Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KUAT ARUS DAN WAKTU TERHADAP HASIL PEWARNAAN DAN MASSA ALUMINIUM PADA PROSES ANODIZING DENGAN ELEKTROLIT H2SO4 15% Arif Andrianto; Suwardiyono Suwardiyono; Laeli Kurniasari
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v1i1.1645

Abstract

Perkembangan industri aluminium dari tahun ketahun semakin meningkat. Korosi pada aluminium terjadi karena adanya unsur lain dalam aluminium, untuk itu pengerjaan secara kimia atau dengan proses anodic oxidation (proses anodizing) diusahakan untuk mendapatkan lapisan oksida yang lebih tebal dan berfungsi sebagai lapisan pelindung. Proses anodisasi adalah proses pembentukan lapisan oksida pada logam dengan cara mereaksikan atau mengkorosikan suatu logam terutama aluminium dengan oksigen, diambil dari larutan elektrolit yang digunakan sebagai media, sehingga terbentuk lapisan oksida. Pada penelitian ini terdapat 2 tahapan utama, yaitu proses anodizing dan pewarnaan logam. Pada proses anodizing terjadi pembukaan pori-pori logam alumunium dan terbentuk lapisan alumunium oksida, sedang pada pewarnaan logam zat warna masuk kedalam pori-pori alumunium mengisi permukaan aluminium yang berpori. Pada penelitian ini ada 2 percobaan yang terjadi pada tahapan anodizing, yaitu percobaan pertama dengan waktu anodizing yang berbeda (5, 10, 15, 20, 25 menit) dan arus yang digunakan sebesar 1 ampere. Sedangkan pada percobaan kedua waktu anodizing tetap 10 menit, tetapi arus yang digunakan berbeda (0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 ampere). Semakin lama waktu anodizing dan arus yang semakin besar, maka semakin besar pula massa logam aluminium yang mengalami peluruhan. Pada kondisi ini, warna yang dihasilkan juga semakin pekat. Akan tetapi arus yang besar akan berdampak pada ketidakrataan hasil pewarnaan. Pada penelitian ini, faktor yang paling berpengaruh untuk menghasilkan pewarnaan yang rata adalah waktu anodizing, untuk menghasilkan hasil pewarnaan yang rata. Kata kunci : Alumunium, anodizing, korosi, lapisan oksida
AKTIVITAS ANTIPLASMODIUM EKSTRAK HIDROTROPI DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness.) SECARA In Vitro PADA Plasmodium falciparum STRAIN G-2300 RESISTEN KLOROQUIN Yance Anas; Rita Dwi Ratnani; Laeli Kurniasari; Indah Hartati
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Vol 17, No 01 (2020): Jurnal Ilmu Farmasi & farmasi Klinik Vol 17 No. 01, Juni 2020
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.354 KB) | DOI: 10.31942/jiffk.v17i01.3479

Abstract

ABSTRACT The bitter leaf extract (Andrographis paniculata Ness.) has long been known as an anti-malarial. Our previous research has developed a bitter leaf hydrotrophy extract (BLHE) using a sodium acetate 2 mol/L as a hydrotop compound solution. The extraction process lasts for 2 hours, faster than conventional extraction. The result is two types of BLHE with different stirring temperatures, at 30°C (BLHE1) and 35°C (BLHE2). This study meant to determine and compare the in vitro antiplasmodial activity BLHE1 and BLHE2. The anti-plasmodial activity of BLHE1 and BLHE2 (0.1- 50.0) g/mL performed on a G-2300 strain of P. falciparum (chloroquine-resistant) after incubated for 48 hours (triplicate). The percentage of parasitemia determined through an examination of blood smears stained with Giemsa. The percentage of growth inhibition of P. falciparum evaluates by comparing percentage of growth with the control group and IC50 determine by probit analysis. The results showed that BLHE1 and BLHE2 respectively were able to inhibit the growth of P. falciparum of 14.62% - 43.25% (IC50: 59.689 μg/mL) and 24.06% - 49.48% (IC50: 44.541 μg/mL). Based on these data, BLHE should produce with sodium acetate 2 mol/L, with stirring at 35°C, because this condition will obtain BLHE that active as anti-plasmodial. Keywords: Anti-plasmodial, bitter leaf hydrotrophy extract, P. falciparum strain G-2300, in vitro
PRODUCTION OF LOW METHOXYL PECTIN AS AN ANTI CANCER AGENT FROM CITRUS PEEL PECTIN THROUGH ENZYME DEMETHYLATION BY PAPAYA PECTINESTERASE Indah Hartati; Indah Riwayati; Laeli Kurniasari
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 12, No 1 (2011): Techno Volume 12 No 1 April 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.436 KB) | DOI: 10.30595/techno.v12i1.29

