Claim Missing Document
Check
Articles

Manajemen Produksi Terung (Solanum melongena L.) Hidroponik dalam GH dengan Aspek Khusus Pemupukan di Belanda Heru Setiawan; Ahmad Junaedi; M. Rahmad Suhartanto
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 1 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.334 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v7i1.24750

Abstract

Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman tropis yang dibudidayakan menggunakan rumah kaca di Belanda. Rumah kaca ini dapat mengatur faktor lingkungan tumbuh tanaman seperti suhu, kelembaban, cahaya dan kadar CO2. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari proses manajemen pemupukan di rumah kaca. Manajemen pemupukan meliputi perencanaan kebutuhan pupuk, pengorganisasian pemupukan, pelaksanaan pemupukan, dan pengawasan pemupukan. Budidaya terung di rumah kaca menggunakan soilless culture system yang menggunakan rockwool sebagai media tanamnya. Pemupukan di dalam rumah kaca menggunakan metode fertigasi. Fertigasi adalah metode pemupukan yang dilakukan bersamaan dengan irigasi. Sistem irigasi di rumah kaca yaitu irigasi tetes. Irigasi tetes memungkinkan larutan hara diberikan kepada tanaman dalam jumlah yang kecil dan terukur jumlahnya melalui drip emitter. Metode fertigasi melalui sistem irigasi tetes memberikan banyak manfaat diantaranya efisiensi penggunaan air dan pupuk, hemat tenaga kerja, mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan dan menghasilkan produksi yang berkualitas. Faktor penting dalam pembuatan larutan hara fertigasi yaitu pH, EC, dan kompatibilitas pupuk. Nilai pH dan EC larutan hara untuk tanaman terung berturut-turut yaitu 5.2-5.5 dan 1.6-3.0 mS cm-1. Kompatibilitas pupuk perlu diperhatikan untuk mencegah pengendapan yang dapat berakibat terjadinya penyumbatan pada sistem irigasi tetes. 
Pemanfaatan Alat Pengusangan Cepat Menggunakan Etanol untuk Pendugaan Vigor Daya Simpan Benih Jagung (Zea mays L.) Zulfa Fauziyyah Taini; Rahmad Suhartanto; Ahmad Zamzami
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 2 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.669 KB) | DOI: 10.29244/agrob.7.2.230-237

Abstract

Pengusangan cepat adalah pengujian vigor daya simpan benih setelah mendapatkan pengusangan fisik maupun kimia yang dapat memberikan simulasi lingkungan suboptimum yang dapat menyebabkan kemunduran benih mirip seperti kondisi sebenarnya. Penelitian ini menggunakan metode pengusangan cepat kimia pada benih jagung dengan memanfaatkan alat pengusangan cepat tipe IPB 77-1 MM. Alat pengusangan cepat (APC IPB 77-1 MM) diharapkan merupakan mesin yang akan dapat mempercepat kemunduran benih dengan memanfaat uap etanol 96%. Fungsi dari alat pengusangan cepat IPB 77-1 MM dimaksudkan agar dapat melihat kemunduran benih secara cepat yang bisa menggambarkan kemunduran mutu yang terjadi pada penyimpanan alami yang dalam penelitian ini ditunjukkan dengan menggunakan metode penyimpanan terkontrol. Penelitian ini menggunakan lima lot benih jagung dengan tingkat vigor yang berbeda hasil dari deteriorasi terkontrol pada suhu 40 °C dan RH 98%. Hasil dari pembuatan lot benih dari vigor tinggi hingga rendah: P1 (94.5% berkecambah normal), P2 (92.5% berkecambah normal), P3 (70% berkecambah normal), P4 (38% berkecambah normal), dan P5 (17% berkecambah normal). Penelitian ini terdiri dari dua percobaan, percobaan pertama adalah pengusangan cepat kimia yang terdiri atas 5 taraf waktu pengusangan yaitu 0, 25 (1x25’), 50 (2x25’), 75 (3x25’), dan 100 (4x25’) menit. Percobaan kedua adalah penyimpanan terkontrol pada kondisi suhu kamar (30-34 °C) dan RH tinggi (85-99%) yang didapatkan dari larutan garam jenuh Na2SO4 dan terdiri dari 5 taraf waktu penyimpanan yaitu 0, 10, 20, 25, dan 30 hari.. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pemanfaatan APC IPB 77-1 MM untuk pendugaan vigor daya simpan benih jagung dengan menggunakan pengusangan kimia. Hasil percobaan menunjukkan alat pengusangan cepat IPB 77-1 MM dapat digunakan untuk menduga penurunan vigor pada benih jagung. Hasil percobaan juga menunjukkan alat pengusangan cepat IPB 77-1 MM dapat menduga nilai vigor daya simpan yang sama dengan percobaan penyimpanan pada tolok ukur daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum sedangkan untuk tolok ukur indeks vigor dan kecepatan tumbuh belum menunjukkan konsistensi penurunan vigor.
Penyimpanan Mahkota Nanas dan Zat Pengatur Tumbuh pada Pertumbuhan Setek Basal Daun Asal Mahkota Putri Mian Hairani; Mohamad Rahmad Suhartanto; Eny Widajati
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 25 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.483 KB) | DOI: 10.18343/jipi.25.2.278

