Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Tingkat Kerusakan Mangrove Sebelum dan Sesudah Tsunami Di Pulau Sangiang Berdasarkan NDVI Nugroho, Tiyo Meizi; Hartoko, Agus; Suryanti, Suryanti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 11, No 1 (2024): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/marj.v11i1.30111

Abstract

Pulau Sangiang merupakan salah satu pulau yang terletak strategis di Selat Sunda yang sering dikenal dengan julukan Seven Wonders of Banten karena memiliki potensi sebagai tempat wisata dan secara ekonomi dan nilai tanah yang sangat tinggi. Keanekaragaman hayati di sekitar Pulau Sangiang sangat melimpah. Tahun 2018 silam Selat Sunda di terjang tsunami setinggi 15 meter yang disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau yang melululantahkan pesisir Banten dan Lampung, termasuk Pulau Sangiang yang merupakan daerah yang terdampak oleh gelombang tsunami. Tsunami tersebut membawa dampak pada ekosistem pesisir yang ada di Pulau Sangiang salah satunya ekosistem mangrove.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kerusakan mangrove di Pulau Sangiang sebelum dan sesudah gelombang tsunami tahun 2018 dan mengetahui faktor kerusakan mangrove di Pulau Sangiang menggunakan data citra satelit Sentinel 2A. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli  dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisa citra satelit dengan transformasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Metode pengambilan data lapangan dilakukan melalui pengamatan secara langsung dengan menentukan stasiun menyesuaikan dengan kondisi lokasi. Hasil penelitian dengan metode citra satelit Sentinel 2A menunjukan terjadi penambahan luasan mangrove setelah terjadi Tsunami sebesar 3,08 Ha, berdasarkan nilai indeks NDVI mangrove berkisar antara 0.07 sampai 0.75 pada tahun 2017 dan pada tahun 2020 memiliki nilai berkisar antara 0.08 sampai 0.71, sehingga diperoleh nilai tertinggi kerusakan setelah tsunami sebesar 0,610 yang termasuk kedalam kategori baik dan nilai terendah sebesar 0,466 yang termasuk kedalam kategori kerusakan sedang dan terjadi perubahan garis pantai sebesar 19 km setelah tsunami. 
Hubungan Bahan Organik, Nitrat dan Fosfat terhadap Kelimpahan Makrozoobentos pada Sedimen Mangrove di Desa Tambakbulusan, Demak Damopolii, Sharfina Amalia; Hartoko, Agus; Febrianto, Sigit
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 11, No 2 (2024): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/marj.v11i2.31706

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai penyedia makanan, tempat berkembang biak maupun memijah, serta sebagai daerah asuhan bagi biota-biota yang hidup di dalamnya. Bahan organik dan nutrien merupakan salah satu faktor penting bagi pertumbuhan mangrove maupun biota yang berasosiasi di dalamnya.  Bahan organik dan nutrien pada ekosistem mangrove dapat berasal dari limbah-limbah domestik, limbah perikanan seperti tambak, maupun berasal dari mangrove itu sendiri. Tinggi rendahnya kandungan bahan organik dan nutrien pada sedimen dapat mempengaruhi kelimpahan hewan bentos yang hidup di bawah tegakan mangrove, karena kehidupan hewan bentos sangat berpengaruh terhadap faktor biotik maupun abiotik habitatnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan bahan organik yang di lokasi penelitian dan mengetahui hubungan antara bahan organik dan nutrien terhadap kelimpahan makrozoobentos. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari  di kawasan hutan mangrove Desa Tambakbulusan, Demak. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode purposive sampling di 3 stasiun dengan total 9 titik sampling. Hasil yang diperoleh yaitu ditemukan 2 jenis mangrove di ketiga stasiun penelitian diantaranya adalah Avicennia marina dan Rhizophora mucronata dengan kategori kerapatan jarang dan sedang. Nilai rata – rata kandungan bahan organik pada ketiga stasiun yaitu sebesar 6,7 mg, 6,9 mg dan 7,5 mg. Nilai rata – rata kandungan nitrat pada ketiga stasiun yaitu sebesar 3,39, 1,95 serta 4,71 mg. Nilai rata – rata kandungan fosfat pada ketiga stasiun yaitu sebesar 0,27 pada stasiun 1 dan 2, serta 0,61 mg pada stasiun 3. Nilai rata – rata kelimpahan makrozoobentos pada stasiun 1 yaitu sebesar 58 ind/m2, pada stasiun 2 sebesar 64 ind/m2 dan didominasi oleh spesies Cassidula nucleus, serta pada stasiun 3 sebesar 40 ind/m2 didominasi oleh spesies Cerithidea quoyii. Terdapat hubungan antara kandungan bahan organik dan nutrien terhadap kelimpahan makrozoobentos, dengan nilai r2 sebesar 0,914 yang berarti 91,4% kelimpahan makrozoobentos dipengaruhi oleh bahan organik dan nutrien, serta korelasi antar variabel termasuk ke dalam korelasi yang sangat kuat dengan nilai r sebesar 0,956.
Bioconcentration Lead (Pb) Green Mussel (Perna viridis) in Semarang Bay Lahati, Sonny; Hartoko, Agus; Haeruddin, Haeruddin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 2 (2022): June
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.2.151-157