Abstract

Low methoxyl pectin (LMP) is reported posses anti cancer activity. LMP administering could reduce the risk of cancer, halt the progression of cancer, and in a certain percentage of cases caused the cancer cells to start to die. If this can be developed further, LMP administration could be a good co-treatment for chemotherapy or radiation. This would be a positive advancement, due to the high toxicity to the body of both chemotherapy and radiation. LMP can be produced by demethylation of high methoxyl pectin. One of our local resources that is potential for its pectin content is citrus peel. Pectin demethylation can be conducted by acid, alkali, ammonia in alcohol or enzymatic method. LMP produced by enzyme demethylation have been found to be inferior in quality to those produced by other methods. The enzyme took part in the pectin demethylation is pectinesterase. Pectinesterase can be be isolated from various source such as fruit and vegetables. One of our local resources that is potential as source of pectinesterase is papaya. Considering facts above thus it has a great possiblity to produce LMP from citrus peel pectin through enzymatic demethylation by utilize pectinesterase of papaya. Key-word : Low methoxyl pectin pectin (LMP), anti cancer, citrus peel pectin, papaya, pectinesterase
PIROLISIS LIMBAH SEREH DAPUR (Cymbopogon Citratus) SEBAGAI ASAP CAIR BERPOTENSI PENGAWET MAKANAN Tsaniyatul Fitriyah; Rita Dwi Ratnani; Irma Sulistyo; Laeli Kurniasari; Vivi Nurin Shofiyana
Prosiding Sains Nasional dan Teknologi Vol 13, No 1 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2023
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v13i1.9786

