Claim Missing Document
Check
Articles

Virality of Photojournalism as A Development Communication Strategy: A Documentary Study of Raisan Al Farisi at Sukaluyu Bridge, Cianjur Suherlan, Ryan; Darmawan, Ferry; Gani, Rita
Potret Pemikiran Vol 29, No 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/pp.v29i2.4204

Abstract

This article analyzes how the virality of photojournalistic images can serve as an effective development communication strategy in the digital age. The case examined is the work of Raisan Al Farisi documenting the struggles of elementary school children in Sukaluyu Village, Cianjur Regency, who crossed a river without a bridge in order to attend school. The photograph went viral on social media and ultimately prompted the government to construct a bridge at that location. This study employs a qualitative approach using a case study method and the social semiotic theory of Kress and van Leeuwen. The findings indicate that three semiotic meanings are embedded in Raisan Al Farisi’s photographic work. First, Representational Meaning: the photograph presents the social reality of rural children facing risks and unequal access to education, with the act of crossing the river becoming a symbol of struggle and hope for the future. Second, Interactive Meaning: the use of an eye-level angle constructs a strong emotional connection between the photographic subject and the audience, transforming viewers from passive observers into active participants in the children’s experience. Third, Compositional Meaning: the diagonal structure and color contrast between the red-and-white uniforms and the river water create visual tension that directs attention toward the meaning of struggle, emphasizing the message that education demands courage and sacrifice. Raisan Al Farisi’s photograph demonstrates that visual power can mobilize public awareness and serve as a catalyst for tangible change in social development.
Strategi Komunikasi Manusia–AI dalam Penulisan Akademik: Konstruksi Kredibilitas Diri pada Mahasiswa Magister Komunikasi Susilawati Susilawati; Irni Irawati; Armynia Ekayanti; Ferry Darmawan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8392

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah praktik penulisan akademik di pendidikan tinggi, khususnya pada mahasiswa magister yang dituntut memiliki kemandirian intelektual dan kemampuan berpikir kritis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi manusia–AI dalam penulisan akademik serta implikasinya terhadap konstruksi kredibilitas diri mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif terhadap enam mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung angkatan 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik serta naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memposisikan AI sebagai “partner diskusi” yang digunakan secara fleksibel dari tahap awal hingga akhir penulisan, mulai dari brainstorming ide, penyusunan kerangka, hingga revisi akhir. Strategi komunikasi yang berkembang bersifat kolaboratif-kritis, ditandai dengan praktik evaluasi, validasi, serta pengolahan ulang terhadap output AI. Interaksi ini memengaruhi pemaknaan kepemilikan tulisan, di mana mahasiswa tetap menegaskan peran sebagai agen utama dalam proses akademik. Di sisi lain, penggunaan AI memunculkan ambivalensi berupa kekhawatiran terhadap hilangnya orisinalitas, ketergantungan, serta munculnya perasaan tidak autentik (imposter feeling). Namun, proses kritis dalam penggunaan AI justru berkontribusi pada peningkatan pemahaman materi, rasa kepemilikan tulisan, dan kepercayaan diri akademik. Penelitian ini menegaskan bahwa kompetensi akademik di era digital tidak hanya terletak pada kemampuan menulis mandiri, tetapi juga pada kemampuan mengelola dan memanfaatkan AI secara reflektif, kritis, dan etis.
Di Balik Layar Live Streaming: Pengalaman Host Live dalam Menciptakan Kedekatan dan Kepercayaan Penonton Dina Nabila; Nadyta Hana R; Ferry Darmawan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8989

