Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Antarbudaya dalam Kancah Global: Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Pelajar Indonesia di Amerika Naomi Uli Quanti Siahaan; Turnomo Rahardjo; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the era of globalization, competition and competition between countries is unavoidable. Every individual is competing to prepare themselves in global competition. Studying abroad is one of the chosen ways to equip oneself. However, in cultural activities there will be intercultural conflicts, culture shock, as evidenced by various cases, such as cases of resignation due to not being able to adapt to the new culture. Intercultural conflicts are also seen in the enthusiasm of Indonesian students to America which has decreased by 3.4%. This study aims to describe the intercultural communication of Indonesian students in America with a qualitative research method, which refers to the interpretive paradigm and phenomenological approach and uses in-depth interviews as a data collection technique. The theories used as a reference are the theory of Intercultural Communication Competence and Anxiety & Uncertainty Management. The results of the study revealed that the competence of the students who were characterized by motivation, knowledge and skills did not only talk about results and realization, but also about the process, from nothing to something and a little to more. It was called dynamic capabilities, where students are able to continue to move, accept and adapt to circumstances. All three were shown from before starting to starting college in America. Motivation was also not enough to carry out cross-cultural activities, but motivation to continue to communicate with other students and differences and new habits. And it doesn't stop at knowledge, the most important competency was the application of knowledge through and daily implementation with other people.
Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah Tangga Bertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa di Majalah Kartini Ayu Permata Sari; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.139 KB)

