Claim Missing Document
Check
Articles

KOMBINASI INTERVENSI INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE (INIT) DAN ULTRASOUND LEBIH BAIK DARIPADA STRETCHING METODE JANDA DAN ULTRASOUND DALAM MENINGKATKAN ROM SERVIKAL PADA SINDROMA MIOFASIAL OTOT UPPER TRAPEZIUS Dwi Halim Kevin Gautama; Susy Purnawati; Sugijanto -; Nyoman Adiputra; I Wayan Weta; Moh. Ali Imron
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.051 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p08

Abstract

Pendahuluan: Sindroma miofasial merupakan sekumpulan kelainan yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan pada jaringan lunak termasuk otot, struktur fascia dan tendon. Otot yang sering mengalami sindroma miofasial adalah upper trapezius. Tujuan: Penelitian ini untuk membuktikan kombinasi INIT dan ultrasound lebih baik daripada stretching metode Janda dan ultrasound dalam meningkatkan ROM servikal pada sindroma miofasial otot upper trapezius. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental dengan Pre dan Post Test Control Group Design. Populasi merupakan pasien Poliklinik Fisioterapi RSUD Wangaya, Denpasar yang mengalami sindroma miofasial otot upper trapezius berdasarkan hasil assessment fisioterapi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 28 orang yang mengalami penurunan ROM akibat sindroma miofasial otot upper trapezius. Sampel didapat berdasarkan hasil pengukuran ROM menggunakan goniometer serta kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pada Kelompok 1 diberikan kombinasi intervensi INIT dan ultrasound, dan pada Kelompok 2 diberikan kombinasi stretching metode Janda dan ultrasound. Hasil: Uji paired sample t-test ROM fleksi servikal Kelompok 1 rerata 5,64±1,49 dan Kelompok 2 rerata 3,36±0,74 selisih antara sebelum dan sesudah intevensi dengan nilai p = 0,001. ROM lateral fleksi servikal Kelompok 1 rerata 6,43±1,28 dan Kelompok 2 3,43±0,75 selisih antara sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p = 0,001 yang menunjukkan pada kedua kelompok terdapat perbedaan yang bermakna dari selisih peningkatan ROM servikal sebelum dan sesudah intervensi. Uji independent t- test diperoleh nilai p = 0,001 yang artinya terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil Kelompok 1 dibandingkan dengan Kelompok 2 dalam meningkatkan ROM servikal sindroma miofasial otot upper trapezius. Simpulan: Kombinasi Intervensi Integrated Neuromuscular Inhibition Technique dan ultrasound lebih baik daripada stretching metode Janda dan ultrasound dalam meningkatkan ROM servikal pada sindroma miofasial otot upper trapeziusKata Kunci: Sindroma miofasial, ROM servikal, integrated neuromuscular inhibition technique, stretching metode Janda, ultrasound
PERBANDINGAN KOMBINASI ABDOMINAL STRETCHING DAN CORE STRENGTHENING EXERCISE DENGAN KOMBINASI ABDOMINAL STRETCHING DAN PILATES EXERCISE DALAM MENURUNKAN INTENSITAS DISMENORE PRIMER I A Md Dwi Purwitasari; Luh Putu Ratna Sundari; Indra Lesmana; I Wayan Weta; Desak Made Wihandani; Ni Made Swasti Wulanyani
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p03

