Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

ANALISIS PENDAPAT ULAMA ORGANISASI ISLAM DAN TENAGA KESEHATAN TERHADAP PANTI JOMPO A. Ario Mandehe; Nailah, Intan Hana; Hasanah, Khoula Shofil; Nisa, Neng Lina Rohamatun; Nursadiyah, Siti; Syirin, Zaenab; Faozi, Akhmad; Supriyadi, Tedi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38250

Abstract

Panti jompo adalah tempat merawat orang tua yang tidak dapat dirawat anaknya. Namun, ada kasus di mana orang tua sengaja ditelantarkan, memicu fatwa seperti dari Dÿ''irat al-Iftÿ'' Jordan dan Syaikh ''Abd al-ÿamÿd al-Aÿrash yang menganggap menitipkan orang tua di panti jompo sebagai pengucilan. Diperlukan analisis ulama untuk mengubah persepsi keluarga dan masyarakat mengenai panti jompo.Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan case study. Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena panti jompo menurut perspektif Islam dan tenaga kesehatan, maka dari itu penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Dengan instrumen wawancara pada triagulasi yaitu ulama, tenaga kesehatan, dan pengurus serta klien panti jompo. PERSIS berpendapat bahwa memasukkan orang tua ke panti jompo tergantung kesepakatan keluarga. Jika keinginan orang tua, itu wajib. Jika anak menelantarkan, itu dosa. Pendapat ulama NU menyatakan panti jompo tidak dilarang, namun menyayangkan jika anak mampu merawat namun menitipkan orang tua di panti jompo. Ulama Muhammadiyah berpendapat sebaiknya orang tua dirawat di rumah oleh keluarga atau perawat, dan jangan dikirim ke panti jompo. Keberadaan panti jompo merupakan isu kompleks dengan pandangan beragam. Panti jompo menawarkan perawatan bagi lansia yang tidak memiliki dukungan keluarga. Cendekiawan Islam sepakat panti jompo tidak dilarang, namun menekankan pentingnya kesepakatan keluarga. Tenaga kesehatan berperan penting dalam merawat lansia, namun ikatan keluarga tetap harus diperkuat. Stigma negatif terhadap panti jompo perlu diatasi agar menjadi lingkungan sehat bagi orang tua.
PERSPEKTIF ULAMA DAN PERAWAT ANTARA MEMPRIORITASKAN KEWAJIBAN BERIBADAH ATAU MELAKSANAKAN TINDAKAN KEPERAWATAN Azhari, Hasbinoer Ibnu; Nisa, Farida Zahra Khairun; Yulistina, Nabila; Aisyah, Siti; Yuningsih, Yuyun; Supriyadi, Tedi; Faozi, Akhmad
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38349

Abstract

Sebagai tenaga kesehatan perawat harus memprioritaskan keselamatan pasien dengan memberikan asuhan keperawatan yang baik dan sebagai seorang muslim perawat juga memiliki kewajiban beribadah yang harus dilaksanakan tepat waktu yang dimana keduanya harus dilaksanakan sebaik mungkin. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk melihat perspektif ulama dan perawat antara memprioritaskan kewajiban beribadah dan tugas melaksanakan tindakan keperawatan. Penelitian menggunakan desain kualitatif berupa fenomenologi dengan cara melakukan wawancara kepada dua ulama dari pondok pesantren di Sumedang dan tiga perawat dari RSUD Umar Wirahadikusumah dan di Puskesmas Cimalaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ulama sepakat bahwa Islam merupakan agama yang fleksibel dan memberikan kemudahan dalam situasi darurat, termasuk menunda ibadah demi menyelamatkan nyawa. Namun, penting untuk tetap menjadikan ibadah sebagai prioritas utama di luar situasi darurat. Begitu pula perawat yang menekankan bahwa keselamatan pasien merupakan prioritas utama perawat sesuai dengan kriteria kegawatdaruratan dan kode etik keperawatan. Tugas perawat adalah menjaga keselamatan dan memberikan perawatan terbaik, terutama dalam situasi darurat. Hal ini berdasarkan sumpah perawat yang mengutamakan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi. Tindakan keperawatan yang dinilai mendesak dan harus segera dilakukan terutama dalam kondisi darurat, termasuk juga ke dalam bentuk ibadah. Dalam Islam kewajiban beribadah, seperti shalat, merupakan hal yang fundamental, tetapi hukum Islam juga memberikan kelonggaran (rukhsah) untuk situasi darurat.
PANDANGAN ULAMA DAN TENAGA KESEHATAN MENGENAI PERAWATAN ODGJ DENGAN METODE RESTRAIN Rahmawati, Asri; Miladhiyah, Anindha Nur; Dewi, Astri Puspita; Palupi, Latifa Putri; Septiani, Riani Jihan; Nuraeni, Widya; Supriyadi, Tedi; Faozi, Akhmad
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38443

