Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Focus Group Discussion Masalah Pertanian dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Penanaman Pohon Bambu di Salingka Kampus Universitas Andalas Zahlul Ikhsan; Hidrayani Hidrayani; Winarto Winarto; Yusniwati Yusniwati; Roza Yunita; Nofrita Sandi; Sri Wahyuni; Nofialdi Nofialdi; Reflinaldon Reflinaldon
Warta Pengabdian Andalas Vol 28 No 4 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.28.4.428-434.2021

Abstract

Land conditions in Sungkai, Padang City, have slopes and high rainfall. The causes low water absorption capacity. For this reason, it is necessary to plant plants that can help increase water absorption, one of which is bamboo plants. This activity was carried out on November 6, 2021, to empower the community of farmer groups in the Andalas University campus with a focus group discussion on agricultural issues and planting bamboo trees. The activity consists of four stages: preparation, counselling/socialization, focus group discussion, and field practice. There are five main problems to solve. The issues found are 1) how to handle flooding in the river; 2) how to control plant-disturbing organisms without using chemicals; 3) new land clearing methods so as not to damage the environment; 4) how to obtain and treat good seeds and seedlings before planting, and 5) farmer group dynamics and their resolution. Planting bamboo is one of the steps to deal with the problem of flooding. Bamboo has a very tight, broad, and strong root system to strengthen the soil structure and withstand water runoff. Bamboo plants can also become new hosts of pests that damage cultivated plants. The service team synergizes with extension workers to understand bamboo, which can be an alternative in sustainably conserving soil and water.
ANALISA SOSIOEKONOMI PENERAPAN PENGUMPANAN TEBU DALAM PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA MERAH TEBU DI LAWANG Sandra Melly; Nofialdi Nofialdi
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.881 KB) | DOI: 10.25077/jtpa.19.1.59-64.2015

Abstract

Pengembangan agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah usahatani terus digalakkan. Sejalan dengan itu, peran inovasi teknologi makin strategis dalam upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi sistem produksi. Pengembangan agroindustri tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi mekanisasi, baik di dalam maupun luar usahatani. Begitu juga halnya dengan agroindustri gula merah tebu (GMT) yang merupakan agroindustri skala kecil yang menghadapi berbagai kendala dalam pengembangannya. Salah satunya adalah rendemen dan produkstivitas agroindustri GMT yang rendah di Lawang yang disebabkan diantaranya kurang optimalnya proses penggilingan. Berbagai alternatif teknologi dapat diterapkan untuk mengatasinya, salah satunya melalui cara pengumpanan tebu. Namun perlu dilakukan pemilihan teknologi yang tepat baik secara teknis, ekonomi dan sosial. Oleh karenanya tujuan penelitian ini adalah  menentukan dan menganalisis kelayakan sosioekonomi cara pengumpanan tebu yang diterapkan dalam pengembangan agroindustri gula merah tebu. Metode MPE digunakan untuk memilih pengumpanan tebu yang akan diterapkan, sedangkan analisa sosioekonomi dilakukan secara kualitatif dengan metode deskriptif. Dari penelitian ini diketahui bahwa (1) Perbaikan cara pengumpanan tebu dengan melakukan pengumpanan tebu 4 batang sekaligus dipilih sebagai alternatif dalam pengembangan agroindustri GMT di Lawang (berdasarkan metode penilaian MPE) dengan nilai 749, dengan mengacu pada kriteria laju pengumpanan, ketersediaan tenaga kerja ,ketersediaan bahan baku, kemampuan operator dan kemampuan modal, (2) Cara pengumpanan tebu 4 batang sekaligus ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial layak untuk diterapkan dalam pengembangan agroindustri GMT di Lawang.Kata Kunci: Gula merah tebu, pengembangan agroindustri, pengumpanan tebu
ANALISIS KELEMBAGAAN SUPPLY CHAIN AGROINDUSTRI BAWANG MERAH DI KABUPATEN SOLOK DENGAN MENGGUNAKAN METODE SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) 10.0 Dedet Deperiky; Santosa Santosa; Rika Ampuh Hadiguna; Nofaldi Nofialdi
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 8 No. 2 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v8i2.531