Abstract

The availability of pineapple seedlings in the field is a problem in the development of Smooth cayenne pineapple because of limited sources of planting material compared to the other types. Effort that can be done to solve the problem is to use the method of crown leaf-bud cutting. Propagation of pineapple (Ananas comosus L) with the method of crown leaf-bud cutting is not optimum so it can be optimized; one of them is by giving the duration of storage treatment and application of plant-growth regulators. The experiment was aimed to study the effect of crown storage duration and plant growth regulators on the growth of pineapple seedlings. The experiment was arranged in a nested plot design. Duration of crown storage for 2 (control), 10, and 20 days in room conditions at a temperature of 29-35°C and humidity of 46-70% as the main plot. The subplot was combination of indole-3-butyric acid (IBA) and 6-benzylaminopurine (BAP) with the concentrations: IBA 300 ppm and BAP 400 ppm, IBA 300 ppm and BAP 600 ppm, IBA 400 ppm and BAP 400 ppm, as well as IBA 400 ppm and BAP 600 ppm. The results of the experiment showed that the leaf-bud cuttings which stored for 10 days 57.34% were survived, 57.15% were sprouted, and 51.62% were rooted, while the control that survived, sprouted, and rooted did not reach more than 30%. The content of endogenous ABA in the crown leaf-bud shoots decreased significantly after being stored for 10 and 20 days, while the contents of endogenous auxins and cytokines were not different from the controls. Application of IBA 400 ppm combined with BAP 400 and 600 ppm increased the percentages of survived and sprouted cutting 1.5-1.7 times compared to control. Keywords: auxin, cytokines, exogenous hormone, endogenous hormone, vegetative propagation
Pengendalian Colletotrichum spp. Terbawa Benih Cabai dengan Paparan Gelombang Mikro Lilih Naelun Najah; Mohamad Rahmad Suhartanto; Widodo Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 12 No 4 (2016)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.336 KB) | DOI: 10.14692/jfi.12.4.115

Abstract

Seed treatment using microwave has been reported as an effective and efficient method to control seed borne pathogens of chili pepper.  The purpose of this research was to evaluate the effectiveness of microwave irradiation treatment to suppress seedborne Colletotrichum spp. while maintaining physiological quality of chili’s seed.  First experiment was aimed to select the best condition for seed germination, and was done in completely randomized design with three levels of water content (4.31%, 6.33%, and 8.25%).  The second experiment was aimed to determine the best condition for disease suppression, and was done in completely randomized design with different levels of microwave irradiation duration (0, 10, 20, 30, 40, and 50 seconds) using the best seed water content level from the first experiment.  Application of systemic fungicide with benomyl as active ingredient (0.5 g L-1) was done as check treatment.  Four major species of Colletotrichum was found from chili’s seed, i.e. C. acutatum, C. capsici, C. gloeosporioides, and Colletotrichum sp. with C. acutatum as the predominant species.  The best water content level for microwave treatment was 4.31%. The most effective treatment was microwave irradiation duration for 40 seconds with efficacy rate of 64.5% for controlling seedborne C. acutatum on chili pepper.
Keefektifan Perlakuan Air Panas terhadap Nematoda Ditylenchus destructor pada Umbi Bawang Putih Heri Ahmadi; Supramana Supramana; Mohamad Rahmad Suhartanto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 15 No 1 (2019)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.238 KB) | DOI: 10.14692/jfi.15.1.16