Abstract

The coastal waters of Semarang Bay have been polluted by heavy metal lead (Pb). The research was conducted from September 2015 to March 2016 with 3 stations at the Tambaklorok green mussel cultivation location. Analysis of the concentration of heavy metal Pb using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. Data processing using SPSS and Excel. The results showed that the average concentration of heavy metal Pb in the air ranged from 0.51 to 0.76 mg/L. The average concentration of heavy metal Pb in three observations obtained an average concentration of Pb between 4.975-20.43 mg/kg. Green mussels taken in the waters were sorted and separated according to the length of the shell and weighed 1 kg each according to the length of the shell. Small (2-3 cm), medium (3-4 cm) and large shells with long shells (5-6 cm). The results of the measurement of the concentration of heavy metal Pb in P. viridis showed that the average green mussel shell size 4-5 cm at the location of station III had the lowest concentration of heavy metal Pb at 0.24 mg/kg. Meanwhile, the highest average concentration of Pb in P. viridis was found at station I at 0.89 mg/kg with a shell length of 2-3 cm. The correlation equation between shell length and Pb concentration is Y= - 0.131 + 1.13 X. Standard error of the Estimate (SEE) is 0.19. While the standard deviation of 0.20 means that the predictor variable (water) to predict the dependent variable (shellfish) is feasible because SEE is greater than the standard deviation. The average value of the Bioconcentration Factor (BCF) of green mussels is smaller than that of medium-sized green mussels and large green mussels. Green mussels can be consumed by someone if the body weight is 60 kg, then as much as 5.8 kg in a week because it contains Pb.
Suitability analysis of Lampung Bay waters for grouper Epinephelus sp. farming activities Yulianto, Herman; Hartoko, Agus; Anggoro, Sutrisno; Hasani, Qadar; Mulyasih, Dwi; Delis, Putu Cinthia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3767.377 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.234-243

