p-Index From 2021 - 2026
6.398
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Subordinasi Perempuan dalam Budaya Patriarki Pada Film Kim Jiyoung, Born 1982 (2019) Fara Syifa Amalia; Sulyana Dadan; Arizal Mutahir
Commed Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 11 No. 1 (2026): COMMED : Jurnal Komunikasi dan Media
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/commed.v11i1.11449

Abstract

Womens subordination remains a form of gender inequality’s that is structural in nature and deeply rooted in patriarchal culture. This form of subordination occurs not only in everyday social life but is also represented through various media, including film. The film Kim Jiyoung, Born 1982 (2019) portrays the life experiences of South Korean women who face gender inequality across different spheres of life. This study aims to analyze how women’s subordination within patriarchal culture is represented through scenes and narratives in the film. The research employs a qualitative method using Charles Sanders Peirce’s semiotic approach. The research data consist of scenes, dialogues, and visual elements in the film, which are analyzed using the concepts of representamen, object, and interpretant. The analysis is further reinforced by Sylvia Walby’s theory of patriarchy to identify structural forms of women’s subordination and Stuart Hall’s theory of representation to understand the process of meaning construction in media. The findings reveal that women’s subordination is systematically represented in the domestic sphere, education, employment, and public space. Women are portrayed as experiencing role limitations, domestication, unequal access to opportunities, and marginalization in decision-making processes. These representations illustrate how patriarchal ideology operates subtly through social norms, power relations, and cultural practices that are normalized within society. This study concludes that Kim Jiyoung, Born 1982 functions not only as a reflection of social reality but also as a medium that constructs, reinforces, and critiques patriarchal structures that position women in subordinate roles within social life.
Fenomena Crossdressing Cosplay Di Purwokerto: Pemaknaan Cosplayer Tentang Penampilan Diri Steven Quincy Ibrahim; Hendri Restuadhi; Arizal Mutahir
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i2.2026.887-895

Abstract

Di Indonesia, praktik crossdressing cosplay masih dianggap tabu oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan crossdressing cosplay berlawanan dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Namun demikian, kehadiran orang yang melakukan crossdressing cosplay semakin banyak ditemui. Tidak hanya di kota besar, tetapi juga dapat ditemui di kota kabupaten seperti di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini berupaya mengkaji fenomena crossdresser di Purwokerto. Fenomena tersebut merupakan sebuah unjuk penampilan identitas. Cosplay merupakan media eksplorasi identitas diri dan ekspresi seni tanpa batasan gender, ras, agama, dan latar budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa fenomena crossdress muncul karena adanya motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal dan eksternal ini menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan crossdressing cosplay dalam proses self-indication. Penelitian ini berkontribusi dalam membuka wawasan tentang perkembangan subkultur budaya populer.
Produksi Diskursif Rasa Aman: Analisis Relasi Kuasa-Pengetahuan dalam Kebijakan Kriminalitas Kemenko Polkam Asmoro Aji; Arizal Mutahir; Eros Shidqy Putra
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.3329

Abstract

This study aims to analyze the discursive construction of the sense of safety through power/knowledge relations in the crime control policies of Indonesia’s Coordinating Ministry for Political and Security Affairs. The study employs a qualitative approach using Michel Foucault’s Critical Discourse Analysis. The data consist of the Ministry’s Performance Reports, crime statistics published by the Indonesian National Police, and survey indicators issued by Statistics Indonesia (BPS). The analysis is conducted through archaeological and genealogical approaches to examine how the sense of safety is constituted both as an object of knowledge and as an instrument of governmentality. The findings demonstrate that the sense of safety indicator functions not merely as a measurement tool but also as a discursive construct that legitimizes public policy and produces a regime of truth. Consequently, crime control policy operates as a mechanism of power/knowledge that shapes the ways in which the state governs the population while simultaneously influencing public understandings of security.
Representasi Kecantikan dalam Iklan Scarlett Whitening Idol Korea TWICE Adelia Rahma Putri; Arizal Mutahir; Rili Windiasih
PENSOS : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Pendidikan Sosiologi Vol. 4 No. 2 (2026): Penelitian dan Pengabdian Pendidikan Sosiologi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59098/pensos.v4i2.3744

Abstract

Globalization and the massive influence of Korean popular culture have shifted the construction of women's beauty standards in Indonesia, including the marketing strategies of local cosmetic products. This study aims to analyze the representation of women's beauty standards and the ideological construction in the local brand advertisement Scarlett Whitening, specifically the "Reveal Your Beauty With TWICE" version. This study employs an interpretative qualitative approach using Roland Barthes' semiotic analysis to deconstruct denotative, connotative, and mythical meanings. The primary data were collected through documentation and observation of the audio-visual elements within the advertisement. The findings reveal that the visual representations in the advertisement emphasize fair, bright, smooth skin, and a youthful appearance as the ideal form of beauty. Connotatively, the advertisement associates product usage with self-confidence, happiness, and social acceptance. At the myth level, the advertisement produces the idea that the universal beauty standard refers to the Korean beauty standard, constructing it as a natural and aspirational condition for the audience to achieve. The presence of K-Pop idol group TWICE as brand ambassadors serves not only as a promotional appeal but also acts as an instrument that produces and reinforces the hegemony of Korean popular culture in shaping the normalization of universal beauty standards in Indonesia.
Penggunaan Bahasa dalam Media Sosial X untuk Mengungkapkan Permasalahan Akademik Mahasiswa (Analisis Wacana Kritis Akun @unsoedmfs) Elza Putra Azzura; Arizal Mutahir; Hariyadi Hariyadi; Sulyana Dadan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 5 No 3 (2025): JUPIN Agustus 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.566

