Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Panggung

Bahasa Rupa Gambar Anak Berkesulitan Belajar dan Relasinya dengan Gambar Seni Rupa Tradisi Pandanwangi, Ariesa; Pialang, Yasraf Amir; Adisasmito, Nuning Damayanti
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.114

Abstract

ABSTRACT Children with learning disabilities have creative capabilities that sometimes unnoticed by their pa- rents or teachers. Their creative capabilities are usually observed from their drawings, which as creative as the drawings created in traditional arts. The aim of this research is to determine the relationship between drawings from children with learning disabilities compared to the drawings created in traditional arts.The research methods employed is a qualitative descriptions with visual languages approaches. The approaches used are contents of wimba, way of wimba, enlargement and shrinkage. It can be shown that the way of drawing by children with learning disabilities has direct relationship with the traditional arts. The way of wimba of these children’s drawings is having similar characteristics with the way of wimba in traditional arts.  This similarity is observed from the unique way of drawing of these children which are figurative objects drawn on a flat sand surface, various backgrounds, various relieves, tranparencies, emphasizing large objects, green colour, and symmetrical compositions. These similarities are constructed because these children do not know about perspective drawing and gravitational principles in the draw- ing, somethings which are also found in traditional art, so that both tend to have similar way of wimba in drawings. The characteristics of drawing by children with learning disabilities can be seen from the way of wimba figures which are schematics, which should already surpassed by children with similar age. Keywords: Children, Drawings, Learning disabilities, Traditional arts, Visual language    ABSTRAK Anak berkesulitan belajar mempunyai kreativitas yang belum diketahui oleh orang tua bah- kan guru. Kreativitas yang tergali dari gambar yang dihasilkan oleh Anak Berkesulitan Belajar (ABB), sama kreatifnya dengan gambar yang berasal dari seni rupa tradisi. Penelitian ini untuk mengetahui relasi antara gambar ABB dengan gambar seni rupa tradisi. Relasi adalah hal yang membuat adanya keterhubungan antara gambar ABB dengan gambar seni rupa tradisi.Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan bahasa rupa. Bahasa rupa yang dipergunakan adalah isi wimba, cara wimba, diperbesar atau diperkecil. Hasil pene- litian ini diketahui bahwa cara gambar anak memiliki relasi dengan gambar seni rupa tradisi, yaitu cara wimba gambar ABB mempunyai karakteristik kemiripan dengan gambar seni rupa tradisi. Hal tersebut dapat diamati dari cara khas gambar anak yaitu objek figur digambarkan diatas rata tanah, aneka latar, aneka tampak, tembus pandang, objek yang besar dibuat penting, warna hijau, komposisi simetris. Kemiripan tersebut karena anak-anak belum mengenal gam- bar perspektif dan gaya gravitasi pada gambar, hal yang sama juga ditemui dalam seni rupa seni tradisi sehingga mereka memiliki kecenderungan penggambaran cara wimba yang mirip. Sedangkan karakteristik gambar ABB dapat dilihat dari cara wimba figur yang menyerupai bagan, padahal untuk anak seusianya anak sudah melampaui bentuk tersebut. Kata kunci: Anak-anak, Bahasa rupa, Berkesulitan Belajar, Gambar, Seni rupa tradisi
VISUALISASI PEREMPUAN PADA LUKISAN TRADISIONAL TIONGHOA DI INDONESIA (Analisis karya-karya seni lukis Lee Man Fong dan Chiang Yu Tie) Pandanwangi, Ariesa; Damayanti, Nuning
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.254

