Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERBANDINGAN EFEK ANTARA IRRIGATION DAN SWABBING TERHADAP KOLONISASI BAKTERI PADA LUKA KAKI DIABETIK : CROSS OVER Musdalifah Musdalifah; Ilhamjaya Patellongi; Saldy Yusuf
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Karya Husada Yogyakarta
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v8i1.370

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Manajemen luka kaki diabetik memiliki prinsip dan tujuan untuk membantu mempercepat terjadinya proses penutupan luka. Komponen penting dari manajemen luka kaki diabetik salah satunya yakni perawatan luka lokal, perawatan luka dilakukan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. Salah satu bagian dari perawatan luka kaki diabetik adalah pencucian luka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efek tekhnik pencucian luka antara irrigation dan swabbing terhadap respon vaskularisasi dan kolonisasi bakteri pada luka kaki diabetik. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan experimental design, dengan rancangan cross over. Responden penelitian sebanyak 17 pasien luka kaki diabetik yang melakukan perawatan di rumah sakit dan klinik perawatan luka. Pencucian luka antara tekhnik irrigation dan swabbing dilakukan bergantian pada responden yang sama di waktu yang berbeda pada 17 responden. Kolonisasi bakteri dihitung dengan pemeriksaan kultur bakteri. Hasil : tidak terdapat perbedaan efek antara kedua tekhnik pencucian luka terhadap respon vaskularisasi dengan nilai p = 0.231, dan terdapat perbedaan efek antara kedua tekhnik pencucian luka terhadap kolonisasi bakteri dengan p = 0.001, dimana irrigation lebih efektif dalam menurunkan jumlah bakteri (p = 0.01 ; mean difference = -24.296.688). Kesimpulan : Tekhnik Irrigation lebih efektif dalam mereduksi bakteri dibandingkan tekhnik swabbing. Meskipun demikian, kedua tekhnik ini tetap dapat digunakan dalam pencucian luka kaki diabetik. Kata kunci : Irrigation, Swabbing, Kolonisasi Bakteri, Luka Kaki Diabetik ABSTRACT Background: Management of diabetic foot ulcer has principles and aims to help improve the wound resolution process. An important component of diabetic foot ulcer management is local wound care, wound care is carried out to help speed up the treatment process. One part of treatment for diabetic foot ulcer is wound cleansing. The purpose of this study was to study the effect of the wound washing effect between irrigation and swabbing on the response of vascularity and bacterial colonization in diabetic foot ulcer. Method: This research is a quantitative study with an experimental design, with a cross-over design. Research respondents were 17 diabetic foot ulcer patients who were treated in hospitals and wound care clinics. Wound cleansing between irrigation and swabbing were carried out alternately at the same respondent at different times to 17 respondents. The bacterial colonization count by examination of bacterial culture. Results: there was no difference in effect between the two cleansing technique on the vascularization response with a value of p = 0.231, and there were differences in the effect between the two wound cleansing techniques on bacterial colonization with p = 0.001, while irrigation was more effective in the number of bacteria (p = 0, 01; average difference = -24,296,688). Conclusion: Irrigation techniques are more effective in reducing bacteria than swabbing techniques. Nevertheless, both of these techniques can be used in washing diabetic foot wounds Key word : Irrigation, Swabbing, bacterial colonization, DFU
Perbandingan Kadar Laktat Antara Propofol-Fentanil dengan Isofluran-Fentanil Pada Operasi Kraniotomi Cedera Otak Sedang; Harsakti Rasyid; Husni Tanra; Syafruddin Gaus; Ilhamjaya P
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.078 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6571