Abstract

Setiap remaja putri akan melewati masa pubertas yang ditandai dengan terjadinya menstruasi. Pada saat fase menstruasi biasanya disertai rasa nyeri, keluhan ini disebut dengan dismenore. Nyeri yang dirasakan dapat menggangu aktivitas sehari-hari. Ada beberapa metode yang dapat diberikan untuk menurunkan nyeri yang dirasakan saat haid. Diantaranya adalah metode abdominal stretching, core strengthening, dan pilates exercise yang bertujuan untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan kekuatan otot disekitar perut hingga panggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mana yang lebih efektif antara metode abdominal stretching dan core strengthening excercise dibandingkan metode abdominal stretching dan pilates exercises dalam menurunkan intensitas dismenore primer. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental dengan pre test and post test contol group design. Lokasi penelitian dilakukan di SMA Dwijendra Denpasar,Bali dengan jumlah sampel 28 orang yang memiliki kategori dismenore primer dengan derajat nyeri sedang hingga berat, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Kelompok I diberikan abdominal stretching dan core strengthening exercise, kelompok II diberikan abdominal stretching dan pilates exercises. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Analouge Scale (VAS). Sebaran data dalam penelitian ini menggunakan analisi Wilcoxon dan Man Whitney karena data tidak berdistribusi normal. Hasil dalam penelitian ini yaitu metode abdominal stretching dengan core strengthening exercise dapat menurunkan intensitas dismenore primer dengan nilai signifikan p = 0,001 dengan nilai median VAS 6 menjadi 4 metode abdominal stretching dengan pilates excercise dapat menurunkan intensitas dismenore primer dengan nilai signifikan p = 0,001 dengan nilai median VAS 6 menjadi 4. Antara kelompok I dan kelompok II, tidak didapat perbedaan pre test (P=0,178), post tes (P=0,173), dan perubahan (P=0,561) Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan efektivitas antara metode abdominal stretching dengan core strengthening dan abdominal stretching dengan pilates exercises dalam menurunkan intensitas dismenore primer.
KEBUGARAN FISIK SISWA RETARDASI MENTAL RINGAN SEKOLAH DASAR LUAR BIASA KUNCUP BUNGA DENPASAR LEBIH TINGGI SESUDAH MELAKUKAN PELATIHAN SENAM PINGUIN DARI PADA SENAM RIA ANAK INDONESIA I Putu Eka Jaya; Nyoman Mangku Karmaya; Made Jawi; Wayan Weta; Ida Bagus Ngurah; Anak Agung Sagung Sawitri
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.2, Mei 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.772 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i02.p07

Abstract

Physical fitness is ability to perform the activity or activities without feeling tired excessively. Physical fitness associated with a person`s organs to carry out its tasks properly every day without experiencing significant fatigue. In a child’s mental retardation with a les mobile lifestyle that will affect his physical fitness. The purpose of this study to determine which type of gymnastic exercise better to the physical fitness on the students in Sekolah Dasar Luar Biasa Kuncup Bunga Denpasar.This research used experimental method using Randomized study Pre and Post Test Group Design. The subjects in this study were students in Sekolah Dasar Luar Biasa Kuncup Bunga Denpasar. There were 18 students which is divided into two groups: group-1 is senam penguins and group-2 is senam ria anak Indonesia. Data were obtained after a six-week training analyzed by paired t-test and unpaired t-test.The results of physical fitness test before training with Senam Penguins was 23.39 ± 1.69 and the test results after the training was 27.87 ± 3.28. the physical fitness test in group-2 before training with Senam Ria anak Indonesia was 22.69 ± 1.76 and the results after training was 24.64 ± 2.11. Paired t-test in both group before and after training showed significant differences after training in group-1 and group-2 with a value of p > 0.05 with an increase in physical fitness test results of (19.15) in group-1 and (8.64) in group-2. The percentage increase physical fitness test results of group-1 with senam penguins is higher than those in group-2 with senam ria anak Indonesia.So we can conclude that the training of senam penguin in Sekolah Dasar Luar Biasa Kuncup Bunga Denpasar improved the physical fitness test results higher than senam ria anak Indonesia.
PILATES EXERCISE LEBIH EFEKTIF MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS LUMBAL DIBANDINGKAN SENAM YOGA PADA WANITA DEWASA Luh Putu Ayu Vitalistyawati; I Wayan Weta; Muthiah Munawaroh; Ida Bagus Ngurah; I Putu Adiartha Griadhi; Muh. Ali Imron
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.2, Mei 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.094 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i02.p03