Abstract

Tindakan restrain terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menimbulkan perdebatan yang kompleks, terutama terkait dengan masalah pelanggaran hak asasi manusia dan dampak psikologis bagi individu yang terlibat dalam kesehatan mental. Penelitian ini membahas pandangan ulama dan tenaga kesehatan mengenai perawatan ODGJ dengan metode restrain. Fokus penelitian ini adalah memahami terkait pandangan ulama dan tenaga kesehatan mengenai perawatan dengan metode restrain, serta menelaah bagaimana pandangan ulama dan tenaga kesehatan dapat menilai perawatan yang diberikan kepada ODGJ dengan metode restrain tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara kepada satu ulama di Sumedang, satu ulama di Majalengka, satu pembina Panti Disabilitas Mental Barokah Bhakti dan satu perawat dari Puskesmas Cimalaka. Wawancara dilakukan selama satu kali untuk tiap narasumbernya pada tanggal 17-19 Oktober 2024. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu voice recorder sebagai alat perekam suara.  Hasil penelitian dari tenaga kesehatan (perawat), pembina Panti Disabilitas Barokah Bhakti, dan dua ulama berpendapat bahwa penggunaan metode restrain boleh dilakukan jika tidak ada alternatif lain untuk mengendalikan ODGJ yang berperilaku agresif serta harus dilakukan dengan cara yang aman dan tanpa melukai. Pendekatan ini penting untuk menghindari resiko cedera fisik maupun psikologis dari pasien dalam perawatan ODGJ perlu diperhatikan dampak jangka panjang yang mungkin timbul, baik pada pasien maupun lingkungan sekitar.
Pengobatan Kecemasan Menggunakan Obat Anti Cemas yang Mengandung Narkotika Menurut Ulama MUI dan Pondok Pesantren At-Tarbiyyah di Kabupaten Sumedang dan Dokter Spesialis Kejiwaan Larasati, Azzahra; Khoerunnisa, Lena Melinda; Mukarromah, Lu’luil; Maulana, Rizal; Khoirunnisaa, Salma; Supriyadi, Tedi; Faozi, Akhmad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19007

Abstract

Abstrak Kecemasan yang terus-menerus dapat berubah menjadi gangguan kecemasan dan memerlukan perhatian medis, salah satunya dengan obat anti kecemasan jenis benzodiazepin yang mengandung narkotika. Obat ini efektif untuk kecemasan akut, tetapi berisiko menimbulkan ketergantungan jika digunakan tanpa pengawasan. Islam memperbolehkan penggunaan zat terlarang untuk pengobatan dalam keadaan darurat melalui kaidah adh-dhararu yuzâl dan adh-dharûrâtu tubîhu al-mahdhzûrât. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pandangan para ulama dan psikiater mengenai penggunaan obat tersebut, dengan pendekatan kualitatif studi kasus dan fenomenologi melalui wawancara dengan dua ulama dan tiga dokter spesialis kejiwaan. Hasilnya menunjukkan adanya kesepakatan tentang perlunya kehati-hatian dalam penggunaan obat, serta pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan terapi medis dan dukungan spiritual. Spiritualitas seperti dzikir dan ibadah dianggap dapat memperkuat mental pasien, disertai edukasi masyarakat untuk mencegah doktrin. Abstract Persistent anxiety can turn into an anxiety disorder and require medical attention, one of which is with benzodiazepine-type anti-packaging drugs containing narcotics. This drug is effective for acute anxiety, but is at risk of causing dependence if used without supervision. Islam allows the use of prohibited substances for treatment in emergencies through the principles of adh-dhararu yuzâl and adh-dharûrâtu tubîhu al-mahdhzûrât. This study aims to understand the views of scholars and psychiatrists regarding the use of these drugs, with a qualitative case study approach and phenomenology through interviews with two scholars and three psychiatrists. The results show an agreement on the need for caution in the use of drugs, as well as the importance of a holistic approach that combines medical therapy and spiritual support. Spirituality such as dhikr and worship are considered to be able to strengthen the patient's mentality, accompanied by community education to prevent doctrine.
Perspektif Islam Dan Kesehatan Mengenai Donor Asi: Status Mahram dan Keamanan Kesehatan Ardi Manggala Kusumawardana; Laurentina, Natasya Olga; Ardian, Muhammad Enrico; Agustin, Sabrina Dirga; Salsabila, Syifa Aurelia; Mahardika, Rafi; Supriyadi, Tedi; Faozi, Akhmad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19361