Abstract

Latar Belakang : Cedera otak menimbulkan gangguan beberapa sistem tubuh dan sering menyebabkan iskemia. Laktat terbentuk dari metabolisme anaerob glukosa otak akibat kurangnya oksigen.Tujuan : Membandingkan kadar laktat antara propofol-fentanil dengan isofluran-fentanil pada operasi kraniotomi cedera kepala sedang.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental secara acak tersamar tunggal terhadap 42 pasien yang menjalani prosedur kraniotomi cedera kepala sedang. Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok, kelompok pertama mendapat pemeliharaan anestesi propofol 6 mg/kgBB/jam dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam (n=21), sementara kelompok kedua mendapat pemeliharaan isofluran 1 vol% dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam (n=21). Dilakukan pemeriksaan kadar laktat vena pra bedah, setelah intubasi, setelah kraniotomi, dan setelah ekstubasi. Data diuji berdasarkan Shapiro Wilk, bila distribusi data normal diuji dengan independent T test dan bila distribusi tidak normal dilakukan transformasi data dengan fungsi log. Tingkat kepercayaan 95% dengan kemaknaan p<0,05.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan kadar laktat pada pemeliharaan anestesi propofol 6 mg/kgBB/jam dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam lebih rendah setelah intubasi, setelah kraniotomi, dan setelah ekstubasi dan secara statistik bermakna (p<0,05) dsbanding pemeliharaan isofluran 1 vol% dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam.Kesimpulan : Kadar laktat pada operasi kraniotomi cedera otak sedang dengan pemeliharaan anestesi propofol-fentanil lebih rendah dibanding kadar laktat  dengan pemeliharaan anestesi isofluran-fentanil. Propofol dan fentanil dapat dijadikan pemeliharaan anestesi bedah saraf traumatik.
Perbandingan Efek Pemberian Ketamin 0,15 Mg/Kgbb Iv Prainsisi dan Ketamin 0,15 Mg/Kgbb Iv Pascabedah terhadap Kebutuhan Analgesik Morfin Pascabedah pada Pasien Operasi Ortopedi Ekstremitas Bawah Asyikun Nasyid Room; Andi Husni Tanra; Muhammad Ramli Ahmad; Syafri Kamsul Arif; Ilhamjaya Ilhamjaya
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.695 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6647

Abstract

Latar Belakang : Ketamin telah digunakan sebagai analgesia perioperatif sejak lama. Namun cara pemberian yang efektif masih belum jelas.Tujuan : membandingkan efek pemberian ketamin prainsisi, selama operasi dan 24 jam pascabedah dengan pemberian ketamin selama 24 jam pascabedah terhadap kebutuhan morfin pascabedah.Metode : Penelitian ini merupakan uji tersamar acak ganda. Total sampel 50 dibagi dalam 2 kelompok pasien dengan operasi ortopedi ekstremitas bawah dengan anestesi spinal. Kelompok pertama, mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV prainsisi + 0,1 mg/kg/jam selama operasi dan 24 jam pascabedah.  Kelompok kedua mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV pascabedah + 0,1 mg/kg/jam selama 24 jam pascabedah. Kedua kelompok mendapatkan analgesia pascabedah morfin via patient-controlled analgesia dengan loading dose 2 mg, bolus dose 1 mg dan lockout interval 7 menit. Jangka waktu pemberian morfin pertama pascabedah dihitung dari akhir operasi hingga saat pemberian morfin loading dose atas permintaan pasien; konsumsi morfin pascabedah dihitung dalam 24 jam.Hasil : Tidak ada perbedaan yang bermakna di antara kedua kelompok baik dalam waktu pemberian analgesik pertama (p=0,055) maupun konsumsi morfin dalam 24 jam (p=0,351).Simpulan : Ketamin tidak memiliki efek analgesia preventif pada pasien yang menjalani anestesi spinal.
Risk Assessment in Hereditary Colorectal Cancer Family by Using APC and MSH2 mRNA Gene Expression and Bayesian Analysis Tjahjadi Robert Tedjasaputra; Mochammad Hatta; Muhammad Nasrum Massi; Rosdiana Natzir; Ilhamjaya Patellongi; Marcellus Simadibrata; Ibrahim Labeda; Rina Masadah; Muhammad Luthfi Parewangi; Prihantono Prihantono; Andi Asadul Islam; Agussalim Bukhari; Budu Budu; Rinda Nariswati
The Indonesian Biomedical Journal Vol 12, No 4 (2020)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v12i4.1329

