Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Frasa Endosentrik dalam Teks Cerita Hikayat pada Buku Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka Nur Saidah; Farida Ainur Rohmah; Ainun Rahma Dani; Asep Purwo Yudi Utomo; Turahmat; Nina Queena Hadi Putri
Student Research Journal Vol. 1 No. 2 (2023): April : Student Research Journal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/srjyappi.v1i2.359

Abstract

This study aims to determine the use of endocentric phrases as well as describe fragments of phrases contained in the Hikayat text in the Buku Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka. This study uses a theoretical approach, namely syntax, and a methodological approach, namely a qualitative descriptive approach. The research data comes from the Hikayat text in the Buku Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka. This analysis was carried out by reading the entire text and continuing with note-taking techniques, which functioned to record important points to find data in research analysis and continued to outline the material for further analysis. The results of this study found all types of endocentric phrases in the Hikayat text. In the entire text of the Hikayat that had been read, endocentric phrases were found based on their categories, namely 25 coordinating endocentric phrases, 80 attributive endocentric phrases, and 5 appositive phrases. The characteristics of the phrases obtained are based on their form, type, and structure. In this study, it was concluded that in determining the type of endocentric phrases, it can be analyzed by determining the categories of phrases based on the word class. For example, the equivalence of coordinating phrases can be determined based on word class and grammatical meaning, followed by phrases that express the same condition, conjunctive phrases, or no conjunctions. Then the attributive element in an attributive coordinating phrase is not always a word but can be a clitic as an explanatory element, both proclitic and enclitic. This analysis is intended to develop research in the analysis of types of endocentric phrases and to add knowledge and insight regarding endocentric phrases.
HEGEMONI, RELIGIUSITAS, DAN SEKSUALITAS SEBAGAI REPRESENTASI PRAKTIK KUASA MASA KINI DALAM FILM QORIN (KAJIAN WACANA KRITIS-SEMIOTIK) Dwi Rijaya Hakiki; Bibit Suhatmady; Nina Queena Hadi Putri
Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 7: Mei 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus pada aspek bentuk hegemoni, religiusitas, dan seksualitas dalam film Qorin (2022). Analisis dilakukan dengan memanfaatkan interdisipliner teori wacana kritis Norman Fairclough dan teori semiotika Roland Barthes. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah: (1) Bagaimana bentuk hegemoni, religiusitas, dan seksualitas oleh budaya penguasa dalam film Qorin kajian wacana kritis Norman Fairclough; (2) Bagaimana hubungan praktik kekuasaan dalam film Qorin terhadap representasi budaya penguasa masa kini di Indonesia kajian semiotika Roland Barthes; dan (3) Bagaimana dampak kepemimpinan budaya penguasa terhadap kemajuan perempuan dan keberhasilan pendidikan di Indonesia dalam film Qorin. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Data dan sumber data diperoleh melalui teknik studi dokumen. Teknik analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis secara menyeluruh, unsur kebahasaan dan simbolisasi mengenai problematika praktik kuasa dalam film Qorin. Untuk kemudian dikaitkan dengan berbagai kasus penguasa yang relevan terjadi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama laki-laki dalam film Qorin bernama Ustadz Jaelani. Seorang pemimpin sekaligus mursyid di sebuah pondok pesantren yang didedikasikan khusus untuk santri putri. Ustadz Jaelani merupakan tokoh seorang mursyid yang merefleksikan tiga bentuk praktik kuasa dalam film Qorin. Kepemimpinan yang menganut praktik hegemoni, religiusitas, dan seksulitas untuk menguasai sistem kekuasaan di pondok pesantren secara brutal dan menyesatkan. Dikatakan secara brutal, karena Ustadz Jaelani tidak segan-segan melakukan tindak pelecehan terhadap santri putri di pesantren. Demi mengembangkan kepatuhan dan memperoleh tubuh para santri putri, Ustadz Jaelani menerapkan ritual kesesatan mistis dengan menyembah jin Qorin. Dampaknya, menempatkan perempuan pada posisi ketidakberdayaan dan menghambat keberhasilan dalam ranah kependidikan
Analisis Nilai Budaya Pada Naskah Memanda Raja Sultan Aji Khalifah Umar Panglima Kumbang Lidya, Salma; Putri, Nina Queena Hadi
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/adjektiva.v7i2.4143

