Claim Missing Document
Check
Articles

Ketahanan Padi Transgenik Db1 Terhadap Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Biotipe 3 (Resistance of Db1 Transgenic Rice to Biotype 3 of Brown Planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) Nono Carsono; santika sari; danar dono; kinya toriyama
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.159 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.23150

Abstract

Brown planthopper has been recognized as a primary pest of rice in Indonesia and most Asian countries. Developing rice lines resistant to this pathogen is an effective and environmentally friendly approach. Rice cv. Taichung 65 has been transferred with Db1 gene from yam tuber Dioscorea batatas, to improve its resistance to insect pathogen. The rice plant, however, is not been known yet of its resistance to biotype 3 of brown planthopper from Indonesia. The objective was to obtain resistance level of Db1 transgenic rice against biotype 3, the brownest planthopper attacking rice. The experiment was arranged in randomized block design, and some tests performed were screening resistance, honeydew test, and the oviposition preference. Results indicated that Db1 Taichung transgenic rice had improved resistance level as compared to its wild type; from very susceptible to susceptible. Db1 transgenic rice line had a lower resistance level compared to those of cv. PTB33, Rathu Heenati, Ciherang, Babawee, IR64, dan Cisadane. It could be seen from a higher amount of honeydew excreted and a number of an egg laid by brown planthopper compared to those of tested cultivars.  It is concluded that DB1 transgenic line is susceptible, then it is not sufficient to control brown planthopper specifically biotype 3.
Analisis Karakter Penting dan Skrining Marka-marka SSR yang Berasosiasi dengan Gen Ketahanan terhadap Wereng Coklat pada Lima Kultivar Padi Gigih Ibnu Prayoga; Danar Dono; Neni Rostini; Nono Carsono
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.967 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.20716

Abstract

 AbstrakHama wereng cokelat telah lama menjadi masalah utama dalam budidaya padi di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Merakit tanaman yang memiliki ketahanan terhadap hama ini, dipandang sebagai pendekatan yang lebih efektif dan ramah terhadap lingkungan dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perbedaan pada karakter penting padi antara kaultivar padi tahan dengan kultivar rentan wereng cokelat, selain itu juga untuk mendapatkan marka-marka SSR yang bisa digunakan untuk Marker Assisted Selection (MAS) dan hubungannya dengan karakter penting. Penelitian ini meliputi upaya pengamatan karakter penting dan skrining delapan marka SSR yang diduga berkaitan dengan gen bph (ketahanan terhadap wereng coklat) pada lima kultivar padi tetua yaitu PTB-33 (genotipe tahan), IR-64, Pandan Wangi, Ciherang, dan Sintanur (kultivar lokal). Pengujian karakter penting pada kultivar PTB-33 memiliki laju fotosintesis yang lebih tinggi (toleran), trikoma yang lebih panjang (antixenosis), dan kandungan protein yang lebih rendah (antibiosis) dibandingkan kultivar lainnya yang diuji. Hasil visualisasi pada delapan marka yang memperlihatkan bahwa RM8213 menunjukkan adanya polimorphisme pita DNA pada genotipe tahan PTB-33 dengan kultivar lainnya. Selain itu, marka RM586 dan RM589 juga menunjukkan adanya polimorphisme pada kultivar PTB-33 dengan kultivar lainnya kecuali dengan kultivar IR-64. Hasil analisis Z-Mantel antara marka SSR dengan karakter karakter penting tetua menunjukkan bahwa gen Qbph4 dan Bph17(t) mempunyai korelasi yang sangat tinggi dengan karakter laju fotosintesis dan panjang trikoma, sedangkan gen gen Bph3 dan bph4 berkorelasi tinggi dengan kandungan protein. Kata kunci : gen bph, karakter penting, marka, visualisasi, wereng cokelat. AbstractBrown planthopper (Nilaparvata lugens Stal) is well-known as the major pest in rice cultivation in Indonesia and other countries in Asia. Developing resistant rice lines  is the ideal option for economic and effective management. The experiments were aimed to obtain the important traits between Brown planthopper (BPH) resistant and susceptible genotypes, to obtain SSR markers that can be used in Marker Assisted Selection (MAS) and association of SSR markers with important traits. In this study, characterization of important traits and screening of eight SSR markers were performed for five genotypes i.e. PTB-33 (resistant genotype), IR-64 (tolerant), Pandan Wangi (susceptible), Ciherang (susceptible), and Sintanur (susceptible). PTB-33 showed higher photosynthetic rate (tolerant ability), longer trichomes size (antixenosis ability), and lower protein content (antibiosis ability) compared with other cultivars. RM8213 exhibited visible polymorphic bands between PTB-33 and other cultivars, meanwhile RM586 and RM589 showed polymorphic bands between PTB-33 and other cultivars, except with cv. IR-64. Z-mantel test for correlation between physiological traits and SSR markers showed that Qbph4 and Bph17(t) genes highly correlated with photosynthetic rates and trichomes length, whereas Bph3 and bph4 genes showed a high level of correlation with protein content. Keywords : brown planthopper, important traits, marker, bph gene, visualization
Toksisitas ekstrak biji Barringtonia asiatica (Lecythidaceae) terhadap mencit putih (Mus musculus Strain DDY) Wahyu Daradjat Natawigena; Danar Dono; Ivan Febriana
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3589