Abstract

BACKGROUND: Some of colorectal cancers (CRCs) are familial, however, heterozygote relatives have approximately 80% lifetime risk of cancer. Risk assessment of CRC’s family could be calculated by direct measurement of mRNA gene expression and Bayesian theorem which is modifying initial background of pedigree risk with additional conditional information. This application has not been reported.METHODS: The cross-sectional translational sequential studies were performed: (1) adenomatous polyposis coli (APC) and MutS homolog (MSH)2 mRNA quantitative RT PCR gene expressions in tissue and whole blood CRC patients; (2) gene expression was determined in matched controls; and (3) pedigree and Bayesian analysis was calculated in the patient’s family of Proband.RESULTS: Fourty CRC and 31 control subjects were enrolled. The mean blood APC level control’s group was 13,261±670 fold-change (fc) and blood MSH2 level was 12,219±756 fc. The cut-off points for hereditary APC was 12,195 fc and MSH2 was 11,059 fc. The mean APC blood level in CRC subject was 11,578±2,638 fc and MSH2 blood level was 11,411±2,912 fc. There were significant differences APC and MSH level between tissue and blood level in CRC. Eight of 40 CRC subjects had a history of familial CRC. Four patients and 10 Probands were available for recurrence risk evaluation of pedigree analysis, RNA PCR quantitative and Bayesian calculation.CONCLUSION: There was determined a cut-off point of hereditary mRNA quantitative expression. The APC and MSH2 levels in CRC subjects were significantly lower than controls. Bayesian analysis allowed for the calculation of relative risk in CRC family members and considered in clinical practice.KEYWORDS: hereditary CRC, APC gene, MSH gene, Bayesian analysis
EFEK EKSTRAK ETHANOL DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) TERHADAP PROTEKSI FUNGSI HATI DAN HISTOPATOLOGI TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) YANG DIINDUKSI KARBONTETRAKLORIDA (CCL4) Siti Hardiyanti Nawir; Peter Kabo; Ilhamjaya Pattelongi
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 21 No. 1 (2021): ECOSYSTEM Vol. 21 No 1, Januari - April Tahun 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/eco.v21i1.702

Abstract

Abstrak Kerusakan hati menjadi salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi khususnya di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya efek ekstrak ethanol daun kelor (Moringa oleifera) terhadap proteksi fungsi hati dan histopatologi tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi karbontetraklorida (ccl4). serta menentukan dosis efektif dari kombinasi tersebut. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium menggunakan metode eksperimen dengan desain post test only control group pada tikus wistar. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif (ekstrak kurkuma), kontrol pembanding (NaCMC 1%) dan 3 kelompok pemberian ekstrak dengan 3 variasi dosis masing-masing 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB. Dilakukan pengamatan terhadap uji profil kimia darah yang meliputi SGOT dan SGPT serta dilanjutkan dengan uji histopatologi. Hasil menunjukkan bahwa adanya perbedaan perubahan hasil pengukuran darah fungsi hati (SGOT dan SGPT) antar kelompok selama 8 hari. Hasil menunjukkan bahwa adanya perbedaan perubahan hasil pengukuran profil kimia darah antar kelompok selama perlakuan. Berdasarkan hasil uji one way ANOVA pada pengukuran SGOT dan SGPT terdapat hasil tes bermakna (P<0,05). Hasil uji histopatologi menunjukkan bahwa terdapat perbaikan fungsi dan struktur hati pada kelompok pemberian ekstrak etanol daun kelor. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera) memiliki kemampuan sebagai hepatoprotektor terhadap fungsi hati pada dosis 750 mg/kgBB. Abstract Liver damage is one of the diseases with high prevalence especially in developing countries. This study aims to see the effect of ethanol extract of Moringa oleifera leaves on liver function protection and histopathology of white rat (Rattus norvegicus) induced by carbontetrachloride (CCl4). and determine the effective dose of the combination. This research was conducted experimentally using a laboratory experimental method with a post test only control group design in wistar rats. Rats were divided into 5 groups, namely the positive control group (curkuma extract), comparative control (NaCMC 1%) and 3 groups giving extracts with 3 variations of each dose of 250 mg / kgBB, 500 mg / kgBB and 750 mg / kgBB. Observations were made on the blood chemistry profile test which included SGOT and SGPT and continued with histopathological testing. The results showed that there were differences in changes in the results of liver function blood measurements (SGOT and SGPT) between groups for 8 days. The results showed that there were differences in changes in the measurement results of blood chemistry profiles between groups during treatment. Based on the results of the one way ANOVA test on SGOT and SGPT measurements there were significant test results (P <0.05). The results of histopathological tests showed that there was an improvement in liver function and structure in the group given ethanol extract of kelor leaves. It can be concluded that the ethanol extract of Moringa oleifera leaves has the ability as a hepatoprotector of liver function at a dose of 750 mg / kgBB.
Compliance Level of Supportive Care Needs Among Breast Cancer Survivor at Ibnu Sina Hospital Makassar Muh. Zukri Malik; Kusrini Kadar; Ilhamjaya Patellongi
Indonesian Contemporary Nursing Journal Volume 1 No. 2 Februari 2017
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.082 KB) | DOI: 10.20956/icon.v1i2.3447

