Claim Missing Document
Check
Articles

PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP EKSPLOITASI WILAYAH DOMESTIK PESOHOR DALAM TALKSHOW HITAM PUTIH Destika Fajarsylva Anggraini; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.025 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren program yang berlangsung. Begitu beraneka ragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah talkshow.Hitam Putih adalah salah satu program dari talkshow. Tayangan tersebut sangat menarik untuk di teliti, karena Hitam Putih mengandung format mind reading. Mind reading merupakan format membaca pikiran sehingga bintang tamu akan dibuat tidak berdaya ketika “dicecar” pertanyaan oleh pembawa acara Deddy Corbuzier yang memaksa mereka memaparkan kehidupan pribadinya tanpa disadari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens tentang tayangan Hitam Putih. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding tayangan Hitam Putih.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang memaknai tayangan Hitam Putih sesuai dengan preffered reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai tayangan ini dari dua sisi, yaitu menganggap bahwa tayangan ini tidak etis dan menganggap tayangan ini adalah tayangan yang memotivasi serta memberikan
Komodifikasi Keluarga Ustadz Jefri Al Buchori Dalam Tayangan Infotainment Sri Nofidiyahwati; Dr. Sunarto; Adi Nugroho; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.005 KB)

Abstract

Pasca Ustadz Jefri Al Buchori meninggal dunia, infotainment memanfaatkan kesedihan yang melanda keluarga Ustadz Jefri Al Buchori sebagai sebuah komoditas berita. Infotainment secara cerdas menyulap tragedi kehidupan selebriti menjadi bagian bisnis mereka, sehingga hal apa pun dapat diubah menjadi komoditas yang layak tonton dengan mengalami komodifikasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan komodifikasi isi yang terjadi pada keluarga Ustadz Jefri Al Buchori dalam tayangan infotainment beserta ideologi yang dominan di belakangnya. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori ekonomi politik media dalam paradigma kritis melalui metode analisis wacana model Teun Van Dijk. Subjek penelitian ini adalah tayangan infotainment Cek&Ricek, penulis naskah dan redaksi Cek&Ricek, serta pengamat media infotainment. Berdasarakan temuan penelitian, komodifikasi isi terkait pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori berupa dramatisasi dan serialisasi. Dramatisasi berupa munculnya gambar-gambar istri dari Ustadz Jefri Al Buchori yang masih dirudung duka yang ditandai dengan tetesan air mata, selain itu dramatisasi bisa diciptakan dari naskah, yaitu dengan memainkan dramaturgi. Sedangkan serialisasi, tayangan Cek&Ricek menampilkan pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buhori dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Ideologi yang melatarbelakangi tayangan ini dikarenakan adanya sistem rating dalam dunia pertelevisian. Rating menjadi barometer untuk kesuksesan sebuah program televisi. Terbukti dengan adanya kenaikan rating dalam tayangan Cek&Ricekketika memberitakan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori, jumlah pendapatan iklan yang diperoleh pihak stasiun televisi juga bertambah.Kata Kunci : Komodifikasi, Kapitalisme, Infotainment
Akomodasi Komunikasi Antarbudaya (Etnis Jawa Dengan Etnis Minang) Nadila Opi Prathita Sari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.292 KB)

Abstract

Different cultural values can cause several problems during the interaction process. The case raised was the interaction of the Minang and Javanese ethnic groups. Ethnic Minang who studied in Semarang opened intercultural meetings, especially with host culture. The values and norms of Minang and Javanese cultural backgrounds have conflicting differences, which can even cause problems that lead to conflict. This study aims to find out what are the obstacles experienced when interacting and the forms of efforts made by strangers and host culture in accommodating each other. This study uses a phenomenological approach that is used to understand a phenomenon based on the perspective of the informant, this is related to the ongoing interaction between ethnic Minang and Javanese with the main focus of accommodation with each other. The theory used is the Theory of Communication Accommodation and Interaction Adaptation Theory which serves to explain the constraints and forms of accommodation efforts undertaken by ethnic Minang and Javanese. In this study used in-depth interview techniques that were used to four informants with a Minang cultural background and four informants with a Javanese cultural background. The results of the study are the constraints of interaction experienced by Javanese ethnic informants and Minang ethnic informants on speech style, differences in cultural values, and lack of information and knowledge about the culture of the other person. Accommodation efforts carried out by each ethnic Minang individual are diverse, some are converging and divergent. In addition, ethnic Javanese individuals also make accommodations by asking for help from a third person or friend to help him communicate with strangers.
HUBUNGAN ANTARA TERPAAN BERITA KASUS NARKOBA PESOHOR DENGAN CITRA PESOHOR DI MASYARAKAT Febrian Aditya Putra; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.904 KB)

Abstract

HUBUNGAN ANTARA TERPAAN BERITA KASUSNARKOBA PESOHOR DENGAN CITRA PESOHOR DIMASYARAKATJurnal LatpenPENDAHULUANPesohor sering sekali kita lihat di media massa, khususnya televisi dimanapada akhir-akhir ini televisi adalah sebuah media hiburan termudah, termurahyang bias dijangkau oleh banyak masyarakat. Besarnya kebutuhan masyarakatakan informasi dan hiburan pada media televisi memunculkan beberapa jenisprogram televise baru yang menampilkan sosok pesohor idola dan kehidupanpribadinya diluar pekerjaan seakan masyarakat dibawa lebih deakat dengankehidupan pesohor melalui beberapa program pemberitaan di televisi.Kemasan pemberitaan tentang pesohor sering menjadi komoditas utamatelevisi mengingat banyaknya stasiun televisi yang berlomba untuk memilikiprogram yang sama. Infotainment menampilkan sosok pesohor dalam sudutpandang yang lebih dekat, dan menampilkan apa yang belum pernah dilihatmasyarakat tentang idolanya tersebut. Hal ini berpotensi memunculkan prosesgatekeeping pada masyarakat pada saat menerima informasi. Baik informasi yangbaik atau yang buruk dari pesohor idolanya. Pembentukan citra dan stereotipdapat sangat mudah terjadi bila tayangan pemberitaan pesohor tersebut dilakukansecara berulang-ulang. Walaupun terbentuknya citra tidak dapat diukur secarakasat mata karena adanya faktor dan pengalaman yang berbeda, menjadikanpembentukan citra antar khalayak tidak sama.Belakangan ini kabar tentang pesohor yang terlibat kasus narkoba bukansebuah hal yang baru mengingat televisi beberapa kali menayangkan berita yangserupa. Padahal seharusnya pesohor selalu memberi pengaruh baik kepadamasyarakat untuk menjauhi narkoba karena pesohor memiliki kecenderungandijadikan panutan oleh sebagian masyarakat khusunya penggemar. Yangmemilukan, liputan 6 SCTV 27 Jan 2013 memberitakan bahwa BNN menangkap17 orang di rumah artis Raffi Ahmad satu diantaranya anggota legislatif, dan 3sebagai artis, sedangkan 13 lainnya adalah kawan artis pemilik rumah(sumber:liputan6SCTV)Televisi merupakan salah satu media massa, yang paling dekat denganmasyarakat. Memiliki jaringan yang kuat untuk menyampaikan informasi dengancepat dan memiliki jangkauan yang luas. Selain hal tersebut, televisi memilikipengaruh yang lebih besar dibanding media massa seperti koran dan radio. Beritakasus narkoba pada pesohor yang diangkat oleh infotainment, disiarkan secaralugas dan transparan melalui televisi. Sehingga masyarakat mampu mengetahuikasus narkoba yang dialami pesohor, dengan mudah dan gamblang. Terhitungantara tahun 2005 hingga sekarang, kurang lebih sebelas kasus narkoba yangdialami beberapa pesohor di Indonesia dimana setiap kasusnya dibahas padasetiap acara