p-Index From 2021 - 2026
5.355
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Forum Pasca Sarjana Maspari Journal ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Jurnal Ilmu Lingkungan POSITRON Biologi Edukasi : Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi Maspari Journal Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology JAM : Jurnal Aplikasi Manajemen Al-Ahkam Jurnal Perikanan dan Kelautan Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Widyariset Jurnal Kelautan Tropis BERITA BIOLOGI Journal of Applied Geospatial Information JURNAL ENGGANO Omni-Akuatika MAJALAH ILMIAH GLOBE BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management) Dinamika Maritim Jurnal Kelautan Nasional Jurnal Segara Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STI Policy and Management Journal Widyariset Jurnal Bali Membangun Bali COJ (Coastal and Ocean Journal) Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Jurnal Meteorologi dan Geofisika Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital The International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES)
Claim Missing Document
Check
Articles

Kontribusi Massa Air Tawar dari Estuari Banyuasin ke Perairan Selat Bangka pada Musim Peralihan II Heron Surbakti; I Wayan Nurjaya; Dietrich G Bengen; Tri Prartono
POSITRON Vol 12, No 1 (2022): Vol. 12 No. 1 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.509 KB) | DOI: 10.26418/positron.v12i1.53035

Abstract

Perairan Selat Bangka banyak mendapat pasokan air tawar dari sungai-sungai di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan, termasuk estuari Banyuasin.  Percampuran air tawar dan air laut menentukan kondisi lingkungan estuaria, khususnya pola salinitas, termasuk pembentukan habitat yang kompleks untuk komunitas tumbuhan dan hewan yang khas di dalamnya.  Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi besarnya masukan air tawar dari empat muara sungai di estuari Banyuasin ke Perairan Selat Bangka pada bulan Oktober (musim peralihan II).  Pengukuran data lapangan dilakukan di 23 lokasi pada bulan Oktober 2018 menggunakan Valeport Midas CTD+ Model 606.  Selanjutnya, data salinitas digunakan untuk mengetahui kisaran nilai salinitas, menganalisis nilai anomali, fraksi air tawar dan stabilitas massa air dari masing-masing sungai.  Kisaran salinitas massa air di perairan Selat Bangka pada musim peralihan II adalah 2,19 sampai 31,42 psu dengan nilai anomali salinitas sebesar -30,23 sampai -1,00 psu. Masukan massa air tawar dari empat sungai adalah berbeda satu sama lain sehingga terbentuk kontur lidah salinitas di mulut estuari dan nilai salinitas bervariasi secara spasial di Selat Bangka.  Fraksi air tawar yang paling dominan berasal dari Sungai Musi dengan kontribusi sebesar 31,2 %, selanjutnya diikuti Sungai Air Saleh (21,9%), Sungai Banyuasin (20,5%) dan Sungai Upang (20,3%).
Sebaran Salinitas Perairan Laut Kabupaten Bengkayang pada Musim Kemarau Muhammad Ishak Jumarang; I Wayan Nurjaya; Agus Sholeh Atmadipoera; Dietriech G Bengen
POSITRON Vol 10, No 1 (2020): Vol. 10 No. 1 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.486 KB) | DOI: 10.26418/positron.v10i1.40113

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang sebaran salinitas perairan laut Kabupaten Bengkayang pada musim kemarau. Penelitian ini dilakukan dengan melalukan pengambilan data salinitas, suhu dan konduktivitas massa air berdasarkan kedalaman di 23 stasiun pengukuran.  Lokasi penelitian berada pada koordinat 107,68 s.d 108,93 BT dan 0,69 LS s.d 0,87 LU. Lokasi penelitian terdiri atas lima lintasan yang membentang dari timur ke barat dan setiap lintasan terdiri atas empat stasiun pengamatan serta penambahan tiga stasiun pengukuran di sisi timur, barat dan selatan Pulau Lemukutan. Analisis dan visualisasi data massa air (suhu, salinitas, dan densitas) dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Ocean Data View (ODV) versi 4.7.6. Hasil analisis dan visualisasi data massa air menunjukkan bahwa salinitas massa air di perairan laut Kabupaten Bengkayang pada musim kemarau berada pada rentang 28,96 s.d 32,5 psu. Sebaran salinitas permukaan di daerah penelitian terbagi atas tiga bagian yaitu bagian utara, bagian tengah dan bagian selatan daerah penelitian, dengan tiap bagian membentang dari timur ke barat atau tegak lurus garis pantai. Massa air bersalinitas rendah (MABR) yang terjebak di bagian tengah diduga berasal dari massa air dari sungai yang terletak di bagian selatan pesisir Kalimantan yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Mempawah. MABR tersebut terdorong dan bergerak ke arah utara sesuai dengan arah arus yang terjadi di pesisir Kalimantan Barat pada musim kemarau. Stratifikasi kolom air dalam kondisi stabil di seluruh daerah penelitian. Massa air yang bersalinitas kurang dari 30,5 psu ditemukan hingga kedalaman 4,5 meter di bagian barat daya, bagian selatan dan bagian tenggara Pulau Lemukutan. Massa air dengan salinitas 30,75 s.d 31,75 psu dapat dijumpai dari garis pantai hingga mencapai bagian barat Pulau Lemukutan dengan kedalaman sampai 10 meter dari permukaan.
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Asep Sandra Budiman; Alan F. Koropitan; I Wayan Nurjaya
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.071 KB) | DOI: 10.13170/depik.3.2.1536