Abstract

Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa diMajalah KartiniSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Ayu Permata SariD2C009109JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama : Ayu Permata SariNIM : D2C009109Judul : Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartiniABSTRAKKehadiran rubrik-rubrik confession di majalah-majalah sebagai tempat curahanhati penulis menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin berbagi kisah pribadinya.Rubrik Oh Mama, Oh Papa di Majalah Kartini menjadi rubrik pengakuan yangcukup dikenal sejak awal kemunculannya. Dengan menyajikan berbagai kisahkisahrumah tangga termasuk yang bertema perselingkuhan, rubrik ini jugamenampilkan konstruksi wanita dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitianini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan pembaca Majalah Kartini terhadapkisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan di rubrik Oh Mama, Oh Papadan konstruksi wanita di dalamnya. Teori yang digunakan Encoding/DecodingModel Stuart Hall, Relevance Theory dan Konstruksionisme Sosial. Tipepenelitian ini deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada keempat informan yaitu pembacarubrik Oh Mama, Oh Papa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaca rubrik Oh Mama, Oh Papa melihatrubrik tersebut sebagai rubrik berbagi wanita yang bermasalah dengan rumahtangga. Manfaat lain yang diperoleh dari rubrik ini sebagai sarana pembelajarandan hiburan. Kisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan menarik dibacadan membuat pembaca penasaran dengan ending cerita. Konten lain sepertitanggapan psikolog dan kotak simpati serta penampilan visual rubrik Oh Mama,Oh Papa ini juga menarik. Tanggapan psikolog dirasa menolong dengan memberipenyelesaian masalah serta dukungan dan saran bagi penulis. Kotak simpatisebagai wujud rasa empati pembaca terhadap masalah penulis. Rubrik Oh Mama,Oh Papa yang menarik serta memberikan manfaat tersebut tidak membuatinforman ingin berpartisipasi dalam menulis kotak simpati danmerekomendasikan rubrik ini kepada teman atau kerabat yang memiliki masalahrumah tangga. Kisah-kisah rumah tangga yang dramatis dan terkadang tragismerupakan hasil karya editting redaksi yang bertujuan meraup keuntungan.Konstruksi wanita di rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai wanita lemah, tertindas,dan hidup dalam diskriminasi gender dan partiarkhi. Dibalik konstruksi, wanitadinilai kuat dan tegar menghadapi masalah rumah tangga sendiri. Dalam kisahperselingkuhan, wanita dan pria memiliki peluang sama menjadi pelaku. Posisipelaku tidak membuat wanita terlihat superior namun justru dinilai tidakterhormat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima rubrik OhMama, Oh Papa sebagai rubrik curahan hati yang berguna bagi yang bermasalahdengan rumah tangga.Kata kunci : Penerimaan pembaca, rubrik, konstruksi, rumah tanggaPendahuluan :Keluarga dan rumah tangga merupakan hal yang tak dapat dipisahkan darikehidupan seorang individu. Perselingkuhan oleh pasangan ini dinilai sebagaisalahsatu penyebab ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Ketidakharmonisandalam rumah tangga terkadang membuat pasangan ingin mengakhiripernikahannya dengan bercerai. Perselingkuhan juga bisa memicu konflikberkepanjangan yang perlu segera diatasi.Wanita yang menghadapi segala macam konflik rumah tangga inimembutuhkan tempat untuk berbagi cerita dan juga mendapatkan dukungan,saran, serta solusi untuk menyelesaikan konflik rumah tangga tersebut. Rubrik OhMama, Oh Papa di Majalah Kartini hadir sebagai tempat memenuhi kebutuhanwanita tersebut. Selain menampung berbagai macam kisah-kisah tentangpermasalahan rumah tangga yang dialami oleh wanita, rubrik ini jugamenyediakan bantuan psikologis yang mendukung wanita.Wanita yang pernah meluapkan kisah rumah tangganya dalam rubrik inidianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat, namun diluar dugaan ada pulakaum pria yang juga menceritakan kisahnya. Sosok pria dalam masyarakat kitadipandang lebih tangguh daripada wanita serta dapat menyelesaikan masalahnyasendiri. Psikolog dihadirkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai problemsolver yang menanggapi, memberi saran, solusi untuk permasalahan yangdihadapi. Disediakan juga kotak simpati di akhir sebagai tempat khusus untukpara pembaca mencurahkan simpati bagi penulis yang sedang menghadapimasalah.Kisah-kisah yang ditulis dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa terutama yangberkaitan dengan perselingkuhan seolah meyakinkan pembaca bahwa perempuanmemang perlu perlindungan dan dukungan. Kebebasan para wanita ini dalammencurahkan masalah mereka pada media massa mungkin merupakan salah satucara ampuh bagi mereka untuk menyelesaikan masalahnya. Hal-hal pribadi sepertimasalah rumah tangga bagi sebagian orang bukan suatu hal yang harusdisebarluaskan untuk dijadikan konsumsi khalayak umum. Namun di rubrik ini,wanita rela menceritakan masalah mereka untuk dibaca banyak orang.Pembaca diajak secara aktif menerima pesan dan memproduksi makna,tidak hanya menjadi individu pasif yang menerima makna yang diproduksi dalamrubrik Oh Mama, Oh Papa. Pemaknaan yang nantinya didapat oleh pembaca akandiolah dengan segala pengalaman dan latar belakang yang pernah pembaca alami.Majalah Kartini yang membidik kaum wanita sebagai pembacanya ternyatamenemukan sebagian kecil kaum pria pernah membaca dan ada pula yang tertarikmenuliskan kisahnya di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Kesimpulan yang bisa ditarikadalah pembaca majalah ini tak hanya wanita namun pria juga memiliki peluangmenjadi pembacanya rubrik tersebut.Bagi wanita, rubrik ini bisa dirasa sangat bermanfaat sebagai tempatberbagi cerita dan mendapatkan solusi atas masalah rumah tangga yang dihadapi.Namun lain halnya dengan pria, bisa saja setuju atau menentang adanya rubrik OhMama, Oh Papa ini. Terbukti dengan adanya pria yang pernah menceritakanmasalah rumah tangga di rubrik Oh Mama, Oh Papa.Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasi bagaimanapembaca secara aktif dapat memaknai isi pesan dari kisah-kisah rumah tanggaberkaitan dengan perselingkuhan yang disajikan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papapada majalah Kartini.Tujuan Penelitian :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayakmenginterpretasikan kisah-kisah rumah tangga berkaitan dengan temaperselingkuhan dalam teks media di rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartini. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat bagaimana konstruksi sosokwanita di dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa.Kerangka Pemikiran :Stuart Hall’s Decoding Encoding ModelModel ini fokus pada ide bahwa audiens memiliki respon yang bermacammacampada sebuah pesan media karena pengaruh posisi sosial, gender,usia, etnis, pekerjaan, pengalaman, keyakinan, dan kemampuan merekadalam menerima pesan. Teks media dilihat sebagai sebuah jalanmenghadirkan “preferred reading” kepada audiens tetapi mereka tidakperlu menerima preferred reading tersebut. Preferred reading mengacupada cara untuk menyandikan kembali (decode) pesan yang menawarkanaudiens untuk menginterpretasikan pesan media pada segala kemungkinanyang dapat diperdebatkan.Teori Relevansi (Relevance Theory)Dan Sperber dan Deirdre Wilson dalam teori relevansi berusaha untukmenjelaskan bagaimana pendengar (listeners) memahami maksud atautujuan pembicara (speakers). Dua pendekatan yang digunakan untukmenjelaskan masalah ini yaitu model coding dan model inferential. Modelcoding sering kali dikaitkan dengan semiotika, atau berarti kata-kata dansimbol bersama-sama membentuk suatu makna. Model inferencemengusulkan bahwa makna tidak secara sederhana disampaikan tapi harusdisimpulkan oleh komunikator lewat bukti dalam pesan. Komunikasimanusia modern tidak bisa dijelaskan hanya dengan perspektif coding,membuat pendekatan inferential sangat penting. (Sperber dan Wilsondalam Littlejohn, 1999: 130)Khalayak Aktif Versus Khalayak PasifMedia mengenal dua kategori khalayak yaitu khalayak aktif dan pasif.Khalayak pasif dilihat sebagai orang-orang yang mudah dipengaruhi olehmedia. Sedangkan khalayak aktif dipandang sebagai kalangan orang-orangyang membuat keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media.Ide-ide mengenai konsep khalayak seringkali diasosiasikan denganberaneka ragam teori efek media sebagai kekuatan yang ‘powerful’ atauberkuasa terhadap khalayak pasif, sedangkan efek yang minim akandidapatkan media pada khalayak aktif.Media : Konstruksionisme SosialPaham konstruksionisme sosial (social constructionism) menurut hasilpenelitian Peter Berger dan Thomas lebih dipahami dan dikenal denganistilah the social construction of reality. Sudut pandang ini telahmelakukan penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusiadibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan daribagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untukmenangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diripada pengalaman umum mereka. Oleh karena itu, alam dirasa kurangpenting dibanding bahasa yang digunakan untuk memberi nama,membahas, dan mendekati dunia. (Littlejohn, 2009:67)Rubrik dalam MajalahMajalah seperti sebuah club, yang mana fungsi utamanya adalahmemberikan wadah bagi pembaca untuk mendapatkan informasi denganmemberikan rasa nyaman dan menjadikannya kebanggaan bagiidentitasnya. (Winship dalam Jenny McKay, 2000:3). Ide yang dituangkandi dalam sebuah majalah memberikan wadah bagi pembaca agar dapatmenciptakan rasa saling memiliki dengan kelompok yang lebih luasmeskipun tujuan majalah utamanya adalah meningkatkan pendapatandengan menarik perhatian pembaca dengan segala konten yang ada didalamnya sehingga dapat mempertahankan konsumen yang tak lain adalahpembacanya.Kesimpulan Penelitian :1. Rubrik Oh Mama, Oh Papa diterima sebagai rubrik yang memberikan wanitatempat bercerita tentang kisah-kisah rumah tangganya. Rubrik ini mampumemberikan manfaat pembelajaran dan hiburan bagi pembaca.2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada keempat informan, kisah-kisahrumah tangga yang ditampilkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papamenunjukkan preferred reading yang ditawarkan dalam rubrik Oh Mama, OhPapa dapat dimaknai sebagai makna dominan dalam teks tersebut meliputikisah-kisah rumah tangga yang disajikan, tema perselingkuhan, tanggapanpsikolog, serta penampilan visual di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Maknanegosiasi terjadi di dalam konstruksi wanita yang dihadirkan dalam rubrik OhMama, Oh Papa. Keempat informan menegosiasikan tentang bagaimanagambaran wanita yang sengaja ditampilkan sebagai sosok yang lemah,tertindas, selalu menerima ketidakadilan. Pemaknaan alternatif yang merekabentuk adalah menolak konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, OhPapa akan tetapi menganggap dengan adanya konstruksi tersebut,ditampilkan kekuatan, ketegaran dan kesabaran wanita dalam menghadapimasalah rumah tangga sendirian. Sedangkan posisi oposisi terdapat padaketidaktertarikan mereka untuk merekomendasikan teman atau kerabatmereka yang mengalami masalah rumah tangga bercerita ke rubrik Oh Mama,Oh Papa. Selain itu, kotak simpati untuk menunjukkan empati kepada penuliskisah dirasa tidak perlu ditampilkan.3. Konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa kurang berpihakpada wanita. Wanita digambarkan lemah, tertindas, terpaksa menerimaketidakadilan dalam diskriminasi gender dan budaya partiarkhi. Dalam kisahkisahbertema perselingkuhan, para informan memaknai berbeda tentangposisi pria dan wanita dalam perselingkuhan. Menurut para informan,perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya dilatarbelakangi alasanemosional sedangkan pada pria dilatarbelakangi faktor kejenuhan danbiologis. Citra wanita yang berselingkuh akan lebih buruk di mata masyarakatdaripada pria yang berselingkuh. Pria yang berselingkuh akan dipandangbiasa saja, namun pada wanita akan diberikan label rendahan, tidak terhormat,dan tidak bisa menjaga diri dan kelurga. Wanita menilai perselingkuhanmerugikan pihak wanita karena selain melukai hati wanita dan keluarganya,perhatian pria akan tercurah pada wanita lain. Pria menilai perselingkuhanbisa jadi wajar dilakukan apabila dalam rumah tangga tidak ditemuikeharmonisan dan kenyamanan.DAFTAR PUSTAKABuku :A. Bell, M. Joyce and D. Rivers. 1999. Advanced Media Studies. Hodder &StoughtonAllen, Pamela. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi; [Re]interpretasi FiksiIndonesia 1980-1995 (terj. Bakdi Soemanto). Magelang: Indonesiatera.Downing, John, Ali, Mohammadi, dan Sreberny, Annabelle. 1990. QuestioningThe Media : A Critical Introduction. London : Sage Publication, Ltd.Assegaf, Djafar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia. Jakarta.Baran, Stanley. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba HumanikaBaran, Stanley. 2012. Introduction to Mass Communication : Media Literacy andCulture (updated edition). McGraw-Hill EducationBerger, Peter L. & Thomas Luckmann. 1990. Langit Suci: Agama sebagaiRealitas Sosial (diterjemahkan dari buku asli Sacred Canopy olehHartono). Jakarta: Pustaka LP3ES.Burton, Graeme. 2002. More Than Meets The Eye: An intoduction to MediaStudies. London: Arnold PublisherByerly, Carolyn M dan Ross, Karen. 2006. Women and Media. United Kingdom :Blackwell PublishingChambers, Deborah, Steiner and Carole Fleming. (2004). Women And Journalism.London And New York.Djunaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta:SantustaJane, Ritchie dan Luwis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice. New Delhi :SAGE PublicationsJensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 1991. A Handbook of QualitativeMethodologies For Mass Communication Research. London : Routledge.Jensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 2002. A Handbook of Media andCommunication. Taylor&FrancisKasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan Konsep dan aplikasinya DiIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Littlejohn, Stephen W dan Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta : Salemba HumanikaMcKay, Jenny. 2000. The Magazines Handbook. New York.McKay, Jenny. 2003. The Handbook of Magazines. London : RoutledgeMcQuail, Dennis. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMcQuail, Dennis. 2011. McQuail’s Mass Communication Theory. London : SagePublication, LtdMoleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication (2nd edition).London : SAGE Publications, LtdNeuman, W. Lawrence. 2007. Social Research Methods: Qualitative andQuantitative Approaches – 6th Edition. Boston: Pearson EducationRayner, Philip, Wall, Peter dan Kruger, Stephen. 2004. Media Studies theEssential Resources. London dan New York: RoutledgeShoemaker, Pamela dan Resse, Stephen D. 1991. Mediating The Message :Theories of Influence on Mass Media Content- 2nd Edition. New York:Longmann PublisherTong, Rosemarie Putnam. 2004. Feminist Thought. Yogyakarta: JalasutraVivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : KencanaJurnal :Dwi Utami, Heni. 2004. KEKERASAN TERHADAP PREMPUAN DI MEDIAMASSA (Analisis Wacana Rubrik “Oh Mama, Oh Papa” di MajalahKartini). Universitas Muhammadiyah MalangIdi Subandi Ibrahim dan Hanif Suranto (Ed). 1998. Wanita dan Media, KonstruksiIdeologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja RosdaKaryaWiratmo, Liliek Budiastuti dan Mohammad Ghiffari. 2008. RepresentasiPerempuan dalam Majalah Wanita, Jurnal Studi Gender dan Anak, PSGSTAIN Purwokerto, Vol. 3, No.1.Internet :Tanesia, Ade. 2011. Representasi Perempuan dalam Media. Pusat Sumber DayaMedia Komunitas (http://www.antaranews.com/berita/1269598504/sumurkasur-dapur-citra-perempuandimedia-Massa).Kamus Bahasa Indonesia Online dalam http://kamusbahasaindonesia.org/rubrikdiakses pada tanggal 9 September 2013 pukul 17.30 WIBMajalah Kartini, Bacaan Kaum Wanita. Dalamhttp://www.anneahira.com/majalah-kartini.htm Diunduh pada tanggal 25Maret 2013 pukul 05.21 WIBRubrik Oh Mama, Oh Papa diangkat ke Layar Televisi. Dalamhttp://arsip.gatra.com/2005-06-29/versi_cetak.php?id=85404 Diakses padatanggal 25 Maret 2013 : 05.40 WIB
Memahami Perilaku Komunikasi dalam Adaptasi Budaya Pendatang dan Hostculture berbasis Etnisitas Ilham Prasetyo; Taufik Suprihatini; Hapsari Dwiningtyas; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.045 KB)