Abstract

ABSTRACT Grouper Epinephelus sp. farming activities in Lampung Bay is limited to an area of 77 hectares, while areas that are potential to be used for grouper farming are still very wide. Therefore, this study aimed to assess the suitability of Lampung Bay waters for grouper farming activities. The study was conducted in 20 stations with ecological preference considerations. The parameters observed were physicochemical (water depth, temperature, water transparency, the load of suspended solids, pH, dissolved oxygen, salinity, nitrate, and phosphate) and biological parameters (phytoplankton abundance and chlorophyll-a concentration). After the data were completely obtained, the data were processed into suitability matrix resulting in scores that will be grouped into four classes, namely S1 (highly suitable), S2 (moderately suitable), S3 (marginally suitable), N (not suitable). The geostatistical model was used to perform the earth’s surface mapping based on biotic and abiotic parameters that were analyzed. Based on the results of the analysis in this study, the conditions of Lampung Bay waters were suitable for grouper farming activities. Marine area that could be used for grouper farming was 33,847.12 hectares (S1: 15,712.6 ha, S2: 13,294.7 ha and S3: 4,209.82 ha) in the area around Puhawang Island, Kelagian Island, Maitem Island, Tegal Island to Hurun Bay. Keywords: Lampung Bay, grouper, suitability analysis, fish farming   ABSTRAK Kegiatan budidaya ikan kerapu Epinephelus sp. di Teluk Lampung masih terbatas pada lahan seluas 77 hektar, sedangkan lahan yang berpotensi digunakan untuk budidaya ikan kerapu masih sangat luas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji kesesuaian perairan Teluk Lampung untuk kegiatan budidaya ikan kerapu. Penelitian dilakukan di 20 stasiun dengan pertimbangan ecological preference. Parameter yang diamati yaitu parameter fisika-kimia perairan (kedalaman, suhu, kecerahan, muatan padatan tersuspensi, pH, oksigen terlarut,  salinitas, nitrat, dan fosfat) serta parameter biologi (kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi klorofil-a). Setelah data parameter terpenuhi, data diolah ke dalam matriks kesesuaian sehingga menghasilkan skor yang akan dikelompokkan ke dalam empat kelas, yaitu S1 (highly suitable), S2 (moderately suitable), S3 (marginally suitable), N (not suitable). Model geostatistik digunakan untuk melakukan pemetaan permukaan bumi berdasarkan data parameter biotik dan abiotik yang dianalisis. Berdasarkan hasil analisis pada penelitian ini, kondisi perairan Teluk Lampung sesuai untuk kegiatan budidaya ikan kerapu. Luas perairan laut yang dapat digunakan untuk kegiatan budidya ikan kerapu yaitu, 33.847,12 hektar (S1: 15.712,6 ha, S2: 13.294,7 ha dan S3: 4.209,82 ha) di daerah sekitar Pulau Puhawang, Pulau Kelagian, Pulau Maitem, Pulau Tegal hingga Teluk Hurun.   Kata kunci: Teluk Lampung, ikan kerapu, analisis kesesuaian, budidaya
Sediment Characteristic of the Ebb-Tidal Delta in Western Segara Anakan Lagoon Cahyo, Tri Nur; Hartoko, Agus; Muskananfola, Max Rudolf; Haeruddin, Haeruddin
Journal Omni-Akuatika Vol 19, No 1 (2023): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.oa.2023.19.1.1042

Abstract

Western Segara Anakan Lagoon (WSAL) is a semi-enclosed lagoon located in the Cilacap, Central Java Province, Indonesia which has two outlets called pelawangan. West Pelawangan is an open channel from WSAL and the Indian Ocean, which has vast sediment input. It impacts the sediment deposits and delta formations in WSAL. This research aimed to determine the sediment characteristics deposited in the WSAL specifically in the delta formation area, and the mean size of sediments (D50), sorting, and skewness. The research used the survey method while data collected were sediment-bed, bathymetry, and satellite imagery Sentinel 2A with the ebb-tide condition. Sediment was analyzed by sieve and gravimetry and interpreted as a Ternary diagram, D50, sortation, skewness, and fraction percentage spreading map. Satellite imagery Sentinel 2A was searched by the ebb-tide condition. Shorelines and delta was extracted by the Normalized Different Water Index. Bathymetry built from depth points data 2018. The results of the Ternary diagrams analysis were the Citanduy River had a sand grain size, the Pelawangan Barat Waters (PBW) were dominated by sand and the lagoon was dominated by a fine grain size and silt. The result of sediment D50, sortation, and skewness in the Citanduy River and the PBW were dominated by sand, and the lagoon was dominated by fine sediment: silt, and clay grain size. The sediment fractions were sorted very well; skewness was dominated by the fine skewed (positive skewed). The delta formation in the lagoon covers a large area, presumably due to the consolidation of the fine sediment.Keywords: Sediment Characteristics, Ebb-Tidal Delta, Western Segara Anakan Lagoon
Penentuan Ukuran Mata Jaring untuk Keberlanjutan Udang Penaeus merguiensis di Perairan Papua Selatan Melmambessy, Edy H.P.; Saputra, Suradi Wijaya; Hartoko, Agus; Mudzakir, Abdul Kohar
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.61672

