p-Index From 2021 - 2026
7.217
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BASASTRA BAHASTRA JURNAL KONFIKS Pendas mahakam : jurnal pendidikan dan pembelajaran Sekolah Dasar Jurnal Pendidikan : Riset dan Konseptual Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Jurnal Basataka (JBT) Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Skripta Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Patria Educational Journal Jurnal Ilmiah Buana Bastra: Bahasa, Susastra, dan Pengajarannya Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora Journal of Innovation Research and Knowledge Journal of General Education and Humanities Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Jurnal Bima: Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika Student Research Journal Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, Dan Sosial Humaniora Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TRANSFORMATIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Aksara Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Tindak Tutur Ilokusi pada Tuturan Film Pendek Berjudul Lemantun Sutradara Wregas Bhanuteja Iin Iduljanah; Nia Ramadhani; Fika Yuni Lestari; Arinas Sa’adah; Alifia Shifa Latif; Laela Nabila; Asep Purwo Yudi Utomo; Nina Queena Hadi Putri
Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan  Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober : Pragmatik : Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/pragmatik.v3i4.2265

Abstract

Language functions as a means of communication used by humans to convey goals, ideas, ideas, emotions, and feelings to others. This research aims to identify and describe the types of illocutionary speech acts contained in the short film “Lemantun”. This research is categorized as descriptive qualitative research. The data source for this research comes from all the speech acts contained in the short film “Lemantun”. The data analyzed includes pieces of speech allegedly containing illocutionary speech acts from the short film “Lemantun”. The data collection method used in this research is the technique of free listening and note taking. The data source utilized is the short film “Lemantun” by utilizing the analysis of speech act types according to Searle, which includes representative, directive, expressive, commissive, and declarative. This article can be useful for students because it provides knowledge about the types of illocutionary speech acts, so it is hoped that students can identify various types of illocutionary speech acts in daily activities.
Relevansi dan Dinamika Penggunaan Mantra dan Doa Laut Suku Bajau di Pulau Maratua pada Era Modern Taqdiraa, Taqdiraa; Nina Queena Hadi Putri; Widyatmike Gede Mulawarman; Syaiful Arifin; Bahri Arifin; Ahmad Mubarok
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7385

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi dan dinamika penggunaan mantra serta doa laut Suku Bajau di Pulau Maratua di tengah pengaruh modernisasi, islamisasi, dan perkembangan teknologi. Sebagai komunitas maritim, masyarakat Bajau memaknai mantra dan doa laut sebagai media sakral untuk perlindungan, keselamatan, dan hubungan spiritual dengan laut, namun perubahan sosial menyebabkan pergeseran fungsi dan makna tradisi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnolinguistik melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tetua adat, nelayan, tokoh agama, serta generasi muda. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi teknik dan sumber untuk menjaga validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mantra dan doa mengalami transformasi dari praktik magis menuju praktik religius serta simbol identitas budaya,  penggunaannya kini lebih banyak dijumpai dalam ritual tertentu seperti sedekah laut dan mandi safar dibanding aktivitas melaut sehari-hari. Generasi tua masih memaknai doa sebagai pelindung sakral, sedangkan generasi muda lebih menempatkannya sebagai bagian dari tradisi dan etika bermaritim. Faktor pelestarian meliputi identitas etnis, ritual kolektif, dan dokumentasi akademik, sementara faktor pergeseran mencakup islamisasi, teknologi navigasi modern, dan globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi mantra dan doa laut tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi praktik religius-sosial yang meneguhkan identitas Bajau. Pelestarian tradisi memerlukan dokumentasi berkelanjutan, pewarisan antargenerasi, serta integrasi pengetahuan budaya ke dalam pendidikan dan media digital.
Penerapan Storyboard Dalam Pengembangan Media Interaktif Pembelajaran Drama untuk Mengatasi Bullying di SMP halimah, Halimahtusyadiyah; Taqdiraa, Taqdiraa; Khairiyah, Ayu; Putri, Nina Queena Hadi; Suhatmady, Bibit
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/133960-019883