Abstract

Perbedaan budaya antara pendatang dengan hostculture sering memunculkan konflik. Kompetensi komunikasi antarbudaya akan muncul ketika masing-masing pihak yang menjalin kontak atau interaksi dapat meminimalkan kesalahpahaman budaya yaitu usaha mereduksi perilaku etnosentris, prasangka, dan stereotip. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi komunikasi antarbudaya pendatang dan hostculture. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat orang mahasiswa pendatang maupun empat orang hostculture. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori ketidakpastian dan kecemasan, t eori kompetensi komunikasi antarbudaya, teori interaksi adaptasi budaya.Hasil penelitian ini menunjukkan dalam melihat kompetensi komunikasi antarbudaya dari mahasiswa pendatang maupun hostculture harus melalui dari beberapa poin penting yaitu melihat dari motivasi, pengetahuan dan kecakapan. Berdasarkan hasil dilapangan diketahui bahwa terdapat faktor-faktor yang terkait dengan kompetensi komunikasi antar budaya dari pendatang diantaranya kurangnya inisiatif dalam membaur dengan lingkungan, kurangnya informasi yang berkaitan dengan lingkungan baru yang menjadi daerah tujuan, sulitnya menyesuaikan perilaku yang sering dilakukan di daerah asal dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi komunikasi antarbudaya dari hostculture diantaranya persepsi hostculture tentang penampilan pendatang mempengaruhi motivasi berkomunikasi dengan pendatang. Kurangnya pengetahuan tentang kebiasan buruk dari pendatang, kurangnya kemampuan dalam mengelola konflik dengan pendatang.Mahasiswa pendatang dan hostculture menunjukkan bahwa ketika berkomunikasi antarbudaya harus memiliki kompetensi komunikasi antarbudaya seperti motivasi, pengetahuan dan kecakapan. Namun kebanyakan dari pendatang dan hostculture tidak menyadari kemampuan yang dimiliki, Apabila kemampuan sudah dimiliki dan dilaksanakan dengan baik, maka terciptanya kesadaran dalam komunikasi antarbudaya (mindfullness) yang dapat meminimalkan terjadinya konflik yang melibatkan budaya yang berbeda.
Negosiasi Identitas Mahasiswa Papua Dengan Host Culture di Kota Semarang Nurul Athira Yahya; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.079 KB)

