Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Implementasi Konsep Blue Economy untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Eva Anggraini
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 5 (2023): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v5i.737

Abstract

Implementasi Konsep Blue Economy untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Analisis Budi Daya Lobster Berkelanjutan di Lombok, Nusa Tenggara Barat Rohmanurcaesari, Abdari; Anggraini, Eva; Buhari, Nurliah
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v14i1.13475

Abstract

ujuan penelitian ini adalah untuk melihat kelayakan usaha dan merumuskan pengelolaan usaha budi daya lobster yang berkelanjutan di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan melihat dari dimensi ekologi, ekonomi, kelembagaan, sosial dan teknologi. Kelayakan dihitung dengan analisis biaya manfaat dan keberlanjutan usaha dilihat dengan analisis RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries). Lokasi penelitian dilakukan di kecamatan Jerowaru. Penentuan responden dilakukan menggunakan purposive sampling. Jumlah responden ditentukan dengan rumus Slovin didapat hasil 92 pembudidaya, akan tetapi untuk mengantisipasi outlier data maka diambil 99 pembudidaya. Berdasarkan data yang telah diolah memiliki hasil bahwa pada kapasitas usaha 8 lubang, 12 lubang dan 16 lubang layak, sedangkan pada kapasitas usaha 4 lubang tidak layak. Hasil indeks keberlanjutan menunjukan bahwa dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dan dimensi sosial adalah cukup berkelanjutan, dimensi teknologi adalah kurang berkelanjutan, dan dimensi kelembagaan adalah tidak berkelanjutan. Title: Sustainable Management of Lobster Farming in Lombok, West Nusa TenggaraThe purpose of this study is to look at business feasibility and formulate sustainable management of lobster farming in Lombok, West Nusa Tenggara by looking at the ecological, economic, institutional, social and technological dimensions. Feasibility is calculated by benefit cost analysis and business sustainability is seen by RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries) analysis. The research location was in Jerowaru sub-district. Determination of respondents was done using purposive sampling. The number of respondents was determined by the Slovin formula, resulting in 92 cultivators, but to anticipate data outliers, 99 cultivators were taken. Based on the data that has been processed, the results show that the business capacity of 8 holes, 12 holes and 16 holes is feasible, while the business capacity of 4 holes is not feasible. The results of the sustainability index show that the ecological dimension, economic dimension, and social dimension are quite sustainable, the technological dimension is less sustainable, and the institutional dimension is unsustainable.
FUEL OIL QUOTA POLICY FOR CAPTURE FISHERIES CASE STUDY: PADANG CITY, WEST SUMATRA PROVINCE Febrian, Handika Rahmat; Anggraini, Eva; Gandhi, Prima
Fish Scientiae Vol 13 No 2 (2023): Edisi Desember 2023, Vol. 13(2),2023
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/fishscientiae.v13i2.214

Abstract

Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak Anggraini, Eva
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 3 No 1 (2021): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0301.66-70

Abstract

Merebaknya virus corona Novel Corona Virus (2019-nCoV) yang terjadi secara global diindikasikan kuat bersumber dari hewan/ satwa liar, bersifat zoonotik, dan lebih dari 70% nya diperankan melalui satwa liar sebagai reservoir atau inang alaminya dan kemudian berubah menjadi virus yang lebih ganas dan mampu menginfeksi manusia (zoonosis) jelas mengindikasikan bahwa peran hewan sebagai salah satu factor menjadi hal yang sangat penting. Fakta menunjukkan bahwa 60 persen dari penyakit patogen adalah zoonotik (ditularkan dari hewan) dan 80 persen darinya adalah multi-host. Selain itu, 75 persen dari penyakit-penyakit yang baru muncul berawal dari hewan (zoonotik). Hal ini didasarkan pada kemungkinan besar akibat eksploitasi alam yang berlebihan sehingga menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan. Selain itu kontak hewan liar dan berbagai spesies hewan dalam satu lokasi yang sangat intens seperti dalam pasar hewan yang sangat beragam menjadi hal yang perlu mendapat perhatian lebih. Pendekatan One Health adalah jawaban atas semua situasi dan permasalahan kesehatan yang berlangsung pada saat ini, terutama dalam upaya pengendalian penyakit infeksius. Surveilans sentinel pada satwa liar secara periodik diharapkan akan dapat memantau keberadaan virus-virus yang bersirkulasi yang berpotensi ditularkan ke manusia maupun hewan ternak dari satwa liar sehingga dapat dicegah kejadian spillover dari satwa liar ke manusia atau hewan ternak. Kerjasama yang lebih erat diantara berbagai profesi tidak saja bidang kesehatan, namun juga semua bidang yang terkait sehingga implementasi One Health dapat berjalan dengan baik dalam upaya menuju dunia yang lebih sehat.
Mewujudkan Keberlanjutan Pasokan Pangan dalam Periode Pandemi COVID-19 Anggraini, Eva; Faqih, Akhmad; Sangadji, Masbantar Adji; Kadarisman, Muhd Indarwan; Revany, Retia
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 3 No 1 (2021): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0301.71-77