Abstract

Bullying is one of the serious social problems in the school environment, especially at the Junior High School (SMP) level. Bullying behavior not only affects students' academic achievement but also threatens mental health and character formation. Unfortunately, learning in schools often does not explicitly touch on this issue. This study aims to design and implement interactive learning media based on storyboards in drama learning as an educational effort to increase students' awareness of bullying. The method used is research and development (R&D) with the ADDIE model which includes the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The subjects of the study were grade VIII junior high school students who were involved in making storyboards with the theme of bullying and implementing drama simulations. The results of the study showed that the use of storyboards as interactive media was able to increase participation, understanding of the storyline, and build empathy and courage in students in dealing with bullying issues. Drama simulations are an effective means for students to express ideas reflectively and contextually. This study recommends the integration of interactive media and acting in the curriculum as a contextual learning strategy that not only educates but also shapes students' character as a whole.Keyword: bullying, storyboard, drama, interactive media, contextual learning
Representasi Emosi Pada Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis: Mimetik Terhadap Pengalaman Manusia Aditya Apriannur; Nina Queena Hadi Putri; Endang Dwi Sulistyowati
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 2 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/f871g082

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi representasi emosi dalam film "Bolehkah Sekali Saja Kumenangis" karya Reka Wijaya dengan menggunakan pendekatan mimetik. Film ini mengisahkan perjalanan hidup seorang wanita bernama Tari, yang berjuang melindungi ibunya dari kekerasan dan menghadapi berbagai tantangan emosional. Melalui analisis kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi delapan data yang diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian, termasuk transformasi naratif, konflik dalam film, eksplorasi kedalaman emosi kesedihan, dan pengalaman baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini secara efektif menggambarkan kerentanan emosional tokoh, terutama Tari dan Baskara, yang berjuang dengan ekspektasi, kekerasan, dan rasa kehilangan. Kesedihan yang dialami Tari diperkuat oleh perbandingan dengan Baskara, yang memiliki dukungan dan tempat yang aman. Film ini juga menyoroti perjalanan Tari dalam mencari kebebasan dan pengalaman baru, serta pentingnya dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Dengan narasi yang kuat dan pengembangan karakter yang mendalam, "Bolehkah Sekali Saja Kumenangis" berhasil menciptakan resonansi emosional yang intens, merangsang empati penonton terhadap realitas sosial dan budaya yang dihadapi oleh para tokohnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kajian film dan emosi, serta memperluas pemahaman tentang peran film dalam kehidupan manusia. KATA KUNCI: Film; Pendekatan Mimetik; Representasi Emosi   REPRESENTATION OF EMOTIONS IN FILM BOLEHKAH SEKALI SAJA KUMENANGIS: A MIMETIC REFLECTION OF HUMAN EXPERIENCE     ABSTRACT: This study aims to explore the representation of emotions in the film "Bolehkah Sekali Saja Kumenangis" by Reka Wijaya using a mimetic approach. The film tells the story of a woman named Tari, who struggles to protect her mother from violence and faces various emotional challenges. Through qualitative analysis, this study identified eight data that were classified into several parts, including narrative transformation, conflict in the film, exploration of the depth of sadness emotions, and new experiences. The results of the study show that the film effectively depicts the emotional vulnerability of the characters, especially Tari and Baskara, who struggle with expectations, violence, and loss. Tari's sadness is reinforced by the comparison with Baskara, who has support and a safe place. The film also highlights Tari's journey in seeking freedom and new experiences, as well as the importance of emotional support from those closest to her. With a strong narrative and in-depth character development, "Bolehkah Sekali Saja Kumenangis" successfully creates intense emotional resonance, stimulating the audience's empathy for the social and cultural realities faced by its characters. This study is expected to make a significant contribution to the study of film and emotion, as well as broaden the understanding of the role of film in human life. KEYWORDS: Film; Mimetic Approach; Representations of Emotions Diterima: 22 Juni 2025 Direvisi: 4 Juli 2025 Disetujui: 5 Juli 2025 Dipublikasi: 30 Oktober 2025 Pustaka  : Apriannur, A., Putri, N. Q. H., & Sulistyowati, E. D. (2025). Representasi emosi dalam film bolehkah sekali saja kumenangis: Mimetik pengalaman manusia. Jurnal Fon Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2), 361-371.  Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.  
REPRESENTASI KOLONIALISME DALAM KOMIK ONE PIECE ARC ARABASTA: ANALISIS POSTKOLONIAL FRANTZ FANON Hidayat Nur Raihan Rapi; Nina Queena Hadi Putri; Syaiful Arifin
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.423