Abstract

Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords :  Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference  Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut.
Distribution and Growth Patterns of Crab (P. pelagicus) Based on Environmental Characteristics in Candi Waters, Pamekasan Regency, East Java Province Leni Maryani; Dietriech Geoffrey Bengen; I Wayan Nurjaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i2.17322

Abstract

Blue swimming crab (BSC) is a fishery commodity with high economic value and great demand in domestic and foreign markets. P. pelagicus swimming crabs are commonly found in Indonesian sea waters, one of the largest contributors to the country's foreign exchange after shrimp and tuna. The high demand for blue crab resources will trigger an increase in fishing efforts. If this is done continuously, it is feared that it could endanger the population structure. Moreover, disrupting the sustainability of blue swimming crab resources in the waters, this study examines the morphometric distribution and growth pattern of P. pelagicus crabs based on environmental characteristics in Candi waters, Pamekasaan Regency. Census sampling was carried out using the census method; the census method was carried out by taking all crab samples caught by fishermen. The results obtained found 33 individual crabs, which were divided into three classes, namely small (<10 cm), medium (>10 cm), and large (>12 cm) size classes. Male crabs dominated the research locations with wider straps than female crabs. The analysis results show that the width-weight relationship's b values are 1.47 (males) and 2.00 (females). In addition, male and female crabs have a positive allometric growth pattern. Blue swimming crabs are often found in habitats with a substrate of dusty mud, high salinity and organic matter.
Pemetaan Kerapatan Ekosistem Mangrove Menggunakan Analisis Normalized Difference Vegetation Index di Pesisir Kota Semarang Fani Safitri; Luky Adrianto; I Wayan Nurjaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i2.18173

Abstract

Mangrove ecosystem in Semarang City has an important role for survival of the coastal area. This is due to the function of mangroves as a barrier to coastal erosion, wave barrier, carbon producer, as a habitat for biota in coastal areas, as well as improving water quality. However, as time goes by, mangroves condition in coastal of Semarang is decreasing every year and causing coastal disasters such as coastal erosion and tidal flooding which have identically occurred on the coast of Semarang. Mangrove ecosystem area in coastal of Semarang City in 2020 is 163,250 Ha. The aim of this study is to determine the density of mangroves ecosystem from 2013 to 2022 with Landsat 8 and Sentinel 2 satellites. The method used to classify and determine the density of mangroves ecosystem is NDVI or Normalized Difference Vegetation Index. The results of analysis show that the mangrove density in 2013 was 412.889 Ha, while in 2022 it was 142.562 Ha. The density of mangroves has decreased by around 270.327 Ha (65.5%), this is due to erosion, land conversion into pond areas, and recently the construction of the Semarang-Demak sea wall. Whereas Sentinel 2 satellite is better to use because it has better image quality, details, and accuracy to show objects on the earth's surface compared to Landsat 8.   Ekosistem mangrove di Kota Semarang memiliki peran yang penting bagi keberlangsungan hidup wilayah pesisir. Hal tersebut dikarenakan fungsi mangrove sebagai penahan erosi pantai, penahan gelombang, penghasil karbon, sebagai habitat bagi biota di wilayah pesisir, serta memperbaiki kualitas air. Namun seiring perkembangan zaman, kondisi mangrove di pesisir Semarang semakin tahun kian berkurang sehingga menimbulkan bencana pesisir seperti terjadinya erosi pantai dan banjir rob yang telah identik terjadi di pesisir Semarang.  Luas ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kota Semarang pada tahun 2020 yaitu seluas 163,250 Ha. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kerapatan ekosistem mangrove dari tahun 2013 hingga 2022 dengan citra satelit Landsat 8 dan citra Sentinel 2. Metode yang digunakan untuk mengelaskan dan mengetahui kerapatan ekosistem mangrove adalah metode NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index. Hasil analisa menunjukkan bahwa kerapatan mangrove pada tahun 2013 seluas 412,889 Ha, sedangkan pada tahun 2022 seluas 142,562 Ha. Kerapatan mangrove mengalami penurunan sekitar 270,327 Ha (65,5%), hal tersebut disebabkan karena adanya erosi, alih fungsi lahan menjadi area tambak, serta baru-baru ini yaitu adanya pembangunan tanggul laut Semarang-Demak. Sedangkan citra satelit Sentinel 2 merupakan citra yang lebih baik digunakan karena memiliki kualitas gambar yang lebih bagus, detail, dan akurat untuk menunjukkan obyek dipermukaan bumi dibandingkan dengan citra Landsat 8.
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Asep Sandra Budiman; Alan F. Koropitan; I Wayan Nurjaya
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1536