Abstract

Introduction: Productive women who’s working in static potition can cause stiffness back muscle. The stiffness of back muscle can decrease lumbal flexibility. When lumbal flexibility was decreased, it can cause low back pain during activities. Yoga and pilates exercise are recommended program for increase lumbal flexibility.. Purpose: This study aims to prove the pilates exercise is more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman. Method: Design of this study uses research methods experimental study pre and post test design. Total sampel of this research study are 30 adult women at Banjar Kelod Ungasan, whose age are 30-45 years old and have 0-20 cm flexibility score. The sampel devided into two groups which the group I (n=15) was given pilates exercise ,while group II (n=15) was given yoga twice a week in 6weeks. This research was using sit and reach test as measured flexibility. Result: Based on Paired Sample t-Test statistical analysis the results of this study research shown that the difference in the mean of lumbal flexibility in group I was obtained 21.34±3.13cm with p<0.001 , while the mean of lumbal flexibility in group II was obtained 19.11±2.39cm with p<0.001. The difference lumbal flexibility in group I and group II was obtained 5.36±1.48cm with p<0.001. Conclusion: The conclusion that the pilates exercise was more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman.
PENAMBAHAN INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE LEBIH MENURUNKAN DISABILITAS LEHER DARIPADA CONTRACT RELAX STRETCHING PADA INTERVENSI ULTRASOUND DALAM KASUS SINDROM MYOFASCIAL OTOT UPPER TRAPEZIUS Putu Ayu Sita Saraswati; I Putu Gede Adiatmika; Syahmirza Indra Lesmana; I Wayan Weta; I Made Jawi; Wahyuddin -
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.571 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p09

Abstract

Sindrom myofascial pada otot upper trapezius merupakan nyeri otot yang ditandai oleh satu atau beberapa myofascial trigger point pada otot upper trapezius. Posisi kerja statis dalam jangka waktu lama memicu timbulnya masalah tersebutdan mengakibatkan nyeri dan keterbatasan gerak pada leher sehingga akan menimbulkan disabilitas leher. Penanganan fisioterapi berupa integrated neuromuscular inhibition technique (INIT) dan contract relax stretching yang dikombinasikan dengan modalitas ultrasound berdampak pada penurunan disabilitas leher. Tujuan: mengetahui metode yang lebih efektif dalam menurunkan disabilitas leher pada sindrom myofascial otot upper trapezius.Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan rancangan randomizedpre test and post test group design. Sampel sebanyak 24 orang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 12 orang secara random. Kelompok perlakuan 1 dengan kombinasi INIT dengan ultrasound, sedangkan perlakuan 2 dengan contract relax stretching dengan ultrasound. Data diperoleh dengan mengukur disabilitas leher menggunakan Neck Disability Index(NDI), lingkup gerak sendi leher (LGS) dengan goniometerpada saat sebelum dan setelah perlakuan. Hasil:Diperoleh penurunan NDI22,50±2,43%(p<0,001) dan peningkatan LGS 5,083±1,0840 (p<0,001) pada Kelompok 1.Kelompok 2 juga terdapat penurunan NDI 17,33±3,05%(p<0,001) dan peningkatan LGS3,333±0,7780 (p<0,001). Hal ini berarti bahwa dalam setiap kelompok terjadi penurunan disabilitas leher secara bermakna. Hasil uji antar kelompok menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada penurunan NDI (p<0,001) dan peningkatan LGS (p<0,001). Simpulan: penambahan INIT lebih menurunkan disabilitas leher daripada contract relax stretching pada intervensi ultrasound dalam kasus sindrom myofascial otot upper trapeziusKata kunci : myofascial, trapezius, INIT, ultrasound, stretching, disabilitas leher
PELATIHAN PLIOMETRIK DIAGONAL CONE HOP LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN FRONT CONE HOP UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KECEPATAN TENDANGAN PADA PEMAIN SEPAK BOLA SMK SMSR UBUD I Made Dwi Ariyuda; I Wayan Weta; I Made Muliarta; Ketut Tirtayasa; I Made Jawi; Putu Adiartha Griadhi
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.2, Mei 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.803 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i02.p09

