Claim Missing Document
Check
Articles

Kebijakan pengembangan peternakan berbasis kawasan: Studi kasus di Kalimantan Timur Mayulu, Hamdi; Daru, Taufan Purwokusumaning
Journal of Tropical AgriFood Volume 1, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.1.2.2019.2583.49-60

Abstract

Pembangunan peternakan merupakan reorientasi kebijakan pertanian yang memiliki paradigma baru, yakni: secara makro berpihak kepada rakyat, pendelegasian tanggung jawab, perubahan struktur, dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan usaha berkelanjutan, modern, serta profesional dengan memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi usaha. Pengembangan peternakan memerlukan sinergitas antara pemerintah, swasta, dan peternak skala kecil. Penetapan aturan, menyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian, dan pengawasan produk merupakan peran pemerintah, sedangkan swasta, serta masyarakat berperan mewujudkan kecukupan produk peternakan, melaksanakan kegiatan produksi, perdagangan serta distribusi produk.  Kebijakan pembangunan peternakan difokuskan pada lokasi khusus untuk ternak spesifik, dan didukung oleh sumber daya alam. Pengembangan peternakan tidak serta-merta mengikuti kebijakan kawasan, perlu kajian mendalam dan mendekati parameter usaha peternakan, serta karakteristik kawasan, agar mampu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ternak.  Kebijakan peningkatan populasi, dan produktivitas ruminansia belum menghasilkan dampak maksimal. Penurunan populasi menjadi kecenderungan fakta di lapangan, dan menimbulkan problema utama. Produktivitas belum dapat dibuktikan secara nyata, pemotongan ternak ruminansia rata-rata berada di bawah bobot ideal merupakan indikator utama. Pengembangan peternakan memerlukan pengelompokan basis wilayah yang disesuaikan dengan daya dukung sebagai model pengembangan ke depan. Strategi pendekatan wilayah dilakukan berdasarkan pertimbangan: 1) Pengembangan ternak tidak mungkin dilaksanakan di semua wilayah, karena keterbatasan sumber daya manusia, dan lahan; 2) Usaha peternakan berdasarkan kelayakan ekonomis ekonomis, tidak mungkin dipenuhi oleh semua wilayah; 3) Terbatasnya alokasi dana investasi, cenderung tidak optimal bila terbagi ke seluruh wilayah; dan 4) Pengembangan usaha peternakan pada wilayah potensial memberikan dampak pembangunan fasilitas yang tepat sasaran.
Efek Penambahan Fosfat Pengganti Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Daging Sapi (Longisimus Lumborum) Ari Wibowo; Suhardi Suhardi; Arif Ismanto; Hamdi Mayulu
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v2i2.3688

Abstract

Pengaruh penambahan fosfat pengganti ( 3% MSG + 0,75% NaOH + 2.5% NaCl),fosfat terhadap sifat fisik dan kimia daging sapi (longisimus lumborum) yang diberikanperlakuan tumbling dan kontrol (tanpa tumbling). Hasil observasi menunjukanpeningkatan nilai pH yang diikuti dengan menurunnya tingkat kekerasan pada dagingyang diberikan penambahan fosfat dan fosfat pengganti (p<0,05). Sedangkan padadaging matang yang diberikan perlakuan penambahan dan pengganti secara signifikanmenunjukan nilai expressible drip yang rendah atau memiliki daya ikat air yang lebihtinggi dibandingkan kontrol, meskipun kontrol menunjukan nilai redness index yang lebihtinggi (p<0,05), tetapi untuk daging sapi yang diberikan perlakukan penambahanpengganti dan menunjukan memiliki kandungan metmyoglobin yang lebih rendah padaeksudat dari daging segar dibandingkan kontrol (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitianini bahwa penambahan pengganti pada daging sapi (Longisimus lumborum) dapatmencegah terjadinya proses oksidasi pada myoglobin yang terdapat didalam dagingtetapi tidak pada area permukaan otot/daging. Oleh sebab itu penambahan 3% MSG +0,75% NaOH + 2,5% NaCl bisa diapilkasikan sebagai bahan pengganti pada dagingsegar ataupun daging masak dikarenakan kemampuannya untuk meningkatkan dayaikat air, keempukan daging, dan stabilitas oksidatif pada myoglobin
Keragaman Fenotipe dan Status Reproduksi Kambing Peranakan Ettawa (PE) Betina pada Pedagang Ternak di Kota Samarinda Karolina Sarina; Surya Nur Rahmatullah; Hamdi Mayulu
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v4i2.6329