Abstract

Tingkat pemanfaatan (E) udang Penaeus merguiensis di perairan pantai Laut Arafura Merauke Provinsi Papua Selatan dalam kategori over-fishing (E=0,76/tahun untuk jantan dan betina E= 0,59/tahun). Mortalitas karena penangkapan (F) lebih besar dari mortalitas alami (M), menunjukan tekanan penangkapan tinggi.  Tujuan penelitian menganalisis penentuan ukuran mata jaring untuk keberlanjutan penangkapan udang P. merguiensis di perairan pantai Laut Arafura Merauke Provinsi Papua Selatan. Metode survei digunakan dalam penelitian, dengan teknik pengambilan sampel: sistimatik sampling.  Waktu pengumpulan data: Agustus 2022 - Juli 2023 pada tiga stasiun penelitian.  Analisis data utamanya penentuan ukuran mata jaring. Ukuran mata jaring untuk keberlanjutan udang P. merguiensis di stasiun A Distrik Naukenjerai = 50,80 - 98,21 mm; stasiun B Distrik Merauke = 42,68 mm; dan stasiun C Distrik Semangga = 50,05 mm. Penentuan ukuran mata jaring ini telah mempertimbangkan ukuran pertama matang gonad udang P. merguiensis pada ketiga stasiun penelitian: A Distrik Naukenjerai = 42,20 mmCL, B Distrik Merauke = 40,20 mmCL, dan C = 42,00 mmCL. Pengaturan ini dimaksudkan agar udang yang tertangkap secara ekonomi menguntungkan, dan kelestarian sumber daya udang dapat dijaga. Hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan kebijakan penentuan ukuran mata jaring trammel net dan pukat tarik dalam penangkapan udang secara berkelanjutan.
KEANEKARAGAMAN GENETIK, MORFOLOGI DAN MORFOMETRI IKAN ENDEMIK DI DANAU RAWA PENING DENGAN PENDEKATAN DNA BARCODING Haryani, Nisrina Septi; Hartoko, Agus; Ayuningrum, Diah
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.2.90-96

Abstract

Rawa Pening terletak di Jawa tengah adalah danau terbentuk alami melalui proses letusan vulkanik yang mengalurkan lava basalt dan menyumbat aliran Kali Pening daerah Tuntang yang berakibat lembah pening yang berhutan tropik berubah menjadi rawa. Ikan Endemik atau ikan asli yang terdapat di Rawa Pening yaitu ikan Wader. Penelitian di Danau Rawa Pening pada tahun 2006 diketahui memiliki keanekaragaman ikan Wader yaitu Wader Pari (R. lateristriata), Putih (R. jacobsoni), Andong (B. canchonius), Cakul (P. binotatus) dan Ijo (O. vittatus). Pentingnya untuk mengidentifikasi secara morfologi dan molekuler dikarenakan ikan Wader ini terdapat banyak jenis di Rawa Pening sebagai bahan inventarisasi data spesies ikan dan untuk mengetahui hubungan filogenetik pada area Danau Rawa Pening. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai jenis spesies ikan Wader di Rawa Pening berdasarkan perbandingan morfologi teknik morfometri dan molekuler teknik DNA Barcoding dan hubungan filogenetik serta tingkat keragaman genetiknya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Oktober 2021. Metode yang dilakukan meliputi analisis morfologi dari morfometri dan meristiknya, analisis molekuler dengan DNA barcoding, serta analisis data menggunakan software MEGA-X dan dnaSP. Hasil penelitian didapatkan ikan 33 individu, kemudian analisis morfologi dan molekuler dapat diketahui 3 spesies ikan yaitu kode W.P yaitu ikan Lumajang (Cycloceilichthys enoplos) dengan kemiripan sebesar 97,65%, kode W.I yaitu ikan Wader Ijo (Osteochilus vittatus) dengan kemiripan sebesar 100%, dan kode W.B yaitu ikan Wader Bintik Dua (Barbodes binotatus) dengan kemiripan sebesar 99,83%. Nilai keragaman genetik sampel ikan wader yang didapatkan di Danau Rawa Pening sebesar 0,8333 termasuk kedalam kategori keragaman genetik tinggi.
Komposisi Hasil Tangkapan Udang Padatrap Net di Desa Babalan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak Pratiwi, Galuh Alia; Hartoko, Agus; Muskananfola, Max Rudolf
Jurnal Pasir Laut Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Master Program of Aquatic Resources Management, Department of Aquatic Resources, Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpl.2025.65907