Abstract

The Effectiveness of Hot Water Treatment Against Nematode  Ditylenchus destructor on Garlic BulbsThe high importation of garlic increases the risk of entry and spread of Ditylenchus to Indonesia. The hot water treatment (HWT) has the potential to be developed as an effective and safe method for elimination Ditylenchus in garlic. The aim of the current research was to examine effectiveness of HWT application on imported garlic to eliminated Ditylenchus. The research consisted of garlic sampling, nematode identification and determination of population abundance, and HWT. Samples were taken from traditional markets. The range of HWT temperature tested was 41, 43, 45, 47, 49, 51, 53, and 55 °C for 20 minutes and control. Optimization of treatment time was carried out at 49–51 °C for 5, 10, 15, 20, 25, 30 minutes and control. The results showed that based on morphological characters the parasitic nematodes that infect imported garlic from China were D. destructor. Nematode populations are varied in the sample, the highest number was 508 nematodes per 50 g of garlic. Hot water temperature at 41–51 °C did not affect the quality of garlic, and the temperature of 49–55 °C caused 100% nematode mortality. Hot water at 49 °C for 20–30 minutes or 51 °C for 20–25 minutes effectively eliminated Ditylenchus in garlic without affecting the garlic quality. The research confirmed the presence of D. destructor in imported garlic imported from China, so it is recommended to tighten inspection at a port of entry and monitoring its potential spread in Indonesia.
Penentuan Masak Fisiologi dan Ketahanan Benih Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) terhadap Desikasi Muhammad Abdul Rahman Hakim; M. Rahmad Suhartanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.584 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.84-90