infotainment yang menbahas secara terus menerus pada jadwalmasing masing saluran televisi.Permasalahannya apakah setelah muncul pemberitaan kasus narkoba parapesohor yag ditayangkan secara terus menerus, akan mempengaruhi citra pesohordi masyarakat. Penelitian ini, mengkaji hubungan antara terpaan berita kasusnarkoba pada masyarakat dengan citra pesohor yang di bentuk oleh masyarakat.PEMBAHASANPesohor sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat, sebagai inspiratordan penghibur. Kehidupan Pesohor semakin mendapat perhatian dari khalayakdengan adanya infotainment. Beberapa kali pesohor diberitakan tersangkut kasusyang melibatkan narkoba dan obat-obatan terlarang, sedangkan pesohormerupakan sosok yang banyak ditiru oleh penggemar ataupun pemirsa televisi.Media massa memiliki pengaruh besar kepada khalayak, mampu mempengaruhipemikiran, sikap dan perilaku khalayak. Penelitian ini diinspirasi oleh kutipandalam buku Jalaluddin Rahmat: “informasi itu dapat membentuk,mempertahankan atau meredefinisikan citra” (Rakhmat, 2005: 224). Penelitian inimencari tahu dan membahas hubungan dari pemberitaan kasus narkoba pesohordan citra pesohor di masyarakat.Hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungannegatif antara terpaan pemberitaan kasus narkoba pesohor (X) dengan variabelcitra pesohor di masyarakat (Y). Artinya, semakin tinggi terpaan pemberitaankasus narkoba pesohor di televisi maka citra masyarakat mengenai pesohor akancenderung mengarah ke arah negatif..Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkanbahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terusmenguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theorymenyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media, karena sudah kemana-mana, atau pesan media (McQuail, 2011: 216). Di sini teori tersebut terlihatdimana pertama, media membentuk formasi sosial dan sejarah dengan menyusunrealita (dalam fiksi maupun berita) dengan cara yang terprediksi dan terpola. Lalukedua khalayak membentuk sendiri pandangan mereka tentang realita sosial dankedudukan mereka di dalamnya, pada interaksi dengan konstruksi simbolik yangditawarkan media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan hubunganantara terpaan pemberitaan kasus narkoba pesohor di televisi dengan citramasyarakat mengenai pesohor. Tidak adanya kecenderungan hubungan antarakedua variabel tersebut, disebabkan oleh berbagai hal. Salah satu penyebabnyaadalah bahwa citra tidak hanya dibentuk berdasarkan faktor tunggal yang dominanTidak adanya hubungan dari kedua variabel disebabkan oleh berbagai hal,antara lain: Informasi yang diterima masyarakat tentang kasus narkoba pesohor tidak sertamerta memengaruhi citra pesohor yang dibentuk masyarakat. Masyarakat membentuk citra pesohor berdasarkan nilai-nilai yang melekat padacitra pesohor, yakni: gaya hidup pesohor,tutur kata dan penampilan pesohor. Banyak prestasi dan keunggulan yang dimiliki pesohor, sehingga membuat citrayang baik pada pesohor.Citra adalah dunia menurut persepsi kita (Rakhmat, 2005: 223).Informasi yang diterima masyarakat tentang kasus narkoba pesohor merupakansalah satu bentuk dari realita pesohor yang selanjutnya dipahami masyarakat. Darihasil kuesioner dan pengolahan data dapat ditemukan bahwa adanya pemahamanmasyarakat yang cukup baik tentang citra pesohor. citra pesohor di masyarakattergolong cukup baik. Hal tersebut ditandai melalui pandangan masyarakat pada,penampilan, gaya hidup dan tutur kata pesohor yang cukup baikPENUTUPPenelitian ini berangkat dari kutipan dalam buku Jalaluddin Rakhmat, yangmengatakan bahwa: “Buat khalayak, informasi itu dapat membentuk,mempertahankan atau meredefinisikan citra”. (Rakhmat, 2005: 224). Sehinggapenelitian ini mencoba membuktikan apakah informasi tentang kasus narkobayang dialami peshor mampu membentuk, mempertahankan atau meredefinisikancitra pesohor. Setelah dilakukan penelitian dengan melakukan wawancara pada 95responden menggunakan instrumen kuesioner, ternyata menunjukkan hasil bahwainformasi tentang kasus narkoba pesohor tidak secara langsung mempengaruhicitra pesohor di masyarakat.Dalam Penelitian ini, citra pesohor di masyarakat ditandai oleh responden melaluipandangan pada, penampilan, gaya hidup dan tutur kata pesohor yang cukup baik,dimana responden mewakili 4 kategori terpaan pemberitaan kasus narkobapesohor yang ditentukan. Terpaan berita kasus narkoba pesohor yang sangattinggi, cukup tinggi, kurang tinggi dan rendah, dengan jumlah masing – masingkategori yang tidak terlalu jauh atau timpang. Dan akhirnya dapat diketahuibahwa citra pesohor di masyarakat tergolong cukup baik. Hal tersebut ditandaimelalui pandangan masyarakat pada, penampilan, gaya hidup dan tutur katapesohor yang cukup baik.DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Ang, Ien. 1990. The Nature of the Audience. Dalam Downing, John, Ali Mohammadi,Annabelle Sreberny-Mohammadi [eds]. Questioning The Media: A CriticalIntroduction. California: SAGE Publication Inc.Barker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta: KreasiWacana.Blake, Marc.2005. How to be a Comedy Writer. Great Britain: Summersdale PublishersLtd.Helitzer, Melvin. 2005.Comedy Writing Secrets. Ohio: F+W Publications, Inc.Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
MEMAHAMI ANTILOKUSI PADA POLISI Alifati Hanifah; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.568 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pemberitaan di media massa dan informasi negatif mengenai perilaku buruk polisi di masyarakat. Pemberitaan tersebut membuat masyarakat memiliki persepsi dan stereotip negatif dan munculnya prasangka terhadap polisi. Ekspresi prasangka terhadap polisi seringkali ditemui dalam taraf antilokusi, yaitu ekspresi menggunjingkan perilaku buruk polisi, dan menyebabkan komunikasi polisi dengan lingkungan sosial tempat tinggalnya menjadi terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana munculnya prasangka terhadap polisi dan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengelola prasangka tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Peneliti menggunakan konsep persepsi dan stereotip untuk menjelaskan munculnya prasangka terhadap polisi, dan konsep lima ekspresi prasangka untuk menjelaskan ekspresi prasangka terhadap polisi yang seringkali ditemui di masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah metode fenomenologi dari Van Kaam. Informan penelitian berasal dari anggota polisi dan masyarakat umum, yang sekaligus merupakan tetangga informan polisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka terhadap polisi tidak selalu disebabkan oleh persepsi dan stereotip negatif yang dimiliki seseorang. Hal tersebut disebabkan adanya faktor lain yang menyebabkan munculnya prasangka yaitu lingkungan budaya informan yang merupakan lingkungan budaya konteks tinggi (high context cultural). High context cultural menjelaskan bahwa anggota budaya ini menggunakan latar belakang sosial untuk menilai seseorang, sehingga prasangka lebih mudah muncul dalam kelompok budaya ini. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa komunikasi untuk mengelola hanya dilakukan oleh informan polisi dikarenakan informan polisi memiliki kepentingan dan tujuan untuk mengurangi prasangka terhadap institusinya. Informan polisi menggunakan pesan verbal dan nonverbal untuk melakukan komunikasi tersebut. Cara yang digunakan informan merupakan ciri khas komunikasi yang dilakukan anggota budaya konteks tinggi. Keyword: Prasangka, Antilokusi dan Budaya konteks tinggi
