Claim Missing Document
Check
Articles

Pendidikan Islam di Indonesia Pada Zaman Penjajahan Belanda dan Jepang Muhammad Azmi; Bahaking Rama; Abd. Rahim Razaq
IQRA : JURNAL MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM Vol 3, No 01 (2023): IQRA: JURNAL MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IQRA : JURNAL MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan di Indonesia selama penjajahan Belanda dapat dikelompokkan kedalam dua periode, yaitu periode VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan periode pemerintah Hindia Belanda (NederlandsIndie). Pada periode VOC, pendidikan di Indonesia didasarkan pada prinsip bisnis yaitu berdasarkan untung rugi dalam hukum-hukum ekonomi. VOC tidak segan-segan untuk berperang bila ada yang menghalagi tujuan mareka. Ini bisa perhatikan dari hak aktroinya yang terdapat dalam suatu pasal yang berbunyi: “Badan ini harus berniaga di Indonesia dan bila perlu boleh berperang. Dan harus memperhatikan agama Kristen dengan mendirikan sekolah. Hal ini menyebabkan terpecahnya pendidikan yang ada di Indonesia. Di satu pihak adanya pendidikan dengan sistem pesantren dengan orientasi agama saja. Di pihak yang lain adanya pendidikan dengan sistem barat dengan orientasi sekuler yang tidak mempedulikan agama. Pecahnya sistem pendidikan di Indonesia tentu tidak menguntungkan bagi perkembangan masyarakat Indonesia. Di satu sisi diperlukan pemahaman untuk mengetahui perkembangan dunia luar dengan metode dan teknologi yang dikembangkan oleh barat. Di sisi lain juga dibutuhkan pemahaman keagamaan sebagaimana telah ditanamkan sebelum VOC datang ke Indonesia. Untuk memadukan dua sistem ini kemudian muncul madrasah madrasah yang berkelas, memakai bangku dan meja yang dipelopori oleh para pembaharuan di Indonesia. Setelah Belanda ditaklukkan oleh Jepang di Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, maka Belanda angkat kaki dari Indonesia semenjak itu mulailah penjajahan Jepang di Indonesia. Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia, bangsa Jepang bercita-cita besar menjadi pemimpin Asia Timur Raya. Sejak tahun 1940 Jepang berencana untuk mendirikan kemakmuran bersama Asia Raya. Dalam rencana tersebur Jepang menginginkan menjadi pusat suatu lingkungan yang berpengaruh atas daerah-daerah mansyuria, daratan Cina, kepulauam Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand. Oleh karena itu rencana “kemakmuran bersama Asia Raya” dianggap sebagai suatu keharusan. Dengan semboyan “Asia untuk bangsa Asia” Jepang menguasai daerah yang berpenduduk lebih dari 400 juta jiwa yang antara lain menghasilkan 50% poduksi karet dan 70% timah dunia. Indonesia yang kaya sumber bahan mentah merupakan sasaran yang perlu dibina dan dimanfa’atkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perang Jepang. Sehingga Jepang menyerbu Indonesia, karena tanah air Indonesia merupakan sumber bahan-bahan mentah yang kaya raya dan tenaga manusia yang banyak tersebut sangat besar artinya demi kelangsungan perang pasifik, dan hal ini sesuai pula dengan cita-cita politik ekspansinya.
Perkembangan Pendidikan Islam Masa Awal Di Sumatera Barat, Lembaga dan Tokohnya Zikriadi; Bahaking Rama; Muhammad Rusdi Rasyid
PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 1 No. 2 (2023): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.533 KB) | DOI: 10.58540/pijar.v1i2.155

Abstract

This study discusses the development of Islamic Education in West Sumatra, both from the perspective of institutions and figures. It is important to review this again because there is too much scattered literature, thus requiring this paper to remap from an institutional perspective and Islamic Education figures in West Sumatra. This research is included in the literature review with the stages of analysis in the form of data reduction, data exposure, and conclusions/verification. The results show that the role of Islamic Education figures in the early days greatly influenced the development of Islamic Education in West Sumatra, the Burhanuddin Ulakan figure made Surau the forerunner of Islamic learning facilities. After that, the existence of Ahmad Khatib gave birth to many scholars in Indonesia, especially in West Sumatra. From there, figures in the development of Islamic Education who contrasted established Educational Institutions, such as Abdullah Ahmad founded the Adabiyah School, Zainuddin Labay el-Yunusi founded the Diniyah School, Rahmah el-Yunusi founded Madrasah Diniyah Putri, and Abdul Karim Amrullah founded Sumatra Thuwailib.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA AWAL DI KALIMANTAN, LEMBAGA DAN TOKOHNYA Hamzah, Rahma Ashari; Bahaking Rama; Arifuddin Siraj
JBI : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : CV. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/jbi.v1i2.660