Abstract

Perkembangan komunikasi interpersonal di era digital menunjukkan bahwa kedekatan sosial kini semakin dimediasi oleh teknologi. Meskipun berbagai platform media sosial memungkinkan individu menjalin hubungan secara luas, tidak semua media mampu menghasilkan kualitas kedekatan yang mendalam dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, live streaming pada platform e-commerce muncul sebagai ruang interaksi yang intens, spontan, dan real-time, namun juga menghadirkan kompleksitas baru bagi host dalam membangun kedekatan emosional serta kepercayaan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman host live streaming dalam membangun kedekatan dan kepercayaan penonton pada ruang komunikasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi terhadap enam informan yang merupakan host live streaming pada brand fashion di Kota Bandung. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi interaksi digital, serta dokumentasi pendukung, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman host bersifat multidimensional, meliputi motif personal dan ekonomi, kesadaran diri dalam performa digital, konstruksi kedekatan melalui interaksi simbolik, praktik emotional labor, kemampuan membangun respons spontan, serta transformasi identitas profesional. Dalam konteks teori, interaksi simbolik menjelaskan pembentukan makna melalui simbol digital, social presence memperkuat persepsi kehadiran sosial, computer mediated communication memediasi pola komunikasi, dan emotional labor menjelaskan regulasi emosi dalam performa digital. Penelitian ini mengindikasikan bahwa live streaming tidak hanya menjadi medium komunikasi dan transaksi ekonomi, tetapi juga ruang pembentukan relasi sosial, identitas, dan loyalitas audiens dalam ekosistem digital kontemporer. Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa konsistensi komunikasi, penggunaan bahasa persuasif, dan kemampuan membaca respons penonton menjadi faktor penting dalam mempertahankan keterlibatan audiens secara berkelanjutan dan konsisten.
Pengaruh Filter Bubble di Media Sosial terhadap Minat Beli Konsumen Raihan Firjatullah Irvanianto; Mutiara Azka Saharani Putri; Muhammad Aulia Akbar; Ferry Darmawan
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2932

Abstract

Perkembangan media sosial sebagai sarana pemasaran digital mendorong penggunaan algoritma personalisasi yang memunculkan fenomena filter bubble, yaitu kondisi ketika pengguna lebih sering terpapar pada konten yang homogen dan relevan sesuai preferensinya. Fenomena ini diduga memengaruhi minat beli konsumen melalui paparan konten produk yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh filter bubble di media sosial terhadap minat beli konsumen. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 96 mahasiswa di Kota Bandung yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan regresi linear sederhana menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filter bubble berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen, dibuktikan dengan nilai signifikansi uji t sebesar 0,000 (<0,05) dan nilai t hitung sebesar 10,889, serta uji F dengan signifikansi 0,000 dan F hitung sebesar 118,563. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,585 menunjukkan bahwa filter bubble mampu menjelaskan 58,5% variasi minat beli konsumen. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi paparan filter bubble, semakin tinggi minat beli konsumen. Oleh karena itu, pelaku usaha disarankan memanfaatkan personalisasi konten secara strategis dan etis untuk meningkatkan minat beli tanpa mengurangi keberagaman informasi yang diterima konsumen.
Visual persuasion of halal tourism on social media: the elaboration likelihood model perspective Novita, Sophia; Pramudhita, Reinaldy Agung; Darmawan, Ferry
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 14, No 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v14i1.70219

Abstract

Background: The rise of tourism-destination content on social media has also encouraged the development of halal tourism, which promotes Muslim-friendly destinations. The Elaboration Likelihood Model (ELM) has been widely used to explain the persuasion process in marketing and tourism communication, yet research integrating elements of visual persuasion, halal identity, and message-processing mechanisms in halal tourism promotion on social media remains limited. Purpose: This study aims to analyze the elements of visual communication that function as a persuasive mechanism in promoting halal tourism on social media from the perspective of ELM. Methods: This study employs a mixed-methods design with a sequential explanatory approach in two stages. The first stage is a content analysis. The second phase continued with a survey of social media users and was strengthened through semi-structured interviews with industry practitioners to integrate all findings. Results: The study shows that visual elements dominate halal tourism promotion on social media. Destination visuals appeared in 67.2% of content, followed by halal products or services (65.5%), influencers or tourist testimonials (63.8%), and religious symbols (62.1%). Meanwhile, halal certification only appears in 22.4% of content. The survey results showed that respondents highly recommended Islamic values in the promotion of halal tourism (M = 4.60), sharia tourism education (M = 4.40), Muslim cultural symbols (M = 4.38), and visualization of halal facilities (M = 4.19). Conclusion: Persuasion for halal tourism promotion on social media does not work effectively through central and peripheral channels separately. Visual elements, such as Islamic religious and cultural symbols, play a role in forming a Perceived Halal Identity that bridges the audience’s initial attention to an in-depth evaluation of the destination’s halal attributes. Implications: By proposing Perceived Halal Identity as a mediator between peripherals and central instructions, this study expands the ELM model in halal tourism communication.
Analisis Isi Kritik Nitizen Terhadap Program Makan Bergizi Gratis Pada Komentar Instagram Badan Gizi Nasional Ferry Darmawan; Maulana Yusuf; Rizki Syahidul Haq; Yustia Perdana Ilham Deri
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 7: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i7.17942