Abstract

The performance of soccer branch at SMK SMSR Ubud has not shown maximum result. To increase the performance of soccer branch, it was done by plyometric diagonal cone hop training and front cone hop. This research aim to know that plyometric diagonal cone hop training and front cone hop is to increase leg muscle strength and kick velocity, and plyometric diagonal cone hop training is more effective than front cone hop to increase leg muscle strength and kick velocity. The research method is experimental method The Randomized Pre and Post Test Group Design. The samples of research are 30 soccer players at SMK SMSR Ubud and divided into 2 (two) groups. The first group was handled with Plyometric diagonal cone hop training, and the second group was handled with Plyometric front cone hop training. The frequencies of training are 3 times in a week for 6 weeks. Leg muscle strength measured by leg dynamometer and kick velocity measured by meter indicator and video recording. The result of the intergroup t-paired test of this research for the first group before and after training that leg muscle mean is 97,80 ± 19,91 and 140,1 ± 10,01 kgs and kick velocity is 13,21 ± 2,16 and after training 21,86 ± 4,88 m/s with (p< 0,01). While the result for the second group before and after training that leg muscle mean is 98,00 ± 14,56 and after training 126 ± 12,7 kgs and kick velocity is 11,18 ± 1,59 and after training 16,18 ± 2,48 m/s with (p<0,01). Results of increased leg muscle strength and kick velocity between both of groups before and after training tested by independent t-test with p=0,002 & p<0,01 that is means there are significant differentiation. The conclusion is both of this training can be used to increase leg muscle strength and kick velocity. But, Plyometric diagonal cone hop is more effective than front cone hop to increase leg muscle strength and kick velocity.
KOMBINASI SHUTTLE RUN DAN CORE STABILITY SAMA BAIK DENGAN KOMBINASI SHUTTLE RUN DAN GLUTES CONTROL DALAM MENINGKATKAN KELINCAHAN PEMAIN SEPAK BOLA DI SSB BALI UNITED Resti Nurpratiwi; I Putu Gede Adiatmika; S. Indra Lesmana; I Wayan Weta; I Putu Adiartha Griadhi; Ni Nyoman Ayu Dewi
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p06

Abstract

Pendahuluan: Kelincahan suatu kemampuan mengubah posisi dan arah tubuh secara cepat pada saat bergerak dengan kondisi tubuh tetap seimbang. Kelincahan sangat penting bagi pemain sepak bola agar dapat menerobos dan menghindari hadangan lawan serta mengurangi resiko cedera. Pelatihan kelincahan sangat sesuai diberikan bagi pemain sepak bola usia 10-12 tahun yakni dengan pelatihan shuttle run yang dikombinasikan dengan pelatihan stabilisasi, baik berupa core stability maupun glutes control.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui apakah kombinasi shuttle run dan core stability sama baik dengan kombinasi shuttle run dan glutes control dalam meningkatkan kelincahan pemain sepak bola di SSB Bali United. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental, menggunakan rancangan pre and post test group design. Sampel penelitian 22 orang dan di bagi menjadi dua kelompok. Kelompok I mendapat kombinasi shuttle run dan core stability, sedangkan Kelompok II mendapat kombinasi shuttle run dan glutes control. Frekuensi latihan dilakukan 3 kali seminggu selama 6 minggu. Pengukuran kelincahan menggunakan Illinois agility run test. Kelincahan dikatakan meningkat apabila nilai setelah lebih pendek dari nilai sebelum pelatihan. Hasil Penelitian: Didapatkan Kelompok I mengalami peningkatan kelincahan dengan nilai signifikan p = 0,01dari nilai kelincahan 19,87±0,94 detik menjadi 15,49±0,78 detik. Demikian juga pada Kelompok II mengalami peningkatan kelincahan dengan nilai signifikan p = 0,01 dari nilai kelincahan 19,50±0,86 detik menjadi 15,70±0,75 detik. Dari hasil independent t-test tidak didapatkan perbedaan dengan nilai sebelum p = 0,358 dan sesudah p = 0,531. Simpulan : Kombinasi shuttle run dan core stability sama baik dengan kombinasi shuttle run dan glutes control dalam meningkatkan kelincahan pemain sepak bola di SSB Bali United. Kata Kunci: Shuttle run, core stability, glutes control, kelincahan, sepak bola
PENAMBAHAN LATIHAN HIDROTERAPI PADA TERAPI BOBATH LEBIH MENINGKATKAN KECEPATAN BERJALAN PADA CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGI Rizky Wulandari; I Wayan Weta; Moh. Ali Imron
Sport and Fitness Journal Volume 4, No. 1, 2016
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.707 KB)