Abstract

Islam menjadi agama mayoritas di beberapa titik perbatasan seperti di daerah perbatasan Sambas dan Kapuas Hulu, Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat yang berasal dari Suku Melayu, suku Dayak yang sudah memeluk Islam dan berbagai suku pendatang. Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang-pedagang Arab dan Gujarat dari India yang tertarik dengan rempahrempah. Kemudian mereka membentuk koloni-koloni Islam yang ditandai dengan Komunikasi penyiaran dakwah dalam sejarah islamisasi di daerah perbatasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan pendidikan islam pada masa awal di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis liberary research. Berdasarkan penelitian dijelaskan bahwa kawasan Kalimantan adalah bagian dari Nusantara. Dalam interaksi dan relasi itu berbagai jaringan baik itu bersifat sosial-ekonomi, sosial-politik maupun sosial-intelektual telah terbentuk di kalangan umat Islam di Nusantara yang memungkinkan terjadinya saling mempengaruhi, saling berkontribusi, dan bahkan saling berkompetisi. Islam yang berkembang di kawasan Kalimantan memiliki kesamaan dengan wilayah lain di Nusantara di samping tentu saja perbedaan berupa varian dan kekhasan masing-masing wilayah. Meskipun ada beberapa perbedaan, namun pada dasarnya perkembangan pendidikan islam di awal khususnya wilayah Kalimantan memiliki banyak kesamaan. Tokoh pendidikan islam masa awal di Kalimantan adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Fatimah, Syekh Abdul Wahab Bugis, Datu Kandang Haji dan Datu Muning alias Datu Sanggul. Juga Syekh Muhammad Thayyib Bin Mas'ud Al-Banjari, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari, dan Syekh Abdul Hamid Abulung.
PROSES PROSES PENGEMBANGAN ISLAM PADA MASA AWAL DI ASIA TENGGARA: - Mei, Reski; Rofia Masrifah; Bahaking Rama; Arifuddin Siraj
JBI : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 2 No. 1 (2024): Juni
Publisher : CV. Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/jbi.v2i1.726

Abstract

Kedatangan Islam ke indonesia dilakukan secara damai. Berbeda dengan penyebaran Islam di timur tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan oleh wilayah militer. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh para pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para Da’i dan para pengembara sufi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengembangann Islam pada masa awal di asia tenggara, untuk mengetahui teori masuknya Islam pada masa awal di Asia Tenggara, dan untuk mengetahui pusat pendidikan Islam masa awal di Asia Tenggara. Dalam penelitian ini memperoleh data dari buku dan jurnal yang dikaitkan dengan proses pengembangan islam pada masa awal di asia tenggara. Referensi terkait proses pengembangan islam pada masa awal di asia tenggara merujuk pada buku-buku dan jurnal yang relevan. Penelitian ini mencakup berbagai metode termasuk studi kasus dan analisis literatur. Untuk memperoleh data, penulis mengumpulkan, membaca, menganalisis pembahasan yang relevan dengan penelitian. Islam di asia tenggara secara betahap yaitu dengan melalui para pedagang, bandar-bandar dan para wali songo yang mendakwahkan Islam ke berbagai tempat di Indonesia. kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan.
Revitalisasi Nilai-Nilai Akhlak Mulia dalam Perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Andi Arbaina Fariza; Bahaking Rama; Sudarni Sudarni; Fatima Azzahra
Hikmah : Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Desember : Hikmah : Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/hikmah.v1i4.206

Abstract

This research aims to increase understanding and relationships related to the revitalization of noble moral values ​​in the Al-Islam Kemuhammadiyahan perspective. This research was prepared using a qualitative approach using the literature review method. Research data was collected using reference sources from several research articles and books using document triangulation. It is hoped that this research can contribute to organizations involved in helping to realize the Islamic character of the nation's next generation through education. The results of this research provide an overview and understanding of the urgency of religious integrity in building Islamic character based on noble moral values ​​in building the next generation of civilized nation. Apart from that, the implications of this research can be a guide to the formation of Islamic character and ethics, strengthening noble moral values, and can be a guide in the field of education, especially universities with Islamic nuances in designing programs that support the progressive process of revitalizing noble moral values. and maximum.
History of the Development of Islamic Education in Sumatra (A Study of Figures and Institutions) Amri Usa; Bahaking Rama; Syamsuddin
Agency Journal of Management and Business Vol. 5 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/agency.5.1.2025.329