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Mei 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur kelembagaan rantai pasok agroindustri bawang merah dan menganalisis kinerja rantai pasok bawang merah di Nagari Alahan Panjang Kabupaten Solok. Metode penelitian menggunakan Supply Chain Operation Reference (SCOR) 10.0. Metode pengambilan sampel secara purposive. Sampel yang diambil adalah sebanyak 50% dari populasi yaitu petani bawang merah (25 orang), ketua kelompok tani (2 orang), pedagang besar (3 orang), anak randai (3 orang) dan pedagang besar di Pekanbaru (2 orang).Hasil penelitian menunjukkan struktur kelembagaan rantai pasok agroindustri bawang merah meliputi petani – anak randai- kelompok tani - pedagang besar dan pedagang besar di Pekanbaru serta 3 aliran yang dikelola dalam rantai pasok bawang merah yakni barang, uang dan informasi. Untuk kinerja reliability yaitu 35,70, responsivness adalah 3,5 hari, nilai agility tidak dilakukan penghitungan disebabkan tidak adanya jumlah tambahan permintaan bawang merah sebesar 20% dari pelaku rantai pasok dan cost adalah 2,14 serta critical key performance indicator,s dari cost pada metrik level 1 di terjadi di tingkat petani yaitu 0,52.Saran yang diberikan adalah kelompok tani sebagai unit business harus mampu meningkatkan kinerja rantai pasok agroindustri bawang merah dengan cara semakin memperkuat kemitraan dengan pelaku rantai pasok dan pemerintah harus mensinergikan koordinasi dengan kelompok tani agar petani bisa mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam menjual bawang merah.
Factors Affecting the Marketing Efficiency of Gambier Commodity in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra, Indonesia Muhammad Hendri; Rahmat Syahni; Nofialdi Nofialdi; Ifdal Ifdal
International Journal of Agricultural Sciences Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/ijasc.4.1.8-17.2020

Abstract

This research is motivated by the condition of Gambier marketing in Limapuluh Kota Regency, the Gambier center of West Sumatera and Indonesia, which is still experiencing problems and tends to be inefficient because of the high marketing margins, and the low share received by farmers. This study aims to analyze what factors influence the marketing efficiency of Gambier commodities in Lima Puluh Kota Regency. In this study, the researcher uses a Structural Equation Model (SEM) PLS method by taking 100 Gambier producers from Kapur IX sub-district and Pangkalan Koto Baru sub-district as research sites. The results showed that the variables of human resources, marketing institutions, products, capital, and markets significantly affect the marketing efficiency of Gambier commodities in the research site. Only the variable of government policy did not have a substantial impact on marketing efficiency
Artikel Review: Parameter Operasional Pirolisis Biomassa Sri Aulia Novita; Santosa Santosa; Nofialdi Nofialdi; Andasuryani Andasuryani; Ahmad Fudholi
Agroteknika Vol 4 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/agroteknika.v4i1.105

Abstract

Artikel ini menjelaskan definisi pirolisis dan pentingnya proses pirolisis dalam konversi termokimia biomassa menjadi bahan bakar. Teknologi pirolisis berpotensi untuk dikembangkan karena ketersediaan sumber bahan biomassa yang sangat melimpah, teknologinya mudah untuk dikembangkan, bersifat ramah lingkungan dan menguntungkan secara ekonomi. Dalam teknik pirolisis, beberapa parameter yang mempengaruhi proses pirolisis adalah perlakuan awal biomassa, kadar air dan ukuran partikel bahan, komposisi senyawa biomassa, suhu, laju pemanasan, laju alir gas, waktu tinggal, jenis pirolisis, jenis reaktor pirolisis dan final produk pirolisis. Reaktor pirolisis adalah alat pengurai senyawa-senyawa organik yang dilakukan dengan proses pemanasan tanpa berhubungan langsung dengan udara luar dengan suhu 300-6000C. Beberapa jenis reaktor pirolisis yang sering digunakan adalah Fixed-Bed Pyrolyzer, Bubbling Fluidized-Bed Reactors, Circulating Fluidized Bed, Ultra–Rapid Pyrolyzer, Rotating Cone, Ablative Pyrolyzer dan Vacuum Pyrolyzer. Teknik pirolisis menghasilkan tiga macam produk akhir, yaitu bio-oil, arang (biochar) dan gas.
Analisis Rantai Nilai Ikan Nila: Studi Kasus di Kabupaten Toba Samosir Julia Marisa; Rahmat Syahni; Rika Ampuh Hadiguna; Nofialdi Nofialdi
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 02 (2021): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v10i02.2368