Abstract

The stereotype that has been attached to Papuan students has become a problem for them to show their identity. Negative stigma also appears to the Papuan ethnic group and the impact on Javanese society that still has anxiety to interact with Papuans. Discrimination and racism eventually evolved due to the physical differences that ethnic Papuans and Javanese ethnicity possess. This study aims to describe the experience of identity negotiation by Papuan students with host culture in the city of Semarang. The research method uses qualitative type with phenomenology approach. This research also supported by Cultural Identity Theory and Identity Negotiation Theory of Stella Ting-Toomey. Informants in this study consisted of five Papuan students who had been more than one year studying in Semarang and five host cultures who had been social interaction with Papuan students. The result of the process identity negotiation conducted by Papuan students with host culture in Semarang City showed Papuan students with their curly-hair and black-skinned appearance becoming the first identity recognized by the host culture. Furthermore, the process of identity negotiation is intertwined through interaction with the overt and mingle with the host culture. Questions from host culture is also an opportunity for Papuan students to explain about Papua and their own personal background. Language differences become one of the obstacles experienced by Papuan students to revealed their cultural identity. In addition, the sense of shame possessed by Papuan students is also become a obstacles in the disclosure of identity. As the stereotype develops in society about Papuan students, it is not the main cause that affects the interaction process with host culture. The stereotype only applies to the initial assessment when first meet, as the initial information and this does not apply to the next assessment. Therefore, the process of negotiating the identity of Papuan students with a host culture have a challenge not to the stereotype that develops but in the self-disclosure of Papuan students to revealed their cultural identity.
Komunikasi untuk Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini Dyah Woro Anggraeni; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.33 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka kekerasan seksual pada anaksetiap tahunnya. Salah satu hal yang mempengaruhi fenomena tersebut adalah kurangnya pengetahuan anak mengenai topik seksualitas, sehingga anak sulit mengenali bahwa yang terjadi padanya merupakan bentuk kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang terjadi pada anak dapat dicegah dengan cara melakukan komunikasi mengenai pendidikan seks pada anak sedari dini. Orangtua sebagai anggota keluarga yang berkewajiban menumbuhkan nilai-nilai anak, seharusnya lebih memiliki peran dalam melakukan komunikasi tersebut. Realitas yang t erjadi, beberapa orang tua yang masih merasa tabu dalam membicarakan topik-topik seksualitas pada anak, menjadikan hambatan tersendiri bagi komunikasi dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan komunikasi antara orangtua dan anak usia dini dalam kaitannya dengan pendidikan seks. Peneliti menggu nakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dialogue Theory, Rule’s Theory, Role’s Theory dan Family Communication Patterns Theory.Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode fenomenologi dari Von Eckartsberg. Subjek penelitian ini adalah informan yang memiliki anak usia dini (0-5 tahun).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki aturan-aturan terutama dalam melakukan pendidikan seks. Aturan dibedakan menjadi dua yaitu secaraeksplisit dan implisit, aturan secara eksplisit berupa kegiatan diskusi antara orang tua dan anak mengenai topik-topik seksualitas, sedangkan secara implisit berupa aturan yang tidak tampak jelas, seperti mengatur pakaian yang digunakan anak untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual. Perasaan tabu menjadi hambatan bagi orang tua untuk melakukan pendidikan seks pada anak usia dini. Orang tua yang merasa tabu dalam membicarakan seksualitas pada anaknya, mereka cenderung menghindari dalam membicakan topik-topik seperti pemerkosaan, pencabulan dan bentuk-bentuk hubungan intim lainnya. Sedangkan orang tua yang tidak merasa tabu melakukan pendidikan seks, tidak memiliki batasan dalam membicarakan topik seksualitas pada anak. Eufemisme dapat digunakan untuk meminimalisir adanya hambatan komunikasi berkaitan dengan perasaan tabu dalam membicarakan seksualitas.Keyword: Komunikasi keluarga, Pendidikan Seks, Dialog
Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta ) Fitria Purnama Sari; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.835 KB)