Abstract

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasikan dan merepresntasikan kolonialisme yang termuat dalam komik “One Piece” karya Eiichiro Oda, bagian yang penulis bahas dalam komik One Piece adalah arc Arabasta yang termuat dalam volume 18 sampai volume 23 dengan pendekatan analisis postkolonial Frantz Fanon. Komik ini mengisahkan tentang seorang anak muda bernama Monkey D. Luffy yang menjadi bajak laut, tujuan utamanya adalah berlayar ke laut mencari harta terpendam peninggalan raja bajak laut, walaupun begitu penulis komik ini tidak menggambarkan tokoh utama sebagai bajak laut pada umumnya, justru seperti pahlawan yang membantu menyelesaikan masalah setiap kali dia datang ke suatu pulau, khusus arc Arabasta, tokoh utama membantu kerajaan Arabasta terbebas dari belenggu kolonialisme. Melalui analisis kualitatif, penelitian ini mengidentifikasikan empat representasi kolonialisme yang diklasifikasikan dalam beberapa data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komik ini sangat menggambarkan kolonialisme, terutama arc Arabasta dengan panel gambar dan balon bicara yang termuat dalam komik ini, sangat tercermin gambaran kesengsaraan rakyat arabasata secara fisik maupun batin. Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih terhadap kajian karya sastra, khususnya kajian komik dan kajian kolonialisme, serta memperluas pengetahuan tentang peran komik dalam kehidupan bermasyarakat. KATA KUNCI: Komik; One Piece; Arabasta; Representasi kolonialisme; Postkolonial   COLONIALISM REPRESENTATION IN THE ONE PIECE ARABASTA COMIC: FRANTZ FANON’S POSTCOLONIAL THEORY     ABSTRACT: The purpose of this study is to identify and represent colonialism contained in Eiichiro Oda’s “One Piece” comic. The author discusses the Arabasta arc in One Piece, which is contained in volumes 18 to 23, using Frantz Fanon’s postcolonial analysis approach. This comic tells the story of a young man named Monkey D. Luffy who becomes a pirate. Whose main goal is to sail the seas in search of the buried treasure of the pirate king. However, the author of this comic does not portray the main character as a typical pirate, but rather as a hero who helps solve problems whenever he comes to an island. Specifically in the Arabasta arc, the main character helps Arabasta kingdom free itself from the shackles of colonialism classifield in several data. The results of this study show that this comic strongly depicts colonialism, especially in the Arabasta arc, with the panels and speech bubbles contained in this comic clearly reflecting the physical and mental suffering of the Arabasta people. This research is expected to contribute to literary studies, particularly comic studies and colonialism studies, as well as expand knowledge about the role of comic in society. KEYWORDS: Comic; One Piece; Arabasta; Representation of colonialism; Postcolonial  
REPRESENTASI ROMANTISME DALAM LIRIK LAGU JATUH SUKA KARYA TULUS: SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Raihan Naufal Putra Susanto; Nina Queena Hadi Putri
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/tmqb6e94

