarisation, Bogor   ABSTRAK Parasit yang menginfeksi ikan budidaya dapat mengakibatkan menurunnya produksi bahkan kematian masal. Dalam jumlah sedikit, parasit yang menginfeksi masih dapat ditolerir oleh inang, tetapi dapat menyebabkan gangguan metabolisme bahkan kerusakan organ jika terjadi dalam intensitas yang tinggi. Dengan mengetahui jenis organisme parasit yang menyerang lele, penanggulangannya akan lebih mudah. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi parasit yang terdapat pada ikan lele dumbo Clarias sp. yang dibudidayakan oleh petani di 3 lokasi di Kabupaten Bogor yaitu Cimanggu, Cijeruk dan Cibinong. Data meliputi prevalensi dan intensitas parasit yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Sebanyak 7 jenis parasit yang teridentifikasi menginfeksi ikan lele dari Cimanggu, yaitu Trichodina, Myxosporea, Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria, Gyrodactylus, Dactylogyrus dan Lytocestus parvulus. Monogenea merupakan parasit yang mendominasi lele dari daerah ini. yaitu Dactylogyrus sebesar 61% dengan nilai prevalensi sebesar 83,333% dan intensitas sebesar 12,370. Terdapat Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria dan Myxosporea yang didentifikasi dari ikan sampel yang hanya berasal dari Cimanggu.  Ikan sample dari Cijeruk mengandung sebanyak 5 jenis parasit yaitu Cryptobia sp., Vorticella, Gyrodactylus, Dactylogyrus dan Lytocestus parvulus. Sama halnya dengan Cimanggu, pada daerah Cijeruk juga didominasi oleh jenis monogenea yaitu Dactylogyrus sebesar 46% dengan  nilai prevalensi sebesar  96,667% dan nilai intensitas sebesar 20,694. Sampel dari Cibinong ditemukan sebanyak 6 jenis parasit yaitu Vorticella, Trichodina, Gyrodactylus, Dactylogyrus, Lytocestus parvulus dan Branchionus. Branchionus diduga bukan merupakan parasit tetapi ektokomensal. Dari Cibinong didominasi oleh Branchionus sebesar 32% dengan nilai prevalensi sebesar 33,333% dan nilai intensitas sebesar 0,555. Kata kunci : parasit, lele dimbo, Clarias sp., inventarisasi dan Bogor
Effect of Bee Resin on Blood Profiles of Infected Carassius auratus by Aeromonas hydrophila Nuryati, Sri; Kuswardani, Y.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.61 KB) | DOI: 10.19027/jai.5.191-199