Abstract

Pemberian ASI eksklusif penting untuk kesehatan bayi, namun sekitar 15% ibu di Indonesia mengalami hambatan menyusui akibat kurangnya dukungan, gangguan kesehatan, dan kecemasan. Donor ASI menjadi alternatif solusi, meskipun masih menghadapi tantangan medis dan keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara dengan dua tokoh agama dan dua tenaga kesehatan, serta analisis literatur dari berbagai database ilmiah. Hasil menunjukkan bahwa donor ASI diperbolehkan secara medis dan Islam jika memenuhi syarat seperti kesehatan pendonor, kejelasan identitas, dan kepatuhan pada prinsip syariah, khususnya terkait status mahram. Meskipun ada perbedaan pandangan, kolaborasi antara tenaga medis dan tokoh agama dinilai penting. Donor ASI berpotensi menjadi solusi efektif bagi ibu yang kesulitan menyusui jika dilaksanakan sesuai ketentuan. Diperlukan pemahaman menyeluruh dan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan penerimaan dan efektivitas praktik ini.
PERSPECTIVES OF SCHOLARS AND MEDICAL PERSONNEL ON RECONSTRUCTIVE PLASTIC SURGERY FOR ACCIDENT VICTIMS Yoga Saputra, Dwiki; Nur Aeni, Ira; Riva Putri, Jans; Daya Lestari, Prima; Marsellina, Selly; Supriyadi, Tedi; Faozi, Akhmad
Al-Mubin Jurnal Ilmiah Islam
Publisher : Department of Research and Community Service at the Ummul Quro Al-Islami Bogor Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/almubin.v8i2.1746

Abstract

This study analyzes the perspectives of ulama and medical personnel on reconstructive plastic surgery for accident victims, focusing on the dimensions of ethics, Islamic law, and medical practice. Through a qualitative case study approach involving in-depth interviews with scholars and medical personnel in Sumedang Regency, this study reveals that reconstructive surgery is permissible in Islam when it aims to restore bodily functions, according to the principles of maslahah (benefit) and emergency (urgent need). Intention (niyyah) is the main determinant of its legal status, where medical treatment for post-accident recovery is considered na effort to maintain health, while aesthetic surgery without medical indications is considered a violation of sharia. The findings show harmonization between sharia principles and medical needs, with scholars emphasizing that restoration of bodily functions is in line with the concept of hifdzun nafs (preservation of the soul) in Islam. From a medical perspective, reconstructive surgery plays a crucial role in holistic recovery-physical, psychological and social-with success rates varying depending on the type of injury. Medical personnel act as mediators between clinical needs and patients’ religious values, especially through empathic communication and informed consent to overcome religious-based resistance. However, societal stigmatization of plastic surgery as na act of “altering God’s creation” remains na obstacle, impacting on victims’ anxiety and trauma
Nilai-Nilai Pendidikan Spiritual Menurut Syekh Zainal Abidin Abdul Karim Al Husaini dalam Kitab Al Barzanji Faozi, Akhmad; Himmawan, Didik
Journal Islamic Pedagogia Vol. 3 No. 1 (2023): Journal Islamic Pedagogia
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/pedagogia.v3i1.93