Abstract

Kasus Cerebral Palsy Spastik Diplegi secara statistik mengalamipeningkatan. Permasalahan yang muncul yaitu adanya abnormalitas tonus posturalyang berpengaruh pada kecepatan berjalan. Metode latihan yang sering digunakansampai saat ini adalah terapi Bobath. Akan tetapi beberapa penelitian dan studikasus membuktikan penambahan latihan Hidroterapi lebih meningkatkankecepatan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penambahan latihanhidroterapi pada terapi bobath lebih meningkatkan kecepatan berjalan padaCerebral Palsy Spastik Diplegi.Penelitian ini menggunakan metode eksperimentaldengan pre-test dan post-test control group design. Eksperimen ini dilaksanakandi Klinik Fisioterapi YPAC Surakarta. Sampel penelitian berjumlah 16 orangyang dibagi ke dalam 2 kelompok sampel yaitu 8 orang pada kelompok perlakuandan 8 orang pada kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberi penambahanlatihan Hidroterapi dan kelompok kontrol diberi terapi Bobath. Pelatihandilakukan 3 x per minggu selama 1 bulan. Alat ukur yang digunakan untukpengumpulan data yaitu dengan 10 metre walk test. 10 metre walk test digunakanuntuk mengukur kecepatan berjalan sejauh 10 meter baik sebelum intervensimaupun sesudah intervensi. Hasil penelitian hipotesis ini menggunakan uji pairedt test menunjukan kecepatan berjalan sebelum kelompok I sebelum perlakuan(20,01±2,23) dan setelah perlakuan (14,16±2,41) dengan p=0,000 (p<0,05) dankelompok II sebelum perlakuan (20,17±1,53) dan setelah perlakuan (18,08±2,00)dengan p=0,001 (p<0,05). Uji t test independent untuk menunjukan kecepatanberjalan antara sesudah perlakuan kelompok I dengan kelompok II. Padapengujian tersebut diperoleh hasil adanya peningkatan kecepatan berjalan sesudahintervensi pada kelompok I (14,16±2,41) yang dibandingkan dengan kelompok II(18,08±2,00) nilai p=0,003. Disimpulkan Terapi Bobath dan Latihan Hidroterapidapat meningkatkan kecepatan berjalan pada cerebral palsy spastic diplegi namunpenambahan latihan Hidroterapi pada terapi bobath secara signifikan lebihmeningkatkan kecepatan berjalan pada Cerebral Palsy Spastik Diplegi.
Pengaruh Latihan Tari Legong Terhadap Kebugaran Fisik Mahasiswi Semester VI dan VIII Fakultas Kedokteran Universitas Udayana K. G. Budhi Riyanta; Faradilla N; Anggreini **; Maria C Hindom; A. A. D. Dalem Dwi Putra; I Wayan Weta
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.131 KB)