Abstract

Tujuan dari penelitian/kajian ini adalah mengidentifikasi pola rantai pasok dan menganalisis nilai tambah pada setiap anggota rantai pasoknya; serta menganalisis rantai nilai pada pelaku usaha yang memperoleh keuntungan terbesar dan pihak terkait di Kabupaten Toba Samosir. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini berupa analisis data kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis rantai nilai usaha ikan nila. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menghitung biaya dan keuntungan yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah usaha. Hasil dari penelitian/kajian ini adalah (1) pola aliran rantai pasok usaha ikan nila dimulai dari pembudidaya ikan sampai kepada konsumen. Anggota rantai pasok ikan nila terdiri dari pembudidaya ikan, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pengolah ikan Nila dan Fillet. (2) Besarnya nilai tambah yang didapat oleh setiap pelaku rantai pasok ikan nila adalah 22,59 % untuk pembudidaya ikan nila, 86,96% untuk pedagang pengumpul, 48% untuk pedagang pengecer, 42,59% untuk pengolah ikan nila, dan 12,61% untuk pengolah ikan nila fillet. (3) pelaku usaha yang memperoleh keuntungan terbesar pada rantai nilai adalah pedagang pengumpul yaitu sebesar Rp 25.507.513 per ton atau Rp. 25.510 per kilogram ikan nila dan terdapat keterkaitan antara seluruh pelaku rantai dengan melihat fungsi dan dampaknya terhadap pertambahan nilai ikan nila menjadi ikan asin dan ikan fillet.
Fast Pyrolysis of Biomass with a Concentrated Solar Power: a Review Sri Aulia Novita; Santosa Santosa; Nofialdi Nofialdi; Andasuryani Andasuryani; Ahmad Fudholi; Perdana Putera
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 6 No. 2 (2022): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.101 KB) | DOI: 10.55043/jaast.v6i2.62

Abstract

Indonesia's biomass energy potential is estimated at around 49,810 MW and is very adequate for the development go renewable energy. An example of a biomass conversion technique is pyrolysis which converts biomass into bio-oil. The optimum temperature for the pyrolysis process is 300-600 0C. Parameters that affect the pyrolysis process such as pretreatment of the material, moisture content and particle size of the material, the composition of biomass compounds, the effect of temperature, heating rate, gas flow rate, type of pyrolysis, and pyrolysis reactor. This is a thermochemical technique in which biomass waste is converted into solid fuel (char), producer gas (syngas), and liquid (bio-oil) without oxygen in a reactor. This article contains a comprehensive review of biomass conversion techniques to bio-oil using the solar energy-based fast pyrolysis method. Furthermore, the exposure used was based on the publication source, year, origin country, research methodology, and focus area. Most research has been empirical and mainly focused on fast pyrolysis and its influencing factors. There are several studies, information, and research recommendations described in this article.
The Influence Factors of Regional Development to Create Regional Competitiveness : A Review Rini Hakimi; Melinda Noer; Nofialdi Nofialdi; Hasnah Hasnah
International Journal of Agricultural Sciences Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/ijasc.5.2.101-107.2021

Abstract

Regional development was done before Indonesia's Independent day in 1945, but it still did not achieve the result as expected. The root cause of this problem is avoiding factors that influence regional development. The method used is an integrated review of research focused on regional development and competitiveness. This paper will discuss the external and internal factors of regional development to increase Indonesian position in regional competitiveness level. Internal factors related to regional development are management, resources, participation, local industry, infrastructure, technology, local policy, innovation, and entrepreneurship. Moreover, the external factors affecting regional development are the government, politics, market, and investment. Internal factors in regional development can be controlled; however, external factors are uncontrollable. Focusing on regional development to maintain competitive economic growth and become a competitive region should be put on innovation, entrepreneurship, and networking
Pengaruh Orientasi Pasar, Orientasi Kewirausahaan, dan Manajemen Pengetahuan melalui Keunggulan Bersaing terhadap Kinerja Pemasaran UMKM Pengolah Kopi di Kabupaten Tanah Datar Fayi Afifah; Nofialdi Nofialdi; Widya Fitriana
Jurnal Sosio Agribisnis Vol 7, No 2 (2022): JSA Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsa.v7i2.27538