Abstract

Introduction: Survivor breast cancer who underwent supportive care have many unmet needs, they are also many reported having a poor quality of life. This study aims to assess and describe the level of fulfillment of supportive care breast cancer survivors. Method: This study used quantitative method with descriptive analytic approach. The number  of sample were  40 people came from the chemotherapy room and  and surgical treatment room of Ibnu Sina Hospital of Makassar, in the period of July 2016. The data were collected through  questionnaire of  Supportive Care Needs Survey Short Form 34 (SCNS-SF34) to assess the level of supportive care  survivors of breast cancer patients. Result: The results indicate that from  5 domains which need of  supportive care,there are  three domainsnot meeting the needs, namelypsychological,  information systems and health, and the third is support and care needs. While the fulfilled needs are physical, daily activities and sexual need. There are 80% of breast cancer survivors undergoing bad life quality and only 20%  undergo  good quality of life. Conclucion: The fulfilment level of supportive care survivors of   breast cancer needs generally are not met, the highest needfound is psychological need domain.
ANALISIS MALONDIALDEHYDE (MDA) DAN SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSMINASE (SGPT) SETELAH BERSEPEDA 30 KM Asih Luklu Susiati; Ilhamjaya Patellongi; Mushawwir Taiyeb
JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN Vol 22, No 1 (2023): JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN
Publisher : Fakultas Ilmu Keolahragaan Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jik.v22i1.45213

Abstract

Bersepeda membuat radikal bebas meningkat sehingga kadar antioksidan berubah menyebabkan kadar Malondialdehid (MDA) dan Serum Glutamic Pyruvic Transminase (SGPT) meningkat sehingga berimplikasi pada kondisi patologi kerusakan sel. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur dan kecepatan rata-rata terhadap perubahan MDA dan SGPT pada pesepeda. Penelitian ini pra-eksperimental, desain penelitian one group pretest-posttest design. Jumlah sampel dibagi menjadi 15 orang umur 30-45 dan 15 orang umur 46-60 yang memenuhi kriteria inklusi. Rerata kadar MDA kelompok umur 30-45 pretest 448,72, pada posttest 571,69 sedangkan rerata kadar SGPT pretest 20,13 posttest 25,60. Rerata kadar MDA kelompok umur 46-60 pretest 369,07, pada posttest 590,33 sedangkan rerata kadar SGPT pretest 18,80 sedangkan posttest 25,53. Hasil penelitian ada perbedaan kadar MDA dan SGPT antara sesudah bersepeda 30 km lebih tinggi secara signifikan dibanding sebelum bersepeda. Kadar MDA dan SGPT secara signifikan lebh tinggi sebelum bersepeda 30 km dibandingkan setelah bersepeda 30 km dengan kecepatan rata-rata pesepeda >20 km/jam.
PENGARUH BERSEPEDA SEJAUH 30 KILOMETER TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) DAN MALONDIALDEHID Siti Rabiatul Adawiyah; Ilhamjaya Patellongi; A. Mushawwir Taiyeb; Asih Luklu Susiati
JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN Vol 22, No 1 (2023): JURNAL ILMU KEOLAHRAGAAN
Publisher : Fakultas Ilmu Keolahragaan Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jik.v22i1.45192