Abstract

Akun @unsoedmfs dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meluapkan berbagai permasalahan akademik. Dalam akun tersebut, ditemukan unggahan yang mengandung kalimat bernada menyinggung ataupun provokatif. Para pengguna juga kurang memperhatikan penggunaan bahasa. Pemilihan kata atau gaya bahasa tersebut memicu tanggapan negatif dari pengguna lain. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kegaduhan atau perdebatan di kolom komentar.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa pada akun @unsoedmfs dalam mengungkapkan  permasalahan akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis data wacana kritis model Norman Fairclough. Penelitian ini fokus pada tiga dimensi, yaitu dimensi tekstual (mikrostruktural), praktik produksi teks (mesostruktural), dan praktik sosial budaya (makrostruktural). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan gaya bahasa informal, slang, singkatan, dan simbol emosional seperti emoji untuk mengekspresikan tekanan akademik. Unggahan-unggahan tersebut tidak hanya menjadi tempat curhat, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial kampus yang tidak bisa disampaikan secara langsung melalui jalur formal. Penelitian ini menemukan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai wadah interaksi sosial yang membentuk solidaritas, empati, dan wacana kolektif di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan dalam akun komunitas digital tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mencerminkan ketimpangan relasi kekuasaan, kritik terhadap sistem, serta kebutuhan akan ruang aman dan bebas untuk berekspresi.
Hubungan Gaya Hidup Hedonis Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswi Sosiologi UNSOED Dalam Belanja Online Yumna Raihanah; Masrukin; Arizal Mutahir; Rin Rostikawati
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.2842

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif mahasiswi dalam aktivitas belanja online. Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan pola konsumsi, khususnya di kalangan mahasiswa yang cenderung adaptif terhadap tren dan kemudahan akses internet. Gaya hidup hedonis yang berorientasi pada kesenangan diduga memiliki keterkaitan dengan meningkatnya perilaku konsumtif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei mahasiswi Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2023–2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, uji korelasi dan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat antara gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,651. Hasil regresi menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis berpengaruh positif terhadap perilaku konsumtif dengan nilai koefisien sebesar 0,691.
Analisis Ketidakadilan Perempuan pada Film Dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey Praya Ariffa Amirah; Arizal Mutahir; Sulyana Dadan; Wiman Rizkidarajat
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.7975

Abstract

Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada bentuk objektifikasi perempuan yang belum terungkap melalui film dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bentuk objektifikasi perempuan dalam film Keep Sweet Pray and Obey.Berdasarkan paradigmanya, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika. Hal ini dikarenakan semiotika merupakan studi terkait tanda. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika model Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data-data dokumentatif yang dibutuhkan oleh peneliti. Terdapat berbagai bentuk objektifikasi perempuan mulai dari rambut, pakaian, pandangan laki-laki yang melihat perempuan abu-abu sehingga perempuan tidak memiliki batasan pasti tentang hak dan kewajiban mereka sebagai manusia. Penindasan terhadap perempuan adalah sasaran empuk dengan mengedepankan narasi agama yang dogmatis. Faktor pendukung bentuk objektifikasi perempuan dimulai dari adanya pengaruh media, hubungan personal, dan hubungan sosial. Terdapat berbagai cara manipulasi perempuan yang terlihat pada film ini.
Co-Authors Abiyyu, Dany Farhan Adelia Rahma Putri Agung Kurniawan Aidatul Chusna, Aidatul Aldri Frinaldi Alfian Ihsan Aminuyati Anak Agung Gede Sugianthara Arbina, Satria Asmoro Aji Ayuni, Dwiyantissa Lesi Baharuddin, Nalfaridas Dalhar Shodiq Damayanti, Elok Dimas Rahman Rizqian Elis Puspitasari Elza Putra Azzura Eros Shidqy Putra Fadhila Citra Permata Fajri, Ahsani Taqwiim Fajrianan Lutfi Ramadhan Fara Syifa Amalia Firstyandini, Divka Handika, Pamungkas Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hendri Restuadhi Hendri Restuadhi Ignatius Suksmadi Ihda Agustio Devanda Nurico Kamala Ihsan, Alfian Imam Santosa Indira Luthvia Injani Ismael Caceres Correa Isna Hanny Isna Hanny Puspitaningtyas Jarot Santoso Jarot Santoso Joko Santoso Kholifatus Saadah Kholis, Ahmad Nur KHolis Laila Sabrina Makhasin, Luthfi Masrukin Masrukin Mega Fatimah Rosana Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Taufiqurrohman, Muhammad Muslihudin Muslihudin Nissa, Intan Adillia Novita Sari Nur Azizah, Adinda Farah Nursetiyawati, Puri Septiana Prasetyo, Ridho Iza Praya Ariffa Amirah Primadata, Ankarlina Pandu Putra Indriadi, Agheng Putri M, Aulia Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahmad Santosa Rahmad Santosa Rajiv Umardi, Muhammad Rakhmat Agung Pramadani Ramadhan, Fajrianan Lutfi Ramadhan, Novan Ratna Dewi Ratna Dewi Ratna Dewi Rin Rostikawati Rofingatun Hamidah Romauli , Nethania Sabrina, Laila Shinta Julianti Siswahyudianto Steven Quincy Ibrahim Sulyana Dadan Sulyana Dadan Sulyana Dadan Tri Wuryaningsih Tyas Retno Wulan Tyas Retno Wulan Wiman Rizkidarajat Windiasih, Rili Yumna Raihanah