Abstract

Asap cair (liquid smoke) merupakan hasil samping dari proses karbonisasi (pengarangan) atau pembakaran bahan berlignoselulosa dengan udara terbatas (pirolisis) yang melibatkan reaksi dekomposisi karena pengaruh panas, dan kondensasi/pengembunan asap menjadi bentuk cairan. Daun sereh merupakan limbah yang jarang digunakan dan banyak  di wilayah Indonesia, karena tanaman sereh dalam 3 hari sudah kering sehingga sudah tidak bisa dimanfaatkan. Limbah daun sereh berpotensi untuk diolah menjadi asap cair karena memiliki kandungan fenol yang berpotensi sebagai pengawet makanan. Asap cair selain berfungsi untuk memberikan rasa asap pada suatu produk pangan juga berfungsi sebagai pengawet pada makanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas asap cair dari sereh dapur dengan cara pirolisis pada bagian bonggol maupun daunnya. Penelitian ini menggunakan variabel perubahan waktu (60, 90, 120, 150, 180 menit) dan suhu (300, 350, 400, 450 oC). Parameter yang diujikan   adalah volume, pH, indeks bias, densitas. Hasil optimal asap cair yang diperoleh yaitu bonggol pada waktu 1 jam dan suhu 350 °C dengan hasil volume sebanyak 220 mL, pH 4, Densitas 1,0108 dan indeks bias 1,3444. Asap cair daun sereh memperoleh hasil optimum pada waktu 2 jam dan suhu 400 °C dengan hasil volume sebanyak 179 mL, pH 4, Densitas 1,0101 dan indeks bias 1,3429. Asap cair bersifat asam dibuktikan dengan pH 4 sehingga berpotensi sebagai pengawet makanan yang ramah lingkungan. Kata kunci: Asap Cair, Pirolisis, Sereh Dapur
PEMANFAATAN ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN COD(CHEMICAL OXYGEN DEMOND), pH, BAU, DAN WARNA PADA LIMBAH CAIR TAHU Ratnani, Rita Dwi; Hartati, Indah; Kurniasari, Laeli
Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LAPORAN PENELITIAN
Publisher : Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia banyak terdapat industri tahu mulai dari industri kecil sampai ke industri besar. Dari kegiatan industri tersebut, timbul limbah yang mengandung zat organik sangat tinggi. Kandungan zat organik dalam limbah cair tahu berpotensi mencemari lingkungan, sehingga perlu adanya pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk melakukan penanganan terhadap limbah yang timbul tersebut. Salah satu upaya awal untuk menangani hal tersebut adalah melakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan eceng gondok untuk menurunkan kandungan COD, meningkatkan/ menormalkan pH, menjernihkan limbah, dan mengurangi bau yang timbul.Penelitian ini dilakukan di pabrik pengolahan tahu Desa Cangkiran Kota Semarang. Penelitian ini memanfaatkan eceng gondok untuk menyerap limbah organik yang menyebabkan limbah cair menjadi COD tinggi, pH rendah, warna keruh dan berbau sangat menyengat. Proses penanaman dilakukan dalam bak beton dengan ukuran panjang 150 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 120 cm. Dalam penelitian ini diamati penurunan kandungan COD, peningkatan pH, perubahan warna, dan perubahan bau yang timbul setiap hari selama 8 hari dengan menggunakan media eceng gondok.Hasil percobaan Terjadi penurunan COD sampai ambang batas yang diperbolehkan yaitu terjadi penurunan dari 768 ppm menjadi 208 ppm dan pada ulangan yang dilakukan dari 672 ppm menjadi 160 ppm dimana sudah di bawah baku mutu bedasakan Perda Jateng No. 10 tahu 2004. Terjadi peningkatan nilai pH. Diawal proses, pH dari limbah cair tahu adalah 4.2 dan naik sampai 7.4 demikian juga setelah diulang mulai 4.6 naik menjadi 7.3. Perubahan warna pada penelitian ini kurang memuaskan karena tidak terjadi perubahan warna tetapi hanya berubah tingkat kejernihan di awal, warna limbah cair tahu adalah kuning keruh bahkan ada busanya dan setelah diolah berwarna kuning jenih. Dalam pengamatan perubahan bau, pada hari ke 4 bau sudah berkurang. Akan beda kalau tidak diolah semakin lama maka akan semakin bauKata kunci : penyerapan, limbah cair tahu, eceng gondok
PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI BERBANTU GELOMBANG ULTRASONIK TERHADAP FITOKIMIA DAN ANALISA GUGUS FUNGSI DARI EKSTRAK DAUN JELATANG (Urtica dioica L.) Sari, N. L. S.; Laksono, F. W.; ., Salsabila; Kurniasari, L.
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 17, No.2, Juli 2023
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2023.v17.i02.p10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu dan waktu pada rendemen ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik daun jelatang (Urtica dioica L.). Sepuluh gram simplisia daun jelatang dimasukkan ke erlenmeyer dan ditambahkan 100 ml pelarut etanol 96% (1:10 b/v), kemudian diekstraksi dengan kombinasi suhu 30, 40, dan 50 oC selama 10, 20, dan 30 menit pada frekuensi 50 Hz. Berdasarkan riset yang telah dilakukan, rendemen tertinggi ekstrak daun jelatang adalah 8% dihasilkan pada suhu 40 °C dan waktu 30 menit. Sementara itu, rendemen terendah adalah 2% didapatkan pada suhu 30 °C dan waktu 10 menit. Hasil analisa fitokimia secara kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak daun jelatang mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan steroid. Selanjutnya sampel dianalisis menggunakan alat FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang ada pada ekstrak daun jelatang. Dari hasil analisis gugus fungsi tersebut diketahui bahwa ekstrak daun jelatang secara dominan mengandung senyawa fenolik di dalamnya. Kata kunci: analisis fitokimia, analisis gugus fungsi, daun jelatang, ekstraksi ultrasonik. ABSTRACT This research aimed to analyze the effect of temperature and time on the ultrasound-assisted extraction (UAE) yields of nettle leaf (Urtica dioica L.). Ten grams of simplicia was put into an Erlenmeyer and dissolved in 100 ml of 96% ethanol solvent (1:10 w/v), then extracted at a variation of temperatures of 30, 40, and 50 oC, during various times of 10, 20, and 30 minutes and with a frequency of 50 Hz. The results showed that the highest yield was 8% obtained at a temperature of 40 0C and an extraction time of 30 minutes, while the lowest yield was 2% gained at a temperature of 30 0C and an extraction time of 10 minutes. The qualitative analysis indicated that the extract contained alkaloids, flavonoids, saponins and steroids. The most optimal sample from the phytochemical test results was then analyzed using the FTIR to determine the functional groups contained in the nettle leaf extract. From the FTIR results, it was concluded that the nettle leaf extract predominantly consisted of phenolic compounds. Keywords: nettle leaf, ultrasound assisted extraction, phytochemical analysis, functional group analysis.
The Effectiveness of Solid Waste Extract from Lemongrass (Cymbopogon citratus) as a Bioinsecticide for Controlling Whitefly (Bemisia tabaci) Pests on Pomelo Plants Tristiyanti, Alvia Sefie; Hayani, Alfitra; Ardianto, Sandi Dimas; Kurniasari, Laeli
Journal of Biotechnology and Natural Science Vol. 3 No. 2 (2023): December
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jbns.v3i2.9669