Abstract

1. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang secara langsung berdampak pada akses masyarakat terhadap pangan.2. Secara provinsi terdapat beberapa wilayah yang surplus dan beberapa wilayah yang defisit.3. Salah satu kelemahan sistem logistik pangan saat ini adalah ketidakmampuan dalam menghitung permintaan (demand) dan pasokan (supply) secara akurat dan real-time.4. Sistem logistik yang ada sekarang tidak mampu mencatat transaksi secara jujur, otentik (asli) dan transparan sehingga resiko kebocoran dan pengoplosan (food adulteration) di sepanjang rantai pasok cukup tinggi.
Meningkatkan Partisipasi Publik dalam Menangani Sampah Plastik Laut Anggraini, Eva
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 4 No 2 (2022): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0402.263-267

Abstract

Sampah plastik laut merupakan public bad yang bersifat non point sources, sehingga untuk mengatasinya membutuhkan pendekatan baik hirarki maupun berbasis masyarakat. Aktifitas domestik dan wisata berkontribusi cukup besar atas persoalan sampah plastik di kawasan pantai dan laut, oleh karena itu pelibatan masyarakat dan pengunjung wisata dalam penanganan sa mpah merupakan opsi yang perlu ditempuh. Studi yang meliputi beberapa kawasan pantai di Kabupaten Belitung menunjukkan keinginan berkontribusi yang cukup tinggi untuk menangani persoalan sampah plastik, di mana masyarakat lebih senang berkontribusi waktu, sementara pengunjung wisata lokal lebih memilih kontribusi uang untuk mendukung program penanganan sampah di lokasi wisata pantai.
Internal Factors Influencing Rural Ecotourism Entrepreneurship (Case Study in Bogor Regency of West Java) Purba, Indra Setiawan; Avenzora, Ricky; Anggraini, Eva; Darusman, Dudung
Komunitas Vol 15, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v15i2.42128

Abstract

To Developing rural ecotourism business requires actors  with good entrepreneurial capacity. The factors that cause the formation of entrepenership in individuals of ecotourism villages in Indonesia are not yet known. This  study aimed to analyze examine the internal factors that build entrepreneurial capacity in rural ecotourism. The research location was in four tourism villages in Bogor Regency, namely Ciasihan, Sirnajaya, Watesjaya and Pabuaran Villages Individuals who manage natural resources, innovate and take risks in running their business are entrepreneurs and vice versa.The number of respondents was 442. This number is calculated from four selected villages in Bogor regency where sampling uses purposive sampling which were divided into two groups, namely the entrepreneurial group of 240 respondents and the non-entrepreneurial group of 202 respondents . Primary data were obtained through filling out a list of questions by respondents using a closed-ended questionnaire by applying “the one score one indicator scoring system pattern”. Data analysis was carried out in a quantitative descriptive manner based on the average value of each indicator . To know the variables that have a significant effect on rural ecotourism entrepreneurship needed an analysis of the quality relationship between variables carried out using logistic regression analysis.The results showed that the significant variables that influenced rural ecotourism entrepreneurship are: 1) openness, 2) achievement motivation, 3) closed mindset, 4) innovative 5) efficient, 6) open mindset, and 7) locus of control. A qualitative approach is carried out by entering rural communities with observations and interviews, to find out the behavior and internal variables that exist in individual rural communities that form entrepreneurship.The largest Odds Ratio value was on the openness variable with a score of 3.242, which meant that if individuals in tourist villages had an openness attitude, they would tend to have entrepreneurship  3.242 times higher than those who did not have an openness attitude. Entrepreneurship in tourist villages is very important to create ecotourism businesses that can change rural resources into added value. Rural communities need to be understood fromtheir individual behavior as forming businesses in the field of rural ecotourism.
Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan anggraini, eva; Muhammad, Maulana Malik
KALBISIANA Jurnal Sains, Bisnis dan Teknologi Vol. 10 No. 3 (2024): Kalbisiana
Publisher : UNIVERSITAS KALBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53008/kalbisiana.v10i3.2520