Abstract

Penelitian ini membahas nilai budaya dalam Naskah Memanda Kutai berjudul Raja Sultan Aji Khalifah Umar Panglima Kumbang. Kajian ini berfokus pada lima aspek nilai budaya: hubungan manusia dengan Tuhan, alam, masyarakat, orang lain, dan diri sendiri. Penelitian bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai budaya dalam naskah tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, pencatatan, dan analisis naskah. Hasil penelitian menunjukkan adanya representasi nilai budaya dalam cerita. Hubungan manusia dengan Tuhan tercermin melalui tokoh Raja yang patuh dan takut hanya kepada Allah SWT. Hubungan manusia dengan alam ditunjukkan oleh tokoh Hulubalang yang menggambarkan harmoni antara alam dan makhluk hidup. Hubungan manusia dengan masyarakat terlihat pada sifat Raja yang peduli terhadap rakyat tanpa membedakan status sosial. Hubungan manusia dengan orang lain tampak melalui tokoh Panglima Perang yang menunjukkan sikap tolong-menolong. Hubungan manusia dengan diri sendiri tercermin pada karakter Raja yang percaya diri, tegas, bertanggung jawab, dan taat kepada Tuhan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Naskah Memanda Kutai tidak hanya mencerminkan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga menyampaikan pesan moral universal yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat, memperkaya wawasan tentang budaya Kutai.
UNGKAPAN TRADISIONAL BAHASA DAYAK BAHAU BUSANG DI DESA LONG HUBUNG ULU KABUPATEN MAHAKAM ULU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Sulistyowati, Endang Dwi; Ulwatunnisa, Marwah; Tubun, Rensiana Kandida; Putri, Nina Queena Hadi; Zakaria, Masduki
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v13i3.12311

Abstract

Ungkapan dalam bahasa Dayak Bahau Busang juga terdapat ungkapan tradisional mengandung niilai-nilai sastra dan budaya. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan ungkapan tradisional Bahasa Dayak Bahau Busang Di Desa Long Hubung Kecamatan Long Hubung Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data dalam penelitian ini dibedakan menjadi data primer dan sekunder. Data primer yaitu ungkapan masyarakat desa Long Hubung Kecamatan Long Hubung Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur. Data sekunder berkaitan dengan documen-dokumen yang mendukung data primer. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu teknik observasi, teknik wawancara, teknik catat dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan analisis data bahwa bentuk ungkapan terbagi menjadi tiga bentuk yaitu 1) kata sebagai ungkapan, 2) gabungan kata sebagai ungkapan 3) kalimat sebagai ungkapan. Dari segi unsur pembentuknya ungkapan tradisional berunsur inti atau diterangkan (D) dan unsur penjelas atau menerangkan (M). Penggunaan ungkapan menjadi empat jenis yaitu 1) ungkapan menyatakan nasihat 2) ungkapan menyatakan sindiran 3) ungkapan menyatakan ejekan dan 4) ungkapan menyatakan makian. Kata kunci: Ungkapan Tradisional, Dayak Bahau Busang
REPRESENTASI NILAI-NILAI BUDAYA DALAM BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS XI BERBASIS KURIKULUM MERDEKA Dewi Anjayani; Bibit Suhatmady; Nina Queena Hadi Putri; Yusak Hudiyono; Dwi Nugroho Hidayanto; Masrur Yahya
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 4 No. 10: Maret 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v4i10.9906

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya direpresentasikan dalam buku teks Bahasa Indonesia Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI Berbasis Kurikulum Merdeka menggunakan teori Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Nilai-nilai budaya yang dikaji meliputi gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun buku teks ini merepresentasikan berbagai nilai budaya sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, terdapat kecenderungan tertentu dalam penggunaan bahasa yang secara implisit memperlihatkan ideologi tertentu. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi guru dan siswa untuk berpikir lebih kritis terhadap wacana budaya yang terkandung dalam buku teks.
Strata norma roman ingarden terhadap puisi 'Karawang-Bekasi' karya Chairil Anwar Hayati, Sila Faizatul; Putri, Nina Queena Hadi
Patria Educational Journal (PEJ) Vol 4 No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 September 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/pej.v4i3.1607

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis puisi “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar menggunakan pendekatan strata norma Roman Ingarden. Latar belakang penelitian ini fokus pada pentingnya apresiasi puisi dalam memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang meliputi teknik membaca, mengidentifikasi, dan menganalisis puisi data. Temuan menunjukkan bahwa puisi ini menyampaikan tema perjuangan dan pengorbanan melalui lima lapisan norma: bunyi, arti, objek, dunia, dan metafisik. Hasil analisis menampilkan kedalaman emosional dan kompleksitas makna yang terkandung dalam puisi, sekaligus tekanan tanggung jawab generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan. Simpulan dari penelitian ini menggarisbawahi bahwa puisi tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai sarana untuk merefleksikan nilai-nilai sejarah dan identitas bangsa. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis puisi “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar dengan menggunakan pendekatan strata norma Roman Ingarden. Latar belakang penelitian ini berfokus pada pentingnya apresiasi puisi dalam memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang meliputi teknik membaca, mengidentifikasi, dan menganalisis data puisi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa puisi ini menyampaikan tema perjuangan dan pengorbanan melalui lima lapisan norma: bunyi, makna, objek, dunia, dan metafisik. Hasil analisis mengungkap kedalaman emosional dan kompleksitas makna dalam puisi, sekaligus menekankan tanggung jawab generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan. Simpulan penelitian ini menyoroti bahwa puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra tetapi juga sebagai sarana untuk merefleksikan nilai-nilai sejarah dan identitas nasional.
Mantra penyambutan kelahiran anak pada ritual belian melas suku Dayak Tunjung Putri, Nina Queena Hadi; Sulistyowati, Endang Dwi; Saputra, Marselinus Juan; Rokhmansyah, Alfian
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v7i3.1051