Abstract

This research aims to analyze the effect of lemongrass waste extract on the mortality of whitefly and determine the optimal concentration of lemongrass waste extract to eradicate whiteflies within 24 hours. Lemongrass waste extract (leaves and stems) can be obtained through extraction using maceration. The waste is dried and ground to 60 mesh, then dissolved in 96% ethanol and ethyl acetate solvents at a ratio of 1:8 (w/v). Extraction is carried out over variable times of 2, 4, and 6 days. The optimal results are then used to create concentrations by dissolving 250 ml of distilled water in the mother solution, resulting in test solutions of 0, 200, 400, 800, and 1200 mg/L. Observations on the treatments are conducted after 24 hours, and the number of dead whiteflies is counted. Subsequently, the mortality of the whiteflies is analyzed. Based on the research findings, the highest mortality percentage after 24 hours is observed in the ethanol extract, with a dose of 1200 mg/L at 81.81%. After determining the mortality rates, probit analysis is conducted to determine the LC50 (Lethal Concentration 50) value. The optimal concentration for ethanol extract is found to be 1200 mg/L, with an LC50 of 885.102 mg/L. This indicates that lemongrass waste extract is moderately toxic to whiteflies.
Pengawet Alami Daging Sapi Dari Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L) Melalui Metode Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro Faria, Rani Aish; Alin, Tanzil; Kurniasari, Laeli; Riwayati, Indah
Prosiding Sains Nasional dan Teknologi Vol 14, No 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v14i1.12033