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPING DALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADA RESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANG Theresia Karo Karo; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.152 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGABSTRAKKomunikasi persuasi adalah suatu proses memengaruhi sikap, pendapat danperilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan menggunakankata-kata lisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, dan perilaku orang lain melalui transmisi pesan. Pada programrehabilitasi sosial terhadap wanita pekerja seks (WPS) di Resosialisasi Argorejo KotaSemarang, pendamping berperan untuk mempengaruhi motivasi WPS dalammengembalikan perannya di masyarakat dengan beralih pekerjaan.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengalaman unik pendampingdari pihak Resosialisasi Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga Kota Semarang,dan PKBI Griya ASA Kota Semarang terhadap WPS mengenai komunikasi persuasi yangdilakukan dalam komunikasi antarpribadi dan kelompok dengan pendekatan insentif.Konsep diri WPS akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal ini diperjelas denganpendekatan insentif dalam Teori Respons kognitif dan pendekatan nilai-ekspetansi. Teoriini menjelaskan bahwa seseorang mengambil sikap yang memberikan keuntungan lebihbesar.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pendamping dan WPSmelakukan pendekatan awal secara individual dan dalam kelompok. Hal inimempengaruhi tingkat kedekatan, keterbukaan dan kepercayaan WPS terhadappendamping. Ketika WPS mampu untuk memaknai pesan, perilaku yang ditunjukkanakan sesuai dengan tujuan program rehabilitasi sosial. WPS juga akan memahami bahwaberalih pekerjaan akan memberikan kesempatan yang lebih baik lagi dalam menjalankanperannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni dengan mematuhi aturan, norma dannilai yang berlaku di masyarakat.Kata kunci : Persuasi, Rehabilitasi, WPSUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OF PERSUASIONIN A SOCIAL REHABILITATION PROGRAMME TO ACCOMPANYINGWOMEN SEX WORKERS ON RESOCIALIZATION ARGOREJO SEMARANGABSTRACTPersuasion is a process influenced by the attitudes, opinions, and behaviors of others,both verbal and nonverbal. By using the words spoken and written, instilling a newopinion and effort consciously changing the attitudes, beliefs, and behavior of otherthrough transmission of the message. On the social rehabilitation of women sex workers(WSW) in Semarang City, Resocialization Argorejo escort role to influence motivation inreturn for her role in the community by switching jobs.This research uses qualitative descriptive study type with the approach of thePhenomenology. This research seeks to explain the unique experience of accompanyingfrom Resocialization Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda and Olahraga Semarang City, andLSM PKBI Griya ASA toward WSW about communication persuasion in interpersonalcommunication and group incentive approach. The concept of self WSW will affectdecision making. This is made clear by the incentive approach in Cognitive ResponseTheory and approach to value-ekspetansi. This theory explains that a person take a stancethat provides greater advantages.Based on the results of the study, suggests that the escort WSW doing the initialapproach, individually and in groups. This affects the level of closeness, openness, andtrust of WSW to escort. When WSW is able to interpret the message, the behavior that isdemonstrated to be in accordance with the purposes of social rehabilitation programmes.WSW will also understand that turning the job will give her a better chance of runningagain in her role as part of the community, namely the compliance with rules, norms, andvalues which prevail in the community.Keywords : Persuasion, Rehabilitation, WSWMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGA. PendahuluanNilai dan aturan yang berlaku di masyarakat merupakan hasil dari budaya. Budayaterbentuk dari kebiasaan manusia dalam mereprentasikan satu hal dan yang lainnya,selanjutnya menjadikannya sebagai patokan di kehidupan selanjutnya. Aturan yangberlaku dalam masyarakat menjadi patokan untuk mengatur tingkah laku dalamberinteraksi. Wanita pekerja seks (WPS) atau lebih dikenal dengan pekerja seks komersial(PSK) adalah wanita yang pekerjaan utamanya sehari-hari memuaskan nafsu seksuallaki-laki atau siapa saja yang sanggup memberikan imbalan tertentu yang biasa berupauang atau benda berharga lainnya (Mudjijono, 2005:16). Hal ini menjadi pemisah antaramasyarakat dan WPS. Pemisahan ini bukan tanpa alasan, WPS merupakan jenis pekerjaanyang sulit diterima oleh masyarakat karena dianggap tidak bermoral dan melanggar aturanyang berlaku di masyarakat.Dalam kebebasan individu terdapat batasan sosial dalam berinteraksi. Norma-normasosial membatasi perilaku individu. Masing-masing individu yang terlibat di dalammasyarakat melalui perilaku yang dipilih secara aktif dan sukarela. Pembentukan sikapsosial dalam masyarakat dinyatakan dengan cara-cara kegiatan yang sama danberulang-ulang terhadap suatu objek sosial, biasanya tidak hanya oleh seseorang tetapijuga oleh orang lain yang sekelompok atau di masyarakat.Alasan yang paling utama dalam bekerja sebagai WPS, seringkali terkait denganmateri. Ketika sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk mempertahankan hidupnya, makajalan pintas ini dianggap setimpal dengan terpenuhinya kebutuhan dasar yang mendesak.Kurangnya pendidikan, keahlian dan pengetahuan akan hal-hal yang bersifat rohanimenjadikan WPS sebagai pilihan untuk mempertahankan hidup, ditambah lagi saat inisangat sulit menemukan pekerjaan dengan pendidikan dan tingkat pengetahuan yangminim.Tingginya jumlah lokalisasi dan semakin meningkatnya jumlah WPS semakinmenunjukkannya ekonomi masyarakat yang semakin kritis. Bekerja sebagai WPSbukanlah pilihan untuk memperoleh materi. Tetapi karena dianggap dapat menghasilkanuang dengan cepat, jumlah yang banyak, dan mudah, membuat mereka memilihpekerjaan ini. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh WPS merupakan dikucilkan olehmasyarakatUntuk membimbing dan mendampingi WPS maka pemerintah bersama-sama denganmasyarakat mengadakan program rehabilitasi sosial, yakni yang bertujuan untukmemasyarakatkan kembali. Tugas ini menjadi tanggung-jawab dalam programKementerian Sosial di Indonesia. Dinsospora Kota Semarang mendapat bagian untukmelaksanakan program rehabilitasi sosial, yang lebih merumuskan pada programpengentasan WPS untuk masa depan.Lokalisasi menjadi salah satu sasaran bagi Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga(Dinsospora) Kota Semarang dengan pengadaan program rehabilitasi sosial. Program inimulai sejak tahun 2009, bekerja sama dengan lokalisasi Sunan Kuning atau yangsekarang berganti nama dengan sebutan Resosialisasi (Resos) Argorejo di Kota Semarangyang diketuai oleh Bapak Suwandi E.P. Rehabilitasi sosial yang diadakan di ResosialisasiArgorejo bekerja sama dengan Dinsospora Kota Semarang, Dinas Kesehatan KotaSemarang, Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan Bina Masyarakat KapolresKota Semarang. Subjek penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yaitu tiga orangpendamping dan dua orang wanita pekerja seks. Tiga orang pendamping terdiri dariKetua Resosialisasi Argorejo Kota Semarang, pekerja lapangan (PL) dari LSM PKBIGriya ASA Kota Semarang dan Kepala Bidang Penyandang Masalah KesejahteraanSosial (PMKS) Dinsospora Kota Semarang. Ketiganya dengan latar belakang yangberbeda tetapi memiliki tujuan yang sama dalam program rehabilitasi sosial. Beberapateori yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya komunikasi persuasi, untukmengetahui proses dan strategi komunikasi yang terjadi antara pendamping dan WPSdalam pengambilan keputusan yang baru. Selain itu juga digunakan pendekatan insentif,Teori Respons Kognitif dan nilai ekspetansi untuk memahami pengaruh keuntunganmaksimal yang mempengaruhi sikap WPS dalam pengambilan keputusan.Rehabilitasi sosial berfungsi untuk melaksanakan proses memasyarakatkan kembalianggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai dengan harapan dari sebagian besarmasyarakat. Tujuan utama dari pengadaan pendampingan dan konseling ini adalahbagaimana pendamping dapat melakukan komunikasi persuasi yang efektif, sehinggadapat mengarahkan WPS kepada keputusan meninggalkan dunia prostitusi dan memilihpekerjaan yang lebih bermartabat. Tentunya dibutuhkan waktu dan tahapan