Abstract

Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords :  Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference  Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut.
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Asep Sandra Budiman; Alan F. Koropitan; I Wayan Nurjaya
Depik Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.3.2.1536

Abstract

Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords :  Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference  Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut.
KARAKTERISTIK DAN PELAPISAN MASSA AIR DI PERAIRAN TELUK BUNGUS DAN BEBERAPA PULAU-PULAU KECIL DI KOTA PADANG Try Al Tanto; I Wayan Nurjaya; Indra Jaya; Tri Hartanto; Amir Yarkhasy; Akmala Dwi Nugraha; Soma Somantri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.882

Abstract

Perairan Sumatera Barat merupakan tempat bertemunya massa air yang datang dari Samudera Hindia dan daratan. Kajian ini bertujuan untuk melihat distribusi, stratifikasi, kestabilan dan karakteristik massa air di wilayah kajian. Penelitian di perairan Sumatera Barat ini dilakukan menggunakan instrument CTD, berupa kedalaman, temperatur dan salinitas yang diakuisisi oleh Tim Survei IPB. Penelitian ini mencakup 2 wilayah kajian, wilayah Teluk Bungus dan pulau-pulau kecil (PPK). Terdapat 9 stasiun yang terbagi dalam 4 transek untuk dianalisis dalam kajian, yaitu transek Teluk Bungus 1 dan 2 yang berada di perairan Teluk Bungus dan transek PPK 1 dan 2 yang berada di sekitar PPK. Analisis dilakukan dengan metode DIVA dan Diagram TS menggunakan Ocean Data View dan bahasa pemrograman Python 3.8. Hasil kajian memperlihatkan bahwa di perairan Teluk Bungus memiliki karakteristik umum salinitas rendah dan temperatur yang tinggi sedangkan wilayah PPK memiliki karakteritik salinitas tinggi dan temperatur yang rendah. Teluk Bungus memiliki nilai rata-rata temperatur 29.738 oC ± 0.383, salinitas 32.784 ± 0.063 psu, densitas 20.155 Kg/m3 ± 0.175 dan Brunt Vaisala 8.62 cyc/h. PPK memiliki nilai rata-rata temperatur 29.142 oC ± 0.580, salinitas 32.973 psu ± 0.191, densitas 20.498 Kg/m3 ± 0.331 dan Brunt Vaisala 6.7 cyc/h. Daerah teluk dan dekat daratan cukup stabil sedangkan wilayah perairan dekat PPK kurang stabil. Karakteristik perairan di wilayah Teluk Bungus didominasi massa air dari daratan sedangkan wilayah PPK didominasi massa air dari samudera.
Relationship Between Environmental Parameters and Manta Ray Occurrence in Raja Ampat Archipelago, Indonesia Runtuboi, Ferawati; Bengen, Dietriech Geoffrey; Nurjaya, I Wayan; Natih, Nyoman Metta N; Zulfikar, Andi; Beale, Calvin S.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.1.37-47

Abstract

Understanding the influence and impact of environmental factors on manta ray sightings is critical to understanding the spatial and temporal ecology of a highly mobile species. Therefore, this study aims to determine the influence and impact of environmental factors as indicated by the parameters of wind speed, chlorophyll-a, SST, salinity, pH, dissolved oxygen, and the number of phytoplankton and zooplankton species. The mapped chlorophyll-a was re-analyzed based on the seasonal period throughout 2021 downloaded from marine copernicus and analyzed by kriging method. The influence and effects of environmental parameters on the short-term appearance of eye rays were studied using an adaptive model (GAM). The analysis showed a significant influence of environmental factors on manta ray sightings in Raja Ampat, namely Calanoid spp, Oithona nana, Acartia clausi, Calanus helgoladicus, and Oithona brevicornis. Based on this model, zooplankton is an important parameter that can describe the influence of environmental parameters on manta ray sightings at observation points in Raja Ampat MPA. The results of the reanalysis of chlorophyll-a concentrations were highest in the eastern to transitional seasons, which were scattered on the west side of Raja Ampat waters. Meanwhile, chlorophyll-a concentrations were low in the west to transitional season on the east side. This mechanism may drive the foraging strategy of manta rays, which visit shallow waters where zooplankton density and biomass are abundant. Adopting the BHS MPA network concept, as it has been implemented, would be in line with broader conservation expectations for the sustainability of manta rays in Raja Ampat.
HUBUNGAN PARAMETER ARUS LAUT DAN LIFEFORM KARANG PADA BEBERAPA PULAU-PULAU KECIL DI KOTA PADANG: (The Relationship of Ocean Current Parameters and Coral Lifeform in Small Islands in Padang City) Try Al Tanto; I Wayan Nurjaya; Dietriech G. Bengen; Tri Hartanto; Saenudin; Suhaemi
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan pulau-pulau kecil (PPK) memerlukan kajian ilmiah, salah satunya berupa parameter oseanogafi perairan. Parameter oseanografi mendukung suatu ekosistem terumbu karang, seperti kondisi arus laut yang secara tidak langsung dapat menyebabkan bentuk pertumbuhan karang yang berbeda-beda. Tujuan kajian adalah menentukan karakteristik arus laut dan menduga hubungannya dengan lifeform karang. Analisis sirkulasi arus laut dilakukan dengan pemodelan spasial, dan analisis koresponden untuk melihat hubungan yang terjadi. Sirkulasi arus laut perairan PPK Kota Padang dominan dibangkitkan oleh gaya pasang surut. Terdapat hubungan cukup erat antara kecepatan arus laut dengan lifeform karang, dengan nilai sebesar 81,40%. Arus laut cukup tinggi terjadi di Perairan Pulau Sirandah mencapai 0,49 m/dt, terdapat karang jenis submassive (CS) dominan mencapai 77,33-85,27%. Arus laut cukup lemah di Perairan Pulau Pasumpahan kisaran maksimum 0,13-0,28 m/dt dan rata-rata 0,04-0,08 m/dt, memiliki jenis lifeform karang yang banyak dan beragam, yaitu semua jenis karang non-acropora dan acropora jenis bercabang (ACB). Bentuk karang bercabang (ACB dan CB) dan massive (CM) mendominasi keberadaannya di perairan ini. Arus laut di Perairan Pulau Sikuai memiliki kecepatan maksimum 0,46 m/dt (BBL) dan 0,38 m/dt (TTG) dan rata-rata sebesar 0,12 m/dt. Arus laut di Pulau Sironjong cukup rendah, maksimum 0,20 m/dt dan rata-rata 0,09 m/dt. Kondisi karang di Perairan Pulau Sikuai dan Pulau Sironjong memiliki total % cover rendah (0,2-17,53%). Pada Pulau Sikuai paling tinggi jenis heliophora sebesar 13,46%, sedangkan Pulau Sironjong dominasi ACB sebesar 1,77%. Jenis submassive paling rendah pada ke dua pulau yaitu sebesar 0,07%.
Co-Authors . Sukenda Abdurrachman Baksir, Abdurrachman Adi Purwandana Adi Purwandana Adibrata, Sudirman Adil Mahfudz Firdaus Adil Mahfudz Firdaus Adil Mahfudz Firdaus Agus Atmadipoera Agus Saleh Atmadipoera Agus Sholeh Atmadipoera Ahmad Herison Akmala Dwi Nugraha Alan Frendy Koropitan Alimuddin, Alimuddin Amir Yarkhasy Yuliardi Andhi Setyonugroho Andi Agussalim, Andi Andri Purwandani Aprilia, Jesikha Dwi Ari Purbayanto Ariane Koch-Larrouy Ario Damar Asep Sandra Budiman Asep Sandra Budiman Asep Sandra Budiman, Asep Sandra Baharuddin Baharuddin Bambang Kanti Laras Beale, Calvin S. Beginer Subhan Bengen, Detriech G Darmiati Dedi Sugianto Denny Alberto Satrya Gumay Derek Soto Dietrich G Bengen Dietriech G. Bengen Dietriech G. Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Dondy Arafat Dwiyoga Nugroho Eddy Supriyono Edi Kusmanto Enang Harris Surawidjaja Esty Kurniawati ESTY KURNIAWATI Ety Parwati Ety Parwati Ety Parwati Ety Parwati Ety Parwati fadli syamsudin Fani Safitri Ferawati Runtuboi Ferdy Gustian Firdaus, Adil M. Franto Novico Fredinan Yulianda Hari, Restu Fajar Harpasis S Sanusi Harpasis S Sanusi Harpasis s. Sanusi Hartanto, Mohammad Tri Hefni Effendi Heron Surbakti Heron Surbakti Hidayat Pawitan Holyness Nurdin Singadimedja HS, Surjono I Gusti Bagus Wiksuana I Made Budiasa I Nyoman Kanca Ida Bagus Made Baskara Andika IG Wayan Adiwilaga Ikbal Marus, Ikbal Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Irmalita Tahir, Irmalita Irzal Effendi Ismail, Firdaut Ismudi Muchsin Ismudi Muchsin John I Pariwono Joko Purwanto Joko Santoso Jonson Lumban Gaol Kadarwan Soewardi Kadarwan Soewardi Kadarwan Soewardi Kadarwan Soewardi Kadarwan Soewardi Kasman Kasman Khairunnisa Khairunnisa Kholil Kholil Kholil Kholil Kotta, Raismin Krisna Rendi Awalludin Kusnanto La Ode Nurman Mbay Leica Febby Shafitri Leni Maryani Lerma Yuni Siagian Luky Adrianto M. Zairin Junior Mahdi Kartasasmita Mahdi Kartasasmita Mahdi Kartasasmita Mahdi Kartasasmita Mahdi Kartasasmita Manalu, Janviter Marimin , Mario Putra Suhana Mennofatria Boer Muh. Ishak Jumarang Muhamad Muliadi Muhammad Agus Muljanto MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Marzuki Mulia Purba Mulia Purba Mulia Purba Mursalin Mursalin N Natih, Nyoman Metta N, Furqan Nabil Balbeid, Nabil Najamuddin N Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Nandi Abdul Aziz Nebuchadnezzar Akbar Neviaty P Zamani Neviaty P. Zamani Noor, Hariansyah Nugraha, Teguh Nur Asia Umar Nur Audina Nyoman M N Natih Nyoman M.N Natih Okgareta, Dema Paembonan, Rustam E Paputungan, Mohammad Sumiran Pramudyo Dipo Prayoga, Bintang Rasidi, Rasidi Rastina Ratu Almira Kismawardhani Ratuluhain, Eva Susan Restu, Yunan Gilang Richardus F Kaswadji Richardus F. Kaswadji Ridha Alamsyah Rikardi, Novit Riris Aryawati Risandi Dwirama Putra Rita Rafni Riyadi Subur, Riyadi Robin Saputra Robinson Sitepu Rustam Effendi Paembonan, Rustam Effendi Saenudin Sakka Sakka Salnuddin Salnuddin, Salnuddin Salsabila, Unik Hanifah Salsabilah, Raisyah Santi Susanti, Santi Satria Yukiadi Santoso Septy Heltria Setyo Handayani Setyo Handayani Sigid Hariyadi Siolimbona, Abdul Ajiz Solihin Solihin Soma Somantri Sucantra, Made Bayu Sugeng Budiharso Sugeng Budiharsono Suhaemi Supriyono, Supri Surjono HS Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Tri Hartanto Tri Prartono Tridoyo Kusumastanto Try Al Tanto Try Al Tanto Try Al Tanto Vincentius P Siregar Vincentius Siregar Wahab, Iswandi Wahyu W Pandoe Wang, Zheng Wibowo, Eko S Widodo S. Pranowo Yidoatimojo, Sudibyo Yogi Cahyo Ginanjar Yonvitner - Yudi Setiawan Yuli Naulita Yusli Wardiatno Zahara, Asha Aulia Zibar, Zan Zulfikar, Andi