Abstract

ABSTRACT Both Lee Man Fong - a male painter - and Chiang Yu Tie - a female painter - are Chinese who migrated to Indonesia. In the beginning of the 20th century, Lee Man Fong lived in Bali while Chiang Yu Tie lived in Java. Many of their artworks were collected by the National Palace and many government officers. The questions of this research are visualization of the women as the object of paintings of both artists and gesture of the women in the paintings of both artists. The purpose of the research is to enrich the documentary infrastructure about women as object in the social area of visual arts which has not been studied much. The research method that will be used is qualitative method with purpose sampling. The result of the research will show that both artists are very familiar with a particular social life during their stay in a certain place, so that their perceptions are focused in excavating the women object in their artworks.Keywords: Chiang Yu Tie, Chinese, Lee Man Fong, Painting, Woman.ABSTRAK Lee Man Fong adalah pelukis laki-laki dan Chiang Yu Tie adalah pelukis perempuan. Keduanya adalah orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Pada tahun 1900 an Lee Man Fong tinggal di Bali sedangkan Chiang Yu Tie tinggal di Jawa Barat. Karya keduanya banyak dikoleksi oleh Istana Negara juga oleh pejabat pemerintahan. Penelitian ini untuk mengetahui visualisasi perempuan yang dijadikan objek pada lukisan tradisional tionghoa dan gestur perempuan pada objek karya seni lukis kedua seniman tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk melengkapi infrastruktur pendokumentasian tentang objek perempuan dalam medan sosial seni rupa yang belum banyak dibahas. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan purpose sampling. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kedua seniman tersebut sangat akrab dengan lingkungan sosial ketika mereka tinggal disuatu daerah, sehingga pengamatannya banyak di fokuskan pada penggalian objek perempuan dalam karya seni lukisnya.Kata kunci: Chiang Yu Tie, Lee Man Fong, Perempuan, Seni lukis, Tionghoa. 
VISUALISASI PEREMPUAN PADA LUKISAN TRADISIONAL TIONGHOA DI INDONESIA (Analisis karya-karya seni lukis Lee Man Fong dan Chiang Yu Tie) Ariesa Pandanwangi; Nuning Damayanti
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.586 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.254

Abstract

ABSTRACT Both Lee Man Fong - a male painter - and Chiang Yu Tie - a female painter - are Chinese who migrated to Indonesia. In the beginning of the 20th century, Lee Man Fong lived in Bali while Chiang Yu Tie lived in Java. Many of their artworks were collected by the National Palace and many government officers. The questions of this research are visualization of the women as the object of paintings of both artists and gesture of the women in the paintings of both artists. The purpose of the research is to enrich the documentary infrastructure about women as object in the social area of visual arts which has not been studied much. The research method that will be used is qualitative method with purpose sampling. The result of the research will show that both artists are very familiar with a particular social life during their stay in a certain place, so that their perceptions are focused in excavating the women object in their artworks.Keywords: Chiang Yu Tie, Chinese, Lee Man Fong, Painting, Woman.ABSTRAK Lee Man Fong adalah pelukis laki-laki dan Chiang Yu Tie adalah pelukis perempuan. Keduanya adalah orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Pada tahun 1900 an Lee Man Fong tinggal di Bali sedangkan Chiang Yu Tie tinggal di Jawa Barat. Karya keduanya banyak dikoleksi oleh Istana Negara juga oleh pejabat pemerintahan. Penelitian ini untuk mengetahui visualisasi perempuan yang dijadikan objek pada lukisan tradisional tionghoa dan gestur perempuan pada objek karya seni lukis kedua seniman tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk melengkapi infrastruktur pendokumentasian tentang objek perempuan dalam medan sosial seni rupa yang belum banyak dibahas. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan purpose sampling. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kedua seniman tersebut sangat akrab dengan lingkungan sosial ketika mereka tinggal disuatu daerah, sehingga pengamatannya banyak di fokuskan pada penggalian objek perempuan dalam karya seni lukisnya.Kata kunci: Chiang Yu Tie, Lee Man Fong, Perempuan, Seni lukis, Tionghoa. 
Bahasa Rupa Gambar Anak Berkesulitan Belajar dan Relasinya dengan Gambar Seni Rupa Tradisi Ariesa Pandanwangi; Yasraf Amir Pialang; Nuning Damayanti Adisasmito
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.947 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.114