dalammembimbing dan setiap keputusan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang mengadakan program rehabilitasi sosial, selainuntuk pengentasan masalah tuna sosial, juga dapat memberikan solusi dari kesenjangansosial yang muncul antara WPS dan masyarakat, akibat konsekuensi dari pekerjaan mereka.Program rehabilitasi sosial ini dilakukan secara bertahap dan dalam kurun waktu tiga tahundiharapkan WPS dapat meninggalkan dunia prostitusi serta kembali mematuhi norma dannilai yang berlaku di masyarakat. Tidak menutup kemungkinan proses rehabilitasi inimenemui hambatan.Komunikasi persuasi bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilakuseseorang yang menimbulkan perubahan. Dalam melaksanakannya pendamping berperansebagai komunikator yang mampu untuk melakukan komunikasi secara personal kepadasetiap individu dan lebih baik bila dilakukan secara tatap muka. WPS sebagai pihakpenerima pesan merupakan individu atau kelompok yang menjadi sasaran persuasi untukmengubah pendapat, sikap dan perilakunya. Sedangkan pesan merupakan pemberianpengertian. Setiap pesan yang disampaikan oleh pendamping dapat mempengaruhipengambilan keputusan pada WPS.B. ISIDengan menggunakan pendekatan interpretif untuk menganalisis fenomena yang ditelitiyang dipadu dengan self-disclosure theory, pendekatan insentif (Teori Respons Kognitifdan nilai ekspetansi) dan komunikasi persuasi. Tujuan penelitian adalah untuk memahamipengalaman komunikasi persuasi dan mengetahui kendala komunikasi yang munculdalam melakukan pendampingan itu sendiri. Karena tujuan interpretasi bukan untukmenemukan hukum yang mengatur kejadian-kejadian, tetapi berusaha mengungkapkancara-cara yang dilakukan orang dalam memahami pengalaman mereka sendiri.Paradigma interpretif kemudian dikombinasikan dengan pendekatanfenomenologis, yang sama-sama berusaha melihat realitas berdasarkan pengalamanindividu yang mengalami langsung pengalaman tersebut tanpa berusaha mengategorikanfenomena yang ada. Diharapkan dapat terjadi pemahaman terhadap cara-cara orangdalam memahami pengalaman mereka sendiri dan akhirnya menentukan realitaskeberadaan manusia yang merupakan inti dari paradigma interpretif.Dalam penelitian ini dapat dilihat bagaimana pendamping membangun kedekatandan keterbukaan terhadap WPS. Pendamping berasal dari latar belakang yangberbeda-beda, informan I merupakan pendamping dari pihak pengurus Resosialisasi(Resos) Argorejo sendiri. Kesibukan sebagai ketua yang membatasi informan I untukmelakukan pendekatan secara personal terhadap WPS. Untuk pertemuan antara informanI dengan WPS, dilakukan secara berkelompok dalam penyuluhan. Hal tersebut dilakukanoleh pengurus Resos Argorejo atau bawahan dari informan I yang telah dibentuk.Interaksi yang dilakukan tidak secara langsung, melainkan mengawasi melalui laporandari pengurus Resos Argorejo.Pendekatan oleh informan kedua, dilakukan dalam dua bentuk, komunikasiantarpribadi dan komunikasi dalam kelompok. Komunikasi antarpribadi dilakukan ketikapendamping menerima laporan kesehatan dari klinik Griya ASA, yang menjadi tempatcek kesehatan bagi WPS. Komunikasi kelompok dilakukan pada saat pelatihanketerampilan yang diadakan sekali dalam sebulan di Gedung Resos.Selanjutnya, informan yang ketiga berasal dari pihak pemerintah. Informan IIIditunjuk sebagai Kepala Bidang PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) dalamDinsospora Kota Semarang. Awal pendekatannya hampir sama dengan informan I yangmelakukan pendekatan secara berkelompok, yakni dalam acara penyuluhan atau pelatihanyang dilakukan sekali dalam sebulan oleh Dinsospora Kota Semarang. Dapat diakuinya,dengan intensitas pertemuan yang jarang, sehingga beranggapan bahwa ia kurang dapatmengenal WPS secara individual.Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana komunikasi persuasi yang dilakukanoleh pendamping terhadap WPS. Kasus nyatanya adalah WPS yang memiliki harapanakan pemenuhan kebutuhan dan pemuasan dalam hal materi, yang berujung padapelanggaran nilai dan norma dalam masyarakat. Stigma yang diberikan oleh masyarakatsebagai akibat dari ketidakmampuan individu. Untuk mengembalikan kembali WPS kedalam masyarakat maka perlu dilakukan pendekatan secara persuasi yang mengajak WPSmemikirkan kembali tentang pekerjaannya.Pendekatan komunikasi yang efektif dilakukan dengan menyesuaikan pesan persuasiagar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS. Hal ini disebabkan oleh karena lebih darisetengah WPS yang ada di Resos Argorejo memiliki latar belakang yang sama, yaknimasalah ekonomi dan berpendidikan rendah. Maka pendampingan dengan mengarahkanWPS pada pelatihan keterampilan dirasa sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh WPS.Pendamping mewajibkan bagi setiap WPS di Resos Argorejo untuk mengikuti programrehabilitasi sosial yang bertujuan untuk beralih pekerjaan.Pendamping dalam penelitian ini memiliki cara yang berbeda dalam melangsungkankomunikasi persuasi. Hubungan awal yang tercipta dalam komunikasi persuasi yangdilangsungkan oleh ketiga pendamping adalah 1) Ayah dan anak, 2) Teman dan teman, 3)Pemerintah dan masyarakat. Pertama hubungan ayah-anak terlihat dari informan I yangjuga sebagai Ketua Resosialisasi Argorejo. Dia cukup dihormati di kalangan WPS, olehsebab itu WPS menganggapnya sebagai ayah dan informan I juga menganggap WPSsebagai anaknya. Tetapi yang unik adalah walaupun ada anggapan informan I sebagaiayah, hubungannya dengan WPS tidak dekat secara personal. Lebih kepada bentukmenghormati, segan, dan patuh terhadap informan I. Dengan posisi yang cukup tinggi dikalangan Resosialisasi Argorejo membuat kesibukannya semakin padat. Sehingga dirinyakurang terlibat secara langsung dengan WPS. Walaupun begitu, dia tetap mengontrollewat pengurus Resos Argorejo dan mengajukan kegiatan baru yang berhubungan denganpendampingan WPS. Hubungan yang hampir sama juga ditunjukkan oleh informan IIIyang menempatkan dirinya pada bentuk hubungan pemerintah dan masyarakat.Pendampingan ini bertujuan untuk mengentaskan dan mengembalikan WPS padakewajibannya sebagai anggota masyarakat yang mematuhi nilai dan norma yang berlaku,yakni dengan pemberian pengajaran keahlian, penyuluhan dan kejar paket pendidikanbagi yang WPS yang membutuhkannya. Pendekatan yang dilakukan oleh informan I danIII merupakan pendekatan berbentuk kelompok. Hubungan yang lebih santai ditunjukkanoleh informan yang kedua. Menggunakan pendekatan sebagai seorang teman.Memberikan perhatian yang sederhana dengan menanyakan kabar dan berinteraksi secaralangsung membuat WPS merasa diperhatikan.Identifikasi diri WPS cukup berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan darikomunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping. Tingkat ekonomi yang rendahadalah alasan yang paling banyak yang menjadi latar belakang pekerjaan mereka sebagaiWPS. Para WPS di Resos Argorejo rata-rata merupakan tulang punggung keluarga.Sebanyak 75% dari uang hasil bekerja diserahkan WPS kepada keluarga. Meningkatnyaprostitusi sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi. Terdapat pula kekecewaan dariperceraian, dilihat dari jumlah persentase 44% WPS yang mayoritas bercerai. Selanjutnya,tingkat pendidikan yang rendah, hal ini dapat dilihat dari persentasi tingkat pendidikanWPS di Resos Argorejo yang hanya tamatan SD (Sekolah Dasar) yakni 52%. Sehinggahal ini mempersempit kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendidikan yangrendah. Terdapat pula alasan lainnya yakni kepuasan secara seksual, kemarahan, dantrafficking yang menjadi latar belakang pekerjaan sebagai WPS.Informan IV dan V memiliki latar belakang yang sama yakni masalah materi,informan IV yang harus memenuhi kebutuhannya setelah bercerai dengan suami danmasih memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak. Sehingga informan IV danV terpaksa bekerja sebagai WPS. Mereka sadar akan tingkat pendidikan yang rendah dankurangnya keahlian mempersempit kesempatan mereka untuk bekerja di masyarakat.Sehingga, pilihan sebagai WPS dirasa dapat menjadi sumber penghasilan berkecukupantanpa membutuhkan