Abstract

Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L) merupakan tumbuhan yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Kayu Secang secara empiris diketahui memiliki banyak khasiat penyembuhan, kemampuan pengobatan dengan pemanfaatan tanaman secang ini disebabkan oleh beberapa zat aktif yang terkandung dalam kayu secang, salah satunya adalah fenol yang memiliki manfaat sebagai antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat pengawet alami kayu secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap daging Sapi. Ekstrak secang didapatkan dengan menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapat kemudian dianalisa %rendemen, kadar fenolik total dan aktivitas antioksidan. Hasil optimum proses ekstraksi didapatkan ekstrak terbaik kayu secang pada variable rasio 1:20 dengan waktu 20 menit dengan perolehan kadar fenolik total sebesar 676,08 mg(GAE) ekstrak kayu secang. Pada pengujian aktivitas antioksidan ekstrak kayu secang diperoleh nila IC50 sebesar 464,52. Ekstrak kemudian digunakan sebagai pengawet alami  daging sapi segar dengan konsentrasi  600 dan 1200 ppm. Hasil perendaman dianalisa Angka Lempeng Total (ALT) dengan lama penyimpanan 0 hari sampai 4 hari, pertumbuhan bakteri sudah mulai terlihat pada lama penyimpanan 1 hari. Hasil ini melebihi standar mutu daginng sapi yaitu 1x106 CFU/gram. Semakin lama waktu penyimpanan dan semakin besar konsentrasi ekstrak belum bisa menghambat pertumbuhan mikroba dan semakin menurun kualitas skor kesegaran dari daging sapi.
Penerapan Metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) Berbasis Green Solvent Senyawa Pektin Albedo Jeruk Bali (Citrus Maxima) Amaranti, Ratna Bernika; Indarwati, Dewi; Tristiyanti, Alvia Sefie; Maharani, Farikha; Kurniasari, Laeli
Prosiding Sains Nasional dan Teknologi Vol 11, No 1 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 11 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v1i1.5371

Abstract

Buah jeruk bali atau Citrus Maxima merupakan salah satu jenis jeruk yang banyak di budidayakan di Indonesia. Pada umumnya jeruk bali dikonsumsi dalan keadaan segar, sehingga menyebabkan limbah berupa kulit atau albedo dari jeruk bali. Seperti yang diketahui albedo jeruk bali mengandung komponen nutrisi yang kaya akan manfaat, diantaranya senyawa alkaloid, flavonoid, likopen, dan yang paling dominan adalah pektin sebesar 16,68% sampai 21,95%. Pektin sendiri sangat bermanfaat dalam industry pangan maupun farmasi. Sehingga diperlukan ekstraksi pektin albedo jeruk bali menggunakan Microwave Assisted Extraction. Dalam proses ekstraksi umumnya menggunakan pelarut organic. Penggunaan pelarut tersebut memiliki dampak buruk baik kepada operator/peneliti hingga lingkungan. Maka dari itu dilakukan ekstraksi berbasis green solvent jenis baru berupa pelarut eutektik alami (NADES) karena memiliki beberapa keunggulan. Tujuan dari penelitian ini adalah (i) untuk mengetahui rasio terbaik pelarut dalam proses ekstraksi, (ii) mengetahui lama waktu optimum proses ekstraksi, dan (iii) untuk mengetahui daya terbaik pada proses ekstraksi. Hasil ekstraksi terbaik diperoleh pada rasio pelarut 1:5:18 (CAS-H2O), dengan lama waktu ekstraksi optimum pada menit ke 20, dan pada daya 50% dari daya maksimum 800 watt.
Pretreatment Jerami Padi (Oryza Sativa) Dengan Larutan Basa Dan Microwave Assisted Extraction (Mae) Untuk Produksi Biogas Nurrijal, Kolul; Cahyanto, Yodhi; Faria, Rani Aish; Kurniasari, Laeli
Prosiding Sains Nasional dan Teknologi Vol 11, No 1 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 11 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/psnst.v1i1.5308