Abstract

ABSTRACTCosmos  caudatus  Kunth is an  annual  herb useful for  natural herbal medicine especially for reducing  body  odour  and  improving  apetite.  The  leaves  are edible  vegetable.  Research  was conducted  in  Unit  of  Conservation  and Biofarmaka  Cultivation  (UKBB)  and  Seed  Technology Laboratory  at  the Department  of  Agronomy  and  Horticulture  in  Bogor  Agricultural University between December 2013 until April 2014. The purpose of this research was  to determine the period of physiological maturity and to study the resistance of Cosmos  caudatus Kunth seed to dessication. The  first  stage  of this  research  used  completely  randomized  design  with  1  factor  and  5 different levels of  harvest period : 24 days, 28 days, 32 days, 36 days, 40 days. The second  stage of research used completely  randomized  design  with 2 factors, i.e.  drying method and time. The drying methods used were of 2 types : drying in box dryer (fan and heater) at 37-41 0C and RH 29-38%, and in box dryer  (fan)  at  28-32 0C  and  RH  34-44%.  There  were  5  variations of  drying  time  (1,2,3,4  and  5 hours) for drying in box dryer (fan and heater) and box dryer (fan). The first stage research revealed that seed physiological maturity  could be determined from  the suitable harvest period of 40 days prior to blooming, while the second stage research showed that the effective drying time was 2- 3 hours, and box dryer (fan) or wind drying gave a better drying result than that of box dryer (fan and heater).Keywords : Box dryer, Natural herbal medicine, Seed harvest period. ABSTRAKKenikir  merupakan  tanaman  herba  semusim  yang  berguna  sebagai  obat herbal  alami  serta dapat  dikonsumsi  sebagai  sayuran  pada  bagian daunnya.  Percobaan  dilaksanakan  di  Kebun Percobaan  Unit  Konservasi  dan Budi  Daya  Biofarmaka  dan  Laboratorium  Teknologi  Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Desember 2013 hinggaApril  2014.  Tujuan  penelitian  adalah  menentukan  periode  masak fisiologi  benih  kenikir dan mempelajari  ketahanan  benih  terhadap  desikasi. Penelitian  pertama  menggunakan  rancangan  acak lengkap  1 faktor  dengan 5  perlakuan periode umur panen :  24 hari, 28 hari, 32 hari,  36 hari,  dan 40 hari. Penelitian  kedua  menggunakan  rancangan  acak  lengkap  2  faktor yaitu dengan  metode pengeringan  dan  waktu  pengeringan.  Metode  pengeringan terdiri  atas  2  taraf  perlakuan  yaitu pengeringan dengan menggunakan alat box dryer  (fan and heater) dengan suhu 37-41 0C, RH 29-38 % dan box dryer (fan) dengan suhu 28-32 0C, RH 34-44% sedangkan waktu pengeringan terdiri atas 5 taraf perlakuan (1, 2, 3, 4, 5) jam untuk pengeringan menggunakan box dryer (fan and heater) dan menggunakan  box  dryer  (fan).  Penelitian pertama  menunjukkan  hasil  bahwa  penentuan  masak fisiologi benih kenikir dapat dilihat dari umur panen yang sesuai pada saat masak fisiologi 40 harisebelum berbunga  dan hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa waktu pengeringan yang efektif adalah  2-3  jam  serta  pengeringan  menggunakan box  dryer  (fan)  atau  kering  angin  lebih  baik dibandingkan dengan menggunakan box dryer (fan dan heater).Kata kunci : box dryer, obat herbal alami, umur panen benih 1
Peningkatan Mutu Bibit Torbangun (Plectranthus amboinicus Spreng.) dengan Pemilihan Asal stek dan Pemberian Auksin Pipin Apriani; M. Rahmad Suhartanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.109 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.109-115

Abstract

ABSTRACTTorbangun or Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus), is an  indigenous plant. Its leaves isused as herbal plant. Torbangun propagation is done vegetatively by cutting.  The purpose of this research was to determine the best combination of cutting method and auxin concentration, in order to achieve  vigorous seedlings. This research was conducted at Biofarmaka, IPB, from January until March 2014. It consisted of 2  experiments  arranged in Completely Randomized Block Design.  First experiment  consisted  of  3  kinds  of  cuttings  and  3  kinds  of auxin  concentrations  as  treatments.Second experiment was continuation of the first experiment. Second experiment consisted of 3 kindsof  bud  cutting length  and 3  kinds  of auxin  concentrations  as treatments. The result of this researchshowed  that the best cutting treatments  was cutting of  7.0  cm  in length. All concentrations  of auxin did not affect to cutting’s variables.Keywords: cutting methods, seed quality, Plectranthus amboinicus ABSTRAKTorbangun atau Bangun  bangun (Plectranthus amboinicus)  adalah tanaman indigenous yang daunnya  dapat digunakan sebagai tanaman obat.  Perbanyakan tanaman torbangun masih dilakukan secara vegetatif, yaitu menggunakan stek batang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan asal stek  dan konsentrasi auksin yang tepat sehingga  menghasilkan stek yang vigor. Penelitian ini telah  dilaksanakan  pada  bulan  Januari  sampai  dengan  Maret di  Biofarmaka,  IPB.  Penelitian  ini terdiri atas 2 percobaan dan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak faktorial. Percobaan 1  memiliki  2  faktor perlakuan,  yaitu  asal  stek  dan  konsentrasi  auksin.  Percobaan  2  terdiri atas  2 faktor  perlakuan, yaitu panjang stek dan konsentrasi auksin.  Hasil analisis data  mulai  minggu ke 3 sampai dengan  minggu  ke 7  setelah tanam menunjukkan bahwa  stek asal pucuk  dengan panjang 7 cm  adalah  stek yang paling baik untuk digunakan.  Konsentrasi auksin pada ke  dua percobaan tidak berpengaruh nyata pada semua tolok ukur keberhasilan stek torbangun.Kata kunci: metode stek, mutu bibit, Plectranthus amboinicus
Pola Penurunan Viabilitas dan Pengembangan Metode Pendugaan Vigor Daya Simpan Benih Pepaya (Carica Papaya L.) Astryani Rosyad; M. Rahmad Suhartanto; Abdul Qadir
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.633 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.146-154

Abstract

ABSTRACTInformation of seed quality during storage can be determined through the actual storage and storability vigor estimation. This study aimed at comparing effective accelerated aging methodbetween physical and chemical, and studying the seed deterioration during storage in ambient (T =28-30 0C, RH=75-78%) and AC (T =18-20 0C, RH =51-60%) condition with three levels of initial moisture content (8-10%, 10-12%, and 12-14%) for 20 weeks. The final objective of this researchwas to develop model for storability vigor of papaya seed. Two experiments, accelerated aging and seed storage were conducted at Seed Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University from October 2015 to May 2016. A completely randomized design with nested factors and four replications was applied to both experiments. The results showed that physical accelerated aging using IPB 77-1 MMM machine was more effective than chemical accelerated aging using IPB 77-1 MM machine for papaya seed. The viability of seed stored in AC condition remained high until the end of the storage period, whereas it declined at 16 week storage period in the ambient condition. The viability of seed with initial moisture content of 12-14% declined faster than that of initial moisture content of 8-10% after 18 week storage periode. The model used to estimate the storability vigor of papaya seed accurately was the equation y = a + b expcx where y : storability vigor estimation, x : aging time and a,b,c : constant value. Simulation of storability vigor estimation with constant value of a, b, c and input of aging time can estimate storability seed vigor in actual storage.Keywords: accelerated aging, IPB 77-1 MM machine, IPB 77-1 MMM machine, seed storage, simulationABSTRAKInformasi mutu benih selama penyimpanan dapat diketahui melalui penyimpanan secara aktual dan pendugaan vigor daya simpan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metodepengusangan cepat yang efektif antara fisik dengan kimia serta mempelajari pola penurunan viabilitas benih selama penyimpanan aktual pada kondisi simpan kamar (suhu =28-30 0C, RH =75-78%) dan AC (suhu =18-20 0C, RH =51-60%) dengan tiga tingkat kadar air awal (8-10%, 10-12%, dan 12-14%) selama 20 minggu. Tujuan akhirnya adalah membangun model vigor daya simpan benih pepaya. Penelitian pengusangan cepat dan penyimpanan dilakukan pada bulan Oktober 2015 sampai Mei 2016 di Laboratorium Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut PertanianBogor. Kedua penelitian menggunakan rancangan acak lengkap tersarang dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusangan cepat secara fisik dengan alat IPB 77-1 MMM lebih efektif daripada pengusangan kimia dengan alat IPB 77-1 MM untuk benih pepaya. Viabilitas benih yang disimpan pada kondisi AC tetap tinggi hingga akhir periode simpan, sedangkan pada kondisi kamar penurunan viabilitas dimulai pada periode simpan 16 minggu. Benih yang disimpan dengan tingkat KA awal sebesar 12-14% lebih cepat mengalami penurunan viabilitas mulai periode simpan 18 minggu dibandingkan dengan benih dengan KA awal 8-10%. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat korelasi yang erat antara pola kemunduran benih pada pengusangan cepat dan penyimpanan aktual, sehingga model pendugaan vigor daya simpan (y) berdasarkan waktu pengusangan (x) dapat disusun dengan persamaan y = a + b expcx. Simulasi pendugaan vigor daya simpan dengan nilai konstanta a, b, dan c serta input waktu pengusangan dapat menduga vigor daya simpan benih selama penyimpanan aktual.Kata kunci: alat IPB 77-1 MM, alat IPB 77-1 MMM, pengusangan cepat, penyimpanan benih,simulasi
Karakter Fisik dan Fisiologi Serta Metode Konservasi Benih Vatica venulosa Blume (Dipterocarpaceae) Aulia Hasan Widjaya; M. Rahmad Suhartanto; Endah R. Palupi; Dian Latifah
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2021.18.2.167-181

Abstract

Vatica venulosa Blume merupakan jenis tumbuhan langka dengan kategori Critically Endangered A1c ver 2.3. Benih V. venulosa bersifat rekalsitran dan studi mengenai penentuan waktu panen, standar pengujian viabilitas, kadar air kritis benih untuk mendukung konservasi V. venulosa belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mempelajari periode perkecambahan, waktu masak fisiologi buah, kadar air kritis dan metode konservasi embrio V. venulosa. Periode perkecambahan V. venulosa memiliki hitungan awal dan akhir pada 23 hari setelah semai (HSS) dan 33 HSS. Benih V. venulosa mencapai masak fisiologi pada 101±3 hari setelah antesis (HSA) sampai 106±3 HSA. Kadar air kritis benih V. venulosa sebesar 38,63%-39,59%. Pertumbuhan embrio V. venulosa menggunakan Woody Plant Medium (WPM) memiliki tingkat keberhasilan sebesar 70% pada kadar air 34,1%. Woody Plant Medium hanya bisa digunakan hingga 15 hari setelah tanam (HST) untuk eksplan embrio tumbuhan berkayu yang memiliki kandungan fenolik tinggi. Benih V. venulosa memiliki daya berkecambah sebesar 78,75%-81,25% dan akan menjadi bibit dengan 2 helai daun pada 45 HSS. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa benih V. venulosa dapat dipertahankan melalui metode konservasi secara invitro untuk mendukung program konservasi benih tanaman langka.
DAYA SIMPAN BENIH JABON PUTIH [Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser] BERDASARKAN POPULASI DAN KARAKTERISTIK BENIH (Seed Storability of Jabon Putih [Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser] Base on Populations and Seed Characteristics) Evayusvita Rustam; Tatiek K. Suharsi; M. Rahmad Suhartanto; Dede J. Sudrajat
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.971 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2017.14.1.19-34

Abstract

 ABSTRACTJabon putih [Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser] has been cultivated in large scale. However it is constrained by the availability of high quality seeds and seed storability information. This study aimed to identify seed storability of jabon putih based on populations and seed morpho-physiological characteristics. Seeds were collected from eight populations, located in eight provinces. Population was a single factor in a completely randomized design for testing the germination characteristics (germination capacity, germination uniformity, germination speed, mean germination time and germination value) before and after storage. Geo-climate and soil macro elements were used as parameters to examine the correlation between environmental factors and seed characteristics before and after storage. Population was significantly correlated with germination characteristics, before and after storage for 54 months. The results indicated that seeds from Pomalaa population had the best germination characteristics, while those from Ogan Kemiring Ilir had the worst germination characteristics. Based on moisture content and storability, jabon putih seed could be categorized as orthodox that can be stored in long time at low temperatures with low moisture content. Geo-climate and soil macro element were not significantly correlated with germination. This result indicated that genetic factor had high contribution to seed storability of jabon putih.Key word : Genetic factor, morpho-physiological, ortodox seed, storage ABSTRAKJabon putih [Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser] telah banyak dibudidayakan dalam skala luas, namun terkendala dengan ketersediaan benih bermutu dan belum adanya informasi daya simpan benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik daya simpan benih jabon putih berdasarkan populasi dan karakteristik morfo-fisiologi benih. Benih dikumpulkan dari delapan populasi yang terletak di delapan provinsi. Populasi menjadi faktor tunggal dalam rancangan acak lengkap untuk menguji karakteristik perkecambahan (daya berkecambah, keserempakan tumbuh, kecepatan berkecambah, rata-rata waktu berkecambah dan nilai perkecambahan) sebelum dan setelah penyimpanan. Geo-klimat dan unsur makro tanah merupakan parameter yang dipakai untuk menguji korelasi antara faktor lingkungan dan karakteristik perkecambahan benih sebelum dan sesudah disimpan. Perbedaan asal benih atau populasi berpengaruh nyata terhadap perkecambahan benih sebelum dan setelah disimpan selama 54 bulan. Benih dari populasi Pomalaa (Sulawesi Tengah) mempunyai karakteristik perkecambahan terbaik sedangkan benih dari populasi Ogan Kemiring Ilir (Sumatera Selatan) mempunyai karakteristik perkecambahan terendah. Berdasarkan tingkat kadar air dan daya simpannya, benih jabon putih dapat dikategorikan sebagai benih ortodoks yang mampu disimpan lama pada suhu dan kadar air rendah. Sebagian besar faktor geo-klimat dan unsur makro tanah tidak berkorelasi nyata dengan perkecambahan benih baik sebelum maupun setelah disimpan. Hasil penelitian ini memberi indikasi bahwa faktor genetik berkontribusi besar dalam mempengaruhi perbedaan daya simpan benih jabon putih.Kata kunci: Benih ortodoks, faktor genetik, morfo-fisiologi, penyimpanan
Co-Authors Abdul Munif ABDUL MUNIF Abdul Qadir Agus Purwantara Agus Purwantara AGUS PURWANTARA Agus Ruhnayat AHMAD JUNAEDI Ahmad Zamzami Akhiruddin Maddu Alfarabi, Emir Aqsha Ani Kurniawati Ari Wahyuni Arodi Agustenta Sinulingga Astryani Rosyad Aulia Hasan Widjaya Baharudin Baharudin ; BAHARUDIN BAHARUDIN Cahyani, Gesa Nur Cintaning, Anis Bias Daniel Happy Putra Dede J. Sudrajat Dede J. Sudrajat DEVI RUSMIN DEWI, NI KADEK EMA SUSTIA Diaguna, Ridwan Dian Latifah Dirgahani Putri Dyah - Manohara Edi Santosa Eka Maulidiya, Sherly Endah R. Palupi Endah Retno Palupi Endang Gati Lestari ENDANG MURNIATI Eny Widajati Eprilian, Husna Fatima Evayusvita Rustam Evayusvita Rustam Fadillah, Arvin Muhammad Fatiani Manik Fatiani Manik Firdaus, Jonni Fitri Viva Yuningsih, Aida Fitriansyah, Muhammad Ramdhani Heri Ahmadi Heru Setiawan Heru Setiawan Ikasari, Yulfa Astuti Karmaita, Yummama Kartika Kartika Kartika Kartika Ketty Suketi Khairani Khairani Lainufar, Putri Aulia Lilih Naelun Najah Luluk Prihastuti Ekowahyuni Manohara, Dyah - Maryati Sari Mubarak, Farahdina Muhamad Noor Azizu, Muhamad Noor Muhamad Syukur Muhammad Abdul Rahman Hakim Muhammad Rofiq Nabila, Diah Ayu Nafisah Nafisah Neti, Natali Nurfiana, Yuni NURUL HIDAYAH Nurul Hidayah Nurul Rostami Dewi Nurul Rostami Dewi Otih Rostiana Palupi, Endah R. Pipin Apriani Purwono Purwono, Purwono Putri Mian Hairani Putri, Lystiana Dewi Qadir, Abdul Risa Wentasari Roedhy Poerwanto Rokhani Hasbullah Rukundo, Jean D’amour RUSMIN, DEVI SATRIYAS ILYAS Satriyas Ilyas Setyowati, Nur Farida Sinaga, Tamara Rudang Astari Sintho Wahyuning Ardie SRIANI SUJIPRIHATI Suci Rahayu Supramana Surjono Hadi Sutjahjo Suryo Wiyono Suwarto Suwarto Syarifa Mustika Syarifa Mustika Taisa, Rianida Tatiek K. Suharsi Tatiek K. Suharsi Tatiek Kartika Suharsi Usman Ahmad Widodo Widodo Zulfa Fauziyyah Taini