ijasah dan pengalaman bekerja.Dengan pekerjaan mereka, kedua informan menyadari konsekuensi yang merekaterima selama menjalani pekerjaan sebagai WPS. Mereka harus pintar untukmenyembunyikan pekerjaan mereka dari keluarga dan masyarakat yang mengenal merekadi daerah asalnya. Mereka mengaku malu kalau sampai keluarga terdekat mengetahuipekerjaannya. Untuk itu mereka memilih tempat yang jauh dari keluarga, seperticontohnya informan IV berasal dari Jawa Timur sedangkan informan V berasal dariJepara. Selanjutnya harus pintar dalam menjaga diri, sebab tidak jarang dengan pekerjaanmereka, terdapat tamu yang bertindak sesuka hati. Usaha selanjutnya yang dilakukan olehWPS adalah berupaya untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak terkena penyakit danhal-hal merugikan lainnya.Penelitian ini menjelaskan bagaimana tanggapan WPS terhadap komunikasi persuasioleh pendamping dalam program rehabilitasi sosial. Informan IV mengakui bahwabanyak manfaat yang didapat dari program rehabilitasi sosial yang dijalaninya sejak 2011.Tetapi untuk mencari pekerjaan lain, dia berpendapat bahwa hal ini masih jauh darirencananya. Karena dia masih mengumpulkan modal untuk membangun usaha.Sedangkan hal yang sebaliknya didapatkan dari informan V yang sudah mulai berpikiruntuk mencari pekerjaan lain. Dengan keahliannya membuat keterampilan tangan dansudah mulai dipasarkan, membuatnya berpikir untuk keluar ari pekerjaannya sebagaiWPS. Ia juga ingin untuk menghasilkan uang secara halal dan berkumpul kembalibersama keluarga. Dirinya menyadari bahwa umur yang sudah melebihi 45 tahunmembuatnya berpikir untuk menekuni pekerjaan lain.Informan IV beranggapan bahwa pendamping yang mendampinginya cukup mampudalam mengajar atau menjadi pelatih. Dirinya akan sangat terbuka dengan pendampingkalau hanya seputar masalah pekerjaan dan program rehabilitasi sosial, tetapi biladitanyakan mengenai masalah pribadi, dirinya tidak dapat menceritakan kepadapendamping atau orang lain. Sedangkan oleh informan V, dirinya beranggapan bahwapendamping sudah cukup mampu untuk mengajar dan membimbingnya. Dirinya cukupdekat dengan pendamping dari PKBI Griya ASA Kota Semarang dibandingkan dengandua pendamping lainnya. Informan V beranggapan bahwa semua pendamping samabaiknya dan bentuk perhatian yang diterima juga sama rata bagi semua WPS.C. PENUTUPPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman komunikasi persuasipendamping dengan wanita pekerja seks dalam program rehabilitasi sosial padaResosialisasi Argorejo, Kota Semarang. Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalahindepth interview, dengan mencoba menggali pengalaman narasumber dalammelangsungkan komunikasi persuasi dalam pendampingan pada program rehabilitasisosial, baik itu dalam penyuluhan maupun dalam pelatihan keterampilan untuk mencapaitujuan resosialisasi WPS.Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain, pendekatan oleh pendampingdilakukan dengan dua cara yakni pendekatan secara individual dan pendekatan dalamkelompok. Pendamping yang menggunakan pendekatan secara individual pada awalperkenalan dengan intensitas pertemuan yang tinggi mempengaruhi tingkat kedekatan,keterbukaan, dan kepercayaan yang semakin tinggi dari WPS terhadap pendamping,begitu pula sebaliknya. Selanjutnya dapat dilihat bahwa keberhasilan pendamping terletakpada ada atau tidaknya motivasi WPS untuk mencari pekerjaan lain dengan modalkeahlian yang diterima. Sedangkan, pengambilan keputusan untuk beralih pekerjaan tidakdapat dipaksakan oleh pihak manapun, baik dari lembaga atau pemerintah danmasyarakat. Kendala dalam proses komunikasi persuasi ini adalah kurangnya penanganansecara individual kepada WPS. Untuk ini dirasa perlu untuk melakukan dialog denganpemerintah atau elemen masyarakat lainnya, guna mencapai satu titik temu mengenai apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS sehingga dapat memberantas prostitusi.Akan lebih baik bila pendekatan komunikasi persuasi dengan menyertakan buktinyata. Pendamping saat ini semuanya berasal dari elemen masyarakat dan pemerintah,akan lebih baik bila memang terdapat pendamping dengan latar belakang yang samadengan WPS sehingga terdapat perasaan senasib yang dapat menggerakkan WPS.Selanjutnya, ditemukan alasan lain yang muncul pada WPS pada saat pengambilankeputusan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai WPS, yang pertama menjadi ibu rumahtangga dan faktor umur yang semakin tua.Pengalaman komunikasi persuasi pendamping dalam menyampaikan programrehabilitasi sosial ternyata lebih rumit. Pendekatan komunikasi antarpribadi denganmenciptakan hubungan yang terbuka sehingga menciptakan rasa kedekatan dankepercayaan. Pendekatan dengan komunikasi kelompok menggunakan TeoriPenstrukturan Adaptif, yang menyatakan bahwa aturan yang dibuat oleh kelompokberfungsi sebagai perilaku para anggotanya. Aturan yang ada akan membatasi individudalam berperilaku akan tetapi aturan yang sama dapat membuat individu memahami danmelakukan interaksi dengan orang lain.Dalam penelitian ini, penyampaian pesan untuk mempengaruhi WPS mengikutiprogram rehabilitasi sosial yang bertujuan pada resosialisasi atau memasyarakatkan WPSdengan beralih profesi tidak digunakan secara mendalam oleh pendamping. Pendekatanawal yang dilakukan sangat berpengaruh dalam proses pembentukan sikap. Dua dari tigaorang pendamping melakukan pendekatan awal secara kelompok dan dengan tingkatkedekatan yang rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendamping belum mampuuntuk membentuk motivasi pada WPS untuk beralih pekerjaan.Pendekatan insentif terhadap sikap dengan Teori Respon Kognitif dan pendekatannilai-ekspentasi. Teori ini kemudian mengasumsikan bahwa seseorang memberikanrespon terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran positif atau negatif dan bahwapikiran-pikiran ini sebaliknya menentukan apakah orang akan mengubah sikapnyasebagai akibat dari komunikasi atau tidak. Pada WPS, perubahan sikap untuk mengikutipesan dari komunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping adalah denganmemperhitungkan keuntungannya. Bagi WPS bila sebagai wanita pekerja seks akanmemenuhi kebutuhannya dalam hal materi, maka hal ini akan menutupi nilai negatif yangtercipta dari pekerjaan mereka. Sehingga, WPS masih akan tetap melakukanpekerjaannya selama memiliki kesempatan dan menguntungkannya.Penelitian ini dapat memberi referensi bagi pendamping tentang pentingnyamencapai satu kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendamping dan apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS dalam mencapai realisasi beralih pekerjaan.Selain pesan yang disampaikan, sangat perlu menciptakan komunikasi antarpribadi yangbaik, dan perlu diperhitungkan kemampuan pendamping dalam menyampaikan pesan.Latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah, serta kekecewaan (perceraian)merupakan alasan utama, sehingga hal ini dapat menjadi bahan untuk menyesuaikanpesan persuasi agar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS dalam pemenuhan harapanmereka.Lebih jauh lagi penelitian ini dapat membawa pengaruh positif terhadap masyarakat.Masyarakat dapat lebih mengerti dan paham akan situasi dari WPS dan tidak hanya bisamemberikan stigma tetapi juga dapat membantu dalam meyakinkan WPS untuk beralihpekerjaan. Hal yang penting adalah agar tidak dengan secara paksa untuk menutuplokalisasi. Karena perubahan keputusan untuk beralih pekerjaan merupakan proses yangbertahap dan memerlukan waktu. Keputusan tersebut berasal dari dalam dirimasing-masing WPS untuk beralih pekerjaan, pilihan tersebut tidak dapat dipaksakan.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitativeResearch. California: Sage PublicationDevito, Joseph A. (1997). Human Communication (Edisi kelima). Jakarta:Profesional BooksGerungan, W, A. (2000). Psikologi Sosial (Edisi kedua). Bandung: RefikaAditamaFisher, Aubrey. (1986). Teori-Teori Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakaryaGudykunst, B William. (2005). Theorizing About InterculturalCommunication. California: Sage PublicationLiliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiSLiliweri, Alo. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:Pustaka PelajarLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication, SixthEdition. Belmont, California: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2008). Theories of HumanCommunication. Thomson Wadsworth: USALittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Communication. SAGE: USAMartin, Judith N & Thomas K. Nakayama. (2003). InterculturalCommunication in Context. California: Mountain View: MayfieldMoran, Dermot. (2000). Introduction to Phenomenology. London: RoutledgeMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. ThousandOaks, California: Sage Publication Inc.Nimmo, Dan. (2000). Komunikasi Politik. Bandung: Remaja RosdakaryaSears, Freedman dan Peplau. (2006). Psikologi Sosial. Jakarta: ErlanggaSuranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuSuranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuSeverin dan Tankard. (2005). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapandi Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaUchjana, Onong. (2002). Dinamika Komunikasi. Bandung: RosdakaryaWest dan Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaZgourides, D. George & Christie S. Zgourides. (2000). Sociology. USA: IDGBooks WorldwideSkripsi / Laporan Penelitian :Irsyadina, Iffah (2007).“Komunikasi Persuasif Pendampingan dalam ProgramPendampingan Anak Jalanan” . Skripsi. Universitas DiponegoroSetiawan, YB (2007). "Memahami Komunikasi Kelompok Dalam Pendampingan KorbanKekerasan Berbasis Gender ". Skripsi. Universitas DiponegoroYunda, Nugraheni (2013). "Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok DukunganSebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)Bergabung untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri”. Skripsi. Universitas DiponegoroPeraturan Daerah Kabupaten Klaten No. 27 Tahun 2002 tentang Larangan Pelacuran,Pasal 1 angka 4Referensi Internet :Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga, Provinsi Jawa Tengah. (2012). Seksi PelayananRehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Narkobahttp://dinsos.jatengprov.go.id/index.php/yanrehsos/95-seksi-pelayanan-rehsos-tuna-sosial-korban-narkoba. Diakses pada tanggal 19 September 2012 pukul 09.17 WIB.Oktarini, Fitri. (2003). 129 Ribu Perempuan Indonesia Jadi pekerja Seks.http://www.tempo.co/read/news/2003/06/20/05520469/null, diakses 27 September 2012,pukul 14.30 WIBKomisi Nasional Perempuan. (2012). Perempuan dan Pemiskinan.http://www.komnasperempuan.or.id/pengetahuan_perempuan/perempuan-dan-pemiskinan/, diakses 27 September 2012 pukul 14.06 WIBKementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.(2012). Situasi Eksplitasi Seks Komersial Anak di Semarang.http://www.gugustugastrafficking.org/index.php?option=com_content&view=article&id=651:jawa-tengah-situasi-eksploitasi-seks-komersial-anak-disemarang&catid=145:situasi-eska&Itemid=185, diakses 27 September 2012 pukul 14.50WIBKompasiana. (2012). Prostitusi dan Indonesiaku.http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/07/prostitusi-dan-indonesia-ku/, diakses tanggal 9Oktober 2012 pukul 15.30 WIBLandasan hukum dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 27(http://lib.unnes.ac.id/14214/ diakses tanggal 19 September 2012 pukul 08.32 WIB)Merdeka. (2012). Sunan Kuning Jadi Percontohan Lokalisasi sejak 2009.http://www.merdeka.com/peristiwa/sunan-kuning-jadi-percontohan-lokalisasi-sejak-2009.html diakses pada tanggal 15 Maret 2013, pukul 01.33 WIBRadar Bekasi. (2012) Apa Benar Motivasi PSK adalah Ekonomi?http://www.radar-bekasi.com/?p=33924, diakses 27 September 2012 pukul 13.42 WIBSuara Merdeka. (2008). Kondom 100 Persen untuk Resos Argorejo.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/09/18/31264/Kondom.100.Persen.untuk.Resos.Argorejo diakses 15 Maret 2013, pukul 01.51 WIB
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON ACARA KOMEDI YKS DAN INTERAKSI DALAM PEER GROUP DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK Lucia Eka Pravitasari; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.282 KB)

Abstract

Kemudahan dalam mengakses televisi ini tidak diimbangi dengan muatan acara yang sesuai dengan usia anak. Beberapa acara TV seringkali meyajikan acara yang melenceng dari konten seharusnya, misalnya saja acara komedi yang mengandung kekerasan di dalamnya. Tindak kekerasan tidak hanya terjadi di kalangan orang dewasa saja, namun juga terjadi di usia anak-anak. Hal yang mengkhawatirkan adalah anak-anak tidak hanya menjadi korban kekerasan saja, namun juga menjadi pelaku tindak kekerasan. Data pada 2012 mencatat, bahwa terdapat 3.332 kasus kekerasan yang terjadi pada anak yang dilaporkan ke KPAI. Kasus-kasus kekerasan yang terjadi dan dilakukan oleh anak menimbulkan banyak pertanyaan seputar hal-hal apa saja yang membuat anak mampu melakukan tindak agresivitas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton acara komedi YKS dan interaksi dalam peer group dengan perilaku agresif pada anak. Jumlah populasi sebanyak 2594 orang, yang merupakan anak-anak usia 7 – 15 tahun di Kelurahan Jomblang, Semarang. Sedangkan jumlah sampel yang diambil adalah sebesar 96 orang dengan menggunakan multistage sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, dan konkordansi Kendall dengan bantuan program SPSS 20.Perhitungan statistik menunjukkan nilai pada Exact sig. menunjukkan angka 0.000, dengan demikian nilai probabilitas adalah 0.000. Karena nilai probabilitas 0.000 < 0.50 maka keputusan yang diambil adalah H0 ditolak. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa intensitas menonton acara komedi YKS dan interaksi dalam peer group berhubungan dengan perilaku agresif pada anak. Dari hasil uji statistik tersebut dapat diketahui bahwa ada hubungan antara kedua variabel bebas dengan variabel terikat.Bagi pihak media harus mampu menyajikan program acara sesuai dengan jam tayangnya dan sesuai dengan konten aslinya. Kemudian, bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitiannya dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel lain. Key Words: Intensitas menonton, Interaksi  peer group, dan Perilaku agresif
Bahasa Gaul dan Eksistensi Diri Jonathan Dio Sadewo; Hedi Pudjo Santosa; Taufik Suprihartini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.313 KB)

Abstract

Pemakaian bahasa gaul saat ini sudah menjadi pemakaian sehari-hari, adanyakebutuhan akan penggakuan ini menjadikan anak muda berperan pada lingkungannyauntuk membuat suatu kesan yang ditampilkan didepan orang-orang. Hal inilah yangdidapat pada teori Dramaturgi Sosial oleh Erving Goffman yaitu bagaimana orangberperan di depan penonton untuk menampilkan suatu kesan yang merupakan tujuandari pertunjukan tersebut. Didalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui danmenjelaskan pengalaman dari individu-individu dalam penggunaan bahasa gaul untukberinteraksi. Hasil dari wawancara yang mendalam didapatkan dari informan yaituanak muda yang memakai bahasa gaul secara intens. Penelitian ini merupakanpenelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi.Pada penelitian ini mendapatkan suatu hasil yaitu bahasa gaul yang digunakanoleh anak muda saat berinteraki satu dengan yang lainnya merupakan sarana atau alatpenunjukan eksistensi didepan penonton yang menjadi bagian pertunjukan.Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan darikeseharian anak muda. Kemudahan untuk berkomunikasi yaitu menjadikanpemakaian bahasa gaul lebih mengakrabkan. Penampilan didepan lingkungannya saatmenggunakan bahasa gaul (frontstage) akan berupa sebuah penampilan yang sudahdiatur tujuannya yaitu menampilkan sebuah kesan yang sama dengan yangdiinginkan. Berbeda dengan kondisi sebenarnya yaitu ketika informan berada padakondisi tidak ada penonton (backstage) dengan menampilkan diri yang sebenarnya.Penampilan yang dibuat akan menciptakan kesan bahwa para anak muda yangmenggunakan bahasa gaul adalah anak muda yang eksis dan mengikutiperkembangan zaman.
HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL LINE DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA Puspita Dea Chantika; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.954 KB)

Abstract

The background of this study is the high number of social media users which are dominated by teenagers and the fact that learning achievement in Indonesia has not been optimal as evidenced by some research results. Learning is a process of interaction of educational communication which become one of the supporters of the nation's progress. This study aims to determine the relationship between The Intensity of Social Media LINE Usage (X1) with Student Learning Achievement (Y) and the relationship between Learning Motivation (X2) and Student Learning Achievement (Y). Theories which are used in this research are Displacement Effects Theory and Herzberg’s Two Factor Motivation Theory. This research type is an explanatory quantitative. Researcher uses non-probability sampling technique, with the number of samples of 145 respondents who are students of SMA N 1 Semarang. The results of this study indicate that the Intensity of Social Media LINE Usage (X1) proved to have a strong negative relationship with the Student Learning Achievement (Y). This relationship also can be seen from Kendall's Tau-b correlation test that shows the correlation coefficient of 0,530. The study findings show that students who have higher learning achievement scores tend to have lower levels of LINE usage intensity. The relationship between Student Learning Motivation (X2) with Student Learning Achievement (Y) shows a strong positive relationship. The study findings explain that students with high levels of learning motivation also have high learning achievement. This second hypothesis is acceptable because the correlation test results show the correlation coefficient of 0.601. The results of this study can be a reference for educational institutions and society, especially students that have to give more attention to factors related to student achievement, increase their learning motivation and not to use social media excessively.
Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial Yenny Puspasari; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.475 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA BERCADAR DALAM PENGEMBANGAN HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN SOSIALABSTRAKKehidupan wanita bercadar di Indonesia menjadi sorotan masyarakat sejak kejadian teror di berbagai wilayah Indonesia yang sebagian besar melibatkan wanita bercadar di dalamnya. Wanita bercadar kemudian diidentikkan dengan terorisme sehingga dalam kehidupannya wanita bercadar menjadi sulit berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Masyarakat pun berusaha menutup diri dengan hadirnya wanita bercadar di lingkungan mereka, hal ini dibuktikan dengan banyak kasus wanita bercadar yang dikucilkan dari lingkungan.Studi ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya memberikan penjelasan tentang pengalaman komunikasi wanita bercadar dalam pengembangan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penulis menggunakan Teori Penetrasi Sosial, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Kompetensi Komunikasi dan Teori Adaptasi untuk memahami bagaimana individu bercadar berkomunikasi dan menjalin kedekatan dengan orang lain. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang, dimana terdiri dari dua wanita yang mengenakan cadar dan dua wanita yang tidak mengenakan cadar.Temuan penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan cadar tidak selalu menutup diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan di satu sisi, wanita bercadar memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi lingkungan. Kepercayaan diri dan konsep diri yang positif menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh wanita bercadar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Wanita bercadar juga mempunyai kompetensi komunikasi yang berbeda satu sama lain, artinya komunikasi dengan orang lain dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi masing-masing individu. Jika seorang individu mempunyai kompetensi komunikasi yang baik, maka komunikasi akan berjalan dengan baik pula. Dalam hal pengembangan hubungan, informan bercadar juga pernah mengalami kegagalan maupun keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena mereka gagal melawan hambatan psikologis yang menghalangi mereka yaitu stigma masyarakat. Sementara itu, temuan penelitian juga menemukan bahwa kedua informan bercadar belum konsisten mengenakan cadar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya hambatan diantaranya keterbatasan komunikasi ketika berada di ruang publik dan adanya ketidaksetujuan keluarga dalam keputusan menggunakan cadar.Implikasi penelitian ini secara akademis adalah memperluas pengayaan teoritik mengenai hubungan komunikasi interpersonal dengan nilai-nilai dalam keyakinan. Dalam tataran praktis, studi ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya wanita bercadar melakukan komunikasi yang baik dalam masyarakat sehingga masyarakat dapat mengurangi stereotype dan menghapus stigma. Sementara sebagai implikasi sosial, penelitian ini merekomendasikan kepada masyarakat agar lebih terbuka terhadap wanita bercadar untuk menekan terjadinya konflik dalam hubungan dengan wanita bercadar karena prasangka yang dominan.Kata kunci: pengalaman, cadar, komunikasi, pengembangan hubunganUNDERSTANDING WOMEN WITH VEIL COMMUNICATION EXPERIENCE IN DEVELOPING RELATIONSHIP WITH SOCIAL ENVIRONMENTABSTRACTVeiled woman's life in Indonesia public spotlight since the incident of terror in various regions of Indonesia are mostly involved them. Veiled woman later identified by linkage to terrorist activities so that veiled women in their live find it difficult to communicate with the surrounding environment. The community tried to cover herself with presence of veiled women in their environment, this was evidence by many cases of veiled women were exclude from the environment.This study is a qualitative descriptive study with a phenomenological approach seeks to provide an explanation of veiled women communication experience in developing relationships with their social environment. The author uses social penetration theory, theory of relationship development, communication competence theory and theory of adaptation to understand how individual communicate and veiled attachment to another person. Informants in this study were four people in this study, which consist of two women wearing veils and two women who were not wearing a veil.The study findings indicate that women who use veil does not always cover themselves with their surrounding. Even on the one hand, the veiled woman has potential to be develop and benefit the environment. Confidence and a positive self-concept to be main thing that must be own by a woman veiled in communicate with other. Veiled women also have different communication competence of each other, that communication with other is influence by communication competence of each individual. If an individual has good communication competence, then relationship will run well too. In terms of develop relationship, veiled informants also experienced failures as well as success in communicating with other. Communication failure usually occurs because they fail to resist the psychological barriers that prevent them from stigma society. Meanwhile, the finding of the study also found that both informants veiled were not consistent to wear a veil in the day-to-day activities. This happen because in some situations they feel that they wear veil limitedness communications with others.Implication of this study is to expand academic enrichment of the theoretical relationship interpersonal communication with the values of the faith. In practical terms, this study describes how a woman should be veil to do good communication within the community so that people can receive their state. While the social implication, the study recommends to community to be more open to women veiled and suppress the occurrence of conflict in a relationship with a woman wearing a veil.Keywords: experience, veil, communication, relationship developmentSkripsi berjudul “Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial” ini berawal dari keprihatinan penulis melihat kondisi dimana wanita bercadar di Indonesia khususnya menjadi kelompok yang minoritas dalam masyarakat. Wanita bercadar menjadi pihak yang berada dalam kondisi sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar karena stigma masyarakat yang negatif tentang mereka yaitu cadar mereka dikaitkan dengan tindakan terorisme.Muncul gagasan di dalam diri penulis mengenai bagaimana sebaiknya wanita bercadar berkomunikasi di dalam masyarakat. Bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat tanpa predikat “teroris” seperti yang mereka terima saat ini. Secara praktis, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana wanita bercadar menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Dari situ dapat diketahui apakah komunikasi yang mereka lakukan itu sudah tepat atau belum. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan pemikiran teoritik tentang teori pengembangan hubungan terutama hubungan komunikasi antara individu dari kelompok minoritas dengan individu dari kelompok mayoritas. Dan secara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi, mampu menerima kehadiran individu individu bercadar dalam masyarakat tanpa memberikan predikat “teroris” serta meminimalisir terjadinya konflik dalam interaksi.