Abstract

Udang Putih dan Udang Tenger adalah hasil tangkapan udang yang tertangkap trap net di Sungai Lepasan Babalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan udang dengan trap net, serta aspek biologi udang yang terdiri dari tingkat kematangan gonad dan hubungan panjang berat di Sungai Lepasan Babalan. Penelitian dilaksanakan di bulan April-Mei 2024. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling dan metode pengumpulan data dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil tangkapan utama trap net di Sungai Lepasan Babalan adalah udang putih (P. merguiensis) dan udang tenger (M. ensis). Modus ukuran panjang karapas udang putih berkisar 35,36 – 40,96 mm, sedangkan modus ukuran panjang karapas udang tenger berkisar 27,24 – 29,04 mm. Udang putih memiliki 44 ekor betina dengan tingkat kematangan gonad TKG I, sementara udang tenger memiliki 46 ekor betina dengan tingkat kematangan gonad TKG II. Hubungan antara panjang dan berat udang putih dan udang tenger berbeda-beda: udang putih jantan memiliki W = 0,0000501L3,253 dan betina dengan W = 0,0000405L3,319, sementara udang tenger jantan memiliki W = 0,000293L2,781 dan betina dengan W = 0,000155L2,975. Nilai CPUE tertinggi berada pada bulan Juli 2023 dengan jumlah 11,084 kg/trip.
Identification and Phylogenetic Analysis of Blue Swimming Crab (Portunus sp.) in The Northern Waters of Jepara Used DNA Barcoding Lazuardhi, Risqi; Sabdaningsih, Aninditia; Ayuningrum, Diah; Saputra, Suradi Wijaya; Hartoko, Agus; Haeruddin, Haeruddin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.38705

Abstract

The Awur Bay and Kartini Beach in Jepara, Central Java, are fishing areas with blue swimming crab as a main catch. This study aims to examine the species of blue swimming crabs captured in the Northern Waters of Jepara from different locations, analyze the molecular characteristics based on gender differences, obtain GenBank accession numbers as genetic conservation, and construct their phylogenetic tree. The research used a quantitative descriptive method. Samples were collected using purposive sampling from fishermen's catches and selected based on the difference in crab claws and carapace color, with a total of 4 samples. The samples were extracted using a DNA extraction kit and tested using Polymerase Chain Reaction (PCR) to visualize mitochondrial DNA (COI gene) and processed using MEGA 11. BLAST results showed that the similarity of the samples to Portunus pelagicus ranged from 97.02% to 99.42%. The different colors of claws and carapace did not affect the DNA sequence composition, hence indicating sexual dimorphisms. The DNA sequences from this study were deposited to GenBank with accession number LC836055.1-LC836058.1. Based on the phylogenetic tree construction, the clade of all samples shows a close relationship with the species Portunus pelagicus.
Bioconcentration Lead (Pb) Green Mussel (Perna viridis) in Semarang Bay Lahati, Sonny; Hartoko, Agus; Haeruddin, Haeruddin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 2 (2022): June
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

