Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN MINERAL-VITAMIN KOMPLEKS DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN BABI RAS PERSILANGAN MASA LEPAS SAPIH Wenata S.; N W. Siti; I. A. P. Utami
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 1 (2020): Issue 8 No. 1 (2020)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.855 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi mineral-vitamin kompleks (pignox) dalam ransum terhadap performa produksi babi ras persilangan masa lepas sapih. Penelitian dilaksanakan selama 8 minggu di Banjar Lebah Jadi, Desa Jadi, Kediri, Tabanan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dicobakan ransum tanpa suplementasi mineral-vitamin kompleks/pignox (A),ransum dengan suplementasi 0,10 % mineral-vitamin kompleks/pignox (B), dan ransum dengan suplementasi 0,20 % mineral-vitamin kompleks/pignox (C). Variabel yang diamati adalah berat badan akhir, pertambahan berat badan, konsumsi ransum dan feed conversion ratio. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan nyata (P<0,5) maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan ( Steel and Torrie, 1991). Hasil penelitian menunjukan bahwa suplementasi mineral-vitamin kompleks pada level 0,10% dan 0,20% nyata (P<0,5) dapat meningkatkan berat badan akhir, pertambahan berat badan, meningkatkan konsumsi ransum dan menurunkan feed conversion ratio pada babi ras persilangan masa lepas sapih. Kata kunci : suplementasi, babi ras persilangan, performa produksi, pignox
PENGARUH PENAMBAHANPROBIOTIK STARBIODALAM RANSUM KOMERSIAL TERHADAP PRODUKSI AYAM BROILER ANTARI L. Y. S.; I N. T. ARIANA; N. W. SITI
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 2 (2015): E-Journal Peternakan Tropika Vol 3 No 2
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahanprobiotik starbiodalam ransum komersialterhadap produksi ayam broiler.  Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu mulai September hingga Oktober 2013 di peternakan ayam broiler milik Bapak Ir. I Wayan Sana.  Penelitian ini menggunakan ayam broiler berumur 8 hari.  Perlakuan yang diberikan adalah PS (penambahan probiotik starbio 0,25% dalam ransum komersial) dan PK (penambahan probiotik starbio 0% dalam ransum komersial).  Variabel yang diamati adalah produksi ayam broiler meliputi berat awal, berat akhir, pertambahan berat badan, berat potong, susut berat badan, persentase susut berat badan, berat karkas, dan persentase karkas. Variabel tersebut dianalisis dengan menggunakan Two Independent Sampel T-Test.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik starbio yang ditambahkan dalam ransum komersial tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat awal, berat akhir, pertambahan berat badan, berat potong, susut berat badan, dan persentase susut berat badan. Namun, probiotik starbio yang ditambahkan dalam ransum komersial berpengaruh nyata (P<0,05) untuk meningkatkan berat karkas dan persentase karkas.  Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penambahanprobiotik starbio 0,25%dalam ransum komersial dapat meningkatkan berat karkas dan persentase karkas ayam broiler.