Abstract

This study aims to determine the effect of profitability, liquidity and company size on firm value in manufacturing companies in the consumer goods industry sector which are listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2019-2021 period. The population used in this study are manufacturing companies in the consumer goods industry sector which are listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2019-2021 period. The sample in this study consisted of 34 companiies which were determined by purposive sampling technique. The research method used is panel data regression, model test, classical assumption test, mulltiple linear regression, and hypothesis testing. From the results of the tests and discussions that have been carried out, it can be concluded that profitability, liquidity and firm size have no effect on firm value.
Institutional Analysis of Mangrove Rehabilitation in Karangsong Indramayu West Java Gunawan, Ali Gunawan; Hidayat, Aceng; Anggraini, Eva
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 6 No. 1 (2018): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.643 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v6i1.21203

Abstract

ABSTRACTKarangsong mangrove forest area is the result of rehabilitation since 2008 which is managed and then used as the location of ecotourismby Kelompok Pantai Lestari. The study was conducted in Karangsong Village, Indramayu District, West Java Province. The purposes of this study are to analyze changes in property rights, stakeholders and management institutions of mangrove areas. Data were collected through in-depth interviews of 7 key informants and questionnaires by 96 respondents who were chosen purposively (purposive sampling). This study used qualitative descriptive approach including Property rights analysis, Stakeholder analysis, and Content analysis. The results showed that there has been a change of land ownership status in the mangrove area. Kelompok Pantai Lestari supported by the Karangsong Village government, Diskanla and Pertamina became key actors in mangrove rehabilitation activities.Stakeholder coordination and synergy, as well as local community empowerment needs to be improved to realize sustainable institutions.Keywords : institutional, mangrove, property rights, stakeholdersABSTRAKKawasan hutan mangrove Karangsong merupakan hasil rehabilitasi sejak 2008 yang dikelola dan kemudian dijadikan lokasi ekowisata oleh Kelompok Pantai Lestari. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Penelitianini bertujuan untuk menganalisis perubahan hak kepemilikan lahan, aktor dan kelembagaan pengelolaan kawasan mangrove. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 7 orang informan dan pengisian kuesioner oleh 96 responden yang dipilih secara sengaja (purposive sampling). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis Property rights, analisis Stakeholder, dan Content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan status kepemilikan lahan di kawasan mangrove. Kelompok Pantai Lestari yang didukung oleh pemerintah Desa Karangsong, Diskanla dan Pertamina menjadi aktor kunci dalam kegiatan rehabilitasi mangrove. Koordinasi dan sinergi pemangku kepentingan, serta pemberdayaan masyarakat setempat perlu ditingkatkan untuk mewujudkan kelembagaan yang berkelanjutan.Kata kunci: kelembagaan, mangrove, hak kepemilikan, stakeholders
ANALYSIS OF EXTERNAL FACTORS ON RURAL ECOTOURISM ENTREPRENEURSHIP (CASE STUDY IN BOGOR REGENCY OF WEST JAVA) Indra Setiawan Purba; Ricky Avenzora; Eva Anggraini; Dudung Darusman
Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 10 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : APTKLHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.1.91-104

Abstract

The entrepreneurship aspect will determine the success of the development and development of rural ecotourism. Rural ecotourism products and services must be created and packaged by entrepreneurs in an attractive and highly competitive manner so that tourists are interested in consuming them. This study aimed to analyze the external factors that affect entrepreneurial capacity in rural ecotourism. The research location was in four tourist villages in Bogor Regency, namely Ciasihan, Sirnajaya, Watesjaya and Pabuaran Villages. Primary data was obtained through filling out a list of questions by respondents using a closed-ended questionnaire by applying the “one score one indicator scoring” system pattern . Data analysis was carried out in a quantitative descriptive manner based on the average value of each criterion/indicator. Analysis of causality between variables is carried out using logistic regression analysis. The results show that the external factors that significantly affect the performance of rural ecotourism entrepreneurship are dominated by social aspects (seven factors) and some aspects of the entrepreneurship ecosystem, namely 1) market, 2) finance and 3) business culture. The highest odds ratio is in the social interaction variable, which is 5.459, while the lowest odds ratio is in the group solidarity variable, which is 0.323. With the odds ratio of social interaction of 5.459, it can be interpreted that if social interaction in the tourist village increases, it will tend to cause the success in  entrepreneurship  5.459 times higher than in the absence of social interaction.