Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Solidaritas antara Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat Lokal dalam Memperkuat Integrasi Nasional Muhammad Mabrur Haslan; Sawaludin Sawaludin
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 13, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/civicus.v13i1.33023

Abstract

Solidaritas antara masyarakat pendatang dan masyarakat lokal memegang peran penting dalam memperkuat integrasi nasional, khususnya dalam konteks masyarakat desa yang majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat terbangunnya solidaritas sosial di Desa Rumak, Lombok Barat, Indonesia, sebagai representasi dari interaksi sosial antar kelompok dalam ruang sosial yang beragam. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen dari warga pendatang maupun lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gotong royong, komunikasi terbuka, dan penerimaan terhadap keberagaman merupakan faktor utama yang mendorong terciptanya solidaritas. Nilai-nilai tersebut memperkuat kepercayaan, pengakuan sosial, dan partisipasi kolektif, memungkinkan masyarakat pendatang terintegrasi secara bermakna ke dalam komunitas lokal. Di sisi lain, perilaku individualistik, sentimen primordial, dan kesenjangan sosial ekonomi menjadi penghambat utama yang melemahkan kohesi sosial dan membatasi interaksi lintas kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa solidaritas merupakan proses sosial yang terbentuk melalui interaksi kultural dan tantangan struktural yang terus berubah. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman solidaritas akar rumput dan memperkaya diskursus tentang kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Kajian ini juga menjadi dasar penting bagi perumusan kebijakan integrasi yang inklusif dan kontekstual.Solidarity between immigrant and local communities plays a pivotal role in promoting national integration, especially in plural rural settings. This study investigates the factors that support and hinder social solidarity in Rumak Village, West Lombok, Indonesia, where diverse populations interact within a shared socio-cultural space. Employing a qualitative descriptive approach, the research gathered data through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis with both immigrant and local residents. The findings highlight that mutual cooperation (gotong royong), open communication, and cultural acceptance serve as primary drivers of solidarity. These mechanisms foster trust, social recognition, and community participation, enabling immigrants to integrate meaningfully into local society. Conversely, the study reveals that individualistic behavior, strong primordial attachments, and economic disparities are major obstacles, leading to social exclusion and weakened collective identity. These results suggest that solidarity is a dynamic social process shaped by both cultural resilience and structural challenges. The study affirms the relevance of classical and contemporary sociological theories while offering new insights into grassroots integration practices. By focusing on localized interactions and community-based mechanisms, the research contributes to a deeper understanding of social cohesion and provides a foundation for future policies aimed at inclusive integration in diverse societies.
Bentuk-Bentuk Perilaku Perundungan (Bullying) pada Siswa SMPN Se-Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat Muhammad Mabrur Haslan; Sawaludin Sawaludin
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 13, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/civicus.v13i1.33032

Abstract

Perundungan (bullying) merupakan persoalan sosial yang sering kali diabaikan di lingkungan sekolah, meskipun berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis dan sosial peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk perilaku bullying yang dialami oleh siswa SMP Negeri Se-Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen yang melibatkan guru, siswa, dan pihak sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua bentuk utama bullying yang terjadi adalah bullying fisik dan bullying verbal. Bullying fisik mencakup pemukulan, cakaran, dan pemalakan oleh teman sebaya, sedangkan bullying verbal meliputi ejekan terhadap nama orang tua, olok-olok berbasis bahasa daerah, serta penghinaan secara berulang. Perilaku ini tidak bersifat insidental, melainkan sistematis dan diperkuat oleh norma sosial di kalangan siswa serta minimnya intervensi institusional dari pihak sekolah. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap literatur tentang kekerasan di sekolah, khususnya dalam konteks Indonesia, dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis budaya lokal dalam menangani bullying. Temuan ini mendorong perlunya strategi preventif berbasis komunitas dan intervensi kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.Bullying is a pervasive social problem in school environments, often overlooked despite its long-term psychological and social consequences for students. This study aims to identify and analyze the forms of bullying behavior experienced by junior high school students in Kediri District, West Lombok Regency. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis involving teachers, students, and school administrators. Findings show that two primary forms of bullying were prevalent: physical and verbal. Physical bullying included hitting, kicking, and coercive extortion, while verbal bullying involved name-calling, mockery based on parents' names, and linguistic or cultural derogation. These behaviors were not isolated incidents but systematic actions reinforced by peer support and weak institutional responses. The discussion highlights how bullying operates within asymmetric power relations and is culturally normalized within student interactions. The study contributes to existing literature by contextualizing bullying within Indonesian school settings and revealing its socio-cultural dimensions. These findings suggest the need for school-wide, culturally sensitive interventions to promote safer and more inclusive learning environments. Future research should explore broader sociological patterns and evaluate intervention outcomes.
Penggunaan Artificial Intelligence dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PPKn Universitas Mataram Inni Khaerunnisa; Muhammad Mabrur Haslan; Ahmad Hudori
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 3 (2026): August (Inpres)
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i3.2703