Abstract

Pendidikan spiritual adalah pendidikan yang berhubungan dengan pembentukan sikap, mental, batin, perasaan dan penjiwaan terhadap suatu hal, yang bertujuan untuk meraih kemurnian batin serta kecerdasan spiritual dalam hubungannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata spiritual selalu dikaitkan oleh kalbu (hati), jiwa dan akal. Ketiganya saling berhubungan satu sama lain, karena tujuan pendidikan spiritual adalah menjernihkan hati, membersihkan jiwa, dan memperbaiki akal dari gangguan-gangguan spiritual (penyakit hati). Maka adanya Pendidikan spiritual ini untuk menghilangkan dan membersihkan penyakit hati yang sering terdapat dalam seseorang ketika menjalankan pendidikan di kehidupan sehari-hari. Tujuan penyusunan skripsi ini dibuat untuk mengetahui Nilai-Nilai Pendidikan Spiritual dan Relevansinya dalam Kehidupan Sehari-hari serta penerapan pada ranah pendidikan. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Kualitatif dengan menggunakan metode Kepustakaan atau Library Research, yakni penelitian yang dilakukan melalui mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan. Dan yang dijadikan objek kajian adalah hasil karya tulis yang merupakan hasil dari pemikiran Syekh Zainal Abidin Abdul Karim Al Husaini. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah Pendidikan spiritual merupakan pondasi untuk membentuk pribadi dan mental yang diharapkan mampu memberikan pencerahan dan sikap spiritual terhadap peserta didik Hal tersebut akan berkaitan dengan sikap spiritual manusia dalam menjalankan kehidupannya. Karena pendidikan spiritual berupaya mendorong jiwa manusia melalui ketenteraman hati, pencerahan batin, dan kejelasan sikap sehingga menjadikan manusia yang berkualitas zahir dan batinnya.
Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kecemasan Pasien Pre Opeasai Apendisitis : Systematic Literature Review Luginasari, Yulia; Faozi, Akhmad; Rahmat, Delli Yuliana
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i8.15385

Abstract

ABSTRACT Appendicitis is a common inflammatory bowel disease that sometimes requires surgical intervention. The surgery for appendicitis is called an appendectomy. The surgical procedure for appendicitis can cause anxiety in patients, and one way to manage this anxiety is through therapeutic communication. Therapeutic communication is conducted by nurses with patients with the aim of promoting the patient's recovery. The objective of this study is to determine the relationship between therapeutic communication by nurses and preoperative anxiety in appendicitis patients. The method used in this study is a literature review using databases such as Google Scholar and ScienceDirect, including articles in both English and Indonesian. A total of 5 relevant articles were selected for review. The results of this study indicate that there is a relationship between therapeutic communication and preoperative anxiety in appendicitis patients. Therapeutic communication conducted by nurses has a positive impact on preoperative patients because it fosters trust and increases knowledge, thereby reducing patient anxiety. Keywords: Therapeutic Communication, Anxiety Level, Pre Operative, Apendisitis ABSTRAK Apendisitis adalah radang usus yang umum dan sering memerlukan operasi. Apendektomi adalah operasi yang dilakukan untuk mengobati apendisitis. Pasien dapat mengalami kecemasan karena prosedur operasi ini. Salah satu cara untuk mengurangi kecemasan adalah dengan berbicara dengan orang lain secara terapeutik. Interaksi yang dilakukan untuk membantu pasien sembuh disebut komunikasi terapeutik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat dan tingkat kecemasan pasien sebelum operasi apendisitis. Metode penelitian ini menggunakan database dalam bahasa Inggris dan Indonesia seperti Google Scholar dan Sciencedirect untuk melakukan tinjauan literatur, yang menghasilkan lima artikel yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik dan kecemasan pasien sebelum operasi apendisitis berkorelasi. Pasien praoperasi mendapat manfaat dari komunikasi terapeutik perawat karena meningkatkan kepercayaan mereka dan meningkatkan pengetahuan mereka, sehingga mengurangikecemasan pasien. Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik, Kecemasan, Pre Operasi, Apendisitis
Hubungan Pengetahuan Kode Etik Keperawatan dengan Perilaku Non-Maleficence Perawat di Ruang Rawat Inap Fitria, De Intan; Faozi, Akhmad; Dolifah, Dewi
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.174