Abstract

Bee resin is an organic matter that can be used as immunostimulant to induce cells and tissues regeneration for fast injury recovery. In order to determine the effect of bee resin on blood profile of goldfish, Carassius auratus that had been infected by Aeromonas hydrophila, the numbers of hemoglobin, hetmaocrite, erythrocyte and leukocyte, and leukocyte differentiation were observed.   Fishes were divided into four groups: negative control, positive control, preventive and curative groups. Fishes of negative control were injected intramuscularly by phosphate buffer saline 0.1 ml/fish.  Control positive fishes were injected by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila.  Preventive groups were injected by bee resin of 1.5 µl/ml and then injected by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila at the eight days after resin injection.  Curative groups were injected first by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila before injection with 3 µl/ml resin.  The results of this study showed that erythrocyte number, hemoglobin and hematocrite of goldfish injected by bee resin as prevention were higher compared with positive control groups.  In the curative groups, hematocryte and erythrocyte numbers was comparable with that of positive control groups.  Injection of bee resin intramuscularly for 7 days increased leukocyte number and netrophyle percentage, while other parameters in other treatments were not increased. Keywords: Resin, goldfish, Carassius auratus, Aeromonas hydrophila,  blood profile   ABSTRAK Resin lebah merupakan salah satu bahan organik yang dapat digunakan sebagai imunostimulan serta dapat merangsang pembentukan sel dan jaringan yang mendukung proses penyembuhan luka dengan cepat. Untuk mengetahui pengaruh resin lebah terhadap gambaran darah ikan koki Carassius auratus yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila, dilakukan pengamatan kadar hemoglobin dan hematokrit, jumlah eritrosit dan leukosit serta diferensial leukositnya.  Ikan dibagi ke dalam 4 kelompok; kontrol negatif, kontrol positif, preventif and kuratif. Kontrol negatif disuntik secara intramuskular dengan larutan fosfat buffer salin.  Kontrol positif disuntik dengan by 0.1 ml  105 CFU/ml (LD50) bakteri A. hydrophila.   Kelompok pencegahan disuntik dengan resin lebah sebanyak 1.5 µl/ml dan kemudian disuntik dengan 0.1 ml bakteri A. hydrophila 105 CFU/ml (LD50) pada hari kedelapan setelah injeksi resin.   Kelompok pengobatan disuntik terlebih dahulu dengan 0.1 ml bakteri bakteri A. hydrophila 105 CFU/ml (LD50) sebelum disuntik dengan 3 µl/ml resin.    Hasil pengamatan terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit ikan mas koki dengan pemberian resin lebah sebagai pencegahan menunjukkan nilai rata - rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif. Pada perlakuan pengobatan, kadar hematokrit relatif lebih tinggi daripada kontrol positif dan cenderung mendekati kontrol negatif, sedang kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit memiliki nilai yang mendekati kontrol positif. Pemberian resin lebah dengan injeksi secara intramuskular selama 7 hari meningkatkan jumlah sel darah putih dan persentase netrofil, sedangkan pada parameter yang lain (jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, prosentase monosit dan trombosit) pada masing - masing perlakuan umumnya tidak mengalami peningkatan. Kata kunci: Resin, ikan koki, Carassius auratus, Aeromonas hydrophila, gambaran darah
Density of bacteria in Limnodrilus sp. culture fertilized by fermented chicken manure Hadiroseyani, Y.; Nurjariah, .; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.79-87

Abstract

Culture of Limnodrilus sp. is now developed to control continuously supply.  Culture medium of Limnodrilus sp. consists of mud and organic waste.  Routinely fertilization is needed to keep enough nutrition.  One of organic fertilizer used in Limnodrilus sp. culture is chicken manure.  This fertilizer contains high levels of N, low-priced and easy to obtain.  This study was conducted to determine Limnodrilus sp. density in the substrate fertilizer by fermented chicken manure and Limnodrilus sp. growth. Mud and chicken manure in ratio of 1:1 was applied to container of 100×20×15 cm3.  Fertilization was carried out 2 times daily at the dose of chicken manure 130, 160 and 190 g/container.  The result of study showed that density of bacteria tends to decrease during experiment.  Highest density (11,948 individuals/m2) and biomass (14.65 g/ m2) of bacteria was obtained by 190 g of chicken manure fertilization. Keywords: blood worm, Limnodrilus sp., bacteria, chicken manure, fermentation   ABSTRAK Budidaya cacing Limnodrilus sp., kini sedang dikembangkan untuk menyediakan cacing secara terkontrol dan kontinyu. Media hidup cacing terdiri dari lumpur dan limbah organik. Untuk menjaga persediaan makanan dalam media pemeliharaan, dilakukan pemupukan secara berkala. Salah satu pupuk organik yang digunakan dalam budidaya cacing adalah kotoran ayam karena mengandung unsur N yang lebih tinggi, mudah didapat dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri pada substrat media budidaya cacing yang dipupuk dengan kotoran ayam hasil fermentasi serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan cacing. Substrat yang digunakan berupa lumpur dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 dan ditempatkan dalam wadah berukuran dimensi 100×20×15 cm3. Pemupukan setiap dua hari menggunakan kotoran ayam hasil fermentasi dengan dosis 130, 160 dan 190 g/wadah menghasilkan perkembangan kelimpahan bakteri yang cenderung menurun selama masa pemeliharaan. Peningkatan kelimpahan bakteri diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan cacing sehingga tercapai populasi dan biomassa tertinggi pada hari ke-20 yang masing-masing mencapai 11.948 ind/m2 dan 14,65 g/m2.   Kata kunci: Cacing, Limnodrilus sp., bakteri, kotoran ayam dan fermentasi
Polychaete species infected pearl oyster Pinctada maxima at Padang Cermin Water, Lampung Hadiroseyani, Y.; Djokosetiyanto, D.; Iswadi, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1276.385 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.197-204