Abstract

Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )AbstrakMahasiswa perantauan merupakan pendatang di sebuah daerah dengan latar belakang budaya yangberbeda dari daerah asalnya. Saat berada di daerah baru, biasanya mahasiswa perantauan akan bergabungdalam sebuah ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmenyatukan mahasiswa perantauan. Namun, ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini terkesan eksklusif,tertutup dan tidak mau berinteraksi dengan budaya di luar ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Kesaneksklusif dan tertutup rentan terhadap konflik dengan host culture. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui cara beradaptasi mahasiswa perantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasisetnisitas, kendala yang dihadapi mahasiswa perantauan selama beradaptasi dan memahami penerimaanhost culture terhadap budaya minoritas mahasiswa perantauan. Upaya menjawab permasalahan dan tujuanpenelitian dilakukan dengan paradigma interpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Anxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst,William : 2005 ), Interaction Adaption Theory ( Gudykunst, William : 2005 ). Subjek penelitian adalahenam mahasiswa perantauan yang tergabung dalam tiga ikatan mahasiswa berbasis etnisitas serta tigaorang host culture yang berstatus mahasiswa. Sedangkan lokasi penelitian ini berada di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa perantauan harus beradaptasi dengan budaya di Yogyakarta,seperti bahasa, adat istiadat dan cita rasa makanan. Mahasiswa perantauan akan menggunakan tigastrategi untuk beradaptasi dengan bahasa, yaitu strategi aktif, pasif dan interaktif. Sedangkan untukberadaptasi dengan adat istadat di Yogyakarta, mahasiswa perantauan mempelajari saat berinteraksidengan host culture. sedangkan untuk beradaptasi dengan cita rasa makanan, mahasiswa perantauancenderung untuk memilih makanan yang cocok dengan selera mereka. Meskipun mereka tergabung dalamikatan mahasiswa berbasis etnisitas, mereka dapat menjalin hubungan baik dengan host culture. Haltersebut dapat dilihat dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan mahasiswa perantauan bersama hostculture. Di sisi lain, host culture masih memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa perantauan.Meskipun begitu, host culture dapat menerima keberadaan mahasiswa perantauan selama mereka dapatmenjaga hubungan baik dengan masyarakat Yogyakarta. Ketika mahasisa perantauan dan host culturesaling beradaptasi, pada akhirnya mereka memiliki kompetensi komunikasi. Adanya sikap mindful antaramahasiswa perantauan,penerimaan host culture serta kompetensi komunikasi antara keduanya dapatmenciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada. Implikasi akademis yangdapat menambah pengetahuan mengenai proses interaksi antarbudaya terutama Anxiety / UncertaintyManagement Theory dari Gudykunst. Cakupan teoritis mengenai komunikasi antarbudaya yang mindfulperlu diperluas dengan memasukkan faktor tingkat pendidikan yang bisa mempengaruhi terciptanyasituasi komunikasi yang mindful.Kata kunci : adaptasi budaya, etnisitas, harmoni sosialCulture Adaptation and Social Harmony( The Adaptation Culture Case of Student BondsBased On Ethnicity in Yogyakarta )AbstractMigrant students are newcomer in a region with different culture background of their region original.When the migrant student in a new region, they join in a student bonds based on ethnicity. The aim of thisstudent bonds based on ethnicity is bringing them together. However, the student bonds based onethnicity is exclusive, enclosed impressed and do not want to interact with the culture outside the studentbonds based on ethnicity. This exclusive and enclosed impressed is conflict vulnerable with host culture.The goals of this research are understand how the migrant student who joined in student bonds based onethnicity can be adapted, obstacles when migrant student are adapted and understand the acceptance ofhost culture to migrant students’ minority culture. Attempting to answer the issue and the goals byinterpretive paradigm and using phenomenological analysis method. The theories in this research areAnxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst, William : 2005 ), Interaction Adaption Theory (Gudykunst, William : 2005 ). The subject of this research are six migrant students who joined in studentbonds based on ethnicity and three student of host culture. This research’s location in Yogyakarta.The outcome of this research shows the migrant student must be adapted with culture in Yogyakarta, suchas language, custom and the taste of food. The migrant students will use three strategies to languageadapted, such as active, passive and interactive strategy. While adapted with the custom is learning whenthe migrant student interact with host culture. while adapted with the taste of food, the migrant studentstend to choose the food which suited to their taste. While the migrant student joined in student bondsbased on ethnicity, they can have a good relation with host culture. This can be seen from the activitieswhich done by migrant students with host culture. In the other hand, host culture still having a negativeperception toward the migrant students. Nevertheless the host culture can accept the existence of migrantstudent during they keep the good relation with the people of Yogyakarta. When the migrant student andhost culture having an adaptation with each other, they have a communication competence. A mindfulattitude from migrant student, acceptance from host culture and communication competence betweenmigrant student and host culture can create social harmony in the diversity of culture. Academicimplication which can increase the knowledge about the process of intercultural interaction especiallyAnxiety / Uncertainty Management Theory from Gudykunst. Theoretical coverage of the mindfulintercultural communication needs to be expanded to include education level factors that can affect thecreation of mindful communication situations.Key word: culture adaptation, ethnicity, social harmonyAdaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya IkatanMahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Fitria Purnama SariNIM : D2C 009 067JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di daerah dengan latar budaya baru, yang kemudianakan disebut sebagai mahasiswa perantauan, mereka akan merasa asing ketika berada di daerahtersebut, terutama daerah yang memiliki latar budaya yang berbeda dari daerah asalnya.Kehadiran mereka pun sangat mudah dikenali, misalnya saja dari bahasa dan logat yangdigunakan berbeda dengan host culture.Sebagai mahasiswa perantauan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan barumereka. Bentuk adaptasi para mahasiswa perantauan dengan host culture dapat berupa adaptasidengan bahasa, adat istiadat, norma, kepercayaan bahkan makanan. Bagaimana paramahasiswa perantauan ini dapat beradaptasi sangat mempengaruhi hubungan dengan hostculture kedepannya.Mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta atau mahasiswa perantauan ini biasanyaakan membentuk satu paguyuban berdasarkan kesamaan latar budaya atau yang biasa disebutdengan ikatan mahasiswa. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmempersatukan mereka selama mereka berada di Yogyakarta.Hal itulah yang memberikan kesan ekslusif yang seolah – olah paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnis ini “ berbeda “ dengan budaya host culture dan tidak mauberinteraksi dengan budaya di luar paguyuban. Tidak mau berinteraksi dengan budaya di luarpaguyuban memiliki arti yaitu budaya yang ada dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitastersebut tidak bisa melebur menjadi satu dengan budaya sekitar yang berbeda sehingga tidakdapat menghargai perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain. Selain itu, ikatanmahasiswa berbasis etnisitas ini dapat menimbulkan solidaritas sempit antar anggotanya.Hal itu juga berbeda dengan semboyan bangsa Indonesia “ Bhinneka Tunggal Ika “ yangmemiliki arti “ Berbeda – beda tetapi tetap Satu Jua “. Berbeda – beda disini merujuk padakebudayaan bangsa Indonesia yang beragam namun tetap harmonis demi terciptanya persatuandan kesatuan bangsa. Harmoni sosial dapat tercipta apabila budaya yang beragam tersebut dapatmelebur menjadi satu dan kelompok antar etnis yang mengusung setiap budaya dapat salingmenghargai tanpa ada pengkotak – kotakan budaya.1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah dalam penelitian ini adalah:1. Bagaimanakah cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture?2. Apa sajakah kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture?3. Bagaimanakah penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal iniadalah budaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas?1.3 Tujuan PenelitianDari penjelasan – penjelasan di atas peneliti di sini berusaha untuk:1. Memahami cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture.2. Memahami kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture.3. Memahami penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal ini adalahbudaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas.1.4 Signifikansi Penelitian1.4.1 Kegunaan TeoritisPenelitian ini secara teoritis atau akademis diharapkan dapat memberikan kontribusiterhadap intercultural adaptation saat ini dalam melihat fenomena antara paguyuban sepertiikatan mahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dalam konteksadaptasi dengan host culture.1.4.2 Kegunaan PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan paguyuban – paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dapat menciptakanharmoni sosial mengingat Indonesia memiliki keberagaman budaya.1.4.3 Kegunaan SosialHasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat mengenaibagaimana cara mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswa beradaptasi danmenciptakan harmoni sosial dengan host culture.1.5.Kerangka Pemikiran Teoretis1.5.1 State of Art1.5.2 Paradigma InterpretifStudi tentang mahasiswa yang tergabung sebagai anggota ikatan mahasiswa berbasis etnisitasdalam menciptakan harmoni sosial dengan host culture, secara teoritik didekati denganmerujuk pada gagasan genre interpretif, yaitu pemikiran – pemikiran teoritik ( komunikasi )yang berusaha menemukan makna dari suatu tindakan dan teks ( Littlejohn, 1999 : 15 )1.5.3 Pendekatan FenomenologiMenurut Littlejohn ( dalam Rahardjo, 2005 : 44 ), sejalan dengan genre interpretatif yangdigunakan sebagai basis berpikir dalam penelitian ini, maka gagasan teoritik yang memilikiketerkaitan dengan genre interpretatif adalah fenomenologi.1.5.4 Teori Manajemen Ketidakpastian ( Uncertainty ) dan Kecemasan ( Anxiety )1.5.5 Teori Interaksi Adapatasi1.6 Operasionalisasi Konsep1.7 Metoda Penelitian1.7.1 Desain PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor ( 1975 :2 ) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan datadeskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapatdiamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan inidvidu tersebut secara holistik ( utuh ).1.7.2 Situs PenelitianLokasi yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah lingkungan tempat berkumpulnyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas yang ada di Yogyakarta.1.7.3 Subjek PenelitianSubjek penelitian adalah mahasiswa – mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang tergabungdalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas seperti BAMANA ( Barisan Mahasiswa Kaimana ),FORMASY ( Forum Mahasiswa Sula Yogyakarta ) dan Forum Keluarga Mahasiswa NTT –Bersatu Yogyakarta serta host culture yang merupakan warga yang berasal dari Yogyakarta yangpernah berinteraksi langsung dengan mahasiswa perantauan yangtergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas.1.7.4 Sumber DataJenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah :1. Data Primer2. Data Sekunder1.7.5 Teknik Pengumpulan DataData dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dari subyek penelitian.1.7.6. Analisis dan Interpretasi DataBAB IIDESKRIPSI TEKSTURAL DAN STRUKTURALADAPTASI BUDAYA DAN HARMONI SOSIAL2.1 Deskripsi Tekstural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.1.1 Informan 12.1.