Abstract

The nursing code of ethics is a reference and guideline for a nurse in carrying out nursing care. Moral principles that prohibit actions that can worsen the patient's condition are usually called behavior non-maleficence. Nurses' knowledge of a good nursing code of ethics will minimize the occurrence of negligence and reduce the possibility of malpractice. The aim of this research is to determine the relationship between knowledge of the nursing code of ethics and behavior non-maleficence (no harm). This research is a type of quantitative research with an approach cross sectional where the dependent and independent variables are only observed at one time. The sampling technique used is proportionate stratified with recruitment techniques total sampling. The sample in this study amounted to 64 samples. The results of this study showed that knowledge of the nursing code of ethics was related to behavior non-maleficence The level of significance obtained is (P Value = <0.001) which means P value a = 0.05. Therefore, it can be concluded that there is a relationship between knowledge of the nursing code of ethics and behavior of a non-maleficence nurse in the inpatient ward of Sumedang Regional Hospital. Good knowledge of the nursing code of ethics will influence nurse behavior.
Co-Authors . Khairunnisa, . A. Ario Mandehe Agustin, Sabrina Dirga Amalia, Septy Amelia, Lienji Amelia, Zirly Anindia, Sharfina Anshori, Muhammad Sholahuddin Aprilia, Sandini Apriliyani, Lika Sheilia Ardi Manggala Kusumawardana Ardian, Muhammad Enrico Asmarani, Dea Asri Rahmawati Azhari, Hasbinoer Ibnu Azizah, Sabrina Nurul Azzahra, Dinda Nazwa Chinara Putri SG, Akiko Daya Lestari, Prima Dewi, Astri Puspita Dewi, Fitriani Dinata, Nur Allissa Firda Dolifah, Dewi Farhah, Hanisyah Dian fatikha, evrilia sabella Fauzi, Dadan Ahmad Fauziyah, Roro Nur Fieneyantie, Fatyah Fitri Nurhayati Fitria, De Intan Fitriani, Novi Fitriani, Sandrina Hadi, Jesica Cetleya Hakim, Muhammad Naufal Lukmanul Hanifa, Anestia Nur Hanipah, Eva Hasanah, Khoula Shofil Hasipa, Hani Siti HERAWATI, DIANA Himmawan, Didik Indriani, Silvi Inka Riana, Anjaeni Iyos Sutresna Kamila, Alda Humaimah Kanya, Dinda Gladys Karlina, Silvi Kartika Winata, Rieke Karunia, Suci Khairunnisa, Siti Zakiah Khansa Nabilah, Rafa Khoerunnisa, Lena Melinda Khoirunnisaa, Salma Kosasih, Gina Sabila Larasati, Azzahra Laurentina, Natasya Olga Lestari, Rosyana Putri Lindayani, Emi Lisnawati, Intan Luginasari, Yulia Maharani, Fita Mahardika, Rafi Maolida, Nurul Marsellina, Selly Mauludia, Mila Mayastika, Intan Meirizka, Raisha Miladhiyah, Anindha Nur Mukarromah, Lu’luil Nabila, Ersya Rahma Nailah, Intan Hana Nailla Hasna, Azwaj ningrum, dedah - Nisa, Farida Zahra Khairun Nisa, Neng Lina Rohamatun Nofelinda, Shelfiana Novelarosa, Syarah Fitria Nur Aeni, Ira Nuraeni, Selma Nuraeni, Widya Nurjanah, Yunisha Husnul Nursadiyah, Siti Nurulaeni, Devia Nuryani, Reni Nur’aeni, Intan Oktaviani, Tiara Dita Oktaviany, Veny Oktaviyani, Fitri Palupi, Latifa Putri Pratiwi, Pina Permata Purnama, Ahmad Putri, Dinda Indika Putri, Eznelda Julia Putri, Risma Indriani Putri, Tyas Syahdina Putria, Nurlita Dheina Rachman, Lyvia Aulia Rahmat, Delli Yuliana Rahmatin, Deviyanti Arlisa Ramadhani, Zakiyyah Putri Rifdah, Nur Rahidah Hana Riva Putri, Jans Rizal Maulana, Rizal Rosadi, Nurrita Catharina Rosana, Marsha Emilia Salsabila, Syifa Aurelia Sari, Intan Yulia Septiani, Nisya Aulia Septiani, Riani Jihan Siti Aisyah Sopiah, Popi Subagja, Putri Wulan Indah Wangi Subagja, Reva Suherman, Suherman Supriyadi, Tedi Syarifi, Putri Nazwa Syirin, Zaenab Taufik Hidayat Tiara, Ersa Ratmi Uyu Wahyudin Widartika Widartika Yoga Saputra, Dwiki Yulistina, Nabila Yuningsih, Yuyun Zah'ra, Tania Apriluna Zahra, Alinda Aura Zalianty, Revalina Zhahra, Hilma Zulva, Yasmin