Abstract

Perkembangan media sosial menjadikan platform digital sebagai ruang partisipatif bagi masyarakat dalam merespons kebijakan publik. Salah satu fenomena yang muncul adalah beragam kritik netizen terhadap program Makan Bergizi Gratis pada kolom komentar Instagram Badan Gizi Nasional Republik Indonesia. Namun, kritik tersebut belum terpetakan secara sistematis berdasarkan kategori isi yang jelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis isi komentar netizen untuk mengidentifikasi pola kritik dan kecenderungan respons publik terhadap program tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi deskriptif terhadap komentar pada unggahan akun Instagram resmi Badan Gizi Nasional RI tanggal 25 Februari 2026. Data diperoleh melalui teknik observasi dan dokumentasi dengan sampel sebanyak 100 komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komentar netizen didominasi oleh kritik yang meliputi penolakan terhadap program, ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah, kritik terhadap kebijakan dan anggaran program, serta sindiran terhadap pelaksanaan program. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial dapat menjadi indikator persepsi publik terhadap kebijakan pemerintah sekaligus merepresentasikan dinamika opini publik di ruang digital. Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai sarana evaluasi komunikasi publik dan transparansi kebijakan pemerintah. Secara akademis, penelitian menunjukkan media sosial di era digital menjadi ruang publik baru bagi masyarakat berinteraksi, berdiskusi dan beropini.Perkembangan media sosial menjadikan platform digital sebagai ruang partisipatif bagi masyarakat dalam merespons kebijakan publik. Salah satu fenomena yang muncul adalah beragam kritik netizen terhadap program Makan Bergizi Gratis pada kolom komentar Instagram Badan Gizi Nasional Republik Indonesia. Namun, kritik tersebut belum terpetakan secara sistematis berdasarkan kategori isi yang jelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis isi komentar netizen untuk mengidentifikasi pola kritik dan kecenderungan respons publik terhadap program tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi deskriptif terhadap komentar pada unggahan akun Instagram resmi Badan Gizi Nasional RI tanggal 25 Februari 2026. Data diperoleh melalui teknik observasi dan dokumentasi dengan sampel sebanyak 100 komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komentar netizen didominasi oleh kritik yang meliputi penolakan terhadap program, ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah, kritik terhadap kebijakan dan anggaran program, serta sindiran terhadap pelaksanaan program. Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial dapat menjadi indikator persepsi publik terhadap kebijakan pemerintah sekaligus merepresentasikan dinamika opini publik di ruang digital. Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai sarana evaluasi komunikasi publik dan transparansi kebijakan pemerintah. Secara akademis, penelitian menunjukkan media sosial di era digital menjadi ruang publik baru bagi masyarakat berinteraksi, berdiskusi dan beropini.
Hoax Digital Literacy on Instagram Dedeh Fardiah; Ferry Darmawan; Rini Rinawati
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 6 No. 2 (2021): December 2021 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v6i2.581