Abstract

 Ternak ruminansia yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat Samarinda yaitu kambing peranakan ettawa (PE). Kambing peranakan ettawa (PE) merupakan salah satu kambing lokal yang banyak terkenal di Indonesia termasuk di Kalimantan Timur. Bobot badan merupakan salah satu tolak ukur produktivitas ternak, bobot badan dapat digunakan sebagai baru pemilihan bibit.Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman identitas kambing peranakan ettawan (PE) betina pada pedagang ternak, melihat status kambing peranakan ettawa (PE) betina yang ada pada pedagang ternak di Kota Samarinda. Data yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa data primer.Data primer didapat secara langsung dari wawancara langsung dengan pemilik maupun dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan.  Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian, yaitu: Lingkar Dada, Panjang Badan, Tinggi Pundak, dan Bobot Badan. Menggunakan metode Purposive Sampling dengan penentuan wilayah Kalimantan Timur terdapat populasi kambing Peranakan Ettawa.Penentuan lokasi penelitian di Kota Samarinda, variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel pokok variabel penunjang.Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif, analisis deskriptif dan analisis persamaan regresi.Hasil penelitian menunjukan umur pertama kawin 11,17±1,37 bulan, rata-rata pelayanan per konsepsi 1,0±0,50 bulan, pos partum kawin 1,78±0,45 bulan. Nilai rata-rata dan standar deviasi lingkar dada 75,16±6,74 ,kaki tubuh 69,63±7,01, tinggi bahu 71,69±5,97, dan berat badan 38,6±7,69 kg.Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keragaman fenotipe kambing Peranakan Ettawa (PE) betina di Samarinda Utara dan Samarinda Ulu memiliki nilai koefisien keragaman yang didapat berbeda-beda nilai koefisien keragaman yaitu bobot badan memiliki nilai kefisien keragaman sebesar 49%, tinggi pundak memiliki nilai sebesar 71%, panjang badan sebesar 78%, dan lingkar dada memiliki nilai yaitu sebesar 79%. Kata Kunci: Keragaman, Fenotipe, Reproduksi,Berat Badan, Indonesia
Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia di Kabupaten Penajam Paser Utara Berdasarkan Potensi Hijauan Pakan Taufan Purwokusumaning Daru; Hamdi Mayulu; Suhardi Suhardi; Apdila Safitri; Ardiansyah Ardiansyah
Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jpltrop.v7i1.15045

Abstract

Sebagian wilayah Kabupaten PPU telah ditetapkan menjadi ibukota Republik Indonesia yang baru. Konsekuensi dari terbentuknya ibukota ini akan mengalami peningkatan penduduk yang sangat cepat, sehingga kebutuhan pangan di wilayah ini menjadi prioritas, termasuk bahan pangan asal ternak. Bahan pangan asal ternak yang kritis ketersediaannya di wilayah ini adalah yang berasal dari ternak ruminansia, oleh sebab itu perencanaan pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU menjadi penting. Untuk menentukan wilayah pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU perlu ditinjau keberadaan hijauan pakan di masing-masing kecamatan, diantaranya adalah sumber hijauan pakan beserta produksinya, kapasitas tampung hijauan pakan di setiap kecamatan, KPPTR, IDD hijauan pakan, IKT, dan LQ jenis ternak ruminansia yang dapat dikembangkan di amsing-masing kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kecamatan di Kabupaten PPU memiliki potensi untuk mengembangkan ternak ruminansia. Hal ini ditinjau dari kapasitas tampung hijauan pakan, IDD hijauan pakan, dan KPPTR. Namun demikian, wilayah yang menjadi prioritas pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU adalah Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku, karena IKT kedua kecamatan ini > 1.