Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Metode Discovery Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam SDN 89 Rejang Lebong Mutiara Mahardika; Rana Meiyanda; Wahyu Asbabul Jannah; Sutarto; Aida Rahmi Nasution
Al-Mau'izhoh: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Edisi Juni 2026 in Press
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/am.v8i1.18390

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the discovery learning method in Islamic Religious Education (PAI) learning at SDN 89 Rejang Lebong. The research employed a qualitative field research approach to obtain an in-depth understanding of the learning process carried out in the classroom. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving Islamic Religious Education teachers and students as research subjects. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The results showed that the implementation of discovery learning was carried out systematically through planning, implementation, and evaluation stages. The application of this method succeeded in increasing students’ learning motivation, activeness, critical thinking skills, collaboration, and self-confidence during the learning process. Teachers acted as facilitators who guided students in discovering concepts independently through discussions, observations, and problem-solving activities. The findings indicate that discovery learning creates a more interactive, student-centered, and meaningful learning environment in Islamic Religious Education. This study contributes theoretically to strengthening constructivist learning theory and practically provides an alternative innovative learning strategy for improving the quality of Islamic Religious Education learning in elementary schools.
Pendekatan Brain-Based Learning dalam Pendidikan Abad 21: Perspektif Neuroscience dan Keterampilan 6C Rio Pujangga; Sasi Hanila; M. Azimmullah Ilyas; Sutarto Sutarto; Aida Rahmi Nasution
Jurnal Literasiologi Vol 15 No 1 (2026): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v15i1.1127

Abstract

Pendidikan abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki keterampilan 6C sebagai kompetensi utama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global. Kondisi tersebut memerlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Artikel ini bertujuan menganalisis relevansi Brain-Based Learning dalam pendidikan abad ke-21 melalui perspektif educational neuroscience dan pengembangan keterampilan 6C. Penelitian menggunakan metode library research dengan teknik content analysis terhadap berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Brain-Based Learning mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna sesuai dengan cara kerja alami otak. Pendekatan ini berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kesadaran sosial, dan pembentukan karakter peserta didik. Perspektif neuroscience juga menunjukkan bahwa emosi, motivasi, perhatian, dan pengalaman belajar berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran. Namun, implementasi Brain-Based Learning masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pemahaman pendidik mengenai neuroscience pendidikan dan keterbatasan fasilitas pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan kompetensi guru dan strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.
STRUKTUR OTAK, TINGKAH LAKU MANUSIA, DAN PROSES BELAJAR DALAM PERSPEKTIF NEUROSAINS Revan Marhamah; Jerri Sundari; Feni Karya Utami; Sutarto Sutarto; Aida Rahmi Nasution
Jurnal Literasiologi Vol 15 No 1 (2026): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v15i1.1141

Abstract

Neurosains merupakan ilmu yang mempelajari sistem saraf dan otak manusia serta hubungannya dengan tingkah laku dan proses belajar. Kajian neurosains dalam pendidikan menjadi penting karena proses belajar berkaitan langsung dengan cara kerja otak dalam menerima, mengolah, dan menyimpan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur otak manusia, tingkah laku manusia, dan proses belajar dalam perspektif neurosains. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dari berbagai buku dan sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur otak terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu cerebrum, cerebellum, batang otak, dan sistem limbik yang memiliki fungsi berbeda namun saling berkaitan. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh aktivitas sistem saraf, pengalaman, lingkungan, serta kondisi emosional individu. Selain itu, proses belajar terjadi melalui pembentukan koneksi antarneuron di dalam otak yang dipengaruhi oleh perhatian, motivasi, pengulangan, dan suasana belajar. Dengan demikian, pendekatan neurosains dapat membantu pendidik memahami cara kerja otak sehingga proses pembelajaran dapat dirancang lebih efektif, aktif, dan menyenangkan sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Beyond Classroom Management and Curriculum: How Learning Innovation Shapes Educational Quality in Islamic Boarding Schools Sri Wahyuni Sihombing; Hamengkubuwono Hamengkubuwono; Sutarto Sutarto
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 1 (2026): January
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i1.2248

Abstract

Purpose of the study: Facing pressures to enhance educational quality in the digital and multicultural era, this study examines the effects of multicultural classroom management, curriculum implementation, and learning innovation on the learning quality of junior high school students in Islamic boarding schools (pesantren). Addressing the limitations of previous research, it proposes an integrative analytical model that simultaneously investigates these three variables. Methodology: Employing a quantitative design, the study involved 148 students from two Indonesian pesantren. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed through multiple linear regression. Main Findings: The findings show that multicultural classroom management and curriculum implementation do not have significant partial effects on learning quality. In contrast, learning innovation is the dominant predictor, significantly enhancing learning quality (β = 0.538, p < 0.001). Collectively, the three variables explain 55.4% of the variance, highlighting the decisive role of pedagogical innovation in the pesantren context. Novelty/Originality of this study: The study’s originality lies in its integrative model that simultaneously examines managerial, curricular, and pedagogical dimensions within the pesantren, a context rarely studied empirically. The practical implication emphasizes the importance of strengthening teachers' pedagogical innovation to enhance learning quality in multicultural and digital educational environments.