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.1.2 Interaksi Antarbudaya2.1.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.2 Informan 22.1.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.2.2 Interaksi Antarbudaya2.1.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.3 Informan 32.1.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.3.2 Interaksi Antarbudaya2.1.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.4 Informan 42.1.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.4.2 Interaksi Antarbudaya2.1.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.5 Informan 52.1.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.5.2 Interaksi Antarbudaya2.1.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.6 Informan 62.1.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.6.2 Interaksi Antarbudaya2.1.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2 Deskripsi Tekstural Individu ( Host Culture )2.2.1 Informan 12.2.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.1.2 Interaksi Antarbudaya2.2.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.2 Informan 22.2.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.2.2 Interaksi Antarbudaya2.2.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.3 Informan 32.2.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3 Deskripsi Struktural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.3.1 Informan 12.3.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.1.2 Interaksi Antarbudaya2.3.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.2 Informan 22.3.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.2.2 Interaksi Antarbudaya2.3.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.3 Informan 32.3.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.3.2 Interaksi Antarbudaya2.3.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.4 Informan 42.3.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.4.2 Interaksi Antarbudaya2.3.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.5 Informan 52.3.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.5.2 Interaksi Antarbudaya2.3.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.6 Informan 62.3.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.6.2 Interaksi Antarbudaya2.3.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4 Deskripsi Struktural Individu ( Host Culture )2.4.1 Informan 12.4.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.1.2 Interaksi Antarbudaya2.4.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.2 Informan 22.4.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.2.2 Interaksi Antarbudaya2.4.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.3 Informan 32.4.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.5 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Mahasiswa Perantauan )2.6 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Host Culture )BAB IIISINTESIS MAKNA TEKSTURAL DAN STRUKTURAL3.1 Proses Adaptasi AntarbudayaSebagai pendatang di Yogyakarta, informan ( mahasiswa perantauan ) mengalami perbedaanbudaya. Perbedaan budaya yang dapat mereka rasakan secara jelas adalah bahasa, cara berbicara,kebiasaan dan cita rasa makanan. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang selalu digunakanoleh masyarakat Yogyakarta dalam kesehariannya, terutama bagi warga Yogyakarta yang sudahberusia lanjut, mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa dibanding bahasa Indonesia.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu beradaptasi terhadap penggunaan bahasa Jawa olehhost culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) juga perlu beradaptasi dengan kebiasaan host culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu memahami kebiasaan host culture seperti menyapadengan anggukan sambil tersenyum yang diikuti dengan sapaan monggo atau bahasa tubuhmenyilakan masuk menggunakan tangan ketika mempersilakan seseorang masuk terlebih dahuluyang terkadang juga diikuti dengan kata monggo. Kebiasaan host culture seperti itu merupakanbentuk dari komunikasi non verbal.Proses adaptasi informan 1, 2, 3 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) terhadap cita rasamakanan di Yogyakarta cukup lama. Pada awal proses adaptasi, mereka makan hanya untukmemenuhi kebutuhan perut yang lapar tanpa mempedulikan rasa yang menurut mereka tidakenak. Bahkan menurut informan 2 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) benar – benar menganggapmakanan di Yogyakarta “ tidak bisa dimakan “, sehingga selama proses adaptasi, mereka hanyamemakan makanan instan saja.Ellingsworth ( dalam Liliweri, 2001:63 ) mengemukakan bahwa setiap individudianugerahi kemampuan untuk beradaptasi antarpribadi. Oleh karena itu maka setiap individumemiliki kemampuan untuk menyaring manakah perilaku yang harus atau yang tidak harusdilakukan. Adaptasi nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan olehdua faktor, yakni pilihan untuk mengadaptasi nilai dan norma yang fungsional atau mendukunghubungan antarpribadi. Atau nilai dan norma yang disfungsional atau tidak mendukunghubungan antarpribadi.3.2 Interaksi AntarbudayaInforman ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari hal – hal yang perlu diadaptasi ketikamereka berinteraksi dengan host culture. Interaksi informan ( mahasiswa perantauan ) denganhost culture banyak terjalin dalam kegiatan ruang publik seperti di kampus, organisasi, gereja,dan lingkungan tempat tinggal. Kampus, organisasi, gereja dan lingkungan tempat tinggalmerupakan wadah bagi informan ( mahasiswa perantauan ) serta host culture untuk dapat salingbertatap muka dan mengenal satu sama lain lebih dekat, sehingga proses adaptasi dapat terjalindiantara mereka.Cara untuk memahami penyesuaian antar budaya adalah dengan bersikap sesuai denganpergaulan dan efektif antar individu dalam host culture. Dalam pandangan ini, stranger telahmenyesuaikan diri saat mereka telah belajar untuk berinteraksi secara efektif dengan host culturedan perilaku mereka sesuai dengan host culture. ( Furnham and Bochner; Grove and Torbiorn;Torbiorn dalam Gudykunst 2005:424 ).3.3 Kendala ketika Berinteraksi serta Cara MengatasinyaPerbedaan bahasa membuat sebagian besar informan ( mahasiswa perantauan ) mengalamiketidakpastian ( uncertainty ) dan kecemasan ( anxiety ). Ketidakpastian ( uncertainty ) dankecemasan ( anxiety ) merupakan salah satu kendala mahasiswa perantauan saat berinteraksidengan host culture.Jika informan 1 ( host culture ) mengalami kendala dalam pemahaman bahasa olehmahasiswa perantauan, bagi informan 2 dan 3 ( host culture ) kendala yang dirasakan selamaberinteraksi dengan mahasiswa perantauan adalah karakteristik masing – masing individu.Setiap mahasiswa perantauan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga perlu adanyapemahaman karakteristik dari masing – masing individu agar dapat terjalin komunikasi yangefektif.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi,makan informan mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensikomunikasi.BAB IVPENUTUP4.1 KesimpulanPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman proses adaptasi mahasiswaperantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas dengan host culture untukmenciptakan harmoni sosial di Yogyakarta. Penelitian ini didasarkan pada fenomena adanyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas dalam menciptakan harmoni sosial. Sebagai kaum minoritasdi sebuah kota perantauan, informan ( mahasiswa perantauan ) diharapkan dapat beradaptasi danberinteraksi dengan host culture.Cara beradaptasi informan ( mahasiswa perantauan ) dapat dilakukan saat berinteraksidengan host culture. Interaksi dengan host culture dapat terjadi saat informan ( mahasiswaperantauan ) melakukan suatu kegiatan secara bersama – sama. Dari proses interaksi tersebut,informan ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari budaya di daerah perantauannya.Dalam beradaptasi dengan perbedaan budaya, individu informan ( mahasiswa perantauan) menghadapi kendala bahasa. Namun, mereka dapat mengatasinya dengan bertanya kepadalawan bicara maupun orang lain yang lebih fasih berbahasa daerah. Selain bertanya, informan (mahasiswa perantauan ) juga dapat mengatasi kendala bahasa dengan cara memperhatikan danmempelajari bahasa non verbal dari lawan bicara. Setelah bertanya maupun mempelajari bahasanon verbal, informan ( mahasiswa perantauan ) memiliki pengetahuan baru mengenai budaya didaerah perantauannya. Pengetahuan barunya itu dapat meminimalisir rasa ketidakpastian dankecemasan saat berinteraksi dengan host culture yang lain.Meskipun informan ( host culture ) masih memiliki stereotipe terhadap informan (mahasiswa perantauan ), namun host culture dapat menerima keberadaan mereka selama merekadapat menjalin hubungan yang baik dengan host culture.Sedangkan informan ( mahasiswa perantauan ) yang menerima perlakuan kurangmenyenangkan yang disebabkan oleh stereotipe host culture bersikap mindful. Informan (mahasiswa perantauan ) memahami stereotipe tersebut sebagai pengetahuan agar dapatmengantisipasi perilaku host culture yang lainnya.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi, makaninforman mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensi komunikasi.Tiga komponen kompetensi komunikasi tersebut adalah motivasi, pengetahuan, keterampilan.Sikap mindful informan ( mahasiswa perantauan ), penerimaan dari informan ( hostculture ) serta kompetensi yang dimiliki informan ( mahasiswa perantauan ) dan informan ( hostculture ) dapat menciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada diYogyakarta.DAFTAR PUSTAKABogdan, Robert C. And Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A.Phenoinenological Approach in The Social Sciences. 1975. John Wiley and Sons – alihbahasa Arief F. Surabaya: Usaha Nasional.Gudykunst, William. Theorizing About Intercultural Communication. 2005. California: SagePublication, Inc.Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication ( Sixth Edition ). 1999. Belmont,California: Wadsworth Publishing Company.Liliweri, Alo. Gatra – gatra Komunikasi Antarbudaya. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rahardjo, Turnomo. Menghargai Perbedaan Kultural: Mindfulness dalam KomunikasiAntaretnis. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Understanding Communication Barriers of New Members on Milis Sehat Annisa Zetta Afiatni; Dra Taufik Spurihartini; Turnomo Rahardjo .; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.639 KB)