Pengaruh Penggantian Ransum Komersial dengan Tepung Kulit Kecambah Kacang Hijau terhadap Penampilan Itik Bali Jantan Umur 0-8 Minggu Laksamana K. Y. P.; N W. Siti; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian ransum komersial dengan tepung kulit kecambah kacang hijau terhadap penampilan itik bali jantan umur 0-8 minggu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, tiap perlakuan menggunakan lima ulangan dan setiap ulangan menggunakan tiga ekor itik bali jantan. Perlakuan yang diberikan yaitu; P0 (ransum komersial 100%), P1 (penggantian 6% ransum komersial dengan tepung kulit kecambah kacang hijau) dan P2 (penggantian 12% ransum komersial dengan tepung kulit kecambah kacang hijau). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah berat badan awal, konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan dan Feed Convertion Ratio. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian 6% dan 12% ransum komersial dengan tepung kulit kecambah kacang hijau berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan dan FCR. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan penggantian 6% dan 12% ransum komersial dengan tepung kulit kecambah kacang memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan itik yang diberikan ransum komersial. Kata kunci : Itik bali jantan, tepung kulit kecambah kacang hijau, penampilan, ransum komersial
Penampilam Ayam Broiler yang Diberi Air Minum Mengandung Air Kelapa Muda, Gula Aren, atau Molases Susila I M. D. A.; N. W. Siti; I D. G. A. Udayana
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the performance of broiler chickens given drinking water containing young coconut water, palm sugar, and molasses. The research was carried out on privately owned farms in Batannyuh Village, Regency Tabanan which lasted for 5 weeks. One hundred broilers were used with body weight of 116 ± 3.17 grams. The research design used was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 5 replications. Each replication consists of 5 chickens. The four treatments are A: drinking water without electrolytes as control, B: drinking water plus 1% young coconut water, C: drinking water plus 1% palm sugar, and D: drinking water plus 1% molasses. The variables observed in this study were initial body weight, final weight, feed consumption, drinking water consumption, weight gain, Feed Conversion Ratio (FCR), and Income Over Feed and Chick Cost (IOFCC). The results showed that treatment C had a final body weight, weight gain and efficiency of ration use significantly lower (P <0.05) than treatment B, but not significantly (P> 0.05) lower than treatments A and D. The results of the research also showed that treatment B had a final body weight, weight gain, and efficiency of using rendum tends to be higher (P> 0.05) than treatments A and D. Based on the results of the study it was concluded that broiler chickens whose drinking water was given additional water Young coconut gives a better tendency than other treatments, especially for broiler chickens whose drinking water is given palm sugar gives the best performance on final body weight, weight gain, and efficient use of rations, and so also regarding the economic aspects.
Pengaruh Penambahan Abu Agnihotra Dalam Pakan Komersial Terhadap Berat External Offal Ayam Broiler Umur 5 Minggu Priana I M. O.; N W. Siti; N. M.S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 3 (2018)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.643 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of Agnihotra ash in commercial diet on the weight external offal of broiler chickens on the age of 5 weeks.It was conducted in the cage owned by Mr. I Ketut Sunatra located at Br. Anyar, Kediri, Tabanan,Bali. There were 80 day old chicks CP 707 (unsexed) used in the study.The animal were bought at PT. Tohpati Poultry Shop, Denpasar – Bali. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) consisted of 4 treatments and 4 replicates. So, there were 16 of experimental units. The treatments were: A = commercial diet without Agnihotra ash (control), B = Commercial diet + 0.1% Agnihotra ash, C = Commercial diet + 0.2% Agnihotra ash and D = Commercial diet + 0.3% Agnihotra ash. The variables observed were weight of head, neck, foot, blood and feather. The results showed that Agnihotra ash on the level of 0.1%-0.3% in commercial diet not significanly increase (P>0,05) the weight of external offal broiler aged 5 weeks. Based on the results of this study it can be concluded that Agnihotra ash at the level of 0.1%-0.3% in diet did not affect on external offal (the weight of head, neck, leg, blood and feather) broiler on the age of 5 weeks. Keywords: Broiler, external offal, Agnihotra ash
EXTERNAL OFFAL ITIK BALI BETINA UMUR 26 MINGGU YANG DIBERI RANSUM DENGAN SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN PEPAYA FERMENTASI Prasetia D. M. R.; N. W. Siti; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 2 (2018): May - August 2018
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.822 KB)

Abstract

This study aims to determine the external offal of bali duck 26 weeks were given feed with fermented papaya leaf meal supplementation has been implemented in the enclosure belonging to Mr. I Ketut Sunatra located at Jalan Bingin Nambe, Kediri, Tabanan. The study was conducted for 14 weeks from September to December 2017 start of preparation until finished. Ducks used are a total of 18 bali ducks with an average initial weight ranges 1286,63 ± 92,88 gram. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) which consist of 3 treatments and 3 replications. The treatments were P0 (ration without supplementation of papaya leaf meal fermented), P1 (ration with supplementation of 8% papaya leaf meal fermented), and P2 (ration with supplementation of 16% papaya leaf meal fermented). The variables observed were weight of the head, legs, neck, blood and feathers. The results showed that the ration with fermented papaya leaf meal supplementation did not give a significant effect (P> 0.05) to the weight of the external offal (head, legs, neck, blood and feathers) bali ducks age 26 weeks. Based on these results it can be concluded that supplementation of 8% and 16% flour fermented papaya leaves in ration does not affect the external offal of the bali duck 26 weeks and the ration can be used as an alternative feed ingredient because a cheaper price ration. Keywords: external offal, duck bali, fermented papaya leaf
PENGARUH PENGGANTIAN DEDAK JAGUNG DALAM RANSUM DENGAN TEPUNG LIMBAH ROTI TERFERMENTASI TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI JANTAN (Anas sp.) Ermawan I G. R.; N. W. Siti; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol 9 No 3 (2021): Vol. 9 No. 3 Tahun 2021
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

fermented bread waste in ration on the carcass composition of male bali ducks (Anas sp.). The research was conducted at the Farm Faculty of Animal Science, Udayana University for 8 weeks. The research used was a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 5 replications, so there were 15 experimental units. Each experimental unit used 3 ducks with a weight range of 50±2 grams. The three treatments were ration without bread waste (Treatment P0), (Treatment P1) ration of 50% corn bran raplanced with fermented bread waste and (Treatment P2) ration that 100% corn bran replaced with fermented bread waste. Variable observed were slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and carcass physical composition including bone, and fat. The results showed that the P1 and P2 treatments were able to increase the slaughter weight by 7.22% and 14.54% and were able to increase the carcass weight by 7.22% and 15.94% compared to control, but these treatments were not able to increase the percentage of meat, the percentage of carcass, percentage of bone, and percentage of fat male bali ducks (Anas sp.). Based on the results of the study, it can be concluded that the replacement of corn bran in the ration with fermented bread waste flour on the physical composition of the carcass of male Bali ducks (Anas sp.) as much as 100% of bread waste flour has not been able to increase the physical composition of the cut weight and carcass weight, but it has no effect on the physical composition of the carcass of male Bali ducks (Anas sp.). Keywords : male bali duck (Anas Sp.), appearance, bread waste
KANDUNGAN NUTRIEN DAN POPULASI BAKTERI DARI INOKULAN YANG DIPRODUKSI DENGAN MEMANFAATKAN ISOLAT BAKTERI KOLON SAPI BALI DAN SAMPAH ORGANIK Suardita I K.G; I M Mudita; N W. Siti; A.A.P.P Wibawa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.483 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrien dan populasi bakteri dari inokulan yang diproduksi menggunakan kombinasi isolat bakteri unggul 1 dan/atau 2 asal kolon sapi bali dan sampah organik telah dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap/RAL 12 perlakuan dan 3 ulangan yang didasarkan pada sebelas  jenis inokulan yang diproduksi dan ditambah satu medium inokulan sebagai kontrol. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi kandungan protein terlarut, kalsium, fosfor, seng, belerang, total bakteri anaerob, populasi bakteri lignoselulolitik, populasi bakteri asam laktat dan derajat keasaman/pH inokulan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulan yang diproduksi dari isolat bakteri unggul 1 dan/atau 2 asal kolon sapi bali dan sampah organik (perlakuan BS12; BK12; BS1K1; BS1K2 ; BS2K1; BS2K2; BS12K1; BS12K2; BS1K12; BS2K12 dan BS12K12) mampu menghasilkan inokulan dengan derajat keasaman/pH lebih rendah serta kandungan nutrien (protein terlarut, fosfor, kalsium, seng, dan belerang) yang lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan medium inokulan (IS0K0). Terhadap populasi bakteri inokulan, pemanfaatan isolat bakteri unggul 1 dan/atau 2 asal kolon sapi bali dan sampah organik (perlakuan BS12; BK12; BS1K1; BS1K2; BS2K1; BS2K2; BS12K1; BS12K2; BS1K12; BS2K12 dan BS12K12) mampu meningkatkan total bakteri anaerob, bakteri lignoselulolitik maupun bakteri asam laktat secara nyata (P<0,05) dibandingkan medium inokulan (IS0K0). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan kombinasi isolat bakteri unggul 1 dan 2 asal kolon sapi bali dan sampah organik sebagai sumber inokulan dapat meningkatkan kandungan nutrien dan populasi bakteri inokulan yang dihasilkan.
BERAT POTONG DAN OFFAL EXTERNAL ITIK BALI JANTAN YANG DIBERI RANSUM NONKONVENSIONAL BERBIOSUPLEMENTASI RUMEN SAPI BALI Sucahya D.G.I; Dewi G.A.M.K; Siti N.W
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 2 (2015): E-Journal Peternakan Tropika Vol 3 No 2
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berat potong dan berat offal external itik bali jantan umur 2 - 8 minggu yang diberi ransum non konvensional yang mengandung biosuplemen isi rumen sapi bali. Penelitian ini di laksanakan selama 13 minggu. Itik yang digunakan adalah itik bali jantan sebanyak 75 ekor umur 2 minggu dengan bobot badan awal 152,00 - 152,87 gram.  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah RSP0 (Ransum basal tanpa biosuplemen), RSP20 (95% ransum basal + 5% biosuplemen yang mengandung isi rumen sapi bali 20%), RSP40 (95% ransum basal + 5% biosuplemen yang mengandung isi rumen sapi bali 40%), RSP60 (95% ransum basal + 5% biosuplemen yang mengandung isi rumen sapi bali 60%) dan RSP80 (95% ransum basal + 5% biosuplemen yang mengandung isi rumen sapi bali 80%). Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu berat potong, kepala, leher, kaki, darah dan bulu. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, apabila terdapat hasil berbeda nyata (P <0,05), maka analisis dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda dari Duncan (Steel dan Torrie, 1993). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ransum non konvensional  yang ditambahkan biosuplemen isi rumen sapi bali memberi pengaruh berbeda tidak nyata        (P >0,05) terhadap berat potong dan offal external (kepala, leher, kaki, darah dan bulu)               itik bali jantanumur 8 minggu.Berdasarkan Hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan biosuplemen yang mengandung isi rumen sapi bali level 20% - 80% dalam ransum pada semua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap berat potong dan offal external (kepala, leher, kaki, darah dan bulu) pada itik jantan umur 8 minggu.
PENGARUH PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN TEPUNG LIMBAH KECAMBAH KACANG HIJAU DIFERMENTASI TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI JANTAN Wiyardana I P. G.; N. W. Siti; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 2 (2020): Vol. 8 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.857 KB) | DOI: 10.24843/JPT.2020.v08.i02.p16

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi terhadap komposisi fisik karkas itik bali jantan umur 8 minggu telah dilaksanakan di Farm Fakultas Peternakan Universitas Udayana di Jl. Raya Sesetan Gang Markisa No. 5, Denpasar, Bali. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Setiap ulangan menggunakan 3 ekor itik bali jantan, sehingga total itik yang digunakan seluruhnya adalah 45 ekor dengan kisaran berat badan rata-rata 43,8 g ± 0,96 g. Perlakuan tersebut yaitu: P0 (ransum komersial 100%), P1 (penggantian 12,5% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi) dan P2 (penggantian 25% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi). Variabel yang diamati adalah berat potong, berat karkas, persentase karkas, komposisi fisik karkas (persentase daging, tulang dan lemak subkutan termasuk kulit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian 12,5% dan 25% ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap berat potong, berat karkas, persentase karkas, komposisi fisik karkas. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggantian ransum komersial dengan tepung limbah kecambah kacang hijau yang difermentasi sampai level 25% tidak berpengaruh terhadap komposisi fisik karkas itik bali jantan umur 8 minggu. Kata kunci: Itik bali jantan, tepung limbah kecambah kacang hijau difermentasi, komposisi fisik karkas, ransum komersial
Co-Authors A. A. A. Adinda Savitrie Suamba A. Rastosari A. T. Umiarti A. W. Puger Adnyana I M. P. Agus Putu Wiradhana Anak Agung Putu Putra Wibawa ANGGA D. P., G. B., ANTARI L. Y. S. Apriyanti L. A. S. Ardina Ratna Pramesti Astika I P. E. B. R. T. Putri Basudewa I G. B. Bongi F. Brahmana E. Budi Rahayu Tanama Putri Budiyatmika K. B. Bulkaini (Bulkaini) D. A. WARMADEWI Damanik M. R. DESAK PUTU MAS ARI CANDRAWATI Dewa Putu Indra Pranata Dewi N. M. A. W. Dewi N.K.S Ermawan I G. R. Gunawijaya, Gusti Putu Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi Gusti Putu Gunawijaya Hafifah, Ifa Hariyuda I G.P.A. I D. G. A. Udayana I G. Lanang Oka Cakra I G.P.R. Adi I Gede Suarta I Gusti Nyoman Gde Bidura I Komang Budaarsa I M. Mudita I Made Abra Rahastra I Made Adhika I Made Nuriyasa I N. Ardika I N. Suparta I N. T. ARIANA I NYOMAN ARDIKA I Nyoman Sumerta Miwada I NYOMAN SUTARPA SUTAMA I P. A. Astawa I Putu Andhika Putra Setiawan I. A. P. Utami I. G. M. A. Sucipta I. G. M. Rusdianta I. M. Londra I.B. Sudana I.G.A.N.C. Wiguna I.M. Wirawan I.M.J. Hermawan I.P.R.Y. Pradana I.W.P.Widnyana Ida Bagus Gaga Partama Ismia N. F. J. Hellyward Juniartha I P. Jurnal Pepadu Jusnadiartha I W. K. A. Wiyana K.T.D. Deliana Karisma E. D. KRISTIANTI N.W.D. Laksamana K. Y. P. M Ashari Made Ananta Wirya Mahardika C.B.D.P. Manuaba I B.C. Mario A D. D. Mastur - Milasari K. N Puja N. M. A. K. Dewi N.G.K. Roni N.L.G. Sumardani N.L.G. Sumardani N.M.S. Sukmawati N.N.C. Kusumawati N.W. Suniti N.W.E. Setyawati Nainggolan J. R. Nata I G. A. P. S. Ni Gusti Ketut Roni Ni Luh Ayu Kornita Pratiwi Ni Luh Gede Astariyani Ni Luh Gede Sumardani Ni Luh Putu Sriyani Ni Made Paramita Setyani Ni Made Suci Sukmawati Ni Made Witariadi Ni Nengah Soniari Ni Nyoman Candraasih Kusumawati NI WAYAN SUNITI Ni Wayan Tatik Inggriati Nugroho E. P.E.N. Putri Pangestu A. T. Pradana I G. G. Y. Prasetia D. M. R. Pratama I W. A. Priana I M. O. Purnayasa I K. Putri A. Rusmawan I K. A. Santi N. K. D. D. Sari N.M.L.P Setiawan I P. D. W. Setyawan I P. H. Somadiarsa I K. SONGKAM A. M. N Sri Anggreni Lindawati Suardita I K.G Suarjana I P. Sucahya D.G.I SUHENDRA I P. N. D. Suprianto I K. E. Suranjaya I .Gd Susila I M. D. A. Suwardisayoga I M. D. Tina Handayani Nasution Vicky A. R. Wayan Sayang Yupardhi Wedaswara M. Y. P. Wenata S. WIRA SUSANA I W. Witarja N. M. L. E. Wiyardana I P. G.