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan pengalaman individu bercadar dalam mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penelitian diawali dengan penetapan tujuan penelitian dan pemilihan subyek penelitian. Selanjutnya dengan menggunakan instrumen indepth interview penulis mengumpulkan data pengalaman individu dalam berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini penulis melibatkan dua informan bercadar dandua informan yang tidak bercadar yang berada di lingkungan sosial dimana wanita bercadar tersebut berinteraksi.Penelitian ini berfokus pada interaksi yang terjadi antara wanita bercadar dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Interaksi yang terjadi meliputi latar belakang, motivasi, aktivitas komunikasi, stigma dan pengelolaan konflik serta kondisi psikologis wanita bercadar. Hasil wawancara dengan informan kemudian diterjemahkan secara tekstural dan struktural serta tekstural struktural gabungan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data Van Kaam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kompetensi Komunikasi, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Penetrasi Sosial dan Teori Adaptasi.Data berupa hasil wawancara mendalam terhadap para informan tersebut menjadi bekal bagi penulis untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural. Setelah mendeskripsikan hasil temuan secara tekstural dan struktural tentang pengalaman individu bercadar dalam berkomunikasi dengan individu lain di lingkungan sosialnya, penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif (intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengenai esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dan pada tahap terakhir penulis merumuskan kesimpulan beserta implikasi teoretis, praktis, dan sosial dari keseluruhan hasil penelitian.Pembahasan mengenai temuan studi ini menghasilkan beberapa hal, diantaranya:1)Masyarakat cenderung melekatkan stereotype negatif kepada wanita bercadar sebagai bagian dari terorisme dan dianggap mengancam.2)Masyarakat menganggap bahwa wanita bercadar cenderung menutup diri dan tidak mau bergaul dengan lingkungan.3)Tidak semua wanita bercadar itu hidup tertutup dan tidak mau bergaul dengan lingkungan. Salah satu subyek penelitian ini membuktikan bahwa sebagai wanita bercadar, dia mampu menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan bisnis. Cadar tidak menghalanginya dalam menjalankan roda bisnisnya.4)Wanita bercadar mencoba menerima keadaan mereka yang dianggap sebagai bagian dari terorisme. Namun mereka mencoba melawan pandangan masyarakat itu dengan melakukan hal-hal positif sehingga mereka berharap masyarakat akan menilai mereka positif.5)Meskipun sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa wanita bercadar dekat dengan terorisme, ternyata ada sebagian masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai seorang individu, bukan sebagai seseorang yang mempunyai atribut tertentu seperti cadar. Mereka menjalin komunikasi sebagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain.6)Seorang wanita bercadar membutuhkan kompetensi komunikasi yang baik ketika akan menjalin komunikasi dengan orang lain. Ada pengetahuan, kemampuan dan motivasi yang harus mereka miliki untuk lebih dekat dengan orang lain.7)Wanita bercadar dan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya juga harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan orang lain. Self Disclosure merupakan hal yang penting dalam berkomunikasi agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok eksklusif.8)Dalam menghadapi konflik, wanita bercadar dan orang di lingkungan sosialnya hendaknya memahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik sehingga tercipta win-win solution dalam suatu hubungan.Secara akademis (teoritis) penelitian ini berhasil memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi dalam mengkaji teori-teori yang berkaitan denganpengembangan hubungan dalam komunikasi interpersonal. Dalam Teori Pengembangan Hubungan, penelitian ini membuktikan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang individu dalam melakukan aktivitas komunikasi dengan individu lain. Dengan mengkiuti fase-fase tersebut diharapkan individu mampu menjalin komunikasi yang baik sehingga tercipta iklim komunikasi yang baik juga. Sementara dalam Teori Kompetensi Komunikasi, seorang individu harus memiliki kompetensi komunikasi yang baik (meliputi pengetahuan, motivasi dan kemampuan komunikasi) sehingga dia mampu menjalin hubungan dengan baik dengan lingkungannya. Kompetensi komunikasi yang tidak baik, akan membuat individu menjadi kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam Teori Adaptasi, seorang individu yang berasal dari golongan minoritas memang harus lebih pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar tempat dia berada sehingga kehadirannya dapat diterima dengan baik. adaptasi yang tidak baik akan membuat individu meraa terkucil dari lingkungan. Terakhir dalam Teori Penetrasi Sosial, individu yang ingin mencapai tataran hubungan yang akrab membutuhkan pengungkapan diri secara pribadi sehingga masing-masing pihak saling mengetahui satu sama lain. Pemikiran teoritik yang bisa dikembangkan dari penelitian ini adalah sebuah pengayaan mengenai hubungan komunikasi interpersonal dan nilai-nilai dalam keyakinan.Dalam tataran praktis, penelitian ini dapat memberikan referensi tentang pengalaman komunikasi antara wanita bercadar dengan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini menjelaskan bagaimana proses adaptasi, kompetensi komunikasi seperti apa yang lakukan oleh informan dalam pengembangan hubungan. Penelitian ini memberikan suatu referensi bagi wanita bercadar agar mampu menciptakan aktivitas komunikasi yang baik sehingga keberadaan mereka di masyarakat dapat diterima dengan baikpula. Secara sosial, melalui pengalaman-pengalaman komunikasi informan bercadar dan yang tidak bercadar dalam penelitian ini, masyarakat hendaknya memahami bahwa berkomunikasi dengan wanita bercadar bukanlah hal yang menakutkan. Memandang seorang wanita yang mengenakan cadar dengan sebelah mata dan stigma yang negatif juga sebaiknya tidak dilakukan karena mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan implikasi yaitu mengurangi stigma negatif mengenai wanita bercadar dan mengeliminasi terjadinya konflik di dalam masyarakat.Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan yaitu di antaranya:1) Dalam penelitian ini, penulis tidak bisa menghadirkan sosok laki-laki sebagai informan, sehingga pengalaman interaksi wanita bercadar dengan laki-laki kurang bisa digali secara lebih detil. Misalnya bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara informan bercadar dengan laki-laki. Bagaimana romantic relationship yang terjadi diantara wanita bercadar dengan seorang laki-laki, bagaimana penyelesaian konflik antara wanita bercadar dengan laki-laki dll.2) Penggalian informasi oleh penulis kurang mendalam karena pada tema-tema tertentu, informan merasa bahwa penulis sudah banyak mengetahui tentang tema tersebut sehingga informan memberikan penjelasan yang kurang detil.DAFTAR PUSTAKABuku•Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. (2011). Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Bungin, Burhan (Eds). (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.•Cupach, William R and Daniel J. Canary. (1997). Competence in Interpersonal Conflict. United States of America: Waveland Press, Inc.•Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln. (2005). Qualitative Research 3rd Edition. California: SAGE Publication.•Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar Edisi Ke-lima. Jakarta: Professional Books.•Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi, Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.•Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: Sage Publication.•Saverin, J Werner dan James W. Tankard Jr. (2007). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Soemanto, Wasty. (1987). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara.•Tubbs, Steward L and Sylvia Moss. (1996). Human Communication, Prinsip-prinsip Dasar.. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.•Winardi. (1992). Manajemen Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.•Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro tahun 2010.Proceeding Konferensi•Chariri, Anis. (2009). Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitiatif (pdf). Makalah. Disajikan dalam Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro Semarang (31 Juli-1 Agustus 2009) : 1-13.Jurnal•Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Kompetensi Komunikasi Dalam Organisasi: 370-375•Ratri, Lintang. (2011). Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim (pdf). Jurnal Ilmiah Forum Universitas Diponegoro: 29-37.Skripsi•Sapto, Hari. (2009). Memahami Makna Jilbab dan Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Universitas Diponegoro.Internet:• (http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatfatwa&id=760).• (http://www.artikata.com/arti-124402-cadar.html).• (http://news.detik.com/read/2013/05/03/001115/2236851/10/polisi-amankan-seorang-wanita-di-rumah-terduga-teroris-di-jl-bangka).•(/berita/dunia-islam/perancis-tolak-masuk-tiga-wanita-saudi-yang-bercadar.htm#.UWjE91bTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-denmark-larangan-cadar-di-prancis-ancam-kebebasan-individu.htm#.UWjFsVbTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/setelah-mahasiswi-kini-giliran-dosen-bercadar-dilarang-mengajar-di-mesir.htm#.UWq4blbTOt8).• (http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/26/dua-mahasiswi-bercadar-dilarang-naik-bus-di-london/).•(http://www.anashir.com/2012/05/102159/46553/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-muslim-terbesar-di-dunia).• (http://nasional.kompas.com/read/2009/08/23/06021424/).• (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110420201913AAWG8qA• (http://kelaspshama2012.blogspot.com/2012/03/sikap-diskriminasi-di-sekitar-kita.html).• (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=68450).• (http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html).• http://links.org.au/node/1351
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muh. Medriansyah Putra Kartika Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida