Claim Missing Document
Check
Articles

REBRANDING EKALOKASARI PLAZA “Pattern of Communication In Rebrandring Process Ekalokasari Plaza" Arien Afriesta; Hanny Hafiar; FX Ari Agung Prastowo
Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2016): Maret
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi UTM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3604.208 KB) | DOI: 10.21107/ilkom.v10i1.1839

Abstract

AbstrakPerkembangan pusat perbelanjaan yang semakin meningkat di Kota Bogormendorong Ekalokasari Plaza (sekarang menjadi LIPPO Plaza Bogor) untukmelakukan perubahan agar dapat bersaing dengan berbagai pusat perbelanjaanmodern lainnya, khususnya yang berada di Kota Bogor.Ekalokasari Plaza yang sekarang sudah berubah menjadi LIPPO Plaza Bogormerupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di Kota Bogor, bahkan lebih tuadibandingkan Botani Square yang menjadi pesaing utama pusat perbelanjaan moderndi Kota Bogor. Berdasarkan sebuah situs blog yang bernama “Hello Bogor” terdapatinformasi tiga besar pusat perbelanjaan modern terbesar di Kota Bogor pada tahun2012, yaitu Botani Square, Ekalokasari Plaza (LIPPO Plaza Bogor), dan CibinongCity Mall.
REPRESENTASI EKSPLOITASI SATWA DALAM FILM RISE OF THE PLANETS OF THE APES Yasmin Yasmin; Yanti Setianti; FX. Ari Agung Prastowo
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.177 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19874

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi atau gambaran eksploitasi satwa yang terdapat dalam film Rise of The Planets of The Apes, bagaimana manusia memperlakukan hewan dengan tidak baik dan tidak sesuai dengan Five of Freedom yang dicetuskan kerajaan Inggris sejak tahun 1992. Lima Kebebasan menguraikan lima aspek kesejahteraan hewan dibawah kendali manusia yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, rasa tidak nyaman, bebas mengepresikan perilaku normal, dan bebas dari rasa stress dan tertekan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan semiotika. Objek penelitian ini adalah film Rise of The Planets of The Apes dan subjeknya adalah tanda atau makna yang merepresentasikan eksploitasi satwa. Pengumpulan data yang diperoleh dengan dokumentasi, wawancara dan studi kepustakaan. Peneliti menggunakan pendekatan semiotika dari John Fiske untuk mengetahui representasi eksploitasi satwa dalam film Rise of The Planets of The Apes. Kode-kode televisi John Fiske digunakan untuk meneliti film ini seperti: Perilaku, ekspresi, gerakan, dialog, sudut kamera dan ideologi. Setelah melakukan penelitian, peneliti mengidentifikasi adanya gambaran eksploitasi satwa dalam film Rise of The Planets of The Apes yang terpresentasikan melalui: eksperimen terhadap kera, pukulan, siraman, ancaman, intimidasi, raut muka ketakutan, tidak nyaman dan kesakitan, penindasan dan dari beberapa dialog peneliti menemukan adanya ideologi matrealisme.
STRATEGI PERENCANAAN PUBLIC RELATIONS NET. TV DALAM MEMBENTUK CITRANYA SEBAGAI TELEVISI MASA KINI Susanne Dida; Shafira Putri Citra Utami; FX. Ari Agung Prastowo
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.695 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13334