Abstract

Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati adalah Bitung (Baringtonia asiatica) yang teruji mengandung terpenoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui toksisitas ekstrak kasar (B. asiatica) terhadap mencit putih (Mus musculus) dan potensinya sebagai rodentisida nabati. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengujian toksisitas B. asiatica terhadap mencit dilakukan secara oral dengan menghitung LD50 menggunakan metode analisis probit. Pengamatan perilaku mencit yang keracunan ekstrak B.asiatica dilakukan dengan menggunakan metode Wagner & Wolff.  Pengamatan perubahan fisiologis mencit yang teracuni ekstrak metanol biji B. asiatica dilakukan dengan menggunakan kandang metabolisme (Nalgane Metabolic Cages). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik terhadap mencit putih (M. musculus) dengan nilai LD50 = 2022 ppm atau 0,2022% dan digolongkan ke dalam skala toksistas 3 yaitu senyawa dengan toksisitas sedang. Ekstrak B. asiatica mempengaruhi sistem syaraf pusat dan dapat mengakibatkan perubahan pada organ detoksifikasi. Ekstrak biji B. asiatica dapat meningkatkan produksi urin, menurunkan laju konsumsi dan produksi feses, dan menurunkan pertumbuhan bobot mencit. Dengan demikian ekstrak biji B. asiatica berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan aktif rodentisida. One of the plants that potentially as botanical pesticides is the Bitung (Baringtonia asiatica) which is tested contained of terpenoid and saponin. This research aimed was to determine the toxicity of crude extracts (B. asiatica) to white mice (Mus musculus) and their potential as botanical rodenticides. The research used an experimental method with complete randomized design. B. asiatica toxicity testing in mice was carried out orally by calculating LD50 using the probit analysis method. Observation of the behavior of B.asiatica extract poisoning mice was carried out using the Wagner & Wolff method. The physiological experience of mice which were poisoned by the methanol extract of B. asiatica seeds was carried out using a cage (Nalgane Metabolic Cages). The results showed that B. asiatica seed extract was toxic to white mice (M. musculus) with LD50 = 2022 ppm or 0.2022% and classified into toxicity scale 3, namely compounds with moderate toxicity. B. asiatica extract affects the central nervous system and in turn detoxifying organs. B. asiatica seed extract can increase urin production, reduce the rate of consumption and facial production, and reduce the weight level of mice. Therefore that B. asiatica seed extract potentially to be developed as an active ingredients of rodenticides.
Status dan Mekanisme Resistensi Biokimia Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae) terhadap Insektisida Organofosfat serta Kepekaannya terhadap Insektisida Botani Ekstrak Biji Barringtonia asiatica DANAR DONO; SYAFRI ISMAYANA; IDAR IDAR; DJOKO PRIJONO; IKHA MUSLIKHA
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 7 No 1 (2010): April
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.192 KB) | DOI: 10.5994/jei.7.1.9

Abstract

An examination of insect resistance was determined by several steps, i.e. standard sensitivity, resistance diagnosis, and determination of resistance level. Each phase was tested with feeding and residue contact methods at glass tube. Resistance ratio (RR) was determined by comparing LC50 value of field population with standard population. Field population of C. pavonana was classified resistant if it had RR 5 4. Biochemistry analysis of resistance was conducted to population of C. pavonana showing resistance to prophenophos insecticide. The activity analysis of acetylcholine esterase (ACHE), esterase, and Glutation Stransferase was done with spectrophotometer method. Insect which are resistant to prophenophos insecticide was tested for its sensitivity to Barringtonia asiatica seed extract. Result indicated that C. pavonana population from Pengalengan showed resistance to prophenophos synthetic insecticide. Using contact test, the highest resistance ratio value was 4.04, while by feeding assay the RR was 2.78. The study on biochemical resistance mechanisms of each field population of C. pavonana showed various activities of enzymatic detoxification. This could be due to the difference in the kind of insecticides exposed to each field population of C. pavonana. Since RR value from the contact test was higher than that of the feeding test, the resistance development of C. pavonana to synthetic insecticides was probably caused by physiological and biochemical changes in insect cuticle rather than the activity of detoxification enzyme. Methanolic seed extract of B. asiatica can be used as an alternative of resistance management of C. pavonana to prophenophos synthetic insecticide.
AN INSECTICIDAL COMPOUND FROM Barringtonia asiatica Rani Maharani; Safri Ishmayana; Yusuf Hidayat; Danar Dono
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.296 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v3i1.2028