Abstract

ABSTRAK:  Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana unsur romantisme dibangun dalam lirik lagu “Jatuh Suka” karya Tulus melalui analisis semiotika Roland Barthes yang mencakup tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Kajian ini berangkat dari maraknya ekspresi emosi yang lebih jujur dan terbuka di budaya populer Indonesia, sementara sebagian besar penelitian terdahulu hanya menelaah tema romansa secara umum tanpa menyoroti detail linguistik yang membentuk pengalaman afektif secara spesifik. Untuk menjembatani kekosongan tersebut, penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat guna mengidentifikasi unsur-unsur kebahasaan yang mengandung muatan emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level denotatif, lirik menggambarkan tahap awal jatuh cinta melalui respons sensorik, rasa gugup, dan keinginan untuk mendekat. Pada tahap konotatif, lirik menyusun nilai romantisme yang berfokus pada keterusterangan perasaan, kerentanan, serta kesantunan emosional. Pada level mitos, lirik menampilkan ideologi romantisme modern yang menempatkan pesona alami dan keberanian mengungkapkan perasaan sebagai sesuatu yang lumrah dan patut dihargai. Temuan ini memperlihatkan bahwa musik populer tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan makna dan model emosional yang hidup dalam budaya generasi muda. KATA KUNCI: Representasi romantisme, lirik lagu, semiotika Roland Barthes.   REPRESENTATION OF ROMANTICISM IN TULUS’S SONG LYRICS JATUH SUKA: A ROLAND BARTHES SEMIOTIC ANALYSIS     ABSTRACT: This research aims to reveal how romantic elements are constructed in Tulus’s song “Jatuh Suka” through Roland Barthes’ semiotic analysis, which examines the layers of meaning at the levels of denotation, connotation, and myth. The study is grounded in the rise of sincere, openly expressed emotions in Indonesian popular culture. At the same time, previous works mostly discuss romance in a general sense, without exploring the linguistic details that shape specific affective experiences. To address this gap, a descriptive qualitative method was applied, using close reading and note-taking techniques to identify linguistic units carrying emotional significance. The findings demonstrate that, at the denotative level, the lyrics depict the initial phase of falling in love through sensory reactions, nervousness, and the desire for closeness. At the connotative level, the lyrics construct romantic values characterized by honesty, vulnerability, and emotional politeness. At the myth stage, the lyrics present a modern romantic ideology that frames natural charm and the courage to express feelings as normal and socially appreciated. These results indicate that popular music functions not merely as entertainment but also as a cultural space where emotional meanings and romantic models are shaped for contemporary young audiences. KEYWORDS: Representation of Romanticism; song lyrics; Roland Barthes semiotics  
FILOLGI DAN SASTRA MELAYU KLASIK: ANALISIS TOKOH, BAHASA, DAN NILAI MORAL DALAM HIKAYAT SI MISKIN Nur Safaria; Nina Queena Hadi Putri
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.254

Abstract

ABSTRAK: Kajian ini menggali hubungan antara ilmu filologi dan sastra Melayu klasik dengan menelaah teks Hikayat Si Miskin. Penelitian berfokus pada bagaimana tokoh-tokoh digambarkan, penggunaan bahasa, serta nilai-nilai moral yang tersirat dalam cerita tersebut, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui proses transkripsi naskah, penerjemahan, dan analisis struktur wacana yang meliputi tiga tingkatan: makro, superstruktur, dan mikro. Temuan menunjukkan bahwa tokoh utama digambarkan sebagai pribadi yang penuh kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan meski menghadapi penderitaan. Tokoh pendukung berperan memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pada tingkat makro, tema utama yang muncul adalah penderitaan, ujian hidup, dan keajaiban ilahi. Superstruktur membentuk alur cerita yang bergerak maju dengan tahapan awal, konflik, dan penyelesaian. Sementara itu, struktur mikro mencakup aspek semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris yang memperkaya makna teks. Nilai-nilai moral yang terkandung antara lain kesabaran, belas kasih, kejujuran, pengampunan, dan ketundukan pada kehendak Tuhan. Pendekatan filologis yang dipadukan dengan analisis wacana membuka ruang untuk memahami teks klasik secara lebih mendalam dan menegaskan pentingnya nilai-nilai moral Melayu dalam kehidupan masa kini. KATA KUNCI: Filologi, Sastra Melayu Klasik, Hikayat Si Miskin, Nilai Moral >  PHILOLOGY AND CLASSICAL MALAY LITERATURE: A STUDY OF CHARACTERIZATION, LINGUISTIC FEATURES, AND MORAL VALUESIN HIKAYAT SI MISKIN   ABSTRACT: This study examines the relationship between philology and classical Malay literature through an analysis of the text Hikayat Si Miskin. The main focus lies on the characterization, language use, and the moral values embedded within the narrative, employing a descriptive qualitative approach. Data were collected through manuscript transcription, translation, and discourse structure analysis at the macro, superstructure, and micro levels. The findings reveal that the main character is portrayed as patient and devoutly resigned to fate despite enduring hardship, while the supporting characters serve to reinforce the story’s moral message. At the macro level, the central themes of suffering and miracles are highlighted; the superstructure presents a progressive plot moving from introduction and conflict to resolution; and the micro-level analysis encompasses semantic, syntactic, stylistic, and rhetorical aspects. The moral values identified include patience, compassion, honesty, forgiveness, and submission to divine will. The synergy between philological study and discourse analysis allows for a deeper understanding of the text and affirms the continued relevance of classical values within contemporary life. KEYWORDS: Philology, Classical Malay Literature, Hikayat Si Miskin, Moral Values
Struktur Naratif dan Nilai Budaya dalam Legenda Asal Usul Orang Basap di Kalimantan Timur: Narrative Structure and Cultural Values in the Legend of the Origin of the Basap People in East Kalimantan Faradilla, Faradilla; Putri, Nina Queena Hadi
Pena : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. 3 (2026): Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/pena.v16i3.55477