Abstract

Penelitian yang berjudul ”Strategi Perencanaan Public Relations NET.TV dalam membentuk citranya sebagai Televisi Masa Kini” bertujuan untuk mengetahui analisa riset formatif, menetapkan dan memformulasikan strategi, pemilihan dan pengimplementasian taktik dan evaluasi yang dilakukan oleh NET.TV dalam membentuk citranya sebagai Televisi Masa Kini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Landasan konsep yang digunakan adalahh Strategy Planning for Public Relations dari Ronal D. Smith. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan strategi perencanaan public relations dalam membentuk citranya sebagai Televisi Masa Kini cukup efektif. Dalam fase riset formatif tahap analisis situasi, NET.TV melihat kesempatan yang ada pada zaman sekarang adalah perkembangan digital, dan NET. Memilih segmentasi pasarmereka adalah family AB, konten tayangan dikemas sesuai dengan segment arsip asa rmereka,Dalam fase strategi, konten tayangan program disesuaikan dengan visi dan misi perusahaan serta identitas mereka, yaitu menyajikan konten program yang educating, informating, danentertaining. Fase taktik NET.TV memilih taktik komunikasi seperti tatap muka, dan juga beberapa alat media atau periklanan untuk promosi programnya. Fase evaluasi, NET. Melakukan evaluasi dengan dibagi menjadi evaluasi program On Air dan program Off Air, evaluasi program On Air dilakukan oleh direksi, divisi sales & production, dan jajaran atas lainnya, sedangkan untuk evaluasi program Off Air dilakukan oleh divisi PR. Saran yang ingin disampaikan peneliti kepada NET.TV sebaiknya NET.TV lebih memperhatikan hambatan yang adadengan perkembangan digital, dan juga lebih mengadakan kegiatan yang melibatkan audiens karena lebih efektif dalam meningkatkan awareness publiknya.
PENDIDIKAN VOKASI KOMUNIKASI PARIWISATA SEBAGAI UPAYA MENINGKATAN DAYA SAING MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) FX Ari Agung Prastowo; Heru Ryanto Budiana
Widya Komunika Vol 6 No 2 (2016): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2016.6.2.1107

Abstract

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) melahirkan terbentuknya pasar tunggal ASEAN yangmendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN. Implikasi terhadap sektor pari-wisata adalah persaingan dan kompetisi bukan hanya melibatkan elemen dalam negeri saja, tetapijuga dengan jasa asing. Indonesia memiliki beragam potensi alam, keanekaragaman flora dan fau-na, peninggalan purbakala, sejarah, seni dan budaya sebagai sumber daya dan modal besar bagidunia kepariwisataan. Besarnya potensi pariwisata tersebut tentu harus diimbangi dengan sumberdaya manusia yang handal salah satunya melalui pendidikan vokasi komunikasi pariwisata. Kema-juan teknologi dan komunikasi serta perkembangan dunia kepariwisataan memperlihatkan adanyaperpaduan antara studi kepariwisataan dengan ilmu komunikasi yang menghasilkan konsep pen-didikan baru yakni Komunikasi Pariwisata (Tourism Communication). Tulisan ini mengkajikomunikasi pariwisata sebagai upaya penguatan kompetensi lulusan pendidikan kepariwisataanmelalui studi literatur, kajian terdahulu, maupun data tentang bagaimana komunikasi dalam pari-wisata dengan harapan mampu membuka wawasan dalam upaya peningkatan kualitas SDM yangberdaya saing dalam era MEA.
Pelaksanaan fungsi pokok humas pemerintah pada lembaga pemerintah FX Ari Agung Prastowo
PRofesi Humas Vol 5, No 1 (2020): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.532 KB) | DOI: 10.24198/prh.v5i1.23721

Abstract

Fungsi humas dalam sebuah lembaga dapat menjadi sarana untuk mengoptimalkan pelayanan publik khususnya dalam penyebaran informasi. Sehingga jika dilakukan secara optimal, fungsi humas dapat meningkatkan kinerja lembaga juga kepercayaan publik. Kendala dalam pelaksanaan fungsi humas pemerintah harus segera diminimalisir, agar tidak berakibat pada turunnya kepercayaan masyarakat kepada kinerja pemerintah yang berbasis pelayanan. Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: pelaksanaan fungsi pokok humas pemerintah pada lembaga pemerintah. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan analisis data kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Pejabat Humas Pemerintah yang berasal dari beberapa lembaga diantaranya: (1) Kementerian Pendidikan Nasional; (2) Kementerian Komunikasi dan Informatika; (3) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi; (4) Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini adalah terdapat tahapan yang dilakukan lembaga Pemerintah dalam pelaksanaan fungsi Humas sebagai saluran penyebar informasi. Informasi yang disampaikan harus valid dan jelas serta menggunakan media yang tepat. Peneliti merekomendasikan agar lembaga Pemerintah mengoptimalkan media online sebagai sarana untuk menyebarkan informasi pada publik. Begitu pula dengan pelaksanaan fungsi pelayanan publik. Humas Pemerintah sudah hakekatnya untuk menjalankan fungsi ini, maka sudah seharusnya lembaga Pemerintah bisa memberikan pelayanan prima pada masyarakat. Hal yang harus diperhatikan oleh praktisi Humas dalam pelaksanaan Fungsi pokok Humas Pemerintah sebagai fasilitator komunikasi antara lembaga dan masyarakat adalah dengan menggunakan komunikasi dua arah juga bertindak sebagai negosiator bukan hanya sebagai komunikator.
Peran Humas Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum dalam Implementasi Kebijakan Keterbukaan Informasi Eny Ratnasari; Agus Rahmat; FX Ari Agung Prastowo
PRofesi Humas Vol 3, No 1 (2018): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.093 KB) | DOI: 10.24198/prh.v3i1.14034