Abstract

Nowadays, people can take health discussion in cyberspace, Milis Sehat is one that provides a forum for the public. You can consulted directly with doctors without going through face-to-face. The existence of a new way of discussion or consultation about the health from became online that creates barriers in each members. Therefore, researcher interested to discuss what are the barriers that prevent members on Milis Sehat and how they achieve a common understanding when communicating effort. The purpose of this study is to describe the factors inhibiting new members on Milis Sehat when they are not able to reach a mutual understanding and to describe their efforts in reaching a mutual understanding. The theory that used is Accommodation Communication Theory (Howard Giles).This study uses an interpretive paradigm with a phenomenological approach of Moustakas. The results from this study is there are six barriers perceived by new members. The most dominant barriers is a psychological barrier in the form of their feeling less satisfied with the answers or the results of discussions on the mailing list because the answer just a link that contains articles; their discomfort when communicating because doctors in mailing lists according to their fierce; and their anxiety for fear the question is not got a response by anyone. Semantic barriers they experienced as a result of the use of the abbreviation / term health unfamiliar and less familiar to them. To understand this, they look for abbreviations / that term in the search engine Google, asking senior members or doctors in the mailing list. Frame of mind and cultural differences are also preventing them interpret what they read the writing on the mailing list. Barriers for their status within the social and technical barriers caused less supportive tool shared by several informants. In order to achieve mutual understanding, communication barriers have to be overcome first like a psychological barrier, status, culture, and mindset through mutual understanding their individual differences; semantic barriers can be overcome by finding yourself or ask about the language / vocabulary of what you do not understand, once they understand, they can converge (equalization) in order to make it look the same as the other members. Technical barriers can be overcome by using tools that support. Academically, Accommodation Communication Theory (Howard Giles) describes someone convergence for wanting approval. Meanwhile, someone from the findings converge to make it more practical and effective. In practical terms, the findings of this study can be applied to individuals who have a similar situation as in this study. Socially, the benefits that can be taken by the public should be when you are in this situation in order to look the same convergence with new people.
FENOMENA PERILAKU CYBERBULLYING DI DALAM JEJARING SOSIAL TWITTER Salshabila Putri Persada; Djoko Setyabudi; Turnomo Rahardjo; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.725 KB)