Abstract

This study was aimed at describing the conditions and analyzing the influence of market orientation, entrepreneural orientation, and knowledge management through competitive superiority on the marketing performance of Coffee Processing MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises) in Tanah Datar Regency. The type of data used was cross section data. Data were obtained from questionnaires and interviews to 87 respondents. Research variables include market orientation, entrepreneural orientation, knowledge management, competitive superiority, and marketing performance. Data were analyzed using the SEM (Structural Equation Model) analysis method using the SmartPLS 3.0 application. The results showed that MSMEs processing Coffee in Tanah Datar Regency had good market orientation, entrepreneural orientation, and knowledge management, high competitive superiority, but had a low marketing performance. Market orientation, entrepreneural orientation, and knowledge management affected the marketing perfomance. Competitive superiority did not affect the marketing performance. Market orientation and entrepreneural orientation did not affect the competitive superiority. Knowledge management showed a positive and significant relationship with the competitive superiority of the business. Competitive superiority did not show mediating impacts between market orientation, entrepreneural orientation, and knowledge management with marketing performance. Keywords: market Orientation; entrepreneural orientation; knowledge; competitive superiority; marketing performance
Manajemen Risiko Rantai Pasok Agroindustri Gula Merah Tebu di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat Sandra Melly; Rika Ampuh Hadiguna; Santosa Santosa; Nofialdi Nofialdi
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.333 KB) | DOI: 10.21776/ub.industria.2019.008.02.6

Abstract

Abstrak Agroindustri gula merah tebu merupakan agroindustri yang mengolah tebu hasil perkebunan rakyat menjadi gula merah (Saka). Pasokan bahan baku dan pengolahannya yang masih tradisional menimbulkan berbagai masalah dalam pengembangannya termasuk risiko rantai pasoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber dan faktor risiko serta melakukan evaluasi dan pengendalian risiko yang dianalisis menggunakan ANP (Analytical Network Process) serta wawancara mendalam dengan pakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi (24,42%) merupakan sumber risiko utama dan diikuti risiko pemasaran (20,19%), risiko sumber daya manusia (18,75%), risiko finansial (18,37%) dan risiko kelembagaan (18,27%). Penilaian terhadap prioritas jenis risiko yang potensial terjadi adalah risiko kualitas produk, fluktuasi harga dan kebijakan pemerintah. Faktor OKP (Operational Key Process) menjadi prioritas utama dalam manajemen rantai pasok Saka dengan lebih ditekankan pada perbaikan manajemen produksi (41,17%). Alternatif utama dalam pengendalian risiko yang akan dilakukan adalah dengan cara melemahkan risiko (42,21%). Hal ini dapat dilakukan dengan perbaikan kualitas bahan baku dan teknologi pengolahan Saka serta dukungan pemerintah termasuk dalam menjaga stabilitas harga Saka.Kata kunci: analytical network process, gula merah tebu, manajemen risiko, rantai pasok Abstract Brown Sugar cane agroindustry is agroindustry that traditionally processes sugar cane supplied by farmers into brown sugar (Saka). This condition creates various problems in its development, including its supply chain risk. This study aims to identify sources and risk factors as well as evaluate and control risks analyzed using ANP (Analytical Network Process)and in-depth interviews with experts. The results showed that production (24,42%) was the main risk and was followed by marketing risk (20,19%), human resources risk (18,75%), financial risk (18,37%) and institutional risk (18,27%). An assessment of the potential types of risks is the risk of product quality, price fluctuations, and government policies. OKP (Operational Key Process) factor is a top priority in Saka supply chain management with more emphasis on improving production management (41.17%). The main alternative in risk control will be carried out by weakening the risk (42.21%). This will be done by improving the quality of raw materials, improving the manufacture technology of Saka, and government support, including to keep the stability of Saka's prices. Keywords: analytical network process, brown sugarcane, risk management, supply chain