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Humas Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) dalam implementasi kebijakan keterbukaan informasi, dengan fokus kajian penelitian mengenai peran humas dalam implementasi Undang - Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pada Humas Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) di kota Bandung yaitu Institut Teknologi Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Padjadjaran. Peneliti ingin mengetahui peran humas PTN BH di kota Bandung sebagai penasehat ahli, fasilitator komunikasi, fasilitator proses pemecahan masalah, dan teknisi komunikasi dalam implementasi kebijakan keterbukaan informasi. Peneliti menggunakan studi deskriptif dengan jenis data kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi atau studi pustaka. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada tiga Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, sudah melaksanakan peran yang dimilikinya berupa implementasi kebijakan keterbukaan informasi, berperan sebagai penasehat ahli bidang komunikasi, menjadi fasilitator komunikasi dalam proses pemecahan masalah serta menjadi teknisi komunikasi. Namun demikian, ada beberapa hal yang menuntut peningkatan guna menjadikan lebih baik. Karenanya peneliti menyarankan agar masing - masing humas PTN BH di kota Bandung meningkatkan aktivitas evaluasi mengenai keterbukaan informasi yang dilaksanakannya, lebih mensosialisasikan kewajiban untuk membuka informasi pada publik internal, dan membuat struktur birokrasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi yang lebih efisien.
Strategi Perencanaan Humas Media Sosial Radio OZ sebagai Upaya Transformasi Pendengar Paramitha Wydaswari; Susanne Dida; FX Ari Agung Prastowo
PRofesi Humas Vol 3, No 2 (2019): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.841 KB) | DOI: 10.24198/prh.v3i2.15711

Abstract

Radio memiliki banyak manfaat, dengan menggunakan radio informasi dapat disampaikan dengan cepat ke masyarakat. Manfaat lainnya dari penggunaan radio adanya jangkaunya yang luas dan menghibur karena memiliki keunggulan yakni suara. Persaingan radio saat ini sangat kuat, ditambah dengan kehadiran media sosial, dimana banyak masyarakat saat ini menggunakan media sosial untuk mencari dan menyebarkan informasi. Perkembangan media sosial juga dirasakan oleh Radio OZ. Pada masanya, Radio OZ  sangat populer di kalangan remaja bahkan menjadi referensi gaya hidup remaja masa kini. Agar mampu bersaing di era yang kompetitif, Radio OZ menggunakan digital marketing untuk menjangkau pendengarnya. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan bagaimana menggunakan digital marketing dalam hal ini media sosial dengan perencanaan yang baik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, untuk menggambarkan hasil penelitian secara mendalam. Adapun hasil penelitian menemukan enam langkah menggunakan media sosial dengan baik. Enam langkah tersebut adalah analisis situasi, penentuan tujuan, menentukan target, memilih strategi, taktik, dan yang terakhir adalah menyusun waktu penggunaan. Perkembangan digital marketing dalam wujud media sosial memberikan kemudahan bagi pengelola media penyiaran untuk mengkomunikasikan transformasi kepada pendengarnya. Namun demikian tetap harus memperhatikan langkah-langkah pemanfaatan media sosial di antaranya pemahaman situasi dengan mengedepankan penelitian sebagai radar akan kebutuhan pendengar.
Pemberdayaan Generasi Muda Melalui Pengenalan dan Pelatihan Kewirausahaan di Kabupaten Pangandaran Priyo Subekti; Hanny Hafiar; FX Ari Agung Prastowo; Dwi Masrina
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 2 No 2 (2022): JPMI - April 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.408