Abstract

Satu buah glikosida oleanan berhasil diisolasi dari biji Barringtonia asiatica. Struktur senyawa ini ditentukan oleh 1H- dan 13C-NMR satu dan dua dimensi serta oleh perbandingan langsung dengan standar. Senyawa ini menunjukkan aktivitas insektisida yang paling tinggi terhadap Crocidolomia pavonana. Dari penelitian ini diketahui bahwa biji B. asiatica mengandung senyawa insektisida yang paling aktif dengan nilai LC50 sebesar 290 ppm yang potensial untuk aplikasi insektisida.Kata Kunci: Barringtonia asiatica, glikosida oleanan, aktivitas insektisida, Crocidolomia pavonana 
The effect of Tofu Wastewater on Cabbage Growth and Preference of Plutella xylostella Siska Rasiska; Nasya Nabila; Danar Dono; Toto Sunarto; Ceppy Nasahi
CROPSAVER Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v5i1.36927

Abstract

Tofu wastewater containing a high proportion of organic compound may cause various adverse impacts, such as water pollution which bad smell and degrading the aesthetics of the environment.  The efforts uses of tofu wastewater is a organic liquid fertilizer. The aims of this study was to determine the effect of tofu wastewater on cabbage growth and preference of Plutella xylostella. The experiment was carried out from April to June 2018, at Ciparanje Experimental Field, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Randomized block design was used with nine treatment concentration of tofu wastewater consist of control 0%, 12.5%, 25%, 37.5%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5%, 100%, and three replication. The result showed that tofu wastewater by 100% could increase the growth of cabbage. The highest female P. xylostella preference.
Pengaruh Toksisitas minyak Azadirachta indica, Ricinus communis, dan campurannya: Pengaruhnya terhadap indeks nutrisi larva dan oviposisi imago Spodoptera frugiperda (J. E. Smith) pada tanaman jagung Retno Wulansari; Yusup Hidayat; Danar Dono
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 19 No 3 (2022): November
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5994/jei.19.3.181

Abstract

Spodoptera frugiperda (J. E. Smith) is an invasive pest that causes a high economic impact on maize. Alternative control that is relatively safe to non-target organisms that can be combined with other control strategies is botanical insecticides. This study aimed to evaluate the effect of Azadirachta indica (Meliaceae), Ricinus communis (Euphorbiaceae) oils, and their mixtures on mortality and nutritional indices and oviposition of S. frugiperda. The testing of toxicity and nutritional indices was done using the feed dipping method, while oviposition testing was conducted by spraying on treated plants. The relationship between concentration and mortality of tested insects was analyzed using probit analysis, while other data using analysis of variance. The results showed that A. indica, R. communis, and their mixtures were toxic to S. frugiperda larvae (II–VI) with LC50 values ​​of 0.039 (0.017–0.100)%, 0.144 (0.094–0.221)%, 0.034 (0.021–0.061)% respectively, and of LC95, 0.391 (0.134–16.671)%, 4.379 (1.986–15.516)%, 0.219 (0.104–1.251)%, respectively. The toxicity of the oil mixture increased 4.2 times to 20.0 times at LC50 and LC95, respectively. Oil treatments resulted in a decrease in the relative consumption rate, relative growth rate, food utilization efficiency, an increase in approximate digestibility of S. frugiperda. In addition, botanical oils act as antioviposition of S. frugiperda. However, A. indica, R. communis, and their mixtures were phytotoxic on maize. Therefore, the opportunity of a mixture of A. indica and R. communis oils to be used as an insecticide still needs to be evaluated or can be used on other plants that are more tolerant.
Resistance Level and Enzyme Activity of Spodoptera litura F. to Chlorpyrifos and Their Sensitivity to the Oil Formulation of Azadirachta indica Juss. and Cymbopogon nardus (L.) Rendl. R. Arif Malik Ramadhan; Neneng Sri Widayani; Danar Dono; Yusup Hidayat; Safri Ishmayana
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 44, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v41i0.3729