Abstract

ABSTRACT Children with learning disabilities have creative capabilities that sometimes unnoticed by their pa- rents or teachers. Their creative capabilities are usually observed from their drawings, which as creative as the drawings created in traditional arts. The aim of this research is to determine the relationship between drawings from children with learning disabilities compared to the drawings created in traditional arts.The research methods employed is a qualitative descriptions with visual languages approaches. The approaches used are contents of wimba, way of wimba, enlargement and shrinkage. It can be shown that the way of drawing by children with learning disabilities has direct relationship with the traditional arts. The way of wimba of these children’s drawings is having similar characteristics with the way of wimba in traditional arts.  This similarity is observed from the unique way of drawing of these children which are figurative objects drawn on a flat sand surface, various backgrounds, various relieves, tranparencies, emphasizing large objects, green colour, and symmetrical compositions. These similarities are constructed because these children do not know about perspective drawing and gravitational principles in the draw- ing, somethings which are also found in traditional art, so that both tend to have similar way of wimba in drawings. The characteristics of drawing by children with learning disabilities can be seen from the way of wimba figures which are schematics, which should already surpassed by children with similar age. Keywords: Children, Drawings, Learning disabilities, Traditional arts, Visual language    ABSTRAK Anak berkesulitan belajar mempunyai kreativitas yang belum diketahui oleh orang tua bah- kan guru. Kreativitas yang tergali dari gambar yang dihasilkan oleh Anak Berkesulitan Belajar (ABB), sama kreatifnya dengan gambar yang berasal dari seni rupa tradisi. Penelitian ini untuk mengetahui relasi antara gambar ABB dengan gambar seni rupa tradisi. Relasi adalah hal yang membuat adanya keterhubungan antara gambar ABB dengan gambar seni rupa tradisi.Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan bahasa rupa. Bahasa rupa yang dipergunakan adalah isi wimba, cara wimba, diperbesar atau diperkecil. Hasil pene- litian ini diketahui bahwa cara gambar anak memiliki relasi dengan gambar seni rupa tradisi, yaitu cara wimba gambar ABB mempunyai karakteristik kemiripan dengan gambar seni rupa tradisi. Hal tersebut dapat diamati dari cara khas gambar anak yaitu objek figur digambarkan diatas rata tanah, aneka latar, aneka tampak, tembus pandang, objek yang besar dibuat penting, warna hijau, komposisi simetris. Kemiripan tersebut karena anak-anak belum mengenal gam- bar perspektif dan gaya gravitasi pada gambar, hal yang sama juga ditemui dalam seni rupa seni tradisi sehingga mereka memiliki kecenderungan penggambaran cara wimba yang mirip. Sedangkan karakteristik gambar ABB dapat dilihat dari cara wimba figur yang menyerupai bagan, padahal untuk anak seusianya anak sudah melampaui bentuk tersebut. Kata kunci: Anak-anak, Bahasa rupa, Berkesulitan Belajar, Gambar, Seni rupa tradisi
Visualisasi Cerita Rakyat: Figur Perempuan dalam Karya Seni Batik Kontemporer Ariesa Pandanwangi; Sigit Purnomo Adi; Belinda Sukapura Dewi; Nuning Damayanti; Arleti Mochtar Apin
PANGGUNG Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.042 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i4.1932

Abstract

Figur perempuan telah menjadi inspirasi sebagai subjek dalam karya seni seniman di seluruh dunia. Untuk waktu yang lama, diwujudkan dalam artefak artistik, baik dalam patung (seperti Venus dari artefak Willendorf) atau dalam lukisan yang diciptakan oleh maestro dunia. Figur perempuan yang mendominasi cerita dengan menggambarkan sosok kebaikan dan keibuan. Namun, sosok perempuan masih menjadi subjek yang mewakili ide-ide para seniman, seperti dalam lukisan batik kontemporer berdasarkan Cerita Rakyat yang menampilkan figur perempuan. Makalah ini menggambarkan hasil penelitian sebagai upaya untuk melestarikan budaya dalam lukisan Batik dan fokus pada Batik kontemporer yang mengadopsi Cerita Rakyat dengan perempuan sebagai karakter utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil penelitian yang berfokus pada estetika dan elemen visual, terutama sosok perempuan sebagai objek dalam lukisan Batik yang terinspirasi oleh Cerita Rakyat. Metode penelitian menggunakan sampel batik yang dianalisis deskriptif kualitatif melalui pendekatan analisis formal dan kritik seni tanpa interpretasi. Studi ini menunjukkan bahwa Cerita Rakyat dengan karakter perempuan memberikan inspirasi untuk penciptaan seni lukisan batik kontemporer. Subjek tokoh perempuan adalah salah satu objek utama yang divisualisasikan dengan menyederhanakan bentuk dengan dekoratif yang khas gaya Batik. Sosok wanita distorsi dan disesuaikan dengan proporsi bentuk perempuan. Sosok ini tidak cukup rinci untuk mewakili karakter, tetapi sebagai motif lukisan batik kontemporer dengan nilai genre yang berbeda seperti variasi gaya tradisional, modern, klasik, dan komprehensif. Kontribusi penelitian ini dapat menjadi wacana dalam menginisiasi dan memperkaya visualisasi Cerita Rakyat dengan karakter perempuan dalam pengembangan lukisan batik Indonesia kontemporer.Kata Kunci: Lukisan Batik Kontemporer, Konservasi Budaya, Figur Perempuan, Cerita Rakyat.
BATIK NASKAH KUNO: TRANSFORMASI ILUMINASI DARI NASKAH KUNO KE DALAM MOTIF BATIK Ariesa Pandanwangi; Sophia Himatul Alya; Iman Budiman; Arleti Mochtar Apin; Tessa Eka Darmayanti
PANGGUNG Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4621.43 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2157