Abstract

Pangandaran merupakan daerah wisata yang sedang dirancang untuk menjadi destinasi wisata tingkat nasional dan internasional. Sektor pariwisata mempunyai berbagai macam hal positif yaitu memunculkan peluang untuk menciptakan lapangan kerja baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka secara ekonomi. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan generasi muda di wilayah Pangandaran dalam hal kewirausahaan melalui pelatihan dan pendampingan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan perancangan wirausaha. Hasil dari pengabdian pada masyarakat adalah didapatnya: 1) gambaran mengenai perubahan yang positif mengenai pemahaman dan wawasan peserta pelatihan terhadap kewirausahaan; 2) Hambatan yang terjadi pada rendahnya minat wirausaha adalah pola pikir masyarakatnya. Masyarakat desa yang tingkat pendidikanya rendah sehingga sulit untuk diajak berkreasi dan berusaha membuat sebuah kegiatan baru; 3) Pembiayaan program pemeberdayaan masyarakat selama ini masih mengandalkan bantuan dari desa dan dinas perikanan serta swadaya masyarakat itu sendiri.
PERSONAL BRANDING RACHEL GODDARD SEBAGAI BEAUTY TRAVEL DAN PARODY VLOGGER Natasha Putri Tumakaka; Susanne Dida; FX Ari Agung Prastowo
Jurnal Ilmu Komunikasi Acta Diurna Vol 15 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Komunkasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.054 KB) | DOI: 10.20884/1.actadiurna.2019.15.2.2134

Abstract

Rachel Goddard memilih youtube untuk menjadi media utama dalam mata pencahariaanya. Melalui kegiatan video blogging, Rachel membuat konten-konten yang mendukung passionnya dalam berkarya. Sebagai sosok yang menggunakan dirinya sebagai pusat dari pekerjaannya, sangatlah perlu untuk memasarkan dirinya secara sistematis, secara singkat dapat dibilang bahwa seorang Youtuber perlu melakukan personal branding terhadap dirinya. Rachel mem-branding dirinya sebagai Beauty, Travel and Parody Vlogger yang ditunjukkan melalui akun Youtubenya. Rachel Goddard telah mengetahui identitas yang ingin dikeluarkan dalam dirinya kepada orang lain juga tujuan yang ia miliki dalam membuat video blog, Rachel memiliki cara untuk membentuk identitas onlinenya dalam proses personal brandnya sebagai beauty, travel & parody vlogger melalui video-video yang ia buat dan Rachel Goddard membentuk identitas online yang ia miliki dan apa yang menjadikannya menarik namun Rachel belum bisa menunjukkan konsistensi dirinya secara maksimal dalam pemerataan konten, penggunaan identitas online.
HEGEMONI AMERIKA SERIKAT DI SERI KOMIK CAPTAIN AMERICA STEVE ROGERS Rafiqoh Fitriani; Hanny Hafiar; Ari Agung Prastowo
Jurnal Ilmu Komunikasi Acta Diurna Vol 14 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Ilmu Komunkasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.787 KB) | DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.1.1140

Abstract

This research aimed to describe a critical discourse analysis about hegemony where United States positionedtheir country as superpower country in Captain America: Steve Rogers comic series. Method used in thisresearch was Critical Discourse Analysis Norman Fairclough with qualitative data and critical paradigm. Theresults of this research showed that Captain America: Steve Rogers comic series has hegemony messages ofUnited States as superpower country. It was reflected through appearance, personality, words, and theideology of Captain America while positioning the enemy as the opposites of the aspects above. CaptainAmerica: Steve Rogers used social, historical, and political factors to ease their hegemony messages beingabsorbed by reader. The conclusion of this study is Captain America: Steve Rogers comic series have nationbranding hegemony messages of the United States as a superpower country. Furthermore, it is expected thatthe study about hegemony would get more attention because hegemony subject would evolve socially andideologically in our society.