Abstract

This study aimed to obtain resistance information of S. litura from Karangpawitan and Lembang districts (West Java, Indonesia) against chlorpyrifos insecticides (200 g/l) and their sensitivity to oil mixture of A. indica and C. nardus (1:1) using feeding and topical assay. The activity of acetylcholinesterase, esterase, and glutathione s-transferase from S. litura larvae in both populations were tested to determine their role in insect resistance. Results showed that S. litura population from Lembang had a higher level of resistance to chlorpyrifos compared to Karangpawitan. The sensitivity of the two S. litura populations had a relatively similar resistance ratio (RR) value of less than 1 to botanical insecticide. These indicated that resistant population could be controlled by a mixture of this botanicals insecticide. Enzyme activity test indicated that chlorpyrifos at a concentration of 0.26% could inhibit the acetylcholinesterase activity of insect population from Karangpawitan by 98.66% while those from Lembang, it was only 35.31%. Specific activity of esterase from Karangpawitan was 13.37 units/mg while Lembang population was 119.65 units/mg. The specific activity of the Glutathione S-Transferase (GST) of Karangpawitan population was 1140.82 units/mg while Lembang population was 793.73 units/mg. The high activity of the three enzymes could be responsible for resistance of S. litura larvae to chlorpyrifos.
In Vitro Sensitivity of Phytophthora infestans (Mont.) de Bary Isolated from Cikajang, Garut, to Several Fungicides Widiantini, Fitri; Maksum, Muhammad; Dono, Danar
Agrikultura Vol 33, No 2 (2022): Agustus, 2022
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v33i2.40357

Abstract

Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh oomycete Phytphthora infestans merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kentang. Metode pengendalian utama yang digunakan oleh petani adalah dengan menggunakan fungisida sintetis. Akan tetapi, penggunaan fungisida secara terus menerus dapat menyebabkan timbulnya populasi patogen yang resisten sehingga dapat menurunkan keefektifan fungisida tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengevaluasi sensitivitas P. infestans yang diisolasi dari pertanaman kentang di Desa Cikajang, Kabupaten Garut terhadap beberapa fungisida berbahan aktif metalaksil, mankozeb, dimetomorf, klorotalonil dan oksatiapiprolin. Eksperimen dilaksanakan dengan menggunakan metode makanan beracun dan detached-leaf assay. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa P. infestans sensitif terhadap metalaksil dan mankozeb pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan pertumbuhan koloni masingmasing mencapai 93,3%. Lebih lanjut, berdasarkan hasil detached leaf assay, penghambatan terbentuknya lesi mencapai 100% pada perlakuan fungisida berbahan aktif metalaksil. Sementara penghambatan sebesar 70% diperoleh pada perlakuan fungisida berbahan aktif mankozeb. Sensitivitas P. infestans dikategorikan sebagai sedang terhadap fungisida berbahan aktif dimetomorf pada konsentrasi 1000 ppm dan klorotalonil pada konsentrasi 2000 ppm dengan penghambatan koloni masing-masing sebesar 65,5% dan 75,8% serta penghambatan pembentukan lesi 54,7% dan 59,1%. Eksperimen ini juga menemukan adanya indikasi penurunan sensitivitas P. infestans terhadap oksatiapiprolin yang ditunjukkan dengan rendahnya penghambatan pertumbuhan yang hanya sebesar 8,5% dengan penghambatan pembentukan lesi sebesar 48,8% ketika dibandingkan dengan keempat jenis fungisida lainnya.
Analisis Korelasi Marka Simple Sequence Repeats Molecular Markers dengan Karakter Ketahanan terhadap Wereng Cokelat pada Lima Kultivar Padi Prayoga, Gigih Ibnu; Sari, Santika; Dono, Danar; Carsono, Nono
Agrikultura Vol 33, No 3 (2022): Desember, 2022
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v33i3.41024