Abstract

Mantra dipercaya oleh masyarakat pendukungnya memiliki kekuatan gaib, kesaktian, dapat menyembuhkan penyakit, dan menghindari gangguan roh-roh gaib. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi mantra belian melas suku Dayak Tunjung di Kampung Ngenyan Asa, Kabupaten Kutai Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, transkrip data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian mantra pada belian melas berfungsi sebagai pengendali sosial (nasihat), pengingat (peringatan toleransi, dan alat komunikasi pemeliant dengan para roh-roh agar tidak mengganggu, menyakiti dan kembali kepada anak keluarga), sarana untuk berdoa dengan roh-roh, dan sarana pelestarian budaya lokal.
Nilai-Nilai Sosial Dan Budaya Dalam Tradisi Ruwahan di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara (Kajian Antropologi Sastra) Farawita, Ria; Putri, Nina Queena Hadi
Pendas Mahakam : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol. 9 No. 3 (2024): December
Publisher : Teacher Training and Education Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini mendeskripsikan nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung dalam tradisi Ruwahan yang dikaji dengan pendekatan antropologi sastra. Jenis penelitian ini berupa penelitian deskriptif kualitatif  dengan pendekatan antropologi sastra. Data yang telah ditemukan akan dianalisis menggunakan pendekatan antropologi sastra. Teknik analisis data menggunakan model analisis Spradley. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada tradisi Ruwahan terdapat dua nilai yang paling dominan yakni 1) nilai sosial; 2) nilai budaya. Nilai sosial meliputi rasa kasih sayang, empati, toleransi, kerja sama. Adapun nilai budaya meliputi simbol, sikap atau kebiasaan, kepercayaan yang tertanam bisa dijadikan nilai moral dalam folklor yang dapat diteladani oleh generasi muda. Kata Kunci: Nilai-nilai, Tradisi Ruwahan, Antropologi Sastra    
Representasi Isu Lingkungan dalam Dongeng P5 Mengusir Mesin Raksasa Karya Rama Aji: Kajian Ekokritik Greg Garrard Zahrah Aulia Nabila; Nina Queena Hadi Putri
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i2.5572

Abstract

dongeng Mengusir Mesin Raksasa karya Rama Aji menggunakan pendekatan ekokritik Greg Garrard, yang mencakup enam aspek utama: Pencemaran (pollution), Hutan Belantara (wilderness), Bencana (apocalypse), Perumahan/Tempat tinggal (dwelling), Binatang (Animals), dan Bumi (earth). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, yakni membaca dan mencatat bagian-bagian teks yang mencerminkan isu-isu lingkungan. Hasil penelitian menemukan 11 data yang mencerminkan enam aspek ekokritik dalam narasi dan dialog yang mengemukakan dampak eksploitasi lingkungan, seperti pencemaran suara dan udara, kerusakan hutan, serta bencana ekologis berupa kelaparan dan kehilangan habitat. Dongeng ini juga menggambarkan perlawanan hewan-hewan terhadap mesin-mesin raksasa sebagai simbol perlawanan alam terhadap eksploitasi manusia.
Makna Simbolik dalam Legenda Minangkabau “Malin Kundang” Nazwah Alisca SK; Nina Queena Hadi Putri
Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/arjuna.v3i2.1710

Abstract

The legend of Malin Kundang is one of the most well-known folktales in West Sumatra, rich with moral messages and cultural symbolism. This study aims to explore the symbolic meanings embedded within the narrative elements of the Malin Kundang story, including characters, plot, setting, and events. The research applies a qualitative descriptive approach with semiotic analysis. The findings reveal that the character of Malin Kundang symbolizes a disobedient child who violates the customary norms of the Minangkabau culture, while the mother’s curse and the transformation into stone represent the consequences of neglecting cultural values and local wisdom. This legend functions not only as entertainment but also as a medium for the internalization of moral values and traditional teachings within Minangkabau society.