Claim Missing Document
Check
Articles

Spiritual Resilience in Q.S. Al-Insyirah: A Reading of Al-Alusi’s Ruh al-Ma’ani through Reivich and Shatté’s Resilience Theory Afriyan, Ricky; Isnaeni, Ahmad; Masruchin , Masruchin
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 28 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v28i1.34004

Abstract

This article examines the concept of spiritual resilience in Q.S. Al-Insyirah through Imam al-Alusi’s Ruh al-Ma’ani and places it in dialogue with the resilience theory of Karen Reivich and Andrew Shatté. The study responds to the need for a more conceptually grounded reading of Q.S. Al-Insyirah that moves beyond motivational interpretations and considers its theological, psychological, and spiritual dimensions. Using a qualitative library research design, this study analyzes Al-Alusi’s interpretation of Q.S. Al-Insyirah through content analysis and the tahlili method, a verse-by-verse exegetical approach. The findings suggest that several key expressions in the chapter, including sharh al-sadr (expansion of the chest), the removal of burdens, ma‘a al-‘usr yusrā (with hardship comes ease), continued striving, and hope in God, may be read as interrelated elements of spiritual resilience. These elements resonate with selected dimensions of Reivich and Shatté’s theory, particularly emotional regulation, realistic optimism, self-efficacy, and reaching out. However, the relationship between the Qur’anic text and modern resilience theory should not be understood as exact equivalence, but as a dialogical and interpretive encounter. This study argues that Q.S. Al-Insyirah, as interpreted by Al-Alusi, offers a theological-transformative understanding of resilience, in which hardship becomes a site of inner expansion, divine reassurance, sustained effort, and spiritual reorientation. The article contributes to Qur’anic studies by showing how classical exegesis may enrich contemporary discussions of resilience without reducing Qur’anic meaning to modern psychological categories.
Development of a Productive Waqf Management Model as an Alternative Source of Income for Islamic Higher Education Isnaeni, Ahmad; Pratomo, Dimas; Farhana
Analisis: Jurnal Studi Keislaman Vol 26 No 1 (2026): Analisis : Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsk.v26i1.31145

Abstract

Developing a productive waqf management model as an alternative source of income is a strategic need for Islamic higher education in Indonesia, especially amidst the increasing need for sustainable financing. However, waqf management in educational institutions still faces various problems, such as low literacy in productive waqf, suboptimal asset utilization, limited human resources, and weak public trust due to transparency and accountability issues. This study aims to analyze the management of productive waqf and formulate a development model in Islamic higher education. The study used a qualitative evaluative approach through field studies at the Waqf Board of Pondok Modern Darussalam Gontor and STF UIN Jakarta. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires, then analyzed using data triangulation, SWOT, IFAS, and EFAS. The results indicate that both institutions are in Quadrant I, making an aggressive growth strategy a relevant approach. The novelty of this study lies in the productive waqf management model that integrates waqf literacy, professionalization of governance, asset optimization, institutional collaboration, and continuous evaluation as the basis for the financial independence of Islamic higher education. This model can be adapted by Islamic universities according to their institutional character, asset potential, social networks, and management capacity in a contextual and sustainable manner.
RETORIKA QUR’ANI SEBAGAI INTSRUMEN DAKWAH : ANALISIS TEMATIK AYAT-AYAT TARGHIB WA TARHIB Samah Umi Mujahidah; Ahmad Isnaeni; Budimansyah
Studia Quranika Vol. 9 No. 2 (2025): January
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The declining effectiveness of Islamic preaching in the modern era indicates the need for a communicative approach that engages both the rational and emotional dimensions of human beings. In this context, the Qur’an offers a powerful rhetorical framework through the concepts of targhīb (motivation and promise) and tarhīb (warning and deterrence) as persuasive instruments of da‘wah. This study aims to analyze the role of Qur’anic rhetoric in verses containing targhīb and tarhīb as a method of preaching capable of fostering moral and spiritual awareness within contemporary society. Employing a qualitative method based on thematic exegesis (tafsir maudhu‘i), this research systematically identifies, classifies, and analyzes relevant verses to uncover their rhetorical patterns and ethical messages. The findings reveal that Qur’anic rhetoric integrates logical reasoning, aesthetic expression, and spiritual depth in conveying divine guidance effectively. Verses of targhīb cultivate hope, optimism, and moral transformation through promises of divine mercy and reward, while verses of tarhīb reinforce ethical responsibility through reminders of accountability and punishment. The synergy between these two elements produces a balanced model of preaching that harmonizes hope and caution, shaping reflective and morally grounded individuals. This study affirms the continued relevance of Qur’anic rhetoric as a foundation for developing contextual, humane, and communicative models of da‘wah in response to contemporary social change.
Semantic Differentiation of al-Mīzān and al-Qisṭās in the Qur’an: Revisiting Muhammad Syahrur’s Anti-Synonymity Theory Gita Zahratus Sholeha; Ahmad Isnaeni; Abuzar Alghifari
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.31944

Abstract

Dalam kajian al-Qur’an, terdapat sejumlah lafaz yang sering dianggap memiliki kesamaan makna, padahal masing-masing memiliki makna khas yang berbeda. Salah satunya adalah lafadz al-mīzān dan al-Qisṭās yang kerap dipahami sebagai sinonim dengan arti “timbangan” atau “keadilan.” Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna khas dari masing-masing lafaz tersebut dengan menggunakan teori anti sinonimitas yang dikembangkan oleh Muhammad Syahrur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-kepustakaan dengan sumber data meliputi al-Qur’an, karya-karya Muhammad Syahrur, kitab tafsir klasik dan modern, serta literatur kebahasaan Arab. Analisis dilakukan dengan menelusuri makna dasar, dan perkembangan maknanya secara sinkronik dan diakronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-mīzān merepresentasikan konsep keadilan dan keseimbangan yang bersifat universal dan normatif, sedangkan al-Qisṭās menggambarkan penerapan nilai keadilan secara konkret dalam konteks sosial, hukum, dan ekonomi. Keduanya memiliki hubungan semantik yang erat, namun berbeda fungsi dan lingkup makna. Temuan ini menegaskan pandangan Syahrur bahwa tidak terdapat sinonimitas dalam al-Qur’an, dan setiap lafadz memiliki makna yang unik serta tidak saling menggantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa bahasa al-Qur’an tidak bersifat sinonim, melainkan setiap lafaz mengandung makna yang khas dan tidak dapat digantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini juga berkontribusi dalam kajian tafsir dengan menekankan pentingnya analisis linguistik yang cermat guna menghindari penyederhanaan makna yang berpotensi mereduksi kedalaman pesan al-Qur’an.
Beyond Commands and Prohibitions: The Significance of Non-Normative Verses in the Structure of the Qur’anic Message Miftahul Rizki Afiah; Ahmad Isnaeni; Abdul Malik Ghozali
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.34241

Abstract

Kajian tafsir al-Qur’an selama ini cenderung menempatkan ayat-ayat normatif yang memuat perintah dan larangan sebagai pusat perhatian, terutama dalam konteks hukum Islam. Akibatnya, ayat-ayat al-Qur’an yang tidak secara eksplisit mengandung muatan normatif sering kali diposisikan sebagai pelengkap dan belum dikaji secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ayat-ayat non-normatif dalam al-Qur’an, menganalisis penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat tersebut, serta menjelaskan fungsi dan signifikansinya dalam struktur pesan wahyu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat non-normatif memiliki fungsi strategis dalam membentuk kesadaran keimanan, memperkuat ketahanan batin, dan membangun orientasi etis pembaca melalui mekanisme naratif dan reflektif. Ayat-ayat tersebut bekerja secara regulatif tidak melalui instruksi hukum yang eksplisit, melainkan melalui internalisasi nilai dan pembingkaian cara pandang terhadap realitas. Temuan ini menegaskan bahwa kebermaknaan wahyu tidak ditentukan semata oleh kandungan normatifnya, melainkan juga oleh daya transformasi ayat-ayat non-normatif dalam membentuk manusia beriman secara utuh. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya studi tafsir al-Qur’an dengan menawarkan pembacaan yang lebih holistik dan kontekstual terhadap keragaman gaya komunikasi wahyu.
TAWADHU’ MENURUT QS AL HIJR AYAT 88 DALAM PANDANGAN SUFISTIK: Studi Komparatif Pandangan Ibn ‘Arabi dan Al-‘Alusi Hendryk Hanggara Saputra; Ahmad Isnaeni; Septiawadi Septiawadi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.9191

Abstract

Al-Qur’an menekankan pentingnya tawadhu’ sebagai akhlak mulia. QS. Al-Hijr: 88 memerintahkan Nabi agar rendah hati terhadap sesama mukmin. Ibn ‘Arabi menafsirkannya secara sufistik-metafisik, sedangkan Al-‘Alusi menekankannya pada etika sosial. Studi komparatif keduanya menunjukkan keluasan makna tawadhu’ dalam dimensi spiritual dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsep tawadhu’ menurut Ibn ‘Arabi dan Al-‘Alusi . Penelitian ini termasuk penelitian pustaka dengan analisis komparatif. Ibn ‘Arabi menafsirkan tawadhu’ sebagai kesadaran metafisik tentang kesatuan wujud, sedangkan Al-‘Alusi menafsirkannya sebagai akhlak sosial yang menuntut kelembutan dan rendah hati dalam pergaulan. Analisis komparatif menunjukkan bahwa keduanya berbeda dalam orientasi, tetapi saling melengkapi. Ibn ‘Arabi mengajarkan kedalaman batin, Al-‘Alusi mengajarkan praktik sosial.