Abstract

Hama wereng cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) telah lama menjadi masalah utama dalam budidaya padi di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Merakit tanaman yang memiliki ketahanan terhadap hama ini, dipandang sebagai pendekatan yang lebih efektif dan ramah terhadap lingkungan dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perbedaan pada karakter penting padi antara kultivar padi tahan dengan kultivar rentan wereng cokelat, selain itu juga untuk mendapatkan marka-marka SSR yang bisa digunakan untuk Marker Assisted Selection (MAS) dan hubungannya dengan karakter penting. Riset ini meliputi pengamatan karakter penting dan skrining delapan marka SSR yang diduga berkaitan dengan gen bph (ketahanan terhadap wereng cokelat) pada lima kultivar padi tetua yaitu PTB-33 (genotipe tahan), IR-64, Pandan Wangi, Ciherang, dan Sintanur. PTB-33 memiliki laju fotosintesis yang lebih tinggi (toleran), trikoma yang lebih panjang, dan kandungan protein yang lebih rendah dibandingkan kultivar lainnya yang diuji. Hasil visualisasi marka RM8213 menunjukkan adanya polimorfisme pita DNA pada genotipe tahan PTB-33 dengan kultivar lainnya. Selain itu, marka RM586 dan RM589 juga menunjukkan adanya polimorfisme pada kultivar PTB-33 dengan kultivar lainnya kecuali dengan kultivar IR-64. Hasil analisis Z-Mantel antara marka SSR dengan karakter penting genotipe uji menunjukkan bahwa gen Qbph4 dan Bph17(t) mempunyai korelasi yang sangat tinggi dengan karakter laju fotosintesis dan panjang trikoma, sedangkan gen gen Bph3 dan bph4 berkorelasi tinggi dengan kandungan protein. Ketiga karakter tersebut diduga berperan penting dalam mekanisme pertahanan terhadap hama wereng cokelat pada padi.
Co-Authors Abraham Suriadikusumah Afifah Nashirotul Haq Ainun, Khairunissa Andang Purnama Andhita Nadhirah Argo Utomo C. Pickerling Ceppy Nasahi DJOKO PRIJONO Eka Rahayu Setyaningsih Emelda Anggraini Endah Yulia Endah Yulia Entun Santosa Entun Santosa Entun Santosa - Erawati, Alfira Dewi Ernaldi Eka Nanda Fadhilah Rahmah Aprianti Fathussalam, Muhammad Fauziaty, Muthia Riefka Febritami, Giannisa Fhera Hardiani Fitri Widiantini Fizrul Indra Lubis Frida P. Inangsih - Giannisa Febritami Giffari, Fahri Rijal Gigih Ibnu Prayoga Gilang, Rama Ginanjar Haq, Afifah Nashirotul Haryadi, Dudi Hedi Paramita IDAR IDAR IKHA MUSLIKHA Indah Meutia Arisanti Irman Eka Septiarusli Irpan Permana Irsyad, Andika Muhammad Ivan Febriana Iwan Setiawan Jabbar, Muhammad Aqshal Azizil Kiki Haetami kinya toriyama Lathifah Azizah Lilian Rizkie Lindung Tri Puspasari Maulana, Raihan Rahmat Meliyansyah, Rika Mia Sukma Dewi Mochamad Arief Soleh Muhammad Maksum Mukhamad Agung Yusuf N Usyati Nanda, Ernaldi Eka Narendra, Nathanael Dimas Nasrudin Nasrudin Nasya Nabila Neneng S Widayani Neneng Sri Widayani Neneng Sri Widayani Neneng Sri Widayani Nenet Susniahti Nenet Susniahti Neni Rostini Neni Rostini Nono Carsono Noor Istifadah Nurfadza, Alysha Rianty Nurul Khumaida Paramita, Hedi Purnawan, Pupung Putri, Ghifa Alghifaira R. Arif Malik Ramadhan Raden Arif Malik Ramadhan Rama Ginanjar Gilang Ramadhan, R. Arif Malik Rani Maharani Rani Maharani Ratmaneli Ratmaneli Retno Wulansari Rika Meliansyah Rismanto Rismanto Rohendi Rohendi Rusydan, Muhammad Ardillah Safri Ishmayana Safri Ishmayana Safri Ishmayana Safri Ishmayana Santika Sari Santika Sari Siska Rasiska SIska Rasiska, SIska Sri Hartati Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Susanti, Rista Susanto, Ainun Nandini Putri Susniahty, Nenet SYAFRI ISMAYANA Syarif Hidayat Syarif Hidayat Syariful Mubarok Tarkus Suganda TATI NURHAYATI Teddy Budiyansyah Toto Sunarto Toto Sunarto Unang Supratman Usyati, N Utami Dwi Ginasti Vira Kusuma Dewi Wahyu Daradjat Natawigena, Wahyu Daradjat Widayani, Neneng Sri Widayani, Neneng Sri Yani Maharani Yenny Mulyani Yogas Dwi Pratiwi Yusuf Hidayat Yusuf Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yuwono, Indra