Abstract

In todays’s digital era, rapid technological advancements, particularly the emergence of Artificial Intelligence (AI), have transformed how students access information and complete academic assignments. The growing reliance on AI in academic activities has raised concerns regarding its impact on students' critical thinking skills, specifically among students of Pancasila and Civic Education (PPKn) at the University of Mataram. This study aims to analyze student perceptions regarding AI usage and examine its impact on the critical thinking skills of PPKn students at the University of Mataram. The study employs a qualitative phenomenological approach. Data collection was conducted through semi-structured interviews—with subjects and informants selected via snowball sampling—as well as non-participant observation and document analysis. Data analysis involved data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Meanwhile, data validity was verified through source, technique, and time triangulation. The results reveal three types of student perceptions: 1) A positive perception, viewing AI as a tool to accelerate data research and visualize concepts; 2) A negative perception, viewing AI as potentially creating challenges such as intellectual dependency that fosters mental laziness and the erosion of moral values; and 3) A shift in mindset, where AI aids in understanding and processing information but creates an illusion of independent thinking. Furthermore, AI has a dualistic impact on its users. Positive impacts include improved access to information, greater efficiency in literacy-related tasks, and the availability of additional information sources. Conversely, negative impacts include dependency on AI, diminished critical thinking skills, and threats to the originality of written work. The study concludes that AI elicits diverse perceptions and impacts regarding students' critical thinking skills, depending on how students utilize AI within their academic processes.
Peran Dinas Sosial Kota Mataram dalam Pemberdayaan Penyandang Disabilitas melalui Program Vokasi Dony Jayeswara; Muhammad Mabrur Haslan; Ega Anzani
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 3 (2026): August (Inpres)
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i3.2741

Abstract

Persons with disabilities in Mataram City face a gap between the ideal guarantee of vocational rights (Law No. 8 of 2016, Ministerial Regulation No. 7 of 2021) and the actual low rate of employment absorption, with only 47 individuals absorbed into the formal sector out of a work-ready adult population reaching 1,441 individuals. This study aims to analyze the role of the Mataram City Social Service in empowering persons with disabilities through vocational programs, as well as the factors that influence it. The research employs a qualitative descriptive approach, with subjects determined purposively and informants through snowball sampling, using interviews, observation, and documentation studies, analyzed using the Miles and Huberman interactive model, with validity tested through triangulation.  The findings show that the Social Service has carried out its role across six indicators access and participation, training quality, skills improvement, job placement and entrepreneurship, support and facilitation, and collaboration and partnership although outcomes are more prominent in small-scale home-based entrepreneurship than in formal job placement. Internal factors (budget, human resources, facilities) and external factors (regulation, partnerships, social stigma) also influence the effectiveness of this role. The study concludes that the success of empowerment depends on the synergy between institutional capacity and the surrounding supportive ecosystem.  
The Role of Pancasila Education Teachers in Instilling Civic Responsibility in Students at SMAN 1 Batukliang Riska Riska; Muhammad Mabrur Haslan; Sawaludin Sawaludin
Jurnal Penelitian Medan Agama Vol 16, No 2 (2025): JULY-DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58836/jpma.v16i2.26370