Abstract

Bersepeda merupakan jenis olahraga aerobik. Semakin jauh jarak tempuh dan kecepatan bersepeda, aktivitas mitokondria menjadi meningkat untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh, juga dapat memicu stres oksidatif jaringan sehingga menghasilkan radikal bebas yang ditandai peningkatan Malondialdehid (MDA) dan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase  (SGOT) dalam darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bersepeda 30 kilometer terhadap perubahan kadar MDA dan SGOT. Metode penelitian yang digunakan pra-eksperimental dan one group pretest-posttest design . Populasi adalah komunitas sepeda Makassar, berjumlah 30  orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 pesepeda umur 35-40 tahun dan kelompok 2 umur 45-60. Hasil penelitian terdapat peningkatan kadar MDA serum dan SGOT pada kedua kelompok. Kelompok 1(MDA=122,96 ng/ml, SGOT=6,26µ/l) dan kelompok 2 (MDA=221,26 ng/ml, SGOT= 6,86µ/l). Terdapat peningkatan yang signifikan pada kadar SGOT dan MDA serum setelah bersepeda sejauh 30km dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap peningkatan kadar SGOT antara kedua kelompok usia.
PERBANDINGAN EFEK ANTARA IRRIGATION DAN SWABBING TERHADAP KOLONISASI BAKTERI PADA LUKA KAKI DIABETIK : CROSS OVER Musdalifah Musdalifah; Ilhamjaya Patellongi; Saldy Yusuf
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Karya Husada Yogyakarta
Publisher : Jurnal Kesehatan Karya Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v8i1.370

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Manajemen luka kaki diabetik memiliki prinsip dan tujuan untuk membantu mempercepat terjadinya proses penutupan luka. Komponen penting dari manajemen luka kaki diabetik salah satunya yakni perawatan luka lokal, perawatan luka dilakukan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. Salah satu bagian dari perawatan luka kaki diabetik adalah pencucian luka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efek tekhnik pencucian luka antara irrigation dan swabbing terhadap respon vaskularisasi dan kolonisasi bakteri pada luka kaki diabetik. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan experimental design, dengan rancangan cross over. Responden penelitian sebanyak 17 pasien luka kaki diabetik yang melakukan perawatan di rumah sakit dan klinik perawatan luka. Pencucian luka antara tekhnik irrigation dan swabbing dilakukan bergantian pada responden yang sama di waktu yang berbeda pada 17 responden. Kolonisasi bakteri dihitung dengan pemeriksaan kultur bakteri. Hasil : tidak terdapat perbedaan efek antara kedua tekhnik pencucian luka terhadap respon vaskularisasi dengan nilai p = 0.231, dan terdapat perbedaan efek antara kedua tekhnik pencucian luka terhadap kolonisasi bakteri dengan p = 0.001, dimana irrigation lebih efektif dalam menurunkan jumlah bakteri (p = 0.01 ; mean difference = -24.296.688). Kesimpulan : Tekhnik Irrigation lebih efektif dalam mereduksi bakteri dibandingkan tekhnik swabbing. Meskipun demikian, kedua tekhnik ini tetap dapat digunakan dalam pencucian luka kaki diabetik. Kata kunci : Irrigation, Swabbing, Kolonisasi Bakteri, Luka Kaki Diabetik ABSTRACT Background: Management of diabetic foot ulcer has principles and aims to help improve the wound resolution process. An important component of diabetic foot ulcer management is local wound care, wound care is carried out to help speed up the treatment process. One part of treatment for diabetic foot ulcer is wound cleansing. The purpose of this study was to study the effect of the wound washing effect between irrigation and swabbing on the response of vascularity and bacterial colonization in diabetic foot ulcer. Method: This research is a quantitative study with an experimental design, with a cross-over design. Research respondents were 17 diabetic foot ulcer patients who were treated in hospitals and wound care clinics. Wound cleansing between irrigation and swabbing were carried out alternately at the same respondent at different times to 17 respondents. The bacterial colonization count by examination of bacterial culture. Results: there was no difference in effect between the two cleansing technique on the vascularization response with a value of p = 0.231, and there were differences in the effect between the two wound cleansing techniques on bacterial colonization with p = 0.001, while irrigation was more effective in the number of bacteria (p = 0, 01; average difference = -24,296,688). Conclusion: Irrigation techniques are more effective in reducing bacteria than swabbing techniques. Nevertheless, both of these techniques can be used in washing diabetic foot wounds Key word : Irrigation, Swabbing, bacterial colonization, DFU
ISOLASI METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) DARI NARES ANTERIOR PASIEN PRE-OPERASI ORTOPEDI Ilhamjaya, Andi Meutiah; Sjahril, Rizalinda; Johan, Muhammad Phetrus; Rasita, Yoeke Dewi; Mochammad Hatta; Andi Alfian Zainuddin; Patellongi, Ilhamjaya; Arden, Ferdinand
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 3 (2023): December
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v5i3.140