Abstract

Ancient manuscripts are artifacts that indicate high intellectual abilities in old civilizations. The content is very valuable as well as a means of communicating and expressing ideas that can provide information about civilization and past life. Javanese society is one of the communities who inherited ancient manuscripts. The manuscript is decorated with beautiful illuminations that signify the aesthetics of the creators. The illumination has a n implied value and becomes a trace of the cultural identity of the society. The values implied in the manuscript will be much more useful if it is disseminated to provide high moral understanding and insight. In addition, ancient manuscripts can be a source of inspiration for creation that can support efforts to perpetuate cultural heritage in the archipelago. This paper discusses the results of research originating from the transformation process of ancient manuscript illumination into batik. The research method used is descriptive qualitative by making batik motifs based on visual manuscript illumination supported by the results of interviews with ancient manuscript experts and batik experts. The results of this study are expected to support batik motifs in Indonesia. Keywords: ancient manuscripts; batik; illumination; motiftransformation
Visualisasi Cerita Rakyat: Figur Perempuan dalam Karya Seni Batik Kontemporer Pandanwangi, Ariesa; Adi, Sigit Purnomo; Dewi, Belinda Sukapura; Damayanti, Nuning; Apin, Arleti Mochtar
PANGGUNG Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i4.1932

Abstract

Figur perempuan telah menjadi inspirasi sebagai subjek dalam karya seni seniman di seluruh dunia. Untuk waktu yang lama, diwujudkan dalam artefak artistik, baik dalam patung (seperti Venus dari artefak Willendorf) atau dalam lukisan yang diciptakan oleh maestro dunia. Figur perempuan yang mendominasi cerita dengan menggambarkan sosok kebaikan dan keibuan. Namun, sosok perempuan masih menjadi subjek yang mewakili ide-ide para seniman, seperti dalam lukisan batik kontemporer berdasarkan Cerita Rakyat yang menampilkan figur perempuan. Makalah ini menggambarkan hasil penelitian sebagai upaya untuk melestarikan budaya dalam lukisan Batik dan fokus pada Batik kontemporer yang mengadopsi Cerita Rakyat dengan perempuan sebagai karakter utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil penelitian yang berfokus pada estetika dan elemen visual, terutama sosok perempuan sebagai objek dalam lukisan Batik yang terinspirasi oleh Cerita Rakyat. Metode penelitian menggunakan sampel batik yang dianalisis deskriptif kualitatif melalui pendekatan analisis formal dan kritik seni tanpa interpretasi. Studi ini menunjukkan bahwa Cerita Rakyat dengan karakter perempuan memberikan inspirasi untuk penciptaan seni lukisan batik kontemporer. Subjek tokoh perempuan adalah salah satu objek utama yang divisualisasikan dengan menyederhanakan bentuk dengan dekoratif yang khas gaya Batik. Sosok wanita distorsi dan disesuaikan dengan proporsi bentuk perempuan. Sosok ini tidak cukup rinci untuk mewakili karakter, tetapi sebagai motif lukisan batik kontemporer dengan nilai genre yang berbeda seperti variasi gaya tradisional, modern, klasik, dan komprehensif. Kontribusi penelitian ini dapat menjadi wacana dalam menginisiasi dan memperkaya visualisasi Cerita Rakyat dengan karakter perempuan dalam pengembangan lukisan batik Indonesia kontemporer.Kata Kunci: Lukisan Batik Kontemporer, Konservasi Budaya, Figur Perempuan, Cerita Rakyat.
BATIK NASKAH KUNO: TRANSFORMASI ILUMINASI DARI NASKAH KUNO KE DALAM MOTIF BATIK Pandanwangi, Ariesa; Alya, Sophia Himatul; Budiman, Iman; Apin, Arleti Mochtar; Darmayanti, Tessa Eka
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2157