Abstract

Folklore is a culture that is inherited from generation to generation and lives in society. This study aims to analyze the legend of the origin of the Orang Basap as part of oral folklore in East Kalimantan and identify the value of local wisdom contained in it. The method used is descriptive qualitative with a folkloric approach, using the structuralism theory of Vladimir Propp (1968) to analyze the function of figures and the semiotic theory of Roland Barthes (1972) to analyze the meaning of denotative, connotative, and mythical. The research data was in the form of legend texts obtained from the Indonesian Culture website and analyzed using the Miles and Huberman model. The results of the study show that the legend of the origin of the Orang Basap contains a narrative pattern that is in harmony with Propp's morphological theory, with six main narrative functions being found. Semiotic analysis revealed that the symbol of the magic rooster, the ship turned into stone, and the acculturation process contains a deep cultural meaning. This legend also contains three values of local wisdom: social, moral, and belief, which function as a means of character education, social control, and strengthening the cultural identity of the Dayak Basap people.
MANTRA PENGOBATAN BERSEMBUR SEBAGAI TRADISI LISAN SUKU PASER PEMATANG DAN SEMUNTE Selpila, Amilia; Hadi Putri, Nina Queena
Buana Bastra Vol 13 No 1 (2026): JURNAL ILMIAH BUANA BASTRA
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/bastra.vol13.no1.a11462

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi mantra pengobatan bersembur pada masyarakat suku Paser Pematang dan Semunte sebagai salah satu bentuk folklor lisan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian berupa mantra sembur sakit kepala, sembur sembala, dan sembur boii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra memiliki struktur pembuka, isi, dan penutup, dan pola rima yang berbeda-beda. Mantra pengobatan bersembur sakit kepala, sembur sembala, dan sembur boii bersifat asoferik karena menggunakan bahasa Paser halus suku Pematang dan Semunte yang tidak semua pewaris keturunan (belian) dapat memaknai arti mantra, meskipun ada beberapa kata dalam mantra mengggunakan bahasa Indonesia. Setiap mantra memiliki makna dan tujuan tertentu dalam proses penyembuhan. Mantra pengobatan bersembur suku Paser Pematang dan Semunte memiliki beberapa fungsi religius, yaitu sebagai bentuk doa, fungsi magis yaitu memiliki kekuatan penyembuhan, fungsi psikologis yaitu memberi rasa tenang dan keyakinan pada pasien, serta fungsi sosial mempererat hubungan sosial dalam masyarakat dan sebagai sarana pelestarian budaya lokal karena mantra diwariskan dari buyut hingga generasi muda. Mantra pengobatan bersembur tidak hanya digunakan untuk mengobati penyakit, tetapi juga menjadi bagian dari kepercayaan dan budaya masyarakat yang masih dijaga hingga sekarang.
Representation of Men in the Film “Sore: Istri dari Masa Depan”: A Roland Barthes Semiotic Analysis Sinta Yus Libu Putri; Nina Queena Hadi Putri
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 1 (2026): February
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i1.971