Abstract

This study aims to discuss the history of the development of Islamic education in Sumatra, this research focuses on the study of Islamic figures and institutions that have developed since the early arrival of Islam in Sumatra to the present. This study uses a qualitative method, with reference to the data obtained from the search results of the literature study. The results of the study show that 1. Islam entered Minangkabau between the 12th and 13th centuries AD, through two routes namely; the route from Aceh and the path from Malacca which was introduced by merchants from Arabia. 2. Surau (as the oldest educational institution) for the Minangkabau people has a multidimensional function, not only serving as a gathering place, meeting and sleeping place but also functioning as an Islamic educational institution. 3. Among the well-known Minangkabau Islamic figures since the early arrival of Islam, among others, Shaykh Burhanuddin (1680 AD), Shaykh Abdulrahman (1777), Haji Piobang from Agam, Haji Poor from Pandai Sikek and Haji Sumanik from Batusangkar (1803)
Biografi Umar Bin Khattab: Pelantikan dan Kebijakan Politik Selama Pemerintahan Sampai Wafat Rahmat Justan; Margiono, Margiono; Abdul Aziz; Bahaking Rama
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2: Januari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i2.2741

Abstract

Sejarah peradaban Islam sebagai studi tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah peradaban sudah tentu akan sangat bermanfaat terutama dalam rangka memberikan sumbangan bagi pertumbuhan atau perkembangan peradaban. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui Biografi Umar Bin Khattab, Pelantikan, Kebijakan Politik Selama Pemerintahan Sampai Wafaf. hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang paling menonjol dan dikenal dengan julukan "Al-Faruq," yang berarti "Pemisah yang Benar." Umar lahir sekitar tahun 584 Masehi di Mekah. Sebelum memeluk Islam, Umar adalah seorang yang kuat dan tegas dalam membela kepentingan Quraisy dan menghambat perkembangan Islam. Namun, pada tahun 610 Masehi, dUmar memeluk Islam setelah peristiwa perjumpaannya dengan sahabat Nabi Muhammad, Hamzah bin Abdul Muttalib. Kebijakan khalifah Umar bin Khattab yaitu mendirikan sistem peradilan yang adil dan menegakkan hukum Islam. Umar mendirikan pos-pos perbatasan untuk mengamankan perbatasan negara dan mengatasi ancaman musuh. Umar juga mempromosikan pendidikan dan ilmu pengetahuan, mendirikan sekolah-sekolah dan perpustakaan di seluruh wilayah Islam. Selama pemerintahannya, Umar dikenal karena kesederhanaannya. Umar hidup dengan sederhana dan tidak membiarkan kekuasaan mempengaruhi integritasnya. Umar bin Khattab wafat pada tahun 644 Masehi setelah terbunuh oleh seorang budak murtad. Pemerintahannya dikenal sebagai salah satu masa kejayaan dalam sejarah Islam.
Kompetensi Pedagogik Guru dalam Evaluasi Pendidikan Islam Rahmat Justan; Margiono, Margiono; Abdul Aziz; Bahaking Rama
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 8: Juli 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i8.4509

Abstract

Artikel ini membahas kompetensi pedagogik guru dalam evaluasi pendidikan islam. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui makna Hakikat kompetensi pedagogik guru dalam evaluasi pendidikan islam tersebut. Metode yang digunakan dalam artikel ini, yaitu kualitatif dan metode kajian library research (pustaka). Teknik pengambilan data yang dilakukan penulis yakni dengan data-data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, baik dari buku, jurnal, dan lain-lain yang relevan dengan tema artikel tersebut Dengan demikian, mengetahui Pengertian kompetensi Menurut Jejen Musfah dalam bukunya yang berjudul peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, menyebutkan bahawa kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan ketrampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar. kompetensi pedagogik guru adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, serta perilaku yang harus dimiliki atau dikuasai oleh guru dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengevaluasi peserta didik.Pengertian evaluasi secara umum baik secara bahasa maupun secara istilah dapatlah dipahami bahwa evaluasi dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya untuk mengukur tingkat keefektifan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh seorang guru dan mengukur tingkat penguasaan siswa pada materi mata pelajaran yang telah diajarkan kepada mereka.
Ibnu Sina (Avicenna) Arsyad, Mujahid; Muhammad Zain; Abdurrahim Supardi Usman; Rahmat Nur Hidayat; Bahaking Rama
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v4i1.6278