Abstract

The development of communication technology brings forth new media with various multiplatforms. Information spreads instantaneously to all corners of the world through abundant media devices. In social media spaces, every individual can produce informational content and disseminate it, so it appears as a new phenomenon of citizen journalism. Individuals act as both producers and targets of social media content simultaneously. Ironically, due to freedom of expression on social media, various hoaxes appear intentionally or unintentionally and are widely distributed. This study aims to explore the official Instagram account that handles hoaxes in West Java Province and provide a digital literacy education in their post. This study uses the content analysis method, which efficiently investigates media content on both printed form and digital posts. In addition, it also uses descriptive content analysis to describe in detail a message or a specific content. The study object is Instagram @jabarsaberhoaks with an analysis unit of information items about hoaxes and various digital literacy on Instagram @jabarsaberhoaks in 2020.  In total, their number reaches 900 posts. The result of this study shows that the most common hoax is fake news, such as manipulated content, misleading content, fake news, and fabricated content with health, political, and economic themes. Explicitly or implicitly, digital literacy education about hoaxes can be obtained by accessing the information contained in Instagram accounts. The implication is that it is necessary to study the extent of this educational content responded by the public, so media messages can effectively and efficiently be in the form of educational media about interactive hoaxes.
The Role Of Instagram In Constructing The Ideal Mother Shulbi Putri; Neni Yulianita; Ferry Darmawan
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2025): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v18i2.6348

Abstract

Motherhood has increasingly become a topic shaped and negotiated in digital spaces, especially on social media. This study examines how Instagram shapes the construction of the "ideal mother" through the experiences of young mothers who actively use the platform. Using a qualitative approach, this research explores the negotiation process between societal expectations and personal realities in mothering. In-depth interviews with selected informants reveal that while Instagram serves as a practical and inspirational source of parenting knowledge, it also imposes emotional pressure due to the prevailing social norms of ideal motherhood. The findings suggest that young mothers actively filter and adapt information according to their unique family contexts, demonstrating agency in their engagement with digital motherhood narratives. Furthermore, this study highlights Instagram's dual role in shaping young mothers' behavior. While it offers a supportive community and valuable parenting insights, it also fosters unrealistic expectations that can lead to stress and anxiety. Understanding this dynamic is essential for future discussions on media literacy and the psychological effects of social media on parenting identities. This study contributes to the broader discourse on digital motherhood and offers insights into how social media platforms can be leveraged to provide more balanced and diverse representations of motherhood.
Political News Preferences on Social Media Among Millennials and Gen Z in Bandung City in the 2024 Election Year Ati Suprihatin; Dedy Suhaeri; Ferry Darmawan
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 8 No. 2. December (2024): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v8i2.35743

Abstract

The political year 2024 in Indonesia presents unique dynamics in political news consumption, especially among the Millennial and Gen Z generations. This study explores their preferences, habits, and patterns of political news consumption behavior and the factors influencing them, focusing on the city of Bandung as a case study. This study uses a descriptive analysis method with a qualitative approach through in-depth interviews with purposively selected informants to gain in-depth insights. The study results show that the intensity of Exposure to political news through social media plays a significant role in increasing Millennial and Gen Z interest in political issues. Instagram and TikTok are the leading platforms used because of their interactive features and short video content that is considered interesting, informative, and entertaining. In contrast, traditional media such as television and print are increasingly rarely used because they are considered less flexible and difficult to access. The preference for short video formats reflects the fast and dynamic lifestyle of the younger generation. In addition, their active involvement in political discussions on social media shows the great potential of this generation as a driver of change in the Indonesian political landscape. By utilizing social media platforms and relevant visual content, political stakeholders can increase the younger generation's involvement in the democratic process while strengthening their role in shaping the future of Indonesian politics.
Enhancing Non-Formal Early Childhood Teachers’ Competence through Digital Learning Media Development Novita, Sophia; Darmawan, Ferry; Hakim, Arif; Aqilah, Halimah; Hildayanti, Widia Helti; Alviano, Riko
ETHOS: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 14 No. 2 (2026): (Juli, 2026) Ethos: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Sains
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v14i2.8468