Abstract

The film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) presents a representation of masculinity that differs from the dominant patterns commonly found in mainstream Indonesian cinema. The male protagonist, Jonathan, is not portrayed as a stable, heroic, or authoritative figure, but rather as a vulnerable individual experiencing an identity crisis and in need of self-reflection to achieve independence. This study analyses how Jonathan’s masculinity is constructed through visual and narrative signs in the film, using Roland Barthes’ semiotic approach. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical design. Primary data were obtained through close viewing of scenes, dialogues, gestures, and visual elements in the film, while secondary data were collected from relevant literature on semiotics, film studies, and masculinity studies. The analysis applies Barthes’ three levels of meaning denotation, connotation, and myth, and is further enriched by R.W. Connell’s perspective on hegemonic masculinity. The findings indicate that the film deconstructs the myth of hegemonic masculinity that emphasises absolute independence, emotional control, and dominance, and instead offers an alternative masculinity that values vulnerability, self-awareness, and a commitment to a healthy lifestyle as new forms of strength. Thus, Sore: Istri dari Masa Depan not only represents individual transformation but also reflects a broader shift in the discourse on masculinity within contemporary Indonesian socio-cultural contexts.
Co-Authors Aditya Apriannur Afifah, Nisa Fitriyanti Agustian, Jaka Farih Agustina, Desy Ahmad Mubarok Ainun Rahma Dani Ajeng Ratri Namdariah Alfian Rokhmansyah Alifia Shifa Latif Ardelia, Azra Abidah Arifin, Syaiful Arinas Sa’adah Asep Purwo Yudi Utomo Asnan Hefni Aulia, Sylva Azni, Fadhilah Bahri Arifin Bella Setyawati Bibit Suhatmady Dandi, Dandi Dewi Anjayani Dwi Nugroho Hidayanto Dwi Rijaya Hakiki Endang Dwi Sulistyowati FARADILLA, FARADILLA Farawita, Ria Farida Ainur Rohmah Fatimah Zahro Fika Yuni Lestari Firstya Evi Dianastiti Hadijati, Sri halimah, Halimahtusyadiyah Hayati, Sila Faizatul Herdita Noor Wanda Hesti Mutmainah Hidayat Nur Raihan Rapi Hidayat, Ryan IAN WAHYUNI Iin Iduljanah Iskandar, Fitriyanti Jogarni Maria Marta Joy Grace Bestari Simamora KAMALIA, ALFIN LULUK Khairiyah, Ayu Khusnul Khotimah Kiki Indah Royani Laela Nabila Laily, Asyifa Ismatul Lidya, Salma Listiyowardany, Yunia Hardiani Mahmudah Mahmudah Marta, Jogarni Maria Marwah Ulwatunnisa Marwah Ulwatunnisa Masduki Zakaria Meigitha Putri Miranda Bella Muhammad Ma'rifan Nur Mulawarman, Widyatmike Nazwah Alisca SK Nia Novita Putri Nia Ramadhani Ningsih, Sulasti Nirfanda Pratiwi Nisa Fitriyanti Afifah Nur Safaria Nur Saidah Nurul Maghfirah Rahman, Hasrul Raihan Naufal Putra Susanto Ramadhani, Asri Rindaningtyas, Yulita Dwi Rokhmansyah Alfian Royani, Kiki Indah Safitri, Lucyana Dewi Saputra, Marselinus Juan Selpila, Amilia Sinta Yus Libu Putri Siti Nur Haliza Sumarlam, Sumarlam Suwandi, Sarwiji Syaiful Arifin Taqdiraa Taqdiraa Taqdiraa, Taqdiraa Tubun, Rensiana Kandida Turahmat Turahmat, Turahmat Ulwatunnisa, Marwah Umar Umar Vicky Ardi Kurniawan Visuddha Kartanegara, Sulthan Wahdini, Chintya Wahyuni, Ian Widyatmike Gede Mulawarman Yahya, Masrur Yanuar Bagas Arwansyah YUNITA Yusak Hudiyono Yusak Hudiyono, Yusak Zahrah Aulia Nabila Zahrah Aulia Nabila