Abstract

Ancient manuscripts are artifacts that indicate high intellectual abilities in old civilizations. The content is very valuable as well as a means of communicating and expressing ideas that can provide information about civilization and past life. Javanese society is one of the communities who inherited ancient manuscripts. The manuscript is decorated with beautiful illuminations that signify the aesthetics of the creators. The illumination has a n implied value and becomes a trace of the cultural identity of the society. The values implied in the manuscript will be much more useful if it is disseminated to provide high moral understanding and insight. In addition, ancient manuscripts can be a source of inspiration for creation that can support efforts to perpetuate cultural heritage in the archipelago. This paper discusses the results of research originating from the transformation process of ancient manuscript illumination into batik. The research method used is descriptive qualitative by making batik motifs based on visual manuscript illumination supported by the results of interviews with ancient manuscript experts and batik experts. The results of this study are expected to support batik motifs in Indonesia. Keywords: ancient manuscripts; batik; illumination; motiftransformation
Co-Authors Abdusyukur Budiarvin Septiadi Abdusyukur Budiarvin Septiadi Agus Prijono Agus Prijono Alisha Sugianto Alya, Shopia Himatul Alya, Sophia Himatul Amanda Harmani Apin, Arleti Mochtar ARLETI M. APIN ARLETI M. APIN Arleti Mochtar Apin Arleti Mochtar Apin Atridia Wilastrina Atridia Wilastrina Atridia Wilastrina Aulia Wara Arimbi Putri Ayuningtyas, Nabilla Baene, Basituasi Basituasi Baene Basituasi Pane Belinda Sukapura Dewi Cama Juli Rianingrum Carla Angelica da Silva, Maria Imakulata Darmayanti, Tessa Eka Deniansha, Farhan Dewi Isma Aryani Dieni Nuraeni Dieni Nuraini Dina Lestari Doro Edi Elda Franzia Jasjfi Elnissi, Sharon Erika Ernawan Erlina Novianti Erlina Novianti, Erlina Ernawan, Erika Erwani Merry Sartika Farhan Deniansah Farhan Deniansha Florenza Octarina Fragranthia Jennifer Hendrawan, Lucky Ida Ida Ida IDA IDA Ida Ida, Ida Iman Budiman Iman Budiman Iman Budiman Indralaksmi Indralaksmi Ismet Zainal Effendi Ismet Zainal Effendi Zainal Effendi Janette Kiara Zerlinda Santosa Kartika Suhada Kerine Claudya Wijaya Krismanto Kusbianto Krismanto Kusbiantoro Kuncoroputri, Sari Dewi M. Dwi Marianto Marutama, I Gusti Ngurah Tri Meythi, Meythi Muhamad Ali Rahim Muhammad Ali Rahim Nuning Damayanti Nuning Damayanti Nuning Damayanti Nuning Damayanti Nuning Damayanti Nuning Damayanti Adisasmito Nuning Damayanti Adisasmito, Nuning Damayanti Nuraini, Dieni Olga Catherina Pattipawaej Pande Made Sukerta Purnomo Adi, Sigit Putri, Aulia Wara Arimbi Ratnadewi Ratnadewi . Ratnadewi, Ratnadewi Ria Wardani Rosida Tiurma Manurung Rutnanda Inne Bulu Sari Dewi Kuncoroputri Se Tin Sharon Elnissi Shopia Himatul Alya Shopia Himatul Alya Shopia Himatul Alya sigit purnomo adi Siti Febrina Rahmadani Sophia Himatul Alya Sri Hadi Sukapura Dewi, Belinda Suryana, Wawan Teddy Marcus Zakaria Tessa Eka Darmayanti1 Utomo, R. Drajatno Widi Vera Liendani Verren Lesiando Septian Vincent Vincent Wahyu Widowati Wangsaputra, Priscylia Susanto Wawan Suryana Wawan Suryana Wiemar, Rosalinda Wiemar Yasraf Amir Pialang Yasraf Amir Pialang, Yasraf Amir Yohanes Bastian Vestralen Lameng Yudhanto, Sigied Himawan Zeta Ranniry