Abstract

Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dapat menyebabkan infeksi yang didapat di rumah sakit (HA-MRSA) atau yang didapat di masyarakat (CA-MRSA). Dengan dampak morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, ketersediaan deteksi cepat masih belum memadai di beberapa fasilitas laboratorium di Indonesia. Seringkali, membutuhkan waktu lebih dari 48 hingga 72 jam untuk mengidentifikasi MRSA di laboratorium. Oleh karena itu, deteksi cepat menggunakan metode alternatif sangatdiperlukan untuk mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasinya. Semakin cepat teridentifikasi saat skrining nares anterior pada pasien pre operasi ortopedi, maka semakin cepat pula tindakan pencegahan maupun pengendalian infeksi yang dapat dilakukan di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional study. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel swab nares anterior pasien rencana bedah ortopedi di RSUP Dr. WahidinSudirohusodo dan RS Universitas Hasanuddin Makassar menggunakan medium transport Amies gel agar. Setelah itu dilakukan inokulasi langsung ke media CHROMOGENIC AGAR MRSA, hasil identifikasi dapat diketahui segera setelah 18-24 jam inkubasi pada media tersebut. Hasil penelitian menunjukkan dari 184 sampel yang diperoleh, proporsi temuan karier MRSA dari swab nares anterior pasien pre-operasi ortopedi di RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar adalah 66 pasien (38.4%), dan 8 pasien (4.6%) MSSA, sedangkan 98 pasien (57%)terdeteksi non aureus. Adapun karakteristik pasien yang mempunyai hubungan bermakna dengan temuan MRSA pada swab nares anterior pasien pre-operasi ortopedi yaitu karakteristik administrasi, riwayat rawat inap RS 3 bulan sebelumnya, dan riwayat pengunaan antibiotik 6 bulan terakhir (p value :0.001; 0.015; 0.002). Hasil penelitian disimpulkan bahwa pemanfaatan media CHROMOGENIC AGAR MRSA sebagai salah satu metodekultur untuk skrining MRSA pada nares anterior pasien pre-operasi ortopedi dapat menjadi pilihan yang efektifdan efisien dalam aplikasi klinis di lingkungan Rumah Sakit. Hal ini mengurangi penggunaan banyak bahan dilaboratorium, memudahkan dalam identifikasi langsung koloni oleh karena kekhasan koloni MRSA padamedia CHROMOGENIC AGAR, serta mempersingkat waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi MRSApada pasien, sehingga dapat memudahkan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran MRSA dilingkungan Rumah Sakit, membantu mengurangi lama rawat inap pasien maupun mengurangi kemungkinanpenggunaan antibiotik jangka panjang pada pasien.