Abstract

Early Childhood Education (PAUD) plays a vital role in developing children’s character, social skills, and readiness to learn. However, many non-formal PAUD institutions in Indonesia face challenges in adopting digital technology due to limited resources, inadequate infrastructure, and teachers’ limited digital competence. This community service aimed to enhance teachers’ competence in developing digital learning media in Andir District, Bandung, through a participatory training program. A total of 19 educators participated in activities, including a pre-test, workshops, hands-on practice, and a post-test. The training introduced accessible tools, including ChatGPT, Canva, PowerPoint, and Sound of Text, to support the creation of interactive learning media.The results show a substantial improvement in participants’ competence. The average score increased from 34.38% in the pre-test to 94.08% in the post-test, indicating an improvement of 59.70%. In terms of practical skills, none of the participants were able to develop interactive learning media before the training. In contrast, all participants (100%) successfully produced more than three interactive learning media products after the training.These findings suggest that practical, context-based digital training with accessible tools can effectively enhance teachers’ competence in developing digital learning media in non-formal early childhood education
Co-Authors Abdullah, Sandi Ibrahim Abu Setiawan Pratama Alam, Fadhli Noor Alex Sobur Alfiansyah Alfiansyah Alviano, Riko Andalusia Neneng Permatasari Andhiya, Syifa Anisa Suci Rahmawati Aqilah, Halimah Arif Hakim Arif Hakim Ariyanto, Jarot Armynia Ekayanti Asih Handayanti Ati Suprihatin Betha Dwi Octaviani Carissa Izza Shafa Dadi Ahmadi Dawam, Dawam Dedeh Fardiah Dedy Suhaeri Dina Nabila Dwiana Ocviyanti Faisal Miftah Fadhillah Fathurrohman, Rizal Fitria Nabillah Nabillah Giszela Deviona Hadi Baku Pangestu Hadnansyah, Edwan Hakim, Arif Hakim, Imam Chaerul Handy Maulana Yusuf Hildayanti, Widia Helti Ihsan, Zainal Ike Junita Irgiana Fajri Andjani Irni Irawati Izni Nur Indrawati Maulani Joe, Michael Kant, Mohamad Alif Gibran Kemal Pri Hutama Kiki Zakiah Darmawan Kurnia Lucky Kurniawan, Yogiek Indra Kusumalestari, Ratri Rizki Lasmedi Afuan Listiani, Endri Maulana Yusuf Maya Amalia Oesman Palapah Muhamad Thiraafi Salni Muhammad Aulia Akbar Muhammad Hafizh Rashiif Aryanto Muhammad Irsyad Sabiq Musyrifah, Farida Mutia Umar Mutiara Azka Saharani Putri Nadia Nadia Ayu Budiani Nadyta Hana R Nadyta Hana Radhiyah Naufal Hadi Makarim Naufal Tijani Neni Yulianita Nia Kurniati Nidya, Khalifia Rahma Nirwansyah Rustaman Novita, Sophia Nurrahmawati Nurru Alfi Fazri Furau'ki Nuryati, Wulan Ogy Mahendra Pramudhita, Reinaldy Agung Puteri Saleha Nurhidayah Putri, Radisya Eka Raden Nisrina Aulia Indallah Raihan Firjatullah Irvanianto Rifqi Abdul Rini Rinawati Rita Gani Riyanti Hayuning Pratiwi Riza Hernawati Rizki Syahidul Haq Saefuddin Saefuddin Saefuddin Saefuddin Sandi Ibrahim Abdullah Sapitri, Intan Sasongko, Bintang Loantara Shanty Olivia Shawila Nolanda Destiano Lestari Shulbi Putri Suhaeri, Dedy Suherlan, Ryan Supaat, Viky Edya Martina Suprihatin, Ati Susilawati Susilawati Tamarisky Setiawan Putra Venny Sevtiany Venny Sevtiany Yanti Yanti Yeva Rosana Yuristia Wira Cholifah Yustia Perdana Ilham Deri Zahra, Ainun Zidnal Falah