The coastal waters of Semarang Bay have been polluted by heavy metal lead (Pb). The research was conducted from September 2015 to March 2016 with 3 stations at the Tambaklorok green mussel cultivation location. Analysis of the concentration of heavy metal Pb using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. Data processing using SPSS and Excel. The results showed that the average concentration of heavy metal Pb in the air ranged from 0.51 to 0.76 mg/L. The average concentration of heavy metal Pb in three observations obtained an average concentration of Pb between 4.975-20.43 mg/kg. Green mussels taken in the waters were sorted and separated according to the length of the shell and weighed 1 kg each according to the length of the shell. Small (2-3 cm), medium (3-4 cm) and large shells with long shells (5-6 cm). The results of the measurement of the concentration of heavy metal Pb in P. viridis showed that the average green mussel shell size 4-5 cm at the location of station III had the lowest concentration of heavy metal Pb at 0.24 mg/kg. Meanwhile, the highest average concentration of Pb in P. viridis was found at station I at 0.89 mg/kg with a shell length of 2-3 cm. The correlation equation between shell length and Pb concentration is Y= - 0.131 + 1.13 X. Standard error of the Estimate (SEE) is 0.19. While the standard deviation of 0.20 means that the predictor variable (water) to predict the dependent variable (shellfish) is feasible because SEE is greater than the standard deviation. The average value of the Bioconcentration Factor (BCF) of green mussels is smaller than that of medium-sized green mussels and large green mussels. Green mussels can be consumed by someone if the body weight is 60 kg, then as much as 5.8 kg in a week because it contains Pb.
Co-Authors - Pramonowibowo - Subiyanto - Supriharyono Abdul Ghani Abdul Ghofar Abdul Kohar Mudzakir Agung Wardana Agus Wahyudi Ahmad Fadlan Alfian Zulfikar, Alfian Ambariyanto Ambariyanto Andri Ramdhani Andrian Juniarta, Andrian Angela Merici Dwi Widiyanti Aninditia Sabdaningsih Anindya Wirasatriya Arif Rahman Aris Ismanto Ashari, Asqita Rakhma Ayuningtyas Indrawati Bagus Biantara, Bagus Bambang Sulardiono Boedi Hendrarto Budhi Agung Prasetyo Budianto, Tri Hendrawan Cahyo, Tri Nur Carleone de Prima, Carleone Churun A’in Damopolii, Sharfina Amalia Delianis Pringgenies Delis, Putu Cinthia Dewati Ayu Febrianti Dewi Sartika Diah Ayuningrum, Diah Djoko Suprapto Dwi Mulyasih EDY H.P. MELMAMBESSY Falensia, Talita Safa Febrianto, Sigit Ferdiansyah Ferdiansyah Fofied, Fernanda Gitarini Frida Aprilia Loinenak, Frida Aprilia Frida Purwanti Geertruidha Adelheid Latumeten Haeruddin Haeruddin Hanifati Masturah Haryani, Nisrina Septi Herman Yulianto Herry Boesono I. Kumalasari Indradi Setiyanto Isnawati, Nadiya Khoerul Umah Kitarake, Yopi Sondy Kukuh Prakoso, Kukuh Kurniawan Kurniawan Lahati, Sonny Lazuardhi, Risqi Lestari Lahksmi Widowati Lestari, Abid Lestari, Yumna Maro, Jahved Ferianto Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Miladiyah Ahsanul Akhlak, Miladiyah Ahsanul Moh Toriq Abidin, Moh Toriq Monica Evi Suanty Manurung Monica Febrina Silitonga Muhammad Helmi Muhammad Najib Habibie Muhammad Zainuri Mutia Ismi Febrianti Mutia Ismi Febrianti Nabila Fikri Dwi Cahyani Nadhea O. Rahmawati Natalie, Gyorgiana Gilda Niniek Widyorini Nining Sari Ningsih Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Nugroho, Restu Wahyu Nugroho, Tiyo Meizi nurul latifah Nurul Latifah Nurwinda Hikmawati Olvi Cristianawati Pinasthi, Laili Salma Pra Luber Agung Wibowo Pramonowibiwo M.Pi. Pratiwi, Galuh Alia Prayogi Prayogi Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Putri, Amanda Nerissa Qadar Hasani Rahayu Sapta S. Sudewi Rahmatuloh, Irzani Hamzah Setya Ralita, Tesya Feby Ratri Canar Perdana Restiana Wisnu Ariyati Richan Fakhrurrizal Rimty Mayuftia Rio Januardi, Rio Romadhony, Muchammad Yusuf Roni Kurniawan Rudy Kurniawan Sahala Hutabarat SARASWATI SARASWATI Sarif, Fina Saffuteri Sasanti Retno Suharti, Sasanti Retno Sembiring, Yoan Teresia Br Sibero, Mada T Simon Giando Sinaga, Simon Giando Siska Tri Cahyaningrum Siswanto Siswanto Siti Rudiyanti Sonny Lahati Sonny Lahati Subiyanto Subiyanto Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syafrudin Syafrudin Urfan Ridha Wijayanti, Amelia Yosafat Donni Haryanto Yullita, Ilma Zulyani Zulyani