Abstract

This study was conducted to determine polychaetes infecting pearl oyster Pinctada maxima reared at Padang Cermin Bay, Lampung.  There were 9 genera of polychaetes harboured on the shell of pearl oysters from Teluk Padang Cermin Lampung.  Those are Eunice, Lysidice, Nereis, Phylodoce, Polycirrus, Polydora  Salmacing,  Streblosoma and Syllis which attached on external surface of the shell and some of them were burrowed into the shell. Keywords:  polychaeta, pearl oyster, Pinctada maxima   Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis polikaeta yang menyerang tiram mutiara Pinctada maxima yang dipelihara di Teluk Padang Cermin, Lampung.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 genus polikaeta yang menyerang tiram mutiara, yaitu  Eunice, Lysidice, Nereis, Phylodoce, Polycirrus, Salmacing,  Streblosoma dan Syllis ditemukan menempel pada permukaan luar cangkang tiram mutiara. Lysidice, Nereis, Phylodoce, dan Syllis juga ditemukan pada lapisan dalam cangkang. Polydora hanya terdapat pada lapisan dalam cangkang. Kata kunci:  polikaeta, tiram mutiara, Pinctada maxima
Co-Authors , Alimuddin . Hafifuddin . Iswadi . Nurjariah Agnis Murti Rahayu Agus Oman Sudrajat Alimuddin Apriana Vinasyiam Ardina Puspitasari, Ardina Aslia, Aslia Asri Sutanti, Asri Astari, Belinda Atul Hayati, Mira Benny Heltonika Budidardi, Tatag Chandrika Agustiyana Chandrika Agustiyana D. Dana D. Djokosetiyanto D. Irawan D. Wahjuningrum Daffa Nuradzani Danfi Astuti Daniel Djokosetyanto Dedy Suprianto Dewi, Nina Nurmalia Dinamella Wahjuningrum Eddy Supriyono Eko Harianto, Eko Enang Harris Surawidjaja Faozar, Miftah Fajri Fauzan, Agung Lutfi Febrina Rolin H. Supriyadi Heni Sela Arianty Hernanda, Virta Rizki Husamuddin, Miqdad I. Ohoiulun Iis Diatin Indriani, Rafiatun Irza Effendi Irzal Effendi Iskandar, Andri Ita Apriani Juang Rata Matangaran Julie Ekasari K. Sumantadinata Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja L.S. Harti M. Alifuddin M. Zairin Junior M.A. Suparman May Sharly, Anita Mia Setiawati Mira Atul Hayati MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Junior Zairin Muhammad Mujahid Muhlis Muhlis Mulya, Muhammad Arif Nidwidyanthi, Nidwidyanthi Nugraha, Media Fitri Isma Nur Bambang Priyo Utomo Nur Fauziyah P. Giri P. Hariyadi Puji Hastuti, Yuni Putri Utami, Putri Qi Adlan Radi Ihlas Albani RIDWAN AFFANDI Ridwan Affandi Riza Purbo Widiasto Rona Albrettico Nemanita Ginting Shafruddin, Dadang Sri Nuryati Sri Nuryati Sukenda Sukenda Suko Ismi Suprianto, Dedi Tatag Budiardi Tatag Budidardi Vinasyam, Apriana Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Widanarni Widanarni WIDANARNI WIDANARNI Wijianto Wijianto Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Kuswardani Yonvitner - Zumiza Sari