Abstract

Sport is a way to promote health and prevent degenerative diseases. Sport has great benefits in improving physical fitness and maintaining ideal body weight. This study found that the potentials of domestic culture can be used as a form of sports. Legong dance is one of popular Balinese tradisional art which has dynamic movements with duration of 20 minutes. A randomized pre-test and post-test contol group design was carried out to compare the effectiveness of the Balinese Legong dance with Senam Ayo Bersatu (one of aerobic dance) in improving physical fitness and reducing body fat. Thirty samples who came from the sixth and eighth semester in the Faculty of Medicine Udayana University were divided into three different groups: I (Legong dance intervention), II (Senam Ayo Bersatu intervention), and control (without intervention). The intervention was done in 40 minutes for 8 weeks with three times intervention/week. Time of 2.4 km run as parameter of physical fitnees and body fat percentage was measured before starting the intervention and at last eighth weeks. It was elicited the significant difference (p?0.05) that Legong dance was more effective as Senam Ayo Bersatu in improving physical fitness and maintain body fat composition.
KEJADIAN DAN FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DI DESA TARO, KECAMATAN TEGALLALANG, KABUPATEN GIANYAR Pande Putu Yoga Kamayana; Luh Seri Ani; I Wayan Weta
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i5.P17

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Stunting adalah masalah yang cukup besar terhadap tumbuh kembang manusia. World Health Assembly telah menyusun rencana untuk mengurangi balita penderita stunting pada tahun 2025. Salah satu upaya yang diprioritaskan adalah mengembangkan identifikasi, pengukuran, dan pemahaman mengenai stunting. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kejadian dan faktor risiko stunting. Metode: Studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional telah dilakukan terhadap 41 balita usia 24-59 bulan di Desa Taro pada bulan Agustus hingga Oktober 2019. Subjek dipilih dengan metode convenience sampling dengan kriteria inklusi adalah balita yang tinggal menetap di Desa Taro, memiliki orangtua atau wali yang bersedia ikut serta dalam penelitian dan mampu memberikan keterangan. Kriteria eksklusi yaitu balita yang mengalami penyakit kronis. Data stunting didapatkan melalui pengukuran langsung terhadap tinggi badan dan umur balita. Balita disebut mengalami stunting jika nilai perbandingan tinggi badan dan usia anak dibawah -2 z-score. Data lainnya seperti tinggi badan ibu, berat badan lahir, dan usia kandungan dikumpulkan berdasarkan catatan pada buku KIA. Data hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat. Uji chi-square digunakan untuk mendapatkan faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita. Hasil: Proporsi balita yang mengalami stunting adalah 34,2%, dengan tinggi badan pendek dijumpai sebesar 22% dan sangat pendek sebesar 12,2%. Balita yang stunting dijumpai pada anak yang memiliki berat badan lahir normal, tinggi badan ibu normal, ibu berusia ?20 tahun, mendapatkan ASI eksklusif, tidak memiliki riwayat diare 6 bulan terakhir, dan kondisi sanitasi tempat tinggal yang baik. Namun tidak dijumpai satu variabel pun yang berhubungan bermakna. Kesimpulan: Kejadian stunting di wilayah Kabupaten Gianyar relatif tinggi. Meskipun demikian, tidak dijumpai adanya faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting, sehingga disarankan untuk mengefektifkan upaya pencegahan stunting melalui deteksi dini stunting pada ibu hamil. Kata Kunci: Stunting, faktor anak, faktor ibu, faktor lingkungan.