Abstract

Maraknya penggunaan jejaring sosial twitter dikalangan masyarakat modern saat ini tengah sangat popular. Twitter membawa trend baru dalam masyarakat sebagai ajang untuk melakukan tindakan penindasan secara online atau yang lebih dikenal dengan sebutan cyberbullying. Pengguna twitter dengan mudah dapat melakukan cyberbullying kepada pengguna twitter lainnya, pengguna dapat memposting tulisan kejam atau mengunggah foto yang berhubungan dengan individu lain dengan tujuan mengintimidasi dan merusak nama baik seseorang. Tujuan cyberbullying dalam media twitter adalah untuk memenuhi kebutuhan dimana pada hakikatnya semua orang selalu berjuang dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dalam hal kesehatan, keamanan, pengaruh, kekuasaan dan kepuasaan hidupnya secara biologis, lahiriah maupun batiniah. Dorongan, alasan dasar dan pikiran dasar bagi seseorang merupakan sebuah penggerak untuk mau bertindak memenuhi kebutuhannya, hal inilah yang disebut sebagai motivasi, motif jika dihubungkan dengan konsumsi media berarti segala alasan dan pendorong dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang menggunakan media.Penelitian ini bertujuan untuk memahami motivasi pelaku dalam melakukan cyberbullying dijejaring sosial twitter. Dalam penelitian ini, teori yang digunakan adalah motif sosiogenis, yaitu motif cinta, motif kompetensi, dan motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas. Selain itu motif afektif juga menjadi alasan pelaku melakukan cyberbullying yaitu reduksi, peneguhan dan penonjolan. Kedua motif yang ada didukung dengan Teori Uses And Gratification dan pendekatan emosi. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologi yang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap lima orang informan yang masing-masing merupakan pelaku cyberbullying di dalam jejaring sosial Twitter dan telah menggunakan jejaring sosial ini selama setahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam jejaring sosial twitter, perilaku cyberbullying terjadi karena motivasi yang ada pada dalam diri informan, seperti motif sosiogenis dan motif afektif. Dibalik semua motif yang ada, tersimpan perasaan emosi yang dirasakan informan dan membawanya kepada perilaku cyberbullying di twitter. Emosi yang dirasakan informan seperti emosi kesal, sakit hati dan senang menciptakan motif sosiogenis dan afektif yang mendorong informan untuk melakukan perilaku cyberbullying di twitter.Key words :Twitter, cyberbullying, motif, emosi
The Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station Used for the Conflict Resolution Across the Countryside (Case Study Socialization of Batang Coal-Fired Power Station in the Karanggeneng Village, Kandeman Subdistrict, Batang District) Rizki Kurnia Yuniasti; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15504.76 KB)

Abstract

Coal-fired power station development planned by PT Bhimasena Power Indonesia and The Batang District Goverment is one of the innovation for the Karanggeneng civilization, Kandeman Subdistrict of Batang District triggered some conflicts so that development project has been delayed. The research purpose is to describe the socialization and how the Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station can solve the conflict. The research is descriptive qualitative approach to understanding the perspective of interpretive while research method used is a case study method. The research theories are Uncertainty Reduction Theory, Diffussion of Inovation Theory, Triangle of Conflict Theory, The Principle of Negotation theory, and The Convergence of Model Communication. This research result indicates that the socialization of coal-fired power Batang done through the formal and informal sides. The obstacles in this socialization are late socialization, uncertainty of information because the the other hand informations, social estrangement (social estrangement to be two namely pro and contra for Batang coal-fired power station) Batang coal-fired power station development and conflicts namely compensation land and social compensation. The communication forum of Batang coal-fired power station in the Karanggeneng Village have not been able to resolve the conflict in the Karanggeneng village. The communication forum Batang coal-fired power station experienced divergence at the time of the negotiation process due to the absence of mutual understanding. Negotiations containing the equivalent communication, openness information and mutual understanding is the communication models which is proper for the conflict resolution with The Convergence Communication Models.
Pemeliharaan Hubungan Antara Ibu Sebagai Orang Tua Asuh Tunggal Dengan Anak Sessy Refi Sanina; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 8, No 3: Juli 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.631 KB)

Abstract

In general, a whole or a complete family supported by the roles between a father and a mother. Many families end up not living together because of various problems, from divorce to the death of one of the parents. This research is motivated by a singk who experiences problems because of her busy work. It could impact the children with lack of communication and the intensity of face-to-face, which directly affects the quality of the relationship between the mother and her child. This study aims to describe the maintenance of the relationship between Ibu sebagai orang tua asuh tunggals and children using qualitative methods. This study refers to the interpretive paradigm with a phenomenological approach. The subjects of this study were three pairs of informants with mothers who acted as Ibu sebagai orang tua asuh tunggals and had children aged over 17 years, both male and female. The data collected with in-depth interviews technique. The theories used in this study are the theory of Relationship Maintenance, the method of Relational Dialectics, the Role Theory by, and the theory of Equality (Equity Theory). The results of this study indicate that communication patterns between single mother and children have their own way of maintaining relationships, namely in creating positive relationships, closeness, and openness and have different guarantees and assignments. Constraints that often occur between mothers as single foster parents and children occur due to reduced communication intensity, reduced face-to-face frequency and also financial constraints. Effective communication affects the quality of the relationship between mother as a single foster parent and child. The communication patterns applied in this study refer to pluralistic and laissez faire communication patterns. The relationship between a mother as a single mother and a child is not linear, and is always marked by a change, the relationship is always in a changing state when various contradictions arise.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muh. Medriansyah Putra Kartika Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida