Claim Missing Document
Check
Articles

Semantic Differentiation of al-Mīzān and al-Qisṭās in the Qur’an: Revisiting Muhammad Syahrur’s Anti-Synonymity Theory Sholeha, Gita Zahratus; Isnaeni, Ahmad; Alghifari, Abuzar
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.31944

Abstract

Dalam kajian al-Qur’an, terdapat sejumlah lafaz yang sering dianggap memiliki kesamaan makna, padahal masing-masing memiliki makna khas yang berbeda. Salah satunya adalah lafadz al-mīzān dan al-Qisṭās yang kerap dipahami sebagai sinonim dengan arti “timbangan” atau “keadilan.” Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna khas dari masing-masing lafaz tersebut dengan menggunakan teori anti sinonimitas yang dikembangkan oleh Muhammad Syahrur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-kepustakaan dengan sumber data meliputi al-Qur’an, karya-karya Muhammad Syahrur, kitab tafsir klasik dan modern, serta literatur kebahasaan Arab. Analisis dilakukan dengan menelusuri makna dasar, dan perkembangan maknanya secara sinkronik dan diakronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-mīzān merepresentasikan konsep keadilan dan keseimbangan yang bersifat universal dan normatif, sedangkan al-Qisṭās menggambarkan penerapan nilai keadilan secara konkret dalam konteks sosial, hukum, dan ekonomi. Keduanya memiliki hubungan semantik yang erat, namun berbeda fungsi dan lingkup makna. Temuan ini menegaskan pandangan Syahrur bahwa tidak terdapat sinonimitas dalam al-Qur’an, dan setiap lafadz memiliki makna yang unik serta tidak saling menggantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa bahasa al-Qur’an tidak bersifat sinonim, melainkan setiap lafaz mengandung makna yang khas dan tidak dapat digantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini juga berkontribusi dalam kajian tafsir dengan menekankan pentingnya analisis linguistik yang cermat guna menghindari penyederhanaan makna yang berpotensi mereduksi kedalaman pesan al-Qur’an.
Beyond Commands and Prohibitions: The Significance of Non-Normative Verses in the Structure of the Qur’anic Message Rizki Afiah, Miftahul; Isnaeni, Ahmad; Malik Ghozali, Abdul
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.34241

Abstract

Kajian tafsir al-Qur’an selama ini cenderung menempatkan ayat-ayat normatif yang memuat perintah dan larangan sebagai pusat perhatian, terutama dalam konteks hukum Islam. Akibatnya, ayat-ayat al-Qur’an yang tidak secara eksplisit mengandung muatan normatif sering kali diposisikan sebagai pelengkap dan belum dikaji secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ayat-ayat non-normatif dalam al-Qur’an, menganalisis penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat tersebut, serta menjelaskan fungsi dan signifikansinya dalam struktur pesan wahyu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat non-normatif memiliki fungsi strategis dalam membentuk kesadaran keimanan, memperkuat ketahanan batin, dan membangun orientasi etis pembaca melalui mekanisme naratif dan reflektif. Ayat-ayat tersebut bekerja secara regulatif tidak melalui instruksi hukum yang eksplisit, melainkan melalui internalisasi nilai dan pembingkaian cara pandang terhadap realitas. Temuan ini menegaskan bahwa kebermaknaan wahyu tidak ditentukan semata oleh kandungan normatifnya, melainkan juga oleh daya transformasi ayat-ayat non-normatif dalam membentuk manusia beriman secara utuh. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya studi tafsir al-Qur’an dengan menawarkan pembacaan yang lebih holistik dan kontekstual terhadap keragaman gaya komunikasi wahyu.