Abstract

Ibnu Sina, atau Avicenna, merupakan salah satu ilmuwan dan filsuf besar yang memberikan kontribusi signifikan dalam filsafat dan kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam biografi, pemikiran, dan karya-karya monumentalnya, serta pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui kajian literatur, penelitian ini mengungkap bagaimana Ibnu Sina mengintegrasikan filsafat Aristotelian dengan tradisi Islam dan menghasilkan teori metafisika yang mendalam, termasuk konsep wujud dan esensi serta keabadian jiwa. Di bidang kedokteran, karya monumental Al-Qanun fi al-Tibb menjadi landasan ilmu medis selama berabad-abad, mencakup teori diagnosis, farmakologi, dan pencegahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam filsafat memberikan pengaruh besar pada perkembangan filsafat Islam dan Barat, sementara karya-karyanya dalam kedokteran masih relevan dalam beberapa prinsip medis modern. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya Ibnu Sina sebagai sosok multidimensi yang membentuk dasar perkembangan berbagai disiplin ilmu. Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru tentang relevansi pemikiran Ibnu Sina dalam konteks keilmuan kontemporer dan pentingnya melestarikan warisan intelektualnya.
Proses Peralihan Kepemimpinan Dari Nabi Ke Khalifa Abu Bakar As-Siddiq Muhammad Taufiqul Hidayat; Zhalfa Luthfi Fauza; Bahaking Rama
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v4i1.6397

Abstract

Proses peralihan kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan momen krusial dalam sejarah Islam yang menandai awal sistem kekhalifahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biografi Abu Bakar As-Shiddiq dan juga mengkaji secara mendalam tentang peralihan kepemimpinan serta masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq. dinamika politik, sosial, dan spiritual yang melatarbelakangi transisi tersebut, termasuk tantangan yang dihadapi umat Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Metode Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis sumber-sumber primer seperti catatan sejarah, serta sumber-sumber sekunder berupa literatur modern tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengangkatan Abu Bakar melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa'idah mencerminkan semangat kolektif dalam menjaga persatuan umat. Selain itu, faktor kepribadian Abu Bakar, pengaruhnya selama masa dakwah Nabi, dan dukungan mayoritas sahabat menjadi elemen kunci keberhasilan proses ini. Penelitian ini juga membahas implikasi transisi tersebut terhadap sistem pemerintahan Islam di masa selanjutnya. Dengan demikian, kajian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana Islam merumuskan mekanisme kepemimpinan yang bersifat dinamis dan berbasis syura.
Co-Authors Abd. Rahim Razaq Abdul Aziz Abdul Halim Abdurahman Abdurrahman Abdurrahim Supardi Usman Abdurrahman Abdurrahman Adji Saputra Adji Saputra Cendana Ahsan Taqwim Aiman Abu Khair Al Azhar Al Husnul Khatimah Alfiyyah Nurhidayah Amri Usa Andi Arbaina Fariza Anita Anita Arifuddin Siraj Arsyad, Mujahid Arsyad, Mujahid Mallombasi Aulia Rezkyana Agus Candra Swandi Dwi Cahya Oktavianto Dwi Cahya Oktianto Faisal Rifqi fatima azzahra Ferdinan Hamdia Sayyadi Hijrawati Sehu Jihan Fahira Karmala Karmala, Karmala Kasban, Muhammad Zain Leni Puspitasari M. Ilham Muchtar Mahyaya Nur Mappigau, Ernawaty Margiono Margiono Margiono Margiono, Margiono Mei, Reski Moh. Natsir Mahmud Muchtar, Achmad Dahlan Muh. Farhi Muh. Niamur Ridho Muhammad Azmi Muhammad Hakil Muhammad Rusdi Rasyid Muhammad Taufiqul Hidayat Muhammad Zain Muhsin Mujahid Arsyad Muliadi Muslim Nabila Indana Nasrul Nurdin Nur Fitrah Julianti Patta Nurfadilah Hariandani Nurfadillah Apriliah Nurfadillah Nurfadillah NURLIANA NURLIANA Nurmiani Nurul Hasanah Nurul Istiqamah Ishaq Nurul Magfirah Nurul Mawaddah Nurul Rofika Nurwahida Ahmad Rahma Ashari Hamzah Rahmad Nur Hidayat Rahmat Justan Rahmat Justan Rahmat Nur Hidayat Rahmawati Reski Amalia Reski Mei Revalina Almusawa Rezki Auliyah Syukri Rezki Siti Hajar Rieka Kartika Aulia Rahkmat Risda Risda Rofia Masrifah Selfina, Selfina Siti Nurpaida Siti Rumaisha Sitti Muthmainnah Sitti Muthmainnah SRI LESTARI Sry Nur Intan St. Rosmi Sudarni Sudarni Suryani, Aisyah Syamsuddin Tiara Putri Aziza Trye Sunarti H Wa Ode Rohis Zauman Wahida Octaviana WAHYUNI Witasari Zhalfa Luthfi Fauza Zikriadi