Co-Authors ., Ni Putu Ayu Laksmini A. A. D. Dalem Dwi Putra AAG Budhiarta Aagp Wiraguna Adhi, I Gusti Ayu Mirah Aditia Martanti Aditya Johan Romadhon Agung Nova Mahendra Agung Wiwiek Indrayani Agus Eka Darwinata Ali Imron Ana Yulia Anak Agung Gde Putra Wiraguna Anak Agung Gede Budhiarta Anggreini ** Aprilany Stella peng Astrid Amanda Pangalela Awan, Syuma Adhy Bagus Komang Satriyasa Christine Icasia Citra Anissa Ayu Cok Gde Prema Kurnia Baswara Desak Ketut Ernawati Desak Made Wihandani Dhumaranang, Hyangayu Dedari Dian Damayanti Dinda Anggita Meiwita Sari Donal Syafrianto Duarsa, iDyah Pradnyaparamita Dwi Halim Kevin Gautama Dyah Pradnyaparmita Duarsa Faradilla N Fendy Nugroho Fenni Liem Fibriany Chandra Florensa Krismawati Gde Ngurah Idraguna Pinatih Gusti Made Agung Mega Utama Gusti Ngurah Prana Jagannatha Harimawan, Agustinus I Wayan Heidy Dwi Nadia I A Md Dwi Purwitasari I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Gde Ardika Nuaba I Gede Marantika Yogananda Sutela I Gusti Made Aman I Ketut Suastika I Made Ady Wirawan I Made Dwi Ariyuda I Made Jawi I MADE MULIARTA . I Nengah Sandi I Nyoman Adi Putra I Nyoman Mangku Karmaya I Putu Adiartha Griadhi I Putu Agus Budi Sudarsana I Putu Eka Jaya I Putu Gede Adiatmika I.A.A. Widhiartini Ida Ayu Mustika Suri Jayanti Ida Bagus Ngurah IN. Adiputra Indra Lesmana Indraguna Pinatih, Gde Ngurah Intan Lestari Putri Istiana Marfianti J. A. Pangkahila K Tangking Widarsa K. G. Budhi Riyanta Kadek Ayu Purwaningsih Kadek Tresna Adhi Ketut Adi Jaya Sutana Ketut Tirtayasa Komang Ayu Kartika Sari LMI. Sri Handari Adiputra Luh Putu Ayu Vitalistyawati Luh Putu Iin Indrayani Maker Luh Putu Ratna Sundari Luh Putu Wrasiati Luh Seri Ani Luh Wayan Ayu Rahaswanti Made Oka Negara Marfianti, Istiana Maria C Hindom Maria Marissa Maharani Marselli Widya Lestari Masrum Syam MB. Redy Utama Milhanah Milhanah Moh. Ali Imron, Moh. Muh. Ali Imron Muh. Ali Imron Muh. Ali Imron Muh. Irfan Muhammad Hafiz Bin Mohd Arifin Muhammad Irfan Munawwarah, Muthiah Muthiah Munawaroh Myranti Puspitaningtsya Junaedi Nadia Anastasia Ni Kadek Parswa Diah Pradnyandari Ni Luh Partiwi Wirasamadi Ni Luh Putu Suariyani Ni Made Sri Nopiyani Ni Made Suasti Wulanyani Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Putu Idaryati NL Partiwi Wirasamadi, NL Partiwi Nurpratiwi, Resti NW. Tianing NYOMAN SEMADI ANTARA Pande Putu Yoga Kamayana Phebe Indriani Prabandari, A A S Mirah Pradnyaparamita, Dyah Pramartha, I Made Dwi Adi Putu Aryani Putu Ayu Sita Saraswati Putu Cintya Denny Yuliyatni Rizky Wulandari S. Indra Lesmana S. Indra Lesmana S. Indra Lesmana Sari, Komang Ayu Kartika Sawitri, Anak Agung Sagung Sintia Sugiarta Rahmasari Sirait, Josephine Claudia Stefani Marietta Sugijanto - Sugijanto - Susy Purnawati Sutana, Ketut Adi Jaya Sutanto, Grace Abigail Syahmirza Indra Lesmana Teja, Anjaya Artha Tince Sarlin Nalle Wahyuddin - Wahyuddin, Wahyuddin Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wibawa, Anak Agung Ngurah Alit Dwi Nanda Wijanadi, M. Candra Wimpie I Pangkahila Wirasamadi, Ni Luh Partiwi