Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Evaluasi Pelaksanaan Rekam Medis Elektronik di Puskesmas Sungai Durian Joni Herman; Yolanda Montessori; Wagiran; Yolanda Mentessori; Sohibun; Novin Yetiani; Akhmad Hasan; Nurul Khoirun Nisa; Uray Bilchairi Jakti; Barliy Brasila
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5461

Abstract

Rekam medis elektronik merupakan sistem informasi yang menyimpan catatan medis pasien dalam format digital, menggantikan rekam medis berbasis kertas. Pelaksanaan rekam medis elektronik terdapat beberapa kendala seperti jaringan internet lelet, masih terbatasnya sumber daya manusia yaitu tenaga lulusan rekam medis, petugas rekam medis belum sepenuhnya menguasai pengunaan rekam medis elektronik, computer di ruangan rekam medis hanya dua. Tujuan: Mengetahui bagaimana evaluasi pelaksanaan rekam medis elektronik di Puskesmas Sungai Durian Tahun 2025. Metode: jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriftif dengan subjek penelitian yaitu petugas pendaftaran dan kepala instalasi rekam medis sedangkan objek penelitian pelaksanaan rekam medis elektronik. Hasil penelitian kendala ketika melakukan pendaftaran pasien yaitu mengakses fitur-fitur yang jarang digunakan, Proses pengajuan melalui bendahara nanti dari pihak puskesmas yang akan membelikan kebutuhan sesuai dengan pengajuan. peningkatan kapasitas jaringan wifi. computer di unit rekam medis puskesmas tersedia 2 unit, computer yang digunakan sering error. Belum ada penambahan unit computer. Kesimpulan: pelaksanaan rekam medis di puskesmas sesuai dengan kebutuhan pengguna, hanya saja beberapa aspek yang perlu penambahan sesuai dengan kebutuhan pengguna rekam medis elektronik.
Edukasi kesehatan untuk membangun kesadaran tentang pernikahan dini pada remaja Pratama, Rika Yuanita; Sohibun, Sohibun; Wagiran, Wagiran; Karlia, Lilis
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2444

Abstract

Background: Early marriage among adolescents remains a public health problem in Indonesia due to its impact on reproductive health, maternal and child health, and psychosocial well-being. Adolescents' limited knowledge about the health risks of early marriage contributes to low awareness and attitudes toward delaying marriage. Schools are a strategic setting for implementing health promotion and preventive education for adolescents. Purpose: To increase adolescents' knowledge and awareness about early marriage from a health perspective. Method: This community service activity was conducted at SMA Negeri 4 Sintang on July 22, 2025, and involved 50 high school students as respondents. The activity implemented a community education approach through health counseling activities. Material was delivered through interactive lectures and discussions, accompanied by educational media in the form of visual presentations related to early marriage and adolescent reproductive health. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires, analyzed using Wilcoxon Signed Rank to measure changes in students' knowledge and awareness levels before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in adolescents' knowledge and awareness levels regarding early marriage from a health perspective. Results: The results of the activity showed an increase in student knowledge and awareness after the education. Before the education (pre-test), the majority of students had poor knowledge regarding the health impacts of early marriage, amounting to 22 students (44.0%). After the intervention (post-test), the proportion of students with good knowledge increased to 25 students (50.0%), and the proportion with fair knowledge increased to 20 students (40.0%). This indicates an increase in students' understanding of reproductive health risks and the importance of delaying marriage until physical, psychological, and social readiness is achieved. Conclusion: Community service activities in the form of education on early marriage from a health perspective have proven effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of the long-term impacts of early marriage. Suggestion: Education on early marriage from a health perspective needs to be carried out sustainably and integrated into school health promotion activities. Schools are expected to collaborate with health workers in providing comprehensive reproductive health education to students. Keywords: Adolescents; Early marriage Health education; Health promotion; Reproductive health Pendahuluan: Pernikahan dini pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak pada kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, serta kesejahteraan psikososial. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai risiko kesehatan pernikahan dini berkontribusi terhadap rendahnya kesadaran dan sikap dalam menunda usia pernikahan. Sekolah merupakan setting strategis dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan edukasi preventif bagi remaja. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pernikahan dini dalam perspektif kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Sintang pada tanggal 22 Juli 2025 dan melibatkan 50 siswa/siswi SMA untuk menjadi responden. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi, disertai media edukatif berupa presentasi visual yang berkaitan dengan pernikahan dini dan kesehatan reproduksi remaja. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test yang dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan kesadaran siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan kesadaran remaja terkait pernikahan dini dari perspektif kesehatan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa setelah diberikan edukasi. Sebelum penyuluhan (pre-test), mayoritas siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai dampak kesehatan pernikahan dini, yaitu sebanyak 22 siswa/siswi (44.0%). Setelah intervensi (post-test), proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa/siswi (50.0%) dan kategori cukup menjadi sebanyak 20 siswa/siswi (40.0%). Hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai risiko kesehatan reproduksi serta pentingnya menunda pernikahan hingga kesiapan fisik, psikologis, dan sosial. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terhadap dampak jangka panjang pernikahan dini. Saran: Edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan promosi kesehatan sekolah. Pihak sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada siswa.
Exploring Context-Rich Problems for Complex Problem-Solving in Electricity Courses: Comparative Perspectives from Indonesian Universities Sohibun; Setiawan, Agus; Samsudin, Achmad; Suhandi, Andi; Kapıcı, Hasan Özgür; Budiman, Deni Moh; Zulva, Rahmi
Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah Vol 11 No 1 (2026): Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/tadris.v11i1.28458

Abstract

Higher education today requires pedagogies that not only teach technical skills but also transform the ways students think and engage with knowledge. This study investigates the use of context-rich problems (CRPs) as a framework for developing complex problem-solving (CPS) in university-level electricity courses. Using a qualitative case study design, data were collected from 34 students across four Indonesian universities, representing diverse cultural and institutional settings. The findings show that CRPs encouraged transformative learning by shifting students from procedural problem-solving to reflective, expert-like practices, such as qualitative reasoning, iterative planning, and selective information seeking. Contextual differences emerged: students in stronger academic environments demonstrated greater confidence and ability to connect theory with authentic contexts, while others relied more on formulaic strategies. These results highlight the influence of sociocultural and institutional contexts on transformative engagement. Embedding CRPs in science education can therefore foster conceptual understanding, critical awareness, and agency in approaching complex real-world problems. Furthermore, the study suggests that educators should consider incorporating CRPs into curricula to facilitate deeper learning experiences, particularly in fostering the skills necessary to tackle modern, interdisciplinary challenges.