Abstract

Jerami padi adalah limbah pertanian terbesar di Indonesia yang sampai saat ini pemanfaatannya belum optimal. Jerami padi merupakan lignoselulosa melimpah kaya akan bahan organik seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Pada umumnya Jerami padi dibuang dengan cara dibakar yang menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Jerami padi berpotensi untuk dijadikan biogas sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun karena kandungan lignin dan silika yang tinggi daya cerna jerami padi masih rendah. Untuk memaksimalkan produksi biogas maka Jerami padi perlu ditingkatkan daya cernanya dengan memberi perlakuan awal. Penelitan yang kami lakukan adalah untuk meningkatkan kecernaaan Jerami padi dengan pretreatment menggunakan NaOh dan Microwave Assisted Extraction (MAE). Kandungan selulosa tertinggi diperoleh setelah pretreatment dengan kadar NaOH 11% pada MAE dengan daya 560 W dan waktu 20 menit yaitu sebesar 84%.
Co-Authors ., Salsabila Ahadta Anindya Rahmah Ajeng Ajeng Ajeng Wijareni Alin, Tanzil Aliyatul Farida Amaranti, Ratna Bernika Andri Cahyo Kumoro Andrian Adhi Susila Aniq, Nur Aprianto Aprianto Aprilina Purbasari Aqnes Budiarti Ardianto, Sandi Dimas Arief Hidayat Arif Andrianto Asmanto Asmanto Buclatin, Willie C Cahyana, Iga Cahyanto, Yodhi Chandra Pribadi Darmanto Darmanto Darmanto Darmanto Darmanto Darmanto Darmanto Dewi, Cindy Aurellia Ratna Dien Iffa Hidayatin Dyah Puspa Arum Erma Sulistyaningsih Ernawati Budi Astuti F Widhi Mahatmanti Faizin, Safaah Nur Faria, Rani Aish Farikha Maharani Fatnawati Nur Hidayah Fifi Kurniasari H. Purwanto Hasan, Hasan Hayani, Alfitra I Hartati I. Hartati I. Hartati I. Hartati I. Hartati I. Hartati I. Hartati I. Riwayati Imam Sujarwo Imam Syafaat Indah Hartati Indah Nurdiani Indarwati, Dewi Irma Sulistyo Ismiyatul Kholisoh Ismiyatun Ismiyatun Jati, Isnanto Prasetyo Khanifah Khanifah Khornia Dwi Lestari Lailatul Firdaus Kun Ma'adella Nafisawati Laksono, F. W. Lukman Eka Prasaja lula atsila tabriza Luqman Buchori M. Djaeni M. E. Yulianto M. E. Yulianto Maulana, Yafi S. Mauluddin, M. Subchan Mauludin, Mochamad Subchan Mey Sulistiyaningsih Mia Dinnis A Moh Djaeni Muhamad Farid Aminudin Muhammad Dzulfikar Muhammad Farid Aminudin Muhammad Ivan Nurohman Nanik Andar Miningsih Nayyifatus Sa’diyah Ninik Indah Hartati Ninik Indah Hartati Nugroho Widiasmadi Nugroho, Agung Nugroho, Ardi Tio Ageng Nurhayani, Mira Nurrijal, Kolul Nurul Fatkhiyah Penaflorida, Veronica P Prasetyo Jati, Isnanto Pratama, Fandy Indra Prianto, Riska Putri Prihastuti Ramadhanti, Novia Renan Subantoro Revy Andar Raesta Rita Dwi Ratnani Rita Dwi Ratnani Rohmawati, Alfi Rudi Firyanto Sabila Ameliya Safaah Nurfaizin Safaah Nurfaizin Saiful Huda Saiful Huda Sari, N. L. S. Setia Budi Sasongko Setia Budi Sasongko Setiyanto Setiyanto Sinta Ariyani Siti Indana Isdiyanti Siti Indana Isdiyanti Siti Iqlima Layudha Siti Sudarmiseh Sri Mulyo Bondan Respati Sufrotun Khasanah Sumayah Sumayah Suwardiyono Suwardiyono Suwardiyono Suwardiyono Tabah Priangkoso Titin Titin Tristiyanti, Alvia Sefie Tsaniyatul Fitriyah Via Utami Putri Vivi Nurin Shofiyana Wulan Budi Astuti Yance Anas Yuni Susanti, Devi Yuni Wulandari