Abstract

This study aims to analyze the role of Civic Education teachers in instilling civic responsibility among students and to identify the supporting and inhibiting factors in the process at SMAN 1 Batukliang. The research uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected through interviews, participant observation, and documentation involving Civic Education teachers, the principal, vice principal for student affairs, and students. Data analysis follows the Miles and Huberman model, including data reduction, display, and conclusion drawing, with data validity tested through triangulation of techniques, sources, and time. The results show that Civic Education teachers play multidimensional roles as facilitators, classroom managers, mediators, motivators, evaluators, and demonstrators in shaping civic responsibility. Supporting factors include school support, flexible curriculum policies, active teacher participation, and a positive school social environment. Inhibiting factors include students' low awareness of social responsibility, lack of family support, and limited time and innovative learning media.In conclusion, fostering civic responsibility requires a holistic approach involving continuous synergy between schools, families, and communities to develop responsible, caring, and active citizens with strong state responsibility.
Kajian Tradisi Bejango Beleq Dan Nilai-Nilai Yang Terkandung Di Dalamnya Studi Pada Masyarakat Sasak (Di Desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur) Nurlaeli Fajriah; Muhammad Mabrur Haslan; Samsul Hadi
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i4.2025.2013-2019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan  tradisi Bejango Beleq yang merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Tradisi dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi Bejango Beleq serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Bejango Beleq terdiri dari beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan yang terdiri dari  Pembentukan panitia dan Musyawarah panitia. Selanjutnya Tahap pelaksanaan terdiri dari Penyereok (Pertunjukan budaya), Bejarik Minyak jeleng (Minyak Songak), Tradisi Buarak, Menghias Sesaji/Dulang (Sesangan). Hingga acara puncak di Masjid Kuno Desa Songak. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini meliputi Nilai Agama, Nilai Solidaritas Sosial, Nilai Budaya, Serta Nilai Ekonomi. Nilai-nilai tersebut menjadikan tradisi Bejango Beleq tidak hanya sebagai bentuk ekspresi budaya, tetapi juga sebagai  pembelajaran sosial dan spiritual bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan demikian, tradisi ini berperan penting dalam memperkuat identitas budaya serta mempererat hubungan antar warga di Desa Songak. Penelitian ini dalam implikasinya ke masyarakat dapat dijadikan sebagai dokumen tertulis dalam menjaga ataupun melestarikan tradisi Bejango Beleq.
Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perilaku Sosial Anak (Studi Kasus di Kelurahan Tiwugalih Kecamatan Praya Lombok Tengah) Salsabila Salsabila; Muhammad Mabrur Haslan; Samsul Hadi Hadi
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i4.2025.2041-2047

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan gadget pada anak dan dampak penggunaan gadget terhadap perilaku sosial anak di Kelurahan Tiwugalih Kecamatan Praya Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman yang dilakukan melalui 3 tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk penggunaan gadget pada anak yaitu sebagai media pembelajaran dan sebagai sarana hiburan. Anak-anak umumnya mulai mengenal gadget pada usia 5-8 tahun. Adapun aplikasi yang sering digunakan adalah aplikasi YouTube untuk menonton video pendek, kartun dan hiburan lainnya. Selain itu, beberapa anak juga menggunakan aplikasi Google untuk mencari materi pembelajaran dan menggunakannya untuk bermain game. Sedangkan durasi penggunaan gadget berkisaran antara 2 sampai 3 jam perhari. Dampak positif penggunaan gadget ini dapat meningkatkan pengetahuan, kreativitas dan kemampuan anak dalam menggunakan teknologi dan membantu anak dalam belajar. Namun, di sisi lain gadget memiliki dampak negatif terhadap perilaku sosial anak seperti anak menjadi lebih suka menyendiri dan mengurangi interaksi dengan teman sebayannya serta emosi anak terkadang tidak terkontrol, selain itu berdampak negatif juga pada kesehatan mata anak akibat paparan layar gadget.