Claim Missing Document
Check
Articles

IPTEK BAGI MASYARAKAT PADA KELOMPOK TANI TERNAK DI SUNGAI PERMAI, LAMBUNG BUKIK Evitayani Evitayani; Yetti Marlida; Ahadiyah Yuniza; James Hellyward; , Suyitman , Suyitman; Harnentis Harnentis
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol. 1 No. 3.a (2018)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

West Sumatra Province has relatively extensive agriculture with feed ingredients such as rice straw, Rumput Gajah and legume groups that can be used for beef cattle needs. The total area of Padang City is 694.96 km², and more than 60% of this area, about ± 434.63 km² is a hilly area covered by protected forests, while the rest is an effective urban area. While the topography of the city varies, 49.48% of the land area of Padang City is in a slope of more than 40% and 23.57% is in the slope of the slope. The eastern region consists of several sub-districts, starting from north to south, respectively from Koto tangah, Pauh, Kuranji, and Lubuk sub-districts. The Pauh region, such as the village of Lambung Bukik, belongs to the Pertides forum program (universities for villages) which collaborates with the 2019 Chancellor's MOU with the Ministry of Education PDTT) to prepare and implement programs to help build villages. Some of their income is obtained from raising livestock and farming. In general, both agricultural and livestock businesses are still carried out traditionally, so it is not surprising that the results obtained are relatively low. Cows are only ground or tethered at night, while in the afternoon they are released to look for food on the grass or in the sleeping area around the village. Only a small amount of effort has been made to raise livestock intensively by supplying and providing sufficient and regular food. The low level of livestock production is caused by the lack of knowledge of farmers in the proper way of raising livestock, also because of the lack of food both forage and the high price of concentrate. With the increase in the livestock population, it certainly requires more and sufficient forage throughout the year. However, the provision of forage has experienced serious obstacles. One of them is the existence of a dry season that causes a decrease in forage production. Therefore, the business of developing beef cattle will be more profitable if you can find alternative substitutes for conventional forage with the use of silos as feed fermentation sites. The use of agricultural products (such as rice straw) and other food crops as animal feed is expected to address the above problems. This is possible because cattle breeding is generally integrated with other farming businesses, especially food crops (rice fields) so that the results of agricultural follow-up will be available throughout the year. Therefore, there is a need for a kind of touch of feed technology with the use of agro-industry by products such as straw which are proven to be available at all times. The implementation of the application of rice straw ammoniation technology in the field with the direct administration of ammonia which has been removed and chicken manure is given. Participation and motivation of farmer groups in participating in a series of service activities is very high. Because all this time there has never been any guidance related to the technical and management aspects in the maintenance of beef cattle. Farmers already know how to manage fattening beef cattle such as giving concentrates such as coconut cake, soybean meal, fish meal, tofu pulp and bran and giving premix minerals.
PENGELOLAAN PETERNAKAN SAPI POTONG RAMAH LINGKUNGAN Suyitman Suyitman; Lili Warly; James Hellyward
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol. 2 No. 3.a (2019)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jhi.v2i3.a.239

Abstract

Pembangunan pertanian harus bersinergi dengan pembangunan wilayah perdesaan dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam mencapai tujuan tersebut, pengembangan kawasan potensial seperti kawasan berbasis peternakan sapi potong perlu dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan yang akan menstranformasikan perdesaan menjadi kota-kota pertanian merupakan salah satu pilihan strategis yang tepat. Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman yang beralamatkan di Blok A Sitiung II, Jorong Koto Hilalang II, Nagari Sungai Langkok, Kecamatan Tiumang, Kabupaten Dharmasraya merupakan daerah transmigrasi yang pertama di Indonesia dan sekarang berkembang menjadi salah satu daerah gudang ternak sapi potong di Kabupaten Dharmasraya dan Propinsi Sumbar. Peternak rata-rata mempunyai sapi potong sebanyak: 2-10 ekor/keluarga. Permasalahan yang dihadapi mitra saat ini adalah (a) peternak mulai kesulitan dalam menyediakan pakan hijauan, apalagi di saat menghadapi musim kemarau, (b) kotoran feses sapi cukup menumpuk di sekitar kandang, sehingga mengganggu kebersihan dan mencemari lingkungan serta mengganggu estetika, (c) biaya rekening listrik peternak akhir-akhir ini dirasa cukup mahal. Solusi yang ditawarkan adalah: (a) pemanfaatan limbah perkebunan dan agroindustri, seperti pelepah daun kelapa sawit dan bungkil inti sawit diolah sebagai pakan ternak sapi potong, (b) limbah ternak sapi potong yang berupa feses sapi diolah sebagai pupuk kandang melalui unit pengelolaan pupuk organik (UPPO) dan biogas untuk menghasilkan dan memenuhi kebutuhan energi dalam bentuk listrik dan gas di kawasan Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman, sehingga dapat mengurangi biaya operasional, khususnya kebutuhan listrik dan tidak bergantung pada PLN, (c) pemanfaatan pupuk kandang/organik dan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam mendukung sistem pertanian organik untuk budidaya secara intensif rumput unggul, seperti King Grass dalam rangka meningkatkan penyediaan pakan hijauan untuk pakan ternak sapi potong. Selain itu kegiatan ini menjadi model bagi masyarakat peternak sapi potong di sekitar kawasan Kelompok Tani Cerdas dan Kelompok Tani Brahman untuk dapat mencapai tujuannya yaitu menyusun pengembangan kawasan berbasis peternakan sapi potong terpadu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di daerah ini dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dan juga berfungsi sebagai kawasan alih (diseminasi) teknologi. Target khusus yang ingin dicapai adalah peternak mampu memanfaatkan limbah perkebunan dan agroindustri sebagai pakan ternak sapi potong, limbahnya dapat diolah melalui unit pengelolaan pupuk organik (UPPO) dan biogas serta peternak mampu secara intensif membudidayakan rumput unggul (King Grass) memakai sistim pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Metode yang ditawarkan kepada kedua mitra untuk mendukung realisasi program ini adalah metode consuling dimana sebelumnya melalui pendekatan, kemudian diberikan penyuluhan, pelatihan dan pembinaan serta terakhir adanya evaluasi dan monitoring berkelanjutan dari pihak Perguruan Tinggi. Hasil dari monitoring nanti diharapkan dapat meningkatkan keinginan dan semangat serta motivasi yang tinggi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan hidup peternak di daerah transmigrasi ini. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah daerah, masyarakat, petani, peternak dan stakeholder yang akan menginvestasikan modalnya dalam pengelolaan sapi potong terpadu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Co-Authors - Evitayani Adisti Rastosari Aditya Alqamal Alianta Ahadiyah Yuniza Amri, Taqiyuddin Amrina, Elita Amrizal Anas Anna Farhana Anna Farhana Anwar Efendi Harahap Arif Rahman Hakim Arigi, Dylan Haikal Asdi Agustar Astrini, Ni Kadek Mita Sumadi Azahra, Mutiara Bambang Istijono, Bambang Budi Rahayu Tanama Putri Budi Setiyono* Budiharto, Agus Cici Wulandari, Cici Cori Qamara Desmiyawati Desmiyawati, Desmiyawati Edi Erwan El Latifa Sri Suharto Elfi Rahmi Elita Amrina Endang Purwati RN Fajrona, Kadran Firda Arlina Firdaus, Stevanny Fitrini Fitrini Harnentis Harnentis Henni Noviasari Herwanto, Taufik I Putu Gede Didik Widiarta Ida Indrayani Ikhsan Rias Imam Malik Tarigan Jafrinur Jaswandi . Juliantoni, Jepri kadibengkulu kadi Kusnadidi Subekti Lili Warly Madarista, Fuad Mangku Mundana Mardiati Zein Mawaddah, Aidha Melinda Noer Mirzah Mirzah Muhamad Zen Zen Muhammad Luthfi iznillah Narny, Yenny Nauli, Fitri Ni Kadek Mita Sumadi Astrini Ningrat, Rusmana Wijaya Surya Ningsih, Rahmita Budiarti Nova Sillia Nova Sillia Novarista, Noni Nur Azlina Nurhimat Putra, Riza Andesca Rahmi Wati Rahmita Budiartiningsih Rinaldi Ekaputra Risma Apdeni Sabrina Sabrina Setiyono*, Budi Sillia, Nova Suresti, Amna Suyitman Suyitman Syahrial, Syahrial Syihab S.R., Dhia Luthfi TEVINA EDWIN Tinda Afriani Uyung Gatot Syafrawi Dinata Vebryanti, Vebryanti Wijakesuma, Made Hardinata Wilnawati Wilnawati Wilnawati, Wilnawati Winda Sartika WULANDARI, MERI Yananta Sari, Debyta Yetti Marlida Yolani Utami Yozil